BULUKUMBA (Hidayatullah.or.id) – Melanjutkan agenda kunjungan kerjanya, Wakil Gubernur (Wagub) Sulawesi Selatan (Sulsel) Andi Sudirman Sulaiman mengunjungi kampus Pondok Pesantren Hidayatullah, di Jl. H. Andi Banawa Yusuf, Kampung Padang Moro, Ujung Loe. Bulukumba
Wagub diterima langsung oleh pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah. Ia juga menyapa satu persatu santri yang sudah menunggu kedatangannya.
Melihat pesantren ini, ia menilai pesantren ini sebagai pesantren yang mandiri. Hal itu terlihat dari beberapa tempat, dimana terdapat kandang ternak, tambak dan fasilitas gedung sangat lengkap, mulai dari TK sampai SMP.
“Kami datang untuk melihat keadaan pesantren, terlihat ada kemandirian. Mudah-mudahan Pesantren ini terus berkembang,” ungkapnya di Masjid Ruknun Syadid Pesantren Hidayatullah dikutip Mitrapol, Sabtu (14/3).
Ia melanjutkan, investasi terbesar untuk selamat dunia dan akhirat adalah ilmu. Sekolah setinggi apapun ketika akhlak yang tidak baik, maka rusaklah semua. Yang ideal adalah yang akhlaknya baik dilihat dari agama, adab, dan perilaku sehari-hari, dan paling utama bagaimama kecerdasan sejalan dengan akhlak.
Tak lupa Ia memberi motivasi kepada santri bahwa jangan takut dengan pernyataan yang mengatakan ketika kita lahir di pesantren, kita tidak bisa bersaing di luar. Itu pemikiran keliru.
“Saya sering iri dengan yang bersekolah di Pesantren, saya melihat ada kebahagiaan tersendiri saat berada di lingkungan pesantren, kebahagiaan bermuamalah dan bersilaturahim,” sambungnya.
Sebelum mengunjungi Pesantren Hidayatullah Bulukumba, Wagub membuka Musda IMM Sulsel, dan malam harinya akan melanjutkan agenda menghadiri resepsi pernikahan anak AM Sukri A Sappewali, Bupati Bulukumba. (prs/and)
MALANG (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum yang juga pembina Pembina Hidayatullah Jawa Timur, Ust Drs Abdul Rahman, mendorong Pemuda Hidayatullah untuk terus menguatkan pembinaan generasi muda milenial. Bahkan jika perlu buat cafe berkonsep milenial yang bisa menjadi tempat nongkrong bersama.
“Buat cafe atau warung kopi yang berdekatan dengan masjid sehingga anak-anak muda kita ini dekat dengan masjid. Waktu shalat, semua bergegas berjamaah di masjid. Begitu baru namanya pemuda,” katanya pada sesi Pelatihan Dai Muda dalam rangkaian perhelatan Musyawarah Wilayah VII Pemuda Hidayatullah Jawa Timur 2020 di Komplek Yayasan Pendidikan Islam Ar Rohmah Tahfidz Malang, Jawa Timur, Ahad (14/3/2020).
Keberadaan Pemuda Hidayatullah diharapkan mampu menghadirkan inovasi terobosan dakwah yang sesuai dengan zaman millenial saat ini. Hal ini dibutuhkan, kata dia, untuk menunjang eksistensi pergerakan dakwah menyebarkan Islam agung. Untuk itu dibutuhkan komitmen yang kuat dengan dasar motifasi keimanan.
“Iman itu diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diperagakan dalam sebuah gerakan. Iman inilah yang menjadi dasar dan motifasi untuk selalu bergerak dan berkomitmen dalam menyampaikan kebaikan di tengah-tengah masyarakat,” katanya.
Pemuda yang terjaga komitmennya berdasarkan motifasi iman diharapkan mempunyai peluang untuk mengarahkan, mengajak dan membangun kekuatan berjamaah dalam menegakkan kebaikan. Begitupula pemuda Hidayatullah harus memiliki spirit yang benar dan kuat berdasarkan motifasi iman.
“Iman ini yang paling utama untuk menjadi dasar pergerakan pemuda Hidayatullah ini. Dengan manhaj nubuwah yang ada di Hidayatullah, maka cukup untuk menjadi dasar penguatan iman kita. Sebagai modal utama dalam upaya membangun kader muda yang militan,” terangnya.
Dia menerangkan, dalam membangun visi dan militansi pemuda dalam menghadapi era disrupsi ini harus memiliki bekal utama yaitu bekal keimanan. Dengan spirit iman ini diharapkan mampu merubah keadaan masyarakat menjadi lebih baik.
“Pemuda harus peka, harus resah jika melihat kondisi negatif yang ada di masyarakat kita saat ini. Jika tidak ada keinginan untuk merubah melakukan perbaikan, maka berarti dianggap tidak punya iman. Karena iman yang tidak melahirkan pergerakan, berarti masih dipertanyakan itu keimanannya,” tegasnya di hadapan peserta pelatihan yang digelar bekerjasama dengan Laznas BMH itu.
Beliau mencontohkan dahsyatnya pergerakan dakwah jika dilandasi keimanan, dengan menceritakan semangat beliau berdakwah kala masih muda. Pergerakan beliau dari Surabaya hingga ke beberapa daerah di Jawa Timur dan hasilnya hingga saat ini sudah ada cabang Pimpinan Daerah Hidayatullah di seluruh Kota/kabupaten se-Jawa Timur.
“Kita datangi itu mahasiswa di Surabaya, di Unair, Unnesa, dan lainnya. Ke Malang juga itu kita datangi kampus Unibraw, dan lainnya. Kita sampaikan pencerahan, mahasiswi yang belum berhijab, kita ajak untuk berhijab. Meskipun banyak tantangannya juga,” kisah beliau membagi motivasi kepada peserta.
Visi dan militansi dakwah pemuda Hidayatullah akan terlihat saat pemuda mampu melakukan tugas dakwah dengan dasar keimanan, kreativitas dan inovasi sesuai dengan zaman millenial ini.
“Bayangkan jika Pemuda Hidayatullah memiliki 100 cafe dakwah di Jawa Timur ini. Banyak peminatnya. Namun juga tetap menerapkan nuansa keislaman. Saat waktu shalat ditutup. Musik yang dipasang liriknya harus yang bermuatan dakwah. Banyak itu pemuda-pemuda yang bisa dicerahkan,” terangnya lagi.
Dalam akhir penyampaian beliau, diharapkan kedepannya pemuda Hidayatullah lebih mampu menunjukkan semangat dan militansinya. Tidak ragu dan siap jika dikirim tugas kemanapun tempatnya.
“Dengan landasan spirit iman, bertugas dimanapun tempatnya tidak akan menolak itu pemuda. Meski hanya berbekal satu bundel Majalah Suara Hidayatullah,” pungkas beliau penuh semangat dan harapan.*/Galih Pratama Yoga
MALANG (Hidayatullah.or.id) — Salah satu pekerjaan rumah (PR) umat Islam yang sampai hari ini belum tergarap dengan optimal adalah dunia usaha. Terbukti, yang menguasi keuangan dan perekonomian Indonesia, orang-orang non-Muslim. Demikian ungkap ustadz Pembina Hidayatullah Jawa Timur Abdurrahman dalam acara pelatihan dai muda, rangkaian Musyawarah Wilayah (Musywil) VII Pemuda Hidayatullah, di Malang, Jawa Timur yang digelar pada 13-15 maret 2020.
“Di lain pihak, kaum Muslimin hidup miskin. Susah. Termarginalkan di negeri sendiri,” jelasnya.
Hal ini menyebabkan kaum Muslimin tidak memiliki daya tawar. Tidak bisa menentukan arah kebijakan. Dan keadaan inilah yang terus membuat kaum Muslimin terperosok. Padahal, sambungnya, kaum Muslimin menyembah, Allah yang memiliki nama al-Ghani, yang artinya Dzat Yang Maha Kaya. Oleh karena itu, gugah Ketua Umum Hidayatullah periode 2000-2005 ini, pemuda harus ambil peran. Sebab, pemudalah yang sejatinya paling memungkin untuk melakukan itu semua. Mengingat, betapa luar biasanya potensi yang melikat pada sosok pemuda. Mulai dari tenaga, idealisme, dan semangat dalam berjuang.
“Dalam sejarah Islam, para pemudalah saudagar kaya itu. Seperti Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan,” terangnya.
“Untuk itu,” imbau anggota Dewan Pertimbangan Pimpinan Umum (DPPU) ini, “para pemuda, jadilah enterprenuer muda Muslim yang taat. Yang dengan hartanya, ia akan berjuang membela agama Allah. Dan itulah perniagaan yang paling menguntungkan,” tutupnya.
BANJARBARU (Hidayatullah.or.id) — Mudahnya manusia terserang oleh penyakit, baik fisik maupun hati sejatinya semakin menunjukkan bahwa dunia bukanlah tujuan yang patut diperjuangkan.
“Pada masa seperti sekarang, dunia semakin membuka jati dirinya. Betapa dunia rentan dengan wabah penyakit. Jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi secara serampangan juga menjadi sebab datangnya beragam penyakit. Belum lagi kalau bicara status halal dan haramnya. Artinya, apalagi yang dikejar di dunia ini kalau sekedar kesenangan. Semua akan berakhir buruk. Maka lebih baik kalau punya harta perbanyak infak, sedekah, bayar zakat, itulah penyelamat kita dunia dan akhirat,” jelas Imam Nawawi.
Ketua Pemuda Hidayatullah itu mengatakan hal tersebut saat menjadi nara sumber dalam seminar bertema “Melejitkan Visi Hidup dengan Penguatan Mindset Surga Menuju Indonesia Maju Bermartabat” di Masjid Al-Aqsho, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (14/3).
Penulis buku Mindset Surga itu mendorong kaum muda Indonesia benar-benar hidup sesuai dengan filosofi struktur tubuh manusia itu sendiri.
“Allah menciptakan diri kita ini untuk ibadah dan menjadi khalifah (pemimpin dalam kehidupan) maka hendaklah memfungsikan diri sebaik mungkin. Seperti yang terlihat pada tubuh kita, kepala di atas, indera penglihatan dan pendengaran, serta lisan ada pada kepala. Maka perbanyaklah berpikir, mendengar, melihat dan berbicara yang baik. Bukankah kalau dicek ayat-ayat Alquran sebagian mendorong kita untuk mendengar, melhat, dan berbicara yang baik,” ulasnya
Dalam kegiatan yang dimoderatori oleh Mursalin Ukasya itu hadir sebagai peserta beragam unsur pegiat organisasi kepemudaaan di Banjarbaru, kaum ibu dari majelis taklim, ibu-ibu binaan Muslimat Hidayatullah, dan segenap Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Pada akhir uraiannya, Imam berpesan bahwa generasi muda bangsa harus berpikir surgawi.
“Kalau mindset kita sudah surga, kita tidak akan lagi mau berbohong, menipu, malas, dan beragam sifat negatif lainnya. Sebaliknya kita akan menjadi pribadi yang mudah memaafkan, suka pada kebaikan, dan mengajak orang lain pada keindahan ajaran Islam,” tutupnya.
SECARA umum, akal bagi manusia adalah simbol kesempurnaan sebagai makhluk ciptaan Allah SWT Dibanding ciptaan lainnya, hanya manusia yang diberi akal dan potensi nalar. Manusia juga dikaruniai hati dan sejumlah indera yang membedakan dengan makhluk lain. Hati manusia lalu diberi dua kecenderungan oleh Sang Pencipta, antara menyukai kebaikan (taqwa) dan keburukan (fujur).
Realitasnya, selalu ada pengecualian dalam menjalani kehidupan di dunia. Apa yang diharap menjadi sesuatu yang indah terkadang justru berujung kepada nestapa berkepanjangan. Akal dan indera sebagai lambang keistimewaan bisa berubah wujud menjadi sebab dirinya tersungkur nista.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (nereka).” (At-tin {95):5).
Ayat di atas memberi satu persepsi berbeda tentang akal dan karunia yang dinikmati manusia selama ini. Bahwa semua pemberian yang diterimanya tak sebatas dinikmati sepuasnya begitu saja. Perlu diingat, itu semua bisa berakibat fatal dan menyengsarakan. jika salah menggunakannya.
Apa yang dibanggakan sebelumnya malah ujungnya mencelakakan. Dulunya istimewa kini malah tenggelam dalam duka penyesalan yang tak berujung.
Andai itu terjadi, sungguh malang nasib manusia tersebut. Boleh jadi di dunia kemana-mana dipuji dan disanjung lautan manusia. Akun medsosnya setiap waktu dibanjiri ratusan like hingga ribuan follower. Namun semua itu tak sanggup mendekatkan pemiliknya kepada Sang Pemberi nikmat. Akibatnya, ia hanya bisa menyesal sejadi-jadinya. Sekiranya ia tidak begitu dan seandainya ia memanfaatkan dengan baik setiap nikmat tersebut.
Menurut ahli tafsir, Abdurrahman as-Sa’di, ayat di atas menceritakan sesal manusia yang dalam hidupnya begitu dekat dengan kebaikan dan petunjuk hidayah. Namun sayangnya, ia tak kunjung mengikuti dan melakukannya.
Orang itu bahkan berani mengingkari kebenaran Alqur’an yang diajarkan. Mereka diberi akal tapi tidak dipakai untuk mempelajari ayat-ayat Allah SWT. Punya telinga, mata, dan indera lainnya, tapi tidak dipakai untuk menyimak dan menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah.
Berbeda dengan orang beriman yang senantiasa memanfaatkan potensi akalnya untuk merawat sekaligus meningkatan keimanan kepada Allah SWT . Keyakinannya yang kuat kepada Hari Akhirat dan kesungguhannya beribadah kepada-Nya adalah buah dari nikmat yang difungsimaksimalkan dengan balk.
Orang beriman sadar, yang disoal kelak di Yaumulhisab adalah tentang imannya. Tentang ibadahnya yang ikhlas dan manfaat yang dibagi kepada sesama. Tentang segala nikmat yang selama ini telah dirasakannya.
Nikmati tapi Batasi
Menurut Ibnu Katsir, di antara penyebab manusia enggan mengikuti kebenaran yang sesungguhnya diketahuinya adalah telanjur tertipu dengan kehidupan dunia. Dunia dijadikan sebagai tujuan akhir, bukan lagi sebagai perantara mengumpulkan bekal ke negeri Akhirat. Menuruti semua yang disukai hawa nafsu, tanpa peduli dengan aturan yang menyertai pemberian nikmat tersebut.
Sejatinya, inilah hakikat ujian kehidupan manusia di dunia. Sejak awal, manusia diganjar predikat istimewa dengan berbagai potensi kelebihan. Mereka berhak menikmati dan menggali potensi tersehut semaksimal mungkin. Namun di jeda yang sama, mereka juga dituntut untuk tetap menjaga batas-batas yang digariskan dalam norma agama.
Manusia diingatkan bahwa hidup ini bukan sekadar persoalan menikmatinya sesuka hati. Tapi bagaimana cara menikmati atau menjalani kehidupan tersebut. Nabi Muhammad SAW menerangkan dalam sabdanya:
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat, sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya. tentang hartanya darimana diperolehnya dan kemana dibelanjakannya, serta tubuhnya untuk apa digunakannya.” (Riwayat at-Tirmidzi).
Diterangkan oleh asy-Syinqithi, penulis Tafsir Adhwa al-Bayan, inilah yang dimaksud al-Qur’ an ketika menggelari sebagian manusia dengan sebutan buta, tuli, atau tidak berakal.
Mereka djanggap buta bukan karena matanya tidak bisa melihat. Disebut tuli bukan karena tidak punya telinga atau telinganya tidak mampu mendengar. Sebagaimana ada orang yang dikatakan tidak berakal padahal boleh jadi kecerdasannya di atas rata-rata.
Namun karena semua nikmat indera tersebut tidak dimanfaatkan untuk kebaikan dan ibadah di jalan Allah Padahal hakikat dari hidup manusia adalah untuk mengabdi kepada Sang Pencipta. Bukan sekadar berleha-leha menikmatinya tanpa tahu hendak kemana dirinya dalam perjalanan hidup tersebut. Akibatnya, semua nikmat tersebut akan berpaling darinya. Demikian itu di Akhirat nanti, akan hadir bukan sebagai penolong tapi malah sebab yang memberatkan siksa.
Tergelincir
Tergelincir karena kerikil kecil, itulah unik sekaligus bodohnya manusia. Mereka acapkali tersandung bukan gara-gara batu besar yang menghadang, tapi karena batu kecil yang sebetulnya begitu mudah diinjak dan disepaknya.
Ibarat rayap, binatang mungil yang menggerogoti gedung rumah atau bangunan mewah. Seperti itulah manusia, seringkali celaka karena perkara kecil yang dianggap remeh.
Kelak yang mereka sesali adalah anugerah telinga yang mungkin selama ini dianggap dosanya biasa saja. Sebagaimana akal mereka yang dahulu digunakan semau pikirannya saja. Seolah semua nikmat itu hadir begitu saja tanpa ada pertanggungjawaban dan tidak ada hubungannya dengan keimanan.
Celakanya, ada sebagian manusia yang merasa apa yang diperolehnya adalah hasil dari kepintaran dan kehebatannya sebagai manusia. Ia lupa kalau itu semua adalah perantara untuk menghamba kepada Allah SWT dan berbagi manfaat di lingkungan sekitarnya.
Menjadi pemenang bukan semata butuh bakat
dan kemauan, tapi juga superioritas mental. Bagi kader Pemuda Hidayatullah
superioritas mental itu tidak lain adalah dalam hal dakwah.
Kala kita cermati secara mendalam,
sebenarnya yang kurang saat ini adalah superioritas dakwah itu sendiri. Umat
Islam bisa dikatakan cukup meningkat dalam dunia pendidikan dan ekonomi, tetapi
tidak dengan dakwah.
Dalam bahasa Gus Hamid pada bukunya Minhaj,
masih ada tiga hal penting yang terjadi pada diri umat Islam saat ini. Pertama,
umat Islam belum menghadirkan Islam secara utuh, sehingga kata Syaikh Muhammad
Abduh, “Aku melihat Islam – di Paris – tapi aku tidak melihat Muslim, dan
aku melihat Muslim di Arab tapi tidak melihat Islam.”
Kedua, umat Islam belum benar-benar kembali
dan hidup sesuai dengan ajaran Islam, malah cenderung meninggalkan ajaran yang
mulia ini.
Amir Syakib Arsalan pun seperti dikutip Gus
Hamid menyimpulkan bahwa umat Islam mundur karena meninggalkan Islam. Sedangkan
bangsa Eropa Barat “maju” karena mereka meninggalkan agama mereka,
yaitu agama Nasrani atau Kristen.
Ketiga, umat Islam memang benar-benar baru
ber-Islam dan karena itu belum beriman, sehingga tingkat ketundukan terhadap
syariat juga rendah. Ritual menjalankan rukun Islam mungkin bagus, rajin umroh,
semangat haji, zakat, sedekah, bahkan sholat namun belum didasari iman.
Fakta ini menunjukkan bahwa ruang dakwah
masih sangat luas dan belum tersentuh secara profesional, modern, serta sistematis.
Kalau mau bertanya, siapa yang
tanggungjawab agar umat ini menghadirkan Islam dalam keseharian? Siapa yang bertanggungjawab
agar umat Islam mengokohkan nilai-nilai ajarannya sendiri?
Sementara pada saat yang sama berdakwah
adalah pilihan yang berat. Selain karena medannya yang luas juga sulitnya
mengukur efektivitas dakwah secara manajerial layaknya gerakan profesi. Di
sinilah jiwa-jiwa besar, kepemimpinan, dan optimisme masa depan menjadi sebuah
pertaruhan.
Maka superioritas mental dalam dakwah
menjadi kunci yang harus dimiliki. Ini seperti yang dilakukan Ustadz Abdullah
Said kala membangun gerakan dakwah melalui Pesantren Hidayatullah.
Beliau hadir untuk menampilkan Islam
sebagai ajaran yang indah dan solutif terhadap masalah apapun. Dan, karena itu,
superioritas mental menjadi hal pertama dan utama beliau teguhkan sebelum
melakukan ekspansi dakwah.
Beliau yakin bahwa melalui wadah pesantren
gerakan dakwah, menyeru dan mengajak serta menampilkan indahnya Islam dapat
dilakukan. Memang tak bisa secepat sebuah lembaga pendidikan yang dalam satu
dekade kelihatan gedung, jumlah murid serta besar pendapatan. Tetapi, harus
kita akui, dari pesantren itu dakwah melenggang ke seluruh Tanah Air.
Dan, berbicara superioritas dakwah itu
kembali pada syahadat dan kesungguhan diri merasakan manisnya iman dengan
terjun langsung ke arena dakwah.
“Mencari pengalaman melalui
keterlibatan langsunglah satu-satunya cara paling efektif untuk merasakan
sendiri khalawatul iman (manisnya iman), kenikmatan beriman.” (Buku Kuliah
Syahadat halaman: 144).
Jadi, kader Pemuda Hidayatullah harus turun
dalam tugas-tugas dakwah, kuatkan sayap yang kata Adi Sasono belum sekuat sayap
tarbiyah Hidayatullah selama ini. Tandang dan hadirkan betapa indah ajaran
Islam, sehingga umat yakin dan percaya diri (superior) dengan ajaran Islam.
Jika hal ini dilakukan dari sekarang maka
Insya Allah kelak tidak akan ada lagi orang Islam yang rajin ibadah, tapi masih
ragu dengan kebenaran, keindahan, dan kedahsyatan dari memperoleh rezeki yang
halal.
Hal ini nampak sederhana, tapi jangan salah,
korupsi itu merajalela dan sulit diatasi, karena masih besarnya inferioritas
umat terhadap ajaran yang diyakini sejak lahir.
TANGGERANG (Hidayatullah.or.id) — Tragis benar nasib Imigran Palestina bernama MAJEED W.S, IDRISS DALAL (41 tahun), setelah terusir dari tanah kelahirannya di Palestina karena konflik dengan Israel, dalam perjalanan mencari kehidupan yang lebih baik, ia harus berhadapan dengan hukum Indonesia. Majeed didakwa melanggar Pasal 119 ayat (2) Undang-undang RI Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, karena terbukti menggunakan paspor palsu saat memasuki wilayah Indonesia. Pada Persidangan hari kamis (12/03/2020).
Majeed divonis bersalah dengan dijatuhi hukuman 8 bulan penjara dan denda 100 juta rupiah subsidair satu bulan penjara. Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa dari Kejaksaan Negeri Kota Tangerang yang menuntut selama 10 bulan dan denda 100 juta subsidair 3 bulan penjara.
Tim Penasehat Hukum gabungan dari LBH Hidayatullah dan LBH Paham sejumlah 7 orang, antara lain; Dr. Dudung Amadung Abdullah, SH, Amar Ihsan Rangkuti, SH, Helmy Al-Djufri, SH, MSi, Hidayatullah, SH.MAg, Fahrul Ramadan, SH, Agus Gunawan, SH dan Andri Sukatma, SH. Tim Hukum sudah melakukan pembelaan dengan dalih bahwa apa yang dilakukan oleh Majeed berada dalam kondisi darurat, mengingat Majeed adalah warga korban konflik.
Namun hal tersebut dikesampingkan oleh Majlis Hakim yang terdiri dari. Arif Budi Cahyono, SH, Mahmuriadin. SH dan Serlywati, SH, MH. Majlis Hakim dalam pertimbangannya menilai bahwa Majeed sudah hidup tenang di Turki sebagai tempat pengungsian yang aman.
Kisah Tragis Majeed hingga harus mendekam di Lapas Pemuda Tangerang, berawal dari kisah pilu warga Palestina yang terusir dari tanah kelahirannya oleh tentara Israel. Keluarga Majeed kemudian mengungsi ke Syiria. Tanah Syiria yang diharapkan bisa menjadi tanah pengungsian yang tenang, justru menjadi daerah konflik. Tahun 2015, Majeed beserta Istri dan Anaknya mengungsi kembali ke Turki. Disana ia mendapat izin tinggal sementara sampai 16 April 2020.
Bulan Oktober 2019 Majeed berniat mencari Suaka dan Penghidupan lebih baik, atas saran kawannya di Turki, Majeed diarahkan untuk berangkat ke Belanda melalui jalur Indonesia. Belanda menjadi pilihan, karena menurut informasi yang didapatnya, negara ini sangat ramah terhadap pengungsi.
Namun karena Belanda tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Palestina, Majeed dibuatkan paspor dari Negara Cekoslovakia. Inilah petaka yang dialami Majeed terjadi, karena saat memasuki Indonesia di Bandara Soekarno Hatta, Petugas Imigrasi mencurigai paspor yang digunakan oleh Majeed sebagai paspor palsu, hingga dilakukan pemeriksaan dan penangkapan.
Menanggapi Vonis yang dijatuhkan Majlis Hakim PN Tangerang terhadap kliennya, Dr. Dudung Amadung Abdullah, SH, selaku pengacara Majeed menyayangkan vonis tersebut, karena seharusnya ada sisi kemanusiaan yang harus diperhatikan oleh Majlis Hakim terhadap Majeed sebagai korban konflik internasional yang harusnya difasilitasi menuju tujuan akhir atau setidaknya dideportasi sebagaimana Pasal 13 UU No.6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.
”Namun demikian, kami tetap menghormati putusan Majelis Hakim terhadap klien kami. Kami juga menytakan pikir-pikir untuk tujuh hari ke depan, apakah banding atau tidak”, pungkas Dudung. (LBHH)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr H Nashirul Haq, MA, membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) dan sekaligus memberikan sambutan dalam acara tersebut di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Kamis (12/3/2020).
Dalam sambutanya beliau berpesan di depan peserta Rakernas dai ini mengenai pentingnya peran menjaga ukhuwah (persaudaraan), membangun sinergi agar dakwah semakin bergairah serta menghindari hal hal yang berpotensi memecah belah persatuan.
Dalam arahanya, beliau menjelaskan bahwa setiap lembaga dibutuhkan adanya kerja sama untuk mencapai visi misi dengan mainstream gerakan dakwah dan tarbiyah.
“Diperlukan kesinambungan sinergi antara lembaga, sehingga ego sektoral harus dihilangkan. Jika ego sektoral dapat dihilangkan, sejatinya tujuan dapat dengan mudah dicapai,” imbuhnya.
Tidak saja sebatas dai atau muballigh yang biasa terjun langsung membina umat, ia menekankan peran dai sejatinya juga melekat dalam pribadi para pendidik atau guru di lingkungan pendidikan yang integral. Karena itu, dia mengingatkan, figur dai pendidik mesti selalu menjalin silaturahmi dengan orangtua murid, sehingga silaturahmi dapat selalu berjalan dengan baik dan tidak hanya sebatas antara guru dan murid saja.
“Para orang tua murid sudah memberikan kepercayaan kepada kita, alangkah baiknya jika kepercayaan itu terus dilanjutkan salah satunya mengajak mereka bersama sama hadir dalam majelis-majelis ilmu,” terangnya.
Nashirul juga menjelaskan pentingnya menanamkan karakter Sistematika Wahyu (SW) di dalam diri para dai, karena SW merupakan metode dakwah Rasulullah SAW yang diterapkan lembaga Hidayatullah dalam menjalankan misi pembinaan dakwah kepada masyarakat.
“Penting untuk menanamkan karakter SW dalam diri seorang dai. Jika karakter ini tidak tertanam, tentunya akan sulit,” katanya.
Lembaga yang membidangi pemajuan dakwah dan pengembangan sumber daya penyuluh agama, Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I tahun 2020, bertempat di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah di Jakarta dibuka pada Kamis, (12/3/2020).
Rapat kerja nasional dai ini akan berlangsung mulai 12-14 Maret 2020. Adapun tema yang di angkat ialah “Standarisasi Gerakan Dakwah, Bersama Dai Membangun Negeri”.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga yang membidangi pemajuan dakwah dan pengembangan penyuluh agama, Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I tahun 2020, bertempat di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah di Jakarta dibuka pada Kamis, (12/3/2020).
Rencananya kegiatan Rakernas ini akan berlangsung mulai 12-14 Maret 2020. Adapun tema yang di angkat ialah “Standarisasi Gerakan Dakwah, Bersama Dai Membangun Negeri”.
Direktur Posdai Ust Ahmad Suhail menjelaskan tema Rakernas kali ini yang mengangkat tema standarisasi. Hal ini, kata dia, selaras dengan jejaring Posdai yang telah hadir berkhidmat di semua provinsi di Indonesia.
Maka dari itu, jelasnya, diperlukan adanya standarisasi. Sehingga dalam penilaian kinerja mengabdi untuk umat, dapat dilakukan pengukuran yang selanjutnya menjadi bekal evaluasi penting guna meningkatkan pelayanan keumatan.
“Standarisasi dibutuhkan, sehingga proses eveluasi dapat dengan mudah dilakukan. Sehingga kita semua dapat melihat sejauh mana proses pelayanan umat telah dilakukan oleh dai-dai kita,” jelas Ahmad Suhail.
Ia mengatakan bahwa peserta Rakernas merupakan perwakilan yang berasal dari seluruh provinsi di Indonesia. Nantinya dalam Rakernas kali ini selain menentukan standarisasi gerakan dakwah, juga dilakuan restrukturisasi sebagai bentuk proses perjuangan dakwah tidak berhenti pada satu generasi saja.
“Nantinya, selain pemetaan standarisasi juga akan ada penguatan kepengurusan dengan reformulasi gerakan dakwah yang sesuai dengan perkembangan zaman,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Departemen Dakwah dan Penyiaran DPP Hidayatullah Ust Shohibul Anwar dalam sambutanya mengatakan pentingnya peran dai untuk menyeimbangkan gerakan pengembangan dakwah dan juga pengembangan tarbiyah. Hal itu karena dakwah dan tarbiyah menjadi dua hal yang tidak terpisahkan.
“Gerakan mainstream kita ialah tarbiyah dan dakwah. Tentunya alangkah baiknya gerakan ini di seimbangankan. Sehingga baik pendidikan dan juga dakwah tidak mengalami pincang sebelah,” jelas Shohibul Anwar.
Menurut Shohibul Anwar, standarisasi diperlukan agar terbentuknya sistem yang baik. Menurutnya, Posdai bisa mencontoh sistem jaringan pendidikan yang terintegrasi sehingga pengontrolan dan juga penilaian dapat dilakukan secara efektif efisien.
“Dibutuhkanya standarisasi dakwah, sehingga proses kontrol dapat terlaksana dengan baik,” tukasnya.
Selain penyeragaman standar dan pemahaman materi seperti rambu-rambu dakwah serta materi Islam dan kebangsaan, menurut Shohibul Anwar, penguatan sistem pengelolaan dakwah juga merupakan hal penting yang harus diperhatikan.*/Amanji Kefron
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kegiatan diskusi rutin Majelis Reboan yang diadakan Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah bertempat di lantai 2 Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, pada Rabu (11/03/2020) membahas tema “Mengantisipasi Krisis Ekonomi dengan Memperkuat Basis Ekonomi Umat”. Tema ini diangkat karena majelis reboan Hidayatullah melihat banyak masyarakat kita tidak bisa memanfaatkan momentum Ramadan yang sebentar lagi tiba.
Kabid Perekonomian DPP Hidayatullah, Asih Subagyo mengatakan kekhawatiran jika umat Islam belum mampu bertahan dari banyaknya permasalahan-permasalahan yang sedang ramai diperbincangkan dunia. Bahkan, ancaman krisis itu nyata. Menurut Asih, seharusnya umat islam mempunyai sebuah cara untuk bertahan dari permasalah-permasalahan yang mau tidak mau bersinggungan langsung dengan ekonomi, dan berulang itu.
“Kita harus menemukan sebuah solusi bagaimana Umat ini untuk bertahan, bahkan unggul, menghadapi banyaknya kejadian-kejadian yang di alami seluruh negara di dunia : dampak dari wabah virus corona, perang dagang USA dan China yang belum berakhir, perang harga minyak antara Rusia dan Arab Saudi yang turun hingga 30%, rontoknya berbagai saham, melemahnya mata uang diberbagai belahan dunia, dan lain sebagainya” jelas Asih.
Asih menjelaskan salah satu cara bertahan dari berbagai krisis tersebut, yang paling sederhana ialah dengan pemanfaatan lahan yang dimiliki umat. Hal ini karena lahan merupakan salah satu faktor yang mendukung bergeraknya sebuah ekonomi.
“Sekarang kita harus memanfaatkan lahan dengan sebaik-baiknya, minimal untuk menjaga ketahanan Pangan, agar tidak tergantung dari pihak manapun.” Terang Asih.
Dani Darwis anggota Perkumpulan Tani Kurma Sejahtera mengatakan bahwa Hidayatullah merupakan harapan yang besar, dengan anggota serta jamaah tentunya Hidayatullah dapat menjadi penyuplai komoditas untuk kebutuhan rakyat Indonesia.
“Diharapkan Hidayatullah dapat menjadi penyuplai utama kebutuhan rakyat Indonesia, dengan kekuatan jama’ah yang dimiliki. Terlebih lagi umat Islam akan menyambut Ramadan, yang biasanya harga-,harga kebutuhan naik” Jelas Darwis.
Darwis juga menyatakan akan mengajak berbagai komponen pelaku usaha untuk menjadi penyuplai utama komoditas di perdagangan umat Islam yang digagas Hidayatullah.
“Tentunya Kita akan menjadi penyuplai utama serta kita juga akan suport habis habisan visi besar Hidayatullah ini” terang Darwis.
Andi Kosala, di akhir acara menyampaikan bahwa ,”Umat harus mandiri di sektor Ekonomi. Meski membangun kekuatan dengan berjamaah. Jangan tergantung kepada negara. Sebab saat ini negara sedang sibuk mengurusi dirinya sendiri dengan berbagai persoalan yang melilitnya,” terang pemilik salah satu Radio di Bekasi itu. Yang diamini oleh peserta diskusi.*Amanji Kefron