LAMPUNG (Hidayatullah.or.id) — Lama tak bertandang ke tanah Sai Bumi Ruwa Jurai, Ketua Umum Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust Dr Nashirul Haq menyempatkan langsung menyambangi 8 kampus dan amal usaha Hidayatullah di sejumlah titik di Provinsi Lampung.
Kedatangannya ke Lampung sekaligus dalam rangka menghadiri undangan membuka Rapat Kerja Wilayah PW Muslimat Hidayatullah Lampung yang digelar selama 2 hari, Jum’at Sabtu (19-20/2/2021).
Selain berkunjung ke kampus Hidayatullah, ia juga menyempatkan waktu menyapa para santri di kampus kampus tersebut dan memberikan pengarahan dalam kesempatan pertemuan halaqah pengurus.
Pada kunjungan ini, Ust Nashirul juga menyambangi kediaman tokoh agama, KH Muhammad Nazir Hasan, di kediamannya.
Nazir Hasan adalah sesepuh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Provinsi Lampung. Nazir juga diketahui pernah membersamai almarhum Abdullah Said di awal masa merintis Hidayatullah.
“Alhamdulillah sekali datang, bisa silaturrahim 8 kampus dan amal usaha, plus silaturrahim tokoh. Kaffarat atas tertundanya kunjungan ke Lampung,” senda Nashirul.
Dalam lawatan ke kampus dan markas amal usaha Hidayatullah ini, ia turut didampingi Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Provinsi Lampung Rusdi Hidayat beserta jajarannya serta sejumlah pengurus DMW.
Selain itu, ia pula bersilaturrahim dengan sejumlah amal usaha seperti Islamic Medical Service (IMS), BMH, Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah (LPIH) dan Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai). (ybh/hio)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Tim Aksi Siaga Kemanusiaan (TASK) Hidayatullah, melakukan aksi tanggap darurat bencana banjir yang melanda sejumlah titik di Jakarta dan sekitarnya, Sabtu (20/2/2021).
Kolaborasi respon bencana TASK Hidayatullah kali ini terdiri dari Depos Hidayatullah, BMH dan SAR Hidayatullah secara simultan gerak bareng melakukan mitigasi dengan mendirikan posko relawan dan mendistribusikan bantuan tanggap darurat.
Korlap, Syaharuddin Yusuf, mengatakan sebelumnya curah hujan eksrem sempat melanda wilayah Jakarta dan sekitarnya (Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) yang mengguyur dalam waktu 24 jam.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut wilayah Jabodetabek diguyur hujan secara merata dengan intensitas lebat hingga sangat lebat. Lebat lebih dari 50 milimeter, dan sangat lebat 100-150 milimeter, dengan kondisi cuaca hujan ekstrem.
Dalam upaya tanggap darurat terutama di Jakarta, Syaharuddin mengatakan, pihaknya telah membuka posko bantuan di markas DPD Hidayatullah Jakarta Selatan dan menerjunkan tim relawan bersama Mapala STIE Hidayatullah dan SRU Ciawi.
“Sampai saat ini tim relawan kita masih terus bekerja melakukan evakuasi,” katanya melaporkan yang sedang melakukan tanggap daurat di RT 007, RW 05 Kelurahan Jatipadang, Kecamatan Pasar Minggu.
Sementara itu, kebutuhan mendesak untuk masyarakat terdampak bencana banjir ini seperti masker, anti nyamuk, pakaian bayi, pakaian dalam laki wanita, dan juga kebutuhan konsumsi langsung saji. (ybh/hio)
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pemuda adalah energi perubahan, karena itu, setiap sosok yang disebut pemuda adalah mereka yang terus bergerak melakukan perbaikan untuk perubahan ke arah yang lebih baik.
Demikian dikatakan Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Ummul Quro Balikpapan Ust H Hamzah Akbar saat menjadi narasumber dalam salah satu sesi acara Training for Trainers Leadership Training Center (TOT LTC) & Lembaga Pendidikan Al Quran Bersanad (LPQ) ke-I Pemuda Hidayatullah di Balikpapan, Kamis (18/2/2021).
Hamzah menyebutkan, kalau ada pemuda namun lamban bahkan menjadi pribadi layaknya orangtua renta yang sukar bergerak, maka ia telah menjadi tua sesungguhnya.
“Kalau pemuda tidak bergerak, lebih baik percepat saja umurnya menjadi 75 tahun,” tegas Hamzah.
Sebagai pemuda, lanjut Hamzah, ia harus aktif menjadi solusi dan demikianlah yang telah diteladankan oleh Nabi SAW yang di masa mudanya menjadi penyelesai masalah berbagai masalah masyarakat dan komunitasnya.
“Saya tidak percaya pemuda itu diam, karena pemuda itu bergerak. Dan, ketika pemuda itu bergerak, dia pasti berpikir. Ketika dia berpikir, dia akan memberi dampak pada lingkungan sekitarnya. Karena itulah, disinilah pentingnya paradigma,” kata Hamzah.
Lebih jauh, Hamzah mengungkapkan, Sistematika Wahyu yang menjadi metode gerakan Hidayatullah adalah narasi yang secara paradigmatik melahirkan aksi. Ia lantas kemudian menjadi gerakan transformatif dalam rangka me-landing-kan Islam di muka bumi.
Dia menjelaskan, pemahaman yang konfrehensif terhadap metode Sistematika Wahyu akan menumbuhkan kegigihan untuk menginternalisasi dan mentransformasikannya kepada khalayak luas karena sejatinya inilah pemuas dahaga kerontangnya hati manusia dari siraman rohani.
Keringnya rohani manusia itu, menurut Hamzah, karena sejak dibangku sekolah hingga perguruan tinggi, mereka telah dijejali dengan berbagai teori kapitalisme dan worldview materalisme yang justru tidak semakin memanusiakan manusia. Tetapi, kian mengungkung mereka jauh dari kemerdekaan hakiki.
“Kemerdekaan hakiki itu adalah meng-Esa-kan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan, kita hanya tunduk patuh kepada-Nya dan menegasikan semua hal material sebagai tuhan-tuhan,” katanya.
Oleh sebab itu, dia menjelaskan, Sistematika Wahyu merupakan sistem penjelas agar manusia menemukan Tuhan yang menurunkan ajaran Islam untuk manusia agar manusia menjadi manusia. Dengan kata lain, Islam adalah agama yang memanusiakan manusia.
“Sismematika Wahyu ini memang materi berat karena membahas manhaj. Selain itu, ia juga menuntut adanya narasi, aksi dan transformasi,” kata Hamzah.
Namun meskipun materi yang berat, dia melanjutkan, setelah direnungkan, Sistemarika Wahyu sebagai manhaj gerakan Hidayatullah harus terus ditransformasikan sehingga selalu dalam kesamaan persepsi. Tersebab itu pulalah, kegiatan TOT ini penting dilakukan dalam rangka menjaga mata rantai sejarah itu.
“Karena kalau tidak dilakukan transformasi seperti ini maka dapat memutuskan mata rantai sejarah,” katanya memungkasi. (ybh/hio)
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pemuda Hidayatullah menggelar kegiatan Training of Trainer (ToT) bagi kader selama 6 hari di Pesantren Hidayatullah Ummul Qurro Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), dibuka pada Ahad (14/2/2021). Acara itu diikuti oleh para ketua dan kepala departemen perkaderan wilayah dari berbagai daerah.
“Acara ini dimaksudkan untuk meningkatan kapasitas dan kapabilitas para kader dalam menjalankan tugas-tugas keorganisasian, terutama dalam hal ikut serta mencerdaskan bangsa melalui gerakan dakwah Alquran dan pendidikan keislaman yang berwawasan kebangsaan,” terang Ketua Panitia ToT Pemuda Hidayatullah di Balikpapan, Imam Muhammad dalam rilis yang diterima Republika.co.id.
Dalam sambutannya, Ketua Umum Pemuda HIdayatullah, Imam Nawawi menjelaskan bahwa ToT ini adalah nafas bagi peradaban umat Islam.
“Dalam sejarah kita ketahui bahwa kegiatan training atau mendidik, mengkader manusia, utamanya generasi muda adalah agenda utama yang diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW dan diikuti oleh para pahlawan besar dalam Islam. Contohnya, Musa bin Nushair yang mentraining Thariq bin Ziyad, hingga Islam berkembang di Andalusia,” tuturnya.
“Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah pun melakukan hal yang sama. Karena sejatinya bangsa ini membutuhkan upaya nyata membangun manusia. Semoga ToT ini dapat berkontribusi bagi kemajuan umat, bangsa dan negara,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Bidang Organisasi DPP Hidayatullah, Ustadz Asih Subagyo yang bertindak membuka acara juga menyampaikan bahwa kegiatan ini relevan dengan kebutuhan bangsa ke depan, kaitannya dengan adanya bonus demografi.
Kata Asih, program ToT Pemuda Hidayatullah ini bersifat penting dan strategis. Terlebih kalau melihat hadirnya bonus demografi di Tanah Air yang diperkirakan jumlah populasi anak muda akan terus tumbuh hingga puncaknya di angka 75 persen ddari total penduduk Indonesia di tahun 2025-2030.
“Jadi, gelaran ToT ini penting sekali, karena termasuk dari upaya menyiapkan kepemimpinan umat dan bangsa di masa depan. Luar biasa,” tegasnya.
Training of Trainer ini mengangkat tema “Milenial Leaders: Indonesia Bahagia dan Bermartabat Bersama Al-Qur’an.”
“Agenda ini akan berlangsung selama 10 hari ke depan dengan menerapkan protokol kesehatan dan peserta yang memang sangat dibatasi, mengingat masa pandemi Covid-19 belum benar-benar berakhir. Ini juga berkonsekuensi pada program yang seharusnya dalam setahun bisa dilaksanakan sekali menjadi beberapa kali sebagai wujud adaptasi dari pandemi yang masih melanda,” tutup Imam Muhammad. (ybh/hio)
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Hubungan Antar Bangsa Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Babeh Dzikrullah, mendorong santri menyiapkan diri dengan berbagai bekal yang memadai untuk kelak melapangkan dakwah hingga ke dunia internasional.
“Dakwah antar bangsa ini juga dilakukan oleh sahabat Nabi yang diutus berdakwah antar bangsa ke berbagai negara,” kata Babeh Dzikrullah saat menyambangi santri Pondok Pesantren Tahfizhul Qur an Ahlus Shuffah, Jl. Gunung Binjai RT. 016 Kelurahan Teritip, Balikpapan, Kaltim, Rabu (17/2/2021).
Babeh menerangkan, Al Qur’an adalah mukjizat akhir zaman sebagai petunjuk yang terang benderang dan jalan kepada keselamatan untuk seluruh umat manusia.
Oleh karena itu, terangnya, Al Qur’an ini harus disampaikan kepada khalayak luas dengan mendakwahkannya sebagai pedoman hidup dan memuat panduan sebagai solusi atas berbagai problem kehidupan.
“Al Quran harus kita bawa ke seluruh dunia,” ungkapnya.
Dalam rangka tersebut, Babeh pun berpesan kepada santri Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Ahlus Shuffah untuk meningkatkan kemampuan diri, tidak saja dalam kecakapan kualifikasi baca tulis dan hafalan Qur’an, melainkan juga memantapkan keterampilan bahasa asing terutama bahasa Arab dan Inggris.
“Untuk bisa berdakwah ke Kerajaan Inggris, harus bisa berbahasa Inggris. Maka kuasai bahasa Inggris. Begitupun kalau mau berdakwah ke China atau Afrika, harus bisa bahasa Afrika,” kata Babeh seraya menukil hadits Nabi SAW diriwayatkan Imam Muslim tentang pesan Nabi agar kita berbicara kepada manusia sesuai dengan kemampuan akal atau bahasa yang digunakannya.
Dalam rangka itu, Departemen Hubungan Antar Bangsa Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah telah mencanangkan program pengiriman imam muda ke masjid di sejumlah negara Asia dan Asia-Pasifik selama bulan Ramadhan nanti.
Diharapkan dari program tersebut nantinya tidak saja akan menguatkan silaturrahim antar bangsa, melainkan juga semakin mengukuhkan kerjasama di bidang dakwah dan lain sebagainya. (ybh/hio)
KAUR (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka menunjang kemandirian pondok pesantren serta wadah pembinaan enrepreneurship santri, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, membuka unit usaha berupa bisnis telur asin yang bisa diorder secara eceran maupun secara partai (grosir).
Sekarang. Untuk warga Kaur dan sekitarnya, tak perlu susah mencari penganan konsumsi berupa telur bebek ini karena Pesantren Hidayatullah Kaur telah membuat unit usaha produksi telur asin. Hasilnya untuk dipasarkan di lingkungan sekitar.
“Kami jual ke rumah-rumah, warung makan dan warung bakso,” ungkap Ustadz Aspar Faqih, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Kaur yang ikut terjun langsung dalam usaha tersebut dibantu para santrinya.
