Beranda blog Halaman 391

Biar Saja, Dia ‘kan Masih Kecil!

Mendidik anak bukanlah perkara simpel, terlebih di zaman yang penuh godaan ini. Di mana-mana terdapat lubang jebakan yang menganga, siap menjerumuskan anak-anak ke dalam kesia-siaan, bahkan kebinasaan. Orangtua dan guru yang sangat peduli dan telaten pun bisa kecolongan, apalagi yang sembrono dan asal-asalan. Ada saja sikap, perkataan, dan tindakan yang disangka benar, tapi belakangan terbukti menuai masalah yang sangat rumit. Kalau saja bukan karena rahmat dan kasih sayang Allah, rasanya mustahil ada yang selamat.

Diantara kekeliruan yang lazim ditemui di kalangan orangtua dan guru adalah pembiaran anak-anak melakukan pelanggaran tanpa sedikit pun ditegur, semata-mata dengan alasan mereka masih kecil.

Kita mungkin mendapati orangtua membiarkan anaknya bersikap tidak sopan di hadapan para tamu tanpa ditegur. “Biar saja, dia masih kecil,” dalihnya.

Mungkin juga ada orangtua yang membiarkan anaknya tidur sampai matahari terbit sehingga terlewat menunaikan shalat subuh, lalu beralasan: “Biar saja, dia masih kecil!” Masih banyak contoh lain yang bisa disebutkan.

Sebenarnya, bersikap toleran kepada anak kecil adalah kebaikan, karena mereka masih dalam tahap belajar. Orangtua dan guru memang harus menyiapkan dada selebar-lebarnya untuk menampung kesalahan-kesalahan mereka.

Namun, bersikap toleran tidak sama dengan membiarkan kesalahan tanpa koreksi. Orangtua yang toleran akan memaklumi kesalahan yang timbul dan segera melupakannya; namun di saat bersamaan bergegas membetulkannya agar tidak berlarut-larut atau terulang kembali di lain waktu.

Memang benar bahwa pada usia dini anak-anak belum dicatat amalnya oleh malaikat, tapi bukan berarti mereka tidak perlu dilarang jika melanggar syariat, supaya tidak terbiasa dengannya sehingga sulit meninggalkannya ketika semakin besar.

Dalam kitab Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, Ibnu Qayyim berkata, “Anak kecil itu, meskipun belum mukallaf (mendapat beban syariat), akan tetapi walinya sudah mukallaf. Wali tidak boleh membiarkan anaknya dari sesuatu yang diharamkan, sebab ia akan menjadi terbiasa dengannya dan (kelak) akan sulit untuk dipisahkan darinya ….. Sebab, anak kecil itu, meskipun belum mukallaf namun mereka sedang disiapkan untuk menerima taklif (tugas-tugas syariat). Oleh karenanya, ia tidak boleh dibiarkan mengerjakan shalat tanpa berwudhu, shalat dalam keadaan telanjang dan najis, tidak boleh pula minum khamer, berjudi, dan melakukan homoseks.”

Para ulama’ terdahulu menekankan bahwa misi pendidikan anak pada usia dini, terutama pada usia tamyiz sampai baligh (6-15 tahun), adalah mempersiapkan mereka menyongsong masa balig. Masa balig sendiri membentang sejak seorang anak mengalami mimpi basah atau haid pertama dan terus berlanjut sampai kematian menjemputnya.

Sementara, tamyiz adalah keadaan di mana anak mulai bisa memahami dan memilah hal-hal di sekitarnya. Biasanya, anak usia 6 tahun secara fisik ditandai dengan gigi susu yang mulai tanggal, secara mental mulai mampu mencerna perintah dan larangan, dan secara akhlak sudah mulai punya rasa malu.

Oleh karena itu, tepat kiranya jika pada usia ini mereka mulai disuruh mengerjakan shalat, menutup aurat, dan dipisahkan tempat tidurnya diantara anak lelaki dan perempuan; berdasar hadits riwayat Abu Dawud dan Ahmad dengan sanad hasan-shahih.

Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani berkata dalam muqaddimah kitabnya, Ar-Risalah, “Hal yang paling perlu diperhatikan oleh para penasihat dan diharapkan pahalanya oleh para pencari adalah: memastikan sampainya kebaikan ke dalam hati anak-anak kaum muslimin, agar tertanam kokoh di dalamnya; menyadarkan mereka terhadap rambu-rambu agama dan batasan-batasan syariat, agar mereka bisa dilatih dan dibiasakan di atasnya; juga apa yang wajib diyakini oleh hati mereka dalam masalah agamanya, serta diamalkan oleh anggota badannya ……

Demikianlah, seyogyanya mereka telah mengetahui apa-apa yang diwajibkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya – baik berupa perkataan maupun perbuatan – sebelum mereka mencapai usia balig; yakni agar (ketika) usia balig tiba maka perkara-perkara itu telah mantap di dalam hatinya, jiwa mereka tenang menerimanya, dan anggota badan mereka pun telah terbiasa mengamalkannya.”

Dengan demikian, sangat tidak tepat jika anak yang telah memasuki usia tamyiz dibiarkan tidak menutup auratnya (terutama wanita), atau dibiarkan bangun kesiangan dan melewatkan shalat subuhnya, hanya dengan alasan “mereka masih kecil”.

Mestinya, pelan-pelan mereka harus dilatih dan dibiasakan, bukan dilepas begitu saja dengan bersandar pada harapan: “nanti kalau sudah besar pasti sadar sendiri.”

Bagaimana pun, setiap anak akan tumbuh bersama kebiasaan yang ditanamkan oleh orangtua dan gurunya. Bila kita membesarkan mereka dalam suasana melalaikan kewajiban-kewajiban, maka tumbuhnya kesadaran di hati sangat sulit diharapkan pada masa selanjutnya.

Ingat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, sampai lidahnya fasih berbicara, lalu kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi atau Nasrani.” (Riwayat Abu Ya’la, dan para perawinya bisa dipercaya).

Maksudnya, setiap anak akan mengikuti akidah, akhlak, dan adat kedua orangtuanya berdasarkan pembiasaan yang telah diberikan kepada mereka. Maka, seharusnya anak-anak itu mendengar bahwa shalat, menutup aurat, berlaku sopan, dsb adalah wajib, agar tertanam kokoh di jiwanya; bukan sebaliknya.

Apa jadinya jika yang sering mereka dengar pada setiap pelanggaran syariat justru perkataan “tidak apa-apa”? Kelak, jangan kaget apabila mereka pun terbiasa meremehkan shalat, aurat, dan adabnya; toh tidak apa-apa!? Na’udzu billah. Wallahu a’lam.

KH Alimin Mukhtar

Buka Posko dan Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Padarni

0

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Simpul sinergi Baitul Maal Hidayatullah & SAR Hidayatullah Papua Barat telah membuka posko darurat dan menyalurkan bantuan untuk korban kebakaran di kawasan Borobudur, Kelurahan Padarni, Kecamatan Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Jum’at siang, 24 Safar 1443 (30/9/2021).

Seperti diwarta media, musibah kebakaran terjadi Kams siang (30/9/2021) jam 11.30 waktu setempat. Korban terdampak diperkiraan lebih dari 600KK. Sementara korban sekitar lebih 2000 orang data dari pengurus masjid setempat.

Saat ini pengungsi tersebar di beberapa titik ada sekitar 4 titik lokasi pengungsian. Simpul Hidayatullah seperti BMH dan SAR Hidayatullah sudah menyalurkan Bantuan berupa pakaian layak pakai dan sembako untuk para pengungsi di posko Masjid Jami’ Merdeka Manokwari yang berjumlah 164 orang.

Wasmanto Ketua BMH perwakilan Papua Barat menjelaskan, di posko paling banyak menampung ibu dan balita bahkan ada bayi baru berumur 3 hari.

“Alhamdulillah hari ini kami bersinergi bersama SAR Hidayatullah Papua Barat telah menyalurkan bantuan kepada korban kebakaran. Bantuan ini berhasil kami himpun sejak semalam. Bantuan kami berikan kepada 164 jiwa yang saat ini mengungsi di lokasi Masjid Jami Merdeka Manokwari,” kata Wasmanto.

Wasmanto menambahkan, bantuan yang sangat dibutuhkan berupa kebutuhan konsumsi, pakaian sholat perlengkapan bayi, dan alat alat dapur.

Ihwan Arifin selaku koordinator SAR Hidayatullah Papua Barat mengatakan bahwa banyak korban tidak sempat menyelamatkan barang barang berharga mereka, bahkan hanya tinggal baju di badan saja.

Diketahui, si jago merah mengamuk di kawasan pemukuman pesisir laut tersebut. Selain rumah api juga membakar sebuah masjid dan beberapa perahu nelayan.*/Miftahuddin Ambal

Pendampingan Peningkatan Mutu Pendidikan di Kepulauan Riau

LINGGA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kepulauan Riau (Kepri) kembali menguatkan sinergi dalam program pendampingan pengelolaan lembaga pendidikan di kampus Madya di kawasan Kepulauan Riau.

Seirama dengan semangat DPP Hidayatullah yang sedang gencar melakukan standarisasi untuk meningkatkan mutu lembaga pendidikan, DPW Hidayatullah Kepri bersinergi dengan Baitul Mall Hidayatullah (BMH) Kepri kali ini melakukan standarisasi-akreditasi di SD Islam Integral Luqman Al-Hakim Lingga, Kamis, 23 Safar 1443 (30/9/2021).

Ketua Yayasan Kampus Madya Hidayatullah Lingga, M Awwalin, dalam sambutannya menegaskan bahwa Standarisasi-Akreditasi Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT) bertujuan mendukung program mainstream organisasi Hidayatullah, yaitu Tarbiyah dan dakwah.

“Agenda ini adalah salah satu metode untuk mengetahui sejauh mana konsep pendidikan Tauhid ini dapat diejawantahkan dan meresap dalam setiap proses pembelajaran yang diterapkan di sekolah,” ujar M Awwalin.

Di kesempatan yang sama, Farhan Siswanto, kepala Departemen Pendidikan DPW Hidayatullah Kepri sekaligus ketua Asesor PIBT menyampaikan bahwa yang paling mendasar dari Standarisasi-Akreditasi ini, memastikan bahwa 7 aspek yang menjadi keunggulan sekolah Hidayatullah dapat terwujud.

Aspek-aspek tersebut yaitu berjalannya konsep PIBT, pembelajaran al Quran & Kurikulum Diniyyah berbasis kitab Muqarror, kaderisasi gerakan Pandu Hidayatullah, pembelajaran Bahasa dan Sains, administrasi PIBT, pengelolaan santri dan akreditasi BAN-SM.

“Sehingga melalui kegiatan ini diharapkan sekolah dapat berjalan sesuai standar yang ditetapkan oleh Depdikdasmen Hidayatullah,” tegas Farhan.

Kegiatan ini juga, lanjut dia, untuk memastikan seluruh proses tarbiyah dan kaderisasi dapat mengantarkan para tenaga pendidik mampu mencetak seluruh siswa menjadi generasi yang memahami bahwa dirinya adalah pemimpin masa depan yang akan membawa perubahan dunia ini menuju Islam kaffah dan Rahmatan Lil Aalamiin.

“Harapannya agar setiap sekolah yang didirikan oleh Hidayatullah menjadi sekolah rujukan umat, yang dapat menyelesaikan problem kemerosotan moral yang banyak dialami oleh generasi saat ini,” imbuhnya.

Kegiatan pendampingan yang berlangsung selama dua hari dihadiri oleh seluruh Majelis Guru SD Islam Integral Luqman Al-Hakim Lingga, Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Lingga, dan Ketua Yayasan Nurul Qur’an Hidayatullah Lingga.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan mengharapkan keberkahan dan pertolongan Allah, munajat doa disampaikan oleh ustadz Badiul Hasani, ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lingga.*/Mujahid M. Salbu

Menjajaki Lahirnya Lembaga Penjaminan Halal Hidayatullah

0
Ilustrasi stempel halal (Foto: net)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) telah diamanatkan oleh Undang – undang No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. BPJPH adalah salah satu unsur pendukung di Kementerian Agama Republik Indonesia yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Agama yang bertugas melaksanakan penyelenggaraan jaminan produk halal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Undang Undang tersebut mengamanatkan bahwasanya produk yang beredar di Indonesia terjamin kehalalan produknya oleh karena itu Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal mempunya tugas dan fungsi untuk menjamin kehalalan produk yang beredar dan dipasarkan di Tanah Air.

Senafas dengan hal tersebut, Hidayatullah melalui Ketetapan Munas V Hidayatullah, Nomor: 12/TAP/Munasv/2020 tentang Kebijakan Kebijakan Strategis Hidayatullah Tahun 2020-2025 pada bidang ekonomi dan keuangan, mengamanatkan menjadi pelopor halal food dengan mengedukasi masyarakat lebih memperhatikan soal kehalalan makanan yang dikonsumsi setiap hari.

Tidak sekedar edukasi, tapi Hidayatullah terjun langsung menangani bisnis makanan halal tersebut agar masyarakat muslim dapat menikmati keberkah dari Allah SWT.

Oleh karena itu pula, Hidayatullah juga telah mengajukan permohonan pendirian sebagai lembaga penjamin halal ke BPJPH pada Agustus 2019. Hal ini juga mengacu pada Undang Undang No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal pada Pasal 4 menegaskan bahwa produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal.

Sementara Undang Undang No. 33 Tahun 2014 Pasal 13 ayat (2) mengamanatkan bahwa dalam LPH sebagaimana dimaksud ayat (1) dididirkan oleh masyarakat, LPH harus diajukan oleh lembaga keagamaan Islam yang berbadan hukum.

Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal juga didukung oleh tugas dan fungsi sebagaimana yang telah diamanatkan oleh Undang – Undang No. 33 Tahun 2014 yaitu tentang Registrasi Halal, Sertifikasi Halal, Verifikasi Halal, Melakukan pembinaan serta melakukan pengawasan kehalalan produk, Kerjasama dengan seluruh stakeholder terkait, serta menetapkan standard kehalalan sebuah produk.*/

BMH Bangun Rumah Quran di Atas Air Laut di Selangan

0

BONTANG (Hidayatullah.or.id) — Program BMH Kaltim mencerdaskan dan mengantarkan anak bangsa menjadi generasi sholeh dan sholehah terus dikembangkan melalui beragam program pendidikan. Di antaranya melalui Program Rumah Quran (RQ).

“Alhamdulillah atas dukungan kaum Muslimin, program pembangunan RQ di Kampung atas air Selangan, Pesisir kota Bontang. Bangunan itu mulai dikerjaan pada Agustus lalu, dan kini sudah memasuki tahap finishing,” terang Koordinator BMH Gerai Bontang, Hardi Rukmantara baru-baru ini.

Upaya membangun RQ ini terbilang tidak mudah, karena semua bahan yang diperlukan hanya bisa diangkut dengan perahu.

“Butuh usaha keras mewujudkannya, karena semua bahan material harus didatangkan dari kota dan membawanya pakai perahu. Demikian juga saat pembuatan pondasi karena berada di dalam air laut,” imbuhnya.

Oleh karena itu, pembangunan RQ ini disambut bahagia oleh Ketua RT dan warga kampung setempat. Bahkan salah seorang warga telah menghibahkan sepetak tanahnya untuk lokasi pembangunan.

Antusias warga mendukung program ini karena sejak lama masyarakat setempat ingin agar anak-anak di kawasan tersebut mendapat pendidikan agama dengan layak.

“Harapan orang tua anaknya bisa jadi anak sholeh, bisa lebih baik dari ayah ibunya. Maka saya sebagai Ketua RT sangat senang BMH bisa memfasilitasi pembangunan ini, demi generasi anak-anak kami ke depan,” ungkap Ketua RT setempat, Helmuddin.*

Cedera Mental Akibat Budaya Instan

Seorang teman pernah bertanya kepada guru kami, tentang cara cepat belajar bahasa Arab dan membaca kitab kuning, atau disebut juga kitab gundul. Beliau tampaknya kurang berkenan dengan pertanyaan itu, namun alih-alih marah beliau justru menjawabnya dengan bergurau dan aksen yang lucu, “Iya kalau mulutmu itu karung, semua ilmu bisa langsung dimasukkan. Blus, blus, blus…!!” Setiap kali berkumpul dengan sesama alumni dan mengenang kembali peristiwa itu, kami semua tertawa.

Beliau benar, bahwa manusia membutuhkan proses untuk segala sesuatu. Mereka harus bersabar dan rela menempuh kesulitan-kesulitan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

Sebenarnyalah, tidak ada yang instan di dunia ini. Bila pun ada, maka kita harus membayar dengan mengorbankan kualitas atau menghadapi masalah-masalah lain di kemudian hari. Sebab, sudah menjadi sunnatullah bahwa manusia diciptakan untuk menjalani hidup dalam rangkaian kerja keras dan kelalahan-kelelahan.

Allah berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. al-Balad: 4).

Ketika menafsirkan ayat ini, al-Hasan al-Bashri berkata, “Dia (manusia) harus berusaha keras untuk mensyukuri kesenangan-kesenangan dan bersabar atas kesulitan-kesulitan, sebab ia tidak akan bisa lepas dari salah satunya; berjuang menghadapi musibah-musibah dunia dan kesukaran-kesukaran akhirat”.

Menurut Ibnu Qutaibah, maknanya adalah: “Dia sangat didominasi oleh dan harus berjuang keras menghadapi urusan-urusan dunia dan akhirat.” (Tafsir Zaadul Masir, VI/160). Penafsiran ini juga yang dipilih oleh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari.

Sejak masih berwujud sperma, satu sel yang kelak tumbuh menjadi janin harus berjuang mencapai sel telur, bersaing dengan ratusan juta sel sejenisnya. Kelahirannya pun tidak melalui proses dan jalan yang mudah.

Di saat bersamaan, ia pun tidak dilahirkan dalam keadaan mahir, namun harus belajar mengontrol anggota-anggota badannya satu demi satu, dan berupaya keras mensinkronkannya satu sama lain.

Ketika gigi pertamanya hendak tumbuh, gusinya terasa sangat gatal dan bahkan seluruh tubuhnya pun terserang demam. Demikianlah, kehidupannya terus berlanjut, dan satu demi satu tantangan harus ia retas sebelum berhasil meraih keinginan-keinginannya.

Namun, seringkali manusia tidak sesabar itu. Sudah menjadi sifatnya pula untuk terburu-buru, suka memaksakan sesuatu sebelum waktunya.

Allah berfiman,

“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.” (QS. al-Anbiya’: 37).

Juga firman-Nya yang lain,

“Dan manusia memohon untuk keburukan sebagaimana ia memohon untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. al-Isra’: 11).

Terkait ayat dalam surah al-Isra’ tersebut, Imam ath-Thabari berkata, “Manusia suka memohonkan keburukan atas dirinya, anaknya dan hartanya dengan berkata: ‘Ya Allah, hancurkan dan laknatlah dia!’ pada saat jengkel dan marah; sama dengan (ketika) ia meminta kebaikan, seperti ia memohon kepada Tuhannya agar dikaruniai kesehatan dan keselamatan pada dirinya, hartanya, dan anaknya. Allah berfirman: ‘seandainya permohonan keburukan atas dirinya, hartanya dan anaknya itu segera dikabulkan sebagaimana permohonannya atas kebaikan, pasti ia akan binasa. Akan tetapi, dengan karunia-Nya, Allah tidak mengabulkan permintaannya itu.”

Begitulah manusia. Dalam ketergesaan, akal sehatnya sering macet dan malah mengharapkan sesuatu yang sebenarnya sangat buruk. Tidak cukup sampai di situ, ia juga bersikeras agar harapannya itu terwujud segera. Lalu, tiba-tiba ia terkepung sejuta penyesalan ketika menyadari akibat-akibat buruk dari apa yang semula ia harapkan sendiri.

Sayangnya, sifat inilah yang mengemuka dewasa ini. Kita menyebutnya sebagai “budaya instan”. Semula, istilah ini identik dengan makanan atau minuman yang langsung bisa dinikmati tanpa perlu dimasak lama, terutama mie. Namun, kemudian dimutlakkan untuk segala hal yang bersifat kilat dan seolah tanpa proses wajar, karena tiba-tiba sudah berwujud sempurna tanpa diketahui tahap-tahap pertumbuhannya.

Contoh-contoh budaya instan sangat banyak dan beragam. Ibaratnya, ia meluap dan merendam banyak kawasan seperti Bengawan Solo di musim hujan. Ada orang yang menjadi kaya secara instan, menjadi sarjana secara instan, menjadi langsing secara instan, menjadi terkenal secara instan, dan seterusnya.

Akan tetapi, seperti halnya mie instan atau makanan cepat saji (fast food) yang jika terlalu banyak dikonsumsi akan membawa efek-efek serius terhadap kesehatan, maka budaya-budaya instan pun demikian.

Bagaimana pun, setiap ketergesaan pasti ditunggangi oleh setan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketenangan itu dari Allah dan ketergesa-gesaan itu dari setan.” (Riwayat at-Tirmidzi dari Sahl bin Sa’ad, dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari Anas. Hadits hasan).

Misalnya, ketika seseorang tidak mau bersabar membangun jalan-jalan rezekinya secara bertahap dan ingin segera kaya-raya, ia pasti mengambil jalan pintas. Memang segenap perubahan penampilannya bisa membuat kita terperangah. Hanya saja, seluruhnya semu dan tidak bertahan lama. Beberapa waktu kemudian, ternyata ia dibelit efek-efek samping dari kekayaan instannya sendiri. Kita pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

Bagaimana pun, kekayaan bukan masalah perbendaharaan material belaka, tetapi juga menyangkut sikap mental dan cara hidup. Ketika realitas fisik manusia berubah terlalu cepat sementara kondisi mentalnya tidak disiapkan dengan baik, hampir pasti ia akan mengalami keterkejutan dan terjerumus dalam aneka bencana.

Sekedar analogi, seorang atlet angkat berat mampu mengangkat barbel tanpa mengalami cedera karena telah melatih otot-ototnya tahap demi tahap. Namun, jika orang biasa yang tidak terlatih disuruh melakukan hal serupa, akibatnya sudah bisa ditebak.

Begitu pula, jika kondisi lahiriah hidup kita berubah secara instan tanpa landasan ruhiyah yang telah disiapkan baik-baik, maka bersiap-siaplah untuk mengalami aneka cedera mental yang tidak disangka-sangka. Na’udzu billah! Wallahu a’lam.

Ust Alimin Mukhtar

Kapal Dakwah PosDai Diserahkan kepada Hidayatullah

KEPULAUAN ARU (Hidayatullah.or.id) — Dai-dai Hidayatullah di Kepulauan Aru, Maluku, kini tak lagi sulit menjangkau beberapa pulau untuk menemui masyarakat Muslim yang tersebar di wilayah perairan tersebut. Pasalnya, pada Sabtu (25/9), sebuah kapal berukuran 11x 2 meter persegi telah mereka terima dari perwakilan mukhlisin yang peduli dengan dakwah pedalaman lewat PosDai Hidayatullah.

Kapal dengan berat 5 ton tersebut diterima oleh Ketua DPW Hidayatullah Maluku, Sulaiman Ismail, disaksikan sejumlah dai Hidayatullah di Dobo, Kepulauan Aru. Menurut Sulaiman, kendala dakwah di Kepulauan Aru selama ini memang transportasi.

“Di Aru ini banyak sekali pulau. Untuk menjangkau masyarakat di sana kami perlu kapal. Alhamdulillah sekarang sudah ada,” jelas Sulaiman usai menerima kapal tersebut.

Ia memberi contoh masyarakat Kampung Jerukin di Pulau Maikoor. Ada 30 KK Muslim di sana, sedang selebihnya, 30 KK lagi, non Muslim. Untuk menjangkau pulau ini diperlukan waktu 4 jam perjalanan dengan kapal kecil dari Dobo.

Beberapa tahun lalu, Sulaiman bertugas di kampung tersebut. Namun, ia dipindah ke Dobo. Sejak itu ia jarang sekali mengunjungi masyarakat binaannya karena ketiadaan kapal. Sementara bila ia menyewa kapal kecil, biayanya bisa besar sekali, yakni Rp 3 juta untuk satu kali perjalanan

Jumadil Akhir, dai muda Hidayatullah yang ditugaskan berdakwah di Kepulauan Aru, menjelaskan rencananya untuk mengunjungi beberapa kampung binaan di sejumlah pulau dengan kapal tersebut.

Selain berdakwah dan bersilaturahim, ia juga ingin mengajak sejumlah anak muda Muslim dari beberapa pulau untuk belajar mengaji di pesantren Hidayatullah, Dobo. Setelah mereka mampu membaca al-Quran dengan baik, mereka akan dikembalikan ke kampungnya untuk mengajar ngaji di sana.

Kabupaten Kepulauan Aru adalah salah satu kabupaten dari total 9 kabupaten ditambah 2 kota di Propinsi Maluku. Wilayahnya membentang sepanjang 185 kilometer dari utara ke selatan dan 90 km dari timur ke barat. Ukurannya hampir sama dengan 2 kali luas Pulau Bali. Luas wilayah perairan 7,6 kali wilayah daratan.

Ada 187 pulau di Kepulauan Aru. Lima pulau terbesar di antaranya adalah Kola, Wokam, Kobror, Maekor, dan Trangan. Kabupaten Kepulauan Aru juga terbagi atas 10 kecamatan, 2 kelurahan, dan 80 desa. (Mahladi)

Depsos Gelar Pelatihan Kepengasuhan se-NTB

MATARAM (Hidayatullah.or.id) — Departemen Sosial Dewan Pengurus Pusat (Depsos DPP) Hidayatullah bersama Depsos Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar pelatihan kepengasuhan santri dan anak asuh bagi pengasuh panti asuhan di bawah Pusat Pendidikan Anak Shaleh (PPAS) Hidayatullah se-NTB, Sabtu, 18 Safar 1443 (25/9/2021).

Ketua Depsos DPP Hidayatullah Musliadi Raja mengatakan acara yang digelar di Kampus Madya Al Iman Hidayatullah Mataram ini juga sekaligus dalam rangka penguatan pada Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) PPAS untuk pencapaian kinerja yang lebih terarah, terpadu, dan berkelanjutan.

“Peran kepengasuhan menjadi core capabilities untuk mencapai apa yang telah diamanatkan oleh negara sebagaimana UU Nomor 23 Tahun 2002, agar anak terpenuhi hak-haknya untuk hidup, tumbuh dan berkembang,” kata Musliadi dalam keterangannya kepada media ini, Senin, 20 Safar 1443 (27/9/2021).

Menurut Musliadi, peran kepengasuhan juga penting menjadi perhatian sebab selain ia menjadi ujung tombak dalam perlindungan dan pemenuhan hak anak dalam lingkungan yayasan, ia juga menjadi penentu dalam pembentukan karakter anak yang bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

“Oleh karena itu, kami di Depsos Hidayatullah menilai amat penting pelatihan ini yang sejalan dengan fungsi dan tujuan Pendidikan Nasional sebagaimana diamanatkan oleh negara,” katanya seraya menukil Pasal 3 Undang-undang No. 20 Tahun 2003.

Dalam sambutannya, Musliadi menekankan bahwa menjadi pengasuh merupakan amanah mulia. Namun dia mengingatkan, mengasuh tidaklah sesederhana membalik telapak tangan, karena itu, penyelenggaraan kepengasuhan membutuhkan ilmu dan kesiapan diri.

“Menjadi pengasuh dan murobbi santri yang egaliter serta mengedepankan dialog pada santri dalam menegakkan peraturan keasramaan,” imbuhnya.

Dia berpesan agar pengasuh selalu ditingkatkan kapasitasnya dalam menangani santri agar lahir santri yang disiplin dalam semua aspek, baik dalam hal ibadah maupun skil praktis keseharian. Dia mengatakan, pelatihan serupa terus berlanjut di kota kota lainnya.

Dalam pelatihan turut hadir Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Ustadz Ismuji, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah NTB Ustadz Muslihuddin Mustakim, Ketua Depsos DPW Hidayatullah NTB Muhammad Fahrurrozi.

Acara juga dihadiri secara virtual oleh Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat DPP Hidayatullah Ust Drs Nursyamsa Hadis yang sekaligus memberikan arahan strategis dalam acara yang dihadiri peserta perwakilan 10 DPD Hidayatullah se-NTB tersebut.

Di sela kegiatan yang berlangsung intensif sehari ini, Musliadi menyapa anak anak asuh Kampus Madya Al Iman Hidayatullah Mataram dan berfoto bersama. Direktur Sahabat Anak Indonesia (SAI) ini juga melakukan silaturrahim dengan Gubernur NTB Zulkiflimansyah. (ybh/hio)

Membangun Leadership dengan Literasi Islam Kalangan Pemuda

TUBAN (Hidayatullah.or.id) — Pemuda Hidayatullah Jawa Timur, rayon Bojonegoro, menggelar acara ‘Leadership Training Center’ (LTC), untuk semua kader muda Hidayatullah, selama 3 hari yang ditutup Sabtu,
18 Safar 1443 (25/9/2021).

Kata Muhammad Thalib, ketua rayon Pemuda Hidayatullah Bojonegoro, diselenggarakanya acara ini, selain menjalankan amanah yang telah diberikan organisasi, juga dalam rangka pembinaan nilai-nilai ruhiah dan kepemimpinan para pemuda Hidayatullah.

Acara yang diselenggarakan di kampus Hidayatullah, Tuban ini, menyugukan beberapa materi kepemimpinan. Salah satunya bidang literasi.

Dalam penyampaiannya, Robinsah, selaku pemateri, mengingatkan para peserta untuk menumbuhkan aktivitas literasi. Hal ini dinilai penting, untuk mengasah jiwa kepemimpinan yang matang.

“Pemimpin yang cakap literasinya, akan mampu melahirkan gagasan-gagasan cemerlang, karena ia mampu membaca peluang-peluang, sekaligus tantangan kedepan yang akan dihadapi,” ulasnya.

Bertolak belaka dengan pemimpin yang literasinya lemah. Miskin ide. Gamang dalam bersikap. Bahkan sekedar menyampaikan gagasanpun belepotan.

“Jangan sampai pemimpin semisal nomor dua itu ada pada diri setiap pemuda muslim. Sebab hal yang demikian, sama sekali tidak mencerminkan identitas keislaman,” warning pemuda asal Lampung ini.

Sebab, sambungnya, kalau ditilik secara mendalam kaitannya dengan literasi, maka salah misi diturunkannya Islam, yaitu ingin melahirkan generasi ilmiah yang bertauhid.

“Generasi yang sukan membaca (iqra’) Apa saja selagi positif.. Dan dengan proses itu, ia semakin tunduk dan patuh kepada Tuhannya (fasjud waqtarib), karena menyadari akan Kemahabesaran Allah atas segala sesuatu,” terangnya. (ybh/hio)

PTH STT STIKMA Internasional Gelar Sidang Senat Terbuka

0

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Salah satu perguruan tinggi Hidayatullah (PTH) yakni Sekolah Tinggi Teknologi (STT) STIKMA Internasional menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Tahun Akademik 2020/2021 yang digelar pada Sabtu, 18 Safar 1443 (25/9/2021).

Bertempat di Harris Hotel Riverside, Jl. A. Yani, Polowijen, Malang, Jawa Timur, acara wisuda menerapkan protokol kesehatan yang ketat, semua wisudawan dan peserta yang hadir wajib menggunakan masker dan menjaga jarak.

Suasana khidmat mengiringi prosesi wisuda mahasiswa STIKMA dari 3 Prodi tersebut, yakni S1 Teknik Infomatika & Arsitektur serta D3 Komputer multimedia.

Menurut Ketua STT STIKMA Internasional, Drs. Nanang Noerpatria, MPd, para wisudawan yang berjumlah 68 orang telah ahli di bidang informatika, komputer multimedia, dan arsitektur. Mereka telah meraih gelar sarjana (S-1) dan diploma serta siap terjun ke masyarakat.

Di antara para wisudawan tersebut, terdapat 12 orang sarjana yang disebut sebagai da’i Nusantara. Mereka langsung ditugaskan ke berbagai daerah di pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga Papua. Ada yang bertugas di lembaga pendidikan Islam atau pesantren, lembaga bisnis, lembaga zakat, juga terjun dakwah di media massa.

STT STIKMA Internasional adalah perguruan tinggi yang dikelola oleh ormas Hidayatullah, tepatnya Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur. Lembaga ini telah memiliki jaringan luas di seluruh Indonesia. Itulah sebabnya, lulusannya tidak ada istilah menganggur.

Saat ini STT STIKMA Internasional menyelenggarakan perkuliahan jenjang S-1 Teknik Informatika, S-1 Arsitektur, dan D-3 Komputer Multimedia. Fasilitasnya lengkap, mulai dari laboratorium informatika, animasi dan grafis komputer, jaringan komputer, audio digital dan studio dubbing, studio editing video analog dan digital, tempat ibadah, dan sebagainya.

Dijelaskan oleh Drs. Miftahuddin MSi, Ketua Departemen Pendidikan Tinggi dan Litbang Dewan Pengurus Pusat (DPP), STT STIKMA Internasional selama ini telah berpengalaman dalam menyiapkan sumber daya insani yang terampil di bidang teknologi informasi. Banyak lulusannya yang telah berkiprah di berbagai daerah.

Acara wisuda STT STIKMA Internasional dihadiri oleh KH. Dr. Nashirul Haq, Lc, MA, Ketua Umum DPP Hidayatullah. Usai memberikan sambutan, cendekiawan Muslim ini mengalungkan surban kepada perwakilan da’i Nusantara.

Ada yang menarik dalam wisuda tersebut, bersamaan dengan wisuda, Manager Kelembagaan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Jawa Timur, Indokhul Makmun, SE menyerahkan bantuan paket beasiswa Super Prestasi senilai 252 juta yang meliputi biaya pendidikan, biaya asrama dan pengembangan bakat.

“Selama beberapa tahun ini, Laznas BMH terus aktif peduli dalam dunia pendidikan, salah satunya STIKMA ini untuk terus mencetak generasi yang siap menghadapi tantangan global”ungkap Makmun.

Ia juga menambahkan, “semoga dengan adanya bantuan pendidikan ini, semakin banyak generasi yang siap tampil di masyarakat dengan ketrampilan yang mumpuni dalam merespon problematika ummat di dunia global sekarang ini”.*/Puang Budi