Beranda blog Halaman 670

Tujuan Dai Harus Benar Sebelum Berdakwah

naspi-with-LIPIA-student.jpgHIDORID — Ketua PP Hidayatullah Naspi Arsyad mengimbau kepada penuntut ilmu kader Hidayatullah untuk meluruskan paradigma terhadap dakwah. Pola pikir dan tujuan yang benar atas setiap aktifitas dakwah harus tuntas sebelum seorang dai turun ke gelanggang.

“(Paradigma dakwah yang benar) yaitu keyakinan bahwa panggilan dakwah lebih menarik daripada panggilan duit. Hal ini berlaku pula bagi mahasiswa LIPIA Jakarta sebagai calon dai,” kata Naspi Arsyad saat menerima mahasiswa Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) di Depok, Jawa Barat, Ahad (17/11/2013) sore.

Kepada para calon dai yang tergabung dalam Mahasiswa Hidayatullah LIPIA Jakarta (el-MAHALLI) tersebut, Naspi berharap mereka sejak dini mempersiapkan diri untuk mengemban tugas dakwah.

“Kalau paradigma belum tuntas, akan menyesal itu (berdakwah). Bagi orang Hidayatullah, apa gunanya uang ratusan juta jika itu menghalangi untuk berdakwah,” ujar alumnus Universitas Islam Madinah (UIM) ini.

Menurutnya, seorang mujahid dakwah sepatutnya tidak memandang materi sebagai sesuatu yang indah. Justru dakwah lebih indah dari itu.

Dengan demikian, ujarnya, ketika diminta untuk berdakwah, seorang dai tidak berpikir berapa banyak duit yang akan dia dapat dari ceramah misalnya.

“Kalau (paradigma) kita sendiri tidak tuntas, bagaimana menuntaskan orang lain,” imbuhnya.

“Tidak akan ada orang yang dirugikan oleh Allah pada saat Allah mendapati dirinya (dai, red) mengurusi agama Allah,” tambah dia.

Silaturrahim mahasiswa Hidayatullah tersebut dirangkai dengan kegiatan pertandingan futsal yang berlangsung cukup seru melawan santri Pesantren Hidayatullah Depok. Berposisi sebagai play maker, Ustadz Naspi yang juga turut bermain dalam laga itu kerap menyusahkan pergerakan lawan. (Skr aljihad)

Menulis, Cara Berdakwah yang Dahsyat

0

bmh malangHIDORID — Menulis merupakan salah satu cara berdakwah paling dahsyat. Lewat menulis, pesan-pesan dakwah lebih mengena dan mengabadi bahkan dapat menciptakan “nyawa kedua” bagi seorang pendakwah.

“Nyawa kedua” yang dimaksud adalah, walau seorang pendakwah telah meninggal dunia sementara dia menulis, nama dan karyanya akan tetap hidup sepanjang masa, tidak ada habisnya hingga akhir zaman.

“Menulis (bil qalam) sama pentingnya dengan cara berdakwah lainnya, seumpama bil lisan (ucapan) dan bil hal (perbuatan),” kata Muhammad Subhan, Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia dalam Pelatihan Menulis Kreatif yang diikuti puluna Koordinator Baitul Maal Hidayatullah (BMH) se-Kota Malang, di Pesantren Hidayatullah Khusus Putri, Batu, Kota Malang, Jawa Timur, Ahad (17/11/2013).

Walau begitu, ungkap Muhammad Subhan, belum semua pendakwah mempraktikkan keterampilan menulis sebagai media dakwah dalam menyebarluaskan pesan-pesan agama (Islam). Para pendakwah mayoritas masih berkutat dengan metode dakwah bil lisan (ucapan) dan bil hal (perbuatan).

“Padahal, jika para juru dakwah menuliskan apa yang yang mereka syiarkan lewat lisan dan perbuatan, dampaknya akan luar biasa,” katanya.

Dia juga mengumpamakan, seandainya Kitab Suci Al Quran tidak ada yang menuliskan dan membukukan, mungkin umat Islam hari ini akan mengalami masa jahiliyah.

