Beranda blog Halaman 676

Barat Keliru Nilai Madrasah Sebagai Sarang Teroris

0

Selama ini, media internasional terkesan melihat madrasah sebagai institusi monolitik dan homogen. Media barat melihat madrasah sebagai breeding ground of Islamic radicalism. Padahal madrasah di dunia Islam mulai dari Maroko sampai Indonesia memiliki variasi yang luar biasa.

Hal ini disampaikan Plt. Kepala Badan dan Litbang Kementerian Agama Machasin kepada pers terkait penyelenggaraan The Second International Symposium Empowering Madrasa In The Global Context, Jakarta, Rabu (28/08).

Menurut Machasin, variasi madrasah di berbagai kawasan tersebut disebabkan oleh beragam faktor, seperti politik, ekonomi, sosial dan budaya di mana madrasah eksis dan berkembang.

“Madrasah di Indonesia justru merupakan antitesis terhadap upaya penyemaian radikalisme dan terorisme. Madrasah mengajarkan toleransi, demokrasi, civic education, sains dan teknologi, dan lain-lain,” tegas Machasin.

“Bahkan, madrasah adalah jawaban atas permasalahan krisis moral dan akhlak, karena kemunculannya memang memiliki karakter dan identitas keagamaan kuat,” tambah Machasin. The Second International Symposium Empowering Madrasa In The Global Context akan dilaksanakan selama 3 hari, 3 – 5 September 2013 di Bekasi, Jawa Barat.

Kegiatan ini diharapkan dapat memetakan dinamika perkembangan variasi madrasah di berbagai kawasan, yang menyangkut eksistensi kelembagaan, tinjauan dari faktor sosial, budaya, ekonomi, ideologis, politis, filosofis dan historis. Selain itu juga, menghimpun ide dan strategi pengembangan madrasah untuk merespon per¬kem¬bangan peradaban global ke depan.

Simposium yang akan diikuti oleh 130 peserta dari unsur peneliti, pakar, dan praktisi pendidikan ini recananya dibuka oleh Wakil Presiden Boediono yang jua akan menjadi pembicara kunci (keynote speech).

“Simposium ini juga akan menghadirkan narasumber dari Mesir, Florida, Turki, Thailand, dan beberapa guru besar Islam di Indonesia,” kata Machasin. (ybh/hio/men)

 

Alasan Hidayatullah Tolak Acara Miss World di Indonesia

0

maret2013_9Organisasi kemasyarakatan, Hidayatullah, menyayangkan pemerintah Indonesia tidak bersikap tegas dengan pelaksana ajang kecantikan Miss World 2013 yang akan berlangsung di Bali, September 2013. Hidayatullah menegaskan tidak setuju dan tidak mendukung acara tersebut.

Ada dua alasan penolakan Hidayatullah dengan Miss World 2013. Pertama, kontes-kontes seperti itu bertentangan dengan peradaban Islam dan tidak cocok dengan budaya bangsa. Kedua, sangat tidak pantas acara-acara seperti itu digelar di negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini.

“Kami ormas Islam Hidayatullah, akan terus mengedukasi masyarakat lewat dai-dai Hidayatullah dan media-media yang kami miliki tentang betapa besar bahaya ideologi dan moral dari acara-acara seperti itu. Kami berharap, Allah SWT akan menyadarkan para pemimpin di negeri ini akan bahaya tersebut,” demikian ditegaskan Ketua Biro Humas PP Hidayatullah Mahladi dalam siaran persnya diterima Hidayatullah.or.id. (ybh/hio)

Kader Hidayatullah Kehadirannya Memberi Manfaat

0

Anggota Dewan Syura Hidayatullah Ustadz Nursyamsa Hadits meningatkan kader muda Hidayatullah untuk selalu berpacu mengembangkan potensi diri, tidak mudah menyerah, selalu optimis, dan semaksimal mungkin menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungan sosialnya dan jamaah.

Beliau menegaskan bahwa orang yag paling baik adalah yang paling fungsional perannya dalam kehidupan. Sehingga ia menekankan pentingya kader Hidayatullah agar selalu mengevaluasi diri apakah benar-benar keberadaannya telah memberi manfaat atau justru membawa mudharat. Proses ini harus dilakukan, kata beliau, agar setiap person tak selalu merasa benar.

“Manusia yang terbaik adalah yang paling fungsional perannya. Kader Hidayatullah itu harus fungsional. Di mana pun berada selalu dirindukan, ide-idenya ditunggu, santun akhlaknya, dan menejawantah nilai fastabiqul khairaat,” kata Ustadz Nurysamsa Hadits dalam acara tasmiyah aqiqah salah satu warga Pesntren Hidayatullah di Kota Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Ia mengingatkan, usia muda adalah masa emas umur manusia. Jangan disia-siakan periodisasi yang pasti dilewati manusia ini. Ia menyeru kader agar mengerahkan semua potensi di usia ini untuk bekerja dan beramal baik sebanyak-banyaknya.

“Maka di masa tua nanti Anda akan rasakan manfaatnya, pasti itu. Sudah sunnatullah. Insya Allah. Kalaupun berumur pendek, kita akan dikenang dengan baik,” imbuhnya menegaskan.

Tak lupa beliau juga mengutarakan nasihat pentingnya mendidik keluarga menjadi rumah tangga yang sakiinah mawaddah warohmah. Mendidik anak di zaman dimana teknologi informasi kian massif saat ini, kata dia, tidak bisa lagi dengan cara-cara yang keras dan over protektif.

“Jadikan anak-anak kita sebagai teman, rangkul mereka, jadikan dia nyaman bersama kita. Jangan sampai anak-anak lebih mengidolakan warnet dan teknologi ketimbang figur orangtuanya,” kata ayah dari 7anak ini.

“Sesungguhnya harta, anak, dan istri adalah fitnah. Ia akan menjadi berkah bagi kita seberapa jauh kita dapat mengantar mereka menjadi orang yang shaleh,” tandasnya. (ybh/hio)

Hidayatullah Kian Eksis di Dunia Maya

0

Rabu, 28 Agustus 2013 11:55

Perkemangan teknologi informasi khususnya internet tak membuat Hidayatullah skeptik seperti katak dalam tempurung. Sebab, sudah diyakini bersama bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan dan keniscayaan tersebut bagaimanapun harus dihadapi.

Praktisi IT yang telah cukup lama berkecimpung di teknologi internet, Muhammad Syakirin, S.kom, mengatakan sebuah langka yang baik ketika Hidayatullah mulai mengambil peran dalam kancah ini.

“Ruang-ruang dakwah itu sangat luas, tak terkecuali di dunia maya. Saya kira Hidayatullah perlu terus mengambil peran dalam aspek ini. Jadi, sambil dakwah Islam terus bergulir secara offline atau di dunia nyata secara sekemuka, dakwah secara online atau virtual pun jalan,” ujar Syakirin yang cukup sukses dengan usaha e-ticketing ini.

Ormas Hidayatullah adalah organisasi dan pemilik majalah Islam yang pertama kali meluncurkan portal berita, bahkan sebelum era dotcom booming di Indonesia.  Portal berita itu, sebelum domain Hidayatullah.com yang ada sekarang, dioperasikan oleh simpatisan Majalah Hidayatullah yang kuliah di Amerika Serikat dengan subdomain Geocities milik raksasa Yahoo! pada tahun 1996.

Dalam pantauan Syakirin, mulai tahun 2011 lalu, mesin pencari Google telah memverifikasi Hidayatullah.com dalam sistem crawler (rayapan) mereka sebagai portal berita sejajar dengan Reuters, CNN, Antara, atau yang terkenal Detikcom. Capaian tersebut, kata dia, harus dipertahankan. Untuk itu Hidcom harus selalu mengoptimasi diri dalam penerapan skema SEO

Advokasi dan penetrasi opini yang dibangun portal berita ini menjadikan Hidayatullah.com kini telah menjadi portal umat Islam, bukan lagi menjadi saluran transmisi ormas Hidayatullah semata. Sehingga, menurut Syakirin, portal berita yang biasa disingkat Hidcom tersebut harus diposisikan benar-benar sebagai wadah perekat umat.

“Kendati begitu, ormas Hidayatullah harus tetap mendapat porsi yang cukup untuk ruang promosi dan pemberitaan. Tapi tentu saja harus tetap proporsional agar tidak muncul persepsi dibenak pembaca portal ini kok Hidayatullah doang isinya,” ujar Syakirin mengusulkan.

Lulusan BINUS ini mengapresiasi maraknya lalu lintas informasi seputar ormas dan Pesantren Hidayatullah di daerah. Sebagaimana pantauan media ini, sejumlah wilayah dan daerah Hidayatullah telah berdiri situs-situs profesional yang menjadi wadah silaturrahim dan informasi lembaga.

Diantara daerah dan wilayah yang telah memiliki portal informasi sendiri yaitu Hidayatullah Medan, Hidayatullah Yogyakarta, Hidayatullah Karimun, Papua Barat, Surabaya, Jawa Timur, Timika, Kediri, Batam, Depok, Sleman, dan Malang. Sejumlah lembaga pendidikan Hidayatullah juga telah memiliki portal yang terdaftar secara resmi dengan domain Indonesia (ID) di Pengelola Domain Indonesia (PANDI).

“Ini menunjukkan bahwa Hidayatullah terus eksis di dunia maya. Semoga saluran transmisi tersebut dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk berdakwah, mensosialisasikan spirit peradaban Islam, dan untuk membendung opini buruk terhadap Islam,” pungas Syakirin. (ybh/hio)

Seruan Infaq Nasional Bangun Gedung Dakwah Hidayatullah

0

Selasa, 27 Agustus 2013 10:47

Segenap kader Hidayatullah di mana saja berada harus senantiasa berkomitmen membangun peradaban mulia. Peradaban mulia yakni kehidupan Islami yang di dalamnya terbangun solidaritas, manusia-manusianya penuh kasih sayang, saling mengasihi, konsisten di jalan dakwah, dan bervisi membangun umat dan bangsa.

Demikian intisari taushiah Pimpinan Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad saat menyampaikan taushiah di hadapan ratusan jamaah dalam acara Halal bi Halal di Masjid Ummul Quro Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat, Ahad (25/08/2013).

Dalam pada itu, terang beliau, tegaknya peradaban mulia tersebut harus dimulai dari unsur utama penggeraknya yaitu tercerahkan manusia.

“Manusia yang berperadaban itu adalah manusia yang tercerahkan dengan nilai spirit Ilahiyah. Jadi kalau tidak beradab berarti belum tercerahkan,” kata beliau.

Ia melanjutkan, tegaknya kehidupan yang mulia mengharuskan adanya perangkat-perangkat pendukung utama yakni adanya wilayah yang dimana di sana terdapat masjid sebagai pusat peradaban dan pembinaan umat, perpustakaan sebagai pusat ilmu, dan koperasi sebagai pusat perekonomian umat dengan prinsip Ta’awun.

“Termasuk mendesaknya dibangun Gedung Dakwah Hidayatullah di Depok ini. Keluarkan infaq terbaik kita untuk (pembangunan gedung, red) ini. Kultur berinfaq ini mesti dijaga,” pesan Ustadz Abdurrahman penuh semangat seraya menyatakan komitmen infaq pribadinya sebanyak 10 juta rupiah.

Alhamdulillah, pada acara tersebut penggalangan dana infaq untuk pembangunan Gedung Dakwah Hidayatullah di kampus Depok, terkumpul dana senilai Rp 462.000.000. Sejumlah simpatisan yang hadir pun begitu antusias menyatakan komitmennya dan tak sedikit yang langsung memberikan uang cash.  Alhamdulillah, semangat berinfaq terus terbangun.

Mari Menjaga Aqidah Islam Masyarakat Owu

0

Di Desa Owu, suatu malam. Kami tidak mendapati ada lampu pelita yang menyala. Bangunan masjid juga tampak sepi di gelap yang sudah tua itu. Tak ada riuh rendah masjid itu beraktifitas di awal pagi.

Kondisi masjid berukuran 10 x 10 meter yang terbuat dari kayu itu lengang. Hanya kami bertiga. Suasana ini seperti waktu-waktu shalat di lima waktu dalam seharinya. Nanti di hari Jumat barulah terlihat memenuhi shaf terdepannya, karena anak kecil berada di shaf ke dua itupun hanya berkisar 10 sampai 15 anak dengan pakaian sekedarnya.

Pagi yang sunyi di Desa Owu, suara kicauan burung lebih riuh dari yang saya gambarkan. Jam analog di ponsel menunjukkan jam 5.30 saat saya beranjak meninggalkan masjid bersama teman dari Mamuju Utara.

Salah satu desa di Kecamatan Riopakava, Kabupaten Donggala ini sebenarnya adalah lokasi transmigrasi yang dikhususkan bagi warga suku Kaili yang mendiami hutan di sini belasan tahun sebelum ada program transmigrasi pemerintah Sulawesi Tengah.

Berjarak sekitar 200 kilometer arah selatan kota Donggala, dengan medan tempuh belum beraspal sekitar 60 kilometer setelah lepas dari jalan poros Pasangkayu di provinsi yang berbeda, Sulawesi Barat. Itulah kecamatan Riopakava, lebih dekat jaraknya dengan Kabupaten Mamuju Utara meski beda propinsi dari pada Donggala yang menjadi ibu kota kabupatennya.

Dari pantauan kami, bahasa di sini sangat kental dialek Kaili daripada Pasangkayu meski sudah ada pembauran masyarakatnya.

Tercatat ada 51 rumah penduduk tertata rapi. Awalnya tidak terdapat fasilitas umum seperti sarana Mandi Cuci Kakus (MCK), sarana pendidikan maupun kesehatan. Mungkin karena tempatnya yang bersebelahan dengan unit pemukiman transmigrasi umum sehingga sekarang  terlihat beberapa fasilitas tadi sengaja dibangun di perbatasan dengan tujuan memudahkan jangkauan.

Yang menarik bagi saya adalah, suasana mesjid dan kegiatannya. Saya tidak melihat ada al-Quran maupun buku-buku pelajaran lain di mimbar masjid yang biasa dibuat sekaligus berfungsi sebagai rak buku khutbah dan al-Quran.

Kegiatan dakwah mulai terlihat ketika Ustadz Abdy Roziqin, dai utusan Asia Muslim Charity Foundation (AMCF) yang berdomisili di Desa Pantolobete, sekitar 20 kilometer dari desa itu mulai mengalihkan kegiatannya ke Desa Owu.

Beratnya medan serta tantangan cuaca yang membutuhkan niat dakwah kuat membuat Abdi Roziqin memilih untuk bertahan dengan beradaptasi semampunya. Terpeleset dan akhirnya jatuh dengan istri dan 4 anaknya saat naik motor di jalan yang terjal, mendorong sepeda motor karena ban bocor, tidak ada jaringan seluler, kebiasaan ini menjadikannya nikmat dengan pilihannya.

Saya sendiri saat dengan keluarga menuju ke tempat itu menggunakan sepeda motor di beberapa pendakian dan jalan rusak harus menurunkan semua penumpang dan barang.

Memang menarik bagi saya untuk lebih dekat dengan masayarakat di sini. Karena pola hidup yang sebelumnya cenderung nomaden itu sangat mempengaruhi gaya hidup dan pola pikir masyarakat Owu umumnya meski semuanya muslim.

Meski ada ruang pertemuan desa yang digunakan sebagai ruang belajar murid sekolah dasar di pagi hari, masih ada saja anak-anak yang berkeliaran, ada yang asyik bergerombol mencari ikan di pinggir sungai dan sebagian lain disibukkan dengan anak burung yang baru menetas di sarangnya yang sudah berhari-hari mereka intai.

“Malaska’ sekolah, apa ditumpuk (digabung-red) kita di satu ruangan,” kata Rijal menjelaskan alasannya dengan logatnya yang khas.

Memang saya melihat kondisi ruangan yang jauh di bawah standar pendidikan kita. Di ruangan 6 x 10 itu berjejal 20 murid dengan berbeda kelas di jenjang sekolah dasar, sesekali terlihat ibu guru menyeka keringat yang muncul di keningnya.

Tidak terdapat taman pendidikan qur’an atau rumah-rumah yang biasanya didatangi anak-anak di sore hari yang berbondong-bondong dengan Quran atau buku Iqra’ lusuhnya.

Tidak jua terlihat pula kerumunan ibu-ibu yang rutin di majelis taklim, bahkan melihat perempuan berjilbab mereka sedikit asing. “Tidak panaskah komiu (kamu) punya badan,” rupanya ada yang tertarik bertanya.

Di atas Mega Pro tua yang mengantarku pulang, sempat saya menghayal “Kalau saja kedatanganku bulan depan ada sesuatu yang bisa saya bawa untuk mereka, kotak kanan berisi jilbab dan kotak kiri berisi Qur’an lalu disambut senyum khas Owu yang bercampur air merah pinang disudut bibir”. Owu, jauh dari keramaian dan pikiran semua orang. (Laporan Muhammad Bashori, dai dan reporter Hidayatullah.or.id di  Mamuju Utara)

“Loyal Pada Agama, Maka Akan Baik Semua”

0

Peradaban Islam memiliki banyak fakta yang mutlak adanya. Di antaranya adalah loyalitas terhadap agama Islam ini. Kaum Muslimin pun seharusnya lebih loyal kepada agama daripada kelompok masing-masing.

Demikian seruan Pimpinan Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad dalam acara Silaturrahim Jamaah Hidayatullah di Masjid Ummul Quraa, Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Ahad (25/8/2013) kemarin.

“Ada kepemimpinan yang loyal terhadap agama ini, terhadap syariat ini. Kalau tidak loyal tidak bisa,” ujarnya di depan 300-an hadirin yang datang dari wilayah Jabodebek.

Menurut beliau, selain pemimpin, yang dipimpin pun mesti loyal kepada Islam.

“(Jadi sejatinya, red) bukan loyalnya kepada organisasi, bukan loyalnya kepada administrasi. Tapi kalau orang sudah loyal kepada agama, itu otomatis (loyal kepada organisasi), karena itu embel-embel aja,” lanjutnya.

Salah satu bentuk loyalitas dimaksud, jelasnya, para pemimpin harus berani menyuruh jamaahnya shalat. Tanpa henti, tanpa bosan, dan tidak masa bodoh.

Fakta-fakta Peradaban Islam

Ustadz Abdurrahman juga menyampaikan, fakta-fakta peradaban Islam lainnya adalah infrastruktur. Hal ini meliputi adanya sebuah kawasan sebagai miniatur peradaban Islam.

“Untuk melaksanakan syariat harus ada keamanan (dalam kawasan). Bukan aman dari perampok saja, tapi aman dari sistem budaya,” ujarnya.

Sekarang ini, sambungnya, semua orang resah, merasa tidak aman dari gempuran budaya asing. Di pesantren pun, keresahan itu tetap ada.

Sehingga, dia mengimbau agar setiap kepala keluarga mengontrol rumah baik-baik. Terutama ibadah tiap anggota keluarga.

“(Penghuni) rumah-rumah harus dikontrol, baca al-Qur’an tidak. Jangan-jangan tidak pernah khatam sebulan. Kalau tidak, jebol, masuk infiltrasi budaya (asing),” pesannya.

Dikatakan pula, ukhuwah Islamiyah akan terbangun dengan tegaknya shalat berjamaah. Tanpanya, ukhuwah takkan terjalin.

Ustadz Abdurrahman pun menyayangkan adanya benturan sesama aktivis Islam selama ini. Benturan tersebut, menurutnya, disebabkan harta.

Sehingga, untuk menghindari itu, kultur berinfaq harus digiatkan. Orang yang berperadaban Islam, ujarnya, pasti gemar berinfaq. Dengannya, martabat orang tersebut akan meningkat.

“Jangan terpukau dengan kemewahan dunia. Jangan menghabiskan waktu dengan mengejar dunia ini, karena akan kecewa di akhirat,” tegasnya.

Dia juga menyampaikan, hal penting lain dalam membangun peradaban Islam adanya moralitas. Moral terbangun jika ada spiritualitas. Spiritual terlahir dari bimbingan wahyu-wahyu Allah.

Selain moral, ada pula idealisme yang terus ditajamkan. Dari kesemua itu, akan lahir karya-karya yang baik, terang Abdurrahman. [Skr aljihad]

Menuju Lahirnya Kepemimpinan dan Umat Terbaik

0

KERESAHAN begitu dirasakan Abdullah Said melihat maraknya judi di sebuah sudut kota Makassar. Hampir setiap hari, siang dan malam, puluhan warga berhura-hura dan memasang taruhan. Ingar bingar judi begitu mengusik warga lainnya.

Malam itu, Rabu, 27 Agustus 1969, rasa sabar ustaz kelahiran 17 Agustus 1945 ini ternyata habis. Ia harus menghentikan aktivitas judi tersebut sebelum merusak mental banyak warga lainnya. Maka dikumpulkannya pemuda-pemuda Muhammadiyah untuk melakukan pengganyangan.

Kamis malam, kader-kader yang telah digembleng Abdullah Said di Maros dan pemuda-pemuda Muhammadiyah kota Makassar melakukan penyerbuan dan mengobrak-abrik tempat perjudian tersebut.

Peristiwa yang menghebohkan di Sulawesi Selatan itu membuat ruang tahanan Kodim 1408 Makassar penuh sesak. Banyak tokoh dan pemuda Muhammadiyah ditahan aparat. Sedangkan Abdullah Said atas saran pimpinan Muhammadiyah dan teman-teman yang ditahan untuk tidak menyerahkan diri dan meninggalkan kota Makassar.

Akhirnya, Abdullah Said pun hijrah ke Balikpapan pada Maret 1970. Dalam hati pemuda kelahiran Lamati Rilau (Panreng), Sinjai Utara ini, dirinya ingin terus menyiarkan Islam.

Langkah awal yang dilakukan adalah mencari bibit kader. Maka dilakukanlah penggalangan anak muda yang ada di kampung-kampung Balikpapan saat itu. Mereka dikumpulkan untuk dikader beberapa bulan.

Kemudian pada 1971, Abdullah Said kembali mengadakan pemusatan pelatihan Darul Arqam I, dan tahun 1972 TC Darul Arqam II. Dia pun aktif membentuk dan mengisi pengajian rutin di beberapa masjid di Balikpapan selang dua tahun di Balikpapan.

Ketika pengajian binaan Abdullah Said mulai marak, beliau pun berpikir untuk mendirikan sebuah pesantren sebagai pusat pengkaderan dai. Dalam misi ini, ia melibatkan beberapa ustaz muda jebolan pesantren terkenal seperti Gontor, Krapyak, dan Pendidikan Majelis Tarjih Muhammadiyah Jogjakarta.

Apa yang dicita-citakan Abdullah Said sebagai langkah awal untuk mendirikan pesantren ternyata kesampaian, bahkan melampaui target. Tenaga pengajar yang “diangkut” dari Jawa itu mampu mengajar Bahasa Arab, misalnya Muhammad Hasyim. Kemudian, Kisman yang mampu mengajar Bahasa Inggris dan pelajaran tajwid dilakukan oleh Ahmad Hasan Ibrahim. Pengajar untuk dasar-dasar Islam dan pelajaran tafsir dan hadis adalah Usman Palese dan Nazir Hasan.

Awalnya pesantren yang dirintis Abdullah Said bernama Pondok Pesantren Pangeran Hidayatullah. Pengambilan nama ini cukup berani karena merupakan nama pejuang asli Kalimantan dan untuk menarik perhatian masyarakat serta membuka mata masyarakat Balikpapan bahwa akan didirikan sebuah pondok pesantren pertama.

Lokasi Ponpes Hidayatullah awalnya berada di rumah Muhammad Rasyid di Gunung Sari. Jasa pengusaha sukses ini luar biasa dalam menopang gerakan dakwah Abdullah Said dan kawan-kawan.

Pada 26 Januari 1974, lokasi pesantren pindah di sebidang tanah yang berdekatan dengan rumah seorang tua bernama Puang Pani di Karang Rejo. Kawasan ini masih sepi, di sekitarnya hanya terdapat 3 rumah. Selama 11 bulan di tempat itu para santri mendapatkan pengalaman spiritual yang tak terlupakan sepanjang masa.

Tahun 1975, seorang dermawan dan tokoh masyarakat di Karang Bugis, Andi Kadir Mappasossong, memberikan wakaf tanah seluas setengah hektare di Karang Bugis. Di atas lahan ini dibangun sebuah masjid darurat, perpustakaan, gedung serba guna untuk tidur, belajar, makan, dan terima tamu.

Setelah lokasi formal sudah ada, mulailah usaha mencari bahan bangunan berupa papan, balok, semen, dan dana segar digencarkan. Uniknya, terobosan pertama ini lebih banyak berhasil dilakukan para ibu lewat santri putrinya dibanding putra.

Namun, Karang Bugis dirasa bukan lokasi yang representatif untuk mendirikan pesantren. Sebab, kota tersebut terasa sempit dan tak punya peluang untuk perluasan wilayah. Selain itu, lingkungan sekitar tidak menolong untuk proses pendidikan yang diinginkan.

Untunglah, pada 1976, Asnawi Arbain, wali kota Balikpapan saat itu memberi wakaf tanah seluas lima hektare di Gunung Tembak. Modal inilah yang kemudian dikembangkan hingga menjadi pesantren Hidayatullah yang berdiri sampai sekarang.

Masjid sederhana pun mulai dibangun, kebun, kolam ikan, dan unit-unit keterampilan mulai dibuka. Pada Rabu pukul 15.00, 3 Maret 1976, lokasi ini mulai dimasuki santri. Peristiwa ini sering disebut peristiwa yang berkait dengan angka 3 yakni; hari ke 3 (Rabu) jam 3 (15.00), tanggal dan bulan ke-3, hijrah ke-3 dan di Km 33.

Selama lima bulan semua tenaga dikerahkan untuk menata pondok pesantren. Semak belukar dibabat, rawa dibersihkan, hingga kemudian berdiri pemukiman yang cukup artistik dilengkapi sebuah masjid darurat, perpustakaan sederhana, gedung keterampilan, asrama, dan ruang belajar.

Sementara perumahan para ustaz, termasuk rumah pimpinan pesantren, masih dalam kondisi sangat darurat. Dan, dalam kesederhanaan itulah, 5 Agustus 1976, Pesantren Hidayatullah diresmikan oleh Menteri Agama yang kala itu dijabat Prof Mukti Ali.

Kehadiran menteri agama dan tokoh-tokoh masyarakat memberi energi baru bagi Abdullah Said, seluruh pengurus, