Beranda blog Halaman 649

Puluhan Murid Maramah Ikuti Daurah Kelembagaan Usai UN

Sejumlah murid Marama Putri peserta daurah berbincang di sela-sela jeda acara / MASYKUR
Sejumlah murid Marama Putri peserta daurah berbincang di sela-sela jeda acara / MASYKUR

Hidayatullah.or.id — Banyak cara seorang pelajar dalam mengisi waktu liburan. Namun umumnya para pelajar memaknai liburan itu sebagai masa berlepas diri dari berbagai aktifitas yang mengikat. Semunya harus bebas dan lepas. Tak ada beban lagi. Apalagi bagi siswa kelas XII Sekolah Menegah Umum (SMU) yang baru saja melewati masa-masa tegang bersama Ujian Nasional (UN).

Bahkan, tak sedikit di antara mereka lalu terlibat hura-hura atas dalih mereka sudah menempuh ujian akhir dan (merasa) telah tamat belajar. Kita butuh refreshing sejenak, kira-kira seperti itu kilah klasik sebagian mereka.

Meski jamak terjadi, rupanya fenomena umum itu tak berlaku bagi siswi kelas XII Madrasah Aliyah Raadhiyatan Mardhiyyah (Marama) Putri, Balikpapan. Setidaknya hal itu terlihat dari berbagai kegiatan yang diadakan oleh siswi kelas XII, usai pelaksanaan UN silam. Termasuk di dalamnya pada kegiatan Daurah Kelembagaan yang digelar selama tiga hari (28-30 April) tersebut.

“Prinsip kami, setiap waktu adalah kebaikan. Sehingga tak ada waktu untuk bersantai apalagi berleha-leha dengan kegiatan yang tak bermanfaat,” kata Nur Hasanah, siswi kelas XII Bahasa mewakili rekan-rekannya.

Bertempat di Mushalla Asrama Putri Sakinah Jamilah, Marama Putri kembali menggelar agenda tahunan berupa Daurah Kelembagaan. Sebuah kegiatan pengayaan tentang visi dan misi Hidayatullah sebagai lembaga dakwah dan tarbiyah di tengah masyarakat.

“Ia disebut Daurah Kelembagaan sebab memuat materi-materi yang berkisar pada pengenalan lebih jauh tentang Lembaga Hidayatullah yang menjadikan mainstream (arus utama) gerakannya berporos pada dakwah dan tarbiyah,” tutur St. Syamsiah, Ketua Panitia Daurah menjelaskan.

Sebagai contoh materi yang disampaikan pada kegiatan tersebut sebut saja misalnya studi lanjutan pendalaman tentang pokok-pokok ajaran Islam, internalisasi visi misi Hidayatullah untuk tegaknya kehidupan Islam, eksistensi nilai-nilai kekaderan terhadap Kesuksesan dakwah, dan generasi sukses dalam perspektif al-Qur’an.

Selain materi-materi di atas, panitia juga menyiapkan beberapa materi khusus terkait dunia muslimah. Seperti Berhijab dan Pengaruhnya Terhadap Kepribadian Muslimah dan Generasi Muslimah, antara Idealitas dan Realitas, dan Transformasi Manhaj Sistematika Nuzul Wahyu (SNW) Terhadap Kehidupan Muslimah.

Agenda rutin tahunan tersebut biasanya acap digelar siswi kelas XII Marama Putri setelah menuntaskan Ujian Nasional dan seabrek ujian lainnya. Selain mengisi waktu liburan, diharapkan siswi Marama Putri juga mendapatkan motivasi yang lebih kuat dalam mengarungi tantangan belajar selanjutnya dalam dunia perkuliahan atau tugas dakwah lainnya.

“Kami berharap seluruh anak didik kian menyadari kerasnya benturan dan tantangan kehidupan di luar. Mereka wajib membekali diri dengan ilmu dan ibadah yang kuat. Sebab hanya itulah sebaik-baik bekal yang ada,” papar Irma, S.S, Kepala Sekolah Madarasah Aliyah Raadhiyatan Mardhiyyah Putri menambahkan.

Waktu yang terus bergulir mengantarkan Madrasah Aliyah Raadhiyatan Mardhiyyah (Marama) menamatkan ratusan alumninya yang telah tersebar di segenap titik dakwah di belahan penjuru nusantara. Beberapa di antaranya bahkan sudah menjadi tokoh masyarakat. Sebut misalnya, Nashirul Haq, alumnus angkatan pertama. Selain sebagai anggota Dewan Syura Hidayatullah, Nashirul juga tengah menyelesaikan disertasi doktoral di IIUM, Malaysia.

Di sana juga ada Naspi Arsyad, alumnus Marama angkatan kedua. Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Syabab Hidayatullah dan Kholis Mukhlis. Imam besar Masjid Istiqamah, Komplek Pertamina, Balikpapan yang tak lain adalah lulusan Marama angkatan kesatu pula.

Tentunya masih banyak lagi para alumni lainnya yang semuanya telah berkiprah secara nyata dalam dakwah di tengah masyarakat

Untuk diketahui, dalam dokumentasi madrasah, angkatan tahun 2014 ini tercatat sebagai alumni angkatan ke-22. Untuk angkatan sekarang, Marama berhasil menamatkan 81 siswa. Dengan pembagian, 46 orang putra dan 35 orang putri.

Mereka itu lalu terbagi dalam dua kelas jurusan, yaitu Jurusan IPA dan Jurusan Bahasa. Untuk Marama Putra, sebanyak 24 siswa masuk dalam Kelas IPA sedang 22 siswa lainnya bergabung dalam Kelas Bahasa. Sebagaimana di Marama Putri, 16 siswi belajar di kelas XII IPA dan 19 orang lainnya di Kelas Bahasa. */ Masykur Abu Jaulah

Keharuan Khataman Ma’had Ahlus Shuffah Hidayatullah

Santri putra Ma'had Tahfidzul Qur'an Ahlus Shuffah, Hidayatullah Balikpapan / IST
Santri putra Ma’had Tahfidzul Qur’an Ahlus Shuffah, Hidayatullah Balikpapan / IST

Hidayatullah.or.id — Jam di dinding Aula “Prasmanan” Kampus Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, menunjukkan pukul 06.00 WITA. Suasana masih pagi, ketika seratusan santri Ma’had Tahfidz al-Qur’an Ahlus Shuffah Putri, telah memadati ruang serba guna milik pesantren.

Hari itu, Ahad (27/04/2014), para santri Tahfidz memiliki hajatan istimewa. Yaitu acara khataman atau sima’an 30 juz dari santri yang dianggap sudah menyempurnakan hafalannya sebanyak 30 juz.

Berbeda dengan setoran hafalan biasa (sima’an), acara Khataman tersebut mewajibkan santri memperdengarkan seluruh hafalan mereka tanpa putus dalam sekali waktu (pen; sekali duduk) saja. Umumnya, acara Khataman digelar dalam sekali dalam setahun. Sebagai sarana menguatkan sekaligus memastikan hafalan 30 juz seorang santri penghafal.

Kali ini, Ma’had Tahfidz al-Qur’an Ahlus Shuffah Putri menampilkan Ulin Nuha, salah seorang santri terbaik mereka dari kelas III Madrasah Ulya (setingkat Madrasah Aliyah). Putri dari pasangan Ir. Khairil Baits yang juga salah satu Ketua PP Hidayatullah dan Rusmini, ini berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz dalam kurun waktu 3 tahun.

Dalam kesempatan yang sama, Majrah, Kepala Ma’had Tahfidz al-Qur’an Ahlus Shuffah Putri menyatakan rasa syukur yang sangat mendalam atas keberhasilan santri-santrinya menyelesaikan hafalan kamil (sempurna) sebanyak 30 juz.

“Kita semua layak untuk bersyukur sebab hal ini tentu bukan capaian yang mudah atau sederhana,” ucap Majrah dalam sambutannya mengawali acara.

“Namun hendaknya semua ini tidak lalu melalaikan kita untuk mengamalkan apa yang telah kita hafal dari al-Qur’an,” imbuh ustadzah lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah ini.

Usai acara sambutan, selanjutnya Ulin Nuha dipersilakan memperdengarkan hafalannya di hadapan dewan penguji. Dewan penguji yang terdiri dari sejumlah ustadzah hafidzah senior itu bertugas menyimak dan menilai hafalan Ulin Nuha, sebagai santri teruji.

Untuk meningkatkan kualitas hafalan, para dewan penguji tersebut juga dibantu oleh beberapa orang santri yang sudah mencapai hafalan 20 juz lebih.

“Selain membantu menyimak hafalan, kita berharap para santri tersebut juga kian termotivasi dalam menyelesaikan hafalan mereka,” ujar Majrah menerangkan.

Tepat pukul 11.30 Ulin Nuha berhasil menyelesaikan tilawah hafalannya sebanyak 10 juz tanpa putus. Ulin mengawali hafalannya mulai dari juz ke-21 hingga juz paling akhir, yaitu juz ke-30. Dengan hafalan yang nyaris tanpa cacat tersebut Ulin Nuha berhasil memukau dewan juri dan seluruh undangan serta para santri yang turut hadir memenuhi hari bersejarah tersebut.

Alhamdulillah, kak Ulin berhasil dalam acara khataman ini,” kata Layla Farhana, santri kelas II Ulya yang merasa turut berbahagia mewakili rekan-rekannya yang lain.

Berbagai ucap syukur dari segenap santri dan para undangan menjadi penghias di penghujung acara Khataman tersebut. Setidaknya hal itu terungkap dari sambutan penutup yang disampaikan oleh Ibu Aida Chered, istri dari Abdullah Said, pendiri Pesantren Hidayatullah.

Aida Chered mengaku tak sanggup berkata-kata lagi dan sangat terharu dengan keberhasilan santri-santri Tahfidz al-Qur’an menyelesaikan hafalannya.

“Kita semua berharap semoga semakin banyak hafidz dan hafidzah al-Qur’an yang lahir dari rahim Gunung Tembak sebagai markas dakwah dan perjuangan Islam ini,” ujar Aida yang diaminkan oleh seluruh hadirin yang ada. */ Masykur Abu Jaulah

Bachar M Yohannes: Pemuda Harus Jadi Pelopor Perbaikan

0
Pengurus PW Hidayatullah Gorontalo berfoto bersama / MAR
Pengurus PW Hidayatullah Gorontalo berfoto bersama / MAR

Hidayatullah.or.id — Pemuda Hidayatullah harus terus membangun budaya kerja dan tidak boleh berpangku tangan. Pemuda tidak pantas mengabiskan waktu hanya berhubungan dengan lawan jenis melalui SMS (pesang singkat), atau lebih sibuk nongkrong di jejaring sosial internet seperti Facebook dan Twitter. Kini pemuda senantiasa dituntut berperan aktif dalam pergaulan sosial di masyarakat.

Demikian penggalan pidato yang disampaikan oleh Ketua Pimpinan Wilayah (PW) terpilih Syabab Hidayatullah Gorontalo periode 2014-2019, Bacharuddin Majid Yohannes, S.Pd.I.

“Pemuda adalah mereka yang selalu menggeliat dan resah terhadap kondisi zaman yang semakin bobrok. Ini yang harus menjadi kegelisahan Pemuda Hidayatullah untuk membaktikan diri pada kerja-kerja keummatan demi ukiran karya monumental di masa mendatang,” kata Bachar Yohannes di hadapan puluhan hadirin usai dilantik di Gorontalo, baru baru ini.

Pemuda, jelas Bachar, adalah mereka yang terus berusaha dengan kemampuan yang dimiliki untuk memberikan kontribusi pemikiran dan karya dalam rangka merubah wajah dunia.

“Sudahkah kita mampu mengobrak-abrik pemikiran sekuler dan kemudian menawarkan gagasan ideologis untuk perubahan yang lebih baik, inilah yang menjadi tantangan kita bersama,” ungkapnya.

Dalam lanjutan pidatonya, Bachar mengatakan bahwa peranan pemuda dalam mewujudkan mimpi dan cita-cita sebuah lembaga adalah mutlak untuk dilakukan. Ini tegas dia bukanlah sebuah isapan jempol belaka dan cerita fiktif semata yang terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bachar menerangkan bahwa terbentuknya NKRI ini adalah geliat para pemuda Indonesia yang terus bergerak, bersuara, dan senantiasa berada di garis depan dalam mewujudkan mimpi demi terbentuknya NKRI.

“Mereka melakukan perjuangan yang panjang dan pengorbanan yang berdarah-darah sampai para penjajah berhenti menggorogoti negeri ini,” cetus Bachar.

Salah satu gerakan konkrit yang dilakukan oleh Pemuda Indonesia saat itu adalah mengumpulkan seluruh pemuda untuk menyatukan pandangan, visi, dan ide yang tercetus dalam Sumpa Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1942. Pada titik puncak gerakan pemuda Indonesia adalah “menculik” Bung Karno dan mendesaknya untuk memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia.

Tak lupa Bachar juga sedikit menapaktilasi perjalanan sosok pemuda bernama Abdullah Said yang tak lain adalah pendiri Pesantren Hidayatullah. Pemuda Islam dengan keberanian yang luar biasa itu mampu mengobrak abrik pemikiran sekuler dan menawarkan ideologinya.

“Beliau seorang pemuda yang menjadi inspirator bagi seluruh kader-kader Hidayatullah yang mampu mengubah hutan belantara di Kalimantan Timur menjadi Kampus Peradaban Islam. Lalu, bagaimana dengan Pemuda Hidayatullah Gorontalo,” imbuh dia menutup pidatonya seraya berharap Pemuda Hidayatullah Gorontalo dapat semakin eksis.

Musyawarah Wilayah (Muswil) II Syabab Hidayatullah Gorontalo yang dilaksanakan pada tanggal 27 April 2014 lalu berlangsung cukup alot, kerap terjadi adu argumentasi antara peserta musyawirin namun tetap berlangsung tertib dengan suasana kekeluargaan yang kental.

Agenda pembukaan Muswil ini dihadiri oleh puluhan peserta yang terdiri dari pemuda MA, SMK dan Mahasiswa Hidayatullah se-Gorontalo. Musyawarah wilayah II Syabab Hidayatullah Gorontalo kali ini mengusung tema “Transformasi Idealisme Gerakan Pemuda Menuju Kepemimpinan Gorontalo Yang Bermartabat”.

Hadir pula dalam agenda tersebut Ketua Wilayah Hidayatullah Gorontalo Fahruddin Rifai, S.Pd.I, M.Si yang sekaligus sebagai pemberi arahan dan membuka acara MUSWIL dengan resmi.

Dalam sambutan dan arahannya, Fahruddin mengatakan bahwa para pemuda yang ada hari ini merupakan harapan lembaga ke depan. Maju dan mundurnya lembaga Hidayatullah tergantung pada peranan Pemuda Hidayatullah. Fahruddin juga mendorong kepada ketua syabab terpilih untuk membawa organisasi ke arah yang lebih baik dan selalu bersinergi dengan organisasi induk. (hio/ybh)

Pengurus Hidayatullah Wilayah Kaltara Dikukuhkan

Pengurus PW Hidayatullah Kaltara saat dibacakam SK penugasan oleh Ketua PP Hidayatullah Ir Khairil Baits / DOCHIDORID
Pengurus PW Hidayatullah Kaltara saat dibacakam SK penugasan oleh Ketua PP Hidayatullah Ir Khairil Baits / DOCHIDORID

Hidayatullah.or.id -– Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) melalui Asisten II Bidang Pembangunan dan Ekonomi, Syaiful Herman, bersama dengan Sekretaris Daerah Kabupaten Bulungan, Syafril, dan sejumlah pengurus Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, mengukuhkan dan melantik sedikitnya 12 pengurus wilayah Hidayatullah Kalimantan Utara (Kaltara).

Pengukuhan yang dilangsungkan pelataran pondok pesantren tersebut juga dirangkaikan dengan sejumlah agenda tambahan yakni peresmian asrama santri Pesantren Hidayatullah Bulungan, peletakan batu pertama masjid Jami Hidayatullah, launching rumah baca Banuanta serta program bina muallaf.

Turut hadir dalam acara tersebut yakni sejumlah unsur dan jajaran Muspida Kabupaten Bulungan, segenap jajaran pimpinan Pesantrean Hidayatullah, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta santri dan tenaga pengajar pesantren Hidayatullah Bulungan.

Dalam sambutannya, Asisten Bidang Pembangunan dan Ekonomi Setprov Kaltara, Syaiful Herman sangat mengapresiasi terbentuknya pengurus wilayah Hidayatullah Kaltara, sebab menurutnya keberadaan Hidayatullah akan memberikan arti positif bagi kemajuan masyarakat, khususnya dalam bidang kerohanian terlebih dalam syiar Islam di Kaltara.

“Mudah-mudahan benar-benar bisa mengemban amanah ini dengan sebaik-baiknya untuk kemaslahatan umat,” ucapnya, mewakili Penjabat Gubernur Kaltara Irianto Lambrie.

Dikatakannya pula, sejauh ini Pemprov Kaltara telah berkomitmen penuh melakukan sinergi dengan siapapun, termasuk dengan Hidayatullah. Melalui empat program prioritas, yakni pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui peningkatan mutu kesehatan, pendidikan, serta pembangunan ekonomi daerah, dan pencanangan pembangunan infrastruktur.

Dalam hal peningkatan SDM misalnya, dengan keberadaan pondok pesantren Hidayatullah ini akan sejalan dengan program Pemprov Kaltara. Tentunya ke depan akan menghasilkan generasi-generasi yang tidak saja cerdas nan kompetitif tapi yang juga bermodalkan iman dan taqwa.

Untuk itu pihaknya manyarankan kepada segenap pengurus pondok pesantren Hidayatullah Bulungan untuk segera mengajukan proposal pembangunan di tahun ini, perihal pemenuhan sarana pondok pesantren.

“Bahkan tinggal pilih. Apakah mau melalui Pemprov atau Kabupaten. Karena di Tanjung Selor ini ada dua pemerintahan. Karena saya juga melihat bahwa wilayah pesantren ini masih sangat luas, tentunya masih sangat potensial untuk dikembangkan,” ucanya.

Senada dengan Syaiful Herman, Sekdakab Bulungan, Syafril mengatakan, juga sangat siap untuk meningkatan kualitas para generasi muda dengan mengedepankan prinsip islami ini, dengan jalan memberikan bantuan secara berkala.

Pihaknya juga mengharapkan agar sarana dan prasarana pondok pesantren yang ada dapat dijaga dan dirawat, terutama asrama santri dan ruang belajar yang baru saja diresmikan maupun yang tengah dalam tahap pembangunan.

“Kepada yang pengurus yang baru saja dilantik, saya juga berpesan untuk mengemban amanah ini dengan baik. Terus merangkul semua golongan masyarakat, termasuk saudara kita yang non muslim. Agar pembangunan di Bulangan dan Kaltara dapat berjalan lancar tanpa ada gesekan-gesekan antar golongan,” terangnya.

Sementara, dengan terpilihnya ketua pengurus Hidayatulla Kaltara yakni Ustadz Nur Yahya Asa, akan mengemban tugas untuk menghidupklan kedamaian, kesejukan, menyampingkan ikatan primordial dengan jalan membangun kebersamaan antar golongan, dan tetap menjadikan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta.

“Insyaa Allah, saya siap mengemban amanah yang diberikan kepada saya dan segenap pengurus. Khusus untuk ponpes Hidayatullah ini ke depan, Hidayatullah Kaltara harus mampu untuk membangun infrastuktur yang lebih memadai, begitu juga SDM ponpes di sini,” pungkasnya. (hum/hio)

Pemprov Dorong Hidayatullah Miliki Perguruan Tinggi di Kalimantan Utara

Asisten Bidang Pembangunan dan Ekonomi Setprov Kaltara, Syaiful Herman, melantik pengurus baru PW Hidayatullah Kaltara / ARFAN
Asisten Bidang Pembangunan dan Ekonomi Setprov Kaltara, Syaiful Herman, melantik pengurus baru PW Hidayatullah Kaltara / ARFAN

Hidayatullah.or.id -– Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Pemprov Kaltara) mendorong Pesantren Hidayatullah di Kaltara miliki perguruan tinggi, seperti pondok pesantren di provinsi lainnya di Indonesia. Pada dasarnya, Pemprov Kaltara siap mendukung sepenuhnya.

Hal tersebut diungkapkan Penjabat Gubernur Kaltara, Irianto Lambrie melalui Asisten II, Syaiful Herman dalam acara pengukuhan pengurus yang dirangkai dengan peresmian gedung dan peletakan batu pertama Pondok Pesantren Hidayahtullah Provinsi Kaltara tahun 2014 di Jalan Jelarai, Tanjung Selor, belum lama ini (25/4).

Irianto mengatakan pesantren saat ini bukan lagi hanya memberikan ilmu tentang agama, namun juga ilmu umum seperti pendidikan formal lainnya. Sehingga pesantren perlu untuk ditampilkan.

“Untuk mampu bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya yang sudah berkembang modern, maka harus berani beradaptasi dengan perubahan sosial yang sangat pesat, sehingga secara bertahap sistem pendidikan di pesantren mampu berintegrasi dengan sistem pendidikan nasional,” kata Irianto dalam sambutan tertulisnya itu.

Lebih jauh ia menerangkan bahwa pondok pesantren harus membekali para santrinya tidak hanya dengan pengetahuan agama, akan tetapi harus mulai membekali santrinya dengan keterampilan misalnya seperti, pertanian, kehutanan, dan perikanan. Hal tersebut didasari oleh adanya tuntutan masyarakat yang menghendaki adanya output yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan yang terampil dan siap pakai.

Irianto mengatakan, visi Hidayatullah sesuai dengan komitmen Pemprov Kaltara menjadikan pendidikan sebagai program prioritas, selain Kesehatan, Infrastruktur dan Ekonomi.

Menurutnya, karena Provinsi Kaltara merupakan provinsi yang terletak di perbatasan, dan menjadi tolak ukur bagi negara lain, terhadap bangsa Indonesia khusunya Provinsi Kaltara, sehingga perlu ada peningkatan kapasitas atau kemampuan SDM di Kaltara agar mampu bersaing dengan provinsi atau negara luar.

“Pendidikan telah menjadi program prioritas Pemprov Kaltara sekarang. Kesehatan, Infrastruktur, dan Ekonomi tanpa dibekali SDM yang handal tidak akan terpenuhi, begitu juga sebaliknya, sehingga ke empatnya harus balance,” katanya.

Ia menegaskan pendidikan menjadi kebutuhan dasar, khususnya masyarakat Kaltara di wilayah perbatasan. Di samping kebutuhan masyarakat akan infrastruktur, kesehatan, dan kesejateraannya.

“Kemajuan sebuah provinsi juga tidak akan terwujud jika SDM-nya ditingkat lokal tidak dibekali pendidikan, dan hanya akan menjadi penonton kemajuan negara tetangga. (ybh/hio/trbk)

Hidayatullah Besut Pendirian Pesantren Mualaf Tengger

Lokasi Pesantren Muallaf Tengger besutan Hidayatullah dan didukung oleh swadaya masyarakat dan dermawan Muslim / DOC
Lokasi Pesantren Muallaf Tengger besutan Hidayatullah dan didukung oleh swadaya masyarakat dan dermawan Muslim / DOC

Hidayatullah.or.id — Banyaknya jumlah pemeluk Islam dari suku Tengger di Desa Argosari Kecamatan Senduro Lumajang selama ini tidak diimbangi dengan jumlah masjid sebagai sarana ibadah utama. Kondisi itulah kemudian mendorong Hidayatullah melalui lembaga amil zakat nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) untuk membesut serta memprakarsai didirikannya Pesantren Muallaf Tengger.

Bahkan selama ini dilaporkan di Dusun Pusung Duwur, Argosari, hanya ada satu bangunan berukuran 3 x 5 meter yang berfungsi sebagai tempat shalat, itupun sangat jauh dari layak.

Di dusun ini tercatat ada 122 kepala keluarga (KK), di mana 26 di antaranya telah memeluk agama Islam.

Atas prakarsa Laznas Baitul Maal Hidayatullah dengan didukung pendanaan oleh salah satu donatur yang sangat peduli atas kondisi ini maka berdirilah Masjid Baiturrohmah.

Masjid berukuran 12×12 meter ini mulai dibangun pada bulan April 2013 lalu dan insya Allah selesai tepat di pekan kedua bulan Mei 2014 mendatang. Masjid yang diperkirakan bisa menampung sekitar 100 jamaah ini diharapkan menjadi sentra ibadah umat Islam desa Argosari.

Masjid Baiturrahmah adalah masjid kedua setelah masjid yang dibangun BMH di dusun Puncak tahun 2010 silam, yang termasuk masjid tertinggi di Pulau Jawa karena terletak di ketinggian 2900 meter di atas permukaan laut.

Diagendakan pada Ahad pagi (27/04/2014) Masjid Baiturrahmah diresmikan langsung oleh Bupati Lumajang Dr. H Sjahrazad Masdar, MA, sekaligus memimpin acara peletakan batu pertama pembangunan Pesantren Agro Dakwah Mualaf Tengger.

Acara ini sendiri menjadi kebahagiaan tersendiri bagi seluruh warga Muslim yang rata-rata baru memeluk Islam di desa ini. Kehadiran orang nomor satu di Lumajang ini diharapkan juga akan memberikan perhatian lebih bagi desa ini nantinya.

Bersamaan dengan acara peresmian masjid ini akan dihelat juga Silahturrahim Da’i Hidayatullah yang dihadiri lebih dari 100 Orang da’i se Jawa Timur untuk mengenal langsung tradisi masyarakat mualaf suku Tengger agar dalam berdakwah kondisi sosial kemasyarakatan bisa terwadahi secara maksimal. (hio/ybh)

Ponpes Hidayatullah Diharap Hadir di Desa Botodayaan

Kepala Desa Botodayaan, Wasijo, S.Ag, saat menyampaikan sambutan / DOC. HIO
Kepala Desa Botodayaan, Wasijo, S.Ag, saat menyampaikan sambutan / DOC. HIO
Ustadz Wasiran, ketua DPD Hidayatullah Gunungkidul, menyampaikan sambutan / DOC. HIO
Ustadz Wasiran, ketua DPD Hidayatullah Gunungkidul, menyampaikan sambutan / DOC. HIO

Hidayatullah.or.id — Bertempat di Masjid Al-Muttaqin, Dusun Kembang, Botodayaan Rongkop, Gunungkidul, tengah bulan April (17-18/04/2014) lalu dilaksanakan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Pimpinan Daerah Hidayatullah Gunungkidul.

Dalam Rakerda PD Hidayatullah Gunungkidul ini menelurkan sejumlah rekomendasi untuk program kerja 2014-2015 diantaranya yaitu akan mengintensifkan Kampus Hidayatullah Baleharjo sebagai pusat pendidikan terintegrasi sekaligus menjadi sekertariat dan asrama Pelajar Islam Yayasan Al-Amin Hidayatullah Gunungkidul.

Ketua Pimpinan Daerah Hidayatullah Gunungkidul Ustadz Muhammad Wasiran, mengatakan pihaknya juga memproyeksikan dapat menambah santri pelajar di pondok Baleharjo yang saat ini memang masih belum mencapai puluhan karena menyesuaikan dengan sejumlah keterbatasan untuk dapat menampung lebih banyak santri.

Karena terbilang masih masa pengembangan, Wasiran menerengkan pihaknya akan memaksimalkan pertemuan pengurus setiap bulannya dengan koordinasi dan halaqoh dakwah serta terus mengintemsifkan kegiatan kajian santri pelajar di Baleharjo dengan metode SNW.

“Kami juga menerbitkan tuntunan ibadah praktis persiapan menghadapi bulan Ramadhan nanti dan akan disebarkan ke masjid-masjid binaan di Gunungkidul,” kata Wasiran ditulis Hidayatullah.or.id, Senin (28/04/2014).

Selain memberikan pelayanan keummatan seperti memenuhi ceramah agama dan pendidikan, pihaknya juga saat ini sedang memformat program untuk pengembangan ekonomi dalam rangka membantu pendanaan dana operasional dakwah yang saat ini sangat terbatas.

“Kita saat ini juga sedang membenahi asrama santri di Baleharjo dengan pengajuan proposal ke DPP Hidayatullah Pusat dan donatur yang tidak mengikat,” katanya.

Acara Rakerda dimulai dengan pengajian bersama jama’ah Al-Mutaqin dan sekitarnya dilanjutkan dengan aganeda Rakerda. Dalam pengajian tersebut selain jama’ah masjid Al-Mutaqin serta tokoh masyarakat juga dihadiri Kepala Desa Botodayaan, Wasijo, SAg.

Acara dimulai dengan pembacaan Gema Wahyu Ilahi oleh Saiful Prihatin dilanjutkan sepatah kata dari takmir masjid Al-Mutaqin, Purnito, dan sambutan Pimpinan DPD Hidayatullah Gunungkidul Ustadz Wasiran.

Kepala Desa Botodayaan Wasijo dalam sambutannya menyampaikan sekilas tentang hasil Pemili 2014 di Botodayakan yang kurang sesuai dengan harapan karena banyak pemilih yang memilih tanpa niatan karena Allah SWT tetapi sudah terpengaruhi oleh “amplop dan isinya“. Padahal terang dia, “penyuap dan yang di suap itu masuk neraka “.

Selain itu Wasijo juga menyampaikan kepada jama’ah bahwa visi dan misi Hidayatullah sama persis dengan visi dan misi pemerintah Desa Botodayaan yaitu membentuk masyarakat yang bertaqwa kepada Allah SWT. Dengan kesamaan visi dan misi ini Wasijo minta agar setiap tahunya Hidayatullah mengadakan event pengajian di daerah Botodayaan.

“Syukur bila mau merintis Pondok Pesantren Hidayatullah di desa ini,” kata Wasijo penuh harap.

Setelah sambutan kepala desa Botodayaan dilanjutkan pengajian oleh Ustadz Ma’arif SAg dari Pondok Pesantren As-Sakinah Hidayatullah Balong Ngaglik Sleman Yogyakarta.

Dalam tausiyahnya Ma’arif menyampaikan tentang perlunya mempersiapakan diri menjelang kedatangan bulan Romadlon ini dengan berbagai hal positif agar ibadah kita di bulan Ramadhan bisa kita laksanakan semaksimal mungkin.
“Persiapan-persiapan yang perlu kita maksimalkan selain ilmu, maal (harta) juga kesehatan. Dengan ilmu kita akan banyak beramal sesuai tuntunan Rasulullah di bulan Rajab, Sya’ban, dan kemudian di bulan Ramadhan,” kata Ma’rif.

Ma’rif menjelaskan, dengan harta atau rezeki kita bisa memaksimalkan ibadah kita yang berwujud shodaqoh, zakat, infaq maupun kebutuhan kita dan keluarga selama bulan Ramadhan. Dengan persiapan kesehatan yang baik maka kita bisa memaksimalkan ibadah Shiyam, sholat Lail, taddaurs Al-qur’an semaksimal mungkin selama Ramadhan nanti.

Selesai pengajian dilanjutkan ramah tamah dengan tokoh masyarakat, pemerintah desa, pengurus DPD dan DPW Hidayatullah Yogyakarta, dan kemudian dilanjutkan RAKERDA dan masjid tersebut. (hio/ybh)

Jembatan Penyeberangan Ciliwung Selesai Dibangun

Wakil Walikota Bogor Usmar Hariman meresmikan jembatan prakarsa BMH Bogor dan didukung oleh PT Andalan / ROYO
Wakil Walikota Bogor Usmar Hariman meresmikan jembatan prakarsa BMH Bogor dan didukung oleh PT Andalan / ROYO

Hidayatullah.or.id — Bertempat di balai pertemuan Desa Sukaresmi, Kota Bogor, Jawa Barat, diadakan serah terima dan peresmian kerjasama PT Andalan Fluid Sistem dan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Kota Bogor dalam proyek pembangunan jembatan Ciliwung di Bogor.

Hadir dalam acara tersebut wakil walikota Bogor Ir. Usmar Hariman. Beliau mewakili Walikota bogor DR. Bima Arya yang sedang dalam kondisi perawatan kesehatan di rumah sakit.

“Terimakasih kepada PT Andalan Fluid Sistem dan BMH yang terjun langsung membantu masyarakat. Ini suatu hal yang patut diapresiasi,” ujar Hariman.

“Inilah yang kami harapkan dari semua pihak, inisiatif peduli terhadap kebutuhan masyarakat. Kedepan pemerintah akan terus memperbaiki regulasi agar masyarakat dapt hidup nyaman dan sejahtera,” imbuhnya.

Sebelum proyek ini didirikan, warga harus menggunakan jembatan dari bambu yang tentu saja sangat rawan bagi keselamatan jiwa warga yang melintas.

Kepala Laznas BMH Bogor Syukur Sudani Hulu mengatakan pihaknya sangat berterima kasih kepada PT Andalan Fluid System yang telah memberikan dukungannya penuh terhadap upaya konstruksi jembatan representatif ini. Kini jembatan ini menjadi pilihan utama warga untuk melakukan lalu lintas antar desa di sana yang dibelah oleh sungai Ciliwung.

“Alhadulillah melalui dana CSR PT Andalan Fluid Sistem kini warga bisa nyaman melintasi sungai Ciliwung,” ujar Syukur Sudani Hulu kepala BMH Bogor dalam sambutannya.

Syukur menambahkan, partisipasi dari masyarakat sekitar atas pengerjaan jembatan ini sangat tinggi. Untuk itu ia pun memberi apresiasi yang tinggi terhadap kontribusi masyarakat tersebut.

Sementara itu Ustadz Hamdan yang merupakan tokoh masyarakat desa setempat mengaku bahagia dengan kepedulian BMH Bogor.

“Saya mewakili warga mengucapkan rasa syukur tak terhingga, karena dengan adanya jembatan ini warga tidak perlu lagi bersusah payah dalam menjalankan aktivitas sehari-sehari,” ujarnya.* (Abu Ilmia)

Dakwah Pekerjaan Nomor Satu Bagi Orang Mengaku Beriman

Umat Islam berdakwah di mana saja untuk menyebarkan maslahat dan rahmat / NET
Umat Islam berdakwah di mana saja untuk menyebarkan maslahat dan rahmat / MUHAJIER

Hidayatullah.or.id — Bagi orang beriman, dakwah adalah pekerjaan nomor satu. Apapun profesi dan pekerjaan yang dilakoni oleh seorang Muslim, hendaknya spirit dakwah tersebut senantiasa ada dalam dirinya. Tak ada waktu dan kegiatan kecuali semuanya berorientasi dakwah.

Demikian penegasan yang mengemuka dalam acara Upgrading Da’i Hidayatullah yang digelar oleh Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Sulawesi Selatan (Sulsel) di Kota Pare-Pare, Sulsel, tengah April lalu.

Selain menyegarkan pentingnya dakwah sebagai lakon utama, kandidakt doktor di IIUM Malaysia, Nashirul Haq, mengingatkan pula agar setiap da’i agar bergerak dengan landasan “dakwah di atas bashirah”.

Acara yang berlangsung selama tiga hari ini mengusung tema “Mengokohkan Dakwah Sebagai Mainstream Perjuangan”.

Nashirul Haq yang juga anggota Dewan Syura Hidayatullah, menjekaskan bahwa kata “bashirah” di sini mengandung makna yang sangat dalam. Terlebih kaitannya dengan pola gerakan dakwah umat Islam yang berbasis Manhaj Sitematika Nuzulnya Wahyu (SNW).

Pertama, terangnya, hendaknya bagi seorang dai memiliki ilmu dan keyakinan. Di sini, setiap dai dituntut agar selalu membekali diri dengan ilmu dan persiapan lainnya.

“Jangan cuma semangat saja, tapi dia sendiri tak mau belajar dan meningkatkan diri lagi,” ucap ustadz jebolan Fakultas Syariah Universitas Islam Madinah ini.

Selain bekal ilmu, keberhasilan suatu dakwah juga ditentukan oleh keyakinan jiwa seorang dai. Dalam hal ini, para dai bisa meniru keyakinan para sahabat dan orang-orang shalih dalam berdakwah dahulu. Dengan keyakinan yang mantap seluruh sahabat tandang ke gelanggang untuk berdakwah. Tanpa peduli resiko dan benturan yang kelak mereka alami.

Menurut Nashirul, di masa awal pendirian Hidayatullah, dalam banyak kesempatan Allahu yarham Abdullah Said sangat gencar meniupkan ruh keyakinan dalam dakwah dan perjuangan ini.

“Jika kalian menolong agama Allah, Allah pasti menolong kalian pula. Pertolongan itu pasti datang, di manapun kalian berdakwah. Sebab Allah yang di Balikpapan sama dengan Allah yang di Papua,” ujar Nashirul meniru statement yang biasa disampaikan oleh pendiri Hidayatullah tersebut.

Bekal selanjutnya, lanjut beliau, adalah pola fikir dan pola gerak yang Qur’ani. Setiap dai juga dituntut menampilkan suri teladan yang baik. Hal itu terpancar dari tutur kata yang baik serta akhlak yang mulia. Boleh dikata, di antara faktor kegagalan dakwah hari ini adalah hilangnya keteladanan.

“Apa yang bisa diharap jika masyarakat hari ini lebih suka dengan dai-dai selebriti itu. Sama sekali tidak ada teladan yang bisa ditiru. Bahkan mungkin tidak ada ilmu kecuali guyonan semata,” terang salah satu Pembina Halaqah Tarbiyah Wilayah Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan ini.

Bagi pemilik iman yang benar, pantang orientasi dakwah mereka bergeser hanya gara-gara godaan materi dan dunia semata. Bagi mereka, cukuplah garansi yang dijanjikan oleh Allah dalam surah al-Qalam. “Tidaklah kalian itu gila disebabkan gara-gara menekuni dakwah dan perjuangan ini,” tegas Nashirul sambil mengutip ayat ke-3 dalam surah al-Qalam.

Seterusnya, seorang da’i tak bisa lepas dari penguatan jiwa dan ruhani. Kehidupan ini tak lain sebuah pertarungan abadi antara al-haq melawan al-bathil. Termasuk dalam urusan dakwah, hendaknya seorang dai selalu menyandarkan dan mengembalikan segala urusannya kepada Allah semata.
“Sesungguhnya kewajiban ini sangat berat bagi kita. Tapi apa boleh buat, inilah perintah dan jalan meraih kemuliaan tersebut,” papar Nashirul kembali.

Menurut pria murah senyum ini, dengan kesadaran seperti itu, seorang dai wajib menjaga asupan ruhaninya (I’dad Ruhiyah) sebagai kekuatan jiwa dalam berdakwah. Apa jadinya jika seseorang mengaku menyampaikan pencerahan kepada umat. Sedang ia sendiri jauh dari tilawah dan amalan al-Qur’an.

