Beranda blog Halaman 551

Teladan Mulia tentang Kebaikan Sejatinya tak Mengenal Usia

0
ILUSTRASI: Meski Usia Sudah 82 Tahun, Nenek Fatima asal Palestina ini berhasil raih Sarjana Hadits di usia tuanya dari Aqsa University, Gaza, Palestina.

TIDAK ada kata terlambat untuk berbuat kebaikan. Menuntut ilmu misalnya, ada kata mutiara: “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat.”

Meskipun ada juga kata mutiara lain, “Belajar di usia belia bagaikan mengukir di atas batu, sedangkan di usia tua bagai mengukir di atas air,” itu sama sekali tidak menutup peluang usia tua untuk berkontribusi dalam kebaikan.

Ada banyak contoh dalam sejarah yang menunjukkan orang baru mulai berbuat kebaikan ketika usianya sudah tidak lagi muda.

Musa bin Nushair, panglima yang ditugasi membebaskan Andalusia, pada waktu penaklukan Spanyol, usianya sudah 72 tahun; Yusuf bin Tasyfin panglima terkenal dari Daulah Murabithun, baru disiplin dengan agama Islam ketika usianya 46 tahun (lihat Raghib As-Sirjani, Kaifa Tushbihu ‘Aliman, 202).

Kedua pahlawan tersebut adalah contoh orang-orang brilian yang baru memulai kontribusi besar kebaikannya ketika sudah berusia tua.

Jauh sebelum itu, ada sosok panglima besar bernama Khalid bin Walid RA. yang baru masuk Islam ketika usianya 47 tahun. Rekannya, Amru bin Ash juga masuk Islam pada usia 57 tahun.

Meski masuk Islam di usia yang tak lagi muda, namun gelora mereka adalah gelora para pemuda. Khalid bin Walid yang berjuluk Saifullah Maslul (Pedang Allah yang Terhunus), dalam setiap pertempuran tidak pernah mengalami kekalahan, dan bisa membebaskan Persia dan Negeri Syam di usianya yang semakin senja.

Demikian juga Amru bin Ash RA. Sejarah mencatat beliau sebagai sahabat yang berjasa besar dalam membebaskan Mesir dari cengkraman Romawi.

Lebih dari itu, Imam Ibnu Jauzi juga bisa dijadikan teladan. Seorang ulama besar dan terkenal dari madzhab Hanbali ini baru menyempurnakan 10 macam bacaan al-Qur`an kepada para Syekh di kala usianya sudah melebihi 80 tahun.

Mengenai figur Imam Ibnu Jauzi tersebut, Syekh Islam Ibnu Taimiyah pernah berujar, “Tidak ada seorang pun yang aku ketehui mengarang buku seperti dirinya. Pada setiap cabang ilmu, ada karangannya. Tapi, ada satu cabang yang belum dikuasai sejak mudanya dan baru ditekuni ketika usianya lebih dari 80 tahun, yaitu Ilmu Qiraat.”

Contoh-contoh yang disebutkan tadi berasal dari masa lalu. Dari masa sekarang pun ada banyak inspirasi yang bisa dijadikan pelajaran bahwa usia tua tidak menghalangi diri untuk berbuat kebaikan.

Lebih sepesifik, contoh berikut adalah tentang orang-orang yang baru menghafal al-Qur`an di usianya yang tak lagi muda.

Pertama, Muhammad Abdul Quddus. Seorang kakek berusia 55 tahun berhasil menghafal al-Qur`an di Jedah. Meskipun ia adalah perantau, di usianya yang ke 55 bertekad kuat untuk menghafalkan al-Qur`an.

Muhammad Abdul Quddus. Dirinya tidak mau kalah dengan para pemuda. Ia mengikuti halaqah Syekh Muhammad Syabih Habib, seorang guru di Jam’iyyah Qur’an Karim (Asosiasi Al-Qur`an al-Karim) di Jeddah.

Hasilnya sungguh fantastis, dua tahun kemudian, beliau tercatat sebagai penghafal al-Qur`an. Lebih dari itu, predikat yang didapatkannya adalah mumtaz (excellent).

Kedua, Muhammad bin Abdullah Musa. Kakek asal Jedah ini baru hafal al-Qur`an ketika usianya sudah 70 tahun. Keberhasilannya menghapal al-Qur`an di usia senja.

Kakek ini membuktikan bahwa pepatah yang mengatakan, “Belajar di masa tua, bagai mengukir di atas batu,” tidak sepenuhnya benar.

Ketiga, lebih mengharukan, ada seorang nenek yang buta huruf bisa menghafal al-Qur`an di atas usia 70 tahun. Nenek yang memiliki nama Ummu Thaha ini tidak mau menyerah dengan kondisi yang ada.

Semangat belajarnya begitu luar biasa. Makanya, tidak heran jika pada akhirnya nenek yang tinggal di Zarqa (Yordania) dan berprofesi sebagai tukang jahit ini mampu menghafal al-Qur`an di usia udzur.

Keempat, ada sosok nenek yang baru hafal al-Qur`an ketika berusia 80 tahun. Nenek yang bernama Ummu Shalih ini, membuktikan bahwa usia bukanlah menjadi penghalang untuk menghafal al-Qur`an.

Kiikutsertaannya dalam menghafal al-Qur`an diawali dengan mengikuti tahsin (perbaikan pelafalan al-Qur`an) di usia 70 tahun. Dengan tekad baja, dan ketekunan tiada lelah, beliau berhasil menghafal al-Qur`an ketika sudah menginjak usia 80 tahun.

