Beranda blog Halaman 643

Penugasan Dai Sarjana STIE Hidayatullah Depok 2014

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID) melakukan pelepasan dari sarjana alumni STIEHID tahun akademik 2014 ini. Para wisudawan ini mendapatkan tempat tugas ke berbagai wilayah nusantara. Mereka berharap dapat memberi yang terbaik untuk umat, agama, dan bangsa.

 

[youtube width=”600″ height=”338″ src=”lsIgK8YIINI”][/youtube]

Dai Ajak Makmurkan Masjid di Nipahnipah Penajam

Masjid Al Amin, masjid tua yang juga merupakan situs sejarah di Penajam Paser Utara / net
Masjid Al Amin, masjid tua yang juga merupakan situs sejarah di Penajam Paser Utara / net

Hidayatullah.or.id — Ratusan warga Nipahnipah, Kecamatan Penajam, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, memenuhi Masjid Al-Amin ketika memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Ahad, belum lama ini. Hadir sebagai penceramah, dai senior yang juga pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah, Balikpapan, Ustadz Ansar Amiruddin.

Bertema memakmurkan masjid dengan salat berjamaah, Ansar memaparkan pentingnya salat bagi umat Islam. Salat merupakan tiang agama.

“Baca bacaan dalam salat yang mengagumkan kebesaran Allah, oleh karena salat harus khusyuk agar bisa memaknai yang terkandung dalam salat,” katanya.

Di samping itu, dia menyampaikan bahwa orangtua mempunyai kewajiban kepada anak untuk menyuruh salat. Sebaiknya dilakukan dengan berjamaah.

“Orangtua harus menjadi pemimpin dalam rumah tangga ketika salat. Anak akan merasa terpanggil menjalankan kebajikan bila orangtua melaksanakan,” pesannya.

Isra Mikraj yang dilakukan Nabi Muhammad SAW, kata dia, umat Islam harus yakin dan percaya bahwa apa dialami Rasulullah adalah kehendak Allah SWT dan wajib dipercayai. Perjalanan Rasulullah memenuhi panggilan Ilahi menerima perintah salat.

“Isra Mikraj merupakan peristiwa monumental dalam sejarah perkembangan Islam di dunia. Peristiwa Isra Mikraj merupakan ujian keimanan bagi seorang mukmin yang harus dipercayai,” kata Ansar

Sementara itu, Ketua Panitia Abdul Kasim mengatakan, tema ajakan memakmurkan masjid dengan salat berjamaah agar umat Islam melaksanakan salat di masjid. Terutama pula menjelang Ramadan.

“Saat Ramadan, ibadah senantiasa meningkat setiap tahun,” kata Kasim dalam acara yang dihadiri Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) PPU Ust Rifai Remba, puluhan pejabat, dan ratusan warga. (kp/hms7/fel)

Sambut Ramadhan, BMH Gelar “Inspirasi Dai Tangguh”

dai tangguhHidayatullah.or.id -– Menyambut Bulan Suci Ramadhan, Baitul Maal Hidayatullah (BMH) mengadakan acara talk show dengan tema Inspirasi Dai Tangguh.

Dalam acara yang akan dihadiri beberapa publik figur itu BMH akan mensosialisasikan tentang bagaimana perjuangan dakwah para dai dalam mengabdikan dirinya untuk kemaslahatan bangsa dan negara.

“Hal ini dimaksudkan agar masyarakat lebih mengetahui dakwah secara lebih nyata. Bagaimana sulitnya, tantangannya dan betapa dakwah ini ternyata bukan semata-mata tugas dai, tetapi kita semua seluruhnya,” ujar koordinator acara, Rama Wijaya.

Acara yang akan digelar di Convention Hall SMESCO Jakarta pada 22 Juni 2014 itu juga diisi dengan berbagai macam kegiatan.

“Ada Lomba Pawai Kreatif Sambut Ramadhan. Kemudian, Pemutaran Film Dai Tangguh di Papua, Apresiasi Tokoh/Artis Muslim, sampai pada hiburan dari MJSoul Band,” terang Rama.

“Insya Allah akan hadir dalam acara ini, Teuku Wisnu, Agus Idwar, Ustad Erick Yusuf, dan Ustad Cholil Nafis,” imbuhnya.

Masyarakat umum, kaum Muslimin di manapun berada bisa hadir dalam acara tersebut yang diselenggarakan di Convention Hall SMESCO UKM Jl. Gatot Subroto, Pancoran-Jakarta. (bmh)

Fa Tabayyanuu!

ist / net
ist / net

SALAH satu penyakit kronis manusia adalah tergesa-gesa, dan itu pasti ditegakkan di atas pondasi kemalasan untuk berpikir serta menimbang secara jernih.

Paling tidak, dua kali Allah memperingatkan kita dari sifat buruk tersebut. Dalam surah Al-Isra’ ayat 11, Allah berfirman:

“Manusia memohon untuk suatu keburukan sebagaimana ia memohon untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.”

Di lain tempat, dalam surah Al-Anbiya’ ayat 37, Allah juga berfirman:

“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.”

Di zaman kita, fenomena ketergesaan itu sangat kentara; terlebih ketika teknologi informasi memungkinkan siapa saja untuk menulis apa saja, dan – di saat bersamaan – dia juga bisa menyebarkan apa saja yang dia copy-paste dari siapa saja. Pemilu dan kampanye adalah ladang pembuktian ketergesaan itu.

Betapa banyak berita berseliweran di sekitar kita, tanpa bisa diverifikasi sumber dan asal-muasalnya. Hanya dengan mengetikkan beberapa huruf, maka jutaan entri informasi akan tersaji dalam hitungan detik. Akan tetapi, apakah semua itu valid dan bisa dipercaya?

Sedih, sebab antar sesama muslim saling serang, bahkan berani mengkafirkan satu sama lain, hanya bermodalkan informasi-informasi yang tidak bisa diverifikasi validitasnya.

Ngeri, sebab banyak orang sepertinya tidak peduli perihal kebenaran informasi yang ia sebarkan – seringkali – secara berantai dari satu akun ke akun lain, dari satu nomer hp ke nomer lain. Benar-benar tidak bertanggung jawab!

Sekarang, saya baru mengerti mengapa Imam Bukhari mengaku hafal 300.000 hadits, akan tetapi yang dimasukkan ke dalam kitab Shahih-nya hanya berkisar 7.500. Imam Ahmad bahkan menghafal 1.000.000 riwayat, namun Musnad-nya hanya memuat sekitar 27.600. Kemana yang lain? Ya, mereka menyaring dan memilihnya. Mana yang tidak bisa dipercaya dibuang, dan mana yang dapat dipegangi dilestarikan.

Saya juga teringat bagaimana seorang Qadhi Baghdad dan ulama’ besar yang memiliki pengetahuan teramat luas, yakni Muhammad bin ‘Umar al-Waqidi, justru dicap sebagai pendusta dalam periwayatan hadits. Ilmunya sangat mengagumkan, sampai-sampai diperlukan 120 ekor unta untuk mengangkut buku-buku dari perpustakaan pribadinya!

Menurut Imam adz-Dzahabi, al-Waqidi dianggap dha’if (lemah) dalam periwayatan hadits bukan karena sengaja berbohong, tapi karena tidak berhati-hati dan tidak memilah sumber-sumbernya alias dicampur begitu saja. Umat harus dilindungi dari orang-orang seperti ini, yang serampangan mengumbar informasi, sehingga para ulama’ pun menolak riwayat-riwayat yang diceritakannya.

Betapa bertanggungjawabnya mereka! Andai mereka berlaku asal-asalan seperti kita dewasa ini, yang gemar meneruskan segala informasi tanpa ditimbang sedikit pun, pasti kaum muslimin telah tersesat sejak lama. Untung saja generasi mereka dilahirkan lebih dahulu, sehingga agama kita terlindungi. Andai generasi kita yang tampil sebelum mereka, kemurnian Islam pasti tinggal cerita tanpa bukti.

Inilah yang membedakan generasi kita dengan mereka. Ketika Allah berfirman “fa tabayyanuu…”, generasi Imam Ahmad dan Imam Bukhari patuh, lalu menyeleksi setiap informasi yang mereka terima sebelum diteruskan kepada orang lain. Allah pun memberkahi mereka dengan kejayaan dan keselamatan.

Firman itu masih bergema sampai sekarang, namun kita pura-pura tuli dari seruannya. Kita langsung mengobral apa saja yang kita dengar, baca, ketahui; tanpa melalui saringan maupun verifikasi, bahkan tidak juga dipikirkan barang sedikit pun! Maka, sudah semestinya bila Allah menghukum kita dengan kegoncangan, carut-marut, dan kehilangan arah tujuan!

_________

[*] Alimin Mukhtar,  Kamis, 21 Sya’ban 1435 H

 

 

Hidayatullah Nunukan Terima Anugerah Adiwiyata

penerima adiwiyata nunukanHidayatullah.or.id — Atas kepedulian dan aksi nyata terhadap lingkungan hidup, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Nunukan, Kalimantan Timur, mendapatkan penghargaan Anugerah Adiwiyata dari Pemerintah Kabupaten Nunukan. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Bupati Nunukan Drs. H. Basri saat peringatan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia, Senin (16/06/2014) lalu.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati untuk meningkatkan kesadaran manusia dalam mengambil tindakan positif terhadap dunia yang semakin rusak. Peringatan Hari Lingkungan Hidup Seduania Tahun 2014 di Kabupaten Nunukan dilaksanakan pada hari ini senin (16/06/2014). Kegiatan yang berlangsung sekita pukul 06.00 Wita tersebut dilaksanakan di halaman di Kantor Gabungan Dinas I Setkab. Nunukan Jl. Ujang Dewa Sedadap.

Hadir pada acara tersebut Bupati Nunukan, Wakil Bupati Nunukan, Unsur FKPD Nunukan, perwakilan dari Pesantren Hidayatullah Nunukan, beserta seluruh Kepala SKPD Kabupaten Nunukan.

Turut hadir Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nunukan H.M. Shaberah,S.Ag. MM, Kasubag TU Kementerian Agama Kabupaten Nunukan Hamzah,S.Ag, dan Humas Kementerian Agama Kabupaten Nunukan Sayid Abdullah, SH sebagai petugas pembacaan do’a pada kegiatan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2014 Tingkat Kabupaten Nunukan ini.

Peringatan ini juga dihadiri oleh siswa siswi dari sekolah-sekolah yang ada di Nunukan dan para perwakilan Sekolah penerima Adiwiyata Tingkat Kabupaten Nunukan Tahun2014.

Selain Kegiatan Seremoni Peringatan Hari Lingkungan Hidup, Panitia Penyelenggara Kantor Badan Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Nunukan (BLHD) Juga mengadakan jalan santai bersih-bersih Pantai Ecing Nunukan yang merupakan salah satu tempat Pariwisata andalan masyarakat Nunukan yang ada di Kecamatan Nunukan Selatan.

Dalam kegiatan tersebut Pemerintah Kabupaten Nunukan menyerahkan penghargaan Adiwiyata Tahun 2014 kepada Pesantren Hidayatullah yang dinilai memiliki kepedulian besar terhadap pelestarian Lingkungan di Tingkat Kabupaten Nunukan.

Tahun ini seleksi Adiwiyata bagi sekolah ada 21 yang berhak menerima untuk tingkat Kabupaten, diantara 21 sekolah tersebut 11 diantaranya ikut seleksi ditingkat Provinsi dan 2 Sekolah di Tingkat Nasional.

Pada tanggal 5 Juni 2014 lalu Pemerintah RI menyerahkan Piagam sertifikat Adipura Kepada Pemerintah Kabupaten Nunukan yang langsung di terima oleh Bupati Nunukan di Jakarta. Sementara pada bulan November nanti akan diadakan penilaian Tingkat nasional, sertifikat tersebut diberikan Pemerintah Pusat, sebagai penghargaan Kepada Pemerintah Kabupaten Nunukan yang turut berperan aktif dalam menjaga kelestarian Lingkungan di Daerah Kabupaten Nunukan.

Dalam sambutannya Bupati Nunukan Drs.H. Basri mengajak seluruh masyarakat Nunukan dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup ini.

“Jangan melihat terlalu jauh, lihat dulu di sekitar kita. Kebersihan itu dimulai dari diri, keluarga, lingkungan sekitar rumah kita, dan kantor kita. Baru setelah itu kita melihat keluar,” kata Basri.

Bupati juga menyampaikan bahwa Kebersihan itu ada di dalam hati kita, karena Kebersihan adalah sebagian dari Iman, ujarnya. (hum/hio)

BUMN Dukung Desa Berbasis Pesantren Hidayatullah

Salah satu sudut desa Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan / HIO
Salah satu sudut desa Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan / HIO

Hidayatullah.or.id — Dalam upaya menjalin kerjasama dan menjalankan program BUMN Membangun Desa yang diintruksikan oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan sekitar dua tahun lalu, Direktur Utama PT. BUMN Hijau Lestari I Ir. Ali Rahman bersama Assisten Manager wilayah Jawa Tengah-Jawa Timur Didi Suhayadi dan Staf Pengembangan Bisnis Nurdin Hardiansyah berkunjung ke Kantor Pusat Pondok Pesantren Hidayatullah yang beralamat di Jalan Mulawarman, Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kalimantan Timur, Senin, 10 Maret 2014 lalu.

Sekitar pukul 10.00 WIB rombongan PT. BUMN Hijau LestariI tiba di lokasi. Para pengurus menyambut dengan hangat serta menyampaikan penuh rasa syukur atas kunjungan dan silaturahmi Ali Rahman beserta tim.

Rombongan PT. BUMN Hijau Lestrai I diajak ruang aula/pertemuan Pondok Pesantren Hidayatullah untuk berdialog bersama dengan sejumlah pengurus pesantren. Pondok Pesantren Hidayatullah sendiri merupakan salah satu pondok pesantren besar di Indonesia yang memiliki kurang lebih 300 cabang yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia.

“Kami mengapresiasi konsen Hidayatullah pada lingkungan dan penghijauan yang sangat baik dan sudah digeluti sejak lama, terbukti dengan penghargaan Kalpataru yang diraih Pesantren Hidayatullah pada tahun 1984,” kata Dirut PT BUMN Hijau Lestari I Ir Ali Rahman dalam kesempatan tersebut.

Salah satu pengurus Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Ustadz Nasrullah dalam sambutannya mengatakan Pesantren Hidayatullah sering mendapatkan perhatian dari pemerintah terutama yang berkaitan dengan lingkungan.

“Seperti Kementerian Agama, Kementerian Kehutanan mereka pernah berkunjung ke Ponpes Hidayatullah,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Hidayatulah yang berlokasi di desa bilangan Gunung Tembak ini memiliki luas kurang lebih 100 ha, sebagian besar lahan sudah digunakan untuk fasilitas pendidikan dan sarana ibadah, kolam, dan sisanya masih berupa lahan kosong yang siap dikerjasamakan dengan PT. BUMN Hijau Lestari I.

“Kami sangat bersyukur dan ini karunia yang sangat besar, yang dilatarbelakangi oleh kunjungan Bapak Dahlan Iskan Menteri BUMN yang langsung merespon harapan kami ditempat ini,” kata Nashrul.

“Semoga ini menjadi amal jariyah bagi beliau, bapak yang mendampinginya dan satu bentuk perhatian kita kepada lingkungan,” tambahnya.

Dalam Program BUMN Membangun Desa berbasis Pondok Pesantren, PT. BUMN Hijau Lestari I sudah bekerjasama kurang lebih dengan 50 pondok pesantren di seluruh Indonesia. Dalam sambutannya Ir.Ali Rahman mengungkapkan bahwa masalah lingkungan menjdi masalah kita semua tidak bisa diselesaikan dengan proyek-proyek dan cara seperti biasa.

“Kami mencoba mengembangkan konsep Agrosilvopastoral yaitu mengkombinasikan antara peternakan, kehutanan, dan perkebunan. Karena sejatinya berbicara Sumber Daya Alam (SDA) adalah integrasi dari tiga komponen tadi,” tutur Ali Rahman.

