Beranda blog Halaman 631

Buletin Hidayatullah Edisi November 2014

cover buletin hidayatullah november 2014ADA PESAN dari pendiri Hidayatullah, Abdullah Said Rahimahullah, yang penting diketahui oleh jamaah yang menjadikan Hidayatullah sebagai wadah perjuangannya agar tetap pada koridor yang lurus. Beliau berpesan untuk menambal dan menjahit yang robek. Apa maksudnya?

=====================

“UNTUK MEMBERI bukti dan meraih keyakinan, kalau perlu ia diberondong dulu dengan hujan peluru,” kata dia lantang disambut pekikan takbiran ratusan jamaah yang hadir di masjid itu.

=====================

 

APA KABAR Papua New Guinea?. Negara ini pernag santer disebut sebagai negara kaninal karena sebagian tertentu penduduknya gemar memakan daging manusia. Tapi ada cerita lain yang menggugah dari Hidayatullah Ranting Paumako, Timika. Foto-foto dari Vlad Sokhin semakin membuat cerita tentang New Guinea berbunga indah.

=====================

SELAIN MENJADI ibu rumah tangga dan pelayan bagi suami dan anak-anaknya, Muslimat Hidayatullah mendapat tugas yang teramat berat namun sungguh mulia. Karenanya, kaum ibu ini pun didorong untuk terus bergelut dengan ilmu dan cekatan. Akhir Oktober lalu puluhan mulimah tangguh dari Aceh sampe Papua meriung di Puncak Bogor. Berikut oleh-olehnya!

=====================

SEBELAS ANAK muda berdiri tegap menghadap ke peserta mengenakan pakaian korps kebesaran mereka. Shubuh yang dingin itu mereka berikrar untuk memelihara dan menjaga alam semesta, menjadi tim yang solid di setiap tugas. Mereka berjanji siap siaga dalam keadaan darurat demi kemanusiaan.

=====================
BACA dan ikuti berita lengkap di atas yang terangkum dalam Buletin Hidayatullah edisi November 2014 ini. Bagi yang belum mendapatkan filenya dapat mengunduhnya di sini.

BULETIN HIDAYATULLAH adalah media informasi dan silaturrahim ormas Hidayatullah yang terbit reguler setiap bulan. Buletin ini diedarkan melalui saluran transimi virtual seperti email dan sejenisnya tanpa dikenakan biaya alias gratis bagi siapa saja yang ingin berlangganan.

Kami sangat merekomdendasikan supaya Anda menggunakan peramban (browser) Google Chrome atau Baidu Sparkketika mengunduh (download) Buletin Hidayatullah ini untuk mendapatkan akses cepat dan kustomasi tampilan yang lebih dinamis. Download Buletin Hidayatullah di bawah ini:

BULETIN HIDAYATULLAH OKTOBER 2014

 

 

 

 

Perkuat Komitmen, Hidayatullah Sumatera Halaqoh Muharram

0

Halaqah Muharram Hidayatullah SumselHidayatullah.or.id — “Apa indikator seorang kader telah menjalankan budaya Hidayatullah?” tanya Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Dr Abdul Mannan, kepada para kader Hidayatullah se Sumatera yang pada Sabtu-Ahad (8-9 November) berkumpul di Kampus Hidayatullah Rejang Lebong, Bengkulu.

Pertanyaan tersebut kemudian dijawab sendiri olehnya. “Budaya kita bukan sekadar panjang jenggotnya dan hitam jidatnya.” Tapi, kata beliau dalam pembukaan halaqoh tersebut, kita telah menjalankan budaya Hidayatullah apabila kita paham visi dan misi Hidayatullah, lalu serius memperjuangkannya dalam bingkai manhaj sistematika nuzulnya wahyu.

Bagian dari memperjuangkan visi dan misi tersebut tercermin dalam komitmen semua kader untuk berimamah dan berjamaah.

“Kita ini ibarat jamaah shalat yang terkomando dengan baik,” jelasnya lagi.

Sebagai contoh, semua kader Hidayatullah harus siap apabila ditugaskan berdakwah ke daerah-daerah terpencil, atau dimutasikan dari satu daerah ke daerah yang lain.

“Tidak boleh ada yang memutasikan dirinya sendiri, atau menolak untuk dimutasi,” tegasnya.

Namun, di sisi lain, ketaatan kader Hidayatullah kepada pimpinan bukan ketaatan buta, tapi ketaatan yang dimotivasi oleh ideologi.

Saat penutupan hari kedua, kader-kader Hidayatullah se-Sumatera, dipimpin oleh Ketua PW Hidayatullah Sumatera Selatan, membacakan ikrar komitmen.

Ikrar tersebut berisi ketaatan kepada seluruh keputusan Pimpinan Umum Hidayatullah dan seluruh unsur pimpinan Hidayatullah, serta sungguh-sungguh menjalankan segala tugas yang diamanahkan, dan memberikan apa yang terbaik yang dimliki. (Mahladi)

Kemenag Bahas Jihad di Hidayatullah Palangkaraya

Hidayatullah Kalteng gelar seminar tentang jihad 2 Hidayatullah Kalteng gelar seminar tentang jihad 3 Hidayatullah Kalteng gelar seminar tentang jihadHidayatullah.or.id — Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Palangkaraya Drs. H. Baihaqi, M.AP yang diwakili Kasi Bimas Islam Drs.H.Misbah,M.Ag menjadi narasumber dalam kegiatan Sosialisasi Wawasan Kebangsaan dengan tema Memaknai Jihad dalam Pandangan Islam yang diprakarsai oleh LSM Empat Pilar Provinsi Kalteng bekerjasama dengan Kemenag Palangkaraya.

Kegiatan sosialisasi ini berlangsung khidmat dan penuh kehangatan bertempat di Masjid As-Salam Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Jl. Cilik Riwut KM.7, Kamis (9/10), lalu, yang diikuti ratusan santri dan pelajar Ponpes Hidayatullah.

Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Empat Pilar Ayin Nur Rofik dalam sambutannya mengatakan kesalahan dalam mengartikan makna jihad memunculkan semangat yang keliru dalam membela agama.

Tujuan kegiatan ini, kata Ayin, adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai jihad dalam pandangan Islam. Agar jihad tidak saja dimaknai sebagai pertumpahan darah atau perang secara fisik.

“Kegiatan ini juga untuk menanamkan nilai-nilai wawasan kebangsaan dan pendidikan agama Islam sejak dini dalam rangka menciptakan generasi muda yang beriman, bertaqwa, dan cinta kepada tanah air,” kata Ayin.

Sementara itu H. Misbah dalam paparannya mewakili Kemenag Palangka Raya mengatakan makna jihad adalah bersungguh-sungguh. Yaitu sungguh-sungguh berjuang dalam Islam dan itu bukan berarti perang secara fisik.

Dia menjelaskan, salah satu cara untuk menjalankan jihad adalah dengan membangun dan menguatkan iman generasi muda, baik melalui pendidikan formal maupun informal seperti di Ponpes atau madrasah.

“Betapa pentingnya memahami dengan benar makna jihad agar tidak terjebak melakukan tindak kekerasan yang mengatasnamakan jihad,” kata Misbah.

Kegiatan ini juga menghadirkan narasumber lain yakni Pasintel Kodim 1016/Palangka Raya Lettu Infanteri Suradi,S.Sos,M.Hum, dan motivator dari SAS Management sekaligus penulis buku asal Kalteng, Heru Hidayat. (ans/hio)

Laznas BMH Gelar Gebyar Muharram dan Pelantikan MUI Cimanggu

IMG_1879 IMG_1967Hidayatullah.or.id — Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cimanggu, Ngamprah, Bandung Barat, untuk kepengurusan periode 2014-2019 dilantik baru baru ini. Pengurus baru berkomitmen untuk mendorong kegiatan dakwah di wilayah tersebut semakin menggeliat.

Kegiatan yang dirangkai dengan tabligh akbar dan lomba edukatif Gebyar Muharram untuk anak dan warga Cimanggu ini disponsori oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Bandung, bekerjasama dengan MUI Desa Cimanggu, Jawa Barat.

Ketua MUI Kecamatan Ngamprah H Dede dalam tauhsiahnya menyampaikan urgensi dan peran ulama di tengah masyarakat. Dia mengatakan, ulama adalah teladan umat sehingga harus dapat menempatkan diri sebagai contoh yang baik.

Seorang dai pun sejajar perannya dengan ulama. Sehingga keduanya adalah peran yang teramat berat yang membutuhkan keikhlasan hati, kelapangan jiwa, dan keteladanan yang tak henti.

“Kami berpesan kepada pengurus MUI Desa Cimanggu yang baru untuk terus membina umat dengan penuh kasing sayang dan keteladanan,” kata Dede.

