SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Terhitung sejak satu tahun terakhir, Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman al-Hakim (STAIL), Surabaya, telah membuka program tahfidz bersanad, untuk mahasiswa/mahasiswi.
Program yang mendapat pendampingan langsung dari syaikh dan syaikhah bersanad asal Yaman ini, mendapat dukungan penuh dari Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi ST MT.
Dukungan itu Eri sampaikan secara langsung, ketika memberikan sambutan dalam acara peletakan batu pertama pembangunan asrama empat tingkat untuk mahasantri tahfidz, Sabtu (1/5/2021).
“Pemerintah kota saat ini tengah berjuang membangun kota dengan berbasiskan kepada akhlak mulia, yang basis utamanya adalah Alquran. Maka tebarkan lah Alquran di seluruh kota Surabaya ini,” ujar Eri seperti dikutip dalam rilisnya.
Alumnus Institut Sepuluh November (ITS) itu juga menegaskan, bahwa, keberhasilan Surabaya menjadi kota metropolitan yang maju dan mendapat penghargaan di dunia internasional akan tidak ada artinya, manakala akhlak ditinggalkan.
“Percuma Surabaya terkenal di dunia kalau minim akhlakul karimah,” tegasnya.
Untuk itu, ujar Eri, kerja sama antara ulama dan umara (pemimpin) sangatlah penting dalam mewujudkan Surabaya yang maju dan beradab di masa mendatang.
“Doa para ulama sangat lah penting. Kemajuan sebuah kota juga tergantung doa para ulama, selain dari upaya yang dilakukan oleh para umara,” ungkapnya.
Sementara itu, Ustadz Syamsuddin SE MM, ketua Pengurus Pesantren Hidayatullah Surabaya, menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya, atas kehadiran para tamu undangan, terkhusus wali kota Surabaya.
Ia pun meminta doa, agar proses pembangunan asrama yang direncanakan selesai dalam waktu empat bulan, bisa terealisasi.
“Mohon dukungannya, baik secara moril maupun materiil. Kita sudah punya mahasiswi. Tapi belum punya asrama yang memadai. Maka ini adalah ikhtiar. Semoga Allah mudahkan,” doanya.
Selain walikota, hadir juga, tokoh Surabaya Saleh Ismail Mukadar, jajaran pengurus pesantren, dan seluruh staf akademika STAIL.
BAUBAU (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka memperingati perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Provinsi Sulawesi Tenggara (Prov Sultra) ke-57, Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau menggelar perayaan buka puasa bersama (bukber) dengan warga Pondok Pesantren Hidayatullah di Kelurahan Kadolokatapi, beberapa waktu lalu.
Melalui rilis Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Baubau, mewakili Pemkot Baubau, Kepala Bagian (Kabag) Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kota Baubau Dr. Rusli Iru, S.Ag, mengatakan, bahwa kegiatan buka sosial tersebut merupakan Instruksi Wali Kota Baubau Dr. H. AS Tamrin, MH.
“Jadi kegiatan sosial berbagi Buka Puasa ini adalah salah satu program kegiatan Pemkot dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun Sultra yang ke 57. Di mana ulang tahun Sultra Tahun ini bertepatan dengan Bulan Suci Ramadhan, jadi sangat cocok sekali kalau kita rayakan dengan kegiatan berbagi seperti ini,” ujarnya.
Dikatakan, melalui kegiatan ini juga, Walikota Baubau berupaya untuk merangkul anak serta peduli terhadap warganya yang kurang mampu.
“Alhamdulillah hari ini kita masih diberikan kesempatan untuk berbagi dengan para Ustaz dan Santri di Pondok Pesantren Hidayatullah yang berjumlah kurang lebih 50 orang,” ujarnya.
Lanjut ia mengatakan, kegiatan itu juga merupakan wujud komitmen Wali Kota Baubau dalam mengimplementasikan nilai-nilai PO-5 yakni, Pomaamaasiaka, Popiapiara, Poangkaangka taka, Pomaemaeaka, dan Pobincibinciki kuli.
“Apa yang kita lakukan hari ini adalah merupakan satu bukti bahwa PO-5 bukan hanya sekedar slogan, namun kita tetap implementasikan dengan kegiatan-kegiatan sosial seperti ini agar anak-anak yatim piatu merasa diperhatikan oleh Pemerintah, sehingga mereka tidak merasa tersisihkan,” tutupnya.
Ditempat yang sama, Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah,Ustaz Muzakar Salim mengungkapkan, pihaknya sangat bersyukur dan berterima kasih atas perhatian pemerintah Kota Baubau terhadap pihaknya.
Ia berharap, melalui kegiatan ini silaturahmi antara Pondok Pesantren Hidayatullah dengan Pemkot Baubau semakin erat.
“Alhamdulillah kami sebagai pengurus dan santri sangat bersyukur dan berterima kasih atas partisipasi dari Wali Kota Baubau yang telah berkenan memberikan buka Puasa bersama ini. Mudah-mudahan dengan kegiatan sosial seperti ini dapat mempererat silaturahmi kita antara pihak Pesantren maupun Pemerintah Kota Baubau,” tutupnya. (bbp/hio)
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pandemi Covid-19 yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhirnya hingga saat ini, tidak menyurutkan langkah sekelompok pemuda untuk tetap berkarya bagi umat dan bangsa.
Pada Ramadhan 1442H kali ini, Pemuda Madinatul Iman, demikian julukan sebuah organisasi kepemudaan, melakukan terobosan “baru” dalam kiprahnya. Apa gerangan?
“Balikpapan Mengaji: Talaqqi Al-Qur’an, Bangun Peradaban” adalah bentuk kegiatan mereka dalam rangka turut menyemarakkan Ramadhan. Para aktivis muda itu menebar guru-guru mengaji di sejumlah titik di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Guru mengaji tersebut menempati gerai-gerai yang telah ditentukan.
“Pemuda Hidayatullah Balikpapan terpanggil untuk mengajak masyarakat luas untuk ber-talaqqi Al-Qur’an. Kami menyediakan 6 gerai sebagai tempat “berhalaqoh” mengaji di setiap titik kecamatan yang ada di Kota Balikpapan,” ujar Ketua PD Pemuda Hidayatullah Balikpapan, Imam Muhammad, kepada hidayatullah.com Balikpapan, Ramadhan 1442H ini.
Talaqqi adalah belajar secara langsung berhadapan dengan guru.
Dijelaskan, program ini merupakan salah satu pelayanan dakwah mereka untuk turut membangun Kota Balikpapan dan Indonesia pada umumnya.
Dalam hal ini, mereka antara lain bersinergi dengan salah satu perguruan tinggi di daerah berjuluk Kota Beriman itu.
“Guru mengaji Al-Qur’an adalah pemuda-pemuda yang bekerja sama dengan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah Balikpapan,” jelasnya.
Baru-baru ini hidayatullah.com menyambangi gerai-gerai tersebut. Tampak para guru setia menanti kehadiran warga yang hendak mengaji atau belajar mengaji. Begitu pula bagi yang ingin menyetorkan bacaan atau hafalan Al-Qur’annya untuk dikoreksi. Tanpa pandang bulu, siapa saja dipersilakan untuk datang ke gerai-gerai itu.
Awak media ini tak mau ketinggalan. Begitu tiba di salah satu gerai di Kelurahan Sumber Rejo, Balikpapan Tengah, kami disambut oleh Aji Prasetyo, salah seorang guru mengaji.
Di antara prosedur belajar mengaji di gerai ini adalah harus memakai masker dan jaga jarak. Warga yang datang lalu diminta mengisi daftar peserta pada buku yang telah disediakan. Kami pun meminta untuk dites mengaji pada sejumlah surat Al-Qur’an.
“Sudah lumayan bacaannya, cuma kurang tebal (huruf) sho’-nya,” kata Aji memberikan koreksi setelah beberapa menit menyimak bacaan Qur’an.
Selain memperbaiki bacacan Qur’an, guru mengaji di gerai-gerai itu juga siap mengajarkan ngaji untuk siapa saja, baik yang masih berusia dini (anak-anak) maupun pelajar serta orang dewasa.
Aji menuturkan, setiap hari selama Ramadhan 1442H ia dan teman-temannya ditempatkan pada gerai-gerai berbeda secara bergantian. “Kita di-rolling,” ujarnya.
Hingga pertengahan Ramadhan kali ini, warga masyarakat yang belajar Al-Qur’an di gerai-gerai mengaji cukup antusias meskipun jumlahnya tidak merata. “Gak menentu. Kadang anak-anak bawa gerombolan (teman-temannya),” ujarnya.
Pada gerai lainnya, beragam kalangan masyarakat mendatangi gerai, termasuk sejumlah pekerja perusahaan yang sedang rehat pada siang hari.
Dengan kegiatan Balikpapan Mengaji ini, Pemuda Hidayatullah di kota “Madinatul Iman” itu ingin membumikan Al-Qur’an untuk segenap lapisan masyarakat Muslim setempat. “Tekad kami adalah landing-nya para pemuda yang lisannya basah oleh huruf-huruf Al-Qur’an,” ujarnya.
Sedekah Sepeda Motor
Sebagai program yang bisa dibilang baru, para pemuda itu harus berupaya keras untuk menyukseskan “Balikpapan Mengaji”. Berbagai pihak pun diajak bekerja sama, baik secara personal maupun institusi seperti Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dan Mitra Zakat YPPH Balikpapan.
Menariknya pula, karena guru-guru mengaji tersebut adalah para mahasiswa yang secara finansial belum begitu mandiri, mereka pun difasilitasi dengan roda dua. Kendaraan ini untuk memobilisasi para guru mengaji tersebut.
Tentu bukan biaya murah mengadakan sepeda motor sebanyak 6 unit untuk sebuah kegiatan dalam sebulan. Satu terobosan dilakukan Imam yaitu dengan membuka donasi sedekah-pinjam sepeda motor untuk guru ngaji.
Donasi sedekah atau pinjam motor itu disambut antusias. Tak sedikit warga yang tertarik meminjamkan sepeda motornya untuk kepentingan dakwah ini. Bahkan ada yang membelikan sepeda motor baru untuk kegiatan Pemuda Hidayatullah Balikpapan.
“Masyarakat yang hatinya bergantung pada Al-Qur’an, maka kemudian para mahasantri yang akan mengajar kami bekali dengan kendaraan untuk mempermudah mobilisasi ke tempat tugas,” ujar Imam, lantas mengucapkan banyak terima kasih kepada para donatur yang telah mendukung kegiatan tersebut.
GSM di Masjid
Selain kegiatan belajar mengajar Al-Qur’an itu, pada Ramadhan kali ini Pemuda Madinatul Iman juga mengadakan kegiatan GSM, singkatan dari “Gerakan Semerbak Masjid”. Lewat gerakan ini, Pemuda membagi-bagikan sejumlah botol parfum pilihan ke masjid-masjid.
Kegiatan peluncuran GSM dilakukan pada Kamis, 24 Ramadhan 1442H (06/05/2021) di Masjid Ar-Riyadh, Kecamatan Balikpapan Timur. Peluncuran dilakukan pada bakda zuhur di depan jamaah.
Secara simbolis, Imam melakukan penyemprotan parfum ke sejumlah tokoh setempat, mulai dari imam masjid, dai, hingga aktivis ormas Islam.
“Ini program bagus,” apresiasi dari salah seorang ustadz di masjid tersebut.
Dengan GSM, jamaah masjid dipersilakan untuk menggunakan parfum itu demi kekhuyukan beribadah. Sebaliknya, jamaah juga dipersilakan mendonasikan parfum di tempat yang disediakan untuk dipakai jamaah masjid.
“Silakan dipakai secukupnya. Siapapun boleh menaruh, siapapun boleh memakai,” tagline dari GSM yang terlihat pada keterangan tertulis di dekat tempat parfum-parfum tersebut.
Untuk diketahui, kegiatan-kegiatan tersebut bagian dari program Ramadhan yang diagendakan oleh Panitia Ramadhan 1442H Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah UmmulQura, Balikpapan. “Silakan mampir di medsos kami: Pemuda Hidayatullah BPN (IG dan FB),” pungkasnya.*/(SKR)
BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional), memperkirakan potensi zakat di Tanah Air pada 2021 mencapai Rp327,6 triliun. Namun, sejauh ini realisasinya baru Rp71,4 triliun. Adapun, lebih dari 85 persen dari zakat yang terkumpul dilakukan melalui Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) tidak resmi.
Angka tersebut terdiri dari zakat perusahaan (Rp144,5 triliun), zakat penghasilan dan jasa (Rp139,07 triliun), zakat uang (Rp58,76 triliun), zakat pertanian (Rp19,79 triliun), dan zakat peternakan (Rp9,52 triliun).
Sementara Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) berjumlah 545 lembaga. Merupakan Amil terbanyak dalam sebuah negara di dunia. Tidak ada negara manapun di kolong lngit ini yang memiliki OPZ sebanyak Indonesia.
Data tersebut, terdiri dari Badan Amil Zakat Pusat, Propinsi, dan Kabupaten/Kota. Serta Lembaga Amil Zakat (LAZ), baik tingkat Nasional, Propinsi, maupun Kabupaten/Kota. Sehingga potensi yang sedemikian besar itu, sebenarnya menjadi tanggungjawab dari 545 OPZ tersebut di atas.
Sementara untuk Ramadhan 2021 tahun ini, BAZNAS dengan seluruh jaringannya menargetkan penerimaan sebesar 6 Trilyun. Sedangkan LAZ memiliki target masing-masing.
Akan tetapi, berdasarkan pengalaman selama ini, maka penerimaan/ penghimpunan Zakat di bulan Ramadhan, biasanya meningkat hingga minimal 3 (tiga) kali lipat atau lebih dari penerimaan bulan-bulan biasanya.
Karena kesadaran umat untuk berzakat di bulan ramadhan memang selalu meningkat. Sementara itu, penerimaan tahunan dari LAZ rerata naik di kisaran 25-30 % per Tahun, termasuk pada tahun 2020 kemarin, saat pandemi sudah mulai. Berdasarkan laporan tahunan dari Baitul Maal Hidayatullah, salah satu LAZ Nasional rata-rata pertumbuhannya sekitar 30% per tahun.
Menurut data PUSKAS BAZNAS (2020), skor pemahaman dasar zakat maupun skor indeks literasi zakat masih pada tahap moderat, yakni masing-masing 72,21 dan 66,78. Sementara untuk skor pemahaman lanjutan zakat tercatat rendah, yakni 56,68.
Oleh karena itu, dibutuhkan edukasi untuk meningkatkan literasi zakat. Catatan lainnya, tingkat literasi zakat di kalangan anak muda masih terhitung rendah.
Dari survey tersebut ditemukan data bahwa sumber informasi zakat tertinggi berasal dari ceramah ustadz (46%). Selanjutnya, informasi zakat didapat masyarakat dari kantor atau kampus (17%), media sosial (16%), keluarga (13%), media elektronik (5%), dan media cetak (3%).
Fakta lainnya, 60% masyarakat masih menunaikan zakat di luar lebaga zakat resmi, yakni 37% menyalurkan zakatnya langsung ke mesjid dan 23% langsung ke muztahik (penerima zakat). Hanya 40% yang menyalurkannya ke lembaga zakat resmi, yakni melalui Baznas (25%) dan Lembaga Amil Zakat (15%).
Jika merujuk kenyataan bahwa dari data demografi kependudukan yang ada saat ini, dan juga dari survey di atas, ternyata tingkat literasi di kalangan anak muda terhitung rendah.
Padahal, jumlah generasi milenial dan sesudahnya, berdasarkan sensus penduduk tahun 2020 saat ini lebih dari 65% dari total penduduk Indonesia.
Sehingga, sesungguhnya market terbesar dari zakat ini adalah generasi milenial, generasi Z dan sesudahnya itu. Sehingga perlu digarap lebih serius lagi.
Dalam berbagai kesempatan, telah disampaikan bahwa, ada beberapa karakteristik dari generasi milenial ini. Yaitu selain suka berbagi, juga digital native. Suka berbagi ini, bisa kita lihat berbagai portal/ apps crowdfunding yang berhasil menghimpun dana receh dari kalangan anak muda ini.
Jika selama ini motivasinya adalah lebih banyak terkait dengan kegiatan dan solidaritas sosial, maka melalui edukasi yang memadai, bisa diarahkan untuk lebih bernuansa ibadah (keagamaan), bisa dalam bentuk zakat, infaq, shadaqah, atau wakaf. Sehingga selain faktor dorongan sosial tersebut di atas, juga ada motivasi untuk beribadah.
Tantangan berikutnya adalah, bagaimana menyiapkan portal/apps yang bisa menarik kalangan muda itu untuk menggunakannya. Sebab sebagai digital native, mereka sebenarnya sangat cepat untuk beradaptasi menggunakan perangkat dan aplikasi digital dalam bentuk apapun juga.
Asalkan bisa menarik dan mewakili keberadaan, kepentingan dan eksistensi mereka, maka mereka akan dengan sukarela berbondong-bondong untuk menggunakan aplikasi tersebut. Namun sebaliknya, jika tidak menarik bagi mereka, sangat mudah untuk meninggalkannya.
Dengan demikian maka digitalisasi zakat ini menjadi sebuah keniscayaan. Satu sisi untuk mempermudah dalam proses penghimpunan. Disisi lain adalah untuk melayani generasi muda yang memang digital minded.
Hal ini erat kaitannya dengan inklusi keuangan yang saat ini sudah cukup bagus. Bahkan kecenderungan generasi milenial ini adalah membangun cashless society. Lebih menyukai transaksi digital dibanding dengan transaksi tunai.
Sehingga saat ini, momentumnya sangat tepat, seiring dengan pandemi yang belum surut, maka umat dapat membayar zakat dengan mudah melalui kanal digital sekaligus mengurangi kontak fisik demi menekan risiko penyebaran virus corona.
Oleh karenanya hal ini menjadi tantangan bagi BAZNAS dan LAZ untuk kemudian membuka kanal digital sebanyak-banyaknya. Dengan melakukan kolaborasi berbagai pihak, provider kanal digital ini. Sehingga generasi milenial akan mendapatkan kemudahan dalam membayar zakat.
Selanjutnya hal ini juga akan men-triggerpeningkatan literasi zakat dikalangan generasi muda, yang muaranya adalah peningkatan penghimpunan zakat yang lebih transparan dan akuntabel. Sehingga akan lebih banyak lagi muzaki muda pembayar zakat dan pendistribusian terhadap mustahik yang lebih merata. Wallahu a’lam
Asih Subagyo, Dewan Pengawas Baitul Maal Hidayatullah
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Laznas BMH gelar virtual event dengan menghadirkan tiga narasumber sekaligus, yakni Guru Besar IPB, Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti, kemudian Founder Kandank Jurank Doank, Dik Doank dan Kepala Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah DPP Hidayatullah, Ustadz Nanang Noerpatria, Ahad (2/5/2021).
Dalam paparannya, Prof. Euis, demikian biasa disapa menjelaskan bahwa rumah, sekolah dan masyarakat harus sinergi untuk lahirnya anak-anak bangsa yang tumbuh kembang secara optimal.
“Rumah, keluarga, sekolah dan masyarakat, harus sinergi menghasilkan anak-anak yang berkualitas,” jelasnya.
Namun demikian, langkah ini tidak mudah, terutama pada tataran keluarga, dalam hal ini ibu di rumah.
“Ditemukan bahwa di masa pandemi, banyak ibu tidak siap menjalankan peran yang sebetulnya mulia dan membanggakan, yang terjadi malah mengeluh, pusing, hampir depresi, dan lain sebagainya. Itulah yang disampaikan sebagian kaum ibu di media sosial,” imbuhnya.
Menghadapi itu semua, keluarga harus memiliki tujuan, usaha sepenuh hati untuk ke depan memanen anak-anak yang berkualitas.
Sementara itu, Dik Doank menyatakan bahwa masalah pendidikan di Tanah Air bukan lagi darurat tetapi sekarat justru di tengah teknologi berkembang pesat.
“Anak-anak sekarang gampang mencari ilmu, buka youtube bisa, bahkan sangat mungkin akan lebih luas wawasannya dibanding gurunya di sekolah. Tapi sekarang mudah dapat ilmu, sulit mencari guru yang bisa memberikan teladan. Ini yang kurang dari negeri ini, guru-guru yang dirindukan karena teladan,” tegasnya.
Namun demikian, Dik Doank menegaskan bahwa orang tua tidak bisa menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah.
“Ingat, sekolah bukan bengkel, bapak dan ibunya yang harus sholeh dan sholehah, setelah itu guru yang sholeh dan sholehah. Apa itu sholeh dan sholehah, yakni benar-benar memikirkan perbuatannya, ibadahnya, bermanfaat bagi kebaikan sebanyak-banyak orang,” jelasnya.
Pembicara ketiga, Ustadz Nanang Noerpatria menegaskan bahwa selain keluarga dan sekolah serta masyarakat, tempat yang juga berpengaruh besar terhadap pendidikan generasi bangsa adalah masjid.
“Masjid ini kata kunci dalam pendidikan. Kalau ada sekolah besar belum punya masjid, bangunlah masjid, di sana anak-anak akan belajar tentang tazkiyah dan adab sekaligus. Meski demikian kata kunci pertama tetap keluarga. Keluarga tempat pertama dan utama menanamkan adab, berangkatnya harus dari keluarga, baru ke sekolah dan masyarakat,” tuturya.
Di akhir sesi, Imam Nawawi selaku host dalam event virtual bertajuk “Senyum Anak Indonesia, Cerdaskan Bangsa Bangkitkan Martabat Negeri” ini menyimpulkan bahwa tantangan pendidikan bangsa benar-benar ada di dalam keluarga itu sendiri, yakni dengan memerhatikan apa kriteria keberhasilan, keunggulan yang diharapkan sebagai hal yang terus menerus mesti digali dalam keluarga.*/Herim
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Guru ternyata bukan semata penggerak dan penentu kualitas pendidikan, tetapi juga sentral peradaban. Demikian diungkapkan oleh pemerhati pendidikan yang juga Ketua Dewan Murabbi Pusat Dr Tasyrif Amin saat memaparkan materi tentang Hardiknas di Channel Youtube BMH TV (30/4/2021).
Pria jebolan doktoral Universitas Ibn Khaldun Bogor itu menambahkan bahwa yang terpenting dalam pendidikan bukan semata materi dan metodologi, tetapi guru bahkan lebih jauh adalah ruh guru itu sendiri.
Dalam kacamata Islam, seorang guru sangat berpengaruh terhadap peradaban, karena gurulah yang membentuk karakter murid dengan ilmu dan keteladanan. Jika ingin tahu masa depan bangsa, maka lihatlah bagaimana guru hari ini.
Namun demikian di Tanah Air, soal guru tidaklah seperti yang seharusnya (ideal). Beragam kendala masih belum diretas, terutama perhatian yang sepatutnya kepada guru, untuk mendongkrak kualitas pendidikan Tanah Air.
Realitas
Dilansir Deutsche Welle berbahasa Indonesia, pendidikan di Indonesia jauh tertinggal oleh negara-negara lain.
Dalam survei kualitas pendidikan yang keluarkan oleh PISA (Programme for International Student Assessment) di Desember 2019, Indonesia menempati peringkat ke-72 dari 77 negara. Pengamat menilai kompetensi guru yang rendah dan sistem pendidikan yang terlalu kuno menjadi penyebabnya.
Survei PISA merupakan rujukan dalam menilai kualitas pendidikan di dunia, yang menilai kemampuan membaca, matematika dan sains dalam sebuah negara.
Sementara itu, Ruang Guru menuliskan bahwa menurut data UNESCO dalam Global Education Monitoring (GEM) Report 2016, pendidikan di Indonesia menempati peringkat ke-10 dari 14 negara berkembang dan kualitas guru menempati ukuran ke-14 dari 14 negara berkembang di dunia.
Hal ini menunjukkan bahwa Hardiknas 2021 memang harus diusahakan menjadi momentum penggebrak kesadaran publik yang belakangan relatif terseret pada isu-isu politik yang tidak substansial.
Benahi
Pertanyaan berikutnya apa solusi dan siapa yang mestinya tanggung jawab?
Kita tak perlu menudingkan telunjuk kemana-mana. Cukup mari berperan dengan kemampuan yang ada dan lakukanlah upaya-upaya pembenahan.
Virtual Event Hardiknas BMH misalnya, merupakan satu cara yang tepat menggebrak kesadaran publik dengan gelaran yang tak biasa dalam upaya menjadikan Hardiknas sebagai momentum pembenahan.
Sebagaimana jamak dipahami, langkah pertama dan utama untuk melakukan pembenahan ialah membangun ruang kesadaran diri, bahwa negeri ini masih tertinggal dalam banyak hal, utamanya pendidikan.
Di antara langkah paling konkret adalah dengan cara meningkatkan kualitas tenapa pendidik yang mencakup aspek intelektual, emosional, hingga moral dan spiritual. DI sisi yang sama, pemerintah juga mesti menetapkan satu rumusan yang memadai, sehingga upaya mandiri masyarakat dapat bertemu di satu titik yang saling menguatkan.
Setidak-tidaknya, kalau diri memang sibuk dan tak mampu berbuat banyak, jadikan sebagian harta kita sebagai sedekah untuk menguatkan program-program pendidikan yang dijalankan oleh banyak lembaga, termasuk seperti BMH yang pada 2021 ini menargetkan pendirian 1000 Rumah Quran di seluruh Tanah Air.
Rumah Quran merupakan satu cara yang ditempuh oleh BMH dan Hidayatullah untuk hadirkan pendidikan yang secara langsung dapat membenahi pendidikan nasional, utamanya dari sisi intelektual, moral, dan spiritual.
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad mencetuskan sebuah gerakan secara nasional yang ditujukan kepada para jamaah dan kadernya untuk berinfaq khususnya pada 10 hari terakhir Ramadhan 1442H.
“Momen besar Ramadhan ini perlu ditindaklanjuti,” ujar Ustadz Abdurrahman, dalam arahannya pada acara peluncuran “Gerakan Nasional Infaq Pembangunan Masjid Ar-Riyadh” di Masjid Ar-Riyadh, Kampus Hidayatullah UmmulQura, Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
Seruan Ustadz Abdurrahman pada Ahad, 20 Ramadhan 1442H (02/05/2021) pagi yang disiarkan live streaming melalui Youtube LPPH Gunung Tembak itu disambut antusias jamaah, kader, pendukung, dan simpatisan Hidayatullah se-Indonesia.
Mereka berbondong-bondong mencatatkan namanya sebagai pendonasi dengan nilai dan bentuk yang bervariatif, baik secara offline maupun online.
Gerakan ini juga disebut “pelelangan amal”. Di lokasi acara, Masjid Ar-Riyadh, Ustadz Zainuddin Musaddad yang ditunjuk sebagai koordinator gerakan nasional itu, mengingatkan keistimewaan berinfaq di bulan suci Ramadhan.
Zainuddin menerangkan, peluncuran gerakan nasional itu dilakukan di bulan Ramadhan sebagai momentum yang tepat, mengingat ini adalah waktu yang istimewa bagi kaum Muslimin.
“Kita memahami mengapa kemudian peristiwa ini terjadi di bulan Ramadhan, jelas 10 hari yang terbaik. Oleh karena itu siapapun yang mengambil bagian, Masya Allah, pertama karena memang kita orang yang beriman dengan janji-janji Allah yang pasti dikembalikan dengan cara yang sempurna, dengan kelipatan yang sempurna, dan balasan lain yang Allah tidak sampaikan semua,” ujarnya.
Ia pun memulai “pelelangan” dengan mengajak jamaah yang hadir secara offline untuk berkomitmen berinfaq secara pribadi minimal Rp 100 ribu. Ajakan ini disambut antusias para jamaah.
“Bismillah, Pak, minimal 100 ribu rupiah, tolong diacungkan tangannya, Pak. Semuanya acungkan tanganya. Berarti kita berkewajiban minimal semua 100 ribu rupiah, jangan ada yang ketinggalan, ngacungkan tangan tidak dilihat oleh saya, tapi dilihat oleh Allah. Kita mendaftarkan diri menjadi penghuni-penghuni kemuliaan. Kita ingin memuliakan Ramadhan,” ujar Zainuddin membakar semangat jamaah untuk turut berinfaq.
Pantauan media ini, tampak para jamaah offline pada mengacungkan tangan masing-masing.
Lalu Zainuddin melanjutkan “pelelangan” dengan menyebut nama beberapa orang secara personal. Nama yang disebutkan dari mimbar itu lantas menyebutkan angka yang akan diinfaqkan. Mulai dari seratus ribu rupiah, 500 ribu rupiah, hingga jutaan rupiah disebut satu per satu oleh jamaah. “Silakan dirahasiakan tambahan (infaq)nya,” kata Zainuddin juga.
Sementara itu di Youtube, kolom komentar dibanjiri rentetan dukungan jamaahnet yang menuliskan komitmennya berinfaq untuk pembangunan masjid. Jamaah ada yang tercatat berinfaq mulai ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah.
“Jangan anggap yang kecil-kecil itu nilainya rendah, tidak! Sama nilainya. Seperti saya kalau berinfaq Rp 10 juta itu yah sama Rp 1 miliar itu,” ujar Ustadz Abdurrahman seraya tersenyum, “karena apa penghasilan saya, tidak ada penghasilan saya, penghasilan saya min haitsh la yahtasib (dari arah tak terduga) saja,” sambungnya lagi-lagi tersenyum.
Pada kesempatan itu, Ustadz Abdurrahman atas nama keluarga besarnya turut berinfaq untuk masjid. Ia menjelaskan bahwa beberapa saat lalu ada orang bersedekah kepadanya, lalu Ustadz Abdurrahman pun menyedekahkan lagi sedekah itu untuk masjid.
Lantas, ibarat bola salju, berbagai deret angka komitmen infaq jamaah bergantian menghiasi kolom komentar di Youtube yang hingga berita ini ditulis telah ditonton lebih dari 4 ribu tayangan.
Sementara petugas terus mencatat dan melakukan penjumlahan otomatis dengan totalan sementara yang terus membengkak.
Untuk diketahui, hingga kini panitia telah mencatat himpunan dana komitmen infaq itu total sementara lebih dari Rp 1 miliar. Sebagian pendonasi telah menunaikan infaqnya, baik secara langsung (tunai) kepada panitia, maupun lewat transfer.
Di berbagai daerah kemudian bergerak melalukan penggalangan dana untuk infaq pembangunan masjid. “Kami Dengar dan Kami Taat… Bismillah, kita mulai penggalangan dana infaq masjid,” ujar Muhammad Isnaeni, Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Ahad (02/05/2021), menyambut seruan Pemimpin Umum Hidayatullah, seraya mengajak jamaahnya di DKI Jakarta agar turut berinfaq.
Sebentar kemudian, langsung bermunculan daftar-daftar nama jamaah yang akan berinfaq disertai nominalnya di grup WhatsApp.
Untuk diketahui, Masjid Ar-Riyadh, sebagai ikon utama yang merupakan tempat bersejarah bagi Hidayatullah, adalah pusat kegiatan ribuan warga dan santri di kampus Gunung Tembak.
Masjid ini terletak di puncak Gunung Tembak. Dari kejauhan, dua kubah kembarnya sudah terlihat sejak di kelokan Jalan Mulawarman, poros Balikpapan-Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Jika malam hari, masjid yang sebagian lantainya sudah dipasangi marmer itu tampak indah bertabur cahaya.
Saban hari, para santri dan masyarakat sekitar rukuk dan sujud secara berjamaah di sini. Suara lantunan adzan tak putus setiap shalat lima waktu. Berbagai kegiatan keagamaan juga tak pernah henti dilakukan.
Di sekitar masjid, berdiri beberapa bangunan pesantren. Ada ruang kantor, asrama dan madrasah santri, serta lapangan dan perumahan warga pesantren. Masjid empat lantai itu hingga kini belum rampung pembangunannya, meskipun sejumlah ruangan telah digunakan untuk tempat ibadah, dakwah, pendidikan, sosial, dan sebagainya.
“Masjid ini harus diselesaikan (pembangunannya) dalam waktu dua tahun ini,” ujar Ustadz Abdurrahman menegaskan, di depan Ketua Yayasan Pondok Pesantren Balikpapan Hamzah Akbar dan segenap jajarannya, serta para jamaah dan pendukung Hidayatullah yang menyaksikan tayangan itu se-NKRI bahkan ada yang di luar negeri. (Media Center UmmulQura)
SEBAGAI instrumen ekonomi Islam, keberadaan wakaf sangat strategis. Kesadaran berbagai pihak untuk menjadikan wakaf sebagai pengungkit eknomi, ditengah keterpurukan ekonomi bangsa, juga cukup bergairah.
Bahkan, saat ini referensi dan bahan bacaan berkenaan dengan wakaf, juga mudah untuk di akses. Penelitian juga bertaburan di berbagai media dan jurnal-jurnal bereputasi sekalipun. Seharusnya, ini dapat meningkatkan literasi wakaf.
Sayang hasil survei yang dilakukan oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) pada tahun 2020, menunjukkan bahwa nilai Indeks Literasi Wakaf (ILW) secara nasional mendapatkan skor 50,48. Ini masuk dalam kategori rendah.
Skor ini terdiri dari nilai Literasi Pemahaman Wakaf Dasar sebesar 57,67 dan nilai Literasi Pemahaman Wakaf Lanjutan sebesar 37,97. Jika dibandingkan dengan literasi zakat ternyata masih jauh.
Survei tingkat literasi zakat yang dilakukan oleh BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional), mendapatkan skor 66.78. Sehingga nilai ini, masuk dalam kategori tingkat literasi zakat menengah atau moderat. Artinya, umat lebih mengenal zakat dibandingkan dengan wakaf.
Keberpihakan pemerintah melalui Gerakan Nasional Wakaf Uang (GWNU) yang diluncurkan oleh Presidenn di Jakarta pada tanggal 25 Januari 2021, dimana ditegaskan bahwa cakupan pemanfaatan wakaf, tidak lagi terbatas untuk tujuan ibadah, tetapi dikembangkan untuk tujuan sosial ekonomi yang memberikan dampak signifikan bagi pengurangan kemiskinan dan ketimpangan sosial dalam masyarakat.
Disebutkan juga bahwa potensi wakaf senilai pertahun adalah 2.000 T, sedangkan potensi wakaf uang sendiri adalah 188 T per tahun. Dari potensi yang ada, menurut data BWI hingga per 20 Januari 2021, akumulasi wakaf uang mencapai Rp 819,36 miliar. Terdiri dari wakaf melalui uang sebesar Rp 580,53 miliar dan wakaf uang sebesar Rp 238,83 miliar.
Sebenarnya, Badan Wakaf Indonesia, sebagai regulator wakaf, juga terus menerus mengeluarkan kebijakan yang mendukung tumbuh suburnya dunia perwakafan ini. Demikian halnya berbagai cara dilakukan untuk melakukan public awareness. Termasuk menjalin kerjasama dengan berbagai kampus, serta korporasi, dan lain sebagainya.
Pada saat yang sama juga diluncurkannya produk-produk baru yang berkenaan dengan wakaf, yang sesuai dengan perkembangan jaman. Namun masih belum dapat menjawab beberapa kendala terkait dengan minimnya literasi, tata kelola, portofolio wakaf, hingga kemudahan cara berwakaf.
Agar menjadikan wakaf sebagai bagian dari motor penggerak ekonomi, maka menurut hemat penulis, mesti dibangun sebuah ekosistem wakaf yang melibatkan berbagai stakeholeder dari wakaf itu sendiri. Secara ringkas pihak-pihak yang terlibat dalam membanguin ekosistem wakaf yang dimaksud adalah sebagai berikut :
Pertama, Pemerintah. Memiliki peran untuk menyusun regulasi yang terkait dengan wakaf. UU No 41 tahun 2014 dan PP 42 tahun 2006 dan regulasi turunannya merupakan wujud peran pemerintah disini.
Melalui Kemenag mengeluarkan Peraturan Menteri Agama Nomor 73 Tahun 2013 tentang Tata Cara Perwakafan Benda Tidak Bergerak dan Benda Bergerak Selain Uang. Juga, Peraturan Menteri Agama Nomor 4 Tahun 2009 tentang Administrasi Pendaftaran Wakaf Uang.
Sedangkan Melalui KNEKS (Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah), juga telah menjadikan wakaf bersama dengan ZIS menjadi salah satu kekuatan keuangan ekonomi syariah
Kedua, BWI. Badan Wakaf Indonesia (BWI) adalah lembaga negara independen yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf.
Badan ini dibentuk dalam rangka mengembangkan dan memajukan perwakafan di Indonesia. BWI juga mengeluarkan regulasi melalui Peraturan BWI yang intinya bagaimana mendorong ekosistem wakaf terus berkembang di Indonesia.
Serta menginisiasi dan menghasilkan produk-produk wakaf kekinian. Disamping itu, BWI juga dapat berperan untuk mengeluarkan standarisasi nadzir (pengelolaan wakaf). Selain itu juga bisa membangun proyek wakaf bersama yang monumental dengan melibatkan nadzir-nadzir yang ada.
Ketiga, MUI. Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 11 Mei 2002 telah mengeluarkan Fatwa tentang Wakaf Uang. Di dalam dokumen fatwa tersebut dijelaskan wakaf uang (cash wakaf/waqf al-Nuqud) merupakan wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok orang, lembaga, atau badan hukum dalam bentuk uang tunai.
Juga Fatwa No. 106/DSN-MUI/X/2016, tentang wakaf polis asuransi. Dari sini mempertegas bahwa peran MUI selanjutnya adalah mengeluarkan Fatwa yang mendukung setiap kebijakan berkenaan dengan implementasi berbagai produk wakaf.
Keempat, Ulama/Da’i/Mubaligh. Salah satu hal mengapa rendahnya literasi wakaf? Ternyata memang umat sangat minim edukasi berkenaan dengan wakaf ini. Hal ini, dapat dilihat dengan sedikitnya ceramah, khutbah, pengajian, majelis taklim dlsb yang membahas tentang wakaf.
Olehnya, ulama’/da’i/mubaligh perlu ditingkatkan literasi wakaf yang memadai terlebih dahulu, sehingga akan menyampaikan ke jama’ahnya. Baik dari aspek fiqh hingga pada tataran impementasinya.
Kelima, Ormas Islam. Peran ormas Islam menjadi kunci, karena memiliki anggota/jama’ah/pengikut yang akan mengikuti arahan dan kebijakan dari ormasnya. Sehingga dari sisi awareness kepada anggotanya akan bisa lebih cepat dan terukur.
Disisi lain banyak harta wakaf yang di miliki oleh Ormas Islam ini. Oleh karenanya perlu dijadikan pilot project dari implementasi wakaf yang komprohenship dan integrative, sehingga bisa dicontoh oleh anggota dan jaringannya.
Keenam, Lembaga Pendidikan. Menanamkan pemahaman kepada pelajar/mahasiswa akan menjadikan sebaiknya dilakukan sejak dini. Dan ada upaya untuk mulai belajar mengimplementasikannya, dimuali dari sekala kecil. Sedangkan untuk perguruan tinggi, dpaat dibangun semisal wakaf center atau pusat kajian wakaf.
Sebagai tempat untuk belajar, meneliti dan mengkaji tentang wakaf, sehingga meghasilkan berbagai kajian yang berkaitan dengan wakaf. Dan juga, membangun endowment fund yang berbasis wakif untuk dana abadi masing-masing lembaga pendidikan tersebut.
Ketujuh, Institusi Bisnis. Pelibatkan institusi bisnis sangat strategis. Karena pengusaha yang mengendalikan bisnis juga mesti faham tentang wakaf. Terlebih adanya wakaf saham, yang saat ini juga sudah mulai menjadi trend. Sehingga menjadikan institusi bisnis dan pengusaha akan memberikan daya dukung yang sangat signifikan bagi pengembangan wakaf ini.
Kedelapan, Nazir. Satu hal yang menjadi kendala dalam pengelolaan wakaf adalah nadzir. Sebagai pengelola dari harta wakaf, selain faham tentang fikih, hukum dan regulasi tentang wakaf, juga dituntut faham bisnis. Karena hakekatnya, pengelolaan harta wakaf juga mesti dikelola sebagaimana mengelola bisnis. Olehnya dituntut profesionalisme disini.
Setiap akan implementasi/investasi dalam proyek wakaf, mesti ada feasibility study yang memadai. Sehingga setidaknya mesti ada fund manager dan investment manager, atau yang memerankan funsi itu di setiap nadzir.
Dengan demikian maka, semua parameter dalam bisnis, juga diterapkan dalam wakaf, dengan tetap mengikuti kaidah syar’i dan regulasi yang ada. Sehingga Nadzir juga akan menjadi salah satu profesi yang menjanjikan.
Kesembilan, Wakif. Rendahnya tingkat literasi wakaf, sesungguhnya juga menggambarkan rendahnya para pewakaf (wakif). Sehingga peningkatan literasi wakaf ini menjadi kunci. Ada edukasi yang terprogram bagi calon wakif.
Jika edukasi terhadap wakif ini memadai, maka wakaf dengan seluruh produk-produk turunannya, akan mudah dipelajari dan disambut dengan baik oleh wakif.
Kesepuluh, Mauquf ‘alaih. Pihak penerima manfaat (mauquf alaih), juga mesti teredukasi dan terseleksi. Sehingga dana hasil kelolaan wakaf yang disalurkan ke mauquf ‘alaih ini akan memberikan manfaat yang besar dan selanjutnya akan menjadikan mauquf ‘alaih semakin berkembang. Dan salah satu tujuan dari wakaf untuk aspek sosial-ekonomi juga akan tercapai.
Untuk membangun ekosistem wakaf ini tidak mudah membutuhkan effort yang cukup besar. Akan tetapi jika ekosistem wakaf sudah dibangun sebagaimana dalam gagasan ini, maka akan dapat menjawab tujuan dan fungsi wakaf yang tertuang dalam UU No 41 tahun 2001 yaitu untuk memanfaatkan harta benda wakaf sesuai dengan fungsinya dalam rangka mewujudkan potensi dan manfaat ekonomis harta benda wakaf untuk kepentingan ibadah dan untuk memajukan kesejahteraan umum. Wallahu A’lam
Asih Subagyo, Ketua Bidang Organisasi DPP Hidayatullah
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Koprs Mubuligh Hidayatullah mengadakan koordinasi serta rapat kerja pertama bertempat di gedung pusat Dakwah Hidayatullah pada rabu (28/4/21). Iwan Abdullah selaku ketua korps mubaligh Hidayatullah mengucapkan rasa syukurnya atas terlaksananya konsolidasi korps mubaligh Hidayatullah.
“Alhamdulillah,kami sangat bahagia atas terlaksananya kegiatan ini. Tentunya dengan adanya KMH ini diharapkan para da’i kita dapat terkorodinir dengan baik. Sehingga nantinya tidak ada dai yang tidak di akses Umat” jelas Iwan.
Iwan menjelaskan, setidaknya ada 133 da’i yang berdomisili di area Jakarta, Depok dan Bogor. Tentunya hal ini akan menjadi pekerjaan rumah bagi KMH untuk memberikan kordinasi kepada para da’i untuk terjun ke Masyarakat.
“Setidaknya menurut data yang ada, sudah ada 133 da’i yang ada di tiga daerah , tentunya ini menjadi tantangan serta sekaligus menjadi peluang kita semua supaya para da’i kita bisa di akses masyarakat apalagi di bulan Ramadan”
Menurut Iwan, penting untuk da’i Hidayatullah terkodinasi dalam satu gerakan, dikarenakan Hidayatullah sedari dulu adalah kekuatan gerakan jama’ah yang telah diwariskan sejaka lama. Sehingga dalam gerakan dakwah, tidak hanya dai saja yang dikenal, namun lembaga juga ikut dikenal
“Tentunya sebagai orang Hidayatullah kita telah hidup berjamaah. Maka berdakwah juga jamaah. Sehingga jika seorang da’i baik dikenal maka lembaga juga baik dikenal”
Selain itu, Ketua Bidang Dakwah dan Pelayan Umat, Ustad Nursyamsa Hadist menjelaskan KMH merupakan sekian dari satu elemen penting untuk membangun peradaban Islam
“Korps mubaligh salah satu Usaha untuk membangun Masyarakat yang berperadaban Islam oleh karena itu Korps ini menjadi elemen penting dalam membangun Peradaban Islam” Terang Nursyamsa.
Nursyamsa menerangkan bahwa semangat dakwah tidak boleh lepas dan tidak dilakukan siapa saja. Hal itu dikarenakan berdakwah tidak hanya dakwah lisan saja melainkan banyak hal-hal bisa dilakukan dalam berdakwah.
“Tentu saja startegi ndakwa TDK hanya Dakwah Lisan saja, melainkan dakwah di segala aspek. Melainkan Dakwah Fhardiyah Karena dakwah tidak selalu ceramah. Bisa dakwah dwngan gagasan, dakwah perilaku dan banyak hal” ucapnya.
BONTANG (Hidayatullah.or.id) — Memasuki hari ke-12 Ramadhan, Forum Jurnalis Bontang (FJB) menggelar buka puasa bersama Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah Sungai Bontang, Kaltim, Sabtu (24/4/2021).
Kegiatan ini juga dibarengi penyaluran beberapa paket sembako. Koordinator kegiatan Bambang Al Fatih menjelaskan, ini merupakan bagian dari program kerja FJB.
Tujuannya, kata Bambang, untuk berbagi kepada sesama di bulan yang penuh berkah ini. Khususnya pada santri dan anak yatim.
“Ini bagian dari agenda kerja kami,” beber Bambang.
Bambang menyebut sengaja memilih ponpes ini. Sebab lokasinya cukup jauh dari pusat kota. Berada di dekat Tugu Selamat Datang. Lalu melalui jalan tanah sekira satu kilometer.
Tepatnya di Jalan Sungai Bontang, Kilometer 8, Desa Martadinata, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur.
Bersama itu, puluhan juru warta ini membawa sejumlah takjil untuk dikonsumsi bersama penghuni ponpes. Pun beberapa paket sembako.
Berupa beras, minyak goreng, ikan sarden, dan telur ras. Untuk membeli seluruh kebutuhan ini, menggunakan uang kas FJB. Pun hasil sumbangan beberapa anggota.
“Bantuan ini meyasar 42 santri dan anak yatim serta 10 pengasuh ponpes,” ungkap Bambang.
Sementara itu, Ketua Yayasan Ponpes Hidayatullah Sungai Bontang, Ust Syamsuddin menuturkan, terima kasih dan apresiasi kepada FJB.
Sebab, kendati ponpes ini lokasinya terbilang cukup terpencil, anggota FJB tetap bersemangat menyambangi mereka. Dalam banyak kesederhanaan.
Ia berharap kehadiran FJB kali ini bakal memberi kebaikan, dan diberkahi amal oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Tantangan yang mereka hadapi sebelum sambangi Ponpes semoga menjadi amalan lebih, dan berkah bagi semua.
“Siapa yang beri buka puasa kepada yang orang berpuasa akan diberi amalan yang sama dengan mereka yang puasa tanpa mengurangi amalnya,” tandasnya. (ybh/hio)