Dengan banyaknya kontribusi penghijauan dari berbagai pihak atau kalangan masyarakat, semoga negeri ini tetap hijau dan lestari, demikian harap Ali Rahman. (ybh/hio)

Syabab Hidayatullah Sebagai Gerakan Moral Bangsa

0

Baca berita terkait: Syabab Harus Mempelopori Gerakan Moral Bangsa

[youtube width=”600″ height=”338″ src=”eqSTKadcDVQ”][/youtube]

Nikah Mubarokah di Sempaja

0

Hidayatullah.or.id — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda bekerjasama dengan Pengurus Daerah (PD) Hidayatullah Samarinda, Kalimantan Timur, menggelar helatan akbar pernikahan mubarokah (Walimatul ‘Ursy) sebanyak 14 pasang santri. Acara ini berlangsung semarak dan hikmad di komplek Kampus Hidayatullah Sempaja, Samarinda. Berikut ini beberapa oleh-olehnya:

FOTO/ TEKS: Yacong B. Halike Maringngerang

 

Mempelai wanita ditempatkan di lokasi undangan wanita. Acara khas Hidayatullah ini memang sengaja memisahkan undangan antara laki dan perempuan agar tak terjadi ikhtilath / YBH
Mempelai wanita ditempatkan di lokasi undangan wanita. Acara khas Hidayatullah ini memang sengaja memisahkan undangan antara laki dan perempuan agar tak terjadi ikhtilath / YBH
Peserta nikah mubarak pria / YBH
Peserta nikah mubarak pria / YBH
Detik detik jelang acara ijab qabul.  / YBH
Detik detik jelang acara ijab qabul. / YBH
Undangan berfoto bersama mempelai laki-laki / YBH
Undangan berfoto bersama mempelai laki-laki / YBH
Undangan berfoto bersama mempelai laki-laki / YBH
Undangan berfoto bersama mempelai laki-laki / YBH

Karena Mereka Tidak Mengerti

bersujud pada Allah TaalaMANUSIA, karena kebodohan dan pikiran dangkal, atau tumpukan dosa dan propaganda jahat, acapkali membenci apa yang sebetulnya baik baginya. Ada banyak kisah yang bisa kita ceritakan, dari zaman terkini sampai terkuno.

Banyak santri yang masuk pesantren dengan setengah dipaksa orangtuanya. Pada awal tahun ajaran baru, hampir setiap hari mereka menangis, dengan berbagai alasan. Setiap kali hari kunjungan orangtua tiba, mereka hanya punya satu permintaan: “pindah!”.

Tapi, setelah hari-hari yang penuh keluhan itu mereka lalui, dengan segala lika-liku dan perjuangan semua pihak, mereka pun bertahan di Pesantren sampai enam tahun, mulai SMP sampai SMA.

Sebagian malah ingin tetap di Pesantren saja, meski belum ada Perguruan Tinggi tempat mereka belajar. Ada juga yang kemudian menikah dan secara sukarela memilih untuk mengabdikan diri di tempat yang dulu mereka benci itu.

Saya bertanya kepada anak-anak itu, “Kenapa dulu menangis dan tidak mau di Pesantren?” Mereka hanya tertawa, tersipu-sipu malu. Ya, menertawakan dan malu pada kepicikan dirinya sendiri, tapi sekaligus bersyukur ada orang-orang yang sangat peduli pada kebaikan mereka dan dengan teguh mempertahankan cita-cita itu, meski mereka tidak paham bahkan sangat jengkel.

Begitulah mestinya keteguhan para dai, guru, dan orangtua; seteguh para Rasul dalam meyakinkan kaumnya. Sungguh, kebanyakan anak-anak dan umat tidak mengerti apa yang mestinya baik bagi mereka, sehingga memusuhi para penyerunya dengan sengit.

Tidakkah kita mengingat Umar bin Khatthab dan permusuhannya kepada Islam? Bagaimana dengan Khalid bin Walid, pemimpin pasukan berkuda Quraisy yang menghancurkan barisan para Sahabat dalam Perang Uhud? Lihatlah Amr bin Ash yang dengan segala cara merayu Najasyi agar mengusir Ja’far bin Abi Thalib dan para Sahabat yang berhijrah ke Habasyah!

Tapi, itu sebelum mereka mengenal kebaikan Islam. Setelah hatinya terbuka, tiba-tiba mereka menjadi bagian dari para pembela Islam yang paling mengesankan dalam sejarah. Umar bin Khatthab, jangan tanya lagi apa prestasinya, terlalu banyak untuk diceritakan. Khalid bin Walid, panglima yang melalui kepemimpinannya Allah memulai penjungkiran Kekaisaran Persia. Amr bin Ash, melaluinya garnisun-garnisun Romawi di Mesir dan Alexandria dihancurkan, dan tidak pernah tegak kembali.

