Beranda blog Halaman 427

Rakerwil Jawa Timur Lakukan Akselerasi Dakwah Digital

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, gerakan dakwah pun dituntut melakukan akselerasi agar tidak tertinggal dan di waktu yang sama diharapkan dapat terus menguatkan rohani melalui ibadah-ibadah nawafil.

Beranjak dari ikhtiar untuk menjaga kualitas spiritual dan meneguhkan dakwah di era digital tersebut, Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur bergerak cepat dengan meluncurkan aplikasi berbasis android yang diberi nama Muslim Fit.

Aplikasi yang dibesut atas inisiasi Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jawa Timur ini diluncurkan dalam versi beta dan kedepannya akan tersedia di Play Store setelah melalui penyempurnaan.

“Aplikasi ini berisi dua fitur utama yaitu Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) dan Gerakan Jasmani Hidayatullah (GENI). Dengan tujuan untuk memonitor pelaksanaan GNH secara online, sedangkan fitur GENI untuk menjaga kesehatan kader dan jamaah,” Ketua DMW Hidayatullah Jawa Timur Muhammad Syuhud dalam sambutan pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Jawa Timur, Senin (1/2/2021).

Masih dalam sambutannya, Ketua Dewan Murobbi Wilayah Hidayatullah Jawa Timur mengingatkan bahwa fungsi utama Rakerwil ini adalah mengkonsolidasikan komitmen perjuangan dan pengabdian keummatan.

“Kita semua harus bersyukur karena berada di atas nikmat besar yaitu menjadi pelanjut perjuangan dakwah Rasulullah. Maka di antara cara kita mensyukuri nikmat besar ini adalah menjaga kualitas diri dengan cara mengikuti halaqah dan menjalankan Gerakan Nawafil Hidayatullah,” kata Syuhud.

Sementara itu, dalam sambutannya, Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur Amun Rowie memaparkan berbagai dinamika, tantangan dan peluang dakwah kini dan di masa yang akan datang.

“Penduduk Indonesia itu 51 persen berada di Pulau Jawa. Sedangkan Jawa Timur berada diperingkat kedua dalam hal jumlah penduduk. Artinya, jika terjadi sesuatu di pulau Jawa ini akan sangat terasa gaungnya di Indonesia,” ungkap Amun.

Begitupun dalam hal gerakan dakwah. Menurut Amun, jika gerakan dakwah di Jawa Timur ini dilakukan dengan baik, berjalan simultan, terpemimpin dan terkoordinir, maka akan memberikan impresi yang dahsyat di seluruh Indonesia.

“Inilah tantangan dakwah kita di Jawa Timur yang dinantikan oleh seluruh umat Islam di Indonesia. Generasi gen X dan setelahnya menjadi fokus yang harus mendapatkan perhatian kita,” tambahnya.

Tidak saja menyoroti fenomena personalitas milenial, generasi Z, generasi Alpha dan generasi X sebagai kelompok demografis yang berkelindan dalam dinamika dakwah dewasa kini, sekali lagi tantangan luasnya geografi Jawa Timur pun mendapat perhatian dari pengurus DPW Hidayatullah Jawa Timur dalam program kerjanya.

“Alhamdulillah, patut disyukuri bahwa 38 kabupaten kota di Jawa Timur telah terisi semua dengan kepengurusan DPD yang lengkap. Bahkan telah ada sebanyak 101 DPC. Namun jika dibandingkan dengan jumlah kecamatan di Jatim yang berjumlah 667, jumlah DPC masih sangat kecil. Karenanya, kita akan fokus dalam menarik dan melakukan pembinaan kader,” pungkasnya.

Kota dingin Batu, Malang, menjadi pilihan pelaksanaan Rapat Kerja Wilayah DPW Hidayatullah Jawa Timur tepatnya di Pusdiklat Hidayatullah Kota Batu. Rakerwil ini diikuti 130 peserta yang terdiri dari pengurus harian DPD, perwakilan amal usaha dan organisasi pendukung tingkat wilayah.

Rakerwil ini dihadiri langsung oleh Ketua Bidang Dakwah dan Layanan Umat (Yanmat) DPP Hidayatullah Drs Nursyamsa Hadis. Dihadiri pula oleh Ketua Departemen Organisasi Samsudin dan Ketua Departemen Hubungan Antar Bangsa, Babeh Dzikrullah. (ybh/hio)

SAR Hidayatullah Lakukan Tanggap Darurat Banjir Kudus

KUDUS (Hidayatullah.or.id) — Search And Rescue (SAR) Hidayatullah melakukan aksi kemanusiaan tanggap darurat bencana banjir yang melanda Kabupaten Kudus, Senin (1/2/2021). Aksi dilakukan bertitik di Dukuh Karangturi, Setrokalangan, Kedungdowo, Kaliwungu Kabupaten Kudus.

Korlap SRU SAR Hidayatullah Unit Kudus, Susmanto, mengungkapkan aksi tanggap bencana melibatkan sejumlah relawan SAR Hidayatullah. Bersama warga, relawan membantu melakukan evakuasi, termasuk membantu merelokasi harta benda warga ke tempat aman.

“Hingga saat ini kita masih menyisir berbagai titik terdampak lainnya,” kata Susmanto.

Dia menambahkan, banjir tidak saja merendam Setrokalangan dan sekitarnya melainkan juga melanda berbagai desa lainnya seperti Desa Banget, dan Desa Blimbing Kidul, Desa Jati Wetan serta Desa Mejobo dan Golantepus di Kecamatan Mejobo.

SAR Hidayatullah telah membuka posko di Masjid At Taqwa, Kedungdowo Kaliwungu, Kudus. Dengan dukungan penuh Laznas BMH, SAR Hidayatullah juga menyalurkan bantuan pasokan terutama makanan instan, minuman, obat obatan dan pokok bayi.(ybh/hio)

Tahlilan dan Maulidan sebagai Wasilah Menebar Kebaikan

PAREPARE (Hidayatullah.or.id) — Indonesia sebagai negeri dengan seribu kemajemukan, memiliki kultur komunal yang khas bahkan menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat kita. Diantaranya adalah tradisi tahlilan dan maulid.

Tahlilan dan maulid bukan sesuatu yang asing. Peringatan kelahiran Nabi kerap diperingati dengan berbagai kegiatan.

Di Bontang, Kalimantan Timur, misalnya, ketika bulan maulid tiba, dai Hidayatullah yang tergabung dalam Badan Koordinasi Dakwah Islam Bontang (BKDIB) dan Lembaga Dakwah Hidayatullah Bontang (LDHB) selalu padat jadwal mengisi taushiah maulid Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alahi Wasallam.

Sikap keagamaan yang dipraktikkan oleh Hidayatullah tersebut rupanya menarik perhatian Balai Penelitian Dan Pengembangan Agama Makassar melalui salah satu penelitiannya.

Penelitian Balai Penelitian Dan Pengembangan Agama Makassar bertajuk “Perspektif Tokoh Masyarakat tentang Pendidikan Moderasi Beragama di Parepare”, 2020 ini merupakan riset tahap kedua Balai Litbang Agama Makassar (BLAM). Khaerun Nisa’, peneliti Balai Litbang Agama Makassar, berbagi best practice mengenai moderasi beragama ala Pesantren Hidayatullah di Parepare.

Membahas mengenai Pesantren Hidayatullah Parepare, pesantren ini sejak dahulu dikenal memiliki corak atau identitas yang tidak melaksanakan ritual budaya lokal.

Namun menariknya, tokoh agama dari Pondok Pesantren Hidayatullah Parepare yang memiliki latarbelakang organisasi, ataupun identitas keagamaan yang selama ini dikenal kental tidak melaksanakan ritual-ritual budaya lokal, sama sekali tidak membuatnya menutup ruang interaksi dan komunikasi antar sesama.

Bagi Ust Saparuddin, Ketua Pondok Pesantren Hidayatullah Parepare, sikap tersebut merupakan upaya membangun kebersamaan dengan mendahulukan kemaslahatan agar upaya kebaikan yang dilakukan terus tersambung. Hal itu tergambar dari keterangannya saat diwawacarai tim peneliti Balai Penelitian Dan Pengembangan Agama Makassar.

“Karena tidak semua sama pemikirannya, yang penting standar nilai sudah ada, standar nilai kita inikan agama yang harus selalu dijaga. Ketika sesuatu itu masih ada peluang, celah untuk kemudian kita bisa masuk di sana kenapa tidak kan gitu. Yang kita tidak ada kompromi itu kalo sudah bicara kesyirikan,” kata Saparuddin.

Meskipun Ust Saparuddin memiliki latarbelakang organisasi yang dianggap tidak melakukan ritual tradisi lokal, namun ia tetap akomodatif dan sama sekali tidak resisten terhadap kultur lokal, sepanjang tradisi lokal tersebut dianggap tidak kontradiktif dengan ajaran-ajaran Islam.

Ditegaskan bahwa dalam mengimplementasikan moderasi beragama dalam kehidupan, seseorang tidak perlu mengesampingkan, mengaburkan, atau bahkan kehilangan identitasnya demi mengakomodir orang yang berbeda latarbelakang identitas dengannya.

Selain itu, sikap yang demikian tidak lantas membuat seseorang menjadi eksklusif dengan identitasnya. Dengan adanya perbedaan identitas atau corak keagamaan tersebut, justru menjadi pintu untuk membuka dialog dan sinergitas. (ybh/hio)

Mushida Papua Barat Komitmen Kokohkan Ketahanan Keluarga

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Muslimat Hidayatullah (Mushida) Papua Barat akan mengambil peran lebih besar dalam mengokohkan ketahanan keluarga di kawasan. Hal itu menjadi salah satu rekomendasi dalam acara Musyawarah Wilayah Muslimat Hidayatulah Papua Barat. Peran tersebut akan dilakoni dengan menguatkan jalinan sinergi bersama berbagai pihak baik pemerintah maupun berbagai elemen masyarakat.

Hal itu diutarakan Ketua PW Muslimat Hidayatullah Papua Barat, Ustadzah Ibu Nadrah AS, dalam upaya pihaknya menopang program pemerintah dalam menguatkan ketahanan keluarga sebagai salah satu langkah strategis dalam menekan prroblem masyarakat diantaranya kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkoba.

“Agenda tersebut sejalan dengan visi Muslimat Hidayatullah dalam rangka membangun keluarga Qur’ani yang sakinah mawaddah warohmah,” kata Nadrah dalam keterangannya diterima media ini, Senin (1/2/2021).

Diantara proyeksi program pengokohan ketahanan keluarga, Muslimat Hidayatullah Papua Barat diantaranya membuka layanan pendidikan taman baca untuk anak, sentra eksplorasi tumbuh kembang anak, workshop parenting dan mencanangkan penguatan program majelis taklim muslimat yang sudah berjalan.

“Dengan misi melahirkan wanita muslimat yang berkualitas serta menguatkan peran muslimat dalam bidang pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi dan lain- lain secara profetik dan profesional, Mushida Papua Barat tentu akan bersinergi dengan komponen umat serta
mengajak pemerintah dan segenap bangsa Indonesia untuk mewujudkan NKRI yang unggul dan bermartabat,” kata Nadrah.

Selain itu, pihaknya juga membidik potensi kemandirian ekonomi muslimat berbasis komunitas dengan memanfaatkan kapasitas kader dengan segala skil dan minatnya. Menurut Nadrah, pemberdayaan perempuan di bidang ekonomi juga dapat menguatkan ketahanan keluarga.

“Dengan adanya internet, muslimat bisa berdagang hanya melalui handphone mereka bahkan bisa melayani pembeli dari seluruh Indonesia. Papua Barat tidak kalah dengan potensi wilayah lainnya, insya Allah Mushida Papua bisa,” katanya.

Sementara itu, dalam sambutannya Ketua DPW Hidayatullah Papua Barat, Ust Hasdar Ambal, menyampaikan pentingnya peran Muslimat Hidayatullah dalam menegakkan peradaban, terutama peran kepengasuhan pada tumbuh kembang generasi agar menjadi figur yang bermanfaat untuk agama dan bangsa.

“Karena seorang muslimat kelak akan menjadi madrasah pertama pada anak. Bila seorang muslimat yang juga seorang ummahat tidak bisa membimbing putra-putrinya ke arah yang baik, maka generasi mendatang tidak bisa di harapkan terwujudnya sebuah peradaban,” kata Hasdar.

Hasdar menambahkan, peran kepengasuhan sejatinya bukan hanya menjadi kewajiban ibu, melainkan harus dilakukan secara sinergis bersama dengan ayah. Karena itu, dia menekankan, suksesnya peran Mushida tidak lepas dari dukungan bapak. “Demikian pula sebaliknya. Jadi harus kerjasama,” tukasnya.

Hasdar berharap, dalam kepengurusan Mushida Papua Barat yang baru, semakin meningkatkan pelayanan dam pembinaan ummat terutama di Papua Barat. Ia bahkan mendorong Mushida juga terus rutin menguatkan pembinaan keagamaan khususnya pada kaum wanita di daerah-daerah pedalaman di kawasan itu.

Muswil Mushida Papua Barat yang berlangsung Sabtu-Ahad (30-31/1/2021) itu mengangkat tema “Meneguhkan Integritas Muslimat Demi Tegaknya Peradaban”. Muswil ini sebagai ajang konsolidasi juga sekaligus menetapkan serta melantik Pengurus Wilayah baru.

Turut hadir secara virtual dalam acara yang berlangsung di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Manokwari, Jalan Trikora Arfai 2, Kelurahan Anday, Papua Barat, tersebut Ketua Majelis Murobbi Pusat Mushida Ustz Emi Pitoyanti, Ketua Umum Pengurus Pusat Mushida Ustz Heni Akbar, S.Sos.I serta Ketua Bidang Pelayanan Ummat PP Mushida Ustz Neni Setiawati yang sekaligus pendamping Muswil Mushida Papua Barat.

Selain itu, hadir pula Ketua Murobbi Wilayah Hidayatullah Papua Barat Ust. Muhamad Sulton, Ketua DPW Mushida Papua Barat beserta jajarannya, Ketua DPD Mushida se-Papua Barat, pengelola Amal Usaha Mushida se-Papua Barat dan perwakilan DPD Mushida se-Papua Barat.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum Pengurus Pusat Mushida Ustz Heni Akbar melantik pengurus baru PW Muslimat Hidayatullah Papua Barat yaitu Nadrah AS (Ketua), Hadrianti Rukmana, S.H.I (Sekretaris) dan Sri Wahyuningsih, S.Pd (Bendahara). Serta melantik Kasmawati sebagai Ketua Majelis Murobbiyah Wilayah Papua Barat dan Eva Baryanti, S.Pd sebagai Anggota Majelis Murobbiyah.*/Miftah

SAR Hidayatullah Terus Mantapkan Koordinasi untuk Aksi Kemanusiaan Nasional

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Search And Rescue (SAR) Hidayatullah terus menguatkan sistem koordinasi dan konsolidasi untuk memantapkan aksi kemanusiaan dalam tanggap bencana nasional. Ikhtiar tersebut dilakukan salah satunya melalui Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) I Tahun 2021 yang digelar di Jakarta, Sabtu (30/1/2021).

Ketua SAR Hidayatullah Pusat Irwan Harun mengatakan rapat nasional tersebut selain sebagai ajang konsolidasi idiil, konsolidasi organisasi dan konsolidasi wawasan, juga sebagai momentum koordinasi penguatan sistem di tengah situasi negeri Indonesia yang memang rentan sekali dengan bencana alam.

“Bisa dipastikan tidak ada bagian dari Indonesia yang aman dari bencana. Semua memiliki potensi dilanda bencana, karena itu disinilah pentingnya kesiapsiagaan,” kata Harun kepada media ini.

Dia berpesan kepada anggota dan segenap relawan dimanapun berada untuk tetap waspada, mawas diri, dan tetap melakukan sosialisasi dan konsolidasi kewaspadaan dini dalam tanggap bencana yang rentan terjadi di wilayah Indonesia.

Seperti diketahui, kondisi geologis dan geomorfologis wilayah Indonesia memang rentan terhadap berbagai kemungkinan terjadinya bencana alam tanah longsor.

“Semoga rapat pimpinan ini melahirkan program kekinian SAR Hidayatullah untuk semakin kuat dan mandiri,” katanya

Kesiapsiagaan dini dalam menghadapi bencana memang harus terus disosialisasikan. SAR Hidayatullah sendiri melalui Sekolah Indonesia Tanggap Tangguh dan Aman Bencana (SIGAB) telah melakukan upaya mitigasi dan koordinasi tersebut.

Kewaspadaan dini tersebut sebagaimana telah diingatkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menegaskan bahwa tidak ada satu pun tempat di Indonesia yang bebas bencana, mulai dari gempa bumi, tsunami, kebakaran hutan lahan, dan hidrometeorologi.

Harun pun mengingatkan mengenai peta zona kerentanan gerakan tanah sebagai salah satu bentuk early warning system (EWS) untuk menghindari dampak bencana tanah longsor di berbagai wilayah di Tanah Air.

SAR Hidayatullah adalah badan pendukung ormas Hidayatullah yang bertugas mengkoordinasi dan memobilisasi sumberdaya dalam tanggap darurat bencana, mitigasi, kewaspadaan dini dan rehabilitasi pasca bencana.

SAR Hidayatullah menggelar Rapat Pimpinan Nasional I bertempat di Gedung Pusat Dakwah DPP Hidayatullah yang diikuti oleh 18 Wilayah SAR Hidayatullah di seluruh Indonesia.

Rapimnas ini dibuka oleh Ust Nursyamsah Hadis Selaku Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat (Yanmat) DPP Hidayatullah dan sekaligus beliau juga Ketua Pembina SAR Nasional Hidayatullah.

Kegiatan ini juga turut dihadiri oleh perwakilan sejumlah unsur lembaga Hidayatullah induk mulai dari BMH, Sahabat Anak Indoensia (IMS), Islamic Medical Service (IMS), Pemuda Hidayatullah, Muslimat Hidayatullah, TASK, dan Persaudaraan Dai Indonesia (POSDAI). Serta tidak kala penting dihadiri pula Ketua DPW Hidayatullah DKI Ustadz Muhammad Isnaini dan Ust Mahmud Effendi selaku anggota Dewan Murobbil Wilayah DKI dan Jawa Barat.

Hadir memberikan pencerahan dan penguatan brainstorming sebagaimana agenda acara berjalan para pemateri yang luar biasa, seperti Pembina SAR Hidayatullah, Ketua Bidang Organisasi DPP Hidayatullah Ust Asih Subagyo dan abangda Musliadi Raja selaku Ketua Departemen Sosial DPP Hidayatullah yang memberikan semangat untuk SAR Hidayatullah dan sekaligus menutup acara RAPIMNAS I SAR Hidayatullah ini. (ybh/hio)

Rakerwil Hidayatullah Jabar Hasilkan Program Jaya Berkibar

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) selama dua hari di kampus Yayasan Hayatan Thayyibah Pesantren Hidayatullah Bandung, Jawa Barat (29-30/1/2021).

Rakerwil kali ini mengusung tema “Konsolidasi Idiil, Organisasi, dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standarisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik”.

Acara tersebut dihadiri dan dibuka oleh Bendahara Umum DPP Hidayatullah, Marwan Mujahidin, SE, M.Sust. Selain itu, hadir pula sebagai pendamping dari DPP Hidayatullah yaitu Ruhyadi (Ketua Departemen Aset) dan Endang Abdurrahman, S.Ag (Ketua Departemen Pembinaan Keluarga dan PAUD).

Dalam sambutannya, Marwan menyampaikan arahan DPP Hidayatullah. Ia menyampaikan pentingnya seluruh pengurus wilayah, daerah, kader, dan jamaah Hidayatullah untuk memahami visi, misi, dan jati diri Hidayatullah.

Dalam pelaksanaan konsolidasi idiil, organisasi dan wawasan merupakan tanggung jawab Dewan Murabbi Wilayah (DMW). Karena itu, DMW memiliki kewenangan dan jabatan strategis dalam mengawal organisasi.

“Sementara tatanan praktis pengurus DPW harus mampu melakukan program kerja yang kreatif, dan inovasi dalam mendukung kebijakan organisasi pusat menuju standarisasi, sentralisasi, dan integrasi sistem. Sebab, manhaj Hidayatullah adalah Sistem Wahyu, maka target menjadikan al-Quran sebagai sumber inspirasi dan gerakan menjadi point penting yang harus dipahami oleh setiap kader,” paparnya.

Selain itu, ia juga menegaskan, “Seluruh pengurus Hidayatullah harus memahami dan menyadari dengan terjadinya wabah Covid-19, dimana resesi ekonomi manjadi tantangan yang harus dihadapi. Program untuk kolaborasi dan sinergi dengan berbagai pihak menjadi keniscayaan yang harus dilakukan oleh setiap pengurus DPD se-Jawa Barat,” ungkapnya.

Dadang Abu Hamzah, Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jawa Barat—yang merupakan struktur baru di organisasi Hidayatullah—pada kesempatan itu menyampaikan pentingnya kader untuk selalu bermujahadah melakukan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) agar sukses dalam bidang dakwah dan Tarbiyah.

Sementara itu, Taufik Wahyudiono, S.Pd, selaku Ketua DPW Hidayatullah Jawa Barat menyampaikan apresiasi kepada para peserta yang hadir, terutama untuk DPD yang baru bergabung ke DPW Hidayatullah Jawa Barat, di antaranya Kota dan Kab. Bogor, Kota Depok, Kota dan Kab. Bekasi, yang sebelumnya masuk ke wilayah DKI.

“Selamat bergabung para pejuang peradaban bersama kami. Berdasarkan hasil Munas dan untuk menyesuikan dengan kebijakan pemerintahan Jawa Barat, maka pada periode 2020-2025 sejumlah daerah dan kota bergabung ke DPW Hidayatullah Jawa Barat. Sehingga dengan bertambahnya lokasi tersebut menambah pula luasnya medan dakwah para dai Hidayatullah Jawa Barat,” ungkapnya.

“Insya Allah, dengan program-program unggulan DPW Hidayatullah Jawa Barat, kami optimis Hidayatullah Jawa Barat akan jaya dan berkibar,” lanjutnya.

Pada hari kedua Rakerwil, Ruhyadi mempresentasikan pentingnya pendataan dan pengelolaan asset lembaga. Juga menyampaikan program ekonomi keumatan untuk menjawab pertanyaan dari peserta terkait adanya Kubah Konveksi dan El-Syifa Aqiqah.

Sebagaimana diketahui, bahwa Kubah Konveksi dan El-Syifa Aqiqah adalah program ekonomi keumatan DPW Hidayatullah Jawa Barat. Dan saat ini menunjukkan progres yang signifikan untuk menjadi cikal bakal berdirinya PT. Kubah Nusantara.

Rakerwil yang diikuti oleh pengurus DMW, DPW, DPD Hidayatullah se-Jabar, Mushida, BMH, Pemuda Hidayatullah, SAR Hidayatullah, Pos Dai, serta didukung oleh El-Syifa Aqiqah dan Kubah Konveksi ini diakhiri dengan pembacaan kesepakatan-kesepakatan dan penyampaian kebijakan DPW Hidayatullah Jawa Barat.

Setelah acara berakhir, Marwan Mujahid berkesempatan mengunjungi Kubah Konveksi. “Saya sudah bisakah ikut membeli saham Kubah Konveksi?” ujarnya sambil tersenyum. “Siap, Ustadz,” timpal Abdul Wahid, Direktur Kubah Konveksi.*/Dadang Kusmayadi, Asep Juhana

Dai Muda Milenial Didorong Harus Produktif di Era Digital

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi mengatakan, kaum muda perlu memanfaatkan teknologi sebaik-baiknya di tengah masifnya perkembangan industri kreatif digital. Sebab kalau menjadi pengguna konsumtif semata, maka hal itu bisa menggerus usia produktif tanpa karya.

“Inilah yang menjadi tantangan terdekat kita hari ini. Bukan akan, tapi sekarang. Dan anak anak mudalah yang menjadi objeknya,” kata Imam dalam acara Halaqah Pemuda yang mengangkat topik “Upgrading Dai Muda Optimalisasi Dakwah Digital”, di Gedawang, Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (30/1/2021).

Menurut Imam, bonus demografi saat ini harus benar-benar dikelola.Jika tidak, bisa jadi ledakan jumlah penduduk usia produktif ini hanya menjadi alamat ketidakberdayaan.

Menukil data Sensus Penduduk 2020 Badan Pusat Statistik (BPS), Imam menyebut, penduduk Indonesia berjumlah 270,2 juta jiwa pada September 2020.

Dari jumlah tersebut, Imam menyebut, sebanyak 70,72 persen di antaranya adalah penduduk masa produktif antara 15 hingga 64 tahun yang masuk dalam kategori usia kerja.

“Usia produktif mendominasi ledakan demografi kita. Pertanyaannya, apakah generasi muda kita siap bertarung, kuat berkompetisi, aktif dan benar-benar produktif atau malah jadi santapan dari berbagai produk digital,” imbuh pegiat gerakan literasi ini seperti dikutip Republika.co.id.

Sebagai generasi muda, Imam menilai, berbagai dinamika dan realitas kekinian hari ini, hendaknya menjadi tantangan bagi generasi muda untuk melahirkan terobosan serta menciptakan karya.

“Karya itu tidak melulu harus sesuatu yang bisa diidentifikasi dengan abstraksi entitik, tapi bisa juga hal hal yang amat sederhana namun jika dilakukan secara konsisten bisa melahirkan gelombang,” katanya.

Di antara karya yang bisa dimulai dilakukan adalah membangun tradisi baca dan budaya menulis hal positif di media sosial. Hal itu mungkin terlihat sederhana, tetapi, menurut Imam, hal kecil seperti itu bisa menggerakkan orang lain untuk melakukan kebaikan juga.

“Dengan optimalisasi potensi sumber daya generasi muda, industri kreatif digital bisa menjadi instrumen tersampaikannya kebaikan. Selain itu, melalui kesadaran akan kewajiban dakwah, medium ini juga dapat menjadi episentrum tersambungnya dakwah yang digerakkan oleh milenial,” kata Imam.

Dai muda harus bergerak menjadikan digital sebagai sarana menyerukan kebaikan dan kemajuan umat.

“Hadirlah wahai kaum muda di dunia digital dengan beragam kebaikan-kebaikan yang masyarakat dapat terlibat dan masyarakat merasakan manfaat. Sebab dunia digital hakikatnya adalah kendaraan untuk menyampaikan gagasan dan memberikan pengaruh positif bagi kehidupan. Dunia digital adalah tempat dimana kita semua ditantang untuk lebih cerdas, bijaksana dan visioner,” tutupnya. (ybh/hio)

Rakerwil Jateng Siapkan Kecerdasan Hadapi Situasi Tak Menentu

SEMARANG (Hidayatulah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Tengah hari ini resmi menggelar Rapat Kerja Wilayah di Hotel Candi INdah Semarang (30/1).

Dalam sambutannya, Ketua DPW Hidayatullah Jawa Tengah, Ustadz Ahmad Ali Subur menegaskan bahwa Rakerwil ini penting dan urgen guna menghadapi situasi tak menentu karena pandemi.

“Rakerwil saat ini sangat penting, urgen dan segala kata yang sinonim dengan itu semua. Karena banyak aspek, baik makro maupun mikro, dimana kondisi diluar analisis orang seahli apapun tidak bisa mendekati kata tepat. Semua terdampak, politik, ekonomi, sosial, pendidikan dan budaya,” urainya.

Oleh karena itu, melalui Rakerwil ini diharapkan hadir kecerdasan baru yang bisa menghadapi situasi ini.

“Semua entitas di dunia bahkan Hidayatullah, membutuhkan kecerdasan ekstra dalam menghadapi situasi ini, mulai ranah strategis sampai teknis,” tambahnya.

Kebutuhan akan kecerdasan baru yang ekstra ini semakin mutlak dibutuhkan karena perubahan semakin cepat.

“Fenomena terakhir, generasi milenial, kondisinya makin mendominasi berbagai bidang, baik positif maupun negatif. Namun, analis mengatakan 2025 kepemimpinan segala sektor akan diambil alih oleh generasi milenial, baik perusahaan, organisasi. Alhamdulillah, Hidayatullah telah dilakukan persiapan tersebut dengan semangat rejuvenasi. Kiranya ini menjadi satu langkah tegas bahwa Hidayatullah akan terus survive dan memberi manfaat di tengah-tengah umat,” tuturnya.

Rakerwil ini dihadiri secara online oleh Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah, Candra Kurnianto. Dan, dalam rangkaiannya Rakerwil ini juga akan diisi dengan pengukuhan Pengurus Harian Pemuda Hidayatulalh Jawa Tengah.(Imam Nawawi)

Sistem Penjelas Islam Terbaik Adalah dengan Keteladanan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta Muhammad Isnaini mengatakan, untuk meyakinkan orang tentang risalah Islam sebagai jalan kebaikan, kunci kebahagiaan, dan syarat keselamatan maka ia harus dijelaskan melalui sarana dakwah.

Namun, dia mengungkapkan, dakwah terbaik supaya Islam ini sampai kepada mereka yang belum merasakan nikmatnya adalah dengan mempraktikkan ajaran Islam secara langsung. Tidak saja menceramahkan, itulah menurutnya dakwah dengan keteladanan.

“Sistem penjelas terbaik adalah diri kita sendiri, maka jadikan diri kita sebagai Islam yang berjalan, Al Quran yang bergerak. Ajak orang sebanyak-banyaknya menggapai hidayah. Kalau mau selamat ikuti Hidayatullah, karena hidayah Allah itu petunjuk untuk keselamatan,” kata Isnaini.

Hal itu disampaikan Isnaini ketika membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta di Pendapa 4th Floor Media Center, Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Selasa (26/1/2021).

Dalam kesempatan tersebut, Isnaini mendorong Ketua PW Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta Haniffudin Ibrahim Chaniago dan jajarannya agar terus bersemangat menyambut tantangan di kota metropolitan ini. Isnaini menyebut tim Pemuda Hidayatullah ini sebagai “Kabinet Penakluk Jakarta”.

“Pemuda Hidayatullah kini fokus Jakarta dalam rangka melakukan gerakan Quranisasi dalam bentuk Rumah Qur’an. Karena itu, dalam konteks wilayah, ini harus kita harmonisasikan. Ini perlu keseiramaan, kebersamaan, harmoni dan sinergi,” tukasnya.

Dia berpesan kepada musyawawwirin untuk betul betul memaksimalkan penyelenggaraan Rakerwil untuk mencapai hasil program kerja yang terukur dan berorientasi kinerja dengan memeras pikiran selama acara rapat berlangsung.

“Curahkan semua kemampuan dan peras pikiran Anda untuk menghasilkan program kerja yang berkualitas, rasional, terukur dan objektif, minimal dengan doa. Dan kalau sudah diputuskan maka kita kerjakan, jangan banyak lagi diskusinya,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah (PW) Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta Haniffudin Ibrahim Chaniago dalam sambutannya mengatakan Rakerwil ini akan menderivasikan program kerja yang telah diputuskan dalam Rakernas di Kebumen dan memerasnya menjadi program kerja yang disesuaikan dengan potensi dan kearifan lokal.

Hal senada diutarakan Ust. Muhammad Yusri Romadhon Alzami Al Hafidz selaku instruktur Daurah Al Qur’an Pemuda yang juga Ketua Departemen Dakwah Hidayatullah DKI Jakarta, bahwa salah satu kearifan lokal tersebut adalah penguatan Jakarta dari sisi pembinaan keagamaan yang dalam hal ini adalah baca Al Qur’an.

Alzami mengatakan, Al Qur’an adalah mukjizat yang penuh keberkahan. Siapa yang mempelajarinya akan mendapatkan pahala. Namun, dia mengingatkan, belajar Al Qur’an tidak bisa dilakukan dengan pertemuan temporer namun harus tetap dilakukan dengan sungguh-sunguh melalui jalur talaqqi.