“Tetapi kita bersyukur, Al Quran dan Hadis Nabi telah dibukukan sehingga kita dapat membaca, menghafal, dan mengamalkannya di dalam kehidupan sehari-hari,” tambah Subhan.

Dalam pelatihan itu, Muhammad Subhan berbagi kiat cara mengirimkan tulisan ke media massa. Dia meminta peserta untuk menentukan fokus tulisan, hendak menulis apa. Karya tulis yang dikirim ke media menurutnya harus sesuai visi dan misi media yang dituju, sebab tiap-tiap media berbeda segmentasi dan bidang garapannya.

Selain itu, topik yang dipilih harus aktual, sesuai momen, menarik dan menjadi hajat orang banyak serta memiliki bobot yang baik (berkualitas). “Tulisan harus ditulis secara sistematis dan jika artikel harus menawarkan solusi,” tambahnya.

Selain berdiskusi tulis menulis dan berbagi kiat mengirimkan tulisan ke media massa, juga diberikan latihan editing serta membahas konflik/masalah di dalam tulisan yang bersifat fiksi. Peserta tampak antusias mengikuti pelatihan itu hingga acara selesai.

Panitia Pelaksana acara itu, Makinudin dan Imron Mahmudi menyebutkan, pelatihan menulis kreatif itu bertujuan untuk memberikan dukungan semangat kepada para koordinator BMH di bawah binaan Hidayatullah agar dapat menuliskan segala hal yang ditemui di lapangan. Sebagai instruktur pihak penyelenggara menggundang Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.

“Dari pelatihan ini kami harapkan, para Koordinator BMH dapat bersemangat untuk menuangkan gagasan mereka dalam bentuk karya tulis,” ujar Imron Mahmudi. (Kiriman BMH Malang)

Tetap “Hidup Berkampus” Meski Tinggal di Luar Kampus

shalat berjamaah
Umat Islam shalat di masjid

HIDORID — Visi Allaahuyarham Ustadz Abdullah Said mendirikan Pesantren Hidayatullah, kini ormas, adalah agar terbangun komunitas masyarakat yang menjalankan nilai nilai agung ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai agung itu seperti terjaganya hijab, mendirikan shalat berjamaah di masjid, alam yang nyaman, aman, dan islami, fastabiqul khairat, silaturrahim erat terjalin, dan kasih sayang antar sesama, dan sebagainya .

Namun kini Hidayatullah bukan lagi semata pesantren, yayasan sosial penyantunan anak terlantar, atau lembaga pendidikan. Hidayatullah seperti diketahui telah dideklarasi pada tahun 2000 silam sebagai organisasi masyarakat yang terbuka untuk umum. Sehingga kaum Muslimin yang mengidamkan suasana mulia itu berbondong-bondong untuk bergabung ke Hidayatullah.

Dengan perkembangan kuantitas organisasi yang begitu dinamis, kampus-kampus Hidayatullah di seluruh Indonesia pun bergeliat. Sejumlah kampus Hidayatullah pun tidak lagi mampu menampung warga seluruhnya dengan keterbatasan komplek yang ada.

Praktis, dalam kondisi demikian, mau tidak mau, ada warga atau jamaah yang memilih tinggal di sekitar kampus baik dengan mengontrak atau membangun rumah sendiri. Hal itu dilakukan agar mereka tetap dapat merasakan suasana hidup berkampus.

Perubahan adalah keniscayaan. Dengan statusnya sebagai ormas, tentu saja warga Hidayatullah terus berkembang dan tersebar di mana-mana. Kader tidak lagi dibatasi komplek atau daerah tertentu. Dengan demikian tentu saja tradisi hidup berkampus yang menjadi visi besar pendiri Hidayatullah memerlukan elaborasi agar kader tetap dapat merasakan suasana “berkampus” meskipun tidak tinggal di lingkungan kampus.

Pengusaha yang juga politisi BM Wibowo Hadiwardojo, kepada media ini mengatakan tradisi hidup berkampus ala Hidayatullah merupakan khazanah islam yang diwariskan anak bangsa sendiri yang perlu terus dijaga dan dilestarikan.

Ia pun mengakui tradisi hidup berkampus dalam rangka menjaga kontinuitas ibadah kepada Allah dan menjaga nilai-nilai adab Islami ini teramat penting di tengah “hura-hura” materialis dan permisivisme dunia saat ini.

“Setiap kader mengidamkan kehidupan berkampus. Tapi tentu setiap kampus Hidayatullah dibatasi luas dan infrastrukturnya. Sehingga kader harus mentradisikan diri hidup berkampus meskipun tidak tinggal di kampus,” kata BM Wibowo dalam perbincangan dengan Hidorid, Kamis (14/11/2013).

Pria yang kini aktif di salah satu partai politik ini menjelaskan, tradisi “hidup berkampus” tetap dapat dijalankan dan dijaga di mana pun kader berada dengan di waktu yang sama selalu meniatkan setiap pekerjaan dalam rangka untuk memberikan manfaat kepada umat.

“Merupakan tantangan berat ketika kita tinggal di sebuah komunitas masyarakat yang jauh dari nilai-nilai agung ajaran Islam. Inilah medan dakwah, jangan menghindar. Kita berusaha menciptakan suasana hidup berkampus di sana,” terangnya.

Kendati demikian, Wibowo menegaskan, tidak mudah untuk berkecimpung di komunitas sosial apabila seseorang tidak punya kecakapan interaksi dan emosional yang baik. Sebab pada kenyataannya semua orang memiliki karakter yang berbeda-beda.

Untuk itu ia memandang perlunya warga Hidayatullah yang tinggal di kampus-kampus Pesantren Hidayatullah agar tak hanya sibuk beraktifitas di dalam saja, tetapi juga aktif menjalin komunikasi keluar dan silaturrahim kepada siapa saja.

“Agar ketika sewaktu-waktu dipindah dan harus tinggal di luar kampus biasa saja, dan tradisi hidup berkampus pun tetap terjaga,” tandasnya. (ybh/hio)

Ketua DPRD Sulbar Resmikan Gedung Dakwah Hidayatullah Mamuju

0
Masjid Salabose, masjid bersejarah di Sulbar
Masjid Salabose, masjid bersejarah di Sulbar

HIDORID — Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Barat Hamzah Hapati Hasan menghadiri acara peletakan batu pertama gedung dakwah sekaligus Masjid Arrisalah Hidayatullah Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju. Pada momen ini, Ketua DPRD meresmikan langsung peletakan batu pertama ini, Minggu(10/11) lalu.

Hamzah merasa bahagia karena pada momen ini ia bisa bertatap muka dengan para santri, para guru dan pembina Yayasan Ponpes Hidayatullah. “Pertemuan ini karena izin Allah SWT,” imbuh Hamzah.

“Keberadaan Ponpes Hidayatullah telah mengalami banyak perubahan jika dibandingkan lima tahun silam.
Seperti, jumlah santri dari tahun ke tahun telah mengalami peningkatan sehingga ini menandakan, pengembangan pendidikan keagaamaan di sekolah ini berkembang pesat,” kata Hamzah.

Ia juga memberikan apresiasi kepada pengurus yayasan yang terus melakukan perbaikan masjid. Menurutnya harus diberikan dukungan.

“Keberadaan masjid ini tak hanya digunakan warga Ponpes, namun juga digunakan masyarakat umum lainnya,”katanya.

Hamzah meresmikan pembangunan masjid ditandai dengan dilaksanakannya pengecoran tiang beton bangunan sebanyak lima kali.

“Kita berharap, pelaksanaan pembangunan Masjid ini tuntas dalam waktu tidak lama. Pastinya, hari ini kita bisa kumpulkan dana untuk menutupi tiga tiang dan 11 tiang lainnya akan saya carikan dananya,” harapnya.

Politisi Partai Golkar ini menyatakan bahwa pembangunan ini juga akan dibantu oleh APBD tahun 2013 melalui bantuan hibah. (mc/hio/ybh)

Tokoh Masyarakat Mamuju Apresiasi Peran Hidayatullah

Hamzah Hapati Hasan
Hamzah Hapati Hasan

HIDORID — Tokoh masyarakat Sulawesi Barat (Sulbar) Hamzah Hapati Hasan yang juga Ketua DPRD Sulbar, menyambangi pembangunan Masjid Hidayatullah yang ada di depan Pasar Baru Mamuju. Kunjungan Hamzah tersebut untuk menghadiri acara pengecoran tiang Masjid Hidayatullah yang ada di dalam lokasi Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah Mamuju, Minggu (10/11).

Di hadapan para pengurus Ponpes Hidayatullah, Hamzah mengatakan, pihaknya sangat senang jika ada pembangunan masjid seperti apa yang dilakukan para pengurus Ponpes Hidayatullah Yang ada di depan Pasar Baru ini.

“Kami akan membantu beban terhadap pembangunan Masjid Hidayatullah ini,” ujarnya.

Bantuan yang diberikan Hamzah adalah menalangi biaya pengecoran 14 tiang pada Masjid Arrosalah Hidayatullah. Satu tiang biayanya Rp 7,5 juta. Jadi dengan 14 tiang yang akan dicor, Hamzah harus mengeluarkan dana sekitar Rp 105 juta.

Selain membantu menalangi biaya pengecoran tiang, Hamzah juga memberikan bantuan uang tunai sebesar Rp 21 juta. Pemberian dana langsung ini, kata Hamzah, untuk membantu aktivitas lainnya pihak pengurus Masjid Hidayatullah. Sehingga pembangunan masjid ini dapat berjalan dengan cepat.

“Keberadaan Pesantren Hidayatullah ini adalah sebagai wadah pengembangan agama Islam dan tempat pendidikan Islam. Untuk itu, harus kita dukung dengan menyiapkan sarana prasarana pendukung. Termasuk tempat sarana ibadah, yakni Masjid Hidayatullah ini,” paparnya.

Selain itu, ia juga akan memperjuangkan bantuan sarana untuk pendirian SMP Hidayatullah. Bahkan, pihak DPRD Sulbar melalui Ketua DPRD Sulbar, akan memperjuangkan anggaran untuk bantuan pembangunan SMP Hidayatullah pada tahun anggaran APBD 2014 dengan anggaran sebesar Rp 1,3 miliar.

“Saya akan memediasi para pengurus Pesantren Hidayatullah untuk ketemu secara langsung anggota DPR RI yang membidangi masalah pendidikan. Sehingga akan memberi kemudahan dalam pembangunan SMP Hidayatullah,” ujarnya. (ala/mir/c/bkm)

Rekonstruksi Masjid Pasca Terbakar, Pemkot Balikpapan Kucurkan Bantuan Dana

Masjid Al Amin Hidayatullah Karang Bugis usai terbakar
Masjid Al Amin Hidayatullah Karang Bugis usai terbakar

HIDORID — Berkat perjuangan Wali Kota HM Rizal Effendi SE serta persetujuan Ketua DPRD H Andi Burhanuddin Solong, Pemkot Balikpapan telah mengalokasikan dana total Rp1,05 miliar melalui APBD Perubahan 2013 untuk Pondok Pesantren (Pontren) Hidayatullah. Dana Itu terdiri dari Rp300 juta untuk pembangunan Masjid Al Amin Hidayatullah Karang Bugis, serta Rp750 juta sisanya bantuan untuk kegiatan Silaturahmi Nasional (Silatnas).

“Untuk Hidayatullah sendiri, Pemkot melalui APBD Perubahan 2013 telah mengalokasikan bantuan dana sebesar Rp1,05 miliar. Sebanyak Rp300 juta di antaranya, diperuntukkan untuk membantu pembangunan masjid Al Amin milik Hidayatullah di Karang Jati,” terang Rizal Effendi.

Sabtu (9/11) lalu, wali kota menerima kunjungan tiga orang pengurus Pesantren Hidayatullah sekaligus panitia pembangunan masjid Al Amin di rumah jabatan wali kota.  Mereka adalah Ustadz Zainudin Musaddad, Rusli serta Ustadz Mustafa.  “Selain silaturahim, mereka melaporkan progres pembangunan masjid Al Amin yang sudah mencapai 70 persen,” ujar Rizal.

Selain itu, panitia mengundang wali kota untuk menghadiri acara penggalangan dana penyelesaian proyek pembangunan masjid Al Amin, Ahad (10/11) lalu. Namun hari Ahad itu wali kota Rizal harus menjadi inspektur upacara peringatan 10 November, sehingga tidak bisa hadir dalam acara penggalangan dana tersebut.

Tentu pembaca masih ingat, masjid Al Amin dibangun kembali setelah pada Selasa 14 Oktober 2012 silam ludes dilalap si jago merah. Selain bangunan masjid, api melalap dan menghanguskan 12 kamar asrama santri di area Pontren Hidayatullah, Jalan Karang Bugis, Kelurahan Karang Jati Balikpapan Tengah.

Kembali soal bantuan dari Pemkot, Wali Kota Rizal berharap, kucuran dana Rp300 juta tersebut dapat membantu mempercepat selesainya pembangunan masjid. Ditanya soal bantuan dana lainnya untuk Hidayatullah, wali kota menyebutkan, sebesar Rp750 juta dialokasikan untuk membantu Silatnas. Event yang diikuti 6.000 peserta di Pontren Hidayatullah kampus pusat Gunung Tembak itu berlangsung pada 20 hingga 24 Juni 2013.

Berbagai acara digelar, mulai diskusi umum tentang ekonomi keumatan, diskusi umum masalah-masalah kebangsaan, dakwah, politik, hingga seminar soal poligami. Para peserta berasal dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Sejumlah tokoh nasional pun hadir di antaranya, Ketua KPK Abraham Samad, Ketua KAHMI Mahfud MD (mantan Ketua Mahkamah Konstitusi), dan lainnya.

Lantas kapan bantuan dana total Rp1,05 miliar itu bakal diserahkan? Ditanya begitu, Wali Kota Rizal menjelaskan pihaknya sudah menjadwalkan penyerahan dilakukan saat Safari Subuh Jumat, 15 November mendatang.

“Semoga dana Rp1,05 miliar bantuan Pemkot itu dapat dipergunakan sebaik mungkin oleh pengurus Hidayatullah, bermanfaat bagi pengembangan pondok pesantren dalam melahirkan insan-insan berkualitas serta marilah secara bersama-sama kita mewujudkan Balikpapan sebagai Kota Madinatul Iman,” imbau wali kota.(yud/bp/hio)

Siaran Pers PP Hidayatullah Tentang Perayaan Assyuro

0

Siaran Pers PP Hidayatullah Tentang Perayaan Assyuro

Perayaan Assyuro
Perayaan Assyuro

Bismillahirrahmanirahim

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sehubungan rencana para penganut Syiah menggelar perayaan Asyuro di beberapa tempat di Indonesia, maka kami dari Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah menyatakan sikap bahwa:

  1. Ajaran Syiah memiliki banyak perbedaan, bahkan bertentangan secara aqidah, dengan ajaran agama Islam yang dianut mayoritas penduduk Indonesia, sehingga berpotensi menimbulkan konflik di tengah masyarakat.
  2. Peringatan Asyuro oleh kelompok Syiah di berbagai wilayah di Indonesia, baik secara terbuka dengan pengerahan massa maupun lewat media elektronik seperti televisi, berpotensi besar menimbulkan konflik fisik di tengah masyarakat. Karena itu kami meminta kepada pemerintah dan aparat keamanan agar melarang perayaan ini untuk menjaga keamanan masyarakat dan negara.
  3. Jika kaum Syiah ingin hidup berdampingan dengan kaum Muslim di Indonesia maka mereka harus menyudahi aksi mencaci maki kepada para Sahabat dan istri Rasulullah SAW, menghentikan dramatisasi peristiwa Karbala, serta tidak mendakwahkan ajaran-ajaran yang bertentangan dengan Islam.

Demikian pernyataan sikap ini kami buat. Semoga Allah SWT menjaga kita dari kehancuran karena meninggalkan ajaran-Nya.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kepala Biro Humas PP Hidayatullah
Mahladi

Mahasiswa UIN SUKA Teliti Strategi Pemberdayaan Santri Hidayatullah Sleman

0
Kampus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Kampus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

HIDORID — Peran Hidayatullah dalam mengentaskan berbagai persoalan bangsa khususnya masalah sosial kemasyarakatan kian dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Sehingga tak jarang lembaga-lembaga yang berada di bawah pengelolaan ormas Islam ini menjadi objek penelitian ilmiah di perguruan tinggi.

Kali ini yang menjadi objek penelitian akademik adalah Pesantren Hidayatullah Sleman, Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA) bernama Rizqi Respati Suci Megarani yang mengkaji secara ilmiah strategi pemberdayaan santri di Pesantren Hidayatullah Sleman.

Penelitian tersebut bertujuan untuk mendiskripsikan strategi pemberdayaan santri di Pondok Pesantren Hidayatullah dalam rangka meningkatkan potensi-potensi yang dimiliki oleh santrinya. Sekaligus untuk mengetahui hasil-hasil yang telah dicapai oleh Pondok Pesantren Hidayatullah dalam menerapkan strategi pemberdayaan santrinya tersebut.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan mengambil lokasi di Pondok Pesantren Hidayatullah Donoharjo Ngaglik Sleman Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara secara mendalam yang terdiri dari wawancara berencana (standarized interview) dan wawancara tak berencana (unstandarized interview), pengamatan (observasi), catatan lapangan dan dokumentasi.

Dalam penelitiannya, mahasiswa UIN suka mengaku menggunakan pola pikir induktif yaitu berangkat dari fakta-fakta yang khusus, peristiwa yang konkrit, kemudian dari fakta-fakta yang khusus dan peristiwa yang konkrit ditarik generalisasi-generalisasi yang bersifat umum.

Dalam penelitiannya peneliti memetakan pesantren menjadi dua macam, yaitu pesantren tradisional dan pesantren modern. Sistem pendidikan pesantren tradisional sering disebut sistem salafi. Yaitu sistem yang tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik sebagai inti pendidikan di pesantren.

Sementara pondok pesantren modern merupakan sistem pendidikan yang berusaha mengintegrasikan secara penuh sistem tradisional dan sistem sekolah formal seperti madrasah.

Dengan demikian pesantren modern merupakan pendidikan pesantren yang diperbaharui atau dimodernkan pada segi-segi tertentu untuk disesuaikan dengan sistem sekolah.

Peneliti penyimpulkan bahwa Pondok Pesantren Hidayatullah merupakan salah satu pondok pesantren yang menggunakan model pendidikan pesantren modern. Program pendidikan yang diberikan meliputi kurikulum pendidikan formal (sistem sekolah), informal (pendidikan keagamaan / sistem pengasramaan) dan non formal (ketrampilanketrampilan hidup).

Perpaduan tiga kurikulum pendidikan tersebut bertujuan agar generasi muda bangsa (para santri) mampu menghadapi tantangan arus globalisasi. Mereka dibekali bermacam disiplin ilmu keagamaan, pengetahuan umum dan ketrampilan

Selain dari UIN SUKA, sejumlah akademisi dari berbagai perguruan tinggi juga telah melakukan penelitian di berbagai Pondok Pesantren Hidayatullah di Indonesia. Diantaranya akademisi dari Universitas Indonesia, Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Universitas Ibn Khaldun, dan lain-lain. (dig/ybh/hio)

Hidayatullah Balikpapan Kerjasama ToraniFood Dukung Program KKP

0
Salah seorang peserta mendapatkan hadiah dari ToraniFood Balikpapan
Salah seorang peserta mendapatkan hadiah dari ToraniFood Balikpapan

HIDORID — Dalam rangka upaya Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan dalam meningkatkan kemampuan anggota masyarakat, khususnya pelaku utama kelautan dan perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meluncurkan program unggulan pembentukan dan pengembangan Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP).

Mendukung program kemandirian dari pemerintah tersebut, belum lama ini RM Torani menggandeng Pesantren Hidayatullah Balikpapan menggelar pelatihan pengelolaan tataboga ikan bandeng yang dilaksanakan secara paralel sebanyak 2 angkatan yaitu angkatan 5 dan 6 sejak tanggal 20 s.d 23 Agustus 2013 dengan jumlah peserta 20 orang masing-masing angkatan berjumlah 10 orang yang seluruhnya berasal dari Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat Balikpapan.

Pelatihan yang berlangsung selama 4 hari dirasakan sangat bermanfaat bagi peserta terlihat dari minat peserta yang cukup besar bahkan melebihi target dan harus diseleksi lagi agar sesuai dengan jumlah yang ditentukan.

Pelatihan pengolahan dan pemasaran ikan bandeng ini dilaksanakan di salah satu lokasi milik Torani Food Restoran yang juga sebagai lokasi P2MKP dan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta pelatihan terhadap pengolahan bandeng tanpa duri dan diversifikasi olahannya.

Materi-materi yang diberikan meliputi, membuat bandeng tanpa duri, membuat bakso bandeng, nugget bandeng dan bandeng crispy. Selain itu peserta juga dibekali dengan materi PMMT untuk mengetahui mutu ikan dan penanganannya, mengemas produk olahan bandeng, pemasaran hasil olahan bandeng dan kewirausahaan.

Salah seorang peserta dari Pesantren Hidayatullah, Ustadz Safar Maspul, mengatakan ternyata tidak gampang mencabut duri bandeng bila tidak tahu posisi durinya ada di mana dan berapa jumlah duri yang ada di badan ikan bandeng.

Pengelola P2MKP “Torani Food” Sundusing Madya dalam sambutannya saat menutup kegiatan pelatihan ini menyatakan terima kasih kepada KKP melalui Balai Diklat Perikanan karena sudah memberikan kesempatan kepada Torani Food untuk eksis ditengah masyarakat dengan bermitra untuk melaksanakan kegiatan mandiri dibidang pengolahan ikan khususnya bandeng, dan telah merealisasi permintaan untuk melatih para pelaku utama di Kota Tarakan yang selama ini menjadi pemasok Ikan Bandeng Tanpa Duri Ke Torani Food.

“Kebutuhan ikan bandeng untuk Torani Food Balikpapan saja setiap hari mencapai sampai 450 kilo gram, belum lagi untuk memenuhi permintaan ke Jakarta dan kota lainnya yang setiap bulan baru bisa dikirim 1,5 ton dari permintaan sebanyak 5 ton,” beber dia.

Seperti diketahui, Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) adalah lembaga pelatihan/permagangan di bidang kelautan dan perikanan yang dibentuk dan dikelola oleh pelaku utama maju di bidang kelautan dan perikanan baik perorangan maupun kelompok. P2MKP adalah wujud partisipasi dan keswadayaan masyarakat dalam pengembangan sumberdaya manusia melalui pelatihan dari, oleh, dan untuk masyarakat.

Saat ini Kelurahan Manggar, Kecamatan Balikpapan Timur menjadi kawasan sentra pengolahan hasil perikanan termasuk bandeng, dalam rangka menindaklanjuti kegiatan KKP untuk memasyarakatkan perikanan di lingkungan Pondok Pesantren sebagai pencetak generasi muda muslim yang terlatih. (ybh/hio/kkp)

Pesantren Hidayatullah Berkiprah untuk Umat di Tanah Madura

Salah satu kegiatan keummatan Hidayatullah Pamekasan
Salah satu kegiatan keummatan Hidayatullah Pamekasan

HIDORID — Meski terbilang baru, Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah, Desa Jalmak, Kecamatan Kota Pamekasan, Madura, Jawa Timur, relatif dikenal luas di masyarakat. Selain mengajarkan pelajaran kitab kuning dan menggelar pengajian, pesantren ini juga memiliki usaha sendiri yang melibatkan para santrinya.

Kegiatan di lembaga yang didirikan pada tahun 1997 ini tidak kalah dengan ponpes lainnya di Pamekasan. Kegiatan belajar mengajar, pengajian Al-Qur’an dan kajian kitab kuning menjadi rutinitas santri tiap hari.

Dari pagi, sore, hingga malam hari, aktivitas di pesantren yang dihuni puluhan santri ini terlihat sangat padat. Rutinitas kegiatan dimulai pukul 03.00 dini hari. Yakni, berupa salat tahajud yang memang menjadi keharusan di pondok.

“Biasanya setelah salat tahajud, kegiatan santri disambung dengan salat subuh berjamaah dan mengkaji kitab kuning,” ujar Ustad Fauzan, pengasuh Ponpes Hidayatullah.

Ustad asal Desa Batu Ampar, Kecamatan, Guluk-Guluk, Sumenep, ini lalu menjelaskan, menjelang pagi, kegiatan rutin santri lainnya berlanjut. Yakni, menempuh pendidikan formal di sekolah.

Namun, karena masih dalam tahap pembangunan, para santri ini menempuh pendidikan formalnya di lembaga lain. Mulai dari Madrasah Tsanawiyah atau SMP, Madrasah Aliyah atau SMA, termasuk SMK di sekitar Kota Pamekasan.

“Karena jaraknya sangat jauh ke beberapa sekolah, antara 1 sampai 7 kilometer dari pondok pesantren, sejumlah santri memilih naik sepeda ontel,” katanya.

Fauzan juga menjelaskan, Ponpes Hidayatullah tidak hanya menekankan pelajaran agama saja. Tapi, juga membentuk sikap kemandirian. Itu dipraktikkan dalam hal pengelolaan pesantren, mulai dari menyapu masjid hingga halaman pesantren, mencuci pakaian serta perlengkapan lainnya.

“Bahkan sebagian santri memilih berjualan koran sebelum berangkat ke sekolah. Hal-hal seperti ini memang kita tanamkan agar santri memiliki kemandirian. Sebab, itu akan menjadi bekal kalau sudah terjun ke masyarakat,” terang Fauzan.

Secara hirarkis, Ponpes Hidayatullah ini berada di bawah naungan ormas Hidayatullah. Selain mengelola ponpes, yayasan ini juga memiliki lembaga pendidikan yang dikelola secara mandiri. Seperti taman kanak-kanak (TK) dan kelompok bermain Ya-Bunayya. Lokasinya terletak di komplek perumahan Graha Kencana, Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan.

“TK Ya-Bunayya dirikan pada 2004 dengan jumlah siswa 40 anak. Hal ini murni swadaya masyarakat,” paparnya.

Lembaga lain yang dikelola adalah Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Lembaga ini didirikan hampir bersamaan dengan Pondok Pesantren Hidayatullah Jalmak, yakni pada 1997. Lembaga yang satu ini menjadi tulang punggung pembiayaan pendidikan di Yayasan Hidayatullah Jalmak.

“Mulai dari TK, SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, hingga biaya hidup para santri di pondok pesantren, memang banyak dibantu BMH. Maklum, saat ini BMH sudah mempunyai seribu satu donatur tetap dengan jumlah total sumbangan sekitar Rp 15 juta,” terang Fauzan.

Untuk mengelola BMH secara profesional sebagai lembaga sosial, kini telah ada belasan karyawan yang umumnya para santri yang telah belajar di Ponpes Hidayatullah Pamekasan. (ybh/hio/jp)