“Apa yang bisa diharap ketika orang itu mengaku sedang membina umat. Namun ia sendiri lalai menjaga ibadah dalam kesehariannya,” tegas Nashirul mewanti-wanti.

Dalam kesempatan tersebut tak lupa Nashirul mengingatkan kembali hakikat kemenangan dakwah. Ia bukanlah semata diukur dengan jumlah jamaah pengajian yang hadir. Bukan pula dilihat dari sorak sorai dan tepuk tangan jamaah, layaknya sedang menghadiri gelaran konser musik. Tapi kesuksesan dakwah itu diukur dari komitmen dan keistiqamahan dalam berdakwah.

“Apakah kita bersabar menjalani pekerjaan mulia ini atau tidak,” pungkas Nashirul yang diiringi oleh pekikan takbir dari peserta. */ Masykur Abu Jaulah

Muslimat Sebagai Pembina Tegaknya Peradaban Islam

Peserta dari Muslimat Hidayatullah dalam sebuah kegiatan Focus Group Discussion (FGD) d sela-sela acara Marhalah / MASYKUR
Peserta dari Muslimat Hidayatullah dalam sebuah kegiatan Focus Group Discussion (FGD) d sela-sela acara Marhalah / MASYKUR

Hidayatullah.or.id — Ibarat sebuah terminal pompa bensin (pom bensin), acara Training Marhalah hanyalah serpihan dari rutinitas dakwah yang ada. Bukan hendak menepi santai dari kewajiban dakwah. Justru hendaknya setiap da’iyah kian menyadari posisi strategis mereka dalam membina generasi dan umat menuju tegaknya peradaban Islam.

Diharapkan, para da’iyah mengumpulkan sebanyak-banyaknya bekal. Bekal itu bisa berupa ilmu, pengalaman, dan semangat dakwah. Tak kalah penting tentunya bekal ruhiyah dan spiritual, sebagai pondasi awal menegakkan amar makruf dan nahyu munkar terutama di lingkungan keluarga serta masyarakat.

Demikian harapan besar dari Perhelatan Training Marhalah yang digelar oleh Pengurus Wilayah (PW) Muslimat Hidayatullah (Mushida) Kalimantan Timur (Kaltim). Acara yang berlangsung selama tiga hari ini (18-20 April 2014) ini diadakan di Aula Asrama Haji Batakan, Batakan.

Oleh panitia, kegiatan training lalu dibagi menjadi dua bagian, Training Marhalah Ula (Tingkatan Awal) dan Training Marhalah Wustha (Tingkatan Menengah).

Acara Training Marhalah secara resmi dibuka oleh Hj. Aida Chered, istri dari pendiri Pesantren Hidayatullah, Allahuyarham Abdullah Said. Dalam catatan panitia, Marhalah Ula diikuti oleh 29 daiyah.

Sedang untuk Marhalah Wustha diikuti oleh 26 orang da’iyah yang tersebar di beberapa titik dakwah di Kaltim. Mulai dari Balikpapan, Samarinda, Bontang, hingga pelosok Batu Kajang Penajam Paser Utara (PPU). Turut hadir pula beberapa da’iyah dari Melak, Kutai Barat. Sebuah titik dakwah yang hingga kini masih banyak didiami oleh penduduk asli Suku Dayak.

Untuk penguatan materi, Training Marhalah yang bertajuk “Membangun Profil Keluarga Qur’ani Menuju Peradaban Islam” ini juga menghadirkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pimpinan Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida) Ir. Amalia Husna Bahar dan beberapa instruktur nasional seperti Hani Akbar, Sulmiati Shaleh, Anshor Amiruddin, dan Anwari Hambali.

Dalam materi “Islam dan Benturan Peradaban”, Sulmiati Shaleh secara lugas menerangkan akan konsekuensi iman di tengah pergumulan budaya hari ini. Iman itu ada jika terasa dalam seluruh aspek kehidupan orang beriman.

Dikatakan Sulmiati, bagi setiap Muslim, iman itu menjadi standar pembeda dengan yang lain.

“Tak usah ada yang merasa berjuang jika orang itu tak pernah merasakan benturan keimanan dalam hidupnya,” ucap Sulmiati membakar semangat para peserta training.

Sumiati menegaskan, benturan itu pasti ada. Ia bahkan mempertanyakan jika iman seseorang tidak pernah diuji dan bergolak.

“Hakikat kehidupan manusia adalah benturan dan pertarungan abadi. Antara al-haq melawan al-bathil,” terang da’iyah yang juga dikenal sebagai pakar parenting tersebut.

Menurut Sulmi, demikian panggilan akrabnya, untuk itu setiap diri hendaknya selalu mengoreksi diri. Benarkah ia termasuk dalam barisan penegak kebenaran. Sebab pilihan itu hanya menyisakan dua opsi. Berdakwah menegakkan kebenaran atau sebaliknya, bergabung dalam orang-orang yang mengusung keburukan dan kemaksiatan.

Training Marhalah ini ditutup secara terpisah. Untuk Marhalah Ula, ditutup oleh Hani Akbar, Pembina Muslimah Hidayatullah Kampus Gunung Tembak. Selanjutnya dalam kesempatan berbeda, Sekjen PP Mushida, Amalia Husna berkenan menutup rangkaian kegiatan Marhalah Wustha.

“Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah untuk mengamalkan dan mendakwahkan ilmu yang kami dapatkan ini,” ucap Syarifa Annisa, da’iyah dari PPU mewakili harapan peserta yang lain. */ Masykur Abu Jaulah