Di kesempatan yang sama, Kepala Desa Cimanggu Budi Mulyana memberikan apresiasi kepada Laznas BMH dan Hidayatullah yang telah berkenan ikut serta menyemarakkan kegiatan keislaman di Desa Cimanggu. Ia mengharapkan kegiatan edukatif serupa dapat terus digulirkan di waktu-waktu mendatang.

Ia menilai dengan diadakannya kegiatan Gebyar Muharram dan Lomba Kreatifitas yang dirangkai dengan acara pelantikan pengurus MUI Cimanggu ini, akan mendorong anak-anak generasi muda untuk berpacu dalam kebaikan dan membangun semangat kompetisi mereka untuk menjadi lebih baik.

“Terimakasih kami sampaikam kepada panitia sebanyak-banyaknya,” ujarnya menutup sambutannya.

Acara yang berlangsung di panggung sekitar masjid Desa Cimanggu ini dihadiri sedikitnya 500 jamaah. Panitia mengungkapkan dari acara ini diharapkan menjadi motivasi untuk meningkatkan ukhwah Islamiyah dan dukungan terhadap dakwah yang dijalankan oleh para da’i. (pdl/dkz)

Pesantren Penjaga Keragaman dan Keindonesiaan

0
Keragaman kita, kekayaan kita / net
Keragaman kita, kekayaan kita / dok

Hidayatullah.or.id — Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyatakan pondok pesantren merupakan salah satu penjaga ke-Indonesiaan. Sebab, di pondok pesantren, setiap santri diajar dan mengalami keberagaman.

“Jadi kalau ada yang menyebut diri pesantren, tapi dalam kenyataannya mengajarkan radikalisme dan gerakan kekerasan, maka bagi saya itu jelas bukan pesantren,”kata Lukman dalam Bincang Nasional di Surabaya, Rabu (5/11/2014) lalu.

Dalam acara Bincang Nasional bertajuk “Pemberdayaan Lembaga Pesantren dalam Rangka Peningkatan Kemandirian Ekonomi serta Mendorong Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah ini, Lukman menjelaskan hal-hal yang diajarkan di pesantren.

“Yang dikembangkan di pesantren itu inklusifisme, nasionalisme, tidak radikal. Karenanya, produknya adalah Islam yang terbuka,” ujarnya dikutip HidayatullahDepok.org dari laman The Global Journal.

Menurut Lukman, keberagaman merupakan tradisi pesantren. Sebab, di pesantren, para santri berjumpa dengan berbagai macam orang dari berbagai wilayah dan etnis.

“Keberagaman itu lumrah di pesantren. Perbedaan itu ada untuk saling lebih mengenali, bukan untuk saling bermusuhan,” kata Lukman.

Bincang Nasional ini merupakan bagian dari Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2014. Selain Lukman, diskusi yang digelar di kantor perwakilan BI Surabaya ini, menghadirkan para pembicara terkemuka seperti Gubernur Bank Indonesia Agus D W Martowardojo dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad. (dbs/hio)

Hujan Deras, PP Hidayatullah Gampong Terendam Banjir

0

banjir hidayatullah aceh 2 banjir hidayatullah acehHidayatullah.or.id — Hujan deras yang cukup tinggi melanda Aceh mengakibatkan sebagian daerah di kawasan barat selatan Aceh dilanda banjir dan longsor. Salah satu yang terdampak dari hujan deras adalah Hidayatullah Aceh Barat yang terendam air selama tiga hari semenjak Selasa (04/11/2014) lalu.

Derasnya hujan membuat kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Aceh Barat tergenang air dengan ketinggian mencapai 2 Mdari permukaan tanah.

“Alhamdulillah, tidak semua material ditaruh di pondok sehingga tidak terjadi kerugian yang sangat besar,” ujar Ahmad Syakir, pengasuh Pesantren Tahfidzul Qur’an di Dusun Cot Kande, Desa Gampong Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam.

Tiga hari menurut Syakir adalah hari paling menghawatirkan bagi para pengasuh dan santri di kawasan pondok pesantren Hidayatullah Aceh Barat.

Ia mengatakan, terjadinya banjir akibat meluapnya air dari sungai Merebo yaitu sungai utama Kecamatan Kota Aceg Barat.

“Selama dua hari belakangan ini hujan tidak reda-reda sehingga kalipun tidak bisa menampung air dengan kubik yang sangat besar,” paparnya ke hidayatullah.com, Jum’at (07/11/2014).

Besarnya kubik air, mengakibatkan banyak barang-barang perlengkapan dan material pembangunan pondok pesantren Hidayatullah Aceh ini terwaba air. Bahkan pasir, semen, koral, kayu-kayu untuk membangun tempat pengajian pun ikut hanyut terbawa air.

Semenjak Jumat, air sudah mulai surut dan para santri sudah memulai aktifitas untuk membersihkan halaman pondok pesantren setelah diungsikan ke pondok cabang di Aceh Kota.

“Dengan cara manual dahulu untuk membersihkan lumpur-lumpur yang ada. Karena pompa airnya ikut terendam air dan sumur masih penuh dengan lumpur,” ucap Syakir.

Seperti diketahui, sebanyak 12 kecamatan di Kabupaten Aceh Barat dilanda banjir mengusul hujan lebat yang terjadi hampir sepekan semenjak Sabtu (31/10/2014) lalu. Banjir bahkan sempat membuat rumah penduduk rusak, jalan ambruk dan terputus serta membuat sebagian warga terkurung dan terisolasi.

Menurut Syakir, yang dibutuhkan saat ini untuk menjadikan pesantren ini bisa kembali beraktifitas normal adalah perlengkapan para santri di asrama berupa; baju, kompor, serta logistik untuk bisa bertahan hidup. “Karenakan semua terendam dan terbawa arus air yang sangat deras,” katanya.*/Khuluq

Selamatkan Mushaf Al Qur’an
Seorang santri tahfidz Al-Quran membuat kecemasan para pengasuhnya karena ingin menyelamatkan mushaf Al-Quran dengan cara menerjang banjir di Aceh Barat.

Seperti diketahui, musibah hujan deras yang menimpa sebanyak 12 kecamatan di Kabupaten Aceh Barat hampir sepekan semenjak Sabtu (31/10/2014) rupanya sempat merendam Pesantren Tahfidzul Qur’an di Dusun Cot Kande, Desa Gampong Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam.

Kala itu air semakin meninggi membuat semua barang-barang milik pondok pesantren ini mulai mengambang dan hanyut.

Tiba-tiba di tengah banjir, seorang santri bernama Saiful, yang kebetulan tidak bisa berenang ingin menyelamatkan mushaf Al-Qur’an yang saat ini sedang terapung.

Santri kelas 2 SMU asal Bireun ini secara spontan mengambil galon air dengan cara melilitkan di tubuhnya. Akibatnya, ia sempat terguling di bawah air dan terseret sehingga sempar membuat panik para pengasuhnya.

Akibatnya semuanya menjadi makin panik. Tidak lama salah seorang pengasuhnya berusaha menyelamatkan sang santri.

“Alhamdulillah bisa terselamatkan oleh pengasuhnya,” Ahmad Syakir, pengasuh Pesantren Tahfidzul Qur’an di Dusun Cot Kande, Desa Gampong Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam kepada hidayatullah.com, Jumat (07/11/2014).*/Khuluq

Ketum Hidayatullah Pembicara Seminar Zakat Nasional

0

IMG_2066Dalam rangka meningkatkan wawasan dan konsolidasi tingkat nasional, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) bekerjasama dengan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, menyelenggarakan acara seminar nasional yang mengusung tema “Zakat untuk Mensejahterakan Umat”, pada hari Selasa, 4 November 2014 lalu.

Seminar nasional yang dilaksanakan di Ruang Audiovisual Perpustakaan Pusat Lantai 2 Universitas Islam Indonesia (UII) ini menampilkan pembicara Ketua Umum PP Hidayatullah Dr. H. Abdul Mannan, MM. Beliau berdampingan dengan pembicara lainnya yakni Ketua Lazis UII Ir. Munadhir, M.S , dan keynote speaker Dr. Abdul Jamil, MH yang merupakan doktor dalam Ilmu Hukum UII. (dok/hio)

Jangankan Politik, Buang Hajat Saja Diatur Agama

Hal-hal yang mungkin dianggap sederhana seperti bersuci pun diatur dalam agama Islam / ist
Hal-hal yang mungkin dianggap sederhana seperti bersuci pun diatur dalam agama Islam / ist
Kegiatan penyuluhan reliji STIE Hidayatullah Depok / amr
Kegiatan penyuluhan reliji STIE Hidayatullah Depok / amr

Hidayatullah.or.id — Seorang dai harus fleksibel dalam berdakwah dan mampu memposisikan dirinya dimana pun ia berdakwah. Demikian dikatakan Ustadz Agus Suprayogi, Msi, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID) selaku pemateri dalam acara Seminar Penyuluhan Religi.

Seminar ini diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIEHID Depok bekerjasama dengan Organisasi Pelajar Pondok Pesantren (OP3) Hidayatullah Depok. Yang dihadiri sekitar 50 mahasiswa STIEHID dan 100 siswa SMP – SMA Hidayatullah.

Acara ini bertemakan “Konsep Dasar Ilmu Fiqih” yang dilaksanakan pada Ahad (19/10/2014) di Masjid Ummul Quraa’, Kalimulya, Cilodong, Depok, Jawa Barat.

Dalam materinya, Agus mengatakan, “Tujuan kita belajar fiqih adalah untuk menjaga diri, keluarga, dan lingkungan kita dari liberalisme dan sekularisme.”

Agus juga mengatakan, “Seorang Muslim harus memiliki identitas. Dan diantara identitas seorang Muslim adalah ketika ia memiliki pemahaman tentang Fiqih.”

Agus menuturkan, ia pernah berdiskusi dengan seseorang yang mengatakan bahwa jangan membawa agama dalam politik. Kemudian Agus menanggapi perkataan orang tersebut.

“Bagaimana mungkin kita tidak membawa agama dalam politik. Padahal makan dan buang hajat sekalipun kita harus menggunakan aturan agama dalam melaksanakannya,” tuturnya di depan para pelajar dari berbagai daerah tersebut.

Alhamdulillah. Acara ini berjalan dengan lancar. Para siswa dan mahasiswa Hidayatullah Depok sangat antusias mengikuti acara tersebut.

“Setelah mengikuti acara ini, saya baru menyadari bahwa ternyata aturan-aturan dalam agama Islam itu mudah dan simpel, ” demikian tanggapan Teddy Susanto peserta acara tersebut.

Agus pun berharap, semoga dengan acara ini para mahasiswa STIEHID –sekaligus calon dai yang akan dikirim ke pelosok nusantara- agar mampu mendakwahkan keindahan Islam dengan cara yang indah. Serta tidak saling menyalahkan dalam perbedaan pendapat, selagi itu memiliki landasan yang benar.* Kiriman Zainal Amiruddin/ Mahasiswa STIEHID

BI Dukung Kemandirian Ekonomi Pesantren

0

bi dan pesantrrenHidayatullah.or.id — Bank Indonesia (BI) ingin meningkatkan kemandirian ekonomi lembaga pesantren yang dijalankan oleh santri dan lingkungan di sekitar pesantren.

Hal itu ditegaskan Gubernur BI, Agus Martowardojo, dalam bincang nasional bersama dengan pemimpin pesantren dan Gubernur Jatim, dikutip dari laman Okezone Finance, Rabu (5/11/2014) lalu.

“Bagaimana pesantren kita berdayakan untuk memiliki ekonomi yang mandiri dan tentu kemandirian ekonomi santri-santri dan lingkungan yang dekat dengan pesantren,” papar Agus.

Kalau kita amati, lanjutnya, pesantren sudah ada sejak tahun 1949 sampe sekarang jumlah pesantren sudah lebih dari 27 ribu pesantren.

“Kalau kita bicara tentang pesantren supaya bisa jadi lembaga yang mandiri secara ekonomi, kita amati selama ini pesantren fokus pada pendidikan akhlak santri, persiapkan semua kegiatan syiar Islam,” tambahnya.

Agus menuturkan, kegiatan bincang-bincang nasional ini bertujuan untuk memberdayakan pesantren agar mampu mengembangkan kemandirian ekonomi masyarakat dan ekonomi syariah. Menurutnya, lewat ponpes, potensi perkembangan ekonomi syariah menjadi begitu besar.

Lantas, dengan mulai memberikan pemahaman mendalam di antara akar rumput, masyarakat pun diharapkan bisa memanfaatkan produk ekonomi syariah dengan lebih maksimal. Terutama, untuk memperbaiki taraf hidupnya.

“Potensi untuk berkembang ke depan jauh lebih besar. Maka kita ingin mengembangkan pesantren agar juga menjadi lembaga sosial dan mengembangkan ekonominya agar menjadi lebih mandiri,” tuturnya.

Sejalan dengan BI, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D Hadad mengatakan untuk merealisasikan hal tersebut pesantren harus melakukan beberapa cara. Misalnya dengan memperkuat akses jasa keuangan yang ada di kawasan pesantren.

“Memperkuat akses terhadap jasa keuangan dan pemasaran di pesantren, meningkatkan cakupan layanan SMK berbasis pesantren, meningkatkan kualitas dan relevansi SMK pesantren, dan memperkuat jejaring antar pondok pesantren,” tukas Hadad.

Keseriusan pemerintah memperdalam akses dan pendidikan ekonomi syariah melalui pondok pesantren tidak hanya berdampak positif bagi pertumbuhan industri keuangan syariah di Tanah Air.

Dalam rangkaian Indonesia Syari’a Economic Festival (ISEF) tampak jelas adanya dampak lain, yaitu potensi peningkatan taraf hidup masyarakat menengah ke bawah di Indonesia.

Bagi Muliaman, pesantren yang jumlahnya begitu banyak di Jawa Timur bahkan bisa menjadi pusat pemberdayaan masyarakat secara keseluruhan. Lewat pendidikan ekonomi dan keuangan syariah di pesantren-pesantren, tutur Muliaman, tujuan pemerintah menjalankan inklusi keuangan pun bisa tercapai. (okz/dbs)

Rumah Idaman nan Asri Berperadaban Islami

0
ilustrasi rumah / net
ilustrasi rumah / net

ENTAH mengapa ketika saya masih kecil pernah berfikir tentang rumah. Letak dan posisi rumah yang bagus itu bagaimana dan di mana.

Itu pertanyaan yang sering datang dengan tiba-tiba dan muncul jawaban di pikiran juga dengan tiba-tiba. Mungkin saat kecil dulu berfikir bahwa rumah orang tua tidak ideal posisinya dan suka berfikir menghayal.

Saat itu belum berfikir bentuk dan biaya membangun rumah, itu belum masuk dalam kapling otak saya. Sebagaimana anak saya sekarang yang santai bicara tentang rumah ideal menurutnya.

Berikut ini beberapa posisi rumah idaman yang pernah terlintas dalam pikiran saat saya masih kecil.

Pertama, suatu saat nanti saya ingin membangun rumah dekat rumah sakit. Pikiran tersebut muncul saat melihat kesulitan orangtua mengantar dan merawat kakak yang sedang sakit typus.

Malam-malam harus mencari kendaraan yang mau mengantar ke rumah sakit padahal letaknya cukup jauh di dekat kecamatan. Saat itu saya berfikir, jika rumah dekat rumah sakit maka kapanpun ada anggota keluarga sakit mudah dan cepat mengantar ke dokter.

Tapi, tiba-tiba, pemikiran tersebut melemah karena setiap pergi ke sekolah, saya melewati rumah sakit dan melihat banyaknya pasien-pasien orang gila yang berkeliaran di sekitar rumah sakit.

Mereka aneh-aneh, ada yang suka mengamuk, senyum-senyum getir, ada yang suka memandang dengan tajam tak bersahabat. Rasanya ngeri, tak nyaman dan ada kekhawatiran tertular penyakit karena rumah sakit adalah pusatnya orang sakit. Akhirnya pemikiran tersebut sirna dengan sendirinya.

Kedua, saya ingin rumah yang dekat dengan kantor polisi. Tentu ini karena alasan keamanan, karena di kampung beberapa kali terjadi pencurian dengan berbagai modus.

Ada pula yang digansir (digali bagian bawah rumah), terkadang lewat atap rumah, ada yang disirep (penghuni rumah dibuat tertidur pulas), bahkan terkadang pencuri berani menciderai korbannya. Kritisnya, petugas pos kamling selalu datang terlambat apalagi polisi yang tempat jauh di kecamatan.

Walaupun rumah saya tidak menjadi korban tapi rasanya terteror setiap malam. Pintu rumah harus dikunci, diberi penghalang secara berlapis. Diberi timba atau seng agar kalau pintu dibuka dengan paksa maka akan bunyi dan saya cepat bangun, menyiapkan berbagai senjata tajam tradisional seperti pisau dapur, sabit untuk mencari rumput dan ketapel.

Saat itu saya berfikir bahwa rumah yang aman itu dekat kantor polisi karena pencuri pasti berfikir ulang untuk mencuri.

Tapi saya tertegun heran karena ada beberapa kali pencurian motor di halaman kantor polisi yaitu orang-orang yang sedang mengurus SIM, perpanjangan STNK, milik polisi pun pernah hilang. Pencurian helm menempati rangking pertama yang sering hilang, kedua sepatu polisi yang sedang shalat di masjid juga sering hilang tak berbekas.

Saya menjadi berfikir ulang untuk mempunyai rumah dekat kantor polisi karena keamanan itu sebenarnya bukan dari polisi.

Ketiga, saya ingin rumah dekat pasar. Pemikiran ini muncul karena ibu sering menyuruh pergi belanja kebutuhan sehari-hari. Sementara pasar jauh, rasanya malas dan capek tapi tak berani juga menolak.

Ketika hari-hari menjelang lebaran, saya sering terlambat informasi kalau ada obralan dan diskon besar-besaran di pasar. Saat itu saya berfikir bahwa rumah dekat pasar banyak kemudahan untuk memenuhi kebutuhan keseharian maupun untuk sekolah.

Kemudian waktu kecil, saya senang melihat keramaian-keramaian orang banyak dengan segala kepentingannya membeli dan menjual aneka ragam dagangan.

Namun, saat mencium bau tidak sedap di sekitar pasar entah sampah, sayur-sayuran busuk, kendaraan yang datang silih berganti tak pernah berhenti mengeluarkan asap dan suara bising penjual obat, atau keributan orang bertengkar mulut dan berkelahi fisik. Maka saya jadi mengurungkan niat punya rumah dekat pasar.

Apalagi ada yang mengatakan bahwa sejelek-jeleknya orang adalah yang datang ke pasar paling cepat dan pulang paling lambat.

Selanjutnya secara bergantian muncul pikiran untuk mempunyai rumah di perumahan yang asri dan terjaga karena ada security yang siap siaga setiap saat.

Terkadang muncul lagi ide untuk membangun rumah di dekat pantai karena mudah berlibur dan berenang tapi khawatir kalau tsunami. Pikiran dan ide tersebut datang silih berganti tanpa ada kesimpulan yang jelas.

Beriring dengan perjalanan waktu, umur yang bertambah dan kedewasaan yang semakin matang maka saya mulai menemukan jawaban yang sedikit melegakan.

Rumah yang baik tergantung pada lingkungan dan tetangganya. Sebab pagar yang aman bukan tembok yang tinggi dengan jeruji-jeruji besi tajamnya mengelilingi rumah tapi pagar yang sejati adalah tetangga di sekitar rumah.

Memilih rumah sama dengan memilih tetangga. Tetangga adalah orang lain yang paling dekat dengan kita. Nyaman dan amannya sebuah rumah sangat tergantung dengan tetangga.

Bahkan Rasulullah memberikan standar keimanan dengan berbuat baik dengan tetangga. Beliau bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka muliakanlah tetangganya”.

Tetangga bukan hanya orang yang mempunyai rumah di sebelah kanan, kiri, depan dan belakang kita. Tapi melingkupi seluruh rumah-rumah dalam satu lingkungan masyarakat. Keberadaan masyarakat sangat tergantung dengan keteraturan dan kepemimpinan di dalamnya.

Maka pemikiran terakhir saya tentang rumah adalah di lingkungan Pesantren Hidayatullah di Balikpapan. Program utama di sini adalah shalat wajib berjamaah di masjid, membangun ukhwah islamiyah dengan kebersamaan. Ada kepemimpinan yang jelas dan bertanggungjawab dalam masalah kehidupan jasmani dan ruhani. Ada alam yang asri, bersih, dan islami.

Di lingkungan Pesantren Hidayatullah memang belum sempurna, banyak sisi kekurangan dan kelemahan tapi itu wajar sebagai sebuah wadah ikhtiar manusia di dunia. Kesempurnaan itu hanya milik Allah Subhanahu Wata’ala dan kepuasan akan kita raih hanya di surga-Nya nanti.

Terpenting bersyukur dengan kelebihannya dan bersabar dengan kekurangannya, kita terhantar untuk menjadi manusia yang sholeh. Allahu Akbar!.

___________________
ABDUL GHOFAR HADI, penulis adalah Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STISHID) Balikpapan, Kalimantan Timur. Sekaligus menjadi kepala pengasuh ratusan santri putri di komplek terpadu Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip.