Beranda blog Halaman 574

Terima Hidayatullah Gorontalo, Zudan: Ulama dan Umara Tak Terpisahkan

Audiensi Syabab GorontaloHidayatullah.or.id – Pelaksana tugas (plt) Gubernur Gorontalo, Zudan Arif Fakrulloh, menerima audiensi rombongan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) HIdayatullah Provinsi Gorontalo di rumahnya dinasnya, belum lama ini.

Pada kesempatan itu Zudan sangat mengapresiasi koordinasi ulama di Gorontalo dengan umara (pemimpin pemerintah). Dan ini, tegas dia, adalah yang sangat diharapkan oleh negara.

“Dan ini diharapkan berjalan terus, sehingga antara pemuka agama dan pemerintah bisa berjalan bersama. Pemerintahanya jalan, pengembangan akhlak ummatpun tetap berjalan, saling mendukunglah,” kata Zudan Arif Fakrulloh saat menerima silaturahmi dari pegurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Hidayatullah, bertempat di Rumah Dinas Gubernur Gorontalo, Rabu (18/8/2017).

Zudan menambahkan bahwa, dalam pertemuan ini, DPW Hidayatullah menyampaikan perkembangan keberadaan pesantren Hidatullah yang ada di 34 provinsi termasuk di Gorontalo.

Pihaknya selaku pemerintah daerah menyambut baik kiprah Pesantren Hidayatullah di Gorontalo dan akan mendukung setiap pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) baik pendidikan formal di sekolah maupun pendidikan agama di pesantren.

“Sekaligus mereka mengundang saya, dalam rapat kerja DPW Hidayatullah se-Provinsi Gorontalo, pada tanggal 28-29 Januari nanti,” jelasnya kepada wartawan usia acara.

Sehingga, lanjut dia, antara ulama dan umara ini, bisa terus bekerjasama saling mendukung untuk menjaga kondusifitas daerah, terutama Gorontalo yang sangat terkenal dengan daerah yang paling aman.

“Antara ulama dan umara, tidak bisa dipisahkan. Punya tanggungjawab yang sama dalam membangun kehidupan umat beragama,”tutupnya.

Sementara itu Ketua DPW Hidayatullah Gorontalo Drs. Abu Bakar Muis pada kesempatan itu mengatakan Hidayatullah akan menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) pada akhir Januari nanti dan mengundang Plt Gubernur Gorontalo untuk turut hadir dan membuka acara itu. (ybh/hio)

Media Sosial Penting Sebagai Penyeimbang Informasi

Sekjen DPP Hidayatullah Candra Kurnianto fixHidayatullah.or.id – Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah Candra Kurnianto mengatakan perkembangan massif teknologi telah mempengaruhi pola persebaran informasi yang diantaranya kerap tersebarnya berita palsu atau hoax. Karena itu pihaknya menyatakan perang terhadap hoax.

Namun, Candra menegaskan, peran serta warga masyarakat sebagai pengguna aktif seiring dengan bertumbuhnya tren media sosial merupakan penyeimbang informasi dan keterlibatannya dinilai sangat penting dalam rangka membangun budaya literasi yang mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Tidak selalu informasi yang berlawanan dengan ‘otoritas’ mainstream berarti bohong atau hoax. Idealnya di tengah siklus demokrasi, kebebasan berpendapat harus dihargai dan tidak ada monopoli terhadap suatu informasi benar atau tidak benar,” katanya di Jakarta, Jum’at (20/01/2017).

Namun, Candra mengingatkan, dalam menggunakan hak kebebasan mengemukakan pendapat, kita harus memegang prinsip bebas dan bertanggung jawab.

“Kehadiran sejumlah media online Hidayatullah juga dalam rangka ikut andil untuk memberikan informasi yang benar,” kata Candra Kurnianto.

Candra mengakui, penyebaran informasi yang tidak bisa dipastikan kebenarannya memang semakin marak. Hal ini terkadang membuat bingung untuk membedakan mana yang benar dan menyesatkan.

