Beranda blog Halaman 657

Tokoh Sorong Papua Barat Apresiasi Peran Hidayatullah

Sejumlah santri berfoto di depan masjid Komplek Kampus Pesantren Hidayatullah Serui / INT
Sejumlah santri berfoto di depan masjid Komplek Kampus Pesantren Hidayatullah Serui / INT

Hidayatullah.or.id — Tokoh masyarakat Sorong, Papua Barat, Muhammad Ja’far, mengapresiasi peran ormas dan Pesantren Hidayatullah dalam menopang pembangunan di wilayah tersebut. Hal itu dikatakan Ja’far saat membuka acara Marhalah Ula yang digelar di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Sorong, baru baru ini.

Tokoh agama yang mewakili Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sorong ini, mengungkapkan mewakili seluruh elemen umat Islam di Sorong, pihaknya mengaku bersyukur atas kehadiran Hidayatullah di berbagai titik dakwah, khususnya yang ada di Sorong.

“MUI merasa sangat terbantu dalam membina masyarakat khususnya para pemuda Islam,” kata Ja’far.

Menurut Ja’far, pemuda sebagai generasi pelanjut hendaknya menyadari peran strategisnya sebagai pelanjut risalah dakwah dan pelopor pembangunan umat dan bangsa. Tidak justru larut dalam dunia gemerlap dan tindakan sia-sia lainnya.

“Akan dibawa ke mana agama Islam ini jika pemuda-pemuda Muslim justru telah kehilangan arah duluan,” papar Ja’far menyayangkan sikap sebagian pemuda yang ada.

Dalam kesempatan yang sama, MUI Sorong juga mengingatkan pemuda Islam akan bahaya laten pemikiran liberal yang tengah berkembang di berbagai perguruan tinggi di negara ini.

Masih menurut Ja’far, virus yang bernama Jaringan Islam Liberal (JIL) tersebut benar-benar harus diwaspadai.

“Kita semua harus waspada terhadap JIL, sebab mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan logika yang baik, namun akidah mereka rusak,” terang Ja’far di hadapan puluhan peserta Daurah.

“Jika para pemuda Islam tidak dibentengi dan diselamatkan, maka alamat negara dan agama ini bisa hancur oleh ulah mereka nantinya,” lanjut Ja’far menegaskan.

Selama dua hari, para peserta antusias mengikuti seluruh rangkaian acara yang diisi secara bergantian oleh dua orang pemateri yaitu Sultan, S.Pd.I dan Sanusi,S.Pd.I. Mereka berdua tak lain adalah instruktur khusus wilayah Papua Barat sekaligus pemangku amanah di Departemen Dakwah Hidayatullah Papua Barat.

Untuk diketahui wilayah tersebut meliputi cabang Hidayatullah Manokwari, Fak-Fak, Kota Sorong, dan Kabupaten Sorong.

“Kalau boleh berharap acara semacam ini diperbanyak buat kami para pemuda. Meski tinggal di pelosok Papua, tapi kami juga punya semangat untuk berdakwah Insya Allah,” ungkap Arman Kelirey, mewakili harapan peserta Daurah marhalah Ula.

Arman Kelirey sendiri adalah putra asli Sorong yang kini duduk di bangu kelas III Madrasah Aliyah (MA) Sorong, Papua Barat. (Miftahuddin, Sorong)

Inilah Mengapa Tradisi Hidayatullah Hidup Berkampus

hidayatullah di papua
Masyarakat dan warga dalam sebuah kegiatann di Pondok Pesantren Hidayatullah Papua Barat / SELLY SETY

Hidayatullah.or.id — Kehadiran Hidayatullah dengan pola gerakan dakwah “berkampus” di seluruh penjuru nusantara tentu memiliki alasan tertentu.

Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Sudirman Ambal, salah seorang santri awal Hidayatullah Gunung Tembak yang kini berdakwah di Sorong, Papua Barat.

Kesan itu terungkap dalam sambutan Sudirman pada acara Daurah Marhalah Ula yang digelar oleh Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Papua Barat, pertengahan Mei lalu.

“Berislam itu harus dilandasi oleh dasar yang benar dan kuat. Ibarat bangunan, ia harus punya pondasi yang kokoh. Inilah alasan mengapa pola dakwah Hidayatullah harus berkampus di mana-mana. Sebab Allah memerintahkan untuk berislam secara kaffah (total),” ungkap Sudirman yang kini memangku amanah sebagai Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) Hidayatullah di Papua Barat.

Berbeda dengan kegiatan sebelumnya, acara yang bertempat di Kampus Hidayatullah Kabupaten Sorong tersebut mengkhususkan para peserta dari generasi kader pemuda. Umumnya mereka berasal dari santri dan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Hidayatullah se-Papua Barat.

Diharapkan, lewat kegiatan Daurah Marhalah Ula tersebut, para peserta mendapat wawasan dan bekal keilmuan Islam sebelum melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

“Peran pemuda tak dapat dinafikan dalam berdakwah. Mereka bahkan menjadi tulang punggung dakwah di masa para sahabat Nabi Muhammad,” ucap Miftahuddin, Ketua Panitia Daurah menjelaskan.

“Syababul yaum, zu’amaul ghad,” imbuh Miftahuddin mengutip sebuah pepatah Arab seraya tersenyum menutup perbincangan. (ybh/hio)

SDIT Hidayatullah Pekalongan Batasi Jumlah Pendaftar

Sejumlah murid si SDIT Hidayatullah / HDD
Sejumlah murid si SDIT Hidayatullah / HDD
Para calon murid SDIT Lukman Al-Hakim Hidayatullah Pekalongan saat mengikuti lomba menggambar / RADAR PEKALONGAN
Para calon murid SDIT Lukman Al-Hakim Hidayatullah Pekalongan saat mengikuti lomba menggambar / RADAR PEKALONGAN

Hidayatullah.or.id — Untuk memberikan alternatif pendidikan berbasis Islami kepada masyarakat, Yayasan Sabilillah Pondok Pesantren Hidayatullah Pekalongan mendirikan SDIT Lukman Al-Hakim untuk tingkat sekolah dasar atau sederajat yang berlokasi di Jalan Jenggala Kota Pekalongan, Jawa Tengah.

Pengurus yayasan setempat Saroni kepada menjelaskan, sebelumnya yayasan sudah mendirikan TK Yabunaya, dan banyak dari orang tua wali ingin kelanjutan pendidikan yang berkualitas untuk anak mereka setelah dari TK.

“Oleh karenanya dorongan dan desakan tersebut, kami mendirikan SDIT Lukman Al-Hakim sebagai pilihan prioritas pendidikan mereka,” ucapnya, beberapa saat lalu (10/5).

Sistem pendidikan yang dipakai SDIT Lukman Al Hakim Pekalongan mengacu pada kurikulum Pendidikan Nasional (Diknas) namun memiliki nilai lebih dari sekolah dasar lainnya karena juga mengaplikasikan kurikulum berbasis agama Islam.
“Kami menggunakan Kurikulum Berbasis Tauhid untuk menanamkan pemahaman agama secara utuh kepada para siswa,” lanjutnya

Saroni menambahkan, bahwa keunggulan lain dari SDIT Lukman Al-Hakim adalah pada proses penilaian.

“Jika sekolah lain menilai siswanya secara umum saja atau dipukul rata dalam satu kelas. Di SDIT Lukman Al-Hakim, penilaian siswa dilakukan secara individual, yaitu perkembangan masing-masing siswa akan dipantau secara intensif oleh pengajar,” tambahnya.

Namun sayangnya, untuk pembukaan tahun pertama, SDIT Lukman Al-Hakim hanya membuka untuk 25 siswa saja.

“Respon masyarakat sangat baik, hal ini terbukti dengan jumlah pendaftar yang berdatangan kepada kami, bahkan sebelum acara launching,” paparnya.

Saroni berharap SDIT Lukman Al-Hakim mampu berkontribusi positif bagi Kota Pekalongan.

“Semoga apa yang kami lakukan ini mampu membuat pendidikan di Kota Pekalongan menjadi semakin baik, dan dapat membentuk generasi islami yang berkualitas,” pungkasnya. (ap3/hio)

Hidayatullah dan Ormas Islam Desak Penutupan Dolly

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, menerima audiensi rombongan ormas Islam yang tergabung dalam Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) / HUMAS PEMKOT
Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, menerima audiensi rombongan ormas Islam yang tergabung dalam Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) / HUMAS PEMKOT

Hidayatullah.or.id — Upaya penutupan lokalisasi prostitusi Dolly oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, Jawa Timur, terus menuai dukungan dari publik. Kali ini Gabungan Umat Islam Bersatu (GUIB) menyatakan mendukung penuh langkah Pemkot Surabaya untuk menutup lokalisasi yang berada di Kecamatan Sawahan, Surabaya, itu.

GUIB yang merupakan gabungan dari puluhan ormas Islam itu mendatangi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk menyatakan dukungannya menutup Dolly.

Sekretaris GUIB Jatim Muhammad Yunus mengatakan, agar Pemkot Surabaya tetap memastikan penutupan Dolly pada 19 Juni mendatang.

“Kami siap apapun yang terjadi. Kami akan tetap membantu menutup Dolly,” kata pria yang juga Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim, belum lama ini (14/5/2015).

Dia menilai, langkah penutupan lokalisasi, yang konon pernah terbesar se-Asia Tenggara itu, sepenuhnya diserahkan kepada Pemkot Surabaya. “Jika gagal kami yang akan turun,” tegasnya.

Ia juga menyayangkan pernyataan Wakil Wali Kota Surabaya Wisnu Sakti Buana yang dinilai kontraproduktif dengan upaya penutupan Dolly. Salah satunya, meminta agar penutupan Dolly ini diundur tidak pada 19 Juni.

“Wawali menyatakan seolah-olah warga belum siap dengan penutupan Dolly, sementara Walikota menyatakan warga sudah siap ditutup. Ini kan kontraproduktif, kami menyatakan siap membantu penutupan Dolly,” tandasnya.

GUIB sendiri merupakan gabungan sejumlah eleman ormas islam. Setidaknya ada 58 Ormas yang tergabung dalam organisasi tersebut. Diantaranya Hidayatullah Jatim, FPI (Front Pembela Islam), Muhammadiyah, Al Irsyad, Dewan Dakwah Islamiyah (DDI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Persatuan Islam (PI), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PTI), Al Bayyinat, Forum Umat Islam (FUI) dan lain-lain. (kem/hio)

Syabab Hidayatullah Kepri Terbentuk, Zainal Arifin Ketua

Musyawarah Wilayah Pimpinan Wilayah Syabab Hidayatullah Kepulaian Riau. Muhammad Zainal Arifin diamanahkan memimpin pemuda di wilayah ini / HIDORID
Musyawarah Wilayah Pimpinan Wilayah Syabab Hidayatullah Kepulaian Riau. Muhammad Zainal Arifin diamanahkan memimpin pemuda di wilayah ini / HIDORID

Hidayatullah.or.id — Pengurus Wilayah (PW) Syabab Hidayatullah Kepulauan Riau (Kepri) resmi terbentuk dengan dipimin ketua Muhammad Zainal Arifin, S.Pd. Amanah yang diemban oleh Zainal sekaligus ketua kali pertama untuk kepengurusan Pemuda Hidayatullah di Kepri inii melalui keputusan Musyawarah Wilayah (Muswil) untuk pertama kali yang digelar pada hari Ahad (18/05/2014) kemarin.

Ketua PW Syabab Hidayatullah Kepulauan Riau periode 2014-2016 terpilih, Zainal Arifin, dalam pidato sambutannya mengatakan Syabab Hidayatullah di Kepulauan Riau akan terus berbenah, apalagi dengan usianya yang masih sangat belia. Dia menukaskan, agenda utama untuk kepengurusannya saat ini adalah konsolidasi internal meliputi tertib organisasi, administrasi, dan konseptualisasi untuk pengembangan sumber daya manusia.

“Banyak hal yang harus senantiasa diperbaiki ke dalam sambil terus membangun komunikasi keluar dengan berbagai pihak. Program utama ini sekaligus mengacu pada semangat dasar di kepengurususan tingkat pusat untuk intensif melakukan revitalisasi internal,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat (PP) Syabab Hidayatullah, Naspi Arsyad, Lc yang hadir di Batam di kesempatan yang sama, mengutarakan pentingnya dedikasi dan loyalitas dalam menumbuhkembangkan Syabab Hidayatullah sebagai organisasi kepemudaan yang diharapkan menelurkan calon-calon pemimpin umat dan sebagai pelopor perbaikan di masa mendatang.

Sebagaimana kerap ia tegaskan, bahwa Syabab Hidayatullah merupakan “nyawa” daripada gerakan dakwah Hidayatullah. Hidayatullah di masa mendatang berada di pundak anak anak muda Hidayatullah hari ini. Untuk itu, harapnya, pilar-pilar pendukung organisasi kepemudaan ini khususnya sumber daya manusianya dituntut untuk senantiasa mempertajam spiritual, meningkatkan kapasitas intelektual, dan tak jemu mengasah mematangan emosional.

“Organisasi ini membutuhkan kader-kader pendobrak yang memiliki dedikasi dan loyalitas dan itu tentu saja tidak mudah. Semoga dengan penempaan spiritual dan kesadaran intelektual akan melahirkan sosok penggerak itu,” katanya.

Musyawarah Wilayah Syabab Hidayatullah Kepualaun Riau ini berlangsung di aula utama Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Batam. Adapun struktur kepengurusan Syabab Hidayatullah Kepulauan Riau Periode 2014-2016 yang telah terbentuk yaitu Ketua Zainal Arifin, Sekretaris Muhammad Maulana, Bendahara Ali Ikrom, Kepala Departemen Pengkaderan dan Dakwah dijabat Darmansyah, Departemen Organisasi oleh Muhammad Ramli, dan Ketua Departemen Hubungan Masyarakat Umar Said. (ybh/hio)

IMS Akan Didirikan Rumah Sakit Madani Hidayatullah

View rencana lokaso proyek pembangunan Rumah Sakit Madani Hidayatullah dan STIKES / MAD
View rencana lokaso proyek pembangunan Rumah Sakit Madani Hidayatullah dan STIKES / MAD

Hidayatullah.or.id — Lembaga Layanan Kesehatan Nasional Islamic Medical Service (IMS) akan mendirikan Rumah Sakit Madani Hidayatullah dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) di Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Sosialisasi kepada masyaralat atas proyek pendirian rumah sakit dan sekolah tinggi tersebut telah dilakukan beberapa waktu lalu di Cikarang berupa bakti sosial kesehatan gratis.

Sosialisasi dan bakti sosial pengobatan gratis tersebut merupakan bentuk kesyukuran IMS dilakukan kepada masyarakat khususnya masyarakat di wilayah Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi Jawa Barat, atas akan dimualinya proses pembagunan Rumah Sakit Madani dan STIKES di atas lahan seluas 1.1 Hektare.

IMS mengadakan acara bakti sosial pengobatan gratis meliputi pemeriksaan kesehatan umum, gigi, dan pemeriksaan lab yang meliputi asam urat, kolestrol, dan Gula darah.

Dalam sambutannya Direktur IMS, drg. Fathul Adhim. M,KM, mengatakan kegiatan sosial kali ini merupakan bukti komitmen IMS dalam memperhatikan kesehatan masyarakat tidak mampu dan sebagai rasa syukur atas akan dimulainya proses pambangunan klinik 24 jam dan gigi yang merupakan pembangunan Tahap 1 dari rencana pembangunan Rumah Sakit Madani Hidayatulla dan STIKES.

“Program ini merupakan tindak lanjut atas program keumatan khususnya program emergency dan pendirian klinik di nusantara serta sebagai upaya untuk mewujudkan lebih banyak layanan keummatan di bidang kesehatan lainnya di seluruh Indonesia,” kata Fathul Adhim.

Selain acara sosial pengobatan gratis, acara bakti sosial yang dirangkai dengan tasyakuran ini juga dijadikan sebagai media silaturahmi antara dewan Pengawas, Pengurus, Team medis dan juga dihadiri oleh Direktur Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Pusat, Pos Dai Hidayatullah, Muslimah Hidayatullah (Mushida) yang kesemuanya adalah sebagai lembaga mitra sinergis keumatan IMS.

Sekjen PP Hidayatullah, Ir Abu A’la Abdullah, dalam kesempatan silaturrahim dengan masyarakat tersebut menukaskan bahwa Hidayatullah sebagai organisasi masyarakat (ormas) merupakan komponen penting dalam perannya menjawab secara riil persoalan persoalan kebangsaan.

Untuk itu, jelas Abu, organisasi massa Islam Hidayatullah dituntut untuk senantiasa terlibat aktif dalam memberikan kontribusi positif baik di bidang pendidikan, sosial, dan kulturisasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Sehingga dengan kehadiran layanan keummatan yang digagas Hidayatullah dengan dukungan masyarakat seperti lembaga amil zakat, layanan kesehatan, pendidikan, dakwah, dan lainnya, diharapkan menjadi sumbangsih riil untuk mengentaskan problem kebangsaan yang tak bisa diatasi sendiri oleh negara,” jelasnya.

Acara bakti sosial ini dimulai dari jam 08.30- 13.30 WIB. Warga tampak antusias untuk mengikuti acara. Terlihat dari banyaknya masyarakat yang datang untuk menerima pelayanan kesehatan walaupun sempat diguyur hujan. Mayarakat yang memeriksakan kondisi kesehatan mereka kebanyakan mengalami penyakit ISPA, hipertensi, asam urat, alergi dan lainnya.

Salah seorang warga bernama Tini mengaku sangat terbantu dengan adanya bakti sosial semacam ini. Apalagi katanya kegiatan seperti ini sangat langka digelar di desanya. Sehingga ia berharap proyek rumah sakit yang akan dibangun ini segera terealisasi agar ia dan warga lainnya bisa mendapatkan layanan kesehatan yang murah dan berkualitas.

“Semoga pembangunan Rumah Sakit dan STIKES-nya cepat terwujud sehingga kami mudah berobat serta gatis kalau bisa,” seloroh ibu Tini mewakili warga lainnya. (ybh/hio)

Walikota Resmikan Pesantren Tahfidz Hidayatullah Cirebon

 Walikota Cirebon Drs H Ano Sutrisno MM meresmikan Pesantren Tahfidz Putri Hidayatullah Cirebon / IAZ
Walikota Cirebon Drs H Ano Sutrisno MM meresmikan Pesantren Tahfidz Putri Hidayatullah Cirebon / IAZ

Hidayatullah.or.id -– Berrtempat di Masjid Al-Ikhlas, Komplek Yayasan Pondok Pesantren Manarussalam Hidayatullah Cirebon, Walikota Cirebon, Drs. H. Ano Sutrisno, MM, meresmikan Pesantren Tahfizul Qur’an Khusus Putri belum lama ini.

Peresmian Pesanttren Manarussalam yang ditandatangani WaliKota Cirebon ini dikhususkan untuk para santri putri tingkat SMP, atau lulusan SD dan sederajat.

Walikota Cirebon Ano Sutrisno yang dididampingi sejumlah pejabat setempat beserta perangkat wilayah seperti Camat Kesambi Subrata, S.Sos, Lurah Karyamulya Tarmat Wijaya, dan Ketua RW Kalikebat, menyampaikan apreasiasi terhadap Hidayatullah atas kegiatan yang dilakukan di kota udang ini.

“Insya Allah Pemerintah Kota Cirebon akan terus membantu program–program yang diangkat oleh Hidayatullah, supaya lebih banyak lagi masyarakat yang merasakan manfaatnya. Terutama mereka dari kalangan kurang mampu yang tinggal di pelosok desa,” kata Ano Sutrisno dalam sambutan peresmiannya.

Sementara itu, panitia pelaksana peresmian yang juga salah pengurus Pesantren Hidayatullah Cirebon, Ismail Abu Zahfa, di kesempatan yang sama menerangkan bahwa banyak hal yang dapat dikembangkan di pesantren ini ke depannya.

Di pesantren tahfidz khusus wanita ini, jelas dia, selain santri dibekali pada pemahaman agama Islam yang konfrehensif setiap saat seperti ilmu Al Qut’an, para santriwati juga akan dibekali keterampilan atau skil lapangan seperti kemampuan menjahit, tata boga, dan kompetensi-kompetensi lain yang berhubungan dengan dunia kewanitaan.

“Hal ini dimaksudkan agar nantinya Pesantren Tahfidz akan menghasilkan lulusan yang berkualitas dan siap pakai,” ujar Ismail.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMP Islam Manarussalam Ustadz Suhano, S.Pd.I. menjelaskan, para santri bersekolah di pesantren ini akan diberikan beasiswa penuh khususnya bagi mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu dan dhuafa’.

“Alhamdulillah Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Cirebon siap untuk membantunya,” tandas Suhano. (jul/hio)

Hidayatullah Surabaya Tentukan Kelulusan dengan Hafalan Al Qu’ran

Murid SMP Lukmanul Hakim Pesantren Hidayatullah Surabaya menghafal Al Qur'an / IST
Murid SMP Lukmanul Hakim Pesantren Hidayatullah Surabaya menghafal Al Qur’an / IST

Hidayatullah.or.id — SMP Integral Hidayatullah Surabaya menentukan kenaikan kelas dari kelas 1, 2, dan 3 hingga kelulusan untuk siswa kelas 3 dengan hafalan Al Quran hingga 8 (delapan) juz.

“Karena itu, ketika siswa kelas tiga sedang menuntaskan soal Ujian Nasional (UN), maka siswa kelas satu dan dua bukan libur, melainkan melaksanakan kewajiban setor hafalan sebagai syarat kenaikan kelas,” kata guru Pesantren Hidayatullah Surabaya, Baihaqi, Kamis.

Untuk siswa kelas 3 yang sedang UN pun akan sama, yakni mereka harus menyetorkan hafalan juga, bahkan mereka harus menuntaskan hafalan hingga delapan juz untuk lulus dari sekolah itu.

Sejak pelaksanaan UN SMP pada 5-8 Mei, para siswa kelas 1 dan 2 sudah terlihat memakai sarung dan songkok atau peci di masjid sekolah itu untuk antre setor hafalan sejak pagi.

Puluhan siswa komat-komit sambil memegang Al Qur’an di tangan. Ada yang tampak serius, ada juga yang santai. Ada yang menghafal di teras masjid, ada pula yang terlihat memojok di ruang masjid mencari tempat sepi agar tidak terganggu.

Misalnya Maulana Wirayudha yang mencari tempat di dekat mimbar. Ia mengatakan mencari tempat yang sepi biar hafalan cepat masuk. “Di teras masjid bising,” ucap siswa yang sedang fokus menghafal juz 29.

Menurut dia, sejak masuk sekolah itu, dirinya sudah mulai menghafal. “Insya-Allah nanti lulus dari sekolah, saya tidak hanya hafal delapan juz tapi 30 juz,” katanya penuh harap.

Lain halnya dengan Izzudien Refie yang menyetor hafalan juz 29 dan 30. “Sudah seminggu lebih, saya muraja’ah (mengulang) hafalan, saya biasanya mengulang hafalan kalau pagi hari, soalnya lebih mudah masuk kalau pagi,” katanya.

Di hadapan penguji, Izzudin tampak lancar melafalkan hafalannya, namun beberapa ayat masih harus dibetulkan oleh penguji.

Secara terpisah, salah satu tim penguji, Fatihul Haq, mengatakan hafalan siswa sudah cukup banyak. “Hanya mungkin butuh pembetulan pada panjang-pendek dan cara melafalkan (mengeja) huruf,” katanya.

Menurut Fatih, tujuan kegiatan itu untuk membekali anak dalam kehidupan sehari-hari. “Juga, kehidupan selanjutnya selepas lulus dari sekolah ini. Pergaulan di luar tidak terkontrol, maka kami meminimalkan dengan model pembelajaran seperti ini,” katanya.

Ia menambahkan lulus di sekolah Hidayatullah tidak hanya dilihat dari nilai akademik, tapi juga dilihat dari nilai akhlak. “Cara menilai akhlak ya dari bagaimana hafalan Al Quran anak dan penerapannya,” katanya.

Pola pendidikan itu sudah lama menerapkan sistem yang diterapkan dalam Kurikulum 2013 untuk menguji kompetensi siswa dalam tiga kompetensi yakni sikap, keterampilan, dan pengetahuan. (hio/ybh)

Ormas Islam Minta Media Hormati Kekhususan Aceh

0
Seorang terdakwa pelaku khalwat dihukum cambuk di Kabupaten Acah / ANTARA FOTO
Seorang terdakwa pelaku khalwat dihukum cambuk di Kabupaten Acah / ANTARA FOTO

Hidayatullah.or.id -– Sejumlah Ormas Islam termasuk meminta media, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan masyarakat internasional agar menghormati kekhususan Aceh di bidang pelaksanaan serta penerapan Syariat Islam secara menyeluruh (kaffah) di provinsi itu.

“Masyarakat Aceh bahagia dengan penerapan Syariat Islam. Karena itu jangan perkeruh suasana penerapan Syariah Islam dengan cara memberikan komentar miring di media,” kata juru bicara Ormas Islam Mustafa Husen Wolya, belum lama ini (8/5/2014).

Hal tersebut disampaikan menanggapi sorotan berbagai pihak melalui media terkait pemberian hukuman cambuk terhadap pasangan yang melanggar Syariat Islam di Desa Lhokbani, Kota Langsa, Aceh.

Harapan tersebut disampaikan sejumlah Ormas Islam seperti Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI), Front Pembela Islam (FPI), Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), Gema Aneuk Muda Nanggro Aceh (GAMNA), Majelis Intelektual Ulama dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).

Kemudian Rabithah Taliban Aceh (RTA), Ikatan Penulis Santri Aceh (IPSA), Nahdatul Ulama (NU) Aceh, Hidayatullah, Inshafuddin, Arimatea, serta Perti Aceh.

“Komentar berbagai pihak, terutama oleh pihak asing di media itu sebenarnya mereka tidak mengerti duduk perkara dengan mengusik kebahagian rakyat Aceh,” kata Mustafa.

Ia menjelaskan, sebenarnya penanganan kasus oleh Dinas Syariat Islam Kota Langsa terkait seorang janda di Lhokbani itu sudah tepat dan sesuai prosudur karena kasus tersebut mesti dipisahkan.

Pertama, Mustafa menjelaskan kasus perzinahan dan kedua kasus kriminal. Jadi, kasus perzinahan dikenakan sanksi hukum sesuai Syariat Islam yang berlaku di Aceh. Sementara kasus pemerkosaan dikenakan sanksi kriminal dan prosesnya di kepolisian.

