MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Negeri Indonesia khususnya Provinsi Papua Barat adalah layaknya patahan surga yang dianugerahkan oleh Tuhan. Ia kian kemilau dengan amal shaleh dan kiprah nyata kader Hidayatullah dalam rangka membangun kawasan ini hingga kelak ia tampil “menyinari” dunia.
Itulah spirit yang melatari penyelenggaraan daurah murabbi yang diselenggarakan oleh Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Papua Barat dengan mengangkat tema “Mengokohkan Jati Diri Menuju Sukses Tarbiyah Dan Dakwah”.
Daurah Murabbi Ula dan Wustho yang bertempat di Kampus Madya Hidayatullah Manokwari dan dibuka pada Senin (29/03/2021) ini dibuka dengan taujih oleh Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah, yang juga menjadi pemateri kunci dalam daurah tersebut, yaitu KH Dr Tasyrif Amin, M.Pd.I.
Dalam penyampainnya, beliau berpesan kepada para kader yang akan mengikuti daurah murabbi agar menjaga ruh dengan menguatkan amal shaleh dan merutinkan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) yang sudah menjadi program nasional Hidayatullah.
Tasyrif menjelaskan, dalam sebuah organisasi, pengkaderan dan pembinaan anggota adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduannya sangat menentukan peningkatan kualitas dan kuantitas anggota dan kader bagi sebuah organisasi.
Untuk itu, pembangunan karakter luhur bangsa dan umat harus dimulai dari diri sendiri (ibda’ binafsik) dengan terus menerus melazimkan amal ibadah yang tertuang dalam GNH sehinnga kelak ia bisa menjadi murabbi.
Amal shaleh yang terpatri dalam pribadi seorang muslim, apalagi bagi kader Hidayatullah yang terpimpin dan terbina, kata Tasyrif, akan melahirkan etos kerja yang tinggi. Dan, etos kerja tinggi berbanding lurus dengan kiprah kebajikan di masyarakat atau dimanapun ia berada.
Lebih jauh Tasyrif mengungkapkan, untuk menjadi murabbi atau instruktur yang berintegritas, setidaknya ada beberapa hal bekal yang harus dimiliki diantaranya, pertama, retorika yang baik. Kedua, menguasai materi.
“Namun, untuk mendukung kedua hal itu, seorang murabbi harus memiliki spirit ruhiyah, tentu dengan menjaga GNH-nya,” terang Tasyrif.
Selain itu, kegiatan yang dilaksanakan tersebut juga mensosialisasikan hasil revisi materi Instruktur Halaqah Ulaa dan Wustho. Serta implementasinya dalam pelaksanaan halaqah anggota dan kader.
Acara yang berlangsung khidmat tersebut, dihadiri oleh peserta yang dirokemdasikan khusus dari seluruh cabang Hidayatullah di Papua Barat.
Turut hadir dalam kesempatan acara tersebut, Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Papua Barat, Ustadz. H. Sudirman Ambal dan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Hidaytullah Papua Barat, Ustadz. Hasdar Ambal, S.Pd.I*/Refra
AMBON (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah di Desa Liang, Dusun Batu Merah, Ambon Maluku Tengah, menggelar acara Ujian Tahfidz Terbukan 6 Juz Al Qur’an yang digelar Senin (29/3/2021). Baitul Maal Hidayatullah (BMH) perwakilan Maluku memberikan enam beasiswa kepada santri penghafal Alquran berprestasi.
Ketua Perwakilan BMH Maluku, Supriyanto menyatakan, Beasiswa Santri Penghafal Qur’an Berprestasi merupakan program unggulan dan pemberdayaan para generasi muslim yang bersumber dari donatur dan kaum muslimin dan muslimat.
“Beasiswa berupa uang saku ini diberikan kepada santri yatim dan dhuafa yang menghafal Qur’an dan berprestasi. ” ujar Supriyanto.
Satu di antaranya, Sri Ramadhani Tihurua yang mengaku senang menerima beasiswa santri penghafal qur’an berprestasi ini.
“Terima kasih atas beasiswa ini, beasiswa ini sangat bermanfaat bagi saya,” ungkapnya.
Kali ini, BHM Maluku menyerahkan enam beasiswa kepada enam santri terpilih.*/Herim
KUPANG (Hidayatullah.or.id) — Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah, Dr Dudung A. Abdullah, SH, MH, sangat yakin dan optimis majelis hakim akan memutus seadil-adilnya terkait hak kepemilikan lahan Pondok Pesantren Hidayatullah Batakte, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang telah didiami lebih dari 25 tahun lalu.
Hal itu dikemukakan Ketua Tim Hukum Hidayatullah Kupang ini terkait proses hukum persidangan gugatan tanah yang saat ini masih berlangsung dimana penggugat adalah keluarga Sufmela dan terdapat 54 pihak tergugat termasuk Pondok Pesantren Hidayatullah Batakte.
“Kami juga memohon doa atas kelancaran kasus ini agar Pesantren Hidayatullah yang merupakan satu satunya pesantren di Kabupaten Kupang Barat ini bisa mendapatkan keadilan karena ini adalah tanah milik pesantren,” kata Dudung dalam keterangannya kepada media ini, Senin (29/3/2021).
Keluarga Sufmela melakukan gugatan terhadap lahan tersebut yang mengklaim bahwa lahan seluas 275 hektar itu adalah lahan dari leluhurnya.
Sementara sebanyak 54 pihak tergugat yang mendiami lahan tersebut selain Ponpes Hidayatullah Batakte, ada juga Balai Monitor Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), SMP Negeri 1 Batakte, kantor kelurahan dan sejumlah lahan perusahaan dan penduduk. Mereka menyatakan memiliki dasar yang jelas berupa sertifikat baik hak milik maupun sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB).
“Termasuk pesantren kita mempunyai sertifikat dan asal usulnya jelas 25 tahun yang lalu itu membeli dari seseorang yang bernama Esautael yang saat itu 5000 meter persegi kemudian ditambah 1000 meter,” kata Dudung.
Beberapa waktu lalu selama 3 hari mulai Selasa hingga Kamis, 24-26 Maret 2021, dilakukan Pemeriksaan Setempat (PS/ plaatselijke opneming en onderzoek) yang merupakan rangkaian sidang lapangan dengan pihak terkait turun langsung ke lokasi melihat batas kemudian mencocokkan dengan pengakuan para pihak baik penggugat maupun tergugat.
Pemeriksaan Setempat itu berjalan baik dan lancar. Majelis hakim menyampaikan mempersilahkan kepada pihak terkait menuangkan hasil pemeriksaan langsung tersebut dalam kesimpulan setiap pihak untuk menguatkan dalil dalil yang dimiliki.
“Dari pihak tim hukum Pesantren Hidayatullah Kupang sangat yakin sekali bahwa pesantren adalah pemilik sah dari lahan yang sekarang didiami santri putri seluas 6000 meter karena jelas kepemilikan dan asal usulnya,” kata Dudung yang juga turut langsung dalam Pemeriksaan Setempat tersebut didampingi advokat Hidayatullah, SH, MH dan pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Kupang.
Dudung mengungkapkan, acara Pemeriksaan Setempat itu kian menegaskan kedudukan Pesantren Hidayatullah Kupang yang dikuatkan oleh pembuktian data tertulis dimana dalam data Badan Pertanahan Nasional (BPN) tertulis bahwa lahan tersebut memang tercatat milik Pesantren Hidayatullah.
Demikian juga dalam pengakuan kepala desa. Dudung mengatakan, riwayat tanah yang kini berupa pesantren itu menurut keterangan kepala desa, adalah memang tanah pesantren yang dibeli langsung. Hal senada juga diakui oleh tokoh tokoh lainnya.
“Kami berharap Allah SWT memberikan keadilan-Nya lewat keputusan majelis hakim nanti yang Insya Allah diputuskan pada persidangan yang akan datang,” kata Dudung.
Simbol toleransi dan kebhinnekaan
Dengan peran dan kiprahnya selama ini, Pesantren Hidayatullah Batakte merupakan lembaga agama yang turut berkontribusi dalam membangun sumber daya manusia serta ikut menjaga ketertiban, harmoni dan toleransi beragama.
Keberadaan Pesantren Hidayatullah Kupang ini juga diakui oleh masyarakat sebagai simbol toleransi dan kebhinekaan yang ada di Kota Kupang karena merupakan satu satunya pesantren di tengah lingkungan komunitas non muslim namun dapat membaur, bekerjasama, dan menjaga harmonisasi dalam bermasyarakat.
“Pesantren Hidayatullah Kupang adalah sebagai simbol toleransi, kebhinekaan dan persaudaraan,” imbuh Dudung yang juga pendiri Kantor Hukum DRDR ini.
Agenda ke depan akan ada kesaksian dari Pesantren Hidayatullah Kupang. Dudung mengatakan pihaknya sudah menyiapkan para saksi yang memperkuat dalil dalil kepemilikan tanah tersebut.
“Setelah itu, kesimpulan dan putusan. Sekali lagi kami mohon doanya semoga Pesantren Hidayatullah Kupang khususnya Pesantren Tahfidz Putri ini bisa tetap eksis dengan adanya putusan yang menyatakan bahwa tanah itu adalah milik pesantren,” pungkasnya. (ybh/hio)
MENTAWAI (Hidayatullah.or.id) — Sambut datangnya bulan suci Ramadhan 1442 H tahun 2021, angggota Satgas Program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) Komando Distrik Militer (Kodim) 0319/Mentawai menghadiri do’a bersama di Masjid Pondok Pesantren Hidayatullah, Jalan Raya Km 8 Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Jum’at (26/03/2021).
Pada kegiatan tersebut Pasi Log Kapten Inf Sunardi mengatakan, bulan puasa merupakan momen yang sangat bermakna bagi setiap umat muslim.
Dia melanjutkan, sudah menjadi tradisi bagi umat muslim, khususnya yang berada Kabupaten Kepulauan di Mentawai, bila menjelang bulan suci Ramadhan mengadakan doa bersama dengan maksud dan tujuan agar puasa yang dilaksanakan nantinya adalah untuk meningkatkan iman dan taqwa.
Dalam hal ini, kegiatan ini dilaksanakan tersebut sebagai sarana untuk lebih meningkatkan ajang tali silaturahmi antar sesama warga Pondok Pesantren Hidayatullah beserta tamu yang hadir, juga sebagai upaya bentuk syukur dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
“Kegiatan ini juga bertujuan agar bersemangat menyambut datangnya bulan Ramadhan dan mengisinya kegiatan yang banyak mengandung manfaat dan melakukan segala amalan di dalamnya dengan penuh keimanan, keikhlasan, semangat, giat dan tidak merasakannya sebagai beban,” kata Sunardi.
Pasi Log juga mengatakan, dalam menyambut bulan suci Ramadhan agar tetap menjaga protokol kesehatan dan dapat dengan khusu’ dalam menunaikan ibadah.
Turut hadir dalam acara tersebut, Pasi Log Kodim 0319/Mentawai, Ketua panitia Ust Ali Imron, Ust Jafar, Ketua DPW Hidayatullah Sumatera Barat KH Irsyad Istoyo, sesepuh KH Bachtiar AR, Ketua KUA Sipora Utara, John Fitri, H. Nurdin Staf ahli Bupati Bidang Pemerintahan dan Hukum serta santri dan warga Pondok Pesantren Hidayatullah.(ybh/hio)
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Anggota Majelis Penasehat Muslimat Hidayatullah (MP Mushida) Ustadzah Dr. Hj. Shabriati Aziz, M.Pd.I berpesan kepada segenap kader muslimat Hidayatullah untuk selalu meneguhkan jatidiri Hidayatullah dengan mengedepankan adab, ukhuwah dan soliditas.
“Mushida berusaha memahami manhaj dan jati diri Hidayatullah. Salah satu jati diri ialah Al-Harokah Jihadiyyah Al-Islamiyah. Dengan semangat memahami manhaj dan menaati komitmen, Muslimat Hidayatullah akan semakin eksis,” ujar Hj Sabriati dalam sambutan pembukaan pembukaan Rakernas Muslimat Hidayatullah di Kota Depok, Jawa Barat, Jum’at (26/3/2021).
Dia menambahkan, imamah jamaah adalah salah satu jatidiri yang telah terinternalisasi dalam berorganisasi. Insya Allah, harap dia, Mushida akan terus bergerak maju, dengan mengedapankan adab ukhuwah dan kekuatan jamaah.
Ustz Dr. Hj. Shabriati Aziz, M.Pd.I merupakan salah satu perintis yang telah menakhodai Muslimat Hidayatullah selama 2 periode atau sepuluh tahun. Saat ini, ia mewakili organisasi Mushida di Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI).
Sedangkan Ketua Majelis Murobbiyah Muslimat Hidayatullah Pusat, Ustadzah Ir. Emi Pitoyanti dalam sambutanya menuturkan bahwa MMP harus bersinergi mendampingi MMW (Majelis Murobbiyah Wilayah) Muslimat Hidayatullah.
“Pengurus Pusat sebagai pelaksana halaqoh dan daurah. Sedangkan Majelis Murobbiyah Pusat dan Majelis Murobbiyah Wilayah bekerja sama dalam menyiapkan murobbiyyah dan instruktur Daurah Marhalah Ula,” jelasnya.
Muslimat Hidayatullah menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional mulai Jum’at (26/03/2021) dengan tema “Konsolidasi Idiil, Wawasan dan Organisasi Demi Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik” di Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Depok.
Acara ini digelar secara virtual, dihadiri perwakilan PW Muslimat Hidayatullah dari 34 Provinsi se- Indonesia, dan Kepala PAUD/ TK Muslimat Hidayatullah Kampus Utama. Rakernas Muslimat Hidayatullah berlangsung pada 12-14 Sya’ban 1442 H/ 26-28 Maret 2021.
Selain menguatkan silaturahmi di antara sesama kader, setiap Ketua Bidang dan Ketua Departemen PP Mushida akan mensosialisasikan program kerja dalam rangka menyamakan persepsi untuk mencapai visi dan misi organisasi.*/Arsyis Musyahadah
MENTAWAI (Hidayatullah.or.id) — Muhammad Ledival dan Muslimin pengasuh santri Pondok Pesantren Hidayatullah Mentawai mengikuti pelatihan tentang pembuatan maggot sebagai pakan ternak di perusahaan pembuatan bahan pangan organik pada Jumat-Senin (19-22/3/2021).
Ledival bersama Muslimin, warga Mentawai binaan Yayasan Semen Padang dalam program Pemberdayaan Mandiri untuk Pesantren Hidayatullah Mentawai, mengikuti pelatihan budidaya maggot black soldier fly (BSF) sebagai pakan ternak di perusahaan pembuatan bahan pangan organik asal Sumbar, yakni Indolarva.
Kepala Bagian SDM dan Umum Yayasan Semen Padang Defni Riza mengungkapkan, pelatihan tersebut merupakan sebagai bentuk pendalaman ilmu yang akan digunakan oleh warga pesantren tersebut nantinya dalam mengembangkan bisnis ayam petelur di Mentawai.
Sebelumnya, mereka telah belajar selama dua minggu tentang bagaimana perkembangbiakan ayam petelur di Ganefa Farm. Kemudian baru dilanjutkan dengan pembelajaran mengenai proses pembuatan Maggot BFS yang nantinya akan digunakan sebagai pakan ayam petelur yang diternakan.
“Ini merupakan proses dan lanjutan dari salah satu program sosial Yayasan Semen Padang yakni pengembangan bisnis ayam petelur bagi warga Mentawai yang tinggal di Pesantren Hidayatullah. Penyiapan bekal-bekal ilmu tersebut diharapkan dapat mereka implementasikan saat telah kembali ke Mentawai lagi,” ujar Defni.
Pada pelatihan pembuatan maggot BFS tersebut, dua warga Mentawai itu juga langsung diajarkan oleh owner dari Indolarva, yakni Prima Santos.
Ia menunjukan tentang bagaimana proses membuat maggot skala rumahan seperti cara terbentuknya maggot dari headcherry hingga indukan, serta cara pengelolaan limbah rumah tangga untuk membantu perkembangbiakan maggot tersebut.
Menurut Defni, dua orang yang dipilih untuk mendapatkan bekal ilmu tentang pengelolaan bisnis ayam petelur tersebut cepat mengerti materi-materi yang diajarkan. Sehingga ia berharap berbagai ilmu yang didapatkannya, terutama setelah dari Indolarva dapat membantu mereka nantinya.
Di sisi lain, ia juga menjelaskan, selain pembinaan untuk bisnis ayam petelur, Yayasan Semen Padang juga melakukan pelatihan membuat kue untuk ibu-ibu dan santriwati di Pesantren Hidayatullah. Tujuan yakni agar warga yang ada di pesatren itu dapat memiliki penghasilan tambahan dari bisnis membuat kue.
Sementara itu, owner dari perusahaan pakan ternak organik Indolarva yang terletak di 50 Kota itu, Prima Santos menyampaikan, suatu kebanggaan juga baginya dapat berbagi ilmu yang dimilikinya kepada dua warga Mentawai mengenai pembudidayaan maggot BFS.
Ia menceritakan, Indolarva sebenarnya belum begitu lama berdiri. Bisnisnya tersebut dimulai dari banyaknya limbah rumah tangga yang belum terkelola secara maksimal dan menghasilkan nilai ekonomis.
Melihat hal tersebut, ia dan timnya memanfaatkan kesempatan itu dengan menjadikan sampah organik sebagai awal mula dari pembuatan maggot BFS dan menggunakan larva yang penuh protein dan gizi tersebut sebagai alternatif dari pelet untuk pakan ternak seperti unggas dan lele.
Prima yang merupakan seorang mantan karyawan salah satu BUMN ini mengungkapkan, perkembangbiakan maggot dapat menjadi pakan unggas yang lebih hemat dan sehat bagi unggas karena proses terbentuknya yang alami.
“Kami sangat menyambut baik kedatangan dari Yayasan Semen Padang untuk berbagi ilmu tentang budidaya maggot BFS. Semoga ilmu yang kami bagikan dapat bermanfaat nantinya bagi warga pesantren Hidayatullah Mentawai,” jelas Prima.
Ia berharap, semoga kedepannya ilmu yang didapat di Indolarva dapat bermanfaat dan tidak hanya menjadi pembicaraan saja, namun dapat terealisasi untuk dua warga Mentawai tersebut.
Prima akan tetap menjalin komunikasi dengan mereka untuk mengetahui bagaimana perkembangan dari budidaya maggot disana sebagai pakan dari bisnis ayam petelur yang akan dikembangkan.
“Kami juga siap untuk ditanya jika ada hal yang perlu untuk diketahui atau ada kendala yang dihadapi disana,” kata Prima.
Dua warga Mentawai yang mengikuti pelatihan tersebut, Ledival dan Muslimin, menyampaikan ucapan terima kasih kepada perusahaan Indolarva atas ilmu yang telah mereka dapatkan.
“Ilmunya sangat bermanfaat sekali. Kami berjanji ilmu tersebut akan kami realisasikan saat di Mentawai nanti,” tuturnya.
Keduanya yang juga alumni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) HIdayatullah Depok menyampaikan terimakasih atas kesempatan belajar tersebut dan berharap bisa dikembangkan untuk kebermaaatan yang luas untuk khalayak.
“Sebagai orang yang pernah belajar ekonomi, kami melihat peluang budidaya maggot ini sangat potensial untuk menunjang kemandirian ekonomi masyarakat,” kata Ledival.
Diantara yang menjadikan budidaya maggot ini sebagai peluang bisnis dan menjadikannya sebagai “unit” baru adalah belum banyak dijamah dalam kegiatan terutama pada peternakan guna menunjang pakan ternak dan menekan biaya produksi. (ybh/hio)
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Muslimat Hidayatullah resmi dibuka dengan tema “Konsolidasi Idiil, Wawasan dan Organisasi Demi Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik,” yang digelar secara virtual dengan pusat kegiatan di Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat, Jum’at (26/03/2021).
Rakernas ini dilakukan secara virtual dengan dihadiri seluruh Pengurus Wilayah dan Pengurus Daerah yang disiarkan melalui Zoom terbatas.
Pembukaan Rakernas diawali dengan sambutan yang disampaikan oleh Ketua Panitia Ustadzah Hapseni Dirwan, S.H.I, dan dibuka secara resmi oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah Ustadzah Hani Akbar, S.Sos.I.
Acara ini diikuti oleh Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah, perwakilan PW Muslimat Hidayatullah dari 34 Provinsi se- Indonesia, dan Kepala PAUD/ TK Muslimat Hidayatullah Kampus Utama. Di antara protokol yang diterapkan yaitu setiap peserta yang akan datang ke arena acara, wajib menjalani rapid test antigen.
Dalam sambutannya, Ustdazah Hapseni Dirwan mengungkap bahwa di antara rangkaian acara yaitu membahas program kerja dan melelang program nasional.
“Rakernas Mushida diselenggarakan dalam rangka mencapai tujuan serta target organisasi yang insyaAllah akan memberikan pengaruh dan manfaat besar terhadap peningkatan kualitas internalisasi idiil, terbukanya wawasan juga solidnya jamaah dalam wadah organisasi,” tuturnya.
Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan acara ini.
Sementara Ketua Umum Mushida Ustadzah Hani Akbar dalam sambutannya menuturkan bahwa Muslimat Hidayatullah sebagai organisasi pendukung terus berbenah diri dan senantiasa melakukan perbaikan.
“Upaya pembenahan merupakan ikhtiar untuk menuju yang lebih baik lagi. Prinsip imamah jamaah sebagai salah satu jati diri Hidayatullah menjadi landasan dalam kepemimpinan,” imbuhnya.
Beliau berharap bahwa pemahaman terhadap jati diri dan manhaj Hidayatullah mampu mengembalikan semangat dan menjadi bekal bagi kader yang akan kembali ke medan juang.
“Konsolidasi idiil, wawasan dan organisasi mengantar kita berjalan searah demi terwujudnya standardisasi, sentralisasi, dan integrasi sistemik dengan mengangkat program kerja dan mencapai visi dan tujuan organisasi yang diharapkan,” pungkasnya.
Untuk diketahui, Rakernas Muslimat Hidayatullah berlangsung pada 12-14 Sya’ban 1442 H/ 26-28 Maret 2021 di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok.
Tujuan penyelenggaraan Rakernas Muslimat Hidayatullah ialah menyamakan persepsi dengan menuangkan program kerja dalam mencapai visi dan misi organisasi dan meningkatkan ukhuwah Islamiyah di antara kader Muslimat Hidayatullah.*/Arsyis Musyahadah
TIDAK terasa, kurang 19 hari lagi kita dihampiri bulan agung, Ramadhan Mubarak. Betapa rindu hati ini untuk berjumpa denganmu. Siang dan malam, setia menantikan kehadiranmu dengan harap-harap cemas selama sebelas bulan.
Masih belum terhapus kenangan indah dengan suasana dan nuansa Ramadhan yang silam. Seolah-olah Ramadhan 1441 H yang lalu serasa sepekan saja.
Ya Rabb, alangkah cepatnya pergiliran dan perguliran masa. Sedangkan banyak sahabat, saudara, handai taulan, yang membersamai kita berpuasa, tidak lagi berjumpa dengan Ramadhan kali ini.
Wajarlah jika para sahabat menginginkan Ramadhan berjalan selama setahun penuh.
لو يعلمُ العبادُ ما رمضانُ لتمنَّت أمَّتي أن تكونَ السَّنةُ كلُّها رمضانَ إنَّ الجنَّةَ لتُزيَّنَ لرمضانَ من رأسِ الحوْلِ إلى الحوْلِ
“Seandainya umatku mengetahui apa yang terdapat dalam bulan Ramadhan, maka sungguh mereka akan berharap satu tahun itu Ramadhan penuh. Sesungguhnya surga berhias menyambut Ramadhan setiap tahunnya” (Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1886), Abu Ya’la Al Mushili (5251).
Dengan harapan terbentuk siklus/ritme ruhiyah yang membersamai fluktuasi kehidupan kita. Sehingga dinamikan kehidupan bisa dimaknai sebagai romantika. Baik pada skala kehidupan individu, keluarga, bangsa dan negara. Orang yang berpuasa laksana malaikat dalam bentuk manusia (ash shaaimu kal malaikati ‘alaa shuratil insan), meminjam istilah syaikh Mahmud Syaltut.
Para salafus shalih mempersepsikan status bulan Rajab dan Sya’ban bagaikan atletik yang hampir mencapai garis finish. Tentu, segala potensi dikerahkan untuk mengungguli peserta lomba yang lain agar menjadi pemenang.
Yaa Rabb, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan. Panjangkanlah usia kami dalam beramal shalih dan permudahlah segala urusan kami. Baik dunia dan akhirat. Amin YRA.
Ramadhan artinya panas yang terik. Karena, bulan hijriyah yang ke sembilan ini pada umumnya terjadi pada musim kemarau. Orang arab berharap bulan ini bisa membakar dosa-dosa yang menempel di sela-sela perjalanan hidup pada sebelas bulan yang silam.
Dengan harapan mendapatkan rahmat, maghfirah, dhi’fun (dilipat gandakan pahala amal), amina minan niiran ( aman dari siksa neraka), nur (bercahaya). Itulah kepanjangan huruf Ramadhan (Ra, Mim, Dhad, Alif, Nun).
Rasulullah SAW mengajarkan satu doa yang paling populer dan paling lengkap redaksinya ketika menyambut tamu agung Ramadhan sebagai upaya tarhib (melapangkan) hati umatnya. Hal ini penting dilakukan karena dengan hati yang lapang akan lebih banyak amalan yang bisa ditampung saat Ramadhan.
Karena dengan hati yang luas tidak akan cepat puas dengan berhenti atau mencukupkan amalan di bulan dilipatgandakannya pahala oleh Allah SWT. Sebaliknya, jika ketika menjelang Ramadhan hati masih sempit, akan sedikit amalan yang bisa dikerjakan karena wadahnya mudah penuh. Tidak akan mampu menampung optimal amalan shiyam dan qiyam Ramadhan. Mudah sekali lelah dan jenuh beramal sepanjang Ramadhan.
Ya Allah, mohon hadirkan awal Ramadhan untuk kami dengan penuh keamanan dan penuh keimanan, dan dengan penuh keselamatan dan dalam keislaman, dengan taufik agar kami melakukan yang Engkau sukai dan Engkau ridhai, Tuhan kami dan Tuhan kamu wahai bulan adalah Allah.” (HR. Ahmad dan ad-Darimi).
Setidaknya ada lima yang kita minta dalam doa di atas.
Pertama, bil amni.
Kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar Ramadhan membawa keamanan dan ketentraman. Di tengah merebaknya wabah Covid-19 yang belum berakhir, doa ini terasa sangat dibutuhkan. Mungkinkah kita bisa beraktifitas normal jika lingkungan sosial kita tidak aman?
Kita sangat berharap kepada Allah Azza wa Jalla agar ketika Ramadhan tiba, virus yang mematikan tersebut sudah hilang sehingga kita mampu menjalani ibadah puasa Ramadhan dengan aman, nyaman, dan berkesan (atsarun fa’aal).
Kedua, wal iman.
Ramadhan datang dengan membawa semangat keimanan. Kendati pandemi belum berhenti, semangat menjalankan ibadah Ramadhan yang dilandasi keimanan harus tetap terpatri dalam sanubari yang paling dalam. Sembari patuh dan disiplin terhadap prokes yang ada, rangkaian ibadah Ramadhan tak boleh satu pun terlewatkan.
Ketiga, was salamah.
Berharap saat Ramadhan datang, jiwa raga kita tetap sehat wal afiat. Betapa ruginya ketika bulan paling mulia hadir, kita malah sakit sehingga tak mampu maksimal di dalam mengisi waktu demi waktunya. Pastikan ikhtiar menjaga imun tetap prima sampai Ramadhan tiba.
Keempat, wal Islam.
Jika wal iman (penuh keimanan) adalah memastikan semangat beribadah hanya semata-mata karena Allah Ta’ala (kualitas), wal Islam adalah penuh keislaman yang dibuktikan dengan ragam dan jenis ibadah yang dilakukan selama Ramadhan (kuantitas).
Sehingga kita tidak akan puas hanya melakukan ibadah puasa pada siang hari, tetapi ditambah dengan shalat sunah Tarawih dan tadarus pada malam hari. Kita belum akan merasakan kenikmatan berbuka sebelum mampu pula memberikan kegembiraan hidangan takjil berbuka kepada sanak saudara yang tak seberuntung kita.
Kelima, rabbunaa warabbukallah.
Keempat doa yang kita pinta kepada Allah SWT di atas tidak akan bermakna dan akan menjadi sia-sia jika tidak dilengkapi dengan doa yang kelima ini. Yakni, semua itu harus dilandasi ikhlas semata-mata karena Rabbul’alamin. Beramal itu tidak mudah dan tidak sederhana. Menjaga mutu amal dari perkara yang menghapus pahalanya (muhbithul amal) lebih sulit.
Alangkah meruginya nasib akhir pekerja keras tanpa kemurnian niat. Sungguh, keimanan yang tidak membuahkan amal shalih sama jeleknya dengan amal yang tidak dimotivasi oleh iman. Suatu tindakan sia-sia, bagaikan membuat lubang kehancuran pelakunya.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Gasyiyah Ayat 3 – 10
عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ
bekerja keras lagi kepayahan,
«عاملة ناصبة» ذات نصب وتعب بالسلاسل والأغلال.
(Pekerja keras lagi kepayahan) maksudnya dalam keadaan lelah dan payah karena diikat dengan rantai dan belenggu.
تَصْلَىٰ نَارًا حَامِيَةً
memasuki api yang sangat panas (neraka),
«تصلى» بفتح التاء وضمها «نارا حامية».
(Memasuki) dapat dibaca Tashlaa dan Tushlaa, jika dibaca Tushlaa artinya dimasukkan ke dalam (api yang sangat panas.)
تُسْقَىٰ مِنْ عَيْنٍ ءَانِيَةٍ
diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas.
«تسقى من عين آنية» شديدة الحرارة.
(Diberi minum dari sumber yang sangat panas) atau dengan air yang sangat panas.
لَّيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِن ضَرِيعٍ
Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri,
«ليس لهم طعام إلا من ضريع» هو نوع من الشوك لا ترعاه دابة لخبثه.
(Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri) Dharii’ adalah sejenis pohon yang berduri, hewan ternak pun tidak mau memakannya karena duri itu keras lagi kotor.
لَّا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِى مِن جُوعٍ
yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.
«لا يسمن ولا يغني من جوع».
(Yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.)..
Akhirnya, semoga doa ini diijabah Allah SWT dan kita semua mampu menjalankan ibadah Ramadhan dengan membawa keamanan, kenyamanan, dan kedamaian.
Marhaban ya Ramadhan 1442 H
Ust Sholeh Hasyim,penulis adalah anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Bulan suci Ramadhan 1442 Hijriyah/2021 Masehi tidak lama lagi segera tiba. Bulan puasa ini disambut dengan gegap gempita oleh kaum Muslimin se-dunia. Berbagai persiapan pun dilakukan untuk menyongsong bulan mulia ini.
Begitu pula yang dilakukan Pondok Pesantren Hidayatullah Ummul Qura di Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Pesantren seluas ratusan hektare yang terletak di perbatasan Balikpapan-Kabupaten Kutai Kartanegara ini turut bersiap menyambut bulan Ramadhan.
Di antara persiapan yang dilakukan yaitu dengan menggencarkan kajian-kajian seputar Ramadhan. Kajian tersebut dibawakan sejumlah pemateri (ustadz) pada setiap bakda maghrib secara offline dan disiarkan ke publik secara online via Youtube. Pengurus bahkan telah meluncurkan akun Youtube yaitu “Masjid Ar-Riyadh Gunung Tembak” baru-baru ini.
Sebenarnya, kajian bakda di Masjid Ar-Riyadh rutin dilakukan selama ini dengan membahas sejumlah kitab dengan tema-tema berbeda. Namun, untuk menyambut Ramadhan, mulai bulan ini materi yang dibahas khusus seputar Ramadhan, baik terkait sejarahnya, amalan-amalannya, dan lain-lain.
Halaqah Tarbiyah
Selain kajian Ramadhan, Hidayatullah Ummul Qura juga memperkuat peran dan fungsi halaqah. Baru-baru ini, dilakukan penyegaran anggota, ketua, dan murabbi Halaqah Tarbiyah. Halaqah Tarbiyah adalah kelompok kecil berjumlah sekitar 10 orang lebih yang terdiri dari warga Gunung Tembak. Sekitar 300 warga pesantren dibagi ke dalam 21 halaqah.
Lewat halaqah ini, warga rutin melakukan kegiatan setiap hari di Masjid Ar-Riyadh yang dikelola pesantren. Lewat halaqah ini pun berbagai kegiatan pesantren dikoordinasikan, mulai dari ibadah, dakwah, sosial, pendidikan, dan sebagainya.
Ketua YPPH Ummul Qura Hamzah Akbar menilai pentingnya penguatan halaqah ini antara lain karena kampus Gunung Tembak merupakan induk dari seluruh kampus Hidayatullah se-Indonesia.
“Apa yang menjadi penguatan di Gunung Tembak ini tentu saja ditunggu dan dinanti-nantikan oleh segenap warga dan keluarga Hidayatullah yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara,” ujarnya pada acara peluncuran susunan halaqah baru di Masjid Ar-Riyadh, Sabtu (13/03/2021) bakda subuh.
Hamzah menekankan bahwa halaqah merupakan sarana dalam mengejewantahkan “sami’na wa atho’na” yang selama ini menjadi slogan dan praktik populer di Hidayatullah.
Di halaqah, jelasnya, ada ketua yang memobilisasi kegiatan kegiatan jamaai. Ada pula anggota yang memenejnya. Lewat halaqah, umat bisa menyikapi kondisi kenegaraan dan kebangsaan belakangan ini. “Wujud komando adalah bagaimana eksisnya halaqah-halaqah itu,” ujarnya.
Lebih jauh, dengan halaqah, katanya, akan menjadi jawaban terhadap berbagai persoalan bangsa Indonesia saat ini maupun ke depannya.
Sementara itu, salah seorang Perintis Hidayatullah Ustadz Hasyim HS dalam sambutannya mendorong jamaah agar memberikan yang terbaik untuk umat lewat keberadaan halaqah.
“Beberapa tahun lalu Bapak Pimpinan (sekarang Pemimpin Umum Hidayatullah, red) pernah mengatakan paling kurang anggota halaqah bisa duduk lima menit-dua menit, paling tidak bisa baca al-Ma’tsurat (bacaan wirid pagi/sore). Itu enggak sampai lima menit itu,” ujarnya.
Halaqah, jelasnya, adalah kelas pembelajaran bagi orang-orang yang waktunya sudah tidak di kelas lagi. Seperti para orang tua yang sudah sibuk, sehingga perlu difasilitasi dalam belajar di antaranya dengan adanya halaqah itu.
Khusus terkait Ramadhan, Ustadz Hasyim, demikian dikenal, mengajak jamaah agar bertekad untuk melakukan peningkatan kualitas dan kuantitas dalam ber-Ramadhan tahun ini dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Kita semua berniat mengisi Ramadhan nanti lebih baik dibandingkan Ramadhan-Ramadhan sebelumnya,” ujarnya berpesan.
LPQ Bersanad
Di samping kedua hal di atas, di kampus Gunung Tembak ini juga digencarkan kegiatan pembelajara Al-Qur’an. Teranyar, Lembaga Pendidikan Qur’an (LPQ) Gunung Tembak bersanad kembali membuka kelas pembelajaran Qur’an, kelanjutan dari kelas perdana sebelumnya.
Pembelajaran Qur’an ini berlangsung setiap pekan pada malam Selasa, malam Rabu, dan malam Kamis. Warga dan santri antusiasi mengikuti kelas khusus ini. Dimulai dari bakda isya, pembelajaran di LPQ ini berlangsung dengan sistem talaqqi, yaitu dimana belajar secara langsung berhadapan dengan guru.
Selain mempelajari cara membaca al-Qur’an dengan benar sesuai riwayat dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, di LPQ ini juga ditekankan bagi para santrinya untuk menghafalkan al-Qur’an.* (Media Center Ummul Qura Hidayatullah)
BATAM (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH.Dr. Nashirul Haq Lc. MA, mengatakan penting bagi kader dan setiap generasi dari umat ini untuk mengaktualisasi spirit kepemimpinan masa kini melalui manifestasi atau pengejawantahan perikehidupan Rasulullah Muhammad SAW sebagai seorang yang tumbuh dengan sejumlah fase.
“Nabi saw melewati fase demi fase, agar bisa menumbuhkan nilai kepemimpinan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang leader”, kata Nashirul Haq dalam orasi ilmiahnya pada acara Sidang Senat Terbuka Yudisium Sarjana Angkatan Pertama STIT Hidyatullah Batam, belum lama ini.
Beliau mengaitkan nilai-nilai kepemimpinan yang ada pada fase kehidupan Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi nabi terhadap proses tarbiyah bagi seorang kader.
Nabi Muhammad adalah seorang yang yatim. Menurutnya, fase keyatiman akan menumbuhkan kepedulian sosial bagi diri Muhammad. Tumbuhnya sebagai anak yatim akan menjaganya dari tangan-tangan yang memanjakannya, baik harta maupun kemudahan lain.
“Otomatis hal ini akan mencetak kepribadiannya untuk tidak bergantung terhadap keduniaan dan kedudukan, serta menumbuhkan kepedulian sosialnya”, terangnya.
Kemudian, lanjut Nashirul Haq, ada ketangguhan, etos kerja, militansi pada fase menggembala. Di situ juga, terang Nashirul, ada trust, sikap amanah, tsiqah, sebagai syarat utama bagi seorang pemimpin melalui fase berdagang.
“Lalu mampu berkomunikasi, bisa bekerjasama, bisa juga melibatkan teamwork, maka Nabi saw dinikahkan dengan Khadijah radhiyallahu anha. Dan kita melihat peran beliau mendampingi Nabi saw itu sangat besar sekali nilainya dalah sejarah Islam,” sebutnya untuk nilai pada fase ber-Khadijah.
Fase terkahir, masih kata Nashirul Haq, yaitu bertahannuts atau beruzlah di Gua Hira. Tujuannya, bagaimana mematangkan spritulitas Nabi saw. Bahkan, pola tahannuts ini justru banyak diminati masyarakat modern hari ini.
“Karena mereka sudah jenuh dengan kondisi dunia yang seperti ini melihat orang yang memiliki kekayaan, memiliki ilmu pengetahuan, justru tidak memberikan solusi terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara,” imbuhnya memberi contoh.
Makanya sekarang, lanjutnya, pengusaha-pengusaha dan pejabat banyak yang menitipkan anaknya di Islamic Boarding School, sekolah sekolah Islam berasrama atau pesantren, agar anaknya ini bisa juga mendapatkan sentuhan skill dan knowledge, dan pada saat yang sama ia punya karakter yang kuat.
“Oleh karena itu, proyeksi pendidikan Hidayatullah ke depan hendaknya membuat tiga hal. Yang pertama adalah karakter. Karakter ini ada karakter moral, ada karakter kinerja,” sebutnya.
Karakter moral itu, lanjutnya, berkaitan dengan akhlak. Ada keikhlasan, ketulusan, ada kejujuran. Kalau kinerja, ada kedisiplinan, kerajinan, ada ketangguhan.
“Kemudian yang kedua, kompetensi. Meliputi kreatifitas. Orang kreatif itu tidak pernah ada masalah yang tidak ia carikan solusinya. Kemudian dia harus kritis, yaitu mampu memberikan solusi. Kemudian komunikatif, yaitu kemapuan mempengaruhi,” sebutnya lagi.
Yang ketiga, masih kata pakar ushul fiqh ini, ada narasi. Anak anak milenial hari ini tantangannya adalah hal-hal yang berkaitan dengan narasi.
Dia menegaskan, Indonesia ini akan mejadi negara tertinggal kalau tidak mengembangkan narasi. Sehingga tradisi akademik yang mesti dikembangkan Hidayatullah.
“Sarjana Hidayatullah harus mampu menderivasikan konsep konsep al-Qur’an dan sunnah itu dalam segala bidang. Kalau anda sebagai sarjana di bidang pendidikan Islam, harus mampu menarik konsep al-Qur’an dan sunnah, kemudian membuktikan kemukjizatan al-Qur’an dengan teori teori keilmuan dan anda harus berani mengkritisi kalau ada konsep konsep Barat yang bertentangan dengan konsep Islam,” imbuhnya.
Terakhir, Nashirul Haq berpesan, bahwa seseorang tidak akan mampu menjadi leadership manajerial kalau tidak dibenturkan dengan tugas-tugas teknis di lapangan yang kelak dengan itu akan melatih dan menumbuhkan nilai kepemimpinan.
“Lihatlah, orang-orang hebat para pemimpin dunia, mereka adalah aktifis di lapangan, di luar. Mereka adalah orang yang mapan dengan tugas-tugas lapangan. Obsesi kita ini besar, kita dihadirkan oleh Allah di muka bumi sebagai khalifah fil ardh, makanya kita tidak pernah punya cita-cita yang kecil. Selalu visinya itu visi besar, dunia,” pungkas alumnus doktor dari IIUM Malaysia ini.
Yudisium Sarjana untuk angkatan pertama STIT Hidayatullah Batam ini, menetapkan Dewan Senat, yang terdiri dari Ketua Badan Pembina Yayasan, H. Jamaluddin Nur, Ketua Badan Pengurus Yayasan Khoirul Amri, Kabid Dikti M.Sidik, Ketua STIT Hidayatullah Batam, Mohammad Ramli dan Wakil Bidang Akademik Muji.
STIT Hidayatullah Batam, dalam acara tersebut, meluluskan 150 an Mahasiswa dan memberikan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) untuk dua program studi, yaitu Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Manajemen Pendidikan Islam (MPI).
Acara yang dilakukan dengan khidmat di Aula Serbaguna Gedung Hidayatullah Asia Raya Kampus 2 Putri, Tanjung Uncang, Kampus Utama Hidayatullah Batam ini, dilakukan dengan offline dan sebagian lagi dalam jaringan online.
Untuk diketahui juga, bahwa di Kampus Utama Hidayatullah Batam kini telah memiliki tiga perguruan tinggi; STIT Hidayatullah Batam, Institut Agama Islam Abdullah Said Batam, dan STIT Mumtaz Karimun, Kepulauan Riau.*/(ybh/hidayatullah.or.id)