KUTAI BARAT (Hidayatullah.or.id) — Tim Qurban Berkah Nusantara didampingi dai tangguh di beberapa wilayah pedalaman sudah mulai datang ke tengah-tengah masyarakat guna mempersiapkan pelaksanaan ibadah Sholat Idul Adha 1440 H sekaligus pemotongan hewan qurban yang disalurkan umat Islam melalui BMH.
“Alhamdulillah kami di pedalaman Kutai Barat, tepatnya di Kabupaten Mahulu sudah tiba dari Kecamatan Tering untuk mengambil hewan qurban dari peternak di sana. Perjalanan cukup panjang, satu jam darat, kemudian lanjut naik kapal kayu menuju Kecamatan Tering Kutai Barat,” ungkap Tim Qurban Berkah Nusantara Wilayah Kalimantan Timur, Jamal ditemani dai tangguh BMH di Mahulu, Muhammad Taufik (8/8/2019).
“Karena perjalanan cukup panjang maka di kapal pun harus bawa rumput untuk makan hewan qurban,” imbuh Jamal.
Qurban di Mahulu akan dinikmati oleh saudara-saudara Muallaf suku Dayak yang berada di Kampung Long Melahan.
“Qurban Berkah Nusantara ini benar-benar akan menguatkan syiar dakwah di tengah-tengah masyarakat pedalaman yang tentu saja sangat haus dengan pembinaan dan pencerahan,” ungkap Muhammad Taufik.
Sementara itu, Tim Qurban Bekah Nusantara untuk Wilayah Maluku Utara baru tiba di Ternate dan dijadwalkan malam ini dibagi menjadi dua tim.
“Kami di Maluku Utara siapkan dua tim. Satu tim ke Muallaf Suku Togutil. Satu lagi menuju Halmahera Selatan untuk menyalurkan qurban ke saudara-saudara kita terdampak musibah gempa bumi di sana,” terang Kepala BMH Perwakilan Maluku Utara, Arif Ismail.
Secara nasional, Tim Qurban Berkah Nusantara telah bergerak ke beberapa pedalaman, seperti di Papua, Sulawesi Tengah, Konaw Utara, Suku Anak Dalam, Baduy dan ke masyarakat terdampak kekeringan di Gunung Kidul.
“Qurban Berkah Nusantara memang menyasar tiga kriteria daerah, pertama pedalaman, kedua daerah terdampak musibah. Ketiga, adalah masyarakat terdampak kekeringan. Harapannya ini bisa menjadi sebuah jawaban atas kebutuhan saudara-saudara kita di sana. Dan, Idul Qurban adalah momentum yang bisa menghadirkan itu semua,” tutup Direktur Program dan Pemberdayaan BMH Pusat, Zainal Abidin.*/Herim
PAGI ITU perjalanan dua jam berkendara motor terasa begitu singkat. Jarak puluhan kilometer seolah jadi begitu dekat. Rumaisha (di akte tercatat Rumayza), putriku terlihat cemas. Semalam, ia bahkan nyaris tak bisa tidur.
Ada tekad yang membuncah, ingin jadi hafizhah (penghafal) al-Qur’an. Tapi jujur, ada kekhawatiran yang menyelip, bagaimana jika ternyata tidak diterima nanti. Padahal sejak tiga puluh hari lalu, semuanya sudah dipersiapkan di sela kesibukan Ujian Nasional (UN).
Alhamdulillah, singkat kata, Rumaisha dinyatakan lulus sebagai santri di Pondok Tahfizh al-Qur’an di Balikpapan Kalimantan Timur. Namun seiring waktu, tiba-tiba perubahan itu mulai terjadi. Rumaisha yang dulu semangat kini jadi gampang mengeluh.
“Rumaisha tidak sanggup, mau pulang saja,” Rengekan itu berulang kali terdengar melalui sambungan telepon.
Sebagai ibunya, aku tentu saja kaget. Karena ia sendiri yang memutuskan lanjut sekolah ke pondok penghafal. Ia pun bersemangat saat itu. Bahkan sejak masih kelas enam SD dulu, acap kami lewat depan Pesantren Penghafal itu, Rumaisha selalu menengok kubah masjid pesantren itu hingga hilang di tikungan. “Pokoknya mau sekolah di situ nanti,” ucap Rumaisha, ditirukan ibunya.
Bersama suami, beberapa kali aku datang menjenguknya di asrama. Pelan-pelan kami menasihatinya. Mungkin hanya butuh adaptasi saja dengan lingkungan yang berbeda. Suasana baru, kawan dan guru baru, semuanya tentu butuh proses penyesuaian. Apalagi kini ia tinggal di asrama bersama kawan-kawan seusianya tanpa keluarga yang menemani.
Selang beberapa waktu, ternyata rengekannya tak juga berhenti. Bahkan nyaris tambah kencang. Akibatnya hafalanpun tersendat tak lagi bertambah. Rumaisha mengaku tidak mampu lagi menghafal meski setengah lembar sehari.
Sebagai ibu sekaligus guru di sebuah madrasah, aku paham betul bagaimana karakter putriku. Rumaisha dikenal prestasinya rajin berkarya untuk sekolahnya dulu. Ia pasif secara verbal namun aktif secara kognitif. “Jadi apa yang terjadi sesungguhnya?” Ah, batinku mulai gamang juga.
Alhamdulillah, satu yang kusyukuri. Para guru dan pengasuh punya perhatian baik kepada semua santri, termasuk putriku yang sedang “bermasalah”. Dari seorang ustadzah, akhirnya saya dapat sebuah nasihat berharga. Pesannya singkat tapi rasanya menohok hingga ke ulu hati.
“Rumaisha itu tidak boleh dibiarkan berjuang menghafal sendiri. Sebab pola hidup orangtua dan keluarganya saling berkaitan dan sangat berpengaruh padanya,” ujar ustadzah menasihati.
“Jika orangtuanya istiqamah, niscaya anaknya dimudahkan urusannya. Tapi kalau mereka sibuk bekerja untuk dunia dan lalai beribadah, tentu itu berpengaruh kepada anaknya juga,” tambahnya lagi.
Aku cuma bisa terdiam. Segala tumpukan kesombongan ilmu dan kesibukan bekerja seolah runtuh seketika. Terbayang hari-hari yang padat setiap waktu. Pagi mengajar, siang urus toko sampai malam. Belum lagi kesibukan lain yang menyita waktu. Tiap hari begitu terus. Entah kapan aku pernah menikmati rukuk dan sujud kepada-Nya.
+++++++
Tiba di rumah, kata-kata itu masih saja terus mengiang-ngiang. Aku segera mengambil agenda pribadi dan menulis besar-besar.
“Ingat, anak saya sekarang sedang berjuang. Perbaiki dan evaluasi diri (agar) lebih baik dari sebelumnya”
Alhamdulillah, pelan-pelan aku mulai kurangi kesibukan dan menggantinya dengan yang lebih bermanfaat. Mushaf al-Qur’an yang sebelumnya seminggu sekali, itupun kalau sempat, kini mulai dimujahadahkan untuk membaca satu juz setiap hari. Sesibuk apapun dan dalam kondisi apapun.
Tidak mudah memang, tapi inilah tekad dan pengorbananku sebagai ibu dari seorang pejuang penghafal al-Qur’an. Sebab ada tuntutan sebagai guru wali kelas dengan puluhan jam mengajar setiap pekan. Belum lagi mengelola administrasi dan urusan madrasah dan lainnya. Kadang itu semua membuatku lembur hingga tengah malam.
Apalagi saat tengah malam. Masa dimana sekujur badan terasa remuk dan butuh istirahat. Tapi bisikan itu senantiasa hadir, anakmu sedang berjuang. Ia berjihad menghafal al-Qur’an. Ia butuh doa-doa yang dimunajatkan secara khusyuk oleh orangtuanya.
“Ah, bagaimana mungkin kamu bisa tidur-tiduran sedang anakmu berjihad untuk memberimu mahkota kemuliaan kelak?” bisikan itu menghampiri kembali.
Alhamdulillah. Allah Maha Mendengar rintihan tangis hamba-Nya. Keceriaan wajah Rumaisha mulai terlihat lagi. Tak ada lagi rengekan ingin pulang ke rumah dan pindah sekolah. Hafalannya pun mulai bertambah kembali. Terakhir, kabar dari guru dan pengasuhnya, Rumaisha kini dinyatakan lulus dari setoran hafalan 20 juz al-Qur’an, sekali duduk.
Kami sebagai orangtua hanya bisa berdoa. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan berkah buat seluruh ustadz/ustadzah yang telah membantu anak kami jadi Penghafal al-Qur’an. Semoga kita semua dibahagiakan di dunia dan Akhirat dengan dengan Rahmat al-Qur’an.
(Seperti diceritakan oleh orangtua santri Ma’had Tahfizhul Qur’an Usrah Mujaddidah, Balikpapan. Kisah ini pernah dimuat di Majalah Suara Hidayatullah, Juni 2019)
MANUSIA bukan robot. Robot bukan manusia. Semua orang tahu perbedaan dua entitas ini. Meski ada yang mungkin berimajinasi dalam khayalannya, kayak apa manusia kalau menjadi robot. Apakah keduanya bisa menyatu dalam satu tubuh? Setidaknya jadi setengah orang dan separuh robot.
Seperti yang diperankan tokoh polisi robot bernama Alex Murphy pada film Robocop. Sebuah karya bergenre laga fiksi tentang tingginya angka kriminalitas dan upaya penanggulangannya di tengah masyarakat Kota Detroit, Amerika Serikat.
Selain tampilan fisik, perbedaan pokok antara manusia dan robot adalah soal akal dan hati. Robot tak punya akal untuk menalar sesuatu. Ia hanya mesin yang dicipta dengan seperangkat data, ada perintah dan larangan untuknya. Biasanya semua itu disimpan dalam satu memory chip yang ditanam pada sekujur badannya.
Soal hati, rasanya lebih terang lagi. Bahwa robot itu tak punya jiwa di dalam raganya. Baginya tidak ada istilah perasaan atau lubuk nurani. Sedang manusia, atas kehendak Penciptanya, dirupa sedemikian sempurna. Paripurna dibanding semua makhluk-Nya. Ada jasmani pada panca indra. Ada ruhani bersama hati, serta akal pada otaknya.
Hati manusia selanjutnya didapuk jadi jenderal. Ibarat pasukan perang, dialah yang mengomando dan menggerakkan semua indra pasukannya. Hati juga berfungsi sebagai pengontrol pikiran manusia. Apa yang dipikir, apa yang diperbuat orang trrsebut umumnya adalah cermin dari kondisi hatinya pada saat itu.
Dengan lisannya yang mulia, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “… Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari dan Muslim).
Apa kaitannya dengan ilmu? Dalam UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 3, disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Jadi murid yang sekolah, mahasiswa yang kuliah, dan semua orang yang ramai-ramai belajar dan menuntut ilmu, tujuan utamanya bukan untuk sekadar dapat kerja. Apalagi demi selembar kertas ijazah. Tidak pula agar gajinya lebih tinggi karena koleksi ijazahnya yang lebih banyak dan berlembar-lembar daripada yang lain.
Sebab manusia bukan robot yang dimunculkan untuk jadi mesin yang bekerja tanpa henti. Ia bukan robot yang tahunya hanya berurusan dengan mesin atau kertas. Manusia bukan robot yang orientasi hidupnya cuma kerja, kerja, kerja, dalam arti urusan duniawi semata.
Namun tujuan pendidikan itu ialah mengembangkan potensi karsa manusia untuk menjalankan amanah khalifah di dunia. Lebih pokok lagi, output pendidikan sejatinya harus memastikan manusia pada garis fitrahnya sebagai makhluk yang menghamba kepada Tuhannya.
Lebih jauh, kalau skill dan kompetensi manusia bisa dijamin dari almamater dimana dulu ia bersekolah atau kuliah. Sekurangnya dari apa yang ditekuninya selama ini. Sebagai contoh, jika ingin jadi dokter tentu belajarnya dari ilmu kedokteran. Bukan diambil di jurusan teknik atau akademi militer.
Bedanya, untuk menimba adab sebagai pasangan ilmu, maka almamater atau tempat kuliah itu bukan jaminannya secara penuh. Mengapa? Sebab adab tak cukup diketahui atau dihafal, langsung selesai. Adab juga tidak ujug-ujug lahir hanya karena nilainya dapat A melulu sewaktu ujian tulis.
Selain diilmui secara teori, adab juga mesti dibiasakan dalam praktik. Sampai kapan? Jelasnya ia butuh waktu lebih lama dan durasi lebih panjang. Bahkan kadang melampaui masa pencarian ilmu itu sendiri. Dalam satu riwayat, Ibnul Mubarak berkata, kami mempelajari adab selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.
Tak kalah pokok lagi. Adab itu perlu didoakan serta dimunajatkan dengan sungguh-sungguh. Baik oleh sang anak, orangtua, guru, hingga setiap orang-orang yang hadir di sekelilingnya.
Kenapa harus doa? Karena ilmu dan adab yang benar lahir dari hati yang bersih. Hati yang selalu terkondisikan dengan mengingat Allah Sang Pemilik hati. Ada tafakkur juga tadzakkur dalam hidup. Mengantarnya senantiasa mengingat kebesaran Allah Rabbul Alamin. Demikian pesan singkat dari Kalam Ilahi, “Iqra bismi Rabbikalladzi khalaqa,”
“Iqra” yang kebablasan bisa saja menjadikan orang itu sebagai tokoh terkenal, cendekiawan hebat, atau ilmuwan yang disegani manusia. Tapi lihat saja. “Iqra” yang kehilangan adab akan melahirkan kegelisahan. Orang-orang jadi resah dan khawatir dibuatnya. Bukan bahagia yang dipancarkannya. Sungguh diapun galau. Hendak kemana ilmu ini dibawa? Tanpa adab yang sebagai suluhnya.
MASYKUR SUYUTHI, penulis pendidik di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Hidayatullah melalui Hidayatullah Group Technology meluncurkan aplikasi doa harian dalam rangka membantu memudahkan kaum muslimin untuk mengamalkan doa atau zikir harian.
Aplikasi ini memuat bacaan doa harian pilihan di waktu pagi, sore dan malam dalam bahasa Arab. Materi aplikasi ini disadur dari lembar At Tawajjuhat yang diterbitkan oleh Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah. Aplikasi juga dilengkapi dengan terjemahan Bahasa Indonesia serta referensi riwayat lafaz doa pilihan.
Aplikasi Wirid Harian (At Tawajjuhad) versi 1.0 berbasis android ini kini sudah dapat diunduh secara gratis melalui Google Play Store (linknya di bawah ini). Aplikasi ini kompatibel di semua perangkat minimal pada OS Android 4.0.3 dan yang lebih tinggi.
Ketua Departemen Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah, Mohamad Nur Fuad, mengapresiasi kehadiran aplikasi doa harian besutan anak-anak muda ini dan berharap dapat dimanfaatkan tidak saja jamaah Hidayatullah tapi juga bagi masyarakat secara luas.
“Zikir adalah energi rohani meraih impian dan solusi problematika hidup. Zikir juga bagian dari pembinaan anggota, kader dan jamaah di masjid kampus Hidayatullah. Kehadiran aplikasi zikir ini sangat bermanfaat dan membantu mereka dapat membaca zikir dengan mudah,” kata Nur Fuad dalam obrolan dengan media ini, Kamis (8/8/2019).
Dengan aplikasi doa harian ini, pengguna bisa dengan mudah berdzikir yang bisa dibaca di waktu tertentu secara rutin bahkan tanpa memerlukan koneksi internet. Pilihan font serta beberapa pilihan setting opsional kian menambah eye catching aplikasi ini.
Fadhli Al Mutawakkil dari Hidayatullah Group Technology yang membesut aplikasi ini mengatakan aplikasi ini dibuat sederhana dan sesimpel mungkin yang tak memberatkan sistem perangkat smartphone pengguna .
Mutawakkil pun memastikan timnya akan terus melakukan perbaikan dan pengembangan dari waktu ke waktu agar aplikasi ini bisa menjangkau serta memberi manfaat lebih luas khususnya bagi masyarakat muslim.
“Ini masih versi awal yang mungkin masih terdapat kekurangan sehingga akan terus dilakukan penyempurnaan,” kata Mutawakkil yang juga alumni Sekolah Tinggi Teknologi (STT) STIKMA Internasional ini. (ybh/hio)
DENPASAR (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka menyiapkan personil yang handal dan profesional dalam pengelolaan Baitut Tamwil Hidayatullah (BTH), Hidayatullah Micro Finance (HMF) kembali mengadakan pendidikan dan latihan (Diklat) untuk calon pengelola dan pengurus Baitut Tamwil Hidayatullah. Kegiatan Diklat kali ini adalah angkatan ke-5 setelah diadakan di Jakarta, Semarang, Depok dan Bandung.
Pembukaan Diklat bertempat di Aula Pesantren Hidayatullah Denpasar-Bali yang dihadiri oleh para peserta Diklat dari berbagai daerah dan pengurus DPW-DPD Hidayatullah se-Bali.
Istimewa, pembukaan Diklat dihadiri langsung oleh H.M. Taufik As’adi, S.Ag selaku Ketua Umum MUI Provinsi Bali, jajaran Direktur Bank Fajar Syariah Bali dan perwakilan ormas Islam Bali.
Dalam sambutannya, H. Taufik Ashad mendukung penuh rencana kehadiran BTH di Bali. Bahkan beliau berharap kiranya BTH bisa menjadi mediator dan wasilah dalam pemberdayaan ekonomi umat muslim Bali.
“Semoga BTH bisa segera berdiri di seluruh pelosok Bali sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh umat,” pesannya di hadapan seluruh peserta Diklat dan tamu undangan.
Di kesempatan yang sama, Kepala Departemen Koperasi dan Kewirausahaan DPP Hidayatullah Ust Ruhyadi, S.Sos.I mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini.
“Insya Allah DPP Hidayatullah berkomitmen menghadirkan BTH di seluruh kampus Hidayatullah karena kehadiran BTH pada saat ini sangat strategis serta dibutuhkan oleh jamaah Hidayatullah dan masyarakat muslim lainnya,” kata Ruhyadi.
Diklat yang digelar selama empat hari sejak hari Senin hingga Kamis (5-8 Agustus) ini diikuti oleh puluhan peserta utusan terpilih dari beberapa DPW Hidayatullah seperti utusan dari DPW Bali, Jatim, Jateng, DIY, Kepri, Sulawesi Tenggara dan Papua.
Ada juga utusan khusus dari kampus utama Hidayatullah Surabaya dan Makasar. Adapun setelah pembukaan Diklat di Aula Pesantren Hidayatullah Denpasar, kegiatan bertempat di Hotel Al-Kyfa – Denpasar Bali.
Terakhir, Saiful Anwar, SE, ME ketua Hidayatullah Micro Finance sebagai penanggung jawab Diklat ini sangat optimis dengan kegiatan Diklat ini.
“Insya Allah setelah Diklat ini kami akan adakan Diklat Khusus di beberapa Perguruan Tinggi Hidayatullah dalam rangka menyiapkan kader-kader penggerak ekonomi Islam kedepan,” ujarnya dengan penuh semangat.*/Hidayatullah, SHI, M.Ag,Sekretaris HMF
KUDUS (Hidayatullah.or.id) — Berbagai prestasi membanggakan berhasil di raih oleh murid Sekolah Dasar Integral (SDI) Luqman Al Hakim, Kampus Hidayatullah Kudus pada tahun ajaran baru ini.
Prestasi tersebut masing-masing di raih oleh Haidar Sayyid Al Faruq siswa kelas 5 SDIT Luqman Al Hakim Kudus sebagai juara 2 MTQ tingkat kecamatan Kota yang di laksanakan belum lama ini.
Salah satu Guru SDIT Luqman Al Hakim Kudus, Ustadz Chitam menjelaskan bahwa Ayik atau sapaan akrabnya Haidar, memang sudah menjadi langganan juara MTQ di tingkat kecamatan Kota.
Lain halnya dengan Tiara Najla Salsabila siswi kelas 6 SDIT Luqman Al Hakim, yang berhasil menjadi juara 2 Lomba Gambar Bercerita Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat kecamatan Kota yang di laksanakan oleh UPT Pendidikan Kecamatan Kota Kudus, pada hari Kamis (24/7/2019).
“Ananda Tiara salah satu siswa multitalent, Banyak prestasi yang diraih dari berbagai jenis perlombaan, mulai lomba Rangking 1, mewarnai, menggambar, pantun puisi bertauhid, sampai panahan” ujarnya.
Dan dari bidang Olahraga pun turut menyumbang prestasi, yakni Wildan Aslam Nawaaf Tsaqiif berhasil keluar sebagai juara 3 dalam turnamen Bulu Tangkis ‘Djarum Cup’ yang di adakan pada hari Jum’at (2/8) di GOR Djarum Kaliputu.
