Beranda blog Halaman 499

Gubernur Sambangi Kampus Hidayatullah Bengkulu Selatan

BENGKULU SELATAN (Hidayatullah.or.id) — Gubernur Provinsi Bengkulu Dr. H. Rohidin Mersyah bertandang Kampus Hidayatullah Kabupaten Bengkulu Selatan (Bengsel) pada Sabtu (09/03/2019).

Dalam kunjungannya itu Gubernur Rohidin meluangkan waktu meninjau asrama santri sekaligus menyalurkan bantuan kepada bakal Pondok Pesantren Hidayatullah yang terletak Jalan Tebat Serai III Padang Kapuk, Kelurahan Padang Kapuk, Kecamatan Kota Manna, Bengkulu.

Saat tiba di Pondok Pesantren Hidayatullah, Gubernur disambut hangat Pengurus dan pimpinan Yayasan Hidayatullah Bengkulu. Dalam sambutannya, Gubernur berharap Pondok Pesantren Hidayatullah Bengkulu Selatan terus mengalami perkembangan dan memantapkan kiprahnya di Bumi Rafflesia tersebut.

Gubernur juga mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan di pesantrenan tersebut yang kini telah mendirikan asrama santri dan masjid lingkungan. Apalagi pendirian kampus Hidayatullah Bengkulu Selatan tersebut digawangi oleh anak-anak muda.  Pada kesempatan tersebut Gubernur menyalurkan bantuan berupa uang tunai dan Al-Qur’an.

Kiprah pemuda

Di masa awal perlangkahannya, Kampus Hidayatullah Bengkulu Selatan digawangi oleh anak-anak muda. Mereka adalah Julius Hidayat dan Ahmad Maulana yang didampingi seorang anak santri SMA Hidayatullah Bengkulu bernama Muhammad Hamka.

Saat ditugaskan ke wilayah ini pada 10 November 2016 lalu oleh Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Bengkulu, mereka baru empat bulan lulus SMA yang saat itu sedang menjalani masa pengabdian sebelum masuk ke bangku kuliah.

Dengan dorongan dan motivasi yang selalu digelorakan oleh para guru-gurunya selama bersekolah, Julius dan Maulana akhirnya memutuskan untuk siap untuk merintis di Bengkulu Selatan. Setelah meminta izin dan restu kepada orangtua mereka, esok harinya mereka langsung berangkat ke Bengkulu Selatan.

Sejatinya nama Bengkulu Selatan sudah sering mereka dengar. Tapi mereka belum pernah ke daerah ini. Julius misalnya. Walaupun dirinya berasal dari Kapahiang, ia asing dengan Bengkulu Selatan.

“Tugas ini juga sekaligus kali pertama kami ke Bengkulu Selatan,” katanya dalam obrolan dengan Hidayatullah.or.id, Ahad (10/3/2019).

Debut dakwah pun dimulai. Mereka datang ke Bengkulu Selatan dengan bermodal keberanian dan tawakkal. Meski belum jelas siapa yang akam ditemui, mereka yakin saja. Tempat yang dituju pertama kali adalah masjid. Sebab, memang tak ada orang yang dikenal. Keluarga pun tak ada.

“Pesan Ustadz Subur kepada kami, luruskan niat semata-mata untuk berdakwah dan mengabdi menyebarkan Islam. Jaga ibadah dan akhlak, menjadi teladan. Begitu juga dulu para pendiri Hidayatullah sehingga bisa eksis. Itulah spirit yang selalu kami pegang,” kata Julius.

Selain pesan tersebut, mereka juga didorong oleh semangat dakwah yang telah dicontohkan oleh para pendiri dan dai senior Hidayatullah yang tidak pernah pilih-pilih tugas. Bahkan kebanyakan mereka bukan sarjana. Dimanapun ditugaskan, di situ mereka mengabdi dan memberi manfaat untuk umat.

Sebagai anak muda apalagi baru lulus SMA, keduanya sadar sangat terbatas dan tak memiliki bekal yang memadai terutama kemampuan keilmuan. Namun, mereka mengaku selalu ingat pesan sang guru bahwa tak perlu menunggu sarjana untuk berdakwah.

“Kalau dalam tugas ini antum belum menemukan kenikmatan Islam, cek kembali keihlasannya, pengorbanannya dan komitmennya. Barangkali belum maksimal,” kata Julius, menirukan pesan yang selalu disampaikan Ust Subur Pramudya selaku Ketua DPW Hidayatullah Bengkulu yang menugaskan mereka.

Selama sebelas bulan tinggal di masjid Masjid Baiturrahman yang berada di Kelurahan Pasar Baru Kota Manna, mereka menjadi pengajar TPA Al Qur’an mengajarkan anak-anak sekitar masjid. Menjadi marbot. Mereka juga selalu membantu warga yang butuh bantuan apa saja.

Selain itu, mereka kerap diminta menjadi khatib Jumat antar masjid serta pernah mengadakan kegiatan pelatihan imam khatib Jumat dan khitanan massal dengan bekerjasama dengan lembaga sosial.

Pada akhir bulan Desember 2017 mereka mendapatkan amanah tanah wakaf ± 1 ha dari Bapak Sodik yang berlokasi di Desa Air Kemang, Pino Raya. Selanjutnya pada 10 April 2018 pihaknya kembali mendapatkan amanah tanah hibah ± 3000m2 yang berlokasi di Kelurahan Padang Kapuk, Kota Manna, dari Bapak Fajar.

Kegiatan rutin yang dilakukan pada saat ini diantaranya menjadi guru ngaji anak-anak dan ibu-ibu di Masjid Al-Mukhlisin, menjual Majalah Hidayatullah, khutbah Jumát, ceramah agama, mencari donatur, silaturrahim ke berbagai tokoh dan masyarakat Bengkulu Selatan serta mengurus anak-anak santri. (ybh/hio)

Bhayangkari Bangka Tengah Sambangi Ponpes Hidayatullah

0

BANGKA TENGAH (Hidayatullah.or.id) — Ketua Cabang Bhayangkari beserta pengurus Bhayangkari cabang Bangka Tengah melaksanakan kunjungan Pondok Pesantren Hidayatullah di Desa Teru, Desa Simpang Katis, Kecamatan Simpang Katis, Kabupaten Bangka Tengah, belum lama ini.

Dalam kunjunganya itu, Ketua Cabang Bhayangkari Bangka Tengah, Ny. Tuty Edison Sitanggang beserta pengurus juga didampingi oleh Kapolres Bangka Tengah AKBP Edison Ludi Bard Sitanggang dan juga Kapolsek Simpang Katis AKP. Raden Hasir,MH.

Mula-mula rombongan Bhayangkari mengunjungi Polsek Simpang Katis untuk melihat situasi Polsek dan dilanjutkan dengan mengunjungi Rumah Batik Pakis.

Setelah mengunjungi Rumah Batik Pakis, rombongan Bhayangkari meyambangi Pondok Pesantern Hidayutllah yang berada di Desa Teru Kecamatan Simpang Katis dan sekaligus memberikan tali kasih berupa sembako untuk pondok pesantren yang disambut langsung oleh pimpinan Pesantren Hidayatullah Bangka Tengah dan anak-anak binaannya dari kalangan dhuafa di bawah program kepantian Pusat Pendidikan Anak Shaleh (PPAS).

Seperti diketahui, Bhayangkari merupakan organisasi istri anggota Polri yang lahir pada tanggal 17 Agustus 1949 di Yogyakarta. Di samping mendampingi suaminya yang merupakan anggota polisi, Bhayangkari juga punya peranan penting baik di dalam maupun di luar organisasinya itu.

Bhayangkari merupakan organisasi perkumpulan istri-istri polisi dari level bintara hingga perwira. Sebagai sebuah organisasi, Bhayangkari memiliki banyak kegiatan positif, di antaranya kegiatan-kegiatan sosial.(ybh/hio)

Financial Technology Syariah Sebuah Keniscayaan  

DISRUPTIVE Innovation telah merambah diberbagai aspek kehidupan. Sebuah inovasi berhasil mentransformasi suatu sistem atau pasar yang eksisting, dengan memperkenalkan kepraktisan, kemudahan akses, kenyamanan, dan biaya yang ekonomis, dikenal sebagai Inovasi Disruptif (Disruptive Innovation).

Pada awalnya, istilah ini dilontarkan pertama kalinya oleh Clayton M. Christensen dan Joseph Bower di tahun 1995 lalu. “Disruptive Technologies: Catching the Wave”, Harvard Business Review (1995). Saat ini dikenal juga dengan sebutan disruption. Meski bukan “barang” baru, kehadirannya telah mengubah cara bisnis, bahkan kemudian mendeterminasi perilaku umat manusia.

Dengan revolusi teknologi yang sangat dahsyat dan teknologi informasi sebagai katalisatornya sekaligus faktor utamanya, semakin memacu laju disruption ini. Banyak aktifitas menjadi tersubstitusi. Sesuatu yang tidak dibayangkan beberapa tahun lalu, kini nyata terjadi. Menyeret siapapun : mau tidak mau, suka tidak suka, untuk mengikutinya.

Jika tidak mau atau menghindar, dapat dipastikan kemudian akan terlempar bahkan tertindas oleh arus disruption yang tidak terbendung ini. Berkurangnya cabang bank, di Eropa dan juga di Indonesia, yang menyebabkan terlemparnya bankers, menjadi contoh riil dari disruption ini. Bahkan, diramalkan akan banyak pekerjaan yang dilang akibat disruption ini, beberapa tahun ke depan.

Fenomena Disruptiion menurut Mulyawan D Hadad, juga terjadi di Industri Jasa Keuangan yang telah men-disrupsi landscape Industri Jasa Keuangan secara global. Mulai dari struktur industrinya, teknologi intermediasinya, hingga model pemasarannya kepada konsumen. Keseluruhan perubahan ini mendorong munculnya fenomena baru yang disebut Financial Technology (Fintech).

Financial Technology (Fintech) merupakan konsekwensi logis dari disruption ini. Fintech melahirkan berbagai moda baru yang lebih praktis, cepat dan mudah bagi konsumen (nasabah) dalam mengakses produk dan berbagai jenis layanan keuangan. Demikian juga, sebagaimana disampaikan Budi Raharjo, ternyata mempermudah bagi officer dalam melayani konsumen (nasabah). Keberadaan fintech-pun kemudian menggilas industri keuangan konvensional dan merevolusi cara kerja institusi keuangan tradisional.

Interaksi nasabah dalam kegiatan perbankan, misalnya, menjadi semakin dinamis. Seperti ditunjukkan oleh survey McKinsey & Company (2015); sejak 2011, adopsi layanan digital-banking meningkat pesat di seluruh Asia. Nasabah beralih pada komputer, smartphone dan tablet dalam interaksinya dengan perbankan – menjadikan kegiatan berkunjung ke kantor cabang dan bercakap lewat saluran telepon untuk menikmati layanan perbankan, jauh berkurang.

Sementara itu dalam majalah ICT edisi Maret 2017, PwC Indonesia Financial and Services Industry Leader menyampaikan, dalam sebuah survei-nya mencatat bahwa transaksi keuangan melalui kantor cabang terus menyusut dimana jika berdasar survei tahun 2015, sebanyak 75 persen bankir yang menjadi responden menyatakan lebih dari separuh transaksi keuangan di banknya terjadi melalui kantor cabang, di 2017 ini, transaksi tersebut tinggal 45 persen. “Terjadi pergerseran selama dua tahun terakhir”.

Disisi lain, transaksi keuangan berbasis digital meningkat tajam. Jika pada 2015 ada 27 persen transaksi keuangan melalui telepon dan internet baru seperempat dari total transaksi keuangan di bank mereka, namun transaksi tersebut kini mencapai 48 persen. Pergeseran minat nasabah terkait layanan keuangan sudah lama diprediksi oleh para bankir. Menurut PwC, sebanyak 59 persen bankir global memperkirakan nasabah akan bermigrasi dari melakukan transaksi di kantor cabang menjadi melalui saluran digital.

Mc Kinsey mengutip dari APJII, menyatakan bahwa pengguna internet Indonesia adalah 132 juta, setara dengan 52,17 persen dari total populasi penduduk Indonesia. Dimana 73 persen-nya dilakukan melalui telepon seluler (ponsel) pintar, alias gadget. Laporan tahun 2016 itu, mengindikasikan bahwa, Indonesia menjadi pasar yang renyah untuk bisnis perdagangan online (e-commerce), dan tentu saja financial technology (fintech) sebagai faktor ikutannya. Di saat semua keputusan ada di ujung jari, maka pertarungan bisnis ke depan akan semakin kompetitif. Sehingga, siapapun yang tidak memanfaatkan teknologi, maka dia akan habis terlibas. Belum lagi jika dikaitkan dengan disruptive teknologi, yang kini mengalami percepatan luar biasa. Dan memasuki hampir disemua lini bisnis.

Platform Fintech

Menurut Mulyaman D Hadad, Pelaku FinTech Indonesia masih dominan berbisnis payment (43%), pinjaman (17%), dan sisanya berbentuk agregatorcrowdfundingdan lain-lain. Semenjak awal tahun 2000-an, telah terjadi fenomena fintech di dunia sebagai akibat dari revolusi industri fase ke-4 (Revolusi Industri 4.0). Hal itu yang dimaknai sebagai digital revolution. Pendorong utamanya adalah teknologi. Revolusi digital itu terjadi pada semua sektor bisnis, tapi jika ia diimplementasikan di sektor finansial atau keuangan, maka disebut fintech, yang merupakan akronim dari kata financial dan technology.

Pada awalnya, istilah fintech digunakan untuk teknologi yang dipakai pada back- end customer dan/atau institusi finansial yang sudah mapan. Namun, krisis keuangan tahun 2008, menyebabkan timbulnya sebuah pasar luas bagi perusahaan kecil/rintisan (khususnya start-up) untuk menciptakan sebuah produk inovatif, yang menyediakan solusi big data bagi institusi-institusi finansial yang telah ada. Jadi, semenjak akhir dekade pertama abad 21, istilah fintech sudah berkembang melingkupi inovasi teknologi di sektor finansial, seperti inovasi di literasi finansial, personal banking, commercial banking, investasi dan sebagainya.

Sebagaimana dikutip dari Majalah Channel Desember 2016, di Indonesia, fintechmerupakan suatu hal terpopuler kedua setelah e-commerce. Malahan menurut prediksi Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, jika startup-startup fintechtersebut menjadi semakin mapan di masa depan, mereka yang akan turut merasakan keuntungan dari transaksi e-commerce yang nilainya akan mencapai US$135 miliar pada 2020.

Perusahaan fintech membuat produk-produk yang terbagi atas beberapa kategori, antara lain uang elektronik (e-money), pinjaman/ kredit (loan based crowdfunding atau lending), gadai (pledge), pembayaran (payment)reward dan donation based crowdfunding, perencanaan keuangan (financial planning), pasar modal (capital market), internet banking, dan perbandingan produk jasa keuangan.

Regulasi

Dalam banyak kasus, regulasi seringkali tertinggal dengan perkembangan teknologi. Sehingga, sebuah bisnis berbasis teknologi yang sudah berjalan, bahkan menjadi trends, baru kemudian disusul dengan lahirnya aturan. Apapun itu, sebagaimana pepatah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Secara regulasi, sebenarnya pemerintah melalui OJK (Otoritas Jasa Keuangan) telah menerbitkan POJK No. 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Langsung Berbasis Teknologi Informasi (LMPUBTI) atau Peer-to-Peer Lending.

Regulasi ini cukup memberikan aturan main yang menjamin kepastian terkait dengan fintech. Namun harus diakui, masih banyak yang belum di atur dalam regulasi ini. Aturan main crowdfunding, digital banking, dlsb masih belum ter-cover dalam regulasi ini. Termasuk diantaranya adalah ketentuan tentangf fintech syariah, sebagaimana yang terjadi di industri finansial syariah lainnya yang tidak berbasis teknologi yang sudah diatur baik melalui UU sampaidengan POJK..

Olehnya, dalam catatan Mulyaman D. Hadad, perlu dibentuk Fintech Innovation Hub oleh OJK yang berperan dalam : 1) Koordinasi Lintas Kementerian dan Lembaga,2) Pengembangan Industri FinTech yang sesuai Kebutuhan masyarakat,3) Pengembangan Sandbox untuk model bisnis FinTech yang baru dan potensial 4) Penyediaan sarana komunikasi (antara lain website FinTech) antara regulator dan industri FinTech. Dan menurut saya juga penting untuk dibentik pokja (kelompok kerja), yang membidani lahirnya regulasi berkenaan dengan fintech syariah. Sehingga regulasi yang ada, akan mengakomodasi kepentingan bisnis dan industri dari berbagai sisi.

Sebuah Keniscayaan

Sebagaimana kita ketahui bahwa literasi keuangan syariah pada tahun 2016 hanya 8,11 persen dengan indeks inklusinya sebesar 11,6 persen. Sementara itu, tujuan Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) pemerintah adalah agar 75 persen penduduk Indonesia memiliki akses terhadap produk keuangan di tahun 2019. Sehingga kehadiran fintech dan terutama fintech syariah itu, adalah untuk mendekatkan umat agar melek atas keuangan syariah. Sebab, secara tidak langsung saat ini, hampir semua transkasi keuangan, sudah bisa dilakukan dengan gadget, sehingga lebih dekat dengan umat. Dimana menurut IdEA, 55% waktu rakyat indonesia menggunaka waktunya untuk online, dengan berbagai perangkat, dan sebagian besar menggunakan smartphone.

Sehingga kehadiran fintech syariah ini, menjadi sebuah keniscayaan. Tentu saja, Fintech Syariah bukan hanya sekedar menjadikan platform Financial Technologi yang ada, kemudian diberi label syariah. Akan tetapi, fintech syariah seharusnya lebih mendasar dari itu. Yaitu secara fundamental dan substansial harus berdasar kaidah fikih dan syariah yang berlaku. Meskipun platform yang ada bisa dijadikan benchmarking bagi pengembangan fintech syariah ini. Platform bisnis industri keuangan, yang tidak/belum berbasis teknologi, dijadikan dasar dalam menerapkan fintech syariah. Sebagaimana, disebutkan di atas, bahwa secara regulasi Fintech Syariah belum ada aturan resminya dari OJK.

Setidaknya, dalam fintech syariah apapun itu bentuknya, harus memperhatikan dan memiliki kriteria khusus yang harus dipenuhi agar halal saat diaplikasikan. Untuk menentukan halal haram sebuah bisnis syariah, banyak syarat yang harus dipenuhi, antaranya tidak mengandung unsur maisyir (judi), ribaghoror (penipuan), mudharat (efek negatif), dan al-Jahalah (tidak ada transparansi) antara penjual dan pembeli. Dengan demikian maka menghadirkan Fintech Syariah tetu saja tantangan sekaligus peluang yang menjadi sebuah keharusan, bagi yang memiliki kompetensi di dibang itu (fardhu kifayah).

Tantangan Fikih

Perkembangan teknologi, secara langsung dan tidak langsung mengubah pola muamalah umat. Sesuatu yang dulu tidak ada, kini bermunculan. Sehingga dalam satu sisi, fikih seringkali tertinggal dari laju teknologi dan muamalah. Disini, butuhkan hadirnya ulama kontemporer, yang faqih terhadap kaidah fikih dan usul, serta mengerti dinamika kontemporer. Saat ini, kualifikasi dan kapasitas ulama sebagaimana tersebut, sulit untuk ditemukan melekat dalam satu orang. Olehnya, dibutuhkan majelis (sebagaimana DSN-MUI), yang terdiri dari beberapa ulama multidisipliner, sehingga hasil fatwanya, akan komprehensif, berkenaan dengan masalah yang dibahas.

Fintech, akan menjadi kebutuhan riil dari umat manusia. Kemudahan, kecepatan dan seluruh fasilitas yang menyertainya menjadi daya tarik, untuk memenfaatkannya. Saat ini-pun, kita juga sudah jarang memegang uang fisik, saat melakukan transaksi. Dengan berbagai bentuk teknologi, maka semua bisa terjadi. Kita seringkali hanya melihat angka, baik di gadget, atm dan lain sebagainya. Semua itu, berkat adanya Fintech. Perkembangan teknologi, seolah tidak bisa kita lawan. Transaksi konvensional, lambat atau cepat akan ditinggalkan. Menuju model transaksi baru, yang kesemuanya cashless.Olehnya perlu dihadirkan sebuah fintech, yang berbasis syar’i. Dengan platform teknologi apapun juga, agar tetap sesuai dengan ketentuan syar’i.

Berkenaan dengan Fintech dan juga muamalah lainnya, ada baiknya kita merujuk pada kaidah fikih yang mashur ini : “Al-Aslu fii al muamalati al-ibahatu illa an yadula daliilu ‘ala tahriimiha” (As-Syuyuti, Al-Asybah wan an-Nazhair, 60). Artinya pada dasarnya, segala sesuatu dalam muamalah boleh dilakukan, sampai ada dalil yang mengharamkannya. Sehingga, meskipun sekilas nampak mudah, namun sejatinya tidak sederhana. Karena dalam muamalah terdapat batasan-batasan itu, dan pasti melibatkan ulama yang kompeten di bidangnya. Tidak bisa merumuskan sendiri, jika tidak memiliki kapasitas untuk merumuskan halal-haram, syariah-tidaknya, bentuk muamalahnya yang kita dirikan. Olehnya, dari kaidah fikih ini, kemudian akan dikembangkan bagaimana implementasinya sesuai dengan kondisi realitas kekinian. Dan sudah barang tentu, tidak hanya satu kaidah ushul fiqh, namun beberapa kaidah ushul fiqh, akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari implementasi ini.

Penerapan ushul fiqh dalam metodologi ekonomi islam kontenmporer seperti ini, pastinya akan mengacu kepada beberapa beberapa metode, seperti : qiyas(analogi), istishansadd al-zariahmaslahah murshalah atau istishalah dan juga maqashid syariah, dan seterusnya. Dan kesemuannya ini, sesungguhnya menjadi tantangan riil bari para fuqaha (termasuk DSN-MUI), untuk menghadirkan fikh waqi’, yang kontemporer dan kontekstual sesuai dengan kebutuhan umat. Sehingga semua sisi muamalah umat, termasuk dalam membangun dan memanfaatkan fintech ini, dipandu dalam bingkai penerapan syariah. Dan hal ini, Insya Allah akan mendorong pula lahirnya start-up untuk menghadirkan fintech berbasis syariah ini. Wallahu a’lam


_______
*)ASIH SUBAGYO, penulis adalah Ketua Bidang Ekonomi DPP Hidayatullah dan penulis buku “Spektrum Ekonomi dan Bisnis Kita”. Naskah ini dikutip dari blog pribadinya atas izin yang bersangkutan. 

Kisah Dai Hidayatullah Merintis Pesantren di Lahan Angker

BUTON (Hidayatullah.or.id) — Pondok pesantren Hidayatullah di Kota Baubau tepatnya di bilangan Kilo Meter Lima, Kelurahan Kadolo Katapi, Kecamatan Wolio, telah menjadi salah satu tujuan utama belajar Agama Islam di kota ini. Yang datang berasal dari berbagai kawasana, hingga berbagai daerah di kawasan kepulauan Buton dan timur Indonesia lainnya.

Semua itu tak lepas dari tangan dingin seorang Mahrus Alam –ustadz dai Hidayatullah yang selama ini mendirikan dan membangun pondok tersebut. Ia juga banyak dipakai sebagai khatib di Masjid Raya Baubau beberapa tahun silam. Siapa Mahrus Alam sebenarnya? Ia pernah terekam dalam tulisan apik Republika, seperti berikut ini;

Tak pernah terlintas di benak Mahrus Alam untuk bertempat tinggal di pesantren. Apa lagi terjun di dunia dakwah. Namun semuanya berbalik arah, ketika tahun 1997, ia menyempatkan diri untuk berkunjung ke pondok Hidayatullah, Kendari. Awalnya, ia hanya ingin menjenguk adiknya yang tengah menuntut ilmu di pesantren tersebut.

Namun, belumlah lama kaki menginjak halaman pesantren, hatinya merasakan keteduhan. Kultur keislaman yang dipraktikkan para warga, serta tingginya animo melaksanakan ibadah di pesantren, terutama sholat tahajjud menjadi pesona tersendiri yang menumbuhkan hasrat dalam dirinya untuk bermukim di pesantren.

“Saya kagum dengan kultur ibadahnya terutama qiyamul lail, kultur ukhuwah yang begitu mesra dan juga lingkungan yang sangat Islami”, tutur mantan ketua OSIS MAN 1 Kendari ketika ditanya tentang alasannya masuk di pesantren Hidayatullah.

Seiring berjalannya waktu, hatinya pun mantap dan siap bergabung ke Pesantren. Baginya, atmosfer kebaikan yang berjalan di Pesantren adalah jawaban kegelisahan hatinya atas realitas kehidupan di luar yang jauh dari nilai-nilai Islam. Akhirnya dia berpamitan dengan kedua orang tuanya untuk berhijrah total ke Pesantren.

Untuk menambah bekalnya dalam bidang keilmuan, setelah dua tahun mengikuti proses pendidikan di pesantren, tepatnya tahun 1999 datanglah kepadanya tugas untuk memperdalam ilmu agama (ulumuddin) di Bogor selama setahun. Usai belajar di Bogor, dia ditugaskan kembali untuk belajar di Kudus.

Hanya enam bulan. Setelah menunaikan tugas belajar dia kembali bertugas di Hidayatullah Kendari. Kemudian, barulah pada tahun 2001 dia melepas masa lajangnya dengan menikahi Mujahidah Ustadzah Andi Nuryati, S.Ag dari Bone Sulawesi Selatan. Dan pernikahannya juga diadakan di Bone pula.

Sudah menjadi tradisi Hidayatullah, untuk mengirim para santrinya ke daerah-daerah, guna membuka cabang Hidayatullah. Tak terkecuali ustadz Mahrus. Tak lama setelah menikah, dia ditugaskan untuk merintis Pesantren di Buton Kepulauan.

Ini hal yang menantang. Disadarinya, daerah yang akan didatanginya merupakan medan dakwah yang sulit. Namun, dengan keyakinan yang kuat, bahwa pertolongan Allah SWT pasti akan berpihak kepada orang yang memperjuangkan agama-Nya, maka segala bayangan kesulitan itu tak menyurutkan langkahnya untuk berangkat bertugas.

Apa yang menjadi prediksinya, ternyata benar. Ketika ia telah terjun ke medan dakwah, ia langsung mendapat tantang besar prihal lokasi yang menjadi garapan dakwahnya.

“Ternyata lahan yang hendak dibangun pesantren terkenal angker. Terdapat pohon beringin besar yang diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai tempat berdomisilinya jin”, kata dia.

Karena itu pula, masyarakat takut mendekatinya meski di siang hari. Apalagi di malam hari. Belum lagi di depan lahan pesantren terdapat kuburan yang disakralkan oleh masyarakat sekitar.

Banyak kejadian aneh yang terjadi di pesantren, mulai kerasukan setan hingga dilemparinya pesantren dengan batu oleh oknum yang tak bertanggung jawab.

Optimis Berdakwah

Ustaz Mahrus Alam juga pernah ditantang oleh jin untuk beradu ilmu lewat lisan santri atau pembina yang kesurupan. Karena kondisi seperti ini, para pembina pun banyak yang tak betah tinggal di Pesantren dan lebih memilih tinggal di kota. Tapi, Ustaz Mahrus Salam tetap betahan di situ.

Selain tantangan berupa angkernya lahan pesantren, tantangan juga datang dari masyarakat yang dia dakwahi. Ketika mengawali dakwah, ia dihadapkan dengan penolakan masyarakat. Kehadirannya justru dicurigai sebagai pembawa ajaran baru yang akan mengubah tradisi mistik yang telah berakar di Jazirah Buton.

“Bila sekarang mereka menolak dakwah itu bukanlah disebabkan karena kebenciannya kepada apa saya dakwahkan ini. Tapi, penolakan itu disebabkan karena ketidatahuan mereka terhadap nilai kebenaran yang terkandung dalam dakwah yang saya bawa ini”, tutur ustadz yang lihai main bola ini.

Dengan sikap optimistis dan kesabaran, dia terus memberi penjelasan kepada umat. Lambat laun sikap umat pun berubah. Yang menolak menjadi menerima. Seruan dakwahnya mulai diterima umat secara luas. Aktivitas dakwahnya pun menjangkau semua kalangan.

Tak hanya masyarakat bawah. Tapi juga kalangan pejabat, tokoh masyarakat dan agama. Hingga saat ini, telah berdiri tiga kampus Pondok Pesantren Hidayatullah di Baubau dan kini merambah ke Pasar Wajo dan Buton Utara.

Dari mobilitas dakwahnya yang cukup tinggi, dia pun meraih berkah dari dakwahnya. Pada 2013 silam, ia memperoleh jatah umrah gratis bersama rombongan Gubernur Sulawesi Tenggara H. Nur Alam.

“Dengan sumber daya manusia dan finansial yang terbatas, tak mungkin kita akan mencapai keberhasilan seperti saat ini kalau bukan semata-mata pertolongan Allah,” katanya. (ybh/hio)

Rapimnas Hidayatullah 2019 Ajak Hidupkan Politik Silaturrahim

0

Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Hidayatullah di Hotel Balairung, Jakarta, resmi ditutup pada Rabu (6/3/2019). Acara yang berlangsung selama tiga hari tersebut menelurkan sejumlah rekomendasi terkait beragam isu kebangsaan terkini, diantaranya menyerukan para kader dan khalayak luas untuk mengedepankan politik silaturrahim. Berikut videonya:

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”i4BNfE7eDkI?rel=0&autoplay=1″][/youtube]

 

Lampung Hijrah Fair, IMS Gelar Hapus Tato 56 Sahabat Hijrah

LAMPUNG (Hidayatullah.or.id) — Acara Lampung Hijrah Fair 2019 dengan tema “Share Your Happiness” digelar di Balai Krakatau, Jl Imam Bonjol Nomor 100 ABK, Sumber Rejo, Kota Bandar Lampung, berlangsung sejak tanggal 1-3 Maret 2019.

Acara ini menjadi sarana hijrah bagi ribuan masyarakat Lampung. Lampung Hijrah Fair menghadirkan berbagai kegiatan positif terutama untuk kalangan muda Lampung yang sudah dan akan berhijrah.

Selama tiga hari, sejak Jumat lalu berturut-turut para sahabat hijrah disuguhkan dengan berbagai kegiatan. Seperti dakwah dari para ustadz ternama seperti Ustadz Wijayanto dan Handy Boni.

Ada pula kajian ilmu dari berbagai narasumber, kisah hijrah dari Ketua Mualaf Center Steven Indra Wibowo, berkumpul berbagai komunitas hijrah, dan bazar yang dimeriahkan oleh produk dan kuliner dari para pelaku UMKM di Lampung.

Pada kegiatan yang mendapatkan apresiasi dari Gubernur Lampung, Muhammad Ridho Ficardo, ini juga dihadirkan Layanan Hapus Tato Gratis dikomandoi oleh Islamic Medical Service (IMS) cabang Lampung untuk Sahabat Hijrah yang berdomisili di Lampung.

“Agama tidak pernah menghalangi anak muda untuk menjadi gaul dan keren. Saya melihat pemuda yang gaul dan keren menggagas program hapus tato di Lampung Hijrah Fair 2019, mereka semakin keren karena gaul untuk melegakan ribuan orang-orang bertato yang ingin kembali membersihkan diri akibat salah pergaulan di masa lalu,” Aris (40), warga, menyampaikan apresiasi terhadap layanan hapus tato yang sebelumnya program ini sudah berkeliling ke sejumlah daerah di Indonesia, terakhir Muara Baru Jakarta Utara dan Lapas Nusakambangan.

Hari pertama di Hijrah Fair Lampung, sebanyak 13 Sahabat Hijrah Lampung terlayani dalam penghapusan tatonya, kemudian pada hari kedua sebanyak 43 orang.

Hapus tato pada Hijrah Fair Lampung ini mencuri perhatian para pengunjung. Bagi mereka program keren ini sangat luar biasa karena membantu kawan-kawan yang telah hijrah.

Hari Ahad merupakan hari terakhir, rangkaian kegiatan terus berjalan di acara Hijrah Fair Lampung. Begitu juga dengan IMS terus memberikan layanan terbaiknya.*/ Imron Faizin/IMS

Rapimnas Hidayatullah Serukan Hidupkan Politik Silaturrahim

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Hidayatullah di Hotel Balairung, Jakarta, resmi ditutup pada Rabu (6/3/2019). Acara yang berlangsung selama tiga hari tersebut menelurkan sejumlah rekomendasi terkait beragam isu kebangsaan terkini, diantaranya menyerukan para kader dan khalayak luas untuk mengedepankan politik silaturrahim.

Menghadapi Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, Hidayatullah menyerukan agar senantiasa mengedepankan akhlakul karimah terutama senantiasa menjaga silaturrahim antar sesama komponen umat.

“Sampaikan kebenaran apa adanya. Kita tidak boleh mencaci. Tidak boleh menyebarkan hoax. Jaga ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah insaniyah. Kedepankan akhlak dan kebersamaan, itulah politik silaturrahim,” kata Anggota Pokja Politik DPP Hidayatullah, KH Hamim Thohari, M.Si.

Ia menyerukan segenap kader, jamaah dan simpatisan Hidayatullah serta masyarakat untuk menghidupkan politik silaturrahim. Dalam pada itu, ia mendorong kader-kader Hidayatullah yang mendapatkan amanah maju dalam kancah Pileg untuk menghidupkan silaturrahim.

Dengan silaturrahim, tegasnya, maka keakraban akan terjalin, dakwah berkembang, ukhuwah tersambung, bahkan membuka pintu-pintu rezeki.

Rapimnas Hidayatullah 2019 ini dihadiri oleh segenap pengurus inti DPW Hidayatullah se-Indonesia serta Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah. Dalam kesempatan Rapimnas tersebut juga hadir sejumlah pengisi materi diantaranya Ketua DPPU Hidayatullah H Dr Abdul Mannan, tokoh ekonom muslim Heppy Trenggono dan lain-lain. (ybh/hio)

Mengikis Kekikiran Dalam Diri

BISA dipastikan tidak ada orang yang mau disebut kikir walaupun dirinya memang kikir. Kenapa begitu? Karena orang yang kikir sekalipun tidak suka dirinya disebut sebagai orang kikir.

Orang kikir tidak hanya menyusahkan orang lain, orang-orang terdekat darinya (keluarga) juga turut merasakan kesusahan. Bahkan ia pun rela menyusahkan dirinya sendiri.

Ingat sebuah kisah tentang orang kikir ketika datang musim hujan ia rela berbasah-basahan karena tidak mau membeli payung agar tidak mubazir harta katanya. Ada lagi orang kikir rela berjalan kaki walaupun jauh jarak perjalanannya padahal ia mampu membeli kendaraan. Ada lagi si kikir rela makan apa adanya padahal ia mampu membeli makanan hingga ia jatuh sakit. Dan masih banyak lagi cerita yang menggelikan hati dari orang kikir.

Maka tidak heran apabila tidak ada orang yang suka dengan orang kikir. Bersahabat dengannya akan menyusahkan, menjadi keluarga dengannya akan merepotkan. Jangankan mengeluarkan zakat, infak dan bentuk kebaikan lainnya, kebutuhan dirinya saja ia akan sangat perhitungan. Ia rela ‘berkorban’ memayahkan dirinya sendiri dengan beralasan hemat, sederhana, tidak mubazir, dll.

Allah swt mengingatkan kepada orang kikir dalam firman-Nya:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (Al-Baqarah: 268)

Dalam tafsir Ath-Thabari, Ibnu Abbas ra berkata: “Dua hal dari Allah, dua hal dari setan. ‘Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan’. Setan itu berkata, ‘Jangan kamu infakkan hartamu, peganglah untukmu sendiri karena kamu membutuhkannya’. “Dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir).” (Dan dua hal dari Allah adalah), “Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya”, yakni atas maksiat yang kamu kerjakan,“ dan karunia ”berupa rizki”.

Maka beruntunglah orang yang terpelihara dirinya dari sifat kekikiran. Berbahagialah ia terbebas dari kikir karena terbebas dari kikir menjadi sumber kebahagiaan. Allah swt berfirman:

فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghabun: 16)

Bagi orang yang kikir Malaikatpun tiap pagi mendoakan kebinasaan bagi hartanya. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمِ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا : اَللَّهُمِّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفَا، وَيَقُوْلُ الآْخَرُ : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفَا

“Tidaklah para hamba berada di pagi hari, melainkan pada pagi itu terdapat dua malaikat yang turun. Salah satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak’, sedang yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan (harta) kepada orang yang menahan (hartanya atau kikir)”. (HR. Bukhori)

Akhirul Kalam
Melihat begitu buruknya sifat kikir, yang mana sifat dan perbuatan itu dibenci Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman, maka semoga kita terhindar dan dijauhkan dari sifat kekikiran itu.

Mari kita perbanyak do’a yang telah diajarkan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam:

اللَّهُمَّ إنِّي أَعوذُ بِكَ مِنَ الجُبْنِ وَالبُخْلِ ، وَأعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ العُمُرِ ، وَأعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ القَبْرِ

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan kepada umur yang paling hina (kepikunan), aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kubur”.

“Aamiin ya Allah ya Robbal ‘aalamiin”

______|
*) UST HIDAYATULLAH,MHI, penulis adalah Mudir Pondok Pesantren Tahfizh Hidayatullah Putri Bekasi

Wagub Letakkan Batu Pertama Gedung Dakwah Hidayatullah PPU

0

PENAJAM (Hidayatullah.or.id) — Wakil Gubernur Kaltim H Hadi Mulyadi melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Dalam kunkernya, Wagub didampingi Bupati Abdul Gafur Mas’ud meresmikan pemanfaatan gedung Sekolah Dasar Islam Al Muzzammil ditandai dengan penandatanganan prasasti.

Selain itu, Wagub juga melakukan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Dakwah Hidayatullah. Kedua fasilitas tersebut berada di kawasan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah Desa Girimukti Kecamatan Penajam PPU.

Tidak ingin tertinggal dalam memberikan dukungan, Hadi menyumbang 500 zak semen untuk pembangunan gedung dakwah tersebut.

Dalam sambutanya, Wagub menegaskan Gubernur Isran Noor bersama dirinya telah menetapkan program-program prioritas pembangunan daerah.

“Kita bertekad membentuk sumber daya manusia berkualitas dan berakhlak mulia melalui pendidikan. Harapan kami, keberadaan sarana ini bisa mewujudkannya,” kata Hadi di Ponpes Hidayatullah Penajam, Kamis (28/2/2019).

Dirinya meyakini keberadaan fasilitas pendidikan dan pengembangan umat mampu mempercepat terbentuk SDM berkarakter, berkualitas dan berdayasaing.

Sementara itu, Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Abdul Gafur Mas’ud (AGM) mengatakan bangga kepada segenap pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah PPU yang telah mampu menghadirkan sebuah lembaga pendidikan agama bagi generasi muda.

“Kami sangat berterimakasih kepada Pemerintah Provinsi Kaltim yang telah menyalurkan bantuan keuangan serta sumbangan Wagub Kaltim berupa 500 sak semen untuk pembangunan sarana dan prasarana sekolah di Ponpes ini,” kata AGM.

Karena pada dasarnya menurut AGM terdapat tiga komponen penting dalam menentukan mutu pendidikan sekolah yaitu sumber daya manusia (SDM) yang terdiri atas guru, siswa dan masyarakat, manajemen pengajaran serta komponen yang terakhir adalah sarana dan prasarana.

Kata AGM, sarana dan prasarana sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam belajar, hal ini menujukkan bahwa peranan sarana dan prasarana sangat penting dalam menunjang kualitas belajar siswa.

“Misalnya, sekolah yang berada di kota yang sudah memiliki fasilitas laboratorium komputer, maka anak didiknya secara langsung dapat belajar komputer. Sedangkan sekolah yang berada di desa tidak memiliki pasilitas tersebut tidak akan tahu bagaimana cara menggunakan komputer kecuali mereka mengambil kursus diluar sekolah,” lanjutnya.

Kemudian lanjut AGM, dalam mengelola sarana dan prasarana sekolah dibutuhkan suatu managemen administrasi yaitu mulai dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan pengoperasian dan pengawasan, apa yang dibutuhkan oleh sekolah perlu direncanakan dengan cermat, berkaitan dengan sarana dan prasarana yang mendukung semua proses pembelajaran.

Dengan adanya gedung yang refresentatif ini, AGM berharap SD Islam Al Muzzammil Hidayatullah Penajam semakin maju, utamanya dalam pembentukan pribadi manusia menurut ukuran normatif, karena pada dasarnya sekolah merupakan lembaga sosial yang keberadaannya merupakan bagian dari sistem sosial bangsa yang bertujuan untuk mencetak manusia yang cakap, demokratis, bartanggung jawab, beriman dan bertakwa, sehat jasmani maupun rohani, memiliki keterampilan berkepribadian yang mantap, serta mandiri agar tujuan tersebut dapat tercapai maka dibutuhkan kurikulum yang kuat, baik secara infrastruktur maupaun suprastruktur.

“Kurikulum ini yang nantinya akan digunakan sebagai pedoman dan melaksanakan seluruh kegiatan pembelajaran khususnya interaksi antara pendidik dengan peserta didik dalam kegiatan belajar dan mengajar, agar bisa menerapkan sistem pendidikan yang baik dan mencetak serta memunculkan generasi penerus bangsa yang berkualitas, agar mampu menyesuaikan diri untuk hidup bermasyarakat berbangsa dan bernegara,” pungkas AGM.

Sementara itu Pimpinan Ponpes Hidayatullah Mujiburrahman mengungkapkan apresiasi Hidayatullah yang tinggi atas kepedulian, perhatian dan dukungan Pemprov Kaltim.

“Atas nama para siswa dan santri Hidayatullah sangat berterimakasih atas dukungan dan bantuan Pemprov,” ujarnya.

Disela kegiatan, Wagub bersama jajaran FKPD PPU serta tokoh masyarakat melaksanakan solat Dzuhur berjamaah di Masjid Aqshal Madinah Hidayatullah Penajam.

Tampak Kepala Dinas Kehutanan Amrullah dan Kasatpol PP Kaltim I Gede Yusa serta pimpinan OPD di lingkup Pemprov Kaltim dan Pemkab PPU. Tampak pula hadir Ketua DPW Hidayatullah Kaltim Dr H Muhammad Tang, pembina Hidayatullah Balikpapan Ust Rasyid Ridha dan Kepala Kantor Kementerian Agama Penajam Paser Utara Drs. H. Maslekhan yang sekaligus membacakan doa penutup dalam acara tersebut (ybh/hio)

Menggalakkan Dakwah dengan Bangun Budaya Literasi Islam

0

BEKASI (Hidayatullah.or.id) — Sudah saatnya dakwah semakin digalakkan melalui media tulisan. Dengan dakwah melalui tulisan, akan menumbuhkan budaya literasi Islam. Demikian ditekankan Ustadz. M. Anwar Djaelani, penulis buku Mewarnai Dunia dengan Menulis, saat menjadi instruktur dalam acara Training Menulis di Kampus Pondok Pesantren Tahfizh Hidayatullah Putri Bekasi, Sabtu (02/03/2019).

Acara Training Menulis yang diselenggarakan komunitas Penulis Muda Indonesia (PENA) Jabodebek bekerjasama dengan Pondok Pesantren Tahfizh Hidayatullah Putri Bekasi tersebut dibagi 2 sesi. Acara berlangsung seru dan menggugah pemikiran tentang tulisan sehingga bisa menginspirasi para peserta training.

Disela-sela waktu Ustadz M. Anwar Djaelani menjadi salah satu pemateri di Islamic Book Fair (IBF), ia menyempatkan hadir untuk mengisi Training Menulis PENA yang diikuti segenap santri Pondok Pesantren Tahfizh Hidayatullah Putri Bekasi.

Acara Training Menulis PENA yang dimulai dengan penuh kegembiraan yang ditandai para peserta yang sudah berada di tempat acara tepat waktu. Acara dimulai dengan sambutan oleh Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Hidayatullah Putri Bekasi, Ustadz Hidayatullah,MH, yang memberikan semangat untuk menangkap ilmu-ilmu yang akan diberikan oleh pemateri.

Sesi pertama Anwar Djaelani memaparkan prolog dengan tema Raih Berka dari Kisah. Dalam materi tersebut banyak ia memaparkan kisah-kisah penulis yang juga ulama agar bisa menjadi referensi untuk menulis.

“Banyak sekali buku kisah diterbitkan menjadi buku yang membuat pembaca ya bisa berhijrah,” kata Anwar Djaelani dalam materinya disesi pertama training.

Sesi kedua semakin “memanas”, karena pemateri tidak saja menyampaikan bahan-bahan ajarnya, namun juga langsung ke praktik dan teknis menulis artikel. Beliau banyak mengajukan contoh-contoh artikel yang ditulis oleh anak-anak dari bangku sekolah.

“Salah satu media yang paling efektif untuk menyebarkan tulisan kita yaitu melalui media sosial sehingga tulisan kita bisa menjadi viral,” ujarnya.

Alhamdulillah, acara training berlangsung dengan interaktif sehingga banyak sekali ilmu yang didapatkan oleh peserta. Semoga ilmu yang didapatkan di dalam training bisa langsung direalisasikan secepatnya.

“Harapannya, training menulis PENA ini akan terus berkelanjutan supaya bisa melahirkan penulis yang pintar dan sehat dalam literasinya,” kata Ustadz Hidayatullah yang juga Ketua PENA Jabodebek. */Ananda Ramadhan