Beranda blog Halaman 491

Mahasiswa Ikuti Pembekalan Sebelum Pengabdian Dakwah

SURABAYA (Hidayatuyllah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah kembali menggelar pembekalan bagi kader dai yang akan ditugaskan pengabdian dakwah ke berbagai daerah se-Indonesia. Kegiatan yang diselenggarakan tiap tahun tersebut, kali ini bertempat di Aula Rahmat Rahman Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur, Rabu-Kamis (28-29/08/2019).

Di awal kegiatan, Kepala Ristek Dikti Hidayatullah Surabaya Abdul Kholiq memberikan sambutan. Ia menuturkan, tujuan diadakannya kegiatan pembekalan kader adalah untuk membentuk karakter dai yang siap berkiprah di tengah masyarakat.

“Kalian (mahasiswa) nanti akan menemukan banyak masalah ketika sudah terjun di tengah-tengah masyarakat. Nah, tujuan diadakan kegiatan ini adalah membekali kalian-kalian menjadi pribadi-pribadi yang kreatif dalam menghadapi masalah,” ujarnya.

Ketua Yayasan Hidayatullah Surabaya Syamsudin memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi kegiatan tersebut.

Dalam sambutannya, ia sangat menginginkan dai muda yang totalitas ketika bertugas nanti.

“Saya berharap besar kepada kalian (mahasiswa) semua. Untuk senantiasa memberikan pengabdian terbaik, totalitas serta memberikan solusi terkait permasalah di masyarakat nantinya,” harapnya.

Kegiatan yang diikuti oleh mahasantri calon wisudawan STAI Lukman Al-Hakim dan mahasantri calon wisudawan STT STIKMA Internasional ini berlangsung selama dua hari dengan materi dan pemateri yang sudah dipersiapkan.

Bagi calon wisudawan, kegiatan ini merupakan ajang mengevaluasi diri, sejauh mana persiapannya menuju kehidupan baru yang mendebarkan.

Sementara itu, salah satu peserta pembekalan dai yang juga calon wisudawan STAI Lukman Al-Hakim asal Pacitan, Fahri Muflihun mengungkapkan, kegiatan pembekalan sangat berguna bagi mereka. Karena dengan begitu, ia akan mendapatkan gambaran penugasan serta lebih optimis dan yakin dalam berdakwah nantinya.

“Dengan adanya pembekalan ini mas, saya lebih termotivasi, optimis serta yakin berkiprah dalam dunia dakwah di tengah masyarakat,” tuturnya saat ditemui pasca pembukaan kegiatan.*/Jundy Nasrullah

Hidayatullah Surabaya Raih Trophy OMITS dan Juara Umum EFDO 2019

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Prestasi bidang akademik kembali diukir pelajar SD Luqman Al Hakim, Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur. Tim Olimpiade SD Islam Integral ber-tagline “Sekolah Tauhid, Sekolah Tahfidz, Sekolah Para Juara” ini berhasil meraih juara 1 dalam babak final Olimpiade Matematika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (OMITS) yang diselenggarakan di Kampus ITS Surabaya, (25/08/2019) lalu.

Olimpiade Matematika level SD, SMP, dan SMA ini memperebutkan Piala Gubernur Jawa Timur, Piala Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Piala Presiden RI secara bergilir.

Maka, tak mengherankan, jika event tahunan yang digawangi oleh Himpunan Mahasiswa Matematika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (HIMATIKA ITS) ini mampu menarik animo ribuan peserta.

Dalam Olimpiade Matematika tingkat nasional ini, Tim olimpiade SD Luqman Al Hakim Hidayatullah Surabaya diwakili Kurnia Amatullah Husna Rahmanto dan Vania Nurmala Syahda. Keduanya merupakan siswa kelas 6A.

Una dan Vania, sapaan akrab mereka, berhak membawa pulang trophy bergilir Presiden RI, medali emas, sertifikat, dan uang pembinaan. Dengan prestasi ini, mereka patut bersyukur karena mampu memenangkan persaiangan dari ribuan peserta dari seluruh Indonesia.

Sebagai catatan, OMITS merupakan salah satu Olimpiade matematika terbesar di Indonesia. Diikuti oleh ribuan pelajar, hampir di seluruh wilayah Indonesia. Mulai dari Riau, Jambi, Lampung, Jakarta, Bogor, Surabaya, Pontianak, Banjarmasin, makassar, Manado, Denpasar, dan wilayah lainnya.

Sementara itu, menyikapi raihan prestasi kali ini, Kepala SD Luqman Al Hakim Surabaya, Ust Adi Purwanto, M.Pd, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas ikhtiyar dan perjuangan tim olimpiade sehingga mampu meraih prestasi maksimal di event ini. Terlebih kepada guru pembina dan pendamping dalam melakukan pembinaan.

Adi Purwanto menjelaskan, selama proses pembinaan di program takhasus olimpiade, guru pembina selalu siap memberikan pelatihan, bahkan memberikan jam tambahan di waktu malam.

“Alhamdulilah, prestasi ini wajib kita syukuri. Semoga prestasi ini menjadi energi dan penyemangat untuk berkarya yang lebih baik lagi. Apresiasi tertinggi kami sampaikan kepada tim olimpiade yang telah bekerja keras, bekerja ikhlas hingga meraih hasil ini,” jelasnya.

Tidaj saja Sekolah Dasar, Tim Olimpiade SMP Luqman Al Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya juga meraih prestasi. SMP Luqman Al Hakim Hidayatullah Surabata ini kembali mengukir prestasi gemilang dengan menjuarai Exact Fun Day Olympiad VII (EFDO) 2019, di Jombang (22/08/2019) lalu.

Kader-kader peradaban Islam ini berhasil merebut gelar bergengsi yaitu menjadi juara umum. Dengan raihan 2 medali emas, 2 medali perak, dan 2 medali perunggu serta berhak membawa pulang piala bergilir, medali, sertifikat, dan sejumlah uang pembinaan.

EFDO (Exact Fun Day Olympiad) 2019 merupakan rangkaian kegiatan dalam acara Exact Fun Day ke-VII di MAN Tambakberas Jombang. EFDO kali ini merupakan acara yang ke-7 kalinya diselenggarakan.

Kompetisi EFDO 2019 tingkat nasional ditujukan untuk pelajar SMP, MTs dan sederajat se-Indonesia. Kegiatan ini bertujuan menggali potensial generasi muda yang berdaya saing tinggi. Sekaligus ajang bagi para pelajar untuk menunjukkan kemampuan dalam bidang IPA, Bahasa Inggris, dan Matematika.

Kepala SMP Luqman Al Hakim Surabaya, Rahmi Andri W. ST, mengaku sangat bersyukur atas pencapaian ini. Ustadz Andri, sapaan akrab beliau, memberikan apresiasi setingi-tingginya kepada seluruh tim olimpiade yang telah mengharumkan nama sekolah. Terutama kepada tim pembina olimpiade sekolah yang telah bekerja keras melakukan pembinaan dan pendampingan.

Selamat dan sukses wahai kader peradaban Islam, generasi pewaris risalah Nabi SAW. Generasi yang cerdas, unggul, dan bertaqwa. */Rudi

Hidayatullah Sulsel Gelar Nikah Mubarak 12 Pasang Santri

PAREPARE (Hidayatullah.or.id) — Hari ini kebahagiaan menyelimuti keluarga besar Hidayatullah Sulsel. Momen yang ditunggu-tunggu oleh santri/santriwati senior Hidayatullah Sulsel ini akhirnya tiba juga.

Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan hari ini menggelar Pernikahan Massal Mubarak 12 Pasang Santri Hidayatullah Sulawesi Selatan.

Pernikahan Mubarak kali ini digelar di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Parepare bertempat di masjid pesantren yang baru saja diresmikan dengan pelaksanaan shalat Jum’at, pekan lalu.

Tampak hadir dalam deretan undangan mulai dari Walikota Parepare yang diwakili oleh Kabag Kesra Parepare, perwakilan pengurus DPP Hidayatullah, Dewan Mudzakarah, sejumlah pengurus DPW Hidayatullah se-Sulawesi dan pengurus DPD se-Sulsel. Hadir pula jamaah Hidayatullah Parepare dan keluarga mempelai pengantin putra dan putri.

Acara pernikahan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, lalu dilanjutkan dengan pembacaan khutbah nikah oleh Ust. Sholeh Usman yang juga Ketua Departemen Pengkaderan DPP Hidayatullah. Setelah itu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah yang dipimpin oleh Kemenag/Penghulu KUA Parepare.

Selepas prosesi akad nikah dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Pertama; sambutan oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Mardhatillah, sambutan oleh Pembina Hidayatullah Sulsel Ust. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar dan sambutan tertulis Walikota Parepare yang diwakili oleh Kepala Bagian Kesra Kota Parepare, Arianto.

Sebagai penceramah dalam taushiyah pernikahan Mubarak menghadirkan Ust. Nasri Arsyad, Lc, Anggota Dewan Mudzakarah Pusat Hidayatullah. Terakhir, acara pernikahan mubarak ditutup dengan ramah tamah/ walimatul ‘ursy.*/Dayat

Berdakwah dengan Modal Yakin Pertolongan Allah Sangat Dekat

0
Ardiansyah (bersarung) berbincang dengan sahabatnya, Budi Setiawan, di kediaman kerabatnya di bilangan Tapos, Depok, Jawa Barat (Dok. Hidayatullah.or.id)

TAPOS (Hidayatullah.or.id) — Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian. Al Qur’an Surah Muhammad Ayat 7 inilah yang dipegang betul oleh Ardiansyah termasuk ketika dia ditugaskan berdakwah ke Merauke, Papua.

Ardiansyah bukan akademikus bergelar es satu. Sebenarnya, dia bercita-cita sekolah sampai sarjana. Tapi apa daya, harapan itu belum kesampaian. Ardiansyah mencicipi bangku sekolah hanya sampai kelas 5 Sekolah Dasar. Selebihnya, ia banyak “praktek” langsung ke lapangan.

Di usia belia dikala awal awal bergabung menjadi murid pendiri Hidayatullah, almarhum KH Abdullah Said, Ardiansyah lebih banyak kerja bakti membabat rumput dan mencangkul tanah untuk pembangunan asrama dan masjid.

“Setiap hari itu. Bahkan sering juga malam-malam kerja bakti. Waktu itu kita meratakan bukit untuk masjid (Ar Riyadh) yang sekarang. Tanah yang bangunan masjid sekarang itu kan dulunya bebukitan tinggi, kelihatan pantai kalau kita naik ke situ,” kata Ardiansyah dalam perbincangan dengan media ini di kediaman kerabatnya di bilangan Tapos, Kota Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Lelah kerja bakti di areal Gunung Tembak yang saat itu masih semak belukar, mereka biasa beristirahat sambil menyantap singkong bakar hasil kreasi dia dan teman-temannya yang tinggal di asrama yang masih berupa gubuk.

“Pagi juga begitu. Sering langsung kerja bakti habis shalat shubuh, nanti sarapannya kalau sudah siang. Bukan pakai nasi kita, karena memang sering tidak ada beras. Kita sarapan pakai nanas bakar,” katanya tertawa seraya mengenang.

Bagi umumnya orang, sarapan nanas apalagi tanpa makan nasi terlebih dahulu bisa bikin sakit perut. Tapi Alhamdulillah, hal itu tidak terjadi. Bahkan meminum air mentah pun menjadi hal biasa.

Pengalaman penuh suka duka di masa pembangunan Kampus Hidayatullah Gunung Tembak di tahun 70-an itu pelan-pelan menempa kepribadian Ardiansyah. Ia pun secara rutin mengikuti kuliah pengajian yang dibawakan oleh Abdullah Said. Disanalah dia tertempa, belajar tentang kedisiplinan dan kerja keras.

“Pesan beliau yang selalu saya ingat, berdakwah itu tidak usah menunggu pintar atau dapat gelar. Ceritakan saja kenikmatan berislam yang sudah kamu rasakan. Ceritakan saja pada orang lain apa kenikmatan yang kamu rasakan di Gunung Tembak ini. Begitu saja berdakwah kata almarhum,” kisahnya.

Hingga, tibalah waktunya dia ditugaskan untuk keluar daerah merintis dakwah dan membangun kampus Hidayatullah. Pada tahun 1990, dia ditugaskan ke Papua. Tiket sudah dibelikan. Berbekal uang 10.000 di saku dan sejumlah pakaian, dia akhirnya di Jayapura.

Sampai di Jayapura, Ardiansyah sempat bingung. Siapa yang harus ditemui. Tidak ada kenalan. Tidak ada handphone seperti sekarang. Dia hanya ingat, bahwa dia ditugaskan di Papua. Tak akan balik kanan sebelum ada perintah.

“Di Jayapura, tidak ada orang dikenal. Saya langsung cari masjid saja. Kenalan dengan orang di sana,” kata pria asal Sengkang ini.

Tak berapa lama dia lanjut ke Merauke. Namun untuk sampai ke Merauke bukan hal mudah. Ia harus menempuh perjalanan yang cukup jauh. Ia harus menempuh transportasi mulai dari bersepeda, naik motor dan lanjut naik kapal.

Alhamdulillah, setelah mengarungi medan sulit, akhirnya sampai juga dia di Merauke. Kala itu Ardiansyah masih muda berusia 25 tahun dan baru saja melangsungkan pernikahannya. Ia harus menunda bulan madu dan meninggalkan istrinya di Balikpapan karena tugas dakwah ini.

Di Merauke, di tengah antusiasme masyarakat menyambut dakwah Ardiansyah, diam diam ada yang menyebarkan tudingan bahwa Ardiansyah datang membawa ajaran baru. Karuan saja, Ardiansyah kaget dengan tuduhan tersebut.

Tak menunggu lama, ia pun datang ke hadapan Kepala Departemen Agama Merauke dan menjelaskan perihal tuduhan tersebut. Ternyata, selidik punya selidik, pangkal masalahnya ada pada kebiasaan shalat Ardiansyah yang lama. Kebiasaan tersebut rupanya terbawa dikala Ardiansyah memimpin shalat berjamaah.

“Di Gunung Tembak kita biasa kan shalatnya lama diimami pimpinan dan kebiasaan ini terbawa juga sampai kita ke tempat tugas. Ternyata shalat lama dianggap sesat,” kata Ardianysah terkekeh yang pada kesempatan tersebut dibersamai sahabat seperjuangnnya, Budi Setiawan.

Qadarullah, kejadian tersebut rupanya mendulang hikmah. Ardiansyah menjadi kenal dan dekat dengan Ketua Departemen Agama Merauke dan menjadi mitra dalam setiap kegiatan keagamaan seperi menjadi penceramah dan khatib.

Debut dakwah Ardiansyah di Merauke terus berkesinambungan. Tidak saja di Tanah Papua, Ardiansyah pula mendapatkan amanah perintisan ke beberapa daerah seperti ke Tolitoli, Nunukan, Tarakan, Cilodong, Sentani, Jayapura, Sorong, Fakfak dan beberapa daerah lainnya.

Ardianyah mengatakan kunci utama dalam menjalankan tugas dakwah adalah niat yang tulus semata-mata karena Allah. Dan yang paling penting, menurutnya, adalah jangan takabbur dan selalu menomorsatukan Allah SWT.

“Kalau mau dibilang, kita ini siapa sih, saya sekolah hanya sampai kelas 5 SD. Tapi kalau kita yakin, pertolongan Allah sangat dekat. Jadi, yakin saja. Bahkan kita belum minta saja sudah dikasih. Ya Allah, mau bakso, eh sudah ada di meja. Ya Allah mau ini mau itu, langsung ada. Kadang-kadang kita malu juga sama Allah cepat betul pertolongannya,” kata Ardiansyah dengan logatnya yang khas.

Ketika diminta wejangannya untuk generasi muda yang saat ini meneruskan perjuangan dakwah mengabdi di tengah umat, Ardiansyah berpesan kepada mereka untuk, pertama, yakin dengan pertolongan Allah. Dan, kedua, lakukan saja.

“Memang harus yakin, itu kuncinya. Allah kan sudah bilang siapa yang menolong agamaku, pasti kutolong. Siapa yang berdakwah pasti kubantu. Modal kita kan cuma itu, yakin kepada Allah dan lakukan,” pungkasnya.(ybh/hio)

Penjajahan Ilmu dan Kemerdekaan

TIDAK ADA orang yang ingin dijajah. Itulah mengapa rakyat Indonesia begitu berbahagia dengan Hari Kemerdekaan. Hari bersejarah itu senantiasa dirayakan dengan luapan kegembiraan pada setiap tahunnya. Bahwa merdeka adalah kebutuhan mendasar setiap manusia.

Merdeka berarti akal, jiwa, serta raga manusia kembali kepada fitrahnya. Sedang penjajahan tidak lain adalah kezhaliman yang nyata. Ia merupakan penindasan atas hak-hak asasi manusia.

Selaras dengan tujuan pendidikan, ilmu yang dipelajari manusia harusnya juga mengantar kepada kemerdekaan. Manusia yang merdeka ialah yang sampai pada kesadaran hakiki, tentang siapa dirinya sebagai makhluk dan siapa Allah sebagai Sang Khaliq.

Itulah hikmah mengapa perintah Iqra menjadi wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam (Saw) di Gua Hira, lalu. Sebab ilmu yang benar akan menolak semua penjajahan dan perbudakan yang tak sesuai dengan fitrah tersebut.

Diyakini, dengan wahana “iqra” sejak awal manusia mampu memerdekakan dirinya. Ia mengerti tentang kehidupan dunia dan asal-usul penciptaan manusia. Tanpa harus terjebak lagi pada tipuan gemerlap dunia yang terkadang melalaikan sebagian manusia. Sebab apapun bacaannya, setinggi apapun kajiannya, ia tetap saja mengembalikan semua ilmu dan urusannya kepada Maha Mulia Yang Menciptakannya (Iqra’ bismi Rabbikalladzi khalaqa).

Sebaliknya, orang yang terjajah dengan ilmunya, cenderung terpenjara pada “hebatnya” ilmu yang dimilikinya. Merasa seolah-olah dirinya sangat tinggi sedang orang lain tampak rendah dan tak punya apa-apa di hadapan matanya. Demikian ini biasanya mudah melahirkan al-kibr (sifat sombong) pada jiwa manusia.

Batharul haq wa ghamthun nas. Demikian Rasulullah menyifati orang takabbur (merasa besar) tersebut. Cirinya kata Nabi, orang sombong itu suka menolak kebenaran dan senang merendahkan orang lain. Tak suka dinasihati dan selalu merasa benar dengan tindakan dan perkataannya.

Lebih jauh, orang yang tersandera dengan ilmu sesungguhnya belum berhasil mengenali tentang siapa dirinya sebagai makhluk dan siapa Allah sebagai Khaliq yang mesti disembahnya. Alih-alih mampu menundukkan dan mengantarnya khusyuk beribadah kepada Allah atau berbagi manfaat kepada sesama, justru ilmu itu berbalik arah menjadi bumerang yang menyerang.

Dia terkurung di balik prosedur formalitas bikinan manusia. Ia terkungkung dengan segala jenis ukuran materi duniawi dan standar kebendaan. Bahkan rasa kemanusiaan pun nyaris hilang dengan aturan-aturan yang dibuatnya sendiri.

Sederhananya, tak sedikit orang lalai menunaikan shalat berjamaah di masjid hanya karena “terlanjur” menghadiri undangan pesta pernikahan atau acara arisan keluarga, misalnya. Atas nama aturan kantor atau perusahaan, sebagiannya lalu berani menabrak syariat hijab dan pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Bahkan sampai tega melarang wanita muslimah berjilbab, sebagai kewajibannya menutup aurat.

Contoh lain, didapati sampai usia SMA, ada saja siswa bahkan mahasiswa yang belum pandai baca tulis al-Qur’an dan shalat wajib yang masih bolong-bolong.

Miris? Wajib, tentu saja. Namun inilah potret buram output proses pendidikan secara umum di negeri ini. Bahwa Bangsa Indonesia telah merdeka puluhan tahuan silam, tapi disana-sini sebagian masyarakat yang notabene Muslim, masih terkungkung dengan pola pendidikan seperti di atas.

Orang-orang berpendidikan malah terjajah dengan ilmunya. Tubuhnya merdeka tapi jiwanya senantiasa berontak dan bergejolak. Setidaknya itu terlihat dari rusaknya lingkungan, bobroknya pergaulan serta gaya hidup hedonis yang kian mengkhawatirkan.

Dampak terparahnya, sekira penjajahan atas ilmu merembet kepada rusaknya agama pula. Diketahui agama adalah norma tertinggi dalam satu tatanan sosial masyarakat. Rusaknya agama bisa meruntuhkan keyakinannya terhadap Allah dan menjadikan manusia lalai dalam sujud kepada-Nya.

Ibarat jauh panggang dari api, boleh jadi orang itu pandai dalam urusan agama, tapi nilai-nilai agama itu tak muncul dalam perilaku kesehariannya. Menguasai ilmu agama, namun dia juga terjerat dengan perbuatan yang melanggar aturan agama. Allahu musta’an. Hanya kepada Allah, kita memohon pertolongan-Nya.

MASYKUR SUYUTHI

BMH Terima Dua Anugerah Terbaik Baznas Award 2019

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dedikasi keummatan dan kebangsaan terus ditunjukkan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) yang ditandai dengan apresiasi yang diterima lembaga amil zakat nasional ini. Kali ini Laznas BMH yang mendapatkan dua sekaligus anugerah penghargaan dari Baznas Award 2019.

Kedua Anugerah Baznas Award 2019 diterima Laznas BMH tersebut, pertama, sebagai Laznas dengan Pendistribusian ZIS terbaik. Dan, Kedua, penghargaan dalam kategori Laznas dengan Kelembagaan Terbaik.

Pengumuman dan penyerahan anugerah ini disampaikan oleh Ketua BAZNAS Prof Dr Bambang Sudibyo MBA, CA dalam gelaran Baznas Award 2019 yang diselenggarakan Baznas di Auditorium HM Rasjidi, Gedung Kemenag RI, Jl. MH Thamrin, Jakarta, Senin (26/8/2019) malam.

Wakil Direktur Utama Laznas BMH, Firman ZA, mengatakan anugerah tersebut menjadi dorongan motivasi bagi BMH untuk terus meningkatkan mutu, kualitas dan profesionalisme BMH dalam mengembangkan kebermanfaatan.

“Alhamdulillah, Laznas BMH kembali mendapatkan motivasi dan spirit dari masyarakat, termasuk pemerintah dalam hal ini Baznas dengan dua raihan penghargaan,” kata Wakil Direktur Utama Laznas BMH Firman ZA dalam keterangannya diterima media ini, Selasa (27/08/2019).

Firman mengatakan lebih lanjut bahwa sesungguhnya raihan dua anugerah Baznas Award 2019 yang diperoleh Laznas BMH merupakan wujud nyata antusiasme umat di dalam memajukan bangsa dan negara melalui zakat.

“Kami sangat bahagia dan bersyukur atas anugerah yang diberikan oleh Baznas kepada Laznas BMH. Namun, sesungguhnya ini adalah penghargaan bagi umat Islam yang begitu antusias di dalam menjalankan ibadah zakat, sehingga banyak hal yang bisa kita angkat dan lakukan di BMH. Sekali lagi, penghargaan ini adalah milik umat Islam di Indonesia,” tuturnya.

Baznas Award 2019 mengangkat tema “Zakat Tumbuh Bermanfaat. Ketua Baznas, Bambang Soedibyo, mengatakan penghargaan tersebut sebagai apresiasi kepada segenap Baznas Provinsi, Kota dan Kabupaten serta LAZ untuk terus meningkatkan prestasinya di dalam dunia perzakatan.

“Harapan kami, Baznas Award ini mampu memberi dampak positif untuk terus menginspirasi dan mendukung kemajuan dunia perzakatan,” kata Bambang.

Dia menjelaskan, Baznas Award bertujuan untuk mendorong optimalisasi pengelolaan zakat nasional, mempererat tali silatuhmi antara Baznas dan LAZ, memupuk semangat kebangsaan antargenerasi untuk memperkuat ketahanan nasional menghadapi tantangan global.

“Sementara target kami adalah terlaksananya kegiatan berupa pemberian penghargaan Baznas Award kepada sejumlah tokoh dan lembaga/instansi serta media pada peringatan hari kemerdekaan RI yang ke-74 dengan kualitas award yang kredibel, terukur, transparan dan mendapat pengakuan masyarakat,” ucap Bambang.

Sementara itu, Ketua Panitia Baznas Award 2019, Jaja Jaelani menjelaskan, terdapat beberapa kategori penilaian pada malam anugerah perzakatan yang digelar Baznas. Antara lain Pertumbuhan Penghimpunan ZIS Terbaik, Kreativitas Penghimpunan ZIS Terbaik, Pendistribusian dan Pendayagunaan ZIS Terbaik, Program Pemberdayaan Ekonomi Terbaik, Laporan Tahunan Terbaik, dan Baznas dan LAZ Terbaik.

Ada sebanyak 15 Dewan Juri dalam Baznas Award 2019, yakni 1 ketua, 1 sekretaris dan 13 anggota yang menggunakan Index Zakat Nasional (IZN) terbitan Puskas Baznas sebagai standar. Baznas Award sendiri sudah berlangsung sejak 2017, dan diikuti oleh 390 Organisasi Pengelolaa Zakat (OPZ).

Hadir dalam acara ini, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Dirjen Bimas Islam Kemenag yang juga anggota Baznas Prof. Dr. Muhammadiyah Amin, Wakil Ketua Baznas Dr. Zainulbahar Noor, SE, M.Ec, Dirut Baznas M. Arifin Purwakananta, Sekretaris BAZNAS yang juga Ketua Panitia BAZNAS Award 2019 Drs. H. Jaja Jaelani MM, Sekretaris Ditjen Bimas Islam Tarmizi Tohor, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag Fuad Nasar; para direksi, manajemen dan amil-amilat Baznas.

VIDEO BERITA

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”HMH-WOs77xg?rel=0&autoplay=1″][/youtube]

Muhibah Yayasan Malaysia ke Kampus Hidayatullah Surabaya

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Kunjungan muhibah ke Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya datang silih berganti. Tidak hanya dari dalam negeri, kali ini datang dari negeri jiran yaitu Malaysia, beberapa waktu lalu.

Rombongan yang terdiri dari 20 pengurus yayasan itu dipimpin langsung oleh Tuan Haji Abdurrahman Muhammad Yasin selaku Ketua Pengarah Yayasan Takmir Pendidikan Angkatan Belia Islam Malaysia.

“Alhamdulillah, terima kasih atas sambutan yang begitu baik dan ini merupakan rangkaian pelawatan yang pertama selepas turun dari bandara Juanda, Surabaya” ujar Yasin.

“Saya merasa kagum dan sangat menghargai sama sekali atas sambutan yang telah diberikan” lanjutnya

Kunjungan tersebut bertujuan menimba ilmu dan pengalaman tentang pengelolaan lembaga pendidikan islam di Pesantren Hidayatullah, khususnya di manajemen SDM bahasa arab.

Kedatangan mereka pun disambut hangat oleh Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, H. Samsudin, SE, MM.

“Ahlan wasahlan di Ma’had Pesantren Hidayatullah Surabaya. Hadirnya tamu itu merupakan keberkahan bagi kami,” ujarnya.

Ustadz Sam, demikian ia akrab dipanggil, menjelaskan cikal bakal Pesantren Hidayatullah yang berawal dari sekelompok aktivis mahasiswa berjumlah 40 orang yang mengontrak rumah di daerah Gebang Lor pada tahun 1985-1986 yang bervisi dakwah illallah di kampus-kampus.

Kemudian dengan berbagai mujahadah dan upaya mendapatkan wakaf tanah dari salah satu rektor ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) seluas ±3000 m2 yang dibangun Pesantren Hidayatullah seluas 2,5 ha dan sisanya di gunakan untuk makam warga sekitar. Alhamdulillah sekarang santri sudah mencapai kurang lebih 2000 santri.

Program pendidikan yang ada di Pesantren Hidayatullah salah satunya “tahfidz Al-Qur’an Bersanad” yang bekerjasama dengan syeikh dari Yaman, Syeikh Muhammad Mahdi al Yamani yang juga tinggal di dalam pesantren.

Hal ini, lanjut Sam, diharapkan bisa membangun kebiasaan berbahasa Arab pada santri, selain proses pembelajaran di sekolah-sekolah tentunya.

Berlangsung di Aula Rahmat-Rahman Kampus Hidayatullah Surabaya, kunjungan yang diselingi dengan diskusi dimulai pukul 14.00 WIB, dan dilanjut dengan “pusing-pusing” keliling lingkungan Pesantren Hidayatullah sampai pukul 17.45 WIB.

Semoga silaturrahim ini terus terjalin dan mampu memberikan kemanfaatn bersama. Berujung pada tegaknya peradaban Islam di dunia. Aamiin.*/Humas PPH Surabaya

Pelajar Hidayatullah Penyisihan HIC 2019 Regional Jateng

0

PURWODADI (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 222 pelajar sekolah Hidayatullah se-Jawa Tengah mengikuti babak penyisihan kompetisi akademik Hidayatullah Islamic Competition (HIC) 2019 Region Jawa Tengah. Seleksi tingkat propinsi ini diselenggarakan di Yayasan Amanah Pondok Pesantren Hidayatullah Purwodadi, Jawa Tengah, Senin (19/8/2019).

Even perlombaan tahunan ini merupakan ajang silaturahim sekaligus kompetisi antar pelajar sekolah di bawah naungan Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Depdikdasmen) DPW Hidayatullah Jawa Tengah. Diikuti pelajar mulai jenjang SD, SMP, hingga SMA.

Ketua Depdikdasmen DPW Hidayatullah Jawa Tengah Ust. Usman Abi Saif, M.Pd, mengatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan untuk memperkuat jaringan Sekolah Integral Berbasis Tauhid (SIBT) se-Indonesia. Selain itu, lanjutnya, untuk mengukur kualitas, mengetahui kelemahan dan kelebihan serta menjadi sarana publikasi sekolah sekolah.

“Even ini sekaligus ajang seleksi untuk yang mewakili Jateng ke tingkat nasional. Insya Allah babak final HIC akan dilaksanakan September di kota Malang, Jawa Timur”, jelas Usman.

Proses seleksi tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Kali ini dilaksanakan secara online. Peserta berasal dari Banjarnegara, Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang, Salalatiga Purwodadi, dan sekitranya mengikuti seluruh tahapan perlombaan dengan antusias.

Soal-soal mata pelajaran Matematika, IPA, Bahasa Inggris, dan Bahasa Arab seluruhnya dibuat oleh panitia pusat pendidikan Hidayatullah. Seluruhnya dikerjakan secara online melalui perangkat komputer, laptop, tablet, dan smartphone. Adapun tahfidz al Qur’an, dengan melombakan hafalan juz 1 hingga 5.

Ajang nasional Hidayatullah Islamic Competition (HIC) serempak se-Nusantara ini diselenggarakan oleh Depdikdasmen DPP Hidayatullah mulai awal Agustus lalu yang diikuti oleh sekolah-sekolah tingkat dasar dan menengah jaringan Hidyatullah seluruh Indonesia.

Tak hanya berlomba dalam kecakapan bidang akademik dan diniyah, even ini juga bertujuan melatih peserta untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan ketaqwaan. Semoga kegiatan ini menjadi wasilah membentuk generasi muslim yang unggul, berprestasi, dan bertaqwa. */Dikdasmen Hidayatullah Jateng

Masjid Jogokariyan Dukung LBH Hidayatullah Advokasi Remaja Salah Tangkap

YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Bertempat di Komplek Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Ust Muhammad Jazir selaku Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan memberikan apresiasi terhadap langkah LBH Hidayatullah yang memberikan pendampingan hukum bagi peserta aksi 21-22 Mei yang diduga menjadi korban salah tangkap aparat.

Ust Jazir menilai bahwa LBH Hidayatullah sudah memainkan perannya sebagai lembaga ummat yang peduli terhadap permasalahan yang sedang dihadapi ummat.

“Mereka (peserta aksi yang ditahan) kan belum tentu bersalah, bisa saja mereka peserta yang hendak pulang tapi terhalang oleh aksi kerusuhan, mereka menunggu suasana mereda karena akses jalan menuju kepulangan mereka tertutup oleh masa yang sengaja berbuat rusuh. Sehingga saat aparat melakukan penangkapan terhadap pelaku kerusuhan, mereka justru patut diduga sebagai korban salah tangkap,” papar Ust. M. Jazir seperti dalam rilis LBH Hidayatullah diterima redaksi, Jum’at (23/8/2019).

Ust. M. Jazir berharap agar LBH Hidayatullah dan para pengacaranya, berbuat serius dan ikhlas untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang sekarang ini terdholimi.

Sementara, terkait adanya salah satu orang aktivis Remaja Masjid Jogokariyan yang menjadi salah satu orang yang diduga salah tangkap, Muhammad Said Hasnan, Ust M. Jazir menyampaikan bahwa keberangkatan Hasnan mengikuti aksi damai 21-22 Mei murni inisiatif pribadi Hasnan.

Jaiz menegaskan pihak masjid sama sekali tidak mengetahui keberangkatannya. Namun demikian, sebagai takmir dirinya merasa turut prihatin atas musibah yang dialami Hasnan.

Tim Advokat dari LBH Hidayatullah Pusat terdiri dari Advokat DR. Dudung Amadung Abdullah, SH, dan Advokat Fahrul Ramadan, SH yang datang bersilaturrahim ke Masjid Jogokariyan Yogyakarta mengucapkan terima kasih kepada Takmir Masjid Jogokariyan yang mengapresiasi upaya pendampingan hukum yang dilakukan oleh lembaganya.

Menurut Dudung, saat ini LBH Hidayatullah sedang memberikan pendampingan terhadap peserta aksi 21-22 Mei yang diduga menjadi korban salah tangkap. Dudung menyebutkan, ada 30 oang aktifis yang didampingi pihaknya, salah satunya adalah remaja masjid Jogokariyan yang bernama Muhammad Said Hasnan.

“Insya Allah kami sudah menyiapkan 13 orang tenaga advokat untuk mendampingi mereka,” jelas Dudung.

Muhammad Said Hasnan didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum Rianiully Raneta, S.Kom, SH, MH. dari Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat karena dianggap melanggar Pasal 212 KUHP juncto Pasal 214 ayat (1) KUHP atau Pasal 218 KUHP, tentang melawan aparat yang sedang menjalankan tugas.

Muhammad Said Hasnan hadir pada 21-22 Mei 2019 untuk mengikuti Aksi Damai di seputaran Sarinah Jakarta Pusat. Muhammad Said Hasnan didakwa secara bersamaan dengan terdakwa lain sebanyak sepuluh orang dalam berkas yang sama. Karena yang lain belum didampingi Tim Penasehat Hukum, akhirnya mereka secara bersama-sama mempercayakan LBH Hidayatullah sebagai Tim Penasehat Hukumnya.

Sidang Perdana Perkara Hasnan sudah digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada hari Selasa 13 Agustus 2019, sidang kedua sedianya digelar pada Selasa, 20 Agustus 2019 namun ditunda oleh Majlis Hakim, karena kendala teknis yang menyebabkan Hasnan dan kawan-kawan tidak bisa dibawa dari Tahanan Polda Metro Jaya ke PN Jakarta Pusat. Akhirnya sidang diundur pada selasa 27 Agustus 2019 dengan agenda menghadirkan saksi dari Jaksa Penuntut Umum. (LBHH)

Mahasiswi STIS Hidayatullah Ajak Teladani Siti Hajar

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Mengambil semangat Kemerdekaan RI dan spirit berkurban, mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Putri mengadakan berbagai kegiatan untuk menyemarakkan momentum bersejarah tersebut.

Di antaranya, mereka dengan menggelar Seminar Parenting yang dilaksanakan di Aula Marfuah, Lantai II, Gedung STIS Hidayatullah Balikpapan, beberapa waktu lalu. Gelaran acara oleh Dewan Mahasiswa (DEMA) STIS Hidayatullah Putri tersebut dalam rangka mengajak meneladani sosok mulia bunda Siti Hajar.

Dalam penyampaiannya, Ketua Departemen Adab dan Pembinaan Keluarga DPP Hidayatullah Ustadz Zainuddin Musaddad yang didaulat sebagai pemateri, mengingatkan tentang hikmah pendidikan adab dari kisah keluarga Nabiullah Ibrahim Alaihis salam (AS).

Dalam sejarah diceritakan, Ibunda Hajar, Istri Nabi Ibrahim, adalah wanita tangguh lagi mulia. Ia berjuang pantang menyerah, bermujahadah antara Shafa ke Marwah demi anaknya, Ismail. Hasilnya? Allah berkenan memberinya Air Zamzam yang terpancar.

“Hebatnya, Ibunda Hajar bukan sekadar berlari saja. Tapi juga berdoa. Bahkan bersujud. Tersungkur meminta kepada Allah,” ujar Pendiri Komunitas Ibu Cerdas Pecinta al-Qur’an.

Menurut Abah Zain, demikian sapaannya, yang menuntut ilmu hendaknya juga menyadari bahwa kehadirannya bukan sekadar menjadi mahasiswi biasa, layaknya batu yang ada dimana-mana. Tapi sebagai wanita berkarakter Ibunda Hajar.

“Dia Mulia karena akhlak dan ketaatannya. Dia tangguh justru karena doa dan sujudnya. Bukan karena fisiknya semata,” lanjutnya.

Pelajaran berikut, masih menurut Abah Zain, adalah adab seorang Mukmin yang hanya berharap kepada Allah. Tidak mengharap kepada selain-Nya.

“Ada banyak masalah yang perlu dibicarakan. Tapi lebih banyak masalah yang butuh diistighfarkan. Biar Allah berkenan menumbuhkan rahmat-Nya dalam setiap masalah yang dihadapi,” terang ustadz yang dikaruniai anak-anak penghafal al-Qur’an.

Diketahui, dalam Semarak Kemerdekaan dan Qurban lalu, ada beberapa kegiatan yang diadakan oleh Dewan Mahasiswa STIS Hidayatullah Putri. Di antaranya lomba tata boga, lomba pidato bahasa Arab dan Inggris, hingga beberapa permainan lainnya.

“Berharap kegiatan ini menjadi media untuk lebih mengenal sirah orang-orang shaleh terdahulu, secara khusus Nabi Ibrahim dan keluarganya,” pungkas Nashiratun Nisa, pengasuh mahasiswi STIS Hidayatullah*/Wasan