Beranda blog Halaman 672

Sisi Lain Nikah Mubarakah: Lewati 5 Hari Tanpa Malam Pertama

0
Nikah Mubarak Hidayatullah
Nikah Mubarak Hidayatullah

GHOFUR, sapaan Abdul Ghofur Hadi, tenang menuruni anak tangga Masjid Ar-Riyadh, Kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan. Tangan kirinya menyingsingkan kain celana hitam tepat di atas mata kaki.

Siang itu, 14 Juni 2013, Ghofur baru usai memantau tahapan Pernikahan Mubarakah di pesantren ini. Dia pembantu utama dalam struktur Steering Commite Pernikahan Mubarakah 2013.

Gaya Ghofur santri banget. Gamis putih dipadu songkok warna sama. Tas punggung menggatung di bahu kiri. Tas hitam yang tak lagi pekat, sobek segaris di bagian tali kanan. Benangnya tercerabut. Walau begitu, Ghofur tetap percaya diri mengenakannya. Sangat sederhana.

Dagu ayah dua anak ini ditumbuhi janggut yang tak lebat. Helainya hanya mengisi beberapa bagian pori. Jarang-jarang, tapi panjang. Tutur katanya pelan.

Menatap sesaat, diam sekian detik, baru menjawab saat diberi tanya. “Tadi (14 Juni itu) di masjid ada proses taaruf (silaturahmi mendekatkan diri) santri yang mau menikah,” katanya, saat bincang dengan Kaltim Post di Kantor Pusat Ponpes Hidayatullah, siang itu. Kantor utama dan masjid jaraknya tak lebih 50 meter.

Taaruf yang dimaksud pria kelahiran Nganjuk, Jawa Timur (Jatim), 11 Desember 1974 ini, dalam nikah mubarakah, bukan santri putra taaruf kepada santri putri dan keluarga.

Sampai usai ijab kabul, dalam nikah mubarakah atau yang lebih dikenal nikah massal, kedua mempelai tak pernah bertemu. Satu kali pun!

“Taaruf-nya antara calon mempelai dengan panitia dan guru serta santri di sini (Hidayatullah). Karena yang mau menikah kan bukan cuma dari sini, ada santri dari Hidayatullah Jakarta, Sulawesi Selatan, sampai Papua,” katanya.

Taaruf adalah tahapan untuk mengikuti nikah mubarakah. Pada proses ini, calon mempelai dikorek pengetahuan agama mereka dan sejauh mana mengenal Hidayatullah. Ini adalah proses memperkenalkan diri dan membeber motivasi mengikuti nikah mubarakah.

“Saat itu (proses taaruf), santri juga ditanya harapan dalam nikah mubarakah ini apa? Ingin mendapatkan istri yang bagaimana?” kata Ghofur, tersenyum.

******

Ghofur datang ke Balikpapan pada 2002. Tahun itu, dia baru lulus dari S-1, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Luqman Al-Hakim, Surabaya, Jawa Timur.

Setelah mondok saat mahasiswa, anak pasangan Tro Tinah-Malem (keduanya almarhum), memilih Balikpapan sebagai tujuan. Itu juga karena Hidayatullah berkantor pusat di kota ini. Masa itu, dia datang dengan kondisi yang sangat sederhana. Tinggal di asrama, kembali berada jauh dari orangtua. Kali ini jaraknya bertambah. Harus menyeberang pulau. Apalagi dia tak punya alat komunikasi seperti handphone.

“Jadi komunikasi dengan orangtua hanya pakai telepon di wartel (warung telekomunikasi),” tuturnya di Gunung Tembak, Rabu (24/7).

Komunikasi yang terbatas itu sempat membuat orangtua dan keluarganya bingung ketika Ghofur mau menikah. Apalagi, saat itu Ghofur tak bisa menjelaskan seperti apa calon istrinya kepada keluarga.

“Orangtua saya dulu sempat bikin bimbang juga. Orangtua bilang, mau menikah kok enggak tahu sama siapa,” lanjutnya, menirukan perkataan ayah-ibunya. Tapi, di pikiran Ghofur malah terbalik. “Apa mau ya nanti istri saya menerima saya,” katanya.

Di dalam hatinya, Ghofur memang punya pemikiran untuk menikah dengan sesama santri. Walau saat masih kuliah ada seorang gadis yang membuka hatinya untuk Ghofur.

“Dulu ada sih yang mau sama saya. Ya, sampai minta suruh orangtua saya datang ke rumahnya. Itu waktu di Surabaya, dia teman SMA saya. Tapi dia bukan santri, cuma bapaknya guru mengaji. Saya memang ingin menikah dengan sesama santri,” katanya.

Sebelum memilih ikut menikah massal, Ghofur memang sudah beberapa kali melihat senior-seniornya mengikuti prosesi ini. Ada ketertarikan darinya untuk ikut jadi peserta. Yang membuat keinginan semakin besar adalah dorongan ustaz-ustaznya yang ikut jadi “kompor”.

“Yang saya ingat, ustaz saya dulu pernah bilang, apa lagi yang ditunggu. Nanti antum jadi bujang lapuk, lho,” katanya, meniru ucapan gurunya.

Ketika masih sekolah, Ghofur sama sekali tak pernah pacaran. Padahal saat itu dia belum santri. Masih mengenyam pendidikan di sekolah umum. SMP 1 dan SMA 3, keduanya di Nganjuk. Baginya, pacaran risikonya besar. Makanya, dia tak pernah berduaan dengan perempuan untuk sekadar nonton di bioskop atau makan bareng.

“Lagi pula saya ini memang pubernya terlambat. Walaupun ada rasa suka sama cewek, tapi saya enggak pernah berani mengungkapkan. Di sekolah dulu saya selalu juara, makanya ada saja cewek yang suka,” tuturnya, tertawa. Cuma sekadar suka ala siswa SMA. Kirim-kirim salam, tak pernah lebih.

********

Tak ada syarat ekonomi yang dijadikan pertimbangan bagi calon peserta nikah massal. Pada 2007, nikah massal berganti nama jadi nikah mubarakah. Ini karena sebutan nikah massal sudah banyak digunakan instansi dan lembaga nonpemerintah. Salah satunya Dinas Sosial.

Saat menikah Ghofur tak punya modal. Dia sarjana yang menjadi guru di pesantren. Gajinya masih belum seberapa.

Awal mengajar pada 2002, hanya Rp 350 ribu per bulan. Sebelum menikah, dia hanya bisa menumpang kapal laut saat pulang kampung ke Surabaya.

Menelepon keluarga via wartel pun hanya sesekali. Saat mertua datang pada acara pernikahannya di Balikpapan, Ghofur ingin sekadar memberi mereka sangu atau membelikan tiket kembali ke Jawa Tengah. Namun duit masih pas-pasan.

“Pas mau kasih uang ke mertua, terus lihat rekening tabungan ternyata cuma Rp 350 ribu. Istri saya (Saryati) bilang, emang cukup mau kasih ibu? Uangnya cuma segitu,” kata Ghofur mengenang.

Namun, setelah dia menikah, merajut rumah tangga, perekonomian keluarga malah mulai membaik.

“Dari mana datangnya ya, enggak tahu juga bagaimana. Enggak ada rumusnya. Eh, setelah punya keluarga saya malah bisa naik pesawat lho kalau pulang ke Surabaya,” tuturnya. Soal rezeki ada saja jalan. Apalagi, pihak ponpes juga membuka banyak peluang pekerjaan bagi santri-santrinya yang sudah berkeluarga.

Ghofur sedianya sudah punya empat anak. Namun, anak pertamanya Fathul Bariyyah dan anak ketiga A Furqon Al-Faqih meninggal saat masih bayi.

“Istri saya memang tak bisa selalu hamil, karena dia ada semacam penyakit gen yang berpengaruh saat mengandung,” katanya.

*******

Sebelum menikah, Ghofur dan Saryati sama sekali belum bertemu. Boro-boro menatap wajah, lihat foto pun tak pernah. Maka itu, tak heran, sebagai manusia, beberapa jam sebelum ijab kabul, bimbang sempat menerpa ayah dari Ahmad Yasin Al-Faqih dan Faiqon Putri An-Najah ini.

“Memang agak susah dinalar, waktu itu yang penting saya menyerahkan diri saja kepada Allah. Karena jodoh kita sudah ada di Lauhul Mahfuz (tempat Allah menuliskan seluruh catatan kejadian di alam semesta), jadi enggak bakal tertukar,” kata guru fikih (hukum Islam) di Ponpes Hidayatullah ini, tertawa kecil.

Saat menikah, dia menjadi salah satu dari lima mempelai yang berkesempatan mendatangi duluan calon istri. Tapi itupun setelah proses ijab kabul.

“Waktu saya nikah itu (2002) disaksikan Gubernur Kaltim (Suwarna Abdul Fatah). Gubernur mau melihat proses saat santri membawa mahar kepada santri putri,” katanya.

Ini jadi kesempatan bagi Ghofur untuk melihat istrinya duluan dibanding peserta lain.

“Waktu pertama kali saya lihat, kok bayangan saya istri saya orangnya kecil,” katanya, mengenang. Kembali dari proses pemberian mahar, dia sempat termenung di asrama putra. “Enggak salahkah itu istri saya? Bayangan saya istri saya itu orangnya besar,” tuturnya.

Bayangan itu menggelitik pikiran pria yang punya nama kecil Paryadi ini, dari sebelum Zuhur hingga Ashar. Setelah salat Ashar, semua peserta nikah massal angkatan Ghofur dipertemukan dengan pasangan mereka. Dia tak sabar menunggu momen ini. Ingin memastikan, seperti apakah gerangan calon ibu dari anak-anaknya kelak.

Setelah bertemu istrinya, ternyata tak seperti dalam pikiran sebelumnya. Saryati tak kecil, seperti kesan pada pandangan pertama. Tubuhnya proporsional.

Apakah dia tak salah lihat saat penyerahan mahar? “Enggak, saya enggak salah lihat. Memang itu istri saya. Mungkin pas itu (penyerahan mahar) lagi banyak orang, jadi istri saya itu kelihatan kecil,” katanya, tersenyum. Setelah bertemu awal, Ghofur menyebut,”Istri saya itu sesuai. Lebih dari apa yang saya harapkan”.

**********

Hari-hari pertama pernikahan, jadi momen Ghofur-Saryati saling mengenal. Tak ada malam pertama, seperti umumnya pengantin baru setelah dinyatakan sah menjadi suami-istri.

“Lima malam pertama tak ada malam pertama,” katanya, tersipu.

Lima malam pertama bagi dia dan istrinya digunakan untuk berkenalan lebih mendalam. Saling tahu. Diskusi. Dalam bahasa gaul, saat inilah proses PDKT atau pendekatan. Bagaimana keluarga Ghofur dan Saryati, punya hobi apa, kebiasaan apa, saat sekolah seperti apa, dan apa saja prestasi yang pernah diraih.

Bahkan, baru setelah menikah mereka saling cari tahu, pasangan suka makan apa. Inilah proses yang disebut Ghofur, pacaran setelah menikah.

”Apa makanan kesukaan, Mas?” tanya Saryati. ”Sayur singkong,” kata Ghofur. Belakangan, kata Saryati, Ghofur menyesal menjawab sayur singkong, karena terlalu jujur. Akhirnya, tujuh hari pertama pernikahan, mereka selalu makan nasi dan sayur singkong.

Cerita hari-hari pertama pernikahan mereka diungkapkan Saryati dengan bahasa tutur di buku Senandung Mahligai Mubarakah. Sebuah antologi kisah pernikahan di Ponpes Hidayatullah. Ada 30 santri putri yang bercerita pengalaman nikah mubarakah yang disusun oleh Mujahid M Salbu.

Antusiasnya proses saling mengenal, lima malam pertama setelah ijab kabul praktis tak ada bulan madu bagi Ghofur-Saryati. Pagi hingga sore, alumnus S-2, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Jogjakarta ini mengajar di pesantren.

Tak hanya jadi guru, dia juga dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah yang satu kompleks di ponpes Gunung Tembak.

Jadi waktu bertemu dengan istri sedikit. Cuma petang hingga malam. Apalagi saat itu dia masih tinggal di rumah kakak ipar. Sekarang, dia sudah tinggal di rumah dinas. Makanya, malam awal pernikahan, usai makan, salat Isya, baru mereka banyak bercerita. Saking asyiknya, kata dia, tak terasa datang waktu salat malam. Usai salat berdua, lanjut PDKT.

“Makanya, pas lima malam pertama, ya kita habiskan diskusi saja, belum ada malam pertama,” katanya, kembali tersipu. (kaltimpost/ybh/hio)

Lembaga Pendidikan Hidayatullah Harus Diisi Kader

0
ist
ist

HIDORID — Semangat sesungguhnya masih menggebu, namun masa orangtua terdahulu untuk merintis telah berlalu. Sekarang kampus-kampus Hidayatullah berdiri di mana-mana dan sebagian besar telah mendirikan sekolah-sekolah. Sekolah-sekolah tersebut harus diisi oleh pendidik kader Hidayatullah.

“Sekarang tiba masa Antum untuk mengisi kampus-kampus tersebut dengan ilmu, tiba masa kalian untuk melanjutkan bangunan peradaban,” kata Ketua Dewan Syura Hidayatullah Ustadz Hamim Thohari saat bersilaturrahim dengan mahasiswa Hidayatullah di sela-sela ibadah umrohnya di tanah suci, Makkah, beberapa waktu lalu.

“Pastikan dalam diri Antum bahwa Antum adalah kader. Mencari kader dari luar itu banyak, tapi kita menginginkan kader yang dilahirkan dari rahim perjuangan, dari rahim Hidayatullah,” imbuhnya.

Ustadz Hamim menuturkan, kita membutuhkan kader yang selalu antusias menyambut kerja-kerja dakwah, bukan yang fanatik terhadap golongan.

“Ada nilai-nilai dasar yang telah Antum serap yang belum diserap oleh yang lain, dan itu modal besar dalam sebuah gerakan perjuangan Islam. Terakhir, apa kalian sudah siap dipanggil untuk menikah,” jelas beliau seraya mengakhirinya dengan candaan di hadapan sejumlah mahasiswa Hidayatullah yang menuntut ilmu di Saudi itu.

Diwartawakan, Ketua Dewan Syura PP Hidayatullah Ustadz Hamim Thohari menyempatkan bersilaturrahim dengan mahasiswa Hidayatullah di sela-sela ibadah umroh beliau ke Madinah, Arab Saudi, beberapa hari lalu.

Dalam kesempatan silaturrahim tersebut, Ustadz Hamim menyampaikan kepada mahasiswa kader Hidayatullah yang menuntut ilmu di negara tersebut untuk senantiasa memperhatikan ibadah, terutama sholat lima waktu berjamaah. (mdh/ybh/hio)

“Kader Hidayatullah Jaga Komitmen Ibadah, Wajib Shalat Berjamaah”

Ust Hamim Thohari
Ust Hamim Thohari

HIDORID — Ketua Dewan Syura PP Hidayatullah Ustadz Hamim Thohari menyempatkan bersilaturrahim dengan mahasiswa Hidayatullah di sela-sela ibadah umroh beliau ke tanah suci Madinah, Arab Saudi, beberapa hari lalu.

Dalam kesempatan silaturrahim tersebut, Ustadz Hamim menyampaikan kepada mahasiswa kader Hidayatullah yang menuntut ilmu di negara tersebut untuk senantiasa memperhatikan ibadah, terutama sholat lima waktu berjamaah.

Kultur kita di Hidayatullah, kata dia, adalah komitmen kuat dalam menjaga sholat berjamaah di masjid, maka jangan sampai itu lebur, apalagi pada diri mahasiswa yang ada di sana.

“Tanpa komitmen yang sudah menjadi budaya kebaikan ini, kita tidak ada bedanya dengan yang lainnya. Santri Hidayatullah itu menjaga sholat lima waktunya berjamaah, kapan pun, di mana pun, dalam kondisi apa pun,” pesan Ustadz Hamim Thohari sebagaimana dituturkan Muhammad Diinula Haq, salah seorang mahasiswa Universitas Islam Madinah (UIM) kemarin.

Ustadz Hamim juga mengingatkan kader mahasiswa ini akan pentingnya menghafal al-Qur’an. Kita (Hidayatullah), jelas beliau, mengharapkan santri-santri kita sekarang menjadi pecinta dan hafal al-Qur’an, “Dan Antumlah yang akan menjadi musyrif-musyrif mereka, maka sudah menjadi rumus bahwa seorang musyrif harus terlebih dahulu hapal al-Qur’an,” imbuhnya.

Yang sudah selesai hafalannya, dilanjutkan dengan mengambil sanad hafalan dari para Ulama Huffadz; supaya ada pertanggungjawaban dari hapalannya tersebut.

“Kita butuh para santri yang bisa mengimami kita dengan sanad tersambung pada Rasulullah -صلى الله عليه وسلم-.,” harap beliau.

Selain itu, dari tanah suci Ustadz Hamim menyerukan agar kader Hidayatullah senantiasa memperkuat budaya keilmuan dan pertahankan budaya dasar yang telah ada. Hidayatullah membutuhkan ulama yang banyak di masa mendatang, tapi bukan sembarang ulama, melainkan ulama yang robbany yang bisa mengamalkan apa yang dia tahu secara hikmah.

Maksimalkan waktu yang ada dalam menuntut ilmu, jangan kecewakan orang-orang tua yang menanti kalian di sana,” lanjutnya. (mdh/ybh/hio)

Antara Suami dan Istri Harus Bersinergi, Bukan Berkompetisi

HIDORID — Permisivisme dilatarbelakangi oleh masssifnya teknologi informasi yang mudah diakses kapan dan di mana saja, tidak dapat dinafikkan telah memunculkan sikap individualistik di masyarakat. Tak terkecuali juga telah menjangkiti pasangan suami istri.

Dampaknya kemudian adalah tidak sedikit dari masyarakat muslim yang berubah menjadi egois dan berusaha mendominasi yang lain. Terlebih, ini dipandang sangat berbahaya apabila menjangkiti salah satu dari pasangan suami istri.

Demikian benang merah taushiah pernikahan yang disampaikan anggota Dewan Syura PP Hidayatullah, Ustadz Abdul Aziz Kahar Muzakkar, dalam acara pernikahan salah satu warga Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, akhir Oktober (26/10/2013) lalu.

Dalam pada itu, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Sulawesi Selatan ini menegaskan ketidaksetujuannya terhadap ide kesetaraan gender (feminisme) yang digagas kelompok sekuler-liberal.

Pasalnya, jelas dia, jika perempuan menjadi pemimpin dalam rumah tangga maka akan terjadi kekacauan. Secara tersirat ia mengimbuhkan bahwa dalam ide feminisme sejatinya mengejawantah nilai-nilai absurd yang mendorong wanita harus sama diposisikan layaknya laki-laki yang pada akhirnya ini nampak sebagai sebuah kompetisi.

Padahal dalam kajian Islam dan literatur ilmiah telah disebutkan bahwa tak sama secara fisik antara laki-laki dan perempuan, sehingga tak semestinya itu kemudian dipaksakan harus setara porsinya. Dalam Islam, kata dia, telah jelas bahwa muslim laki-laki dan muslim perempuan setara kedudukannya di sisi Allah. Yang membedakan adalah taqwanya.

“Amanah dari al-Qur’an, adalah ‘arrijalu qowwamuna alan nisa….’ Ini yang harus diletakkan dalam rumah tangga, bahwa lelaki atau suami adalah pemimpin bagi istri,” ujarnya berpesan sembari mengutip al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 34.

“Bagaimana kita benar-benar menempatkan suami sebagai pemimpin. Secara singkat, bahwa salah satu sumber kekacauan rumah tangga menurut Islam ketika justru istri menjadi dominan mengatur rumah tangga, dominan mengambil keputusan,” lanjutnya.

Aziz Kahar menjelaskan, dalam lanjutan ayat yang dibacanya, ada dua sebab mengapa laki-laki dipilih sebagai pemimpin bagi istri. Pertama, Allah memberikan karunia kepada laki-laki dengan fisik dan mental yang lebih kuat dibanding perempuan.

“Kedua, karena laki-laki itu menafkahi istrinya. Itu sebabnya dalam Islam, suami wajib hukumnya mencari nafkah untuk menafkahi keluarganya. Barangsiapa suami tidak bekerja, tidak mendatangkan uang, maka dia berdosa. Karena tidak menjalankan syariat Islam mencari nafkah,” papar Ustadz Aziz.

Aziz menegaskan, seorang istri tidak dibebankan kewajiban mencari nafkah. Kalau toh ada istri yang bekerja dan berpenghasilan, pada hakikatnya suaminya tidak berhak mengetahui berapa penghasilan istrinya. Diantara suami dan istri pun tidak boleh saling berkompetisi karena ingin dianggap paling hebat dalam rumah tangga, namun yang dibangun adalah sinergi untuk saling berpadu dalam kebersamaan dan kasih sayang.

Aziz berpesan kepada tiap pengantin, agar dalam perjalanan rumah tangga mereka tidak melihat kekurangan masing-masing pasangan. Meski setiap orang memiliki kekurangan, di baliknya banyak kelebihan.

“Pergaulilah istrimu itu dengan baik, seandainya ada sesuatu yang kamu tidak suka pada istrimu, maka insya Allah, Allah menyimpan banyak kebaikan pada setiap satu kekurangan pasangan kita,” pesannya.

Banyak Anak
Di kesempatan yang sama, Ustadz Nursyamsa Hadis yang berbicara mewakili kedua mempelai, mengatakan pasangan suami istri jangan takut punya anak. Bahkan, jika bisa, “cetaklah” anak sebanyak-banyaknya. Hal itu kata dia senada dengan imbaun Rasulullah yang bangga melihat umatnya banyak anak.

“Salah satu ciri orang yang bertauhidnya bagus, tidak takut memiliki anak yang banyak,” ujar Ustadz Nursyamsa dalam sambutannya sebagai ruan rumah. Tampak undangan tersenyum lebar mendengarnya.

Pria yang pernah menjadi guru di Madrasah Aliyah Hidayatullah Gunung Tembak ini merupakan anak ketiga dari 8 bersaudara.

“Di antara saya bersaudara, masih saya yang paling banyak anaknya, ada tujuh orang. Semoga mempelai bisa lebih banyak dari saya anaknya,” harapnya bernada guyon. (skr/ybh/hio)

Hidayatullah Bintan Kerjasama KPPAI Bina Anak Bermasalah Hukum

HIDORID — Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak Indonesia Daerah (KPPAI) Daerah Kepulaian Riau (Kepri) mengapresiasi peran Pesantren Hidayatullah Toapaya, Bintan, Kepri, yang aktif membina anak-anak yang bermasalah dengan hukum atau ABH.

KPPAID bekerjasama dengan Pondok Pesantren Hidayatullah Toapaya bahu membahu membina anak-anak yang bermasalah ini. Lingkungan pesantren menjadi pusat pembinaan untuk anak-anak yang butuh perlakuan khusus ini.

“Alhamdulillah, sejak 2011 ABH yang dibina di pesantren tersebut berubah perilakunya menjadi lebih baik,” Kata Komisioner KPPAI Daerah Bontan, Ery Syahrial, seperti dikutip media lokal Haluan Kepri,  (25/10/2013) lalu.

Ery juga mengharapkan agar masyarakat bisa berperan serta dalam upaya perlindungan dan pembinaan ABH mulai dari tahap Restorative Justice (RJ), proses rehabilitasi, reintegrasi, dan pemenuhan hak-hak anak yang berhadapan hukum.

“RJ (restorative justice) dimaksudkan agar anak yang tersandung kasus dapat dijauhkan dari proses hukum yang akan berujung penjara. Penjara pada dasarnya menimbulkan dampak buruk terhadap tumbuh kembang anak,” jelas Ery.

Ery Syahrial menjelaskan, mengenai pemberian Restorative Justice kepada anak berhadapan hukum (ABH), KPPAD harus melihat dari konteks kasusnya terlebih dahulu. Anak yang tersandung kasus, kata dia, bisa memperoleh RJ bila anak tersebut tersandung kasus dengan kadar masalah kecil seperti pencurian dengan nilai kerugian yang kecil dan kenakalan anak-anak pada umumnya.

Namun, kalau kejahatan besar seperti mencuri motor dan sejenisnya, jelas itu merupakan tindak kejahatan berat. Untuk kasus seperti itu wajar apabila aparat tidak memberikan RJ. Kendati begitu, kata dia, tidak menutup kemungkinan KPPAID memberikan pertimbangan kepada kepolisian mengenai proses hukum.

Dari data yang dimiliki KPPAID Kepri, tambah Ery, sejak tahun 2011 sampai 2013 anak yang berhadapan hukum (ABH) di Kepri terus mengalami peningkatan. Data 2011-2012, terjadi peningkatan sekitar 52 persen. Sementara 2013 sampai semester pertama meningkat 32 persen dibandingkan semester pertama tahun-tahun sebelumnya.

Ery menyampaikan, sejak 2011 pihak kepolisian di jajaran Polda Kepri mulai dari Polres dan Polsek sudah menerapkan penanganan RJ terhadap ABH.

KPPAID Kepri mencatat, pada 2011, dari 42 ABH sebanyak 22 anak mendapatkan RJ. Pada 2012, dari 64 ABH sebanyak 39 anak yang mendapatkan RJ. Sementara Januari-Juli 2013, dari 46 ABH, 30 orang sudah mendapatkan RJ.Pada umumnya, kasus yang mereka hadapi adalah pencurian, pencabulan, kekerasan dan lakalantas.

Hingga saat ini, kata Ery, jumlah ABH yang yang bisa ditempuh upaya RJ atau dihentikan proses hukumnya setiap tahun mengalami peningkatan karena aparat penegak hukum telah memahami kebijakan RJ.

“Sekarang sudah semakin banyak penyidik Polsek hingga Polres yang memahami hak-hak anak sehingga mau menyelesaikan kasus anak yang tersandung hukum secara RJ,” ujarnya.

Anak yang mendapatkan upaya RJ akan diberi pembinaan khususnya anak yang putus sekolah dan beberapa kali melakukan tindakan pidana. Tujuannya agar anak menyadari kesalahan dan tidak mengulangi perbuatannya. Sementara anak yang masih sekolah akan dikembalikan ke orangtua dan sekolah. (hp/hio/ybh)

Jaga Keharmonisan, Hidayatullah Berperan Aktif Bangun Sulut

IST
IST

HIDORID — Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Sulawesi Utara (Sulut) Ali Murtadho mengatakan umat Islam hidup rukun, menjunjung tinggi toleransi, dan saling berinteraksi sosial dengan baik bersama penganut agama lainnya di wilayah Sulut.

Hal diungkapkan Murtadho menyusul adanya provokasi dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab yang ingin merusak keharmonisan masyarakat di daerah tersebut.

Seperti diketahui, pemerintah setempat belum lama ini mengimbau masyarakat untuk tidak terprovokasi dengan kabar yang menyebutkan terjadi bentrok fisik dipicu isu agama di Minahasa Tenggara (Mitra), Sulut.

Imbauan itu disampaikan berhubungan banyaknya SMS dan pesan berantai yang telah menyebar di masyarakat baik melalui media jejaring sosial.

Ia mengatakan, sebagai bagian dari eleman bangsa, Hidayatullah Sulut ikut berperan aktif dalam membangun wilayah itu serta menjaga keharmonisan hidup dengan menggiatkan pembinaan mental dan spiritual masyarakat .

Menurut warga Muslim di Sulut, hubungan antar umat beragama di wilayah itu terjalin dengan baik. Sehingga ia meminta semua pihak bersikap arif dan tak terpancing dengan kabar yang belum diketahui sumbernya itu.

“Sepengetahuan saya di sini aman-aman saja. Memang sih gesekan-gesekan seperti itu ada saja setiap saat. Alhamdulillah, aman terkendali,” kata Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Hidayatullah Sulawesi Utara (Sulut) Ali Murtadho.

Ali membenarkan sebelumnya sempat terjadi kerusuhan di Desa Basaan, Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara, Jum’at (18/10/2013) lalu yang ditengarai melibatkan 2 kelompok massa tertentu yang bertikai di wilayah itu.

Namun ia menegaskan bentrok tersebut bukan dipicu akibat sentimen agama.

“Bukan bentrok antar warga Islam dengan Kristen. Tidak benar itu, jadi jangan terprovokasi,” tegasnya.

Seperti diberikatan Tribun Manado, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulawesi Utara, Brigjen Pol Robby Kaligis langsung terjun ke Desa Basaan Kecamatan Ratatotok Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) untuk memulihkan stabilitas wilayah itu yang sempat mencekam, Jumat lalu.

Setiba di Basaan, Kapolda sempat disuguhi aksi saling hadang antara kelompok warga yang bertikai dipicu masalah pribadi. Puluhan aparat dari Polres Minahasa Selatan (Minsel) yang telah berada terlebih dahulu di lokasi, langsung menghalau, meminta warga bubar dan menyimpan senjata tajam yang mereka bawa.

Didampingi Kapolres Minsel, AKB Iis Kristian; Kaban Kesbangpolinmas Mitra, Hendrik Sompotan, Perwira Penghubung Kodim 1302 Minahasa, Mayor Inf Tampilang; Camat Ratatotok Jani Rolos, Kapolsek Ratatotok Ipda Farly Panambunan dan sejumlah anggota Polri, Kaligis langsung bertemu tokoh masyarakat, tokoh agama dan perwakilan warga yang bertikai.

Kapolda Robby juga menyatakan pertikaian di Basaan dipicu masalah pribadi, bukan masalah SARA sebagaimana beredar luas di jejaring sosial.

“Kondisinya aman terkendali. Anda bisa lihat sendiri kan, tidak ada pembakaran rumah ibadah, seperti yang merebak. Kami sudah minta tokoh masyarakat dan perwakilan warga sama-sama menjaga stabilitas,” ujar Kaligis dikutip Tribun Manado.

Sebelumnya diberitakan media lokal Sulit, Gubernur Dr. SH. Sarundajang menyatakan, konflik dipicu akibat mabuk, bukan SARA.

“Konflik ini cuman akibat mabuk, cuman akibat masalah pribadi pemuda-pemuda dan ini di mana saja bisa terjadi,” jelas Sarundajang usai menghadiri Penutupan 3rd Asian Pasific Choir Game (APCG) di Hotel Sutan Raja Minahasa Utara (Minut), Jumat (18/10/2013) malam.

Seperti diketahui, telah beredar pesan broadcast di aplikasi Blackberry Messenger (BBM) dan situs jejaring sosial yang menyebutkan telah terjadi perang agama antara penganut Islam dan Kristen di Minahasa. (hid/hio/ybh)

Standar Pendidikan Tidak Layak, Ribuan Madrasah Belum Terakreditasi

0
Santri Madrasah Hidayatullah Jogja / IST
Santri Madrasah Hidayatullah Jogja / IST

HIDORID — Dalam tiga tahun ke depan, Kementerian Agama (Kemenag) akan fokus menyelesaikan program akreditasi bagi madrasah yang belum mendapatkan akreditasi.

Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Nur Syam mengatakan, dari total 46 ribu madrasah, baik negeri maupun swasta yang ada di Indonesia, sekitar 30 persen atau 13 ribu lebih masih belum terakreditasi.

Hal ini disebabkan standar pendidikan di madrasah-madrasah itu belum masuk kategori layak, termasuk sarana dan prasarananya.

“Karenanya, kita targetkan hingga 2016 mendatang minimal semua madrasah di Indonesia sudah terakreditasi,” ujar Nur Syam di Jakarta belum lama ini.

Ia mengungkapkan, Ditjen Pendidikan Islam sudah menganggarkan 80 persen atau Rp 36 triliun dari total anggaran Rp 42 triliun untuk peningkatan kualitas madrasah.

Khusus untuk anggaran akreditasi, setidaknya disiapkan Rp 100-Rp 200 miliar setiap tahun. Anggaran ini, jelas Nur Syam, akan digunakan untuk dua program.

Pertama, peningkatan kualitas sarana dan prasarana madrasah. Dan kedua, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), seperti tenaga guru dan honorer. Termasuk, penyetaraan kualitas akademis pengajar di jenjang strata satu (S-1).

Nur Syam mengatakan, kebanyakan madrasah yang belum terakreditasi adalah madrasah swasta. Hal itu dikarenakan jumlah madrasah swasta lebih banyak dibandingkan madrasah negeri. Dari total 46 ribu madrasah, hanya 4.500 madrasah negeri.

Saat ini, menurut dia, walaupun anggaran Ditjen Pendidikan Islam sudah cukup besar, masalah anggaran masih menjadi problem utama untuk mengejar peningkatan akreditasi madrasah.

Sebab, jumlah madrasah yang sangat besar membutuhkan berbagai anggaran tersendiri. Sedangkan, untuk pengakreditasian membutuhkan alokasi sendiri.

Setiap tahun, Ditjen Pendidikan Islam baru bisa mengalokasikan 500 madrasah yang masuk dalam program akreditasi. “Artinya, apabila ingin meningkatkan kualitas madrasah keseluruhan, dibutuhkan waktu 10 tahun,” kata Nur Syam. (rep/ybh/hio)

Akademisi Malaysia: Konsep Pendidikan Terbaik Adalah Pesantren

0
santri menuntut ilmu / IST
santri menuntut ilmu / IST

HIDORID — Akademisi Universitas Sains Malaysia Dr. H. Abdul Halim Bin H. Ismail Ibnu Syaid Dinaa Albar mengatakan bahwa konsep pendidikan terbaik adalah pesantren.

“Saya sudah 15 tahun di Indonesia mengkaji studi Islam konsep pendidikan, dan menurut saya pesantren dapat dijadikan model untuk meningkatkan kualitas pendidikan,” kata dia pada kegiatan International Conference on Islamic Studies and Contemporary di Bengkulu dikutip kantor berita nasional Antara, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, banyak poin penting dari model pendidikan pondok pesantren yang tidak ada pada universitas-universitas di Indonesia.

“Pesantren merupakan konsep belajar sepanjang masa dengan keberadaan lingkungan institusi yang steril dari hal-hal negatif yang dapat mengakibatkan kehancuran pendidikan,” kata dia.

Lebih lanjut ia menjelaskan, pesantren merupakan tempat belajar total tanpa gangguan dari keadaan dan kondisi lingkungan daerah setempat serta kebiasaan buruk masyarakat.

“Murid yang dididik dalam pesantren tidak ada gangguan dari orang luar, karena orang luar bisa saja membawa sesuatu yang buruk terhadap murid, sehingga berakibat seperti sekolah pada umumnya yang format pendidikannya sudah kabur, seperti murid tidak lagi hormat terhadap guru, suka protes guru, surau dan masjid sudah kosong,” kata dia.

Pendidikan yang tidak berbasis pesantren pada umumnya menurut dia banyak mengakibatkan rusaknya moral anak bangsa karena kurang pengawasan.

Poin penting dari konsep pendidikan pesantren selanjutnya menurut dia adalah pengelolaan keuangan yang cukup baik sehingga dapat meningkatkan kualitas belajar mengajar.

“Universitas saat ini lebih mementingkan proyek, sedangkan pesantren hanya mengelola uang wakaf untuk menjalankan sistem pendidikan,” kata dia.

Pesantren menurut dia, juga memiliki pengelolaan struktur organisasi yang baik sehingga menciptakan suasana lingkungan belajar mengajar yang kondusif.

“Hal-hal seperti ini sebaiknya mulai dipikirkan oleh perguruan tinggi agama,” pungkasnya. (ant/ybh/hio)

Santri Hidayatullah Jakarta Terbitkan Buku “I Love Pesantren”

Cover buku "I Love Pesantren"
Cover buku “I Love Pesantren”

HIDORID — Bermula dari memberikan tugas menulis kepada peserta didiknya, Ghofar El Ghifary, guru Bahasa Indonesia di SMP Al-Qalam Pondok Pesantren Hidayatullah Jakarta Timur, berkeinginan untuk mengumpulkan karya siswa-siswanya itu menjadi sebuah buku antologi.

Indikasinya cukup sederhana, ia ingin para peserta didiknya mampu menulis sebuah buku yang diakui dunia, dalam artian tercatat di Perpustakaan Nasional dan ber-ISBN (International Standard Book Number). Kini, usahanya selama mengajar di sekolah berasrama tersebut tak sia-sia.

Buku “I Love Pesantren” adalah bukti nyata dari beberapa usahanya. Setelah sebelumnya juga terbit buku perdana dengan judul “Ternyata Aku Lulus UN” yang diterbitkan oleh penerbit Leutika Publisher, Jogjakarta.

Bersama Elnisa Publisher, Jakarta, Ghofar berhasil mengapresiasi karya tulis anak-anak didiknya yang kedua menjadi sebuah buku. Buku yang ditulis oleh siswa-siswa SMP Al-Qalam Jakarta tersebut adalah buku kumpulan cerita pendek dan puisi. Di mana mereka mampu menuliskan beberapa cerita yang berlatar belakang kehidupan pesantren.

Di sini para pembaca dapat mengambil pelajaran yang teramat penting bagaimana menyikapi rasa rindu ketika kita jauh dari keluarga dan orang tua, bagaimana pula kita menyiasati segala kebutuhan dan keperluan yang harus ditangani dengan mandiri.

Salah satu wartawan senior yang juga dosen di Universitas Indraprasta PGRI Jakarta, Drs. Syarifudin Yunus, M.Pd., juga ikut andil dalam memberikan endorsment-nya mengenai lahirnya buku “I Love Pesantren” ini.

“Dengan munculnya buku ini telah membuktikan kepada kita bahwasannya kehidupan di pesantren tidak melulu belajar tentang hitam dan putih, tetapi juga belajar bahwa hidup itu berwarna,” ujar dosen yang dikenal inspiratif oleh para mahasiswanya itu. (hid/ybh/hio)

Orang Terkaya Makin Kaya di China, Harta untuk Apa?

Situs makam Kaisar kaya raya, Qin Shihuang / IST
Situs makam Kaisar kaya raya, Qin Shihuang / IST

HIDORID — Kekayaan 400 orang terkaya di China bertambah 150 miliar dolar AS tahun ini, padahal perekonomian negara itu tengah melambat, lapor majalah Forbes seperti dikutip AFP belum lama ini.

Kenaikan hampir 400 juta dolar AS untuk setiap orang dari 400 orang terkaya China itu menandakan kian lebarnya jurang perbedaan antara orang terkaya dengan jutaan orang miskin di negeri komunis tersebut.

“Orang kaya semakin kaya,” kata kepala biro Forbes Shanghai Russell Flannery. “Pertumbuhan cepat kekayaan di China berbalikkan dengan melemahnya perekonomian China”.

Asset bersih 100 orang terkaya China melonjak 44 persen dibandingkan setahun sebelumnya menjadi 316 miliar dolar AS, sedangkan jumlah milyuner melonjak menjadi 168. Padahal perekonomian China tahun lalu “hanya” berekspansi 7,7 persen yang adalah terburuk sejak 1999.

Menurut Forbes, bidang usaha yang memicu kenaikan jumlah kakayaan para milyuner China ini adalah internet, otomotif, hiburan dan properti.

Wang Jianlin, bos raksasa properti Wanda Group dan pembeli perusahaan hiburan AMC Entertainment dari AS, memuncaki daftar orang terkaya China dengan total kekayaan 14,1 miliar dolar AS.

Pemuncak tahun lalu, pengusaha makanan Zong Qinghou, tergelincir ke posisi dua kendati kekayaannya naik 12 persen menjadi 11,2 miliar dolar AS.

Pendiri mesin pencari Baidu, Robin Li, berada di peringkat tiga dengan nilai kekayaan melonjak 37 persen menjadi 11,1 miliar dolar AS.

Setelah itu dua bos perusahaan energi dan properti –masing-masing Li Hejun dan Yang Huiyan– menduduki peringkat empat dan lima.

Kemudian, dua miliarder internet, yaitu Ma Huateng dan Jack Ma, menyusul di bawah mereka.

Kekayaan Ma Huateng yang adalah pemilik perusahan gaming social Tencent, merangsek 60 persen menjadi 10,2 miliar dolar AS, sedangkan Jack Ma yang adalah pendiri perusahaan e-commerce Alibaba, tahun ini berkekayaan total 7,1 miliar dolar AS atau dua kali lipat dari tahun lalu yang mencapai 3,4 miliar dolar AS.

Status Harta Bagi Manusia

Pada faktanya, banyak manusia yang kehilangan akal sehat karena harta benda. Padahal dalam Islam semua yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah ta’ala. Termasuk dalam hal ini adalah harta benda.

Pada hakikatnya, manusia dikaruniai oleh Allah ta’ala harta benda adalah sebagai titipan dan amanah yang harus dipergunakan sebagaimana mestinya.

Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya :

آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ
”Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman diantara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar” [QS. Al-Hadid : 7].

Harta merupakan perhiasan dunia yang Allah ta’ala jadikan sebagai salah satu ujian keimanan dan cobaan bagi manusia, sebagaimana firman-Nya :
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا
”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” [QS. Al-Kahfi : 46].

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar” [QS. Al-Anfaal : 28].

Harta bukanlah tujuan, namun tidak lebih hanya sebagai salah satu sarana dan bekal untuk beribadah kepada Allah ta’ala. Allah ta’ala telah berfirman dalam salah satu ayatnya :
انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

”Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” [QS. At-Taubah : 41]. (ybh/hio/dbs)