Beranda blog Halaman 500

Mabit Ponpes Tahfidz Al Quran Cilik Hidayatullah Jeneponto

0

JENEPONTO (Hidayatullah.or.id) — Departemen Dakwah Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Jeneponto menggelar program pengajian bulanan dan melaksanakan kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (Mabit) yang berlangsung di Masjid Ar-Riyadh Dusun Bulu-Bulu Desa Pallantikang Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto, Sabtu (2/3/2019).

Menurut ketua DPD Hidayatullah Jeneponto, Ustad Muhammad Armin S.HI, menyampaikan bahwa tujuan dilaksanakan kegiatan ini untuk menjalin tali silaturahmi dan mempererat tali persaudaraan.

“Kegiatan ini sangat bagus untuk menyambung tali silaturahmi bersama keluarga santri serta komunikasi dan sarana untuk introspeksi diri karena sebagai pembina akan ada saja kekurangan dalam pelayanan terhadap anak-anak,” ucap Armin.

Ustadz Armin menambahkan bahwa begitu indahnya orang yang senantiasa menjaga silaturahmi nya. Hidupnya akan berkah dan diluaskan rezekinya.

“Pengajian bulanan ini rutin diadakan setiap bulannya di Ponpes Tahfidz Cilik Hidayatullah Jeneponto. Sedangkan, Malam Bina Iman dan Taqwa (Mabit) kita adakan empat bulan sekali dan Mabit ini sudah ke-3 kalinya dilakukan,” imbuhnya.

Adapun kegiatan mabit tersebut akan diisi dengan beberapa perlombaan dari penampilan anak-anak santri tahfidz cilik yakni perlombaan pelajaran diniyah sepeti hafalan, lomba nasyid, dan juga lomba drama.

Sebanyak 48 santri tahfidz cilik Hidayatullah Jeneponto begitu semangat mengikuti kegiatan Mabit yang ke-3. Mabit tersebut, mengusung tema “Merajut Ukhuwah Bersama Keluarga Santri”. Dihadiri orangtua santri, jamaah sekitar pondok dan jamaah dari kota Jeneponto.*/Andi Alfian Milyardo Salassa

Mahasiswa Hidayatullah Peserta Muthmain Se-Asia Tenggara

0

MUKALLA (Hidayatullah.or.id) – Mahasiswa Hidayatullah menjadi peserta Muktamar Pertama Forum Pelajar Hadramaut se-Asia Tengggara yang bertajuk “Multaqo Thullab Indunisiyin wal Maliziyin Nusantara (Muthmain) yang diselenggarakan di Hotel Al-‘Amudi Fuah Masakin, Kota Mukalla, Yaman, pada tanggal 24/6/1440 H atau bertepatan dengan Tanggal 1 Maret 2019.

Multaqo Thullab Indunisiyin wal Maliziyin Nusantara sendiri digawangi oleh para pelajar di Kota Mukalla di bawah naungan Yayasan Ibnu Abbas. Kegiatan ini adalah muktamar yang kali pertama digelar yang dihadiri seluruh anggota multaqo.

Acara dibuka oleh ketua Yayasan Ibnu Abbas, Fadhilatu as-Syaikh Abul Harist Umar bin Salim Bawazir. Dalam kesempatannya, Syaikh Abul Harist Umar bin Salim Bawazir memberikan arahan-arahan beserta nasehat kepada hadirin akan pentingnya menggunakan dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Pesan pesan syaikh tersebut disampaikan, harap dia, agar menjadikan para pelajar dapat sukses meraih ilmu dan kelak dapat bermanfaat untuk masyarakat di kota mereka masing-masing dengan menebar ilmu yang telah mereka pelajari.

Hal yang sama jg disampaikan oleh Imam dan Khotib masjid Al-Falah, As-syaikh Kholid bin Aun bin Ali Al-Haaj, yang menekankan bahwa kesempatan belajar di Yaman adalah sangat berharga dan harus dimanfaatkan dengan maksimal.

Pertemuan ini dihadiri oleh Ustadz Abu Asad Awang selaku ketua multaqo lama,  dan Ustadz Abu Tasnim Hasan selaku pelajar yg ditetapkan menjabat ketua baru Multaqo dan dihadiri oleh Ketua PPI Hadramaut Ustadz Zainal Abidin. Sedikitnya ada 60 pelajar yang hadir menjadi peserta yang juga sebagai anggota muthmain. (ybh/hio)

Ngaji Bareng Surah Al-Mulk Ayat 6-8: Buruknya Jahannam

0

SURAH ini Makkiyah (turun di Makkah), ke-77 dalam tartib nuzuli (urutan penurunan) dan ke-67 dalam tartib mushhafi (urutan pencantuman dalam mushhaf Al-Quran), berisi 30 ayat.

وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (6)
“Dan orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, memperoleh azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”

إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ (7)
“Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak.”

تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ ۖ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ (8)
“Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?”

Pelajaran yang kita ambil dari sini, di antaranya:

Ayat ini merupakan perluasan keterangan dari ayat sebelumnya. Di ujung ayat 5 dikatakan: “…dan Kami sediakan bagi mereka (yakni: syetan) siksa neraka yang menyala-nyala.” Pada ayat 6, ditambahkan penjelasan bahwa siksa neraka juga disiapkan untuk orang-orang kafir pengikut syetan; agar tidak timbul kesan bahwa seolah-olah hanya syetan yang akan diazab oleh Allah.

“Sa’iir” (سعير) dan “Jahannam” (جهنّم) adalah sifat dari api atau siksaan itu. Ada yang mengatakan keduanya adalah nama-nama neraka. Wallahu a’lam.

Secara bahasa, “sa’iir” artinya: menyala berkobar-kobar dahsyat, sedang “jahannam” artinya: sumur yang sangat dalam dasarnya. Keduanya memberi gambaran yang saling melengkapi, bahwa neraka itu dipenuhi api yang dahsyat dan sangat dalam. Siapa pun yang tercebur ke dalamnya tidak akan bisa meloloskan diri. Na’udzu billah min dzalik!

“Mashiir” (مصير) biasanya dimaknai tempat kembali. Ini salah satu makna turunannya dalam kamus. Asalnya dari kata “shooro” (صار), artinya: menjadi, tepatnya: berakhir pada suatu kondisi atau tempat tertentu setelah melalui tahapan dan proses sebelumnya.

Jahannam adalah tempat dan kondisi terburuk yang pasti menjadi akhir kejadian siapa pun yang durhaka kepada Allah dan tidak menaati para Rasul. Dengan kata lain, manusia terjerumus ke neraka adalah akibat perbuatannya sendiri. Maka, selamatkan dirimu!

Ayat-ayat selanjutnya memperluas keterangan tentang kondisi orang kafir di akhirat dan azab yang mereka dapatkan; sebagai pelajaran agar kita tidak berakhir pada keadaan seperti itu juga.

Kaum kafir, dari golongan jin dan manusia, dicampakkan ke neraka dalam rombongan-rombongan besar. Setiap kali mereka diceburkan, suara-suara mengerikan terdengar memekakkan telinga. “Syahiiq” (شهيق) adalah sebutan untuk semua jenis suara yang sangat buruk dan tidak disukai.

Saat penghuni baru dicampakkan ke dalamnya, neraka langsung menggelegak dan bergetar sedemikian hebat, hingga nyaris pecah atau meledak. Perhatikan api dunia yang berkobar dahsyat. Jika ada bahan bakar baru atau apa saja yang tercebur ke dalamnya, kita mendengar suara-suara deru, derak, ledakan, juga menyaksikan lompatan bunga api, jilatan lidah api, dan panas yang naik mendadak. Api itu murka! Semoga Allah menghindarkan kita darinya!

Para penjaga neraka menghardik mereka, “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” Apa jawab kita, padahal Al-Quran tersaji di hadapan kita dan murni terpelihara sampai sekarang?.

Dapatkah kita mengelak, sementara kehadiran Nabi Muhammad adalah fakta yang mustahil diingkari? Mungkingkah alibi kita diterima, padahal Allah memanjangkan usia kita hingga hari ini? Bagaimana kita menjelaskan ironi ini: kesanggupan kita mempelajari aneka ilmu yang sebagian sangat rumit dan butuh biaya besar, namun tidak menyempatkan diri memahami Kitab Suci-Nya? Siapkan jawaban sebelum hal itu benar-benar tidak mungkin dilakukan!

Wallahu a’lam.

Jambore II Pandu Hidayatullah Sulbar Tumbuhkan Mental Juara

BARAS (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulawesi Barat (Sulbar) menggelar kegiatan Jambore II Pandu Hidayatullah Wilayah Sulbar yang memilih lokasi yang baru saja dibebaskan oleh Pondok Pesantren Hidayatullah Baras. Lokasi dengan nuansa alamnya yang cukup eksotik ini menjadi pusat acara Jambore Wilayah Pandu Hidayatullah Sulawesi Barat yang ke-2 dengan peserta Pandu Hidayatullah putri.

Jambore II tersebut digelar hanya berselang waktu tujuh bulan dengan jambore pertama khusus putra di Kampus Hidayatullah Salutalawar. Kegiatan ini, diakui, masih dalam pembelajaran. Sebagaimana disampaikan Ketua Panitia, Gunawan, S.Pd.I, yang juga kepala sekolah SDIT Lukmanul Hakim Hidayatullah Baras.

Senada dengan Gunawan, Ketua Departemen Pendidikan DPW Hidayatullah Sulbar, Abdul Majid, SS. S.Pd.I, menyebutkan bahwa pelaksanaan Jambore Pandu Hidayatullah di bilangan Sulawesi Barat memang baru dua kali meski keberadaan Pandu Hidayatullah itu sendiri sudah lama ada sejak hadirnya pelatih dan Pembina di provinsi dengan lima kabupaten tersebut.

Ditambah lagi, lanjut Majid, di Sulbar provinsi yang ke-33 itu Hidayatullah baru memiliki dua sekolah dasar (SD), empat SMP dan dua sekolah tingkat atas atau SMA. Secara otomatis jumlah muridnya belum banyak untuk lazimnya jambore yang penuh dengan gegap gempita peserta.

Namun, kata dia, bukan berarti kekurangan itu menyiutkan semangat lalu mundur tidak melakukan hajatan tahunannya. Apatahlagi salah satu pantangan dalam Pandu Hidayatullah adalah pantang menyerah serta selalu menanamkan semangat menjadi juara.

“Kami sadar masih banyak kekurangan itu, justeru kekurangan itulah yang kita jadikan motivasi untuk maju selangkah dari kenyataan hari ini. Selain itu kegiatan ini juga bertujuan menguatkan tali silaturahim dan persiapan jambore nasional nanti,” ungkap Abdul Majid menguatkan peserta yang sejak awal kedatangannya sudah berapi-api.

Hadir dalam pembukaan acara tersebut istri Bupati Pasangkayu ibu H. Herni Agus Ambo Jiwa,S.Sos. M. Si. yang tidak asing dengan Hidayatullah selain belliau sebagai ketua Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Pasangkayu. Kegiatan yang mengusung tema “Menjaga Spirit Religiusitas dan Nasionalisme Generasi Bangsa” ini disambut gembira oleh Herni Agus.

Dirinya sangat bahagia bisa menyaksikan langsung peserta yang berasal dari semua sekolah Hidayatullah se-Sulbar. Ia katakan, bahwa sebagai generasi calon penerus pembangunan daerah harus memiliki sikap mandiri dan tidak mudah menyerah.

Dan, untuk mengasahnya sikap mental tersebut sangat efektif melalui kemah-kemah yang dilakukan oleh sekolah termasuk Jambore Pandu Hidayatullah yang ke dua ini.

“Kalian adalah pelanjut estafet pembangunan bangsa harus memiliki mental yang membaja, kuat dan tidak mudah menyerah,” tutupnya dalam wejangannya di momen pembukaan.

Reski, peserta asal SMP Integral Al-Furqan,Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju, sangat bahagia usai acara yang bisa menambah pengalaman dan sahabat yang baik-baik. Mulai terlatih untuk cepat, tepat dan cermat menggunakan waktu hingga harus bisa menghadapi semua tugas keseharian serta pencarian jejak yang cukup menantang.

Rasa bahagia Reski semakin membuncah, sebab sekolahnya berhasil memboyong piala dan juara umum dan menyisihkan Diah atau regu lain pada jambore tersebut.*/Muhammad Bashori

Rakerda Hidayatullah Bekasi, Komitmen Siap Bekerja Keras

0

BEKASI (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Bekasi menggelar acara Rapat Kerja Daerah (Rakerda) diikuti oleh  segenap pengurus dan unsur dan unit-unit terkait yang digelar di Pondok Pesantren Hidayatullah Pembayuran Bakung, Kabupaten Bekasi, beberapa waktu lalu dan ditulis pada Rabu (27/2/2019).

Rapat Kerja Daerah Hidayatullah Kabupaten Bekasi ini dihadiri oleh pengurus DPW Hidayatullah Jabodebek, para pembina dan seluruh pengurus DPD Hidayatullah Kabupaten Bekasi.

Pembukaan Rakerda berjalan dengan lancar dan hikmat serta banyak sekali sambutan-sambutan. Sambutan yang pertama oleh ketua panitia yaitu Ustadz Ahmad Furqon dan dilanjutkan oleh Ketua DPD Hidayatullah Kabupaten Bekasi, Ustadz Hidayatullah, M.HI, setelah itu dibuka secara resmi Rakerda oleh perwakilan DPW Hidayatullah Jabodebek, Ustadz Muhammad Abdurrahman.

Dalam sambutannya, Muhammad menyampaikan, Rakerda merupakan wadah konsolidasi dan koordinasi untuk semakin mematangkan gerakan. Dengan demikian, dia berharap Hidayatullah Bekasi dapat semakin memajukan kiprahnya khususnya pada bidang dakwah, sosial, pendidikan dan pengembangan ekonomi.

“Rakerda adalah menurunkan program-program kerja yang telah dirumuskan oleh DPP dan DPW untuk menjadi ujung tombak pergerakan dakwah di setiap daerahnya masing-masing. Dengan spirit Sistematika Wahyu, kita melakukan pencerahan tentang bagaimana berislam sebagaimana Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wasallam berislam dari awal sampai akhir dan ini merupakan program mainstream Hidayatullah. Ini yang harus kita perkuat,” kata Muhammad.

Segendang sepenarian dengan itu, Ketua DPD Hidayatullah Kabupaten Bekasi, Ustadz Hidayatullah, M.HI, dalam sambutannya dalam kesempatan yang sama, mengatakan berbagai program yang dicanangkan oleh Hidayatullah Bekasi setahun mendatang harus dijalani dengan penuh semangat dengan membangun komitmen siap bekerja keras, bekerja cerdas dan bekerja ikhlas.

“Semuanya yang ada disini harus menyiapkan mental, fisik, dan juga spririt rohani untuk menjalankan program kerja setahun yang akan kita sepakat nantinya,” kata Hidayatullah.

Acara pembukaan Rakerda ini ditutup oleh nasihat serta arahan pembina Hidayatullah Bekasi, Ustadz Muhammad Dirlis Karyadi Al-Hafizh. Beliau berpesan kepada segenap kader yang hadir untuk menyiapkan tenaga dan mengerahkan segala potensi yang dimiliki untuk mengabdi di jalan dakwah melalui Hidayatullah dengan beragam programnya.

“Jika kita memaparkan program yang luar biasa berarti kita harus mempunyai tenaga yang luar biasa. Biasanya program yang luar biasa itu program besar yang mungkin tak sesuai keinginan manusiawi kita, sehingga kita harus melawan hawa nafsu untuk menjalankan program yang luar biasa ini,” kata Ust Karyadi berpesan.

Alhamdulillah agenda Rakerda berjalan dengan lancar. Ketua Panitia, Ahmad Furqon, berharap semoga apa yang sudah diputuskan dalam Rakerda tahun ini terlaksana dengan baik. “Sehingga nanti di akhir tahun kita bisa memetik hasil kerja keras yang kita konsep dan kita kerjakan di tahun ini. Aamiin ya allah ya robbal ‘Aalamiin,” tutup Furqon. */Nanda Ramadhan

Daurah Manajemen Tingkatkan Peran Strategis Masjid Kampus

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Departemen Pembinaan Anggota Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar acara Dauroh Manajemen Masjid yang diselenggarakan selama tiga hari di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, beberapa waktu lalu.

Ketua Departemen Pembinaan Anggota DPP Hidayatullah, Drs Muhammad Nur Fuad, MA, mengatakan Dauroh Manajemen Masjid yang diikuti oleh ketua-ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Kampus Induk dan Kampus Utama Hidayatullah dalam rangka untuk mengefektifkan peran strategis masjid dalam pembinaan kepada umat Islam khususnya anggota, kader dan para santri yang belajar di kampus-kampus Hidayatullah.

“Masjid kampus Hidayatullah punya peranan strategis dalam pembinaan kepada umat Islam khususnya anggota, kader Hidayatullah dan para santri yang belajar di kampus-kampus Hidayatullah di seluruh Indonesia. Dauroh panduan manajemen masjid diharapkan menguatkan hal tersebut,” kata Nur Fuad.

Nur Fuad mengatakan, masjid-masjid kampus Hidayatullah seluruh Indonesia sejauh ini menurutnya belum seutuhnya punya panduan manajemen masjid yang tertulis dalam bentuk buku panduan.

Seiring dengan itu, lanjut Fuad, fungsi dan peran masjid kampus Hidayatullah sangat strategis sebagai tempat ibadah dan tempat pembinaan anggota, kader dan para santri yang tinggal dalam kampus.

“Diantara pembinaan dimaksud adalah halaqah diniyyah bakda subuh dengan materi MBA, taklim diniyyah lima kitab bakda maghrib, pembacaan hadits Arbain Nawawi bakda shalat duhur, shalat berjamaah empat waktu dan shalat lail berjamaah,” ujar Fuad.

Menurut Fuad, seyogyanya masjid memiliki sistem pengelolaan yang lebih terstruktur, sistematis dan profesional. Sehingga keberadaan DKM sangat pemting meningkatkan fungsi masjid.

Apalagi, lanjutnya, tidak sedikit masjid yang belum memiliki pengurus DKM secara definitif, jikapun ada tetapi rangkap tugas sehingga tidak maksimal. Dalam pada itu, mereka juga belum memahami secara komprehensif tentang peran-peran DKM dalam memakmurkan masjid dan strategi melaksanakan peran tersebut.

“Masalah lainnya, misalnya, pendanaan operasional masjid juga seringkali tidak memadai dibanding dengan beban tugas dan fungsi masjid dalam pembinaan anggota, kader Hidayatullah, para santri kampus dan umat Islamsecara lebih luas,” imbuhnya.

Mengelola potensi masjid

Dikatakan Fuad, sudah seharusnya setiap masjid dikelola dengan lebih baik. Apalagi mengingat potensi jamaah masjid yang sangat besar belum diberdayakan secara maksimal.

Dauroh Manajemen Masjid ini bertujuan diantaranya untuk menguatakan Program Mainstream Hidayatullah, melaksanakan Program Departemen Pembinaan Anggota 2019, memberikan wawasan komprehensif tentang pentingnya dukungan pengurus yayasan terhadap DKM dalam melaksanakan peran strategis masjid dalam pembinaan jamaah, anggota dan kader Hidayatullah.

“Juga dalam rangka memberikan wawasan dan keterampilan kepada pengurus DKM kampus Induk, kampus Utama dan Madya Hidayatullah tentang tugas-tugas DKM sehingga dapat melaksanakan tugas-tugas tersebut secara maksimal,” katanya.

Adapun target dari kegiatan Dauroh Manajemen Masjid, diharapkan para peserta pengurus DKM Kampus Induk, utama dan madya Hidayatullah memahami dan memiliki keterampilan dalam melaksanakan tugas-tugas DKM dengan benar dan terukur sesuai panduan manajemen masjid Hidayatullah mulai dari merumuskan program kerja DKM, melaksanakan dan mengevaluasinya.

Serta, sebarengan dengan itu, masjid-masjid kampus Hidayatullah menjadi pusat pembinaan kepada jamaah, santri, anggota dan kader Hidayatullah yang memiliki ciri-ciri: bersih, indah, rapi, ruhiyah,
sakral, berjamaah, aman dan ilmiah.

Dauroh Manajemen Masjid menghadirkan narasumner Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq, Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah Muhammad Taysrif Amin, Ketua Departemen Pembinaan Anggota Muhammad Nur Fuad dan dua anggota tim perumus Panduan Manajemen Masjid.

Selain menerima materi seputar sejarah masjid, fungsi masjid, peserta juga mengikuti kegiatan praktek penyusunan program DKM, pelaksanaan dan evaluasinya, panduan manajemen masjid, praktek penyusunan struktur DKM dan job diskripsinya sesuai kondisi kampus masing-masing, administrasi DKM dan instrument-instrumen yang dibutuhkan serta praktek mengerjakan administrasi DKM.

Acara Dauroh Manajemen Masjid diikuti oleh ketua DKM Kampus Induk dan Utama Hidayatullah yaitu Balikpapan, Kampus Utama Hidayatullah Surabaya, Kampus Utama Hidayatullah Depok, Kampus Utama Hidayatullah Timika, Kampus Utama Hidayatullah Batam, Kampus Utama Hidayatullah Medan, Kampus Utama Hidayatullah Samarinda dan Kampus Utama Hidayatullah Makassar.

Juga diikuti oleh DKM Kampus Madya Hidayatullah se Kalimantan yaitu Palangkaraya, Bontang, Berau, Grogot, Nunukan, Bulungan, Tarakan, Pontianak, Banjarmasin, Penajam dan Kampus Madya Hidayatullah Karang Bugis.

Lalu, peserta juga dari perwakilan DKM Kampus Madya Hidayatullah se-Sulawesi, yaitu: Kampus Hidayatullah Parepare, Kampus Hidayatullah Bone, Kampus Hidayatullah Palopo, Kampus Hidayatullah Masamba, Kampus Hidayatullah Soroako, Kampus Hidayatullah Kendari, Kampus Hidayatullah Kolaka, Kampus Hidayatullah Baubau, Kampus Hidayatullah Mamuju, Kampus Hidayatullah Palu, Kampus Hidayatullah Toli-Toli, Kampus Hidayatullah Gorontalo, Kampus Hidayatullah Marissa, Kampus Hidayatullah Tomohon dan Kampus Hidayatullah Bitung.

Hidayatullah Sulsel Tugaskan Dai ke Desa Bonto Somba

0

MAROS (Hidayatullah.or.id) – Prihatin dengan masih terbatasnya akses penyuluhan keagamaan Islam bagi masyarakat di Desa Bonto Somba, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, segera menempatkan dai untuk mengabdi di daerah terpencil tersebut.

Gerak cepat DPW Hidayatullah Sulsel tersebut setelah dilakukannya kunjungan langsung ke daerah yang relatif terisolir tersebut yang dipimpin langsung oleh tokoh gaek Sulawesi Selatan, Ust Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, bersama rombongan belum lama ini.

Dalam keterangannya, Aziz Qahhar mengatakan mendapatkan informasi itu dari kepala desa setempat. Sehingga ia merasa tergerak hatinya untuk meninjau dan memberikan bantuan ke desa tersebut.

Di desa tersebut ada sebuah Sekolah Negeri namun tidak memiliki guru PNS dan tidak pernah belajar pendidikan Agama. Hal ini tentu memprihatinkan. Begitulah temuan yang disampaikan Aziz setelah melakukan peninjauan di Desa Bonto Somba.

“Saya dapat informasi kalau di sana tidak ada guru agamanya. Jadi saya ke sana. Ketemu kepala desanya di Pucak,” ujar Aziz Kahhar yang dihubungi melalui telepon selulernya.

Alhamdulillah, lanjut dia, mulai Jumat kemarin telah dikirim dai ke desa itu dan mudah mudahan sampai seterusnya menetap di sini. Apalagi mengingat, kawasan ini kabarnya sempat menjadi kawasan yang ditarget missionaris.

“Karena di desa itu ternyata warganya juga tidak pernah shalat Jumat walaupun beragama Islam,” lanjut mantan calon Wakil Gubernur Sulsel ini.

Menurut Aziz, di desa itu memang kondisi medannya cukup berat. Ada tiga dusun yang harus ditempuh 2 hingga 3 jam dalam satu dusun dengan menggunakan sepeda motor trail.

Sehingga sekali pun ada pegawai negeri yang dikirim bertugas di sana pasti tidak akan betah.

“Inilah yang jadi persoalan. Kok ada sekolah negeri tapi tidak ada guru PNS nya. Bahkan muridnya pun ogah ogahan karena kadang tidak ada guru yang masuk,” tutur perintis Pesantren Hidayatullah Makassar ini.

Dari hasil pertemuan itu disepakati dengan kepala desa untuk menjadikan wilayah tersebut sebagai desa binaan Pesantren Hidayatullah. Selain jadi pembina jamaah di masjid, juga difokuskan mengajar pendidikan agama pada sekolah tersebut.

Harapannya kerjasama ini terus berlanjut. Karena, kata Aziz, negara yang mestinya memiliki tanggungjawab memastikan pendidikan bagi anak-anak negeri, nyatanya tak mampu dipenuhi bahkan PNS yang ditugaskan pun tak tahan.

Sebagaimana diketahui, Desa Bonto Somba terletak diantara Kabupaten Maros, Sinjai, Bone dan Gowa. Kondisi jalannya juga masih rusak parah sekitar 4 km. Sehingga perlu perbaikan infrastruktur.*/Syaiful Ahmad

SMA Putri Ar-Rohmah Malang Borong Juara Olimpiade Sains

0

MALANG (Hidayatullah.or.id) — SMA Putri Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur, kembali memborong juara dalam ‘Olimpiade Sains SMA Swasta Se-Kabupaten Malang’, pekan lalu. Dalam gelaran tahunan ini, kontingen yang dikirim berhasil merebut delapan juara. Dua Juara I, tiga Juara II dan tiga Juara III.

Prestasi membanggakan tersebut antara lain; Juara I Kimia dan Ekonomi yang diraih oleh Meysaroh dan Anggita Saraswati. Juara II  Kimia, Fisika, dan Astronomi  masing-masing diraih oleh Haffa Saffana, Rosiana Almas dan Azhmi Nabila. Sedangkan Juara III dibidang Ekonomi, Geografi dan Kebumian diraih oleh Nilam Putri, Aulia Adilah dan Saffanah Qalby. Atas prestasinya itu mereka mendapat trofi, piagam penghargaan  dan hadiah lainnya.

Kompetisi bergengsi  yang digelar oleh MKKS SMA Swasta itu diikuti ribuan peserta dari berbagai sekolah di Kabupaten Malang. Berlangsung di SMA Islam Kepanjen Malang, ajang tersebut memperlombakan 9 bidang. Yaitu kimia, fisika, biologi, matematika, geografi, ekonomi, kebumian, astronomi dan TIK.

Penanggung Jawab Tim Melejitkan Potensi Diri (MPA), Dita Suci Novia mengaku bangga atas prestasi yang diraih anak didiknya tersebut.

“Senang dan bangga para murid SMA Ar-Rohmah Putri berhasil memborong juara dalam kompetisi ini. Semoga prestasi ini semakin meningkat di tahun depan,” ujarnya bangga. */Hery Purnama

Tiga Wanita dari Suku Togutil Ikarkan Kalimat Syahadat

0

HALMAHERA (Hidayatullah.or.id) — Masjid Raya Halmahera Timur menjadi saksi bertambahnya 3 mualaf muslimah dari suku Togutil pedalaman Halmahera, Jumat, 22 Februari 2019. Dai Hidayatulllah di pedalam Togutil yang juga menjadi pembina para muallaf di pedalaman Halmahera, Ustadz Nurhadi, mengatakan mereka masuk Islam tanpa paksaan, menyatakan ikhlas dengan senang hati.

“Sebelum masuk Islam pun mereka sudah mau memakai mukena bahkan ikut melaksanakan shalat berjamaah di masjid bersama ibu-ibu muslimah lainnya,” kata Nurhadi dalam keterangannya kepada media ini.

Alhamdulillah, prosesi pembacaan ikrar syahadat 3 mualaf muslimah dari suku Togutil ini berjalan lancar. Prosesi syahadat ini dipimpin langsung oleh Imam Masjid Raya Halmahera Timur.

Dalam prosesi ini pun dihadiri langsung oleh Kepala Kemenag Halmahera Timur, Syaiful Djabir Arfa, S.Pd, M.Pd. Selain itu, Bapak Kemeneg juga langsung memberikan sedikit santunan kepada para mualaf suku Togutil pedalaman Halmahera.

“Terimakasih kasih kepada semuanya yang telah membantu sehingga prosesi syahadat ini pun berjalan lancar. Semoga Allah kuatkan keimanan mereka dan kokohkan Islam dalam dadanya,” harap Nurhadi. *

“Bersyukurlah karena Sampai Ibadah Kita Pun Dipedulikan”

0

LUWU TIMUR (Hidayatullah.or.id) — Ada hal yang luar biasa yang harus disyukuri oleh setiap anggota atau jamaah Hidayatullah, yaitu kepeduliaan lembaga ini dalam memperhatikan dan memastikan ibadah setiap kadernya agar berjalan dengan baik. Seperti ibadaha shalat berjamaah, wirid, shalat sunnah, baca Qur’an, infaq dan dakwah fardhiyah.

Demikianlah dikatakan pengurus DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Muhammad Jabbar,  ketika menjadi pengisi taushiah dalam kajian bulanan yang berlangsung di Masjid Al-Ikhlas Hidayatullah Lambara, Jl. Trans Sulawesi Dusun Lambara Desa Laro Kecamatan Burau Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Jumat (22/02/2019).

Acara rutin ini diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Luwu Timur yang dipesertai oleh segenap kader dan jamaah Hidayatullah se Luwu Utara.

Ustadz Jabbar menyampaikan dalam tausiahnya bahwa tujuan manusia diciptakan oleh Allah adalah sebagai khalifah dan pengabdian ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala.

“Di lembaga ini kita bersyukur sekali karena sampai persoalan ibadah kita semua ini diperhatikan dan dipikirkan para pemimpin kita. Makanya ada program Gerakan Nawafil Hidayatullah dan di situ ada kontrolnya. Harus absen,” kata Jabbar.

Di tengah kehidupan yang dimana kita menghadapi tantangan yang tidak ringan, kata Jabbar, tentu tak mudah pula kita mengadapi tantangan tersebut dengan kemampuan sendiri. Sehingga, dengan adanya dorongan dari yang lain, kita pun akan mendapatkan penguatan dan motivasi. Karena itu dia mendorong segenap kader untuk terus menghidupkan halaqah dan gerakan nawafil.

Lanjut Ustadz Jabbar, penekanan wadah halaqah untuk warga, bagaimana bisa disergap untuk membangun keilmuan di dalamnya, sambil beliau membacakan surah Az-Zumar ayat 9. Allah SWT berfirman:

اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَآءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَآئِمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ

“(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar 39: Ayat : 9).

Sementara itu, ketua DPD Hidayatullah Luwu Timur, Najamuddin, mengatakan bahwa program ini merupakan program rutin yang dilaksanakan oleh DPD Hidayatullah Luwu Timur pada pekan ke-empat setip bulan berjalan, sehigga warga yang ada di Hidayatullah Wotu juga ikut bergabung.

“Program ini sebagai penguatan komitmen menjadikan kampus-kampus sebagai miniatur peradaban Islam, dan juga merupakan pendalaman keilmuan warga, diprogram ini juga nantinya akan diisi tafsir As- Sa’di dan Kitab Minhajul Muslimin kajian Aqidah, ujarnya.

Hadir pada kesempatan tersebut, warga Hidayatullah Lambara, warga Hidayatullah Wotu, serta santri dan simpatisan sekitar pondok pesantren.*/Andi Alfian Milyardo Salassa