Beranda blog Halaman 658

HPBN Terjun ke Kelud, Dirikan 3 Posko Pengungsian

0
Tim HPBN menyerahkan bantuan secara simbolis ke korban letusan Gunung Kelud / SUWITO
Tim HPBN menyerahkan bantuan secara simbolis ke korban letusan Gunung Kelud / SUWITO

Hidayatullah.or.id — Bencana alam belum usai di negeri ini. Setelah sebelumnya menerjunkan tim ke bencana banjir Jabodetabek, Jawa Tengah, Manado, dan erupsi Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Hidayatullah Peduli Bencana Nasional (HPBN) kembali menerjunkan tim relawan untuk membantu korban letusan Gunung Kelud, Jawa Timur. Tim HPBN berada di lokasi pengungsian sejak hari pertama kejadian.

Seperti diketahui melalui pewartaan di media, letusan Gunung Kelud di perbatasan Kabupaten Kediri, Malang, dan Blitar, semuanya di Jawa Timur, pada Kamis (13/2/2014) lalu, dinyatakan lebih besar daripada letusan yang pernah terjadi pada 1990.

Informasi tersebut disampaikan lewat siaran pers Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi, Sumber Daya Alam, dan Mineral, yang diterima Jumat (14/2/2014) dini hari.

“Abu terpantau antara lain sampai ke Ponorogo, Mojokerto, dan Surabaya,” sebut siaran pers PVMBG. Lokasi kota-kota yang dicontohkan itu jauh dari lokasi gunung. Ponorogo, misalnya, sudah mendekati Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun Surabaya jauh di utara lokasi Gunung Kelud.

Selain tinggi lontaran material vulkanik, letusan pada Kamis malam lebih hebat daripada letusan pada 1990 juga diukur berdasarkan area terdampak letusan. Dalam pantuan PVMBG, abu letusan Gunung Kelud pada Kamis malam terlontar sampai ke kota-kota yang relatif jauh dari lokasi gunung.

Sejak dini hari Kamis itu, warga sudah meninggalkan kampungnya untuk mengungsi. Tim HPBN yang terdiri dari relawan Laznas BMH Kediri dan Hidayatullah Jawa Timur langsung bergerak untuk membantu proses evakuasi warga.

Indokhul, koordinator lapangan Hidayatullah Peduli Bencana Kelud, mengungkapkan bahwa tim dari BMH sejak dini hari tadi telah bergerak membantu proses evakuasi warga.

Selain itu, BMH juga telah membuat tiga posko pengungsian, dua terletak di Kediri dan satu di Blitar. “Untuk di Kediri, BMH membuat posko di masjid An-Nur, Pare dan di simpang lima Gumbung kota Kediri,” ujarnya.

Jumlah pengungsi yang ada di masjid An-Nur mencapai 4.000 jiwa dan di simpang lima mencapai 6.000 jiwa. BMH langsung bergerak untuk menyediakan logistik seperti air mineral dan makanan.

“Insya Allah siang ini, tim BMH Surabaya dan SAR Hidayatullah langsung menuju lokasi pengungsian untuk menyalurkan logistik dan membantu proses evakuasi,” ujar Indo. (wito/hio)

Kunjungi Pengungsi Kelud, Presiden Apresiasi BMH

Presiden SBY mengunjungi pengungsi letusan Gunung Kelud di posko Laznas BMH / INDOKHAIR
Presiden SBY mengunjungi pengungsi letusan Gunung Kelud di posko Laznas BMH / INDOKHAIR

Hidayatullah.or.id — Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengunjungi posko pengungsi di Masjid Agung Annur Pare, Kediri, Jawa Timur, Senin (17/2) kemarin, sekitar Pukul 13.00. Datang bersama ibu negara, Ani Yudhoyono, presiden langsung menyapa para pengungsi yang berada di teras masjid.

Menjumpai para pengungsi, SBY menyatakan turut berduka atas musibah meletusnya Gunung Kelud yang menimpa para pengungsi. SBY juga berpesan kepada warga agar bersabar dan tabah menghadapi cobaan tersebut.

Dalam kesempatan itu presiden menyatakan telah menginstruksikan jajarannya untuk tetap sigap dan bertindak cepat dalam penanganan korban musibah letusan Gunung Kelud.

Selain mengunjungi para pengungsi SBY juga mengunjungi posko relawan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH). Dalam kesempatan itu presiden menyampaikan terimakasih kepada relawan BMH yang telah secara aktif terlibat dalam menangani bencana alam nasional.

“Terimakasih telah membantu para pengungsi, semoga para relawan mendapat pahala setinggi-tingginya,” ujar SBY di depan para relawan Hidayatullah. Presiden Indonesia ke enam ini juga menyampaikan salam kepada dai-dai Hidayatullah.

Mendengar ungkapan SBY tersebut, Koordinator Aksi Lapangan (Korlap) BMH, Supendi, langsung meresponnya dengan mengucapkan terimakasih.

“BMH sangat berterimakasih kepada Bapak Presiden yang menyempatkan diri datang berkunjung melihat kondisi para pengungsi, khususnya memantau langsung ke Posko BMH,” ujar Supendi selalu koordinator lapangan untuk bencana Gunung Kelud.

Pada kesempatan kunjungan ke Kediri itu, Presiden SBY mengimbau pengungsi korbang letusan Gunung Kelud agar tidak kembali ke rumahnya dulu selagi situasi gunung belum dinyatakan aman.

“Kalau belum aman, sabar dahulu di tempat seperti ini (pengungsian). Jangan sampai, bapak dan ibu kembali ke tempat, tiba-tiba ada bahaya baru,” kata SBY dikutip Kompas.

Ia mengatakan, pemerintah tidak menginginkan jatuh korban akibat kenekatan warga. “Kami tidak ingin ada korban seperti kemarin di Sumatera Utara, Gunung Sinabung saat belum aman namun nekat menerobos,” katanya.

Selain meminta warga bersabar, Presiden juga menjanjikan untuk membantu korban yang rumahnya mengalami kerusakan berat. “Kita akan bersihkan semua yang kena dampak. Rumah yang rusak berat akan diberi bantuan,” tuturnya.

Sebelumnya Gubernur Jawa Timur yang akrab di sapa Pakde Karwo dan Menteri PU Djoko Kirmanto juga sempat hadir di posko Baitul Maal Hidayatullah yang terletak di Masjid Annur Pare Kediri ini.

Sementara itu, BMH yang sejak awal terjadinya erupsi sudah sigap melakukan berbagai macam bentuk bantuan dan evakuasi terus mendapat kepercayaan masyarakat untuk menjadi mitra penyalur bantuan bencana erupsi Kelud.

“Dari Jakarta ada satu truk bantuan yang dikirimkan ke pengungsi bencana erupsi Kelud dan Alhamdulillah sudah sampai ditujuan,” ujar Suwito Fatah, Kepala Departemen Pendayagunaan BMH Pusat.

Di lokasi bencana, tepatnya di posko, BMH tidak saja fokus menyalurkan bantuan dalam bentuk logistik, tetapi juga turut serta memberikan bantuan-bantuan medis dan trauma healing bagi anak-anak korban erupsi Kelud.

Direktur Operasional BMH Pusat Marwan Mujahidin dalam kesempatan terpisah, mengungkapkan BMH terus berupaya menyalurkan bantuan kepada para korban bencana. Kendati demikian pihaknya menegaskan tidak lupa untukk selalu memperhatikan aspek penting lainnya seperti kesehatan dan kondisi mental anak-anak pengungsi.

“Ini sudah menjadi standar prosedur BMH dalam menangani korban bencana,” ungkap Marwan. (bmh/hio/ybh)

Hidayatullah Bulukumba Masyarakatkan Grand MBA

Senator DPD RI asal Sulsel, Ir Abdul Aziz Kahar Mudzakkar, memberikan taushiah  saat pembukaan acara / DOC. HIDORID
Senator DPD RI asal Sulsel, Ir Abdul Aziz Kahar Mudzakkar, memberikan taushiah saat pembukaan acara / DOC. HIDORID

Hidayatullah.or.id — Pimpinan Daerah (PD) Hidayatullah Bulukumba, Sulawesi Selatan, menggelar kegiatan training cara mudah belajar Al-Qur’an menggunakan metode Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) yang digagas oleh PP Hidayatullah.

Training pembelajaran Al Qur’an secara intensif ini bertempat di Hotel Agri Bulukumba belum lama ini, tepatnya pada hari Sabtu, 8 Februari 2014 lalu.

Training ini diikuti sedikitnya 300 orang peserta dai dan daiyah aktifis yang berdomisili di Kabupaten Bulukumba.

Ustadz Muhdi Muhammad sebagai instruktur Nasional Grand MBA hadir memandu pelatihan yang berlangsung semarak ini. Acara berlangsung dengan materi yang cukup padat dan aplikatif sejak pukul 09.00 hingga 17.00.

Kegiatan training Al Qur’an ini dibuka oleh staf ahli Bupati Bulukumba bidang kemasyarakatan dan SDM serta pencerahan oleh anggota senator DPD RI dari Sulawesi Selatan Ustadz Ir. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar.

Ketua Pimpinan Daerah Hidayatullah Bulukumba, Massiara, mengatakan tujuan acara ini untuk melakukan upgrading terhadap para muallimin dan muallimat Grand MBA dalam rangka memasyarakatkan Al Qur’an.

“Jangan sampai masyarakat memandang bahwa belajar Al Qur’an itu susah. Maka perlu kita hadirkan metode Grand MBA untuk menjadi pintu masuk pembelajaran Al Qur’an. Dengan metode ini, peserta tidak saja berhenti pada tataran bisa membaca, tapi belajar tuntas,” jelas Massiara dalam keterangan persnya kepada media ini, Jum’at.

Massiara menjelaskan, setiap Muslim harus belajar Al Qur’an, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkannya. Grand MBA, lanjut Massiara, hadir dengan metode yang konfrehensif. Karena tidak saja mengajarkan agar peserta bisa lancar membaca, tapi juga menginternalisasikan nilai-nilai kandungannya.

“Al Qur’an itu mudah dipelajari, asalkan ada kemamuan. Boleh pakai metode Grand MBA atau metode pembelajaran yang lain. Intinya, jangan berhenti mengkaji Al Qur’an karena inilah petunjuk kepada kebenaran,” tandasnya. (ybh/hio)

Santri Hidayatullah Surabaya Tolak Valentine’s Day

Siswa Lukmanul Hakim melakukan aksi damai tolak budaya Valentine Day / HIDCOM
Siswa Lukmanul Hakim melakukan aksi damai tolak budaya Valentine Day / HIDCOM

Hidayatullah.or.id — Kamis, (13/02/2014) pagi kemarin, ribuan pelajar Lembaga Pendidikan Islam Hidayatullah Surabaya berkumpul di bundaran Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Mulyosari. Mereka melakukan pawai berjalan kaki, orasi, dan pembagian selebaran penolakan Valentine’s Day.

Dalam aksi ini massa serentak menyatakan penolakan terhadap perayaan Valentine’s Day yang jatuh pada Jumat, 14 Februari 2014 ini.

Sebagian besar para santri terlihat membawa berbagai macam spanduk bertuliskan “Tolak Valentine’e Day, Reject Valentine’s Day”.

Menurut Koordinator acara, Bina Asani, perayaan Valentine’s Day tidak perlu diadakan di Indonesia karena tidak sesuai dengan budaya Indonesia dan ajaran agama Islam.

“Itulah kami melakukan melakukan pawai guna mensosialiasikan hal ini kepada khalayak ramai khususnya kawula muda,” ujar Bina kepada portal berita nasional, Hidcom.

Dalam aksi massa tersebut para santri juga menyebarkan selebaran menolak Valentine’s. Sampai di Bundaran ITS, beberapa pelajar mewakili sekolahnya melakukan orasi.

Dalam orasi tersebut mereka terus menyatakan penolakan terhadap perayaan Valentine’s Day.

“Ayo dong kawan coba pikir, apa sih untungnya Valentine’s Day itu kita rayakan? Valentine’s bukanlah budaya Islam, bukan budaya Indonesia.”

Para santri yang berorasi juga menyampaikan perayaan Valentine’s ini hanya tradisi bangsa Romawi penyembah patung dan berhala.

“Apakah Bangsa Indonesia bukan termasuk bagian dan mengikuti tradisi dari mereka. Tentu tidak kan?”ujar Dio salah seorang pelajar dalam orasinya yang sekaligus ketua Osis SMA Luqman al Hakim.

Menurut Bina, harapananya, siswa Hidayatullah Surabaya bisa memberi edukasi kepada masyarakat tentang buruknya budaya Valentine’s Day yang selalu memberi efek negatif. (hio/hid)

Nikmatnya Berislam Jangan Hanya Dinikmati Sendiri

Kepala Diknas Provinsi Sulbar Mulyadi Muntaha (kiri) dan Ketua PP Hidayatullah Tasyrif Amin, saat duduk satu meja sebagai narasumber seminar peradaban / BASHORI
Kepala Diknas Provinsi Sulbar Mulyadi Muntaha (kiri) dan Ketua PP Hidayatullah Tasyrif Amin, saat duduk satu meja sebagai narasumber seminar peradaban / BASHORI

Hidayatullah.or.id — Secara empiris jika kita cermati kondisi pendidikan kita saat ini, perilaku dan karakter negatif masih saja menggejala. Perilaku seperti pergaulan bebas, hedonisme, anarkisme, nyontek, budaya instan, dan asosial, masih terus menjadi headline berita sehari-hari.

Sikap-sikap negatif tersebut dalam jangka panjang jelas akan sangat merusak dan merugikan diri sendiri bagi pelajar serta masyarakat luas bahkan bangsa.

Demikian benang merah materi disampaikan Kepala Dinas Pendidikan (Diknas) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) Drs. H. Mulyadi Bintaha, M.Pd saat memberikan materi di seminar peradaban Islam di Mamuju, beberapa waktu lalu (12/02/2014).

Bertempat di Hotel Berkah Mamuju, seminar yang dirangkaikan dengan Rapat Kerja Wilayah (rakerwil) IV Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulawesi Barat, Mulyadi Bintaha menjelaskan bahwa pihaknya sangat menyambut baik upaya Hidayatullah dalam menjalankan fungsinya di masyarakat. Muntaha pun menerangkan jika pihaknya siap menjalin sinergi.

Menanggapi rekan pembicara pertama, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah Drs. Tasrif Amin, M.Pd selalu pemapar kedua seminar peradaban ini berseloroh bahwa inilah bedanya transformasi dengan transfer peradaban.

“Kalau transfer, mengirim atau memindahkan. Berbeda dengan transformasi, misalnya satu pihak melakukan transformasi ilmu kepada pihak lainnya. Proses transformasi ini tak akan mengurangi ilmu saya meski Anda tetap menerima ilmu yang saya berikan,” jelas kandidat doktor ini mencontohkan.

Untuk itu, jelas Tasyrif, proses dan suksesi transformasi peradaban Islam hendaknya mendorong semua komponen umat yang telah tercerahkan oleh nilai Islami untuk menyebarkan nilai-nilai kebajikan itu kepada yang lain.

“Nikmatnya berislam jangan hanya dinikmati sendiri, ajak juga orang lain untuk menikmatinya dengan dakwah yang ma’ruf,” kata Tasyrif.

Berbeda dengan pemateri sebelumnya, Tasrif Amin, banyak menyitir ayat al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wa sallam dalam medasari argumentasinya.

Ditegaskan dia, salah satu ciri orang yang berkarakter dan berperadaban Islami adalah yang takut melakukan kesalahan meski tidak ada orang yang melihatnya.

Acara seminar tersebut dilaksanakan pada tanggal 12 Februari dan dihadiri sedikitnya 200 pengunjung dari kalangan pelajar, akademisi, dan sejumlah legislator dan masyarakat umum.

Dalam kesempatan itu dilakukan juga seremoni pelepasan dai pelosok ke wilayah Kabupaten Majene, Mamuju, Polewali Mandar, Mamuju Utara dan Kabupaten Mamuju Tengah oleh Mulyadi Bintaha dan Tasyrif Amin.

“Semoga Allah Subhanahu wa taala menguatkan semangat kita untuk terus memberikan pencerahan dan pengabdian di masyarakat,” ungkap Muntaha sesaat sebelum mengalungkan surban secara simbolik kepada keenam dai yang akan bertugas.

Ketua Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulbar Drs. Abu Bakar Muis dalam kesempatan itu menjelaskan dai yang tersebar di seluruh penjuru wilayah ini tidak sekedar berdakwah di perkotaan, tapi juga menjelajahi wilayah yang belum terjangkau jaringan seluer dan harus berjalan kaki berjam-jam untuk menuju tempat tugasnya.

“Acara ini juga menguatkan dai Hidayatullah di daerah, juga dalam rangka sosialisasi program yang telah dicanangkan pada Rakernas Hidayatullah lalu dalam rangka revitalisasi organisasi menuju standarisasi dan sentralisasi,” ujar Abu Bakar. (Muhammad Bashori – Kontributor Sulbar)

Asosiasi Jurnalis Anjangsana ke Ponpes Hidayatullah Tual

Aksi solidaritas jurnalis / IST
Aksi solidaritas jurnalis / IST

Hidayatullah.or.id — Memperingati Hari Pers Nasional ke 68 pada 9 Februari 2014 lalu, kumpulan jurnalis se-Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual yang tergabung dalam organisasi pers Aliansi Jurnalis Maluku Tenggara dan Kota Tual (AJIMAT) melakukan anjangsana silaturrahim ke Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Tual.

Himpunan yang mewadahi puluhan wartawan ini mengunjungi Pesantren Hidayatullah yang berlokasi di Desa Ohoitel, Kecamatan Dullah Utara, Kota Tual. Selain Ponpes Hidayatullah, mereka juga melakukan bakti sosial di Panti Asuhan Bakti Luhur di Desa Kalangit, Kabupaten Malra.

Ketua Pesantren Hidayatullah Tual, Ustadz Ismail, dalam sambutannya menyatakan apresiasinya atas apa yang telah dilakukan rekan-rekan jurnalis.

“Saya sangat bangga dengan kawan-kawan jurnalis yang ada di Kabupaten Malra dan Kota Tual. Karena selama saya bertugas di beberapa daerah, belum pernah terjadi hal seperti ini karena hal ini baru pertama kali saya alami,” ungkapnya.

Ditambahkan Ismail, dirinya akan selalu memohon kepada Allah agar memberi kekuatan dan memberi berkat untuk para jurnalis di kedua wilayah ini dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai wartawan.

Sementara itu, Ketua AJIMAT Yeri Rahabab dan Ketua Panitia Bakti Sosial, Ridwan Kalengkongan yang ikut serta dalam kunjungan tersebut turut menyatakan dukungannya kepada seluruh wartawan untuk terus membangun kebersamaan.

“Agar di mata masyarakat maupun di mata pemerintah, jurnalis bukan hanya menulis tapi juga turut dalam membangun kebersamaan seperti yang dilakukan hari ini,” tandas Rahabab.

Usai menyerahkan tali asih untuk anak asuh di Pesantren Hidayatullah Tual, para jurnalis yang dikoordinir Rahabab melanjutkan bakti sosial ke Panti Asuhan Bakti Luhur. (ybh/hio)

Santri Hidayatullah Diundang Resmikan Mess TNI Nunukan

0
Suasana pemotongan tumpeng peresmian asrama Tamtama TNI Nunukan / IST
Suasana pemotongan tumpeng peresmian asrama Tamtama TNI Nunukan / IST

Hidayatullah.or.id — Bertempat di Gedung Sundoro Mess Tidur Dalam Bintara dan Tamtama Lanal Nunukan yang baru selesai dibangun, Kamis (6/2/2014) lalu, dilaksanakan kegiatan acara syukuran atas selesainya pembangunan Mess Tidur Dalam Bintara dan Tamtama Lanal Nunukan dan siap untuk ditempati. Santri Hidayatullah diundang serta untuk mengikuti peresmian asrama tentara itu.

Kegiatan ini dihadiri sekitar 60 orang dari keluarga besar Anggota Lanal Nunukan dan Ustaz Miftahudin dari Pondok Pesantren Hidayatullah Nunukan beserta Santrinya.

Acara diisi dengan tausiyah oleh Ustaz Miftahuddin dan dilanjutkan pemotongan tumpeng oleh Danlanal Nunukan Letkol Laut (P) I Bayu Trikuncoro, S.E. diserahkan kepada anggota Tidur dalam Bintara tertua Sertu Merick Manurung dan Tamtama tidur dalam termuda Kls Bagus.

Puluhan prajurit Bintara dan Tamtama Tidur Dalam Lanal TNI Nunukan siap menempati mess/asrama baru tersebut.

Dalam sambutannya, Letkol Laut (P) I Bayu Trikuncoro, mengatakan prajurit lajang Lanal Nunukan patut bergembira mendapatkan tempat tinggal baru di Gedung Sundoro yang baru saja selesai dibangun tersebut.

Sementara itu, Ustadz Miftahuddin dalam ceramah agamanya mengatakan TNI merupakan mitra masyarakat yang telah membaktikan hidup mereka untuk kepentingan umat dan bangsa.

“Semua komponen umat baik TNI maupun lembaga-lembaga agama seperti Pesantren Hidayatullah, harus terus sama-sama membangun silaturrahim dan relasi dalam rangka membangun Indonesia yang lebih berkemajuan, damai, dan mandiri,” kata Miftahuddin.

Acara peresemian mess tentara ini berlangsung khidmat. Usai acara yang ditutup dengan doa bersama, dilaksanakan acara ramah tamah. (hio/ybh)

Alhamdulillah, Banyak Pesantren Bangun Sekolah Umum

0
Mirza Lumicisi , santri Ponpes Hidayatullah Medan asal Australia. Hidayatullah Medan menyelenggarakan pendidikan boarding school dengan ratusan santri / IST/CHA
Mirza Lumicisi , santri Ponpes Hidayatullah Medan asal Australia. Hidayatullah Medan menyelenggarakan pendidikan boarding school dengan ratusan santri / IST/CHA

Hidayatullah.or.id — Pondok pesantren yang di dalamnya ada sekolah umum prospeknya semakin bagus. Dari segi moral para siswa sekolah umum yang di pondok pesantren (ponpes) bagus karena mereka belajar selama 24 jam dan ini akan bersaing dengan madrasah.

Hal itu dikemukakan Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kantor Kementerian Agama DIY Bardan, Senin (10/2) lalu. Dari segi kualitas, tambahnya, tentu juga akan bagus karena siswa tinggal di ponpes, sehingga banyak waktu untuk belajar Al-Qur’an maupun pelajaran umum.

Menurut Bardan, ponpes yang ada sekolah umum ditangani oleh dua kementerian yakni Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sehingga dana untuk sarana fisik lebih banyak daripada madrasah.

“Ponpes yang mendirikan sekolah umum dalam hal pendanaan dikeroyok oleh dua kementerian,” kata Bardan dikutip Republika.

Di DIY sendiri kata dia jumlah Ponpes yang mendirikan sekolah umum pun semakin banyak. Memang sudah ada beberapa Ponpes yang sejak lama mendirikan sekolah umum, tetapi belum sebanyak sekarang dan biasanya masih berupa embrio seperti sekolah kecil yang muridnya di bawah 20 orang atau mendirikan kejar paket A dan B.

Saat ini di DIY ada sekitar 254 Ponpes. Jumlah Ponpes yang di mendirikan sekolah umum ada sekitar 15 Ponpes, kata dia. Ponpes yang mendirikan sekolah umum antara lain: di Ponpes Al-Munawir ada SMP dan SMK, di Ponpes Al-Furqon ada SMK, di Ponpes Darul Qur’an ada SMA, Ponpes Al-Hikmah di Playen Gunung Kidul. (rep/hio)

Hidayatullah Kepri Lantik 4 Pimpinan Cabang

0
Ketua PW Hidayatullah Kepri, Jamaluddin Noer, melantik 4 piminan cabang baru wilayah Kepri
Ketua PW Hidayatullah Kepri, Jamaluddin Noer, melantik 4 piminan cabang baru wilayah Kepri / ANCHA

Hidayatullah.or.id — Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Kepulauan Riau (Kepri) melantik sebanyak 4 Pimpinan Cabang yang ada di Kota Batam, antara lain PC Hidayatullah Batu Aji, PC Hidayatullah Sagulung, PC Hidayatullah Sai Beduk, dan PC Hidayatullah Sekupang.