Kelima, yang lebih fenomenal adalah Ummu Thalal Al-Muthari. Seorang nenek dari Saudi Arabia yang butah huruf.

Tapi, tekadnya yang sungguh luar biasa membuatnya hafal al-Qur`an di usianya yang ke 86 tahun (Salafuddin Abu Sayyid, Balita pun Hafal Al-Qur`an, 112-139).

Beberapa contoh di atas bisa diambil pelajaran baik bagi para pemuda maupun orang yang sudah tua. Bagi pemuda, manfaatkanlah waktu potensialmu untuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat seperti menuntut ilmu, menghafal al-Qur`an dan lain-lain. Jangan sampai usia muda disia-siakan, apalagi sampai kalah dengan yang berusia senja.

Adapun bagi yang sudah tua, tidak ada istilah terlambat. Contoh di atas adalah bukti konkret bahwa usia bukanlah pantangan untuk berbuat kebaikan.

Sebagai penutup, sabda nabi berikut bisa direnungi:

إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَ فِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيْلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لاَ تَقُوْمَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

“Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanam sebelum terjadi kiamat maka hendaklah dia menanamnya.” (HR. Bukhari dan Ahmad).

Hadits ini secara jelas menunjukkan bahwa kebaikan dilakukan tidaklah mengenal usia. Selagi sempat, maka teruslah berbuat, walau sebentarlagi kiamat. Wallahu a’lam.*/Mahmud Budi Setiawan/ Hidcom

Walikota dan Wakil Saksi Nikah Mubarak Hidayatullah Makassar

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) – Walikota Makassar Muhammad Ramdhan Pomanto atau karib disapa Danny menjadi saksi acara pernikahan massal mubarak yang digelar di Bumi Tamalanrea Permai (BTP) Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (4/11/2017).

Tampak juga saksi lainnya dari pernikahan massal ini yakni Wakil Walikota Makassar Syamsu Rizal atau kerap disapa Deng Ical serta pengasuh Ponpes Hidayatullah Makassar Abdul Aziz Qahar Muzakkar serta beberapa ulama-ulama Kota Makassar.

Dalam sambutannya, Walikota Danny mengaku turut berbahagia. Katanya, nikah massal ini tentunya menjadi langkah baik guna menghindarkan seseorang dari yang namanya kumpul kebo.

Dia menyebutkan, dari hasil survei, 99,9% seseorang menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya setelah menikah.

“Namun kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak pasangan yang sudah niat namun tidak mampu untuk melangsungkan pernikahan. Karena mahalnya uang panaik atau mahar seorang wanita,” ucapnya setengah berseloroh.

Danny pun berpesan kepada 9 pengantin ini agar selalu bersyukur kepada Allah SWT dengan menjaga pernikahan sampai akhir hayat tanpa perceraian.

“Doa buat penjenengan pasangan pengantin semoga pernikahan ini menjadi berkah, selalu bersyukur kepada Allah SWT dan Selalu menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah,” pesan Danny.

Nikah massal ini juga bertujuan sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap masyarakat Kota Makassar yang kali ini terkhusus untuk para santri yang ingin menikah.

Kebahagiaan yang tak terkira terpancar dari wajah 9 pasangan yang ikut dalam pernikahan Mubarak Hidayatullah Makassar, di Bumi Tamalanrea Permai (BTP).

Salah seorang peserta mengaku tidak menyangka akhirnya dapat melangsungkan pesta pernikahan tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun.

“Alhamdulillah, senang sekali akhirnya mimpi saya untuk dapat menikah terwujud. Saya berterima kasih kepada Pondok Pesantren Hidayatullah yang sudah mengadakan nikah massal gratis ini. Doakan kami semoga jadi keluarga yang Sakinah, Mawadah dan Warahmah,” ucap salah satu pasangan usai prosesi akad nikah.

Aziz Qahar selaku pembina pondok dalam sambutannya di hadapan tamu hadirin dan mempelai pengantin mengungkapkan pernikahan yang diadakan Pesantren Hidayatullah ini merupakan pernikahan yang syari dan ekonomis.

“Secara ekonomi, memang pernikahan ini tergolong murah. Namun secara mahar dan kualitas, ini pernikahan yang paling termahal,” katanya.

Aziz Qahhar, sapaan akrab bakal calon wakil gubernur yang mendampingi Nurdin Halid (NH) ini mengungkapkan, inilah pernikahan yang paling termurah di Sulawesi Selatan, tetapi bukan murahan.

Sebab, kata ustadz Aziz Qahhar, pernikahan ini bukan sembarangan pernikahan, melainkan pernikahan yang melewati proses syariah yang begitu panjang, sebagai mana anjuran Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam. (ybh/hio)

Dirjen PKTrans Pelepasan Dai Transmigran Hidayatullah

0

MAMUJU TENGAH (Hidayatullah.or.id) – Kabupaten Mamuju Tengah menjadi tuan rumah acara Pelepasan Dai Transmigrasi Hidayatullah Sulawesi Barat. Mamuju Tengah adalah salah satu dari 6 (enam) kabupaten yang ada dalam propinsi Sulawesi Barat yakni kabupaten Mamasa, Kabupaten Majene, Polewai Mandar, Mamuju dan kabupaten Mamuju Utara.

Ruang Pendopo Bupati Mamuju Tengah menjadi tempat pelepasan dai transmigrasi dan menjadi istimewa karena dilakukan oleh Direktur Jenderal Direktoral Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Ditjen PKTrans Kemendesa) DR. H. M. Nurdin, MT.

“Tugasnya (para dai) sangat berat, mengawal generasi kita agar tidak terlibat dengan narkoba, bahkan dengan segenap kemampuan dan fasilitasnya diharapkan bisa mendekatkan masyarakat agar taat kepada tuhannya,” tegasnya mengawali sambutannya.

Nurdin jelaskan, bahwa membangun wilayah transmigrasi adalah membangun manusia seutuhnya dan pekerjaan ini adalah proyek besar yang tidak ada ujungnya. Maka para dai dipaksa untuk bisa semangat dengan apa yang mereka miliki.

Sebanyak 30 dai mewakili seluruh dai Hidayatullah yang tersebar di wilayah Sulawesi Barat yang secara resmi dilepas itu juga mendapatkan spirit dalam sambutan bupati Mamuju tengah yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Mamuju Tengah Askary, S.Sos.

Sekda Mamuju Tengah juga menguatkan apa yang dilakukan dai Hidayatullah Sulawesi Barat khususnya yang bertugas di daerahnya. Dia mengatakan jauh sebelum kabupaten ini terbentuk dai Hidayatullah sudah merambah hingga ke pedalaman desa Sejati.

Askary yang juga sebagai sekda pertama itu menjelaskan, “Sinergi pemkab dengan Hidayatullah bukan yang pertama, sehinga harapan kami semoga daerah ini menjadi daerah yang maju dan bermartabat”.

“Karena membangun peradaban bangsa itu juga ada pada pembinaan wilayah transmigrasi dan dalam proses pembinaan itulah sebenarnya juga para dai sudah mengambil peran pemerintah dalam hal pembinaan mental spiritualnya,” katanya.

Sadar akan ancaman bahaya yang mengancam kehidupan beragama dan bermasyarakat warga transmigrasi yang hampir seluruhnya menjadi desa definitif dan mandiri itu pemerintah Mamuju Tengah mengambil langkah dalam melakukan pembinaan warganya.

Sulawesi Barat sebagai propinsi yang masih tergolong muda masih harus memacu diri dalam perkembangan daerah yang signifikan.

Senada dengan itu, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Barat Imron Djufri,S.Pd.I juga menekankan pada orientasi proses dalam melakukan tugasnya.

Dia menegaskan, para dai yang notabene juga adalah pengurus struktural di lembaga ini harus bisa memerankan tugas dan fungsinya dengan baik.

“Sebagai dai kita harus dinamis dan terus membekali diri dalam pelbagai hal terutama wawasan keilmuan agama karena masyarakat sangat membutuhkan pencerahan,” demikian Imron memungkasi. (Muhammad Bashori)

Wabup Resmikan Bangunan Perpus Hibah dari Jepang

0
PERESMIAN : Wakil Bupati Malinau Topan Amrulah S.Pd M.Si yang didampingi Masaki, Konsulat Jepang saat meresmikan Bangunan Perpustakaan SDIT Hidayatullah Malinau Kota. EKO WIJIYANTO/ RADARTARAKAN

MALINAU (Hidayatullah.or.id) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau meresmikan pembangunan proyek Perpustakaan SDIT Pondok Pesantren Hidayatullah Malinau, Kalimantan Utara, melalui program bantuan hibah untuk Keamanan Manusia Tingkat Akar Rumput/ Grant Assistance For Grass-Roots Human Security Projects (GGP) dari Konsulat Jepang.

Peresmian itu dilakukan di salah satu ruang kelas SDIT Hidayatullah yang dihadiri sekretaris kecamatan (sekcam), pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Malinau, murid-murid TK-SMA Hidayatullah dan pengawas sekolah dari Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Kaltara, Ahad (31/10/2017).

“Sangat bagus menjalin hubungan baik antar negara. Terlebih dengan adanya bantuan kemanusian seperti saat ini yang sudah tepat sasaran,” ungkap Wakil Bupati Malinau Topan Amrulah S.Pd M.Si yang menyampaikan sambutan Bupati Malinau.

Dijelaskannya, Pendidikan Dasar merupakan salah satu hal yang paling penting dalam kehidupan.

Sebagaimana diketahui setelah tertimpa bencana angin puting beliung pada tahun 2012, para murid SD Integral Hidayatullah Malinau selama ini belajar tanpa meja dan kursi. Serta tidak memiliki fasilitas perpustakaan yang memadai.

Untuk itu dengan adanya ruang perpustakaan dan peralatan belajar yang baru, murid dapat belajar lebih giat dan bisa melanjutkan pendidikan.

Bantuan ini juga merupakan itikad baik dari penduduk Jepang kepada masyarakat Indonesia yang sudah memiliki hubungan persahabatan yang baik antar kedua negara.

“Semoga itikad baik ini dapat diterima dengan baik oleh SD Integral Hidayatullah, dengan cara merawat dan menggunakan fasilitas sekolah ini sebaik mungkin. Sehingga bantuan ini dapat berkontribusi besar serta bermanfaat dalam jangka panjang bagi warga didaerah ini,” jelasnya.

“Terlebih pada peningkatan kurikulum,” lanjut Topan selain itu juga sebagai penunjang pembelajaran. Karena, lanjut Wabup, di Kabupaten Malinau yang mempunyai program unggulan salah satunya Wajar 16 tahun yang harapannya kelak bisa mencetak pemuda yang terampil dengan kemajuan karena harus diselamatkan dari krisis moral yang semakin menurun.