Untuk memudahkan pelanggan, pihaknya memberikan layanan antar jemput. “Kami siap antar untuk wilayah Maje ,Tetap, Nasal dan Kota Bintuhan,” kata Ustadz Aspar yang bisa dihubungi untuk order melalui nomor WA 0822-7120-1018.
Pelanggan juga bisa datang langsung ke Kampus Ponpes Hidayatullah Kaur yang beralamat di Jalan Lintas Barat, Desa Suka Menanti, Kecamatan Maje, Kabupaten Kaur, Bengkulu.
Kandungan yang terdapat di dalam telur asin diketahui ada beberapa, di antaranya: sodium dari sebutir telur asin cukup tinggi yaitu bisa mencapai 397 mg, vitamin A, vitamin C, kalsium, fosfor dan zat besi.
Kalsium tinggi yang terkandung pada telur asin juga baik untuk menjaga kekuatan tulang dan gigi, mencegah osteoporosis serta mempercepat proses pembekuan darah.
Telur asin merupakan salah satu jenis telur yang sudah lazim keberadaannya di tanah air. Dan termasuk salah satu makanan favorit yang mudah ditemukan di warung-warung atau tempat makan.
Telur asin yang terbuat dari telur bebek sangat nikmat disantap sebagai lauk makan. Ada juga varian makanan yang menggunakan telur asin sebagai bahan pelengkapnya. Bisa juga dimakan langsung tanpa campuran.
Cara membuat telur asin sebenarnya tak terlalu susah, dengan direndam ke dalam larutan air garam selama jangka waktu tertentu lalu dikukus. Namun, jika hanya membuat sedikit akan terasa mahal dan melelahkan. Lebih praktis beli dan siap santap.
Dikarenakan jumlah produksi yang masih terbatas, untuk pembelian diharapkan untuk pesan terlebih dahulu (pre-order). Hasilnya nantinya digunakan untuk biaya operasional pesantren yang menampung para santri dari berbagai daerah secara gratis. “Insya Allah penuh berkah,” pungkas Aspar. (ybh/hio)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Asih Subagyo, mengatakan dai mempunyai posisi dan peranan penting dalam melawan kebatilan atau hoax. Karena itu, dai harus berdiri di garis depan menghantam hoax dengan menyebarkan kebenaran.
“Seorang dai harus paham dengan peran ini dan dikontekstualkan dengan kondisi kekinian. Karena dakwah itu intinya menyampaikan kebenaran, mengajak, dan merangkul umat untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya” jelas Asih dalam temu koordinasi pengurus harian DPP Hidayatullah, Senin (16/2/2021).
Asih juga menyampaikan bahwa metode atau strategi dakwah ala Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam adalah contoh yang sangat baik dalam menghadapi dan mengatasi konflik.
“Rasulullah itu punya strategi dakwah. Ada kalanya lemah lembut, ada kalanya keras. Semua disesuaikan dengan situasi,” imbuhnya.
Asih mendorong dai untuk juga aktif menggeluti teknologi informasi terutama dalam memanfaatkannya sebagai wadah menyerukan kebenaran dan dakwah yang mencerahkan. Namun, di waktu yang sama, dai Hidayatullah juga harus berhati-hati dalam bersosial media.
“Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial dapat dipakai sebagai panduan dan rujukan. Selain itu diperlukan untuk terus mempelajari literasi bersosial media agar tidak mudah terprovokasi lalu menyebar berita hoax,” kata Asih yang juga Sekjen Muslim Information Technology Association (MIFTA).
Menuruti Asih, dai juga perlu memperhatikan UU ITE agar tetap proporsional dan tak terjebak dalam penggunaan media sosial yang melampaui batas sehingga dapat merugikan diri sendiri dan komunitas.
“Bukan berarti meninggalkan medsos. Tetapi bagaimana kita mampu menggunakan medsos sebagai tools dakwah secara proporsional. Mewartakan kebaikan. Bukan menebar kebencian. Jangan gampang terprovokasi, dan mudah menyebarkan berita atau link (tautan), yang tidak jelas kebenarannya. Lebih baik saring sebelum sharing. Sehingga aman buat semuanya,” kata Asih.
Menurut Asih, tak dinafikkan ada saja pihak-pihak yang membidik dai agar terjerat hukum karena sentimen atau phobia tertentu disebabkan ketidaktahuan. Karenanya, dai harus melek teknologi dan mengerti hukum sekaligus. Terutama terhadap dinamika undang-undang ITE.
“Para dai selain musti faham ilmu-ilmu agama, juga perlu memahami fiqhud dakwah dan memahami realita umat dengan fiqhul waqi’. Demikian juga mesti melek hukum dan melek teknologi, selain sudah barang tentu aturan organisasi,” kata Asih.
Asih menjelaskan, Bidang Organisasi melalui Departemen Hukum dan Advokasi DPP Hidayatullah akan terus berupaya melakukan pendampingan serta edukasi mengenai UU ITE kepada para dai. Pihaknya melakukan pendampingan dan advokasi melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah.
“Saat inipun beberapa dai terus didampingi, karena terjerat masalah hukum. Dan Alhamdulillah, mampu meringankan beban dan membebaskan dari perkara hukum itu,” ucapnya menandaskan.*/Amanji
Kegiatan pembalajaran dan hafalan Al Qur’an santri Pondok Pesantren Putri Hidayatullah Bojonegoro, Jawa Timur
BOJONEGORO (Hidayatullah.or.id) — Masjid adalah bangunan sentral di Pondok Pesantren Putri Hidayatullah Bojonegoro, Jawa Timur. Selain untuk shalat lima waktu, di masjid itu para santri membaca dan menghafal al-Qur`an serta menerima tausyiah dari para ustadz.
Begitu penting masjid itu, sayangnya keadaannya sangat memprihatinkan. Tiang dan atapnya terbuat dari seng galvalum
Berada di lantai dua, keempat sisinya belum ada dindingnya sama sekali. Akibatnya, jika musim hujan seperti sekarang ini, air hujan leluasa menyerbu ke dalam. Belum lagi gangguan angin, yang bertiup kencang.
Sudah tentu itu semua mengganggu kekhusyukan ibadah shalat dan kegiatan santri lainnya.
Abdullah Ridho pimpinan Hidayatullah Bojonegoro mengakui, masjidnya memang masih darurat. “Karena tidak ada tempat lain, walaupun darurat tetap kita pakai,” kata Ridho.
Masjid dibangun mulai 2 tahun lalu. Rencanya akan terdiri dari 2 lantai. Sementara ini, lantai bawah masih dipakai untuk asrama santri. Keadaannya juga darurat, dengan dinding-dinding dari triplek.
Letak masjid dan pesantren itu hanya beberapa ratus meter dari lokalisasi terkenal di Bojonegoro yaitu Kalisari. Tepatnya di pinggir jalan Kalisari, Banjasari, Kecamatan Trucuh.
Lokalisasi itu sebenarnya sudah ditutup pemerintah beberapa tahun lalu. Tapi masih ada saja yang buka “praktek” tiap hari.
Hidayatullah, kata Ridho, awalnya merasa gamang saat hendak mendirikan pesantren di dekat daerah lokalisasi. “Khawatir ada pengaruh buruk kepada para santri,” kata Ridho.
Ridho kemudian berkonsultasi ke ulama dan tokoh masyarakat. Alhamdulillah, mereka semua menguatkan niat baik itu. “Bismillah, akhirnya kita kuatkan niat membangun pesantren di situ,” katanya.
Kini, selain masjid, di atas areal tanah 5 ribu meter persegi itu sudah berdiri gedung dua lantai sebagai ruang kelas untuk belajar.
Digunakan sejak dua tahun lalu, kini sudah ada sekitar 100 santri. Berasal dari Bojonegoro dan daerah lain di Jawa Timur. Ada juga dari daerah di Jawa Tengah, Aceh, Papua, Kalbar, Kaltim dan Sumsel.
Kelak Ridho berharap, jika orang mendengar nama Kalisari, yang diingat bukan lagi daerah lokalisasi. “Namun yang terpatri dalam ingatan orang adalah pondok pesantren,” ujar Ridho lagi. Untuk mewujudkan niat mulia Ridho itu, tentu butuh bantuan kita semua.*/Bambang
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah kembali kehilangan kader terbaiknya. Adalah Ustadz Usman Asy’ari, sosok dai yang penuh dedikasi, telah meninggalkan kita semua pada tanggal 12 Februari 2021 di RS Pertamina, Balikpapan, Kalimantan Timur, Jum’at sore.
Jiwa raganya berpulang ke kekharibaan Ilahi Rabb yang Maha Pengasih. Namun, tidak dengan jejak perjalanannya yang menjadi warisan bagi anak dan generasi setelahnya.
Hal itu seperti dikemukakan oleh Pemimpin Umum Hidayatullah, Ust H Abdurrahman Muhammad, ketika menyampaikan sepatah kata mengenang pria murah senyum yang wafat di usia 68 tahun tersebut.
“Saya mengenal beliau dengan keramahan dan kebaikannya. Beliau pejuang dakwah yang tak kenal lelah dan ahli ibadah,” katanya di Masjid Ar Riyadh, Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Sabtu shubuh (13/2/2021).
Ia menyebut almarhum Usman Asy’ari telah mencontohkan apa yang telah menjadi nilai luhur daripada gerakan Hidayatullah selama ini, yaitu meneruskan warisan kebaikan dengan menduplikasi kebaikan demi kebaikan sebagaimana telah ditelandankan oleh Muhammad Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dan orang-orang shaleh.
“Intinya Hidayatullah ini adalah menduplikasi kebaikan dan mengekspansi kebaikan tersebut dimanapun berada, itulah yang dilakukan Ustadz Usman Asy’ari. Kesalehannya ditunjukkan dengan konsistensi ibadahnya. Inilah yang perlu kita miliki dan kita bawa kepada Tuhan,” kata Ust Abdurrahman.
Beliau menjelaskan, dua hal penting tersebut, menduplikasi kebaikan dan mengekspansinya, harus terus dilakukan dan dikuatkan selalu. Kedua spirit itulah yang selama ini menjadi nilai Hidayatullah hingga dapat berkhidmat secara luas untuk umat.
“Menduplikasi adalah mencontoh kesalehan orang orang shaleh. Kita harus mencontoh pengorbanan beliau. Kita mencontoh kebaikan dan memberikan contoh contoh kebaikan, melakukan ekspansi. Begitulah Hidayatullah,” tukasnya seraya menekankan keutamaan daripada gerakan keteladanan ini.
Beliau mengenang Ustadz Usman Asy’ari sebagai figur teguh yang tekun memenuhi panggilan dakwah. Bahkan tak ketinggalan suadara-saudaranya juga turut diajaknya bergabung ke Hidayatullah sebagai wadah perjuangan dalam beramal shaleh.
“Sesuatu yang sangat membahagiakan adalah ketika menyaksikan anak anak kita melaksanakan ibadah, ramah, tekun dan bergaul dengan sesamanya dengan baik. Kalau orang yang terdekat dengan kita kelihatan kesalehannya, itulah yang membahagiakan kita. Merekalah yang akan mendoakan kita,” imbuhnya.
Beliau juga menyatakan rasa duka atas wafatnya pejuang dakwah serta ayah dari 8 anak dan 25 cucu itu. Ia berpesan, semoga figur almarhum bisa menjadi contoh kebaikan. “Beberapa hari terakhir ini saya rasa sakit-sakit juga. Tapi selama kaki masih berjalan, tetap bergerak,” pungkasnya.
Teladan
Selain sebagai dai, almarhum Usman Asy’ari juga adalah potret ayah teladan, setidaknya demikianlah dirasakan oleh anak-anaknya. Salah satunnya, Muzakkir Usman S.S. M.Ed, yang mengaku mendapat berkah luar biasa memiliki sosok ayah penyayang yang menjadi teladan bagi mereka.
“Beliau sosok ayah yang sangat berkesan. Kalau diingat ingat, tidak pernah beliau memukul atau menjewer anak anaknya,” kata Muzakkir dalam sambutan takziyah sebelum pemakaman mewakili keluarga di Masjid Ar Riyadh.
Bagi Muzakkir, sang ayah tidak saja meninggalkan keluhuran pekerti mengenai peran kepengasuhan yang mengesankan, melainkan juga mewariskan spiriti dakwah yang sangat membekas baginya.
Bukan saja kepada anak-anaknya. Saudara saudara kandung almarhum juga punya kesan mendalam pada figur almarhum selama kebersamaan mereka di Kampung Baru Ujung, desa tempat mereka tumbuh hingga kemudian pindah ke Gunung Tembak.
“Almarhum yang banyak mengenalkan saya dan pada saudara-saudara saya Islam yang akhirnya juga bergabung di Hidayatullah,” kata Baharuddin, adik kedua almarhum dari 4 bersaudara.
Debut dakwah Usman Asya’ari dimulai sejak muda, tepatnya usai menuntaskan studi di Pendidikan Guru Agama (PGA) Balikpapan. PGA kala itu adalah tujuan favorit melanjutkan studi setamat SMP karena dianggap menjanjikan kepastian jaminan masa depan dan bentang jembatan untuk berkarir menjadi pegawai negeri.
Ketika umumnya lulusan PGA kala itu menjadi prioritas utama diterima di bursa kerja dengan berbagai tunjangannya, Usman malah memilih turun ke gelanggang membersamai Abdullah Said muda dan para dai senior lainnya. Memenuhi tugas dakwah dari dusun ke dusun.
Kebersamaan itu kian menginjeksi semangatnya untuk hidup di jalan dakwah. Intensitas dakwahnya pun semakin tinggi, bahkan siap setiap saat memenuhi panggilan tugas hingga ke daerah-daerah yang sukar dijangkau.
Usman Asy’ari lahir dan besar di Balikpapan. Awal dia mengenal Hidayatullah karena sering berinteraksi dan mengikuti ceramah ceramah Abdullah Said. Ketika itu, ia terkesima dengan pidato Said, yang, menurutnya, begitu menyentak hatinya.
“Beliau selalu mengajak kita ke Hidayatullah untuk berjuang, ini yang menarik bagi saya. Artinya, ada wadah, ada sarana, yang betul betul kita dapat melakukannya yang namanya berjuang itu,” kata almarhum dalam salah satu lansiran siniar di kanal YouTube LPPH Gunung Tembak.
Almarhum Usman Asy’ari mengaku, dirinya sering mendengarkan banyak ceramah menarik dari banyak ulama dam muballigh. Namun, dalam ceramah itu ajakan berjuang tidak ia temukan, “Nah, di Hidayatullah itu saya dapatkan,” imbuhnya.
Hingga usia 68 tahun, gairah dakwah Usman tetap menggebu-gebu. Tidak pernah pula menolak tugas mengisi taklim jika diminta. Saban Jum’at pun ia selalu mendapatkan jadwal menjadi khatib, termasuk di bulan Ramadhan yang biasanya volume permintaan kian meningkat.
Salah satu kawasan titik dakwah yang menjadi binaan rutin Usman adalah bilangan Gunung Bubukan, yang kala itu masih berupa belukar yang sukar ditembus dengan kendaraan. Ia juga kerap ditugaskan melakukan pembinaan masyarakat majelis taklim rutin di daerah Kariangau yang sekarang terminal peti kemas.
Dengan menggunakan sepeda motor dan ditemani anak laki-lainya yang bernama Muttaqin, Usman Asy’ari kerapkali berjibaku dengan beratnya medan jalan yang dilalui. Rintangannya memang tak mudah, jalanannya masih setapak dan kian menantang bila usai diguyur hujan.
Muttaqin sendiri, dalam buku Mencetak Kader, adalah anak warga pertama yang lahir di kampus perintisan Hidayatullah Gunung Tembak yang masa itu masih berupa rerimbunan semak belukar dan bangunan pondokan ala kadarnya.
Selain itu, Usman Asy’ari juga diketahui memiliki kegemaran dalam menulis. Ia malahan sempat mengoleksi banyak ceramah Abdullah Said yang ditranskrip dalam bentuk catatan tulisan tangan. Namun nahas, tumpukan catatan yang tersimpan rapi tersebut hilang tanpa bekas kala ia mengalami suatu musibah kebakaran.
Kesenangan literatif Usman tersebut ditandai dengan kebiasannya mempelajari sejarah melalui banyak buku bacaan yang dilahapnya. Tak heran, ia menjadi salah satu kader yang sering diajak berdiskusi oleh para perintis. Bahkan, terkadang dalam sehari penuh fokus berdiskusi mengkaji problematika umat dipandu langsung oleh Ust Abdullah Said.
“Kegemaran beliau adalah dakwah dan tambahan nama belakang beliau, Asy’ari, itu sebenarnya karena terinspirasi nama ulama yang beliau ikuti sejarahnya,” kata Muzakkir.
Dalam banyak ceramah yang dibawakan Usman Asy’ari, tak jauh jauh dari topik iman dan tauhid. Ceramahnya banyak memuat ajakan kepada perbaikan diri (muhasabah) dan seruan penyucian jiwa (tazkiyatun nufs). Pembahasan dibawakan dengan bahasa yang lugas, ringan, disajikan secara padat, mengggugah dan selalu menyentil sisi terdalam dari kemanusiaan.
Disamping itu, seperti banyak diutarakan oleh orang yang mengenalnya terutama karib terdekatnya, Ustadz Usman Asy’ari enggan betul membebani orang lain. Sebaliknya, ia memiliki kepedulian yang tinggi, bahkan dalam kondisi sakit.
Sekitar 2 pekan lebih ia dirawat di rumah sakit karena sejumlah sakit komplikasi. Di tengah berbaring lemah, ia masih sempat menanyakan kabar dakwah dan keadaan sahabat-sahabatnya.
Muzakkir mendampingi penuh sang ayah semasa rawat jalan dan selama dalam penanganan medis di rumah sakit. Dengan penuh kesabaran dan ketelatenan ia melayani segala kebutuhan dan keperluannya di masa berat tersebut. Ia pun menyaksikan detik detik terakhir kepulangan dai yang selau riang ini menuju pangkuan Ilahi untuk selamanya.
“Mohon maaf jika ada salah kata, salah sikap, dan jika ada kewajiban beliau yang tersisa yang tidak kami ketahui, mohon disampaikan kepada kami agar perjalanan beliau semakin indah,” kata Muzakkir menutup sambutannya mewakili keluarga besar.
Semoga Allah menyayangi beliau, mengampuni seluruh dosa beliau, dan mengumpulkan beliau bersama para Nabi, Rasul, Shiddiqin, Syuhada, dan Shalihin di Jannah Firdaus Tertinggi. (ybh/hio)
MAROS (Hidayatullah.or.id) – Calon Bupati Kabupaten Maros terpilih Periode 2021-2026, H. Andi Syafril Chaidir Syam S.I.P., M.H, hadir dalam acara pembukaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) dan peletakan batu pertama (groundbreaking) Masjid Tahfidz Putri Hidayatullah Maros, Tanralili, Sulawesi Selatan, Senin, 3 Rajab 1442 H (15/2/2021).
Pada kesempatan pembukaan acara Rakerda yang penuh keakraban itu, Chaidir menyampaikan sambutan serta membuka kegiatan Rakerda tersebut.
Dalam sambutannya, Chaidir menyampaikan apresiasi kepada Hidayatullah Maros yang selama ini telah hadir membangun sumber daya manusia melalui pendidikan agama.
Masih dalam kesempatan yang sama, Chaidir menyatakan dukungannya atas terselenggaranya kegiatan Rakerda dan pembangunan masjid Tahfidz Putri Hidayatullah Tanralili Maros.
Pihaknya pula menyampaikan kesiapan mendukun dan berkolaborasi dengan Pesantren Hidayatullah terkait program Rumah Qur’an setiap kecamatan dan pengembangan dakwah di Kabupaten Maros.
Chaidir yang juga mantan Ketua DPRD Kabupaen Maros ini menyampaikan komitmennya untuk terus menguatkan pembangunan masyarakat serta penguatan moral dan spiritual dengan menjadikan Maros sebagai salah satu ikon Kota Santri.
Dalam kesempatan itu, turut hadir membersamai Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Sulawesi Selatan, Ust Nashi Bohari, yang, sekaligus juga memberikan tausiah di hadapan para peserta.
Mantan Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tenggara itu mengajak kepada segenap peserta agar program satu tahun kedepan difokuskan pada program yang berkaitan dengan mainstrean gerakan Hidayatulllah.
Derasnya hujan tidak membuat redup api semangat peserta untuk terus membakar para peserta agar gelora api kebaikan senantiasa ditingkatkan.
Nasri berpesan, selalu mantapkan niat dalam mengarungi jalan dakwah. Dakwah adalah jalan kebaikan yang memang kadang sukar dijalani. Namun demikian, bagi mereka yang menitinya dengan ikhlas, setiap tapakan kaki di jalan dakwah adalah langkah yang penuh kegembiraan.
“Dakwah ini adalah bagaimana kita menyerukan kepada manusia untuk ber-Qur’an. Karena dengan ber-Qur’an, hati menjadi tenang dan bahagia selamanya,” katanya seraya menukil Al Qur’an Surah Al-An’am ayat 160:
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)”.
Dengan penerapan standar protokol kesehatan yang cukup ketat, sebanyak kurang lebih 150 peserta mengikuti acara Rakerda ini. Peserta adalah unsur Dewan Pengurus Wilayah (DPW), Dewan Murobbi Wilayah (DMW), unsur pengurus DPD Maros serta santri putra putri, Muslimat Hidayatullah, Pemuda Hidayatullah dan tamu undangan lainnya. (ybh/hio)