Pelantikan itu digelar bertepatan dengan penutupan acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Kepulauan Riau yang digelar selama 2 hari secara intensif di Aula Pondok Pesantren Hidayatullah Batu Aji, Batam, Kepri (08-09/02/2014).

Ketua Pimpinan Wilayah Hidayatullah Kepri, Ustadz Jamaluddin Noer, mendampingi Ketua PP Hidayatullah Drg. Fathul Adhim, melakukan pelantikan pengurus baru tersebut yang berlangsung sederhana dan khidmat.

Ustadz Jamaluddin Noer kepada para pengurus PC baru rintisan tersebut berpesan untuk menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya dalam rangka mengejawantah nilai nilai dakwah Islam yang penuh rahmat dan kasih sayang.

“Hidayatullah hadir untuk menyelesaikan masalah umat dan pejuang Hidayatullah adalah tetap pejuang sampai kapan pun,” kata Ustadz Jamaluddin dalam sambutannya.

Sementara Ketua PP Hidayatullah Drg. Fathul Adhim yang menutup secara resmi kegiatan Rakerwil ini juga memberikan apresiasi kepada PD Hidayatullah Batam yang telah merintis pimpinan cabang di sekitar Kota Batam itu. (ak/hio)

Laznas BMH Serahkan Motor untuk Dai Pedalaman

0
Ustadz Ahmad Syakir bersama sejumlah santrinya di Dusun Cot Kande, Desa Gampong Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam / JULES
Ustadz Ahmad Syakir bersama sejumlah santrinya di Dusun Cot Kande, Desa Gampong Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam / JULES

Hidayatullah.or.id — Mobilitas para dai di pedalaman nusantara cukup tinggi. Kebutuhan alat transportasi pun sangat mendesak guna menopang kesuksesan dakwah tersebut.

Awal Februari ini, Lembaga Amil Zakat Nasionall Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) menyalurkan bantuan berupa satu unit sepeda motor kepada Pesantren Tahfidzul Qur’an di Dusun Cot Kande, Desa Gampong Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam.

Tim ekspedisi mendapat sambutan hangat dari keluarga besar pesantren. Apalagi, jarak tempuh cukup jauh. Kesempatan tersebut juga dijadikan sebagai momentum mempererat tali silaturahim.

Pimpinan Pesantren Tahfidzul Qur’an Ustaz Ahmad Syakir mengatakan, Pesantren binaan ormas Islam Hidayatullah ini sebenarnya dirintis awal 2005. Ketika itu, santri tetap di pesantren yang berdiri di tanah seluas 1.200 meter persegi itu masih sedikit.

Bahkan, aktivitas pesantren sempat mati suri. Akan tetapi, akhirnya bangkit kembali dan terus berkembang. “Sudah ada santri yang menetap 24 jam,” kata dia.

Meski jumlahnya belum signifikan, 18 santri tersebut tetap fokus menghafal Alquran dan bersekolah formal. Keseimbangan ini perlu agar santri mampu unggul dalam dua hal sekaligus, yaitu agama dan umum.

Dia bertutur suka duka mengelola pesantren. Pengalaman yang paling berkesan ialah membongkar asrama yang semipermanen hingga menyerupai shelter, terutama ketika hujan akan turun.

Genangan air mengepung pesantren. “Dan atap selalu bocor,” tutur dai asal Balikpapan ini. Syakir berterima kasih kepada para donatur atas wakaf motor yang diberikan kepadanya. “Semoga Allah SWT membalas dengan kebaikan,” tutur dia. (rep/hio)