“Dominasi media mainstream yang mendikte dan menggiring opini masyarakat juga salah satu bentuk hoax. Bangkitnya muslim cyber army juga salah satu bentuk perlawanan terhadap kebohongan dan hoax yang membangun opini menyudutkan, merendahkan dan menistakan Islam,” imbuhnya.

Karenanya, Candra mendorong kader dan umumnya kepada masyarakat untuk membiasakan diri memverifikasi setiap informasi yang diterima dan tidak menerima mentah-mentah semua informasi.

“Harus tabayyun. Mengkroscek kembali,” terangnya.

Tabayyun yakni melakukan pengujian dan penelitian kembali terhadap informasi yang ditelaah secara mendalam dan penuh kehati-hatian.

Masyarakat Kritis

Belakangan ini muncul beragam keberatan masyarakat terhadap adanya sikap yang dianggap berlebihan terhadap penggunaan media sosial. Masyarakat kritis menilai pemblokiran situs dan akun media sosial sebagai tindakan yang ceroboh dan tak demokratis.

Akademisi yang juga peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi Rocky Gerung mengatakan hoax terbaik justru adalah versi penguasa. Sebab, menurut Rocky, mereka memiliki peralatan lengkap: statistik, intelijen, editor, panggung, media, dan lain-lain.

Rocky menilai, secara serampangan pemerintah memblokir sumber informasi tanpa ukuran yang jelas: apakah sebuah situs berisi info bohong, misinformasi, atau disinformasi?. Demarkasi yang diajukan cuma satu: sumber informasi yang “bukan mainstream” harus dicurigai sebagai hoax. Sikap inilah yang justru membahayakan demokrasi karena publik diarahkan untuk hanya percaya kepada “media mainstream”.

“Padahal, justru melalui media mainstream itulah kekuasaan menyelundupkan kepentingan hegemoninya. Media adalah bagian dari kurikulum legitimasi kekuasaan. Dalam negara demokratis sekalipun, dalil itu bekerja sempurna: kekuasaan selalu berkehendak absolut. Mengendalikan informasi adalah cara “dingin” untuk melemahkan oposisi,” tulis Rocky dalam opininya di Koran Tempo edisi 6 Januarai 2017.

Menurut Rocky, demokrasi memiliki mekanisme koreksi. Terlalu banyak kebenaran dipromosikan berarti ada kebohongan yang sedang disembunyikan. Dilihat dari perspektif itu, hoax adalah fabrikasi politik. Bukan untuk merusak demokrasi, tapi justru untuk menunda konglomerasi kebenaran.

Dia menambahkan, politik adalah konfrontasi etik demi menghasilkan suatu “peristiwa”. Hoax adalah konfrontasi terhadap monopoli kebenaran.

“Saya meninjau soal hoax ini dari perspektif dekonstruksi demi rekonsolidasi demokrasi yang kini merosot menjadi sekadar adu cacian dan olah dendam,” tukasnya kembali. (ybh/hio)

Gubernur Zainul Majdi Apresiasi Peran Hidayatullah

Gubernur NTB Tuan Guru Majdi Jamu Peserta Rakernas Pendidikan Hidayatullah 2017_6 Gubernur NTB Tuan Guru Majdi Jamu Peserta Rakernas Pendidikan Hidayatullah 2017_7Gubernur NTB Tuan Guru Majdi Jamu Peserta Rakernas Pendidikan Hidayatullah 2017_3 Gubernur NTB Tuan Guru Majdi Jamu Peserta Rakernas Pendidikan Hidayatullah 2017_2Hidayatullah.or.id – Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr. K.H. TGB. Muhammad Zainul Majdi menyatakan salut kepada Hidayatullah atas perannya dalam dakwah dan pendidikan.

Hal itu disampaikan Gubernur saat memberikan sambutan saat dirinya menjamu sarapan pagi peserta Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pendidikan Hidayatullah 2017 di Pendopo Gubernur, Jalan Pejanggik No. 12, Kota Mataram, Kamis (19/01/2017).

Gubernur mengingatkan bahwa dakwah dan pendidikan merupakan dua instrumen penting untuk mencerdaskah kehidupan bangsa yang karenanya harus selalu diupayakan berjalan seiringan.

Gubernur Majdi mengatakan dakwah mesti dilakukan dengan santun dengan menjadikan akhlak sebagai prioritas utama.

“Salut kepada Hidayatullah atas perannya dalam dakwah dan pendidikan. Tetapi harus diingat betapa akhlak harus menjadi prioritas. Dakwah tanpa akhlak akan gagal bahkan bisa melahirkan kebencian ummat lain kepada kita. Berdakwah harus dengan akhlak terpuji,” katanya mengingatkan.

Diwarta sebelumnya, Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pendidikan Hidayatullah Tahun 2017 ini bertempat di Islamic Center Hubbul Wathan, Kota Mataram, yang dibuka pada Senin (16/01/2017) oleh Sekretaris Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr H Rosiadi Husaen Sayuti.

Pada Kamis (19/01/2017) peserta Rakernas Pendidikan Hidayatullah diundang sarapan bersama di Pendopo Gubernur oleh Gubernur NTB Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi yang merupakan Gubernur yang hafidz, ulama dengan prestasi mentereng.

Hadir pada kesempatan tersebut Sekda, semua asisten Sekda, dan para pejabat tingkat provinsi lainnya.*/ Zulkipli

Hidayatullah Komitmen Turut Membangun Provinsi NTB

Gubernur NTB Tuan Guru Majdi Jamu Peserta Rakernas Pendidikan Hidayatullah 2017_8Hidayatullah.or.id – Ketua Bidang Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Drs. Tasyrif Amin, M.Pd.I mengatakan Hidayatullah berkomitmen turut membangun Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui mainstream gerakannya yakni dakwah dan tarbiyah bersama dengan elemen umat lainnya.

“Hidayatullah siap bersinergi dengan Pemerintah Provinsi NTB dalam mengembangkan pendidikan dan dakwah,” kata Ust Tasyrif Amin dalam sambutannya di hadapan Gubernur NTB Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi dan peserta Rakernas Pendidikan Hidayatullah 2017 di acara jamuan sarapan di Pendopo Gubernur NTB, Kamis (19/01/2016).

Hidayatullah yang memiliki visi membangun peradaban Islam, terang Tasyrif, melandaskan gerakannya pada nilai-nilai Islam yang tasamuh (toleran) dan ukhuwah (persaudaraan).

Dalam pada itu, mainstream Hidayatullah yakni dakwah dan pendidikan juga berupaya selalu menanamkan nilai-nilai tersebut dalam setiap aktifitasnya.

“Hidayatullah dalam mengembangkan lembaga pendidikan dalam setiap jenjangnya selalu disematkan Integral sebagai upaya menjaga tauhid, akhlak, dan semangat para kader,” kata Ust Tasyrif.

Pada kesempatan tersebut Ust Tasyrif Amin melaporkan kepada Gubernur bahwa Hidayatullah akan mengadakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah Insya Allah pada akhir tahun 2017 di NTB sebagaimana keputusan pertemuan Rakernas di Batam beberapa waktu lalu.

Diwarta sebelumnya, Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pendidikan Hidayatullah Tahun 2017 ini bertempat di Islamic Center Hubbul Wathan, Kota Mataram, yang dibuka pada Senin (16/01/2017) oleh Sekretaris Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr H Rosiadi Husaen Sayuti.

Pada Kamis (19/01/2017) peserta Rakernas Pendidikan Hidayatullah diundang sarapan bersama di Pendopo Gubernur oleh Gubernur NTB Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi yang merupakan Gubernur yang hafidz, ulama dengan prestasi mentereng.

Hadir pada kesempatan tersebut Sekda, semua asisten Sekda, dan para pejabat tingkat provinsi lainnya.*/ Zulkipli Amaq Nuna

Kemenag: Indeks Kerukunan Umat Beragama 2016 Naik

0

Indeks Kerukunan Umat Beragama 2016 NaikHidayatullah.or.id – Kepala Badan Litbang dan Diklat (Balitdik) Kementerian Agama, Abd Rahman Mas’ud mengatakan bahwa indeks kerukunan umat beragama (KUB) tahun 2016 adalah 75,47%. Hasil survei nasional ini naik 0,12 poin jika dibandingkan dengan indeks KUB tahun 2015 sekaligus menunjukan tingkat kerukunan umat beragama di Indonesia cukup tinggi.

Menurut Masud, survei ini mengukur tiga indikator utama, yaitu: toleransi, kesetaraan, dan kerjasama. Selain itu, hasil survei juga menemukan hubungan positif antara keterlibatan tokoh agama dan organisasi keagamaan dengan kerukunan umat beragama.

“Kepercayaan umat beragama terhadap tokoh agama memiliki indeks yang tinggi sebesar 68,65%. Kepercayaan umat beragama terhadap orang dari suku berbeda 73,71%. Sedangkan kepercayaan umat beragama terhadap penganut agama lain sebesar 77,09%,” ujar Masud dikutip laman Kemenag, Jumat (06/01).

Survei ini juga memotret bahwa indeks kerukunan responden yang aktif dalam organisasi sosial maupun keagamaan lebih tinggi dibanding yang tidak terlibat aktif.

Mas’ud menilai, Indonesia patut bersyukur karena memiliki ormas Islam berpaham moderat seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Menurutnya, negara Islam sekalipun belum tentu mempunyai ormas Islam yang sangat mengakar dan dapat menyemai nilai Islam moderat dan santun.

“NU dan Muhammadiyah telah membuktikan pengamalan Islam yang penuh kedamaian, Islam yang ramah, Islam yang senyum (smiling Islam),”katanya.

Selain indeks kerukunan, hasil kajian Balitbang Diklat Kemenag menyebutkan bahwa penyebab ketidakrukunan umat beragama dipengaruhi oleh faktor non agama dan faktor agama. Faktor non agama di antaranya karena adanya kesenjangan ekonomi, kepentingan politik, dan konflik sosial dan budaya.

Sedangkan faktor agama misalnya terkait polemik izin pendirian rumah ibadat, metode penyiaran agama, perkawinan antar pemeluk agama yang berbeda. Faktor agama lainnya yang ikut mempengaruhi adalah penodaan agama, kegiatan kelompok sempalan, serta pengamalan agama yang tektualis.

“Masyarakat Indonesia beruntung, karena mempunyai faktor yang merukunkan. Salah satunya adalah kearifan local (local wisdom) yang hampir ada di berbagai daerah dan suku di Indonesia,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Prof Azyumardi Azra melihat, sejak 20 tahun terakhir, ketidakrukunan di Indonesia terjadi lebih banyak karena faktor luar dan faktor non agama.

Senada dengan Prof Abdurahman, Azra juga menilai Islam Indonesia adalah Islam yang lebih ramah, rileks, dan semua itu bukan berarti kurang Islami. (hb/mkd/mkd)

Delapan Pasang Santri Bersiap Tugas Dakwah Setelah Menikah

Delapan Pasang Santri Siap Tugas Dakwah Setelah Nikah Mubarak
Ilustrasi: Pernikahan massal mubarak di salah satu kampus Pesantren Hidayatullah (ist)

Hidayatullah.or.id – Delapan pasangan dipastikan akan memperoleh amanah dan tugas dakwah baru setelah mengikuti nikah massal mubarak yang digelar Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan (Sulsel) bekerja sama dengan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Sorowako pada 21 Januari mendatang di Sorowako.

“Insya Allah mereka akan bulan madu di tempat tugasnya masing-masing, sekaligus merintis dakwah dan merintis keluarga baru,” ujar Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Mardhatillah, Senin (16/01/2017).

Mardhatilah menyampaikan, mereka yang ditugaskan nanti telah ditentukan daerahnya dengan misi dakwah yang dibawakan. Kecuali jika ada kebijakan baru dari pengurus DPW yang sangat mendesak sehingga mereka harus dipindahkan.

Dengan bekal ilmu Islam yang diberikan, merekan akan memberikan pencerahan kepada Ummat yang berada di pelosok negeri.

“Yang dilakukan 8 pasangan pengantin baru nanti adalah sesuai dengan profesinya masing-masing, ada yang jadi guru, koperasi, BMH, dan juga merintis Hidayatullah bagi yang ditugaskan di tempat yang belum ada Hidayatullah,” bebernya. (amn/nsw)

Walikota Parepare Maulid Nabi Bersama Santri Hidayatullah

0

Walikota dan Tokoh Parepare Maulid Bersama Santri HidayatullahHidayatullah.or.id – Walikota Parepare, Provinsi Sulawesi Selatan, DR. H. Taufan Pawe, mengikuti acara Maulid Nabi Muhammad Shallallaahhu ‘alaihi Wasallam bersama santri Pesantren Hidayatullah Parepare yang berlangsung di Rumah Jabatan Walikota Parepare, Jalan Lasiming, Kelurahan Ujung Bulu, Kecamatan Ujung, Kota Parepare, belum lama ini (13/01/2017).

Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1438 H ini digelar oleh bagian Humas dan Protokoler Sekertaris Daerah Kota Parepare dengan tema ”Melalui peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, Kita Meneladani Sifat Rasulullah untuk Membangun Kota Parepare yang Maju, Peduli, Mandiri dan Bermartabat“.

Tak hanya Walikota, sejumlah pihak dan tokoh juga turut menghadiri acara ini. Diantaranya Dandim 1405/Mlts Letkol Czi Drs. Syarifuddin Sara.

Selain itu, hadir pula Kapolres diwakili Kapolsek Ujung, Para SKPD Kota Parepare, Para Asisten Pemda Parepare, Para Camat dan Lurah Se kota Parepare, Para Insan Pers Kota Parepare, dan puluhan anak santri Pondok Pesantren Hidayatullah Parepare.

Sedangkan Pembawa uraian hikmah Maulid Nabi besar Muhammad SAW 1438 H yaitu dai kondang nan khas Ustadz DR.H. Das’ad latief.

Dalam taushiahnya, Ustadez Das’ad mengajak hadirin untuk menapktilasi figur Nabi Muhammad yang menjadi teladan bagi segenap manusia. (ybh/hio)

Sekda NTB Buka Rakernas Pendidikan Hidayatullah 2017

Sekda NTB Buka Rakernas Pendidikan HidayatullahHidayatullah.or.id – Sekretaris Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr H Rosiadi Husaen Sayuti membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pendidikan Hidayatullah Tahun 2017 bertempat di Islamic Center Hubbul Wathan, Kota Mataram, Senin (16/01/2017).

Kehadiran Sekda Rosiadi membuka acara ini mewakili Gubernur NTB Dr TGH M Zainul Majdi yang mengkonfirmasi berhalangan hadir karena sedang sakit.

Dalam sambutannya, Rosiadi menyampaikan aspirasinya kepada semua peserta Rakernas yang hadir dari 33 DPW Hidayatullah se Indonesia.

“Dulu, kita di NW (Nahdlatul Wathan) di masa masa awal, juga menugaskan para alumninya ke berbagai pelosok Indonesia, mereka merintis pesantren juga. Tetapi kini, Hidayatullah menerapkan pola tersebut dengan lebih modern. Ini yang harus kita pelajari,” kata Rosiadi yang juga Ketua PW NW NTB ini.

Rosiadi mendorong Hidayatullah untuk terus melanjutkan kebermanfaatan Hidayatullah untuk ummat khususnya bidang pendidikan termasuk di NTB.

Pada kesempatan tersebut ia juga memberikan apresiasi atas perkembangan Hidayatullah yang menurutnya pesat, terutama pada penyiapan kader yang siap ditugaskan ke seluruh indonesia.

Sekda NTB yang dilantik Juni 2016 lalu ini juga  berharap Hidayatullah dapat menjalin hubungan yang semakin baik dengan pemerintah termasuk dengan nahdlatul wathan (NW).

Sebelumnya, Kepala Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah DPP Hidayatullah Amun Rowie, M.Pd dalam sambutannya menyampaikan bahwa dipilihnya NTB sebagai tuan rumah Rakernas Pendidikan Hidayatullah ke-2 ini sebagai bentuk apresiasi atas banyaknya pengelola pendidikan di Hidayatullah yang berasal dari NTB.

“Kita memfasilitasi agar sekalian jenguk kampung,” canda Ustadz Amun.

“Yang dari Aceh orang Lombok Tengah. Yang di Papua orang Sumbawa, jadi dari Sabang sampai Merauke orang NTB,” tambah Ustadz Amun di sambut tawa para peserta.

Rakernas Pendidikan Hidayatullah yang kedua ini mengangkat tema “Sukses Kaderisasi Melalui Standardisasi Pendidikan” berlangsung sampai tanggal 19 Januari 2017. Acara bertempat di Narmada Lombok Barat dan di buka di Islamic Center Hubbul Wathan.

Para peserta Rakernas ini bermusyawarah untuk memutuskan berbagai kebijakan khususnya di bidang pendidikan yang standar di setiap sekolah Hidayatullah se Indonesia.

Agenda Rakernas ini diikuti oleh 66 peserta dari seluruh Provinsi se Indonesia kecuali Bangka Belitung. (ybh/chal)

Bicara dari Hati ke Hati dengan Anak Kita

0

Bicara dari Hati ke Hati dengan Anak Kita

» وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ «

“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thur: 21).

Saudaraku,
Ibnu ‘Asyur dalam tafsirnya “at-Tahrir wa at-tanwir”, menafsirkan ayat di atas, “Karunia agung yang Allah berikan kepada para orang tua di surga adalah memasukkan anak-anak mereka ke surga bersama mereka, padahal amalan anak-anak mereka tidak sebaik amalan orang tuanya”.

Dan itu semua (berkumpul keluarga di surga) menyempurnakan kenikmatan mereka di surga, yang telah bersanding dengan bidadari bermata jeli, dan bertetangga dengan saudara-saudara seiman.

Karena berkumpul mesra bersama keluarga di mana pun kaki kita berpijak merupakan harapan fitrah insani. Di dunia fana ini. Terlebih di surga.

Saudaraku,
Mungkinkah harapan berkumpul kembali di surga bersama keluarga dan anak-anak kita akan terwujud di alam realita akherat, tanpa kita mendidik dan membimbing mereka?. Tentu tidak. Tanpa didikan nilai religi, harapan tersebut hanya menjadi fatamorgana belaka. Terhempas sia-sia tanpa bekas yang tersisa.

Pernahkah kita mengukur kedekatan kita dengan anak-anak kita? Pernahkah kita meraba-raba, apakah kita telah mentransfer nilai-nilai religi kepada anak-anak kita dan memantulkan pesan-pesan ruhani kepada mereka? Tentunya jawabannya, hanya kita yang mampu menjawabnya.

Saudaraku,
Pagi itu, suasana begitu sejuk. Semilir angin sepoi-sepoi menyapa wajah. Ali bin Abi Thalib r.a, khalifah rasyidin ke empat memanggil anaknya; Hasan r.a lalu dengan penuh kasih sayang ia menyampaikan pesan ruhani dan nilai-nilai religi kepada puteranya,

“Wahai anakku, intisari agama ini adalah berinteraksi dengan orang-orang yang bertakwa.

Kesempurnaan ikhlas dibuktikan dengan menjauhi semua perkara yang diharamkan-Nya.

Sebaik-baiknya ucapan, adalah ucapan yang diiringi dengan tindakan nyata (keteladanan).

Terimalah orang yang mengajukan uzur (alasan) kepadamu.

Maafkan orang yang meminta maaf kepadamu.

Ikutilah saudaramu (dalam ketaatan), meskipun ia sering bermaksiat kepadamu.

Dan hubungkan tali silaturahim dengannya, walaupun ia sering memutuskan tali persaudaraan denganmu.” (Shalih Ahmad al-Syami, Mawa’izh al-shahabah).

Saudaraku,
Nasihat Ali bin Thalib r.a kepada Hasan puteranya, menjadi pelajaran berharga bagi kita para orang tua dalam mendidik anak-anak kita.

  • Anak-anak adalah tali cinta. Kebahagiaan sebuah keluarga akan semakin membuncah dengan kehadiran sang buah hati. Tak jarang sebuah keluarga dilanda kebosanan, kapal cinta menjadi oleng lantaran pujaan hati yang didamba tak kunjung hadir meramaikan dan menyerikan biduk keluarga. Sebagai tanda syukur atas karunia besar ini, kita berkewajiban merawat amanah Allah s.w.t ini dan mendidiknya dengan nilai pendidikan yang Dia kehendaki.
  • Orang tua adalah orang pertama yang berkewajiban melakukan transfer nilai religi, memantulkan keteladanan, menanam dan merawat pohon ruhani di hati anak-anaknya. Agar anak-anak kita mampu merekam dan mengikuti jejak keshalihan orang tuanya.
  • Nilai nasihat akan masuk ke dalam hati, jika ia memantul dari hati, bukan sekadar ucapan lisan yang hambar dari keteladanan. Disampaikan dengan hati-hati. Memancar dari kelembutan hati dan cinta. Sebaliknya, nilai pengajaran akan membuat anak menjadi kurang ajar, jika disampaikan dengan kata-kata yang tak sabar. Memantul dari wajah yang kasar. Sebaik dan sebenar apapun nasihat itu.
  • Kisah ini memberikan keteladanan bagi kita, demikianlah seharusnya hubungan orang tua dengan anaknya. Ada kedekatan di sana. Ada keakraban. Ada hubungan emosional. Ada sapaan kasih. Ada teguran cinta. Walau sesibuk dan sepadat apapun aktifitas rutin keseharian kita, sempatkanlah berbicara dari hati ke hati dengan anak kita.
  • Orang yang memahami dien dengan baik, tampak dari kedekatan dan interaksinya dengan orang lain. Orang yang menjadikan orang-orang dekatnya dan teman pergaulannya adalah orang shalih dan bertakwa, maka ia termasuk golongan mereka. Begitupun sebaliknya, sulit kita mempercayai kualitas agama seseorang, jika teman pergaulannya adalah orang-orang yang memiliki persoalan mental dan buruk perangainya.
  • Membentengi diri kita, keluarga dan generasi kita dari hal-hal yang diharamkan, merupakan bukti keikhlasan kita dalam mentaati rambu-rambu-Nya. Bagi orang tua, mendidik anak-anak untuk senantiasa menjaga nilai sebuah keikhlasan dalam beramal merupakan suatu kelaziman.
  • Keteladanan merupakan syarat kedekatan dan kecintaan masyarakat kepada kita. Terlebih jika kita menjadi publik figur, ustadz, orang yang berkedudukan, orang tua apatah lagi sebagai pemimpin dalam masyarakat. Pandai merangkai kata-kata dan indah dalam bertutur kata, tanpa diimbangi dengan keteladanan, maka kita akan gagal meraih hati dan simpati mereka.
  • Kebesaran hati tampak dari ‘salamatus shadr’; lapang dada. Dengan dada yang lapang, maka kita mudah menerima uzur, memaafkan kekhilafan, keteledoran dan kesalahan orang lain. Orang yang melihat dunia-nya sempit, pengap dan gelap, berarti ia tidak memiliki kelapangan dada. Sejatinya, kitalah yang dapat menciptakan dunia dalam hidup kita. Kita ingin dunia kita menjadi luas atau sempit.
  • Ukhuwah (persaudaraan iman) yang tulus suci, melahirkan kesetiaan yang abadi. Keringnya ukhuwah orang lain terhadap kita yang ditandai dengan kurangnya komunikasi dan sedikitnya kadar kunjungan. Atau terkadang kata-kata yang terucap dari bibirnya sering melukai perasaan kita. Sikapnya yang membuat ketenangan kita terusik. Dan yang senada dengan itu. Jika sudah demikian, kembalikan akar persoalan pada diri kita. Barangkali, kita kurang arif dan aktif dalam menyirami ladang ukhuwah kita dengan air iman, jarang kita taburi pupuk perhatian dan cinta. Dan seterusnya.

Saudaraku,
Sudahkah kita mendidik anak-anak kita dengan kelembutan hati dan cinta? Dan sudahkah kita tanamkan nilai-nilai luhur di dalam hati anak-anak kita, yang pernah ditanamkan Ali bin Abi Thalib ra terhadap anaknya Hasan?.

Mari kita teladani kehidupan salafus shalih. Karena di sana ada keberuntungan dan kesuksesan. Wallahu a’lam bishawab. (Metro, 12 Januari 2017)

___________
FIR’ADI NASRUDDIN, LC, penulis adalah seorang dai dan alumni Universitas Islam Madinah.

Ketua Umum DPP Hidayatullah Besuk KH Hasyim Muzadi

0

Ketua Umum Hidayatullah Besuk KH Hasyim Muzadi di RS Lavalete MalangHidayatullah.or.id – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust Nashirul Haq, MA, membesuk Anggota Dewan Pertimbangan Presiden yang juga mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Hasyim Muzadi, yang tengah dalam proses pemulihan di RS Lavalete, Kota Malang, Jawa Timur, Jum’at (13/01/2016).

Dalam kunjungan besuk ini Ketum DPP Hidayatullah Ust Nashirul Haq turut didampingi Ketua Departemen Organisasi DPP Hidayatullah Ust Syamsuddin, Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur Ust Muhammad Syuhud dan Ketua DPD Hidayatullah Kota Malang Ust Muhammad Fahmi.

“Beliau menerima kami dengan penuh kehangatan yang disertai senyuman tulus meski beliau dalam kondisi sakit,” kata Ust Nashirul Haq kepada Hidayatullah.or.id, Jum’at siang (13/01/2017).

Ia melanjutkan, setelah bercerita tentang Hidayatullah yang dikenalnya dengan jaringan pesantren dan majalahnya, KH Hasyim Muzadi kemudian menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi ummat dan bangsa dewasa ini.

“Banyak orang beramal dengan mendahulukan kepentingan duniawi. Padahal seharusnya mengharapkan ganjaran dari Allah Subhanahu Wata’ala,” ungkap Ust Nashirul menirukan pesan KH Hasyim Muzadi.

Selanjutnya KH Hasyim Muzadi banyak memberi nasehat dan motivasi agar Hidayatullah terus berjuang, berkarya, dan menyebarkan cahaya ilmu untuk mencerahkan ummat dan bangsa.

“Kami pun menyampaikan harapan dan doa semoga beliau diberi kesembuhan dan kesehatan agar bisa kembali membimbing dan membina ummat,” kata Ust Nashirul.

Pada kesempatan tersebut Ust Nashirul juga menyampaikan keinginan untuk mengundang beliau ketika sehat nanti untuk bersilaturrahim dan memberi nasehat kepada para santri dan warga Hidayatullah. Besuk tersebut diakhiri dengan memanjatkan doa untuk kesembuhan beliau.

“Kiai Hasyim Muzadi adalah sosok ulama dan pemimpin ummat yang patut menjadi teladan,” kata Ust Nashirul tentang sosok kharismatik tersebut.

Seperti diketahui, KH Hasyim Muzadi dirawat di RS Lavalette sejak Jumat pagi, 6 Januari 2017. Stafnya, Fairouz Huda, sempat mengatakan Hasyim dirawat di rumah sakit karena kelelahan saja.

Kepala RS Lavalette Abdul Rochim pun menyatakan ia tetap harus beristirahat total meski kondisinya saat ini sudah membaik. (ybh/hio)