Ustadzah Atun, panggilan akrab Siti Fatichatun, selaku wali kelas 3 SDIT Luqman Al Hakim Kudus mengaku bangga dengan prestasi yang diraih oleh ananda Wildan, yang menurutnya berhasil menunjukkan kemampuannya dalam bidang olahraga bulu tangkis.
“Semoga prestasi yang diraih kali ini bisa memberikan motivasi untuk teman-teman yang lain untuk bisa breprestasi, bukan hanya dalam bidang akademis, tapi juga dalam bidang lain seperti olah raga, seni ataupun bidang lain yang ditekuni” tambahnya.*/Realis Fachry
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 108 mahasiswa baru Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan dari semua Program Studi (Prodi) mengikuti kegiatan Daurah Takrifiyah dan Tarbawiyah selama 40 hari.
Pembukaan acara yang dikenal dengan tanda pagar #TC40Hari tersebut digelar di Aula Serba guna PUZ, Jalan Mulawarman, Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur, Jumat, 2 Agustus 2019.
Acara pembukaan dihadiri sejumlah pembina Pesantren Hidayatullah Balikpapan, unsur yayasan, dan dosen pengajar serta tamu undangan lainnya.
“Saya berharap adik-adik mahasiswa baru dapat memanfaatkan acara ini untuk mengenal tentang dunia kampus, terutama proses belajar hingga kalian menyandang sarjana,” kata Ketua Dewan Pembina Pesantren Hidayatullah, Hasyim. HS dalam sambutannya.
Ia menuturkan, materi-materi dan setiap kegiatan yang diberikan dalam Daurah #TC40Hari jangan sampai terlewatkan sebagai modal dalam menjalani perkuliahan nantinya.
“Waktu 40 hari ini harap dimanfaatkan sebaik-baiknya, sehingga adik-adik langsung memahami benar tentang dunia kampus yang berada di lingkungan pesantren ini,” ujar anggota Dewan Senat STIS.
Senada, Ketua STIS, Masykur Suyuti mengingatkan pentingnya adab sebelum ilmu atau kuliah. “Daurah selama 40 hari juga bertujuan untuk mengikis karakter negatif dan menumbuhkan kebiasaan baik sebagai gantinya kelak,”
Menurut Masykur, masa 40 hari diharapkan bisa melahirkan karakter baru dan semangat baru untuk menjalani penempaan tiga sampai empat tahun ke depan.
Dalam kesempatan terpisah, Naspi Arsyad, tokoh masyarakat Kaltim, menguatkan soal tujuan berilmu. Baginya, pantang lulusan STIS meraih gelar sarjana sedang dia tak juga memberi kontribusi yang riil bagi masyarakat.
Diketahui, di antara program pokok Daurah #TC40Hari adalah menghafal dua juz al-Qur’an dan 40 hadits Arbain Nawawi selama 40 hari, kajian adab, tazkiyatun nufus, akidah, serta sejarah Pesantren Hidayatullah.
“Selain ajang menguatkan ukhuwah, masa orientasi ini bermanfaat buat kami sebagai mahasiswa baru,” kata Abdullah, mahasiswa Prodi Hukum Ekonomi Syariah, asal Bone, Sulawesi Selatan ini.
“Mohon doa semoga cita-cita saya sebagai juru dakwah terwujud melalui kuliah di STIS,” tutupnya tersenyum.*/Daeng Situju
BEBERAPA hari ini, ramai soal pemadaman listrik yang menyelimuti wilayah Jabodetabek, hingga di sebagian Pulau Jawa. Seperti biasa, berbagai analisis dan komentar bermunculan dari warganet.
Mulai dari yang serius, memberi solusi, hingga yang sekadar guyonan atau nyinyiran belaka. Ia nyaris menjadi topik yang paling banyak dibicarakan orang saat ini.
Tulisan ini bukan hendak menambah viral berita PLN Padam di atas. Namun dalam kehidupan manusia, tidak hanya listrik yang kadang bermasalah dengan transmisi alias pengiriman atau penyebaran arus.