“Pembelajaran Al Quran yang terbaik adalah dengan talaqqi. Bisa saja tanpa melalui talaqqi atau belajar tanpa langsung secara sekemuka, tapi itu tidak maksimal,” kata Alzami.

Dia pun juga mengapresiasi target DPW Hidayatullah DKI Jakarta mendirikan 1000 Rumah Qur’an. Menurutnya, hal itu merupakan terobosan yang bagus namun tetap harus memperhatikan mutu dan kualitas pembelajaran.

“Sebenarnya yang paling penting adalah kualitas. Jadi tidak apa apa sedikit tapi berorientasi pada kualitas. Karena Al Qur’an ini memang harus mendalam,” katanya.

Selain itu, ia juga menyarankan agar gerakan dakwah Al Qur’an ini memang dilembagakan agar terus bergulir walaupun setiap tahun ganti kepengurusan.

“Saya lebih cenderung program ini disinergikan dengan peserta tetap dan format waktu tertentu sehingga pembelajaran dilakukan berkelanjutan, daripada digelar perpekan dengan peserta yang tidak tetap,” pungkasnya dalam sesi pemaparan program kerja.(ybh/hio)

Tri Winarno: Amal Terbaik Adalah yang Direncanakan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Bendahara Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Tri Winarno mengatakan, pemuda apalagi sebagai seorang muslim amat perlu mengatur agenda agar memiliki perencanaan yang baik dalam setiap aktifitasnya. Perencanaan yang baik akan menghasilkan kebaikan. Karena itu, bagi dia, amal terbaik adalah yang direncanakan.

“Amal terbaik itu adalah yang direncanakan. Kita dalam menjalankan roda organisasi ini adalah dalam rangka ibadah untuk mendapatkan pahala, karena itulah ibadah ini harus direncanakan,” kata Winarno dalam sesi brainstorming Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta di Pendapa 4th Floor Media Center, Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Selasa (26/1/2021).

Winarno menjelaskan, ibadah atau kebaikan yang dilakukan harus direncanakan dengan baik agar betul betul mendapatkan hasil terbaik. Itulah sebabnya, agenda organisasi yang muatannya merupakan kebaikan harus direncanakan dalam bentuk program kerja.

Pemuda juga perlu untuk selalu melakukan inovasi dengan menawarkan ide guna meretas permasalahan yang ada di masyarakat. Namun, dia mengingatkan, ide tidak melulu harus besar. Walaupun program kecil dan dianggap sederhana, jika dijalankan dengan konsisten Insya Allah membuahkan kebaikan.

“Banyak ide program kerja itu penting namun harus diukur dengan goal atau tujuan. Program boleh kecil tapi terukur dan berbasis waktu, ini yang menarik,” kata Winarno.

Winarno mengajak peserta Rakerwil untuk tidak saja berupaya melahirkan inovasi tetapi juga harus selalu melakukan evaluasi atas berbagai program amal yang telah dicanangkan.

“Sudah sejauh manakah program yang kita jalankan. Kecil jika dilakukan secara terencana, terstruktur, sistematis dan masif, maka bisa menjadi gelombang besar yang menggulung,” katanya.

Dia mengungkapkan, kepemimpinan yang baik adalah terbangun dari kesepakatan atau mentradisikan musyawarah. Dalam hal ini, Winarno mengingatkan bahwa basis gerakan dan program Pemuda Hidayatullah adalah Al Qur’an yang mendorong umatnya untuk berfikir besar.

“Sebuah pemikiran besar, jernih dan baik, maka Allah SWT akan mendatangkan pertolongan. Mungkin tidak tercapai di masa kita, tapi kita yakini bahwa ide besar itu selalu bergulir dan akan menemukan jalannya sendiri,” kata Winarno.

Winarno mengutarakan bahwa seringkali kita mendapati tantangan yang oleh pikiran akal sehat kita bahkan hal itu sukar dihadapi. Namun, setelah dijalani dengan keyakinan dan pengharapan akan pertolongan Allah, ternyata bisa dilalui.

“Sebuah cita cita yang besar dan kita ikhlas mengerjakan, kita jalankan. Pejam mata, kita jalankan. Keberanian untuk melakukan langkah pertama sangat menentukan,” katanya.

Dia pula berpesan kepada peserta Rakerwil DKI Jakarta menderivasikan program kerja yang telah dicanangkan dalam Rakernas dengan menggulirkan program meng-Al Qur’an-kan DKI Jakarta dengan bagaimana pemuda bisa mengisi posisi terbaik di berbagai posisi.

“Kita jangan sampai salah posisi. Pemuda itu melaju dengan kencang dan orang tua yang mengerem. Jangan sampai terbalik, orangtua berlari kencang sementara yang muda tetap di tempatnya,” pungkasnya.(ybh/hio)