Beranda blog Halaman 487

Memaknai Berbagai Bentuk Ujian dari Allah

0

Cara seorang Muslim menyikapi ujian dari Allah. Nonton video tausiyah singkat dari Ustadz Nashirul Haq (UNH), Ketua Umum DPP Hidayatullah.

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”ee0_GDZVuYw?rel=0&autoplay=1″][/youtube]

Antusias Santri Pembekalan Materi Wasbang di Parepare

PAREPARE (Hidayatullah.or.id) — Danramil 1405/Mlts – 03 Bacukiki Kapten Inf Basri didampingi oleh Babinsa Kelurahan Bumi Harapan Serka Suyuti memberikan pembekalan dan pengarahan tentang wawasan kebangsaan (wasbang) kepada anak santri Pondok Pesantren Hidayatullah di Kelurahan Bumi Harapan, Kecamatan Bacukiki Barat, Kota Parepare, beberapa waktu lalu.

Acara ini merupakan bagian daru agenda rutin Danramil 1405/Mlts – 03 Bacukiki dalam rangka menggelar komunikasi sosial (komsos) kepada berbagai elemen masyarakat.

Dimana kegiatan yang digelar di masjid Pondok Pesantren Hidayatullah Parepare tersebut disambut dan diterima langsung oleh Ust Syafruddin selaku kepala ponpes. Kegiatan ini pun disambut penuh antusias oleh para santri /santriwati apalagi atas kehadiran langsung Danramil bersama Babinsa Bumi Harapan.

Terlihat Danramil Dan Babinsa Bumi Harapan bercengkerama dengan para santri serta memberikan penerangan dan pemahaman tentang Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Keduanya juga memberikan pengarahan mengaji bersama.

Selain itu juga ia memberi himbauan dan pesan-pesan untuk selalau menjaga kondusifitas. “Keamanan menjadi tanggung jawab bersama bukan hanya tanggung jawab TNI, apalagi saat ini banyak tebaran berita-berita hoax serta provokasi,” kata Danramil.

Jadi, dia mengimbau, mari kita selalu mengutamakan kepentingan bersama dalam menjaga persatuan dan kesatuan agar masyarakat merasa aman dan sejahtera. Diharapkan dengan kegiatan ini dapat memberikan semangat dan rasa nyaman kepada para santri dalam menuntut ilmu pesantren.

“Tujuan daripada kegiatan ini untuk menjalin tali silaturahmi dengan tokoh agama maupun para santri yang ada di pondok pesantren dan memberikan semangat para santri menuntut ilmu serta sinergitas TNI untuk para santri dalam mewujudkan situasi Kamtibmas yang kondusif,” pungkas Danramil 1405/Mlts – 03 Bacukiki Kapten Inf Basri.*/Diwank/prc

Masyarakat di Wamena Papua Harap Krisis Segera Berlalu

WAMENA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) Wilayah Papua bekerja bersama dengan Yayasan Ponpes Hidayatullah Sentani menyalurkan donasi para dermawan untuk kepada pengungsi kerusuhan Wamena yang berada di penampungan sementara Markas Rindam XVII/ Cendrawasih Papua.

Disela penyaluran bantuan, masyarakat di Wamena yang terdampah kerusuhan ini menyampaikan harapanya agar krisis yang melanda wilayahnya ini segera berlalu dan diatasi secara konfrehensif.

Ketua Posdai Papua, Ustadz Mus Mulyadi, M.Pd bersama sejumlah relawan dari Pondok Pesantren Hidayatullah Sentani yang mendengarkan kesah dari masyarakat tersebut, menyampaikan kondisi di sana hingga hari ini masih belum kondusif.

“Kondisi Wamena saat ini belum kondusif dan belum ada jaminan keamanan kecuali di tempat pengungsi yang sekaligus markas TNI dan Polri,” kata Mus Mulyadi.

Mus menyebutkan bahwa data yang peroleh pihaknya ada sebanyak 150 orang yang masih bertahan di lokasi penampuan sementara ini.

“Semenjak posko ini dibuka 3 hari sebelumnya, belum ada yang kembali ke kampung halaman dikarenakan masih berkoordinasi ataupun menunggu bantuan untuk transportasi ke daerahnya masing-masing,” kata Mus Mulyadi.

Dia menambahkan, dari hasil komunikasi dengan petugas posko masih cukup banyak daftar kebutuhan para pengungsi yang belum ada.

“Dengan daftar kebutuhan itu kami menuju kota Sentani yang berjarak lima kilo meter dari posko untuk membeli kebutuhan yang ada di daftar itu,” ujarnya.

Di Sentani, mereka membeli pembalut bayi, susu bayi, roti bayi, bubur bayi, dot bayi, kelambu bayi, handuk, tisu basah, tisu kering, lotion anti nyamuk, fresh care, air mineral dan tikar, untuk selanjutnya diserahkan kepada korban.

Seorang ibu yang menerima langsung kelambu bayi sangat berterimakasih atas bantuan yang diserahkan karena anaknya dapat terbebas dari gigitan nyamuk malaria yang di malam hari cukup banyak.

Harapannya, berdasarkan obrolan media ini dengan Mahfudz (orangtua santri Ponpes Hidayatullah Sentani yang tinggal di Wamena), diketahui umumnya masyarakat terdampak kerusuhan minta dievakuasi sampai keadaan dan bantuan pembangunan rumah dan tempat usaha bisa diwujudkan.*/Haeranzi

Siaran Pers DPP Hidayatullah Soal Krisis Papua

0

Siaran Pers DPP Hidayatullah tentang Kekerasan di Papua

Tanggal: 1 Oktober 2019

Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah, washalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du

Sehubungan terjadinya tindak kekerasan dan kerusuhan di tanah Papua akhir-akhir ini, maka Hidayatullah menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. Meminta aparat keamanan segera melakukan upaya pengamanan secara cepat dan sungguh-sungguh agar kondisi Papua kembali kondusif.
  2. Meminta pemerintah menjamin tegaknya keadilan di Papua untuk semua bidang dan semua masyarakat.
  3. Meminta pemerintah segera melakukan pencegahan atas upaya yang menjurus ke arah pemisahan Papua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hidayatullah sendiri, sejak tahun 1990, telah berupaya membangun Papua dengan mendirikan sejumlah pesantren, yakni 9 di Papua Barat dan 11 di Papua, termasuk Jayapura. Alhamdulillah, Allah Ta’ala memberi kesempatan kepada pesantren-pesantren Hidayatullah untuk tetap berkiprah hingga saat ini, dan mudah-mudahan terus berkiprah di masa depan.

Demikian informasi ini kami sampaikan agar bisa dipahami semua pihak.

Wassalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Dr Nashirul Haq
Ketua Umum

Kerja Ilmu dan Refleksi Qur’ani Bagi Pegiat Dakwah Masa Kini

0

TERIK Kota Makkah seperti biasa, panas membakar siang itu. Debu-debu kian beterbangan di padang sahara. Tampak sesosok Umayyah bin Khalaf tak bisa menahan murka.

Tokoh elit masyarakat kota Makkah itu belum habis pikir. Tidak disangka keanehan yang dikhawatirkan terjadi tepat di depan matanya. Bagaimana mungkin budak berbungkus kulit legam tiba-tiba menolak titahnya, selaku majikan.

Bilal bin Rabah, sang sahaya bahkan berani membangkang. Tak sedikitpun ada rasa khawatir atau rona cemas di wajahnya. Justru yang tampak ketenangan jiwa sekaligus ketegasan pendiriannya.

Omelan, ancaman, cambukan, hingga hukuman berat segera dijatuhkan oleh Umayyah. Namun Bilal tetap bergeming. Ibarat batu karang di lautan. Tidak peduli apa yang bertubi-tubi menggulungnya. Tak urus dengan ombak besar yang menghantamnya.

Badai sekalipun hanya bisa menerjang berulang-ulang. Dengan senyum menahan siksa, Bilal cuma mengulang-ulang kata “ahad”, sebagai respon imannya yang telah bekerja.

Hebatnya, Bilal ternyata tidak sendiri. Sahabat-sahabat Nabi Shallallahu alaih wasallam (Saw) yang kadung menerima wahyu juga demikian. Semuanya bereaksi. Layaknya tetumbuhan, asalnya iman-iman itu masih sebatas tunas atau kecambah yang baru saja muncul.

Wahyu baru saja turun sesaat yang lalu. Namun rupanya iman tersebut langsung memberi kontribusi. Seketika ada furqan (garis pemisah) yang tampak pada dirinya. Mengambil peran serta berdampak pada sekitarnya.

Apa yang dialami oleh Bilal dan orang-orang beriman lainnya, tentu bukanlah satu kebetulan begitu saja. Setidaknya ada sesuatu yang bekerja pada jiwa-jiwa mereka. Seketika terjadi perubahan begitu drastis, tapi bukan asal bombastis.

Pengaruhnya signifikan tapi sungguh tidak muncul secara instan. Ketahuilah, yang terjadi sesungguhnya adalah aksi dan reaksi yang saling berkolaborasi. Antara ilmu, iman, dan amal yang tengah bersinergi.

Bagi orang beriman ilmu atau wahyu al-Qur’an mesti bersifat dinamis. Didorong oleh iman, ilmu tersebut niscaya mendorong untuk semakin giat beramal sekaligus menjadi tameng yang melindungi pemiliknya dari serbuan syubhat dan syahwat di sekelilingnya.

Sejatinya, al-Qur’an bukanlah sekadar bacaan di momen perayaan hari besar Islam. Sebagaimana ilmu juga bukan pajangan di atas selembar kertas ijazah atau sertifikat yang dibanggakan begitu saja.

Ilmu yang bekerja berarti selaku motor penggerak yang siap memandu aktifitas kehidupan setiap Mukmin. The way of life, kata generasi zaman now menggambarkan interaksi manusia dengan al-Qur’an.

The walking Qur’an, kata sebagian lainnya. Yakni nilai-nilai al-Qur’an yang seantiasa sepadu sejalan dengan setiap pola pikir dan pola langkah orang tersebut. Apa saja yang dikerjakan tak lepas dari ilmu dan iman yang mendasarinya.

Selanjutnya, bagaimana cara agar ilmu itu bisa bekerja? Pertama tentu saja ialah rajin berinteraksi dengan al-Qur’an, sebagai sumber ilmu yang paling pokok.

Berawal dari membaca dengan bacaan yang benar (tahsin tilawah) dan menerjemahkannya kata per kata (lafziyah). Diyakini, bacaan al-Qur’an yang baik adalah bagian dari upaya meraup berkah yang sempurna dari mukjizat abadi tersebut.

Selanjutnya orang itu mesti mempelajari serta mentadabburi mutiara hikmah al-Qur’an. Sebagai panduan, al-Qur’an tentu wajib dipahami dengan benar. Baik pesan tekstual dan sejarah yang melatari turunnya (asbab nuzul) ataupun konteksnya yang berlaku secara umum.

Selain itu, Mukmin yang telah terbiasa berinteraksi dengan al-Qur’an dengan sendirinya akan timbul kecintaannya untuk menghafalkan sedikit demi sedikit pesan-pesan suci tersebut.

Inilah sejatinya yang patut dievaluasi sejak dini. Apalagi bagi yang mengaku sebagai penuntut ilmu atau pegiat dakwah. Adakah diri-diri mereka itu telah melazimkan dirinya untuk berasyik khusyuk dengan bacaan dan tadabbur al-Qur’an?

Ataukah, selama ini justru disibukkan dengan berbagai macam urusan dan tak punya waktu untuk membuka lembaran-lembaran al-Qur’an.

Sebab, al-Qur’an bukan saja ilmu pokok dan sumber utama yang melahirkan sekian banyak khazanah ilmu pengetahuan selama ini. Namun lebih dari itu, dengan wasilah al-Qur’an, akan terjalin hubungan mesra antara seorang hamba dengan Penciptanya.

Berbeda dengan kebanyakan yang menganut paham sekular, ilmu dalam Islam adalah bagian dari upaya menegakkan agama atau kalimat tauhid dalam kehidupan manusia. Bukan ilmu sekadar ilmu (not science for science). Namun ilmu adalah refleksi daripada iman yang produktif dan iman itu bernilai dengan karya nyata yang bermanfaat.

Tak heran, Nabi senantiasa memotivasi umatnya untuk tandang ke gelanggang, menyelesaikan hajat hidup manusia. Tidak boleh terpaku apalagi berpangku tangan dalam alam penyataan atau idealitas saja. Tapi nihil dan kehilangan taji di alam realitas.

MASYKUR SUYUTHI

Hidayatullah NTT Lebarkan Sayap Dakwah ke Flores Timur

FLORES TIMUR (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka implementasi gerakan mainstream pada bidang dakwah dan tarbiyah, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali memperluas gerakannya yaitu pembentukan dan pelantikan DPD Hidayatullah Kabupaten Flores Timur, Ahad (29/9/2019).

Acara berlangsung di Aula MTs Al Kalam Desa Sagu, Kecamatan Adonara Tengah, Kabupaten Flores Timur. Dihadiri oleh Kepala Seksi Bimas Islam Kabupaten Flores Timur, Ketua DPW Hidayatullah NTT, Kepala Desa Sagu, Pewakaf Tanah, Tokoh Adat, Tokoh Agama, KUA Kecamatan Adonara Tengah, Pengurus Agupena Flores Timur serta puluhan masyarakat.

Ketua DPW Hidayatullah NTT Ust Usman Mamang, S.Sos.I dalam sambutannya beliau bertutur bahwa perlu adanya perluasan gerakan dakwah dan pendidikan (tarbiyah) pada setia daerah kabupaten.

Sehingga dengan hal tersebut, lanjut dia, akan berperan membangun generasi Islam pada era globalisasi yang kian sangat berpengaruh pada moral umat.

“Kita tahu arus globalisasi ini memberi dampak positif maupun negatif sehingga sangat memengaruhi akhlak setiap individu itu sendiri. Maka perlu adanya wadah dan gerakan yang menyentuh dimensi spiritual itu,” katanya.

“Dan, Hidayatullah hadir sebagai solusi membendung hal itu semua, maka perlunya suaka generasi atau melindungi generasi Islam di masa yg akan datang,” ungkap putra asal Flores Timur pada segenap hadirin.

Ketua DPD Hidayatullah Kabupaten Flores Timur Periode 2019-2020 yang ditunjuk, Ust Syaiful Kopong, dalam sambutan amanatnya menyampaikan amanah yang diembannya sangat berat. Karena itu dia menegaskan dukungan baik dari setiap elemen sangat membantu untuk berjalannya roda organisasi ini.

“Amanah yang kita ketahui sangat tidaklah ringan, maka saya mengharapkan dukungan dari setiap tokoh masyarakat, tokoh adat, pemerintah kabupaten, dan elemen masyarakat lain demi kelancaran dan kemudahan setiap proses yang kami lakukan” ujar Syaiful yang berasal dari Adonara itu.

Acara ini juga sekaligus penandatanganan akta ikrar wakaf tanah yang diberikan oleh pewakaf kepada Yayasan Amanah Pondok Pesantren Hidayatullah Flores Timur.

Sebelum penutupan sambutan, juga datang dari pihak Kementerian Agama Flores Timur Muhammad Hafid Syarif, S. Ag selaku Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kabupaten Flotim.

Hafid Syarif memberikan nasihat agar terus kita jaga persatuan agar kita kuat dan solid demi perjuangan mulia. Beliau menyatakan siap membackup Hidayatullah sepenuhnya.

“Maka dari itu untuk persoalan wakaf ini saya sangat siap membantu hingga terbit sertifikat di Badan Wakaf Indonesia Kabupaten Flores Timur,” kata Hafid Syarif yang juga menjabat sebagai sekertaris Badan Wakaf Kabupaten Flotim.

Diakhir kegiatan yang berlangsung khidmat ini, ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Kepala KUA Kecamatan Adonara Tengah Sudarmi Azmi Hail.*/Dhani El-Muchardy

Resep Keluarga Berkah di Nikah Mubarak Hidayatullah Sultra

KENDARI (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Tenggara (Sultra) kembali menggelar acara Walimatul Ursy Pernikahan Mubarokah bagi para dai mudanya di wilayah Sultra. Sejumlah 5 pasangan dai dinikahan pada Ahad pagi, (29/9/2019) kemarin.

Helatan ini dipusatkan di Kampus Madya Hidayatullah Putri Kendari, Jl. Orinunggu, Kel. Padaleu, Kec. Kambu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.

Ketua DPW Hidayatullah Sultra, Nasri Bohari, M.Pd dalam sambutannya menerangkan bahwa pernikahan berkah di Hidayatullah melalui proses yang sangat panjang dan seleksi yang ketat sehingga seluruh rangkaiannya dari awal hingga akhir benar-benar syar’i.

“Dengan demikian keberkahan dan kebahagian yang menjadi tujuannya bisa terwujud,” tegasnya.

Sementara itu tampil sebagai pembawa nasehat pernikahan Ir H. Abdul Majid, MA memberikan resep berkah dan awet muda bagi kelima pasang mempelai.

Resep itu, kata Majid, yakni berusaha mencari kecocokan dengan pasangan dan memperkuat pondasi keimanan sehingga apa pun masalah yang terjadi akan mudah di atasi.

“Ini pentingnya niat dan komitmen awal dalam membangun mahligai rumah tangga yakni bagaimana bisa masuk surga bersama-sama pasangan,” ujar Pembina Yayasan Al-Bayan Hidayatullah Makassar ini menguatkan.

Selain itu beliau juga mewanti-wanti jangan sampai yang dipikirkan oleh para pengantin baru hanya yang indah-indah saja, “Tetapi bersiaplah menghadapi segala suka dan duka dalam pernikahan.”

Beliau mendoakan semoga gairah dan kebahagiaan para pengantin baru juga dirasakan oleh semua pengantin lama, “khususnya yang hadir dalam acara walimah yang diadakan di Pesantren Putri kampus madya Hidayatullah Kendari ini.” tutup Ust. Abdul Majid penuh harap yang disambut senyum dan tawa dari para hadirin./*Noer Akbar

Depkes Hidayatullah Mantapkan Layanan untuk Semua

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Islamic Medical Service (IMS) yang didirikan pada tahun 2004 lalu memiliki fokus program pada program kesehatan dan kemanusiaan. IMS merupakan amal usaha Departemen Kesehatan DPP Hidayatullah.

Baru-baru ini, rapat koordinasi nasional dan pelatihan manajemen kesehatan diselenggarakan di Jakarta (26-28/09/2019). Dihadiri oleh 30 peserta dari seluruh Indonesia. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Depkes DPP Hidayatullah Drg Fathul Adhim MKm.

“Semangat yang diusung rakornas ini adalah berbenah dan memberanikan diri untuk menancapkan cita-cita menjadi lembaga kesehatan terbaik,” ujar Fathul Adhim dalam sambutannya.

“Saat ini Hidayatullah secara umum dan khususnya IMS harus mengorbitkan program kesehatan unggulan yang berbasis layanan sehingga semua kalangan masyarakat (dapat merasakan),” imbuh Fathul Adhim.

Acara pembukaan Rakornas dilaksanakan di Kantor DPP Hidayatullah, Jl Cipinang Cempedak 1 No 14, Polonia, Jakarta Timur.

Sementara itu, Imron Faizin di sela-sela acara mengatakan, “Rakornas ini dihadiri oleh 5 cabang IMS dan 13 perwakilan DPW Hidayatullah yang akan melakukan MoU pembukaan IMS cabang pada tahun 2020 di akhir kegiatan.”

Direktur IMS itu pun mengaku merasa optimis dengan program-program unggulan yang menjadi brand IMS yaitu program hapus tato, program khitan dan bekam serta program emergency.

Rakornas ini diawali dengan kunjungan kerja ke beberapa rumah sakit swasta yang permodalan dan pengelolaannya berbasis wakaf menjadi energi penggerak untuk terwujudnya Rumah Sakit Hidayatullah.

Pembangunan RS Hidayatullah berlokasi di Desa Sukadami, Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, yang saat ini masih dalam proses ground breaking.

Panitia pembangunan berharap keterlibatan berbagai pihak dengan target pengerjaan bangunan selama 90 hari dan bisa memberikan layanan klinik pada awal tahun 2020 mendatang.

Pada Rakornas Depkes DPP Hidayatullah kali ini dibuka oleh Ir Candra Kurnianto selaku Sekjend DPP Hidayatullah. Selain membuka acara, Candra juga turut memberikan sambutan dan semangat kepada peserta.* (IMS)

“Jangan Takut Industri 4.0”

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Pimpinan Umum Hidayatullah, Ustadz Abdurrahman Muhammad, berpesan kepada para pandu Hidayatullah yang tengah berkemah di Coban Rondo, Malang, Jawa Timur, “Jangan takut dengan industri 4.0.”

Ini diungkapkan Ust Abdurrahman Muhammad pada hari kedua Jambore Nasional Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Pandu Hidayatullah, 27 September 2019. Jambore ini berlangsung selama 4 hari, diikuti hampir 4 ribu pelajar sekolah-sekolah Hidayatullah perwakilan dari seluruh Indonesia.

Industri 4.0 yang konon bakal menggilas banyak peran manusia, kerap menimbulkan kegelisahan, terutama kaum muda. Mereka khawatir tak mampu lagi bersaing, bahkan tersisihkan oleh arus kemajuan teknologi informasi yang demikian pesat. Teknologi tak lagi menjadi solusi, malah menimbulkan masalah. Namun, bagi pemuda Islam, hal itu hendaklah disikapi dengan benar.

“Al ‘Alaq (surat ke 96 dalam al-Qur’an) harus mengantarkan pada keyakinan yang kuat bahwa yang akan memberi solusi dari semua permasalahan yang sulit hanyalah Allah,” kata Ust Abdurrahman Muhammad.

Jika iman sudah kuat, maka manusia tak akan dihinggapi lagi dengan ketakutan menjalani hidup. Pada saat itulah, kata Ust Abdurrahman Muhammad, Allah Ta’ala akan memberikan ilmu kepada manusia.

“Jadi bertakwalah kepada Allah. Jangan khawatir, nanti Allah akan kasih ilmu,” jelas Ust Abdurrahman Muhammad lagi.

Pada kesempatan terpisah, saat berceramah di Sekolah Pemimpin, Al Izzah, Malang, Jawa Timur, 27 September 2019, Ust Abdurrahmam Muhammad kembali mengingatkan para santri akan pentingnya ilmu.

“Tidak cukup menjadi orang baik saja, jika tak punya ilmu untuk mengatur kehidupan. Begitu juga sebaliknya, tidak cukup memiliki ilmu untuk mengatur kehidupan, jika tak punya sumber kebaikan, yakni iman.”*/Mahladi

Peserta Jamnas Pandu Luwu Timur Dibekali Filosofi Bugis

0

LUWU TIMUR (Hidayatullah.or.id) — Pelepasan santri MI, SMP, SMA Integral Darul Ilmi Hidayatullah Towuti, Kabupaten Luwu Timur, untuk mengikuti Jambore Nasional II Pandu Hidayatullah di Bumi Perkemahan Nasional Coban Rondo, Kota Malang, Jawa Timur, dipesan untuk selalu menjaga akhlaqul karimah, menjunjung tinggi adab Islam serta dibekali pesan filosofi Bugis: siri’na pace, sipakkatau dan sipakalabbi.

Para santri peserta Jambore Nasional ini langsung dilepas Ketua Yayasan sekaligus Ketua DPD Hidayatullah Luwu Timur Ust Najamuddin, beserta Komandan Pandu Hidayatullah Luwu Timur Ust Mukhsin. Hadir pula kepala sekolah MI, SMP dan SMA Integral Darul Ilmi beserta para dewan guru dan pengasuh dan wali murid.

Ketua yayasan, Najamuddin, dalam sambutan berpesan kepada semua santri dan pendamping agar menjaga niat dan tetap menjaga kultur Hidayatullah pun juga budaya siri’na pace, sipakkatau dan sipakalabbi.

Najamuddin menjelaskan, filosofi siri’na pace berkaitan dengan etos kerja. Ia mendorong santrinya yang mewakili Luwu Timur ini agar mengerahkan segala potensi secara maksimal tanpa terlalu memikirkan hasil. Yang penting, tegas dia, adalah semangat dan dedikasi terbaik.

Sementara filosofi sipakatau dan sipakalebbi, lanjut Najamuddin, memuat pesan agar dimana pun kita berada harus selalu menjaga adab dengan saling menghormati satu sama lain dan menghargai antar sesama.

Nilai-nilai dalam filosofi Bugis tersebut, terangnya, sebenarnya ditarik dari ajaran Islam sebagaimana diterangkan dalam ayat 125 Surah An Nahl tentang pentingnya kesabaran, keuletan dan kasih sayang.

“Dengan diikutkannya anak-anak sekalian dalam Jambore Nasional ini semoga menambah wawasan kepanduannya serta silaturrahim dengan santri Hidayatullah dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia,” ujarnya, Ahad (22/9/2019).

Diwaktu yang sama kepala sekolah SMP Integral Darul Ilmi Mukhsin, berpesan agar para peserta yang berangkat jangan sampai kalah sebelum bertanding karena minder melihat peserta dari Hidayatullah di luar Sulawesi Selatan.

Peserta yang diberangkatkan 35 orang peserta terbagi dari 3 kelompok yakni dari MI, SMP, dan SMA Integral Darul Ilmi beserta 5 orang pendamping.

Diketahui, acara pelepasan pada hari sabtu tanggal 21 September 2019 sore dan berangkat malam Ahad setelah shalat maghrib dengan menggunakan Bus Mega Mas.*/Andi Alfian Salassa