Kepala Dinas Syariat Islam Kota Langsa Ibrahim Latief juga telah menjelaskan, kasus perzinahan dan pemerkosaan dibagi dalam dua kasus terpisah. Untuk pemerkosaan, ditangani oleh polisi karena merupakan tindak pidana.

Sementara wanita yang menjadi korban pemerkosaan akan dicambuk bukan karena diperkosa, tapi karena kasus perzinahan sebelumnya dengan laki-laki yang bukan suaminya, sesuai Qanun Aceh Nomor 14/2003 tentang Khalwat dan Mesum.

Mustafa juga mengatakan, akhir-akhir ini banyak pihak yang mencari-cari kesalahan dan kelemahan secara masif terhadap penerapan syariat Islam di Aceh, dan hingga kini belum berhenti. Bahkan, semakin liar namun terorganisir secara sistematis. (hio/ybh)

Hidayatullah Manokwari Bhakti Pemasyarakatan ke-50 Tahun

Upacara Memperingati Hari Bhakti Pemasyarakatan Ke-50 Tahun 2014 di Manokwari / BTPAP
Upacara Memperingati Hari Bhakti Pemasyarakatan Ke-50 Tahun 2014 di Manokwari / BTPAP

Hidayatullah.or.id –  Hidayatullah mengikuti upacara peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-50 yang jatuh pada dua pekan lalu (27/4/2014) dilaksanakan di Halaman Balai Pemasyarakatan Klas I Manokwari. Pelaksanaan upacara tersebut diikuti oleh UPT jajaran Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Papua Barat se-Kota Manokwari.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Papua Barat, Ilham Djaya, SH., M.Pd bertindak sebagai Inspektur Upacara yang dihadiri oleh beberapa tamu undangan yakni perwakilan dari Gubernur, Bupati, Kompi C Yoniv 752, Kodim 1703, TNI-AL Fasarkan, Kejaksaan Negeri, Kanwil Kementerian Agama, Biro Hukum Provinsi Papua Barat, Pemberdayaan Perempuan dan Pesantren Hidayatullah Manokwari.

Pelaksanaan upacara tersebut diawali dengan yel-yel pemasyarakatan dan pembacaan sejarah singkat sistem pemasyarakatan di Indonesia yang dilanjutkan dengan pembacaan deklarasi Stop Pungutan Liar (Pungli) dan penyematan pin Stop Pungutan Liar (Pungli) sekaligus pemberian Cuti Bersyarat/CB bagi 7 (tujuh) orang Warga Binaan Pemasyarakatan pada Lapas Klas IIB Manokwari.

Amanat Inspektur Upacara yang juga sebagai Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Papua Barat, membaca sambutan Menteri Hukum dan HAM RI yang intinya adalah mengajak seluruh jajaran pemasyarakatan untuk mengevaluasi dan mereflleksi upaya apa saja yang telah dilakukan dalam rangka meningkatkan kinerja pemasyarakatan untuk menyadarkan Warga Binaan Pemasyarakatan menjadi warga masyarakat yang baik.

Ilham Djaya menghimbau agar seluruh jajaran pemasyarakatan tetap memiliki semangat untuk bekerja dengan penuh dedikasi, memiliki komitmen untuk menjaga integritas moral dan memiliki keyakinan untuk membangun Pemasyarakatan yang lebih baik.

“Tetaplah menjadi pelayan masyarakat yang mempunyai semangat mengabdi dengan tulus dan ikhlas kepada bangsa dan negara,” lanjutnya.

Warga Binaan yang hadir dalam upacara tersebut menjajakan hasil pokja WBP Lapas Manokwari berupa krupuk ikan tenggiri kepada para tamu undangan di akhir kegiatan tersebut. Pesantren Hidayatullah Manokwari menjadi mitra pemerintah dan instansi terkait dalam rangka pendidikan dan pembinaan kerohanian lapas. (hum/hio)