Begitulah, terkadang diperlukan upaya ekstra untuk membuat manusia dapat mencicipi kebaikan Islam. Mereka mungkin akan melawan, marah, memusuhi, benci, dan kitalah yang harus bersabar. Mereka hanya tidak mengerti.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَجِبَ اللَّهُ مِنْ قَوْمٍ يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ فِي السَّلَاسِلِ

Artinya: “Allah merasa takjub kepada orang-orang yang masuk surga dalam (keadaan terbelenggu oleh) rantai-rantai.” (Riwayat Bukhari, dari Abu Hurairah).

عَجِبَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ مِنْ قَوْمٍ يُقَادُونَ إِلَى الْجَنَّةِ فِي السَّلَاسِلِ

Artinya: “Tuhan kita merasa takjub terhadap kaum yang digiring ke surga dalam (keadaan terbelenggu oleh) rantai-rantai.” (Riwayat Ahmad dan Abu Dawud, dari Abu Hurairah).

اِسْتَضْحَكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ : عَجِبْتُ لِأَقْوَامٍ يُسَاقُونَ إِلَى الْجَنَّةِ فِي السَّلَاسِلِ وَهُمْ كَارِهُونَ

Artinya: Nabi tertawa, lalu ditanyakan, “Apa yang membuat Anda tertawa?” Beliau menjawab, “Saya merasa takjub kepada kaum-kaum yang digiring ke surga dalam (keadaan terbelenggu oleh) rantai-rantai, padahal sebenarnya mereka sangat tidak mau.” (Riwayat Thabrani dalam al-Kabir, dari Abu Umamah).

ضَحِكَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ قَالَ : أَلَا تَسْأَلُوْنِي مِمَّ ضَحِكْتُ؟ قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللهِ مِمَّ ضَحِكْتَ؟ قَالَ : رَأَيْتُ نَاسًا يُسَاقُوْنَ إِلَى الجَنَّةِ فِي السَّلَاسِلِ . قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ : قُوْمٌ مِنَ الْعَجَمِ يَسْبِيْهِمُ الْمُهَاجِرُوْنَ فَيُدْخِلُوْنَهُمْ فِي الْإِسْلَامِ

Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa kemudian bersabda: ‘Tidakkah kalian bertanya kepadaku mengapa aku tertawa?’ Para Sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, mengapa Anda tertawa?” Beliau menjawab: ‘Aku melihat sekelompok orang yang digiring ke surga dalam (keadaan terbelenggu oleh) rantai-rantai.’ Para Sahabat bertanya lagi: ‘Wahai Rasulullah, siapakah mereka?’ Beliau menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang non-Arab yang ditawan kaum Muhajirin (dalam peperangan), lalu dibuat masuk Islam.’” (Riwayat Thabrani, dari Abu Thufail).

Siapkah Anda membawakan Islam kepada orang-orang yang tidak tidak mengerti itu dan bersabar menggiring mereka ke surga, meski mereka tidak mau dan sangat keberatan?

Allah berfirman, “Hai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah! Dan perbuatan dosa tinggalkanlah! Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak! Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah!” (QS. Al-Muddatstsir: 1-7).

Wallahu a’lam.

______________
ALIMIN MUKHTAR, penulis adalah alumni STAIL Hidayatullah Surabaya dan saat ini pengasuh di Pondok Pesantren Hidayatullah Malang, Jawa Timur.

Rakornas Dorong Penerapan Pendidikan Berbasis Tauhid

rakornas pendidikan hidayatullah surabaya 2 rakornas pendidikan hidayatullah surabayaHidayatullah.or.id — Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Hidayatullah Dr. H. Abdul Mannan, mengingatkan kepada penyelenggara pendidikan di Hidayatullah untuk menginternalisasi spirit Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW) sebagai manhaj (konsep) gerakan ormas Hidayatullah.

Demikian ditegaskan Dr H Abdul Mannan saat menyampaikan pengarahan pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pendidikan Hidayatullah di Surabaya, beberapa hari lalu (05/06/2014).

Proses internalisasi tersebut yang berbasis pada Tauhidullah (mengesahkan Allah), tegas beliau, hendaknya dibarengi dengan upaya transformasi nilai kepada seluruh khalayak peserta didik.

“Pendidikan Hidayatullah di tengah dinamika globalisasi saat ini harus segera berbenah dengan spirit SNW. SNW melahirkan konsep komando, sehingga setiap kader harus sam’an wa to’atan,” kata beliau saat menyampaikan pengarahan pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pendidikan Hidayatullah di Surabaya, beberapa hari lalu (05/06/2014).

Imbauan itu ditegaskan Ketua Umum Hidayatullah dalam sesi pembahasan tema “Pendidikan Integral Hidayatullah sebagai Rekayasa Masa Depan” di arena acara Rakornas Pendidikan Hidayatullah berlangsung di Surabaya selama 3 hari.

Beliau menyatakan bahwa pendidikan Hidayatullah harus melakukan standarisasi berbagai aspek meliputi standar Sumber Daya Manusia (SDM), standardisasi Manajemen, dan standardisasi kurikulum.

“Standarisasi ini kemudian disusul dengan sentralisasi sistem organisasi Sehingga setiap kebijakan dapat diterapkan secara menyeluruh,” terangnya.

Ketua Umum juga menerangkan bahwa segala aktivitas yang tidak dilandasi oleh pemikiran ontologis adalah rapuh. Untuk itu dalam mekanisme pendidikan di Hidayatullah, guru sekaligus berperan sebagai pendidik serta pengayom yang dituntut harus punya hipotesa untuk menganalisis setiap problem edukasi yang bersifat konkret karena tanpa hipotesa guru akan passif.

“Maka segala aktivitas pendidikan harus berdasarkan Tauhid. Guru harus mengantarkan peserta didiknya untuk mendeklarasikan falsafah hidup,” ungkapnya.

Untuk dapat mengintegrasikan antara upaya transformasi nilai Ilahiyah dengan kecakapan pendidikan maka semua guru harus memiliki Tauhid yang super, sehingga bisa mengantarkan peserta didiknya bertauhid dengan benar dan bisa mengantarkan peserta didiknya untuk memahami manhaj SNW.

Beliau juga mendorong kepada segenap kader dan jamaah Hidayatullah untuk menjadikan diri, keluarga, dan lingkungan sebagai penggerak peradaban Islam karena setiap pendidik adalah mediator ilmu dari Allah untuk ditransfer kepada peserta didik.

Konsolidasikan 50.000 Murid
Rakornas pendidikan Hidayatullah ini diikuti berbagai perwakilan dari beberapa kota besar di Indonesia, termasuk dari Surabaya. Rapat koordinasi nasional Hidayatullah ini satu diantara tujuannya adalahuntuk mengkonsolidasikan sekurangnya 50.000 siswa mulai dari Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Menegah Atas (SMA).

Panitia pelaksana Zainal Mutaqin, mengatakan Selain silaturrahim dengan para kerabat dari seluruh Indonesia. Rakornas ini juga membahas konsolidasi sekaligus bagaimana mewujudkan pendidikan yang bermanfaat bagi generasi mendatang dengan memberikan masukan kepada pemerintah terkait pendidikan yang benar dan bermanfaat.

Hingga saat ini, tambah Zainal Mutaqin, ada sekurangnya 50.000 siswa yang tersebar di beberapa kota di Indonesia, diantaranya di Surabaya, Jakarta, Balikpapan, Batam dan Depok serta beberapa kota lainnya yang mengikuti pendidikan di lembaga pendidikan Hidayatullah.

Lembaga pendidikan Hidayatullah kata Zainal memang berbeda karena mempraktekkan Pendidikan Integral yang disesuaikan dengan nilai-nilai Islam sekaligus terus menerus melakukan peningkatan pendidikan.

“Oleh karena itu, Rakornas ini juga sebagai satu diantara upaya untuk menjaring aspirasi dari daerah-daerah,” tambah Zainal Mutaqin.

Rakornas yang dibuka pada Kamis (5/6/2014) ini berakhir pada Minggu (8/6/2014) lalu, dengan sejumlah kegiatan yang cukup padat. Mulai dari seminar pendidikan, konsultasi pendidikan, hingga pelatihan-pelatihan.

“Perguruan tinggi Hidayatullah saat ini juga tengah berkembang terus,” pungkas Zainal Mutaqin seperti dikutip harian lokal Suara Surabaya, Sabtu (7/6/2014) lalu. (hio/ybh)