Bicara ilmu pun demikian. Ilmu juga punya jaringan, yang terkoneksi dengan perangkat lainnya. Jika ada error di ketersambungan tersebut, maka dijamin ada yang terganggu dan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Ilustrasi sederhana bisa dilihat pada seutas kabel yang ada di sekeliling. Terkadang ada orang yang terkejut hingga melompat kaget gara-gara tersengat arus listrik walau sekejap. Penyebabnya, ia tak menyangka ada aliran listrik pada kabel yang dianggapnya tampak halus dan kecil.
Di tempat berbeda, ada gulungan kabel yang teronggok di pinggir jalan. Meski besar ternyata tak terjadi apa-apa. Sengaja disentuhpun, kabel besar itu tak memberi respon sedikitpun. Akhirnya, kadang gulungan kabel itu jadi wahana bermain anak-anak saja. Kadang dinaiki, diduduki, sampai dilompati kesana kemari.
Sampai di sini, apa yang berbeda di antara keduanya? Jawabnya, ini adalah soal ketersambungan tersebut. Meski kecil atau cuma serabut, tapi saat punya koneksi, maka seutas kabel itu seketika punya power dan berdaya. Namun meski bodinya besar dan punya lilitan panjang kalau terjadi miss connecting, hasilnya tak ada apa-apa.
Lihat saja yang terjadi pada pemadaman PLN lalu. Semua perangkat sudah lengkap namun saat kehilangan transmisi atau aliran arus, nyaris yang dikata perangkat hebat dan canggih itu tak berarti apa-apa tanpa ketersambungan.
Bagaimana dengan ilmu? Iya, jawabnya sama juga. Ilmu tanpa koneksi adab adalah nirmanfaat. Dari yang seharusnya mendatangkan maslahat dan kegunaan bagi orang banyak, bisa berubah menjadi petaka yang dahsyat untuk lingkungan dan orang-orang di sekitarnya.
Ilmu tanpa ketersambungan dengan amal atau amal tanpa terhubung dengan ilmu juga demikian. Apa-apa jadi melenceng akhirnya.
Ibarat anak panah yang melesat. Cepat tapi tidak tepat sasaran. Atau malah bisa jadi anak panah dan busurnya itu hanya jadi hiasan yang dipajang. Keduanya tak berarti apa-apa.
Bagaimana dengan ilmu? Apalagi. Ruh ilmu dalam agama adalah sanad yang jelas. Ilmu yang loss koneksi dengan wahyu sudah pasti loss adab.
Sebab adab adalah kebaikan dan kesantunan yang bersumber dari wahyu. Bukan sekadar slogan sopan, moderat, atau tepo seliro seperti yang biasa digaungkan media-media sekular.
Ilmu juga bukan hanya bermodal kecerdasan akal manusia. Ilmu tidak juga asal akal-akalan manusia atau yang biasa disebut cocoklogi.
Namun ilmu yang benar adalah yang senantiasa tersambung dengan adab dan amal shaleh. Ilmu adalah dorongan iman yang produktif. Ilmu adalah wahyu yang bekerja untuk rahmatan lil alamin dan kaffatan linnas.
MASYKUR SUYUTHI,penulis adalah guru di Kampus Induk Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Baitul Wakaf bersama Laznas BMH dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok mendorong para pemuda, terutama entitas muda di kampus, untuk sadar berwakaf. Dalam rangka itu, ketiga lembaga itu bersinergi menggelar Studium General Aksi Wakaf di Aula Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Ahad (04/08/2019).
Menurut Direktur Baitul Wakaf, Rama Wijaya, program tersebut penting untuk menyiapkan wakaf ke depan lebih hidup di tengah-tengah umat.
Rama Wijaya menilai membangun kesadaran masyarakat tentu saja butuh waktu dan butuh pola. Baitul Wakaf melihat kampus, anak muda adalah entitas strategis di masa depan.
“Maka event ini sangat penting guna menjadikan sosialisasi dan edukasi wakaf ke depan lebih baik lagi, sehingga perlahan apa yang selama ini menjadi potensi benar-benar menjadi kekuatan wakaf di Indonesia,” ungkap Rama.
Dalam acara tersebut, hadir sebagai narasumber Komisioner Badan Wakaf Indonesia (BWI) JE Robbyantono, Head Partnership PT Ammana Fintek Syariah Agus Kalifatullah Sadikin, dan Wakil Direktur Utama Laznas BMH, Supendi.
Robbyantono dalam paparannya menjelaskan perihal pentingnya wakaf produktif yang sejak masa Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah diteladankan.
Robbyantono mengatakan, Umar bin Khatthab itu mewakafkan kebun kurma. Bukan buah kurmanya, atau hasil penjualan buah kurma, tetapi kebunnya, inilah wakaf produktif. Jadi, terang dia, kalau perusahaan yang diwakafkan bukan keuntungannya, tapi yang diwakafkan adalah saham perusahaannya.
“Yang diwakafkan adalah engine-nya, yang diwakafkan adalah alat yang memproduksi, bukan hasil produksinya. Ini wakaf Umar bin Khatthab,” urai Robbyantono.
Sementara itu, Agus Kalifatullah menjelaskan betapa wakaf sekarang sangat mudah untuk disosialisasikan dan dilakukan.
Menurutnya, dengan perangkat modern era 4.0 interaksi kebaikan sangat memungkinkan dilakukan tanpa harus tatap muka.
“Nah, di sini wakaf bisa kita lakukan, sehingga jika dapat dimaksimalkan, maka akan banyak saudara kita terbantu oleh pemberdayaan dari hasil wakaf, sehingga mereka selamat dari jeratan rentenir pinjaman online,” jelas Kalifatullah.
Ia mengatakan bahwa kehadiran teknologi di era saat ini harusnya dimanfaatkan oleh para generasi muda untuk menjadikannya peluang dalam berwakaf.
Kalifatullah pun menantang para generasi muda agar mampu melakukan hal tersebut.
Pada kesempatan yang sama, Supendi mengajak komponen anak muda untuk melek dengan wakaf agar ke depan pola pemberdayaan bisa semakin variatif, massif dan efektif.* Herim
SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Mahasiswa Semester VIII Sekolah Tinggi Agama Islam Lukman Al Hakim (STAIL) mengikuti Ujian Tahfidz Terbuka yang diselenggarakan di Masjid Aqshal Madinah, Komplek Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Provinsi Jawa Timur (Jatim), Sabtu (02/08/2019).
Para peserta Ujian Tahfidz Terbuka ini adalah mahasiswa program takhassus STAIL yang akan maju ke panggung wisuda dan sekaligus mendapatkan amanah penugasan dakwah pada bulan September nanti jika dinyatakan lulus menjalani ujian kali ini.
Kegiatan ujian terbuka ini berlangsung khusyuk dan khidmat. Dua orang pakar Al Qur’an yang juga penguji duduk bersila di balik meja setinggi betis dengan Qur’annya masing-masing.
Di hadapan penguji, mahasiswa secara bergiliran diuji dengan rentang waktu yang relatif lama. Peserta ujian harus fokus menyimak bacaan dan pertanyaan dua orang penguji agar bisa menjawab dengan tepat. Sementara itu, mahasiswa yang sedang menanti giliran tampil, pun tampak berkonsetrasi menelaah lembaran Al Qur’an yang dipegangnya.
Diketahui, STAIL Surabaya sebagai sekolah tinggi di bawah naungan ormas Hidayatullah memang mewajibkan para mahasiswa untuk memiliki hafalan Al-Qur’an minimal 5 juz.
Para mahasiwa ini nantinya akan disebar ke seluruh pojok nusantara khususnya di jaringan Hidayatullah, termasuk memenuhi permintaan masyarakat terhadap kebutuhan tenaga penyuluh agama di daerah pedalaman, minoritas dan tertinggal.
Harapannya, dengan adanya bekal hafalan Al Qur’an dan internalisasi kandungannya dalam kehidupan sehari hari ini, mereka kelak bisa menjadi teladan dai yang baik di tempat di mana mereka bertugas.
Ujian Tahfidz Terbuka STAIL Suranaya ini sendiri telah diadakan secara terbuka sejak empat tahun yang lalu dan telah berhasil menelurkan ratusan dai pembangun bangsa yang mengabdi di berbagai daerah di Indonesia.
Kali ini, STAIL menghadirkan dua orang penguji, yaitu Syeikh Muhammad Mahdi al Yamani asal Yaman yang kini menjadi mudir di kelas Tahfidz Hidayatullah Surabaya dan Ust Baihaqi, LC, yang merupakan pengajar serta salah satu pengasuh di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya.*/Muhammad Faruq