Untuk itu sangat diharapkan adanya bantuan ini bisa mendorong efektivitas pembelajaran, dan masih banyak lagi optimalisasi lain. Salah satunya perpustakaan sekolah yang sangat penting yang tidak bisa dipisahkan dari program sekolah sebagai pusat informasi dan pengetahuan.

Masaki, Konsulat Jepang yang juga hadir dalam peresmian tersebut mengatakan ahwa pentingnya pendidikan bagi warga yang harus diperhatikan.

“Perpustakaan adalah gerbang pendidikan bagi murid-murid yang diharapkan bisa digunakan semaksimal mungkin,” Masaki.

Selain itu ia juga menjelaskan bantuan di Malinau ini adalah kali pertama pihaknya. Kabupaten Malinau juga sangat beruntung karena dari 200 permohonan setiap tahunya yang hanya diambil 4, Malinau menjadi yang pertama direalisasikan.

Adapun kedepan, jika masih dibutuhkan pihaknya akan siap membantu namun harus melalui permohonan yang masih akan disaring.

“Jika yang mau bisa mengajukan, namun ada persyaratannya kecuali instansi pemerintah tidak bisa dibantu,” tegasnya.

Ia berharap, bantuan pembangunan perpustakaan dan mebelair yang telah menghabiskan dana senilai Rp 493.769.000 ini bisa dimanfaatkan dengan baik. Sedangkan untuk kelengkapan buku perpustakaan sendiri dipasrahkan oleh pihak sekolah. (Radar Kaltara)

Diterima Kodim 0508, STIE Hidayatullah Teguhkan Pengabdian Masyarakat

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Pengurus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID) bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) serta bakal pengurus Resimen Mahasiswa (Menwa) STIE Hidayatullah Depok melakukan audiensi silaturrahim ke Markas Kodim Depok yang diterima dengan hangat oleh Kepala Divisi Teritorial (Pasiter) Kodim 0508 Kota Depok, Kapten Inf Robby M pada Selasa (31/10/2017).

Silaturrahim tersebut dilakukan rombongan STIE Hidayatullah selepas mengikuti apel kesiapsiagaan penanggulangan bencana banjir wilayah Kota Depok dipimpin langsung oleh Komandan Kodim 0508 Letkol Inf M Iskandar yang digelar di halaman Balai Kota Depok. Acara tersebut juga turut dihadiri oleh segenap unsur Pemerintah Kota Depok bersama Kodim 0508 Depok, Polresta Depok dan stakeholder.

Pengurus STIE Hidayatullah yang diwakili oleh WAKA III Bidang Kemahasiswaan Suheri Abdullah menyampaikan rencana STIE Hidayatullah ingin membentuk Resimen Mahasiswa.

Dengan kehadiran Menwa STIE Hidayatullah, kata Suheri, diharapkan akan menunjang kiprah mahasiswa STIE Hidayatullah Depok yang umumnya selama ini secara aktif bergelut dalam penanggulangan bencana dan pelestarian lingkungan.

Program tersebut disambut baik oleh Kapten Robby. Dia mengatakan, pihaknya siap untuk membantu dan melatih para mahasiswa terutama materi Bela Negara.

“Niatan tersebut segera disampaikan juga ke Kesbangpolinmas agar Menwa yang akan dibentuk secara resmi mendapatkan izin dari Pemda. Sehingga dalam pelaksanaan kegiatan nanti bisa berjalan dengan baik dan maksimal,” kata Kapten Robby seraya berpesan.

Suheri Abdullah didampingi Presma BEM beserta Staf, dan bakal Komandan Menwa beserta Wakil, sangat antusias mendengarkan dan menyimak arahan dan saran yang disampaikan oleh Kapten Inf Robby.

Kapten Robby mengaku pihaknya senang dan menyambut baik inisiatif dari Pengurus STIE Hidayatullah untuk kembali mengembangkan Menwa. Karena menurutnya, untuk wilayah Depok baru hanya Menwa UI yang ada.

“Dan STIE Hidayatullah ini yang masih punya semangat,” kata Kapten Robby seraya memberi dorongan bahwa pada masa Pra Kemerdekaan para santri, pemuda dan masyarakatlah yang turun kejalan dalam merebut kemerdekaan Indonesia.

“Kami akan tunggu informasi dari Menwa STIE Hidayatullah untuk kesiapan rencana Pelatihannya. Kita akan lihat kondisi kampus kalau memungkinkan untuk tempat latihan, atau bisa langsung latihan di Rindam Gnung Buuder Bogor,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut Kaptan Robby mengajak rombongan STIE Hidayatullah untuk mennonton film Merah Putih Memanggil yang akan diputar di Markas TNI di Cijantung.

“Dengan kehadiran Menwa, akan semakin ditumbuhkan rasa cinta terhadap negara dan bela negara yang diaplikasikan keseharian,” harapnya.

Menyambut harapan Kapten Robby, Suheri Abdullah mengatakan pihaknya akan segera mempersiapkan segala sesuatunya dan mengambil langkah yang diperlukan guna pembentukan pengurus Menwa STIE Hidayatullah Depok.

Teguhkan Pengabdian

Dalam rangka memantapkan peranannya dalam kehidupan masyarakat serta mengaktualisasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, STIE Hidayatullah Depok berkomitmen terus meneguhkan program pengabdian kemasyarakatan.

Suheri mengatakan, di antara program yang telah dicanangkan secara berkesinambungan dan telah berjalan selama beberapa tahun terakhir ini adalah KKN ke masjid-masjid.

“Akhir semester, mahasiswa melakukan KKN ke masjid-masjid. Berinteraksi dengan masyarakat untuk membangun kecakapan sosial, membina anak-anak dan remaja, dan mendorong mahasiswa agar merangsang tumbuhnya etos kemandirian ekonomi yang berbasis keummatan,” kata Suheri.

Suheri menerangkan, sebagai Perguruan Tinggi yang menjadi tujuan mahasiswa yang datang dari berbagai latar belakang suku dan kultur, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah sekaligus meneguhkan diri menjadi kampus miniatur Indonesia.

“Sebagai miniatur, output perguruan tinggi STIE Hidayatullah dituntut memiliki kecakapan tentang wawasan kebangsaan. Dengan program ikatan dinas, biasanya, lulusan yang berasal dari daerah suku tertentu, tidak balik ke kampungnya, tapi ditugaskan ke daerah lain. Agar mereka kian mengenal bangsa ini dan makin cinta Indonesia dengan segala keragamannya,” tukas Suheri.

Dengan bangga penuh kesyukuran, Suheri mengaku bangga alumni STIE Hidayatullah telah menyebar ke berbagai daerah di Nusantara mulai dari Sumatera hingga Papua dalam rangka mengaplikasikan ilmu dan pengalamannya untuk kepentingan umat.

Salah seorang mahasiswa STIE Hidayatullah yang saat ini tengahmenjalani program KKN, Ghani Alfianto, mengaku bangga menempuh studi di STIE Hidayatullah.

Apalagi, kata dia, dengan adanya program ekstrakurililer seperti Mapala yang selama ini ditekuninya, membuat dirinya mendapatkan banyak pengalaman.

“Di Mapala STIE Hidayatullah kami aktif di SAR Hidayatullah. Teman-teman sering menjadi relawan membantu korban bencana alam seperti di longsor Garut, termasuk menjadi relawan tim Basarnas dalam pencarian korban Sukhoi SSJ 100 di Gunung Salak,” kata Ghani.

Ghani dan rekan-rekannya mahasiswa STIE Hidayatullah juga merupakan anggota Komunitas Peduli Ciliwung Depok yang memiliki agenda rutin bersih-bersih lingkungan khususnya Sungai Ciliwung.

“Bagi saya, menjaga NKRI berarti juga menjaga kerukunan antar sesama serta menjaga kelestarian lingkungan. Cinta NKRI itu dengan bukti, bukan basa-basi apalagi hanya caci maki yang merendahkan harga diri,” tukasnya tegas. (ybh/hio)

“Kamilah yang Melamar Gadis untuk Keempat Pengantin Pria”

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) – Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Batam menggelar acara pernikahan massal mubarak sebanyak 4 pasang santri yang juga merupakan helatan keempat kalinya yang digelar di Batam, Batuaji, Sabtu (28/10/2017).

“Para pengantin pria dan perempuan ini tak pernah bertemu langsung sebelumnya. Tak ada itu pacar-pacaran,” ujar pendiri Yayasan Hidayatullah Batam, KH Jamaludin Nur.

Jamaludin Nur yang menjadi saksi pada acara sakral tersebut mengatakan, di antara tujuan kegiatan ini untuk menjalankan salah satu syariat Islam yaitu pernikahan. Dengan harapan, kelak dari pernikahan ini akan lahir kader-kader dai Islam.

“Bahwa dengan menikah nantinya akan lahir generasi-generasi Islam yang taat yang terus membela, mengokohkan dan menyiarkan agama Allah. Kiranya ini menjadi harapan kita bersama, aamiin,” ujar Jamaludin saat menyampaikan nasehat pernikahan.

Lebih lanjut, Jamaludin mengatakan, bahwa menikah merupakan sebuah jihad dan sudah melaksanakan dari separoh agama.

“Kalau sudah menikah harus bisa menjadi imam buat keluarga. Penuhilah rumahtangga itu dengan kasih sayang dan tanggungjawab, dengan demikian akan diperoleh ketenangan dan ketentraman. Allah-lah yang menjadikan keluarga kalian yang menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rohmah taatlah kepada Allah dan bertakwalah kepadaNya,” ujar pria yang juga menjadi peserta pernikahan Mubarak 100 pasang pengantin di Gunung Tembak pada 1997 silam.

Dalam sambutannya, Jamaluddin juga sempat menceritakan tentang proses lamaran untuk keempat pengantin pria tersebut.

“Kamilah yang melamar mereka (gadis) untuk keempat pengantin pria ini. Mereka baru saling bertemu saat penyerahan mahar, itu pun hanya lihat sekilas saja, cuma melirik lah. Alhamdulillah sejauh ini pernikahan seperti ini berhasil dan Insha Allah tidak ada yang gagal, saya sendiri juga menikah dengan cara dijodohkan seperti ini pada tahun 1997 lalu,” kenangnya.

Jamaluddin juga mengatakan, bahwa salah satu tujuan menikah adalah untuk memenuhi kebutuhan fitrah manusia. Dan Islam pun memudahkan urusan bagi siapa yang sudah siap dan mampu untuk menikah.

“Islam mengoreksi adat jahiliah bangsa Arab yang berlebihan dalam menetapkan mahar. Mahar yang tinggi seringkali menjadi barrier bagi pernikahan. Akibatnya, banyak perkawinan yang tak dapat dilangsungkan karena ketidaksanggupan memenuhi tuntutan mahar yang tinggi dari pihak perempuan. Hal itu jelas menyalahi kehendak agama Islam,” katanya.

“Nabi menganjurkan memberi mahar walaupun berbentuk cincin besi. Sebab, mahar bukanlah simbol nilai perempuan dalam perkawinan, tetapi simbol kewajiban suami akan memberi nafkah kepada istrinya. Untuk saling menjaga, saling menghormati, saling menyayangi dan saling mengasihi,” katanya lagi.

Empat pasang pengantin dinikahkan secara massal oleh Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Batuaji, H Suardi di Masjid Agung Hidayatullah Batam, Batuaji.

Keempat pasang pengantin tersebut yaitu Dedi Yulianta berpasangan dengan Jibrila Karimatul Maulida, Muhammad Irfan dengan Luthfiah Hani Munaf, Amirullah dengan Atina HasanahBahrus Salam dengan Sutriani.

Keempat pasangan pengantin ini merupakan alumni Pondok Pesantren Hidatayullah Batam yang mengabdikan diri di pesantren tersebut menjadi ustaz dan ustazah yang mendidik para santri di pesantren itu.

Hadir pada acara tersebut Anggota Dewan Muzakaroh Hidayatullah Pusat Ustaz Naspi Arsyad, Kedep Wakaf dan Kehartabendaan DPP Hidayatullah Syaefullah Hamid, Ketua DPW Hidayatullah Batam Ustaz Khoirul Amri, para ustaz dan ustazah, santri, dan tamu undangan.

 

Sementara itu Ust Muhammad Ramli yang menjadi ketua panitia pernikahan mubarok mengatakan, bahwa proses lamaran dan akad nikah hanya dua minggu saja, dan keempat pasangan pengantin tersebut tidak mengenal satu sama lainnya sebelumnya.

“Jadi bagi yang sudah siap untuk menikah, maka kita pun akan memfasilitasinya dengan demikian akan menutup rapat-rapat pintu perzinaan yang dilarang keras dalam Islam. Jadi keempat pasangan pengantin itu hanya tahu pasangan mereka dari biodata dan melihat foto saja,” ujar ustaz Ramli.

Amirullah, salah seorang mempelai mengatakan bahwa ia sama sekali tidak keberatan melakukan pernikahan seperti itu, meskipun ia juga tidak memiliki bayangan tentang istrinya.

“Belum pernah kenal, saya hanya tahu bahwa calon istri saya juga alumni Hidayatullah dan hapal Al-Quran 30 juz. Saya percaya dengan pilihan ustaz di pesantren karena tidak mungkin kami dipilihkan orang yang salah,” ujar suami Atina Hasanah itu. (Batam Pos)

Kapolda Safari Silaturrahim ke Ponpes Hidayatullah Bontang

0

BONTANG (Hidayatullah.or.id) – Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Provinsi Kalimantan Timur Irjen Pol Safaruddin melakukan safari anjangsana silaturrahim ke Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Bontang, Kaltim, pada Sabtu (27/10/2017).

Kapolda bersama rombongan dan jajarannya tiba di Kampus Hidayatullah Bontang disambut oleh ratusan santri dan masyarakat.

Tampak hadir unsur pengurus pada kesempatan tersebut seperti Sekretaris DPW Hidayatullah Kaltim Abdullah Syarif, Pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang Ust H Jamaluddin Ibrahim, pengasuh pesantren Ust Dzulkifli Manshur, Ketua DPD Hidayatullah Bontang Jamaluddin Afghani, Ketua BMH Bontang Hardiman, dan juga intelektual muda Bontang Mardiansyah Musawwimi.

Dalam sambutannya dan pengarahannya di hadapan jamaah yang memadati Masjid Ar Riyadh Kampus Hidayatullah Bontang, Kapolda mengapresiasi Hidayatullah sebagai lembaga dakwah dan pendidikan yang kini terus mengalami perkembangan yang luar biasa.

Kapolda juga mendorong santri untuk menjadi polisi yang mengabdi kepada umat. Beliau mengatakan, Pesantren Hidayatullah sebagai lembaga pendidikan yang memiliki kompetensi melahirkan santri-santri multi talenta dapat menjadi input personel-personel Polisi dan Polwan masa depan.

“Sehingga secara sistematis dapat menjadikan warna Korps Kepolisian yang lebih baik,” katanya di hadapan santri dan jamaah.

Kapolda mengaku sangat bangga apabila Korps Polisi mendatang banyak diisi oleh santri atau santriwati. Bahkan beliau siap memfasilitasi adanya pelatihan calon-calon taruna polisi dan polwan untuk dilakukan persiapan-persiapan fisik dan mental bagi santri peminat menjadi taruna polisi.

“Jikalau polri mau diperbaiki maka jangan dijauhi justru dekati. Bahkan saya meminta dari santri-santri daftar masuk Polri sehingga kalau diterima jadi anggota Polri maka perbaikilah Polri dari dalam,” katanya.

Justru, lanjut beliau, kalau anggota Polri memiliki iman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa bisa menjadi kebanggan tersendiri.

Pada kesempatan tersebut Kapolda mendorong santri Hidayatullah untuk selalu bersemangat menuntut ilmu, rajin beribadah, gemar membantu, menjaga akhlak, serta membekali diri dengan skil praktis agar dapat bersaing di era global dan terus mengabdi untuk NKRI.

Kunjungan ke Kota Bontang merupakan agenda roadshow Kapolda ke berbagai kota di Kalimantan Timur. Sebelumnya ia juga melakukan kunjungan ke PT Badak NGL, PT Pupuk Kaltim, dan sejumlah kawasan lainnya termasuk silaturahmi bersama masyarakat Muara Badak, Kutai Kartanegara yang memang cukup dengan dengan daerah Bontang.

Kapolda tiba di Bontang pada Jumat (27/10) pukul 11.00 WITA tiba di Bandara LNG Badak Bontang yang disambut Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni, Dir & Coo PT Badak LNG Yhenda Permana, Ketua KKSS Kaltim Sofyan Hasdam, Sekper PT Pupuk Kaltim Budi Wahyu Soesilo, Kapolres Bontang AKBP Dedi Agustino, Dandim Letkol Arh Gunawan Wibisono. (ybh/hio)

Memaknai Sumpah Pemuda, Menjadi Indonesia yang Otentik

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh setiap tanggal 28 Oktober harus dimaknai sebagai komitmen untuk menjadi (orang) Indonesia yang otentik.

Demikian dikatakan Ketua Umum Pengurus Pusat Syabab (Pemuda) Hidayatullah Suhardi Sukiman dalam sebuah forum diskusi informal di Jakarta baru baru ini.

“Peristiwa Sumpah Pemuda yang selalu kita peringati sebenarnya memuat pesan agar kita menjadi Indonesia yang otentik. Sehingga, kita menjadi warga negara yang juga “organik” termasuk dalam praktik toleransi,” kata Suhardi.

Menurut Suhardi, ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 perlu direaktualisasi dengan semangat kebaharuan. Dia mengutarakan, Pemuda Indonesia hari ini tidak lagi sebatas bersumpah untuk meneguhkan satu bangsa, bertumpah darah satu, dan menjunjung tinggi bahasa persatuan. Namun lebih dari itu, pemuda juga harus meneguhkan semangat Indonesia yang otentik.

“Indonesia yang otentik, menurut saya, adalah pemuda yang mengalir di dalam tubuhnya darah patriotik dan semangat bumi putera untuk menjaga Tanah Air dari kuasa aseng dan asing,” katanya.

Selain itu, Suhardi menilai Sumpah Pemuda juga mesti dimaknai sebagai pengejawantahan keterhubungan sesama yang saling menghargai dan menghormati.

Karenanya, kata dia, sumpah pemuda sebenarnya juga membawa pesan untuk merawat toleransi yang otentik. Sebab, dia menegaskan, toleransi bukanlah istilah yang bisa dikooptasi kelompok tertentu untuk menyudutkan seolah umat Islam tidak toleran.

“Umat Islam khususnya pemuda Islam Indonesia telah membuktikan komitmennya dalam menjaga toleransi antar sesama. Seruan kitab suci Al Quran bahwa ‘Untukmu agamamu, untukku agamaku’ merupakan basis nilai yang sangat tegas bagaimana Islam sangat menjaga kedamaian dan ketertiban,” tandasnya. (ybh/hio)

Mengoptimalkan Dakwah untuk Mengangkat Martabat Umat

0

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) – Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah Ust Ir Ansar Amiruddin mendorong segenap kader Hidayatullah di Kalimantan Timur khususnya fungsionaris struktural DPW dan DPD untuk terus menjaga spirit dakwah dan senantiasa mengoptimalkannya dalam rangka mengangkat martabat umat.

Hal tersebut disampaikan beliau kala menjadi narasumber dalam acara silaturrahim DM DPP Hidayatullah dengan pengurus DPW dan Ketua DPD Hidayatullah se-Kalimantan Timur, Kamis (26/10/2017).

Beliau mengingatkan, Tauhid sejatinya merupakan perekat sosial serta untuk menjaga harkat dan martabat manusia. Sebab, demikianlah Islam hadir sebagai rahmat yang menggembirakan bagi alam semesta.

Karena itu, lanjutnya, Tauhid mestinya menjadi pegangan pokok bagi kehidupan manusia, karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal yang akan menghantarkan manusia kepada kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki dunia dan di alam akhirat nanti.

“Konsolidasi berangkai dengan silaturrahim dan dakwah fardiyyah kepada segenap kader dan jamaah Hidayatullah mutlak untuk terus dioptimalkan di tiap daerah guna terbangunnya peradaban Islam yang sangat diperlukan bagi peningkatan harkat martabat umat,” pesannya.

Beliau menekankan bahwa Al-Qur’an sebagai mukjizat akhir zaman dan Hadits Rasulullah merupakan pedoman hukum Islam dimaksudkan supaya perilaku manusia tidak melenceng dari apa yang diajarkan oleh Islam yang menuntutnn manusia agar menjaga kehidupan dunia yang harmonis.

Dengan penguatan dakwah baik fardiyah maupun jam’iyah serta memantapkan langkah mainstream program yang ada, Ust Ansar mengharapkan Hidayatullah terus meningkatkan perannya dalam mendukung agenda pembangunan di kawasan khususnya di Benua Etam. (ybh/hio)

Teladan Empat Madzhab dalam Toleransi Perbedaan Pendapat

0

ULAMA empat madzhab adalah para figur ulama yang mengedepankan kesatuan pendapat, dan tidak egois dengan pendapatnya.

Meski memiliki pandapat sendiri dalam madzhab, namun masing-masing madzhab selalu melihat pendapat madzhab lain. Dan melakukan upaya agar untuk menghilangkan perbedaan, yang biasa disebut muru`atul khilaf, dimana masing-masing madzhab bersepakat bahwa keluar dari ranah khilaf merupakan perkara yang mustahab.

Demikian, beberapa contoh, upaya masing-masing madzhab untuk meminimalisir perbedaan dengan madzhab lain di beberapa masalah.

Madzhab Hanafi

Membaca surat Al Fatihah dalam madzhab Hanafi bukanlah bagian dari rukun yang harus dikerjakan, namun ulama madzhab Hanafi memotivasi agar pengikutnya membaca surat Al Fatihah saat shalat jenazah.

Tertulis dalam kitab fiqih Al Hanafi, Maraqi Al Falah, ”… dan boleh membaca Al Fatihah dengan tujuan memberikan pujian, demikian hal ini telah dinashkan bagi madzhab kita, dan di Al Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, bahwa ia menshalatkan janazah lalu membaca Al Fatihah dan berkata, “Agar mereka mengetahui bahwa hal itu sunnah” Dan hadits itu dishahihkan oleh At Tirmidzi. Dan para imam kita berkata bahwa memperhatikan perkara khilaf mustahab, sedangkan hal itu (membaca Al Fatihah) fardhu menurut Asy Syafi’I Rahimahullah Ta’ala, maka tidak mengapa membacanya dengan tujuan membaca Al Qur`an untuk keluar dari khilaf.” (Maraqi Al Falah, hal. 227)

Dalam madzhab Hanafi tidak diwajibkan wudhu bagi siapa yang mengusung jenazah. Namun Imam Ahmad berpendapat wajib berwudhu bagi siapa yang telah mengusung jenazah, maka dalam hal ini Ath Thahthawi berkata, ”Maka disunnahkan wudhu, untuk keluar dari khilaf, juga untuk mengamalkan hadits.” (Hasyiyah ATh Thahthawi, 1/55)

Madzhab Maliki

Bagi madzhab Maliki, membaca basmalah sebelum Al Fatihah adalah perkara yang mubah, dan shalatnya sah, sedangkan bagi madzhab Asy Syafi’i, tidak sah shalat jika tidak membacanya, karena itu bagian dari Al Fatihah.

An Nafrawi pun berkata, ”Yang disepakati lebih baik daripada yang tidak disepakati, telah berkata Imam Al Qarrafi (Maliki), dan Ibnu Rusyd (Maliki) dan Al Ghazali bahwa bagian dari kehati-hatian keluar dari khilaf dengan membaca basmalah dalam shalat.” (Al Fawaqih Ad Dawani, hal. 409)

Madzhab Syafi’i

Dalam madzhab Syafi’i tidak diperlukan niat bagi siapa yang memandikan jenazah. Namun, mustahab untuk meniatkannya, dalam rangka keluar dari khilaf, dikarenakan Imam Malik mewajibkan niat bagi yang memandikan jenazah. (lihat, Tuhfah Al Habib, 2/516)

Meski dalam madzhab Asy Syafi’i dinyatakan sah shalat sendiri di belakang shaf, namun disunnahkan menarik seseorang dari shaf depan untuk shalat bersamanya di belakang. Hal itu dikarenakan Imam Ahmad menilai bahwa shalat sendirian di belakang shaf tidak sah (lihat Hasyiyah Al Bujairimi, 1/322)

Dalam madzhab Asy Syafi’i i’tikaf sah dilakukan di masjid meski bukan masjid jami’, namun Imam Asy Syriazi berkata, ”Dan lebih utama beri’tikaf di masjid jami’, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah beri’tikaf kecuali di masjid jami’, juga karena di masjid jami’ lebih banyak jama’ah shalatnya, juga dalam rangka keluar dari khilaf, dimana Az Zuhri menyatakan tidak boleh i’tikaf kecuali di masjid jami’.” (Al Majmu’, 6/504)

Meskipun dalam madzab Asy Syafi’i sah melakukan i’tikaf kurang dari satu hari, namun Imam Asy Syafi’i berkata, ”Lebih utama, ia tidak kurang dari satu hari, karena tidak pernah dinukil dari Rasulullah Shallallahu Alihi Wasallam dan para sahabatnya bahwasannya mereka beri’tikaf kurang dari satu hari dan dalam rangka keluar dari khilaf Abu Hanifah dan lainnya yang mensyarakan i’tikaf satu hari atau lebih.” (Al Majmu’, 6/513)

Madzhab Hanbali

Takbir dalam shalat jenazah diriwayatkan dari Imam Ahmad beberapa riwayat, yang menunjukkan jumlah takbir lebih dari empat takbir, namun Ibnu Qudamah mengatakan, ”Lebih utama tidak lebih dari empat, karena hal itu keluar dari khilaf, dan mayoritas ahlul ilmi berpendapat bahwa takbir empat kali.” Diantara ulama yang berpendapat takbir empat kali adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy Syafi’i (Asy Syarh Al Kabir, 2/352).

Apa yang disebutkan hanya merupakan beberapa contoh dari upaya keluar dari khilaf, dan masih ada ratusan masalah lainnya, yang tertulis dalam kitab-kitab fiqih empat madzhab.

Tentu hal ini menjadi bukti bahwa madzhab empat, meski berbeda pendapat namun tetap toleransi terhadap madzhab lain. Jika demikian, klaim bahwa adanya madzhab merupakan sumber perpecahan juga tidak benar. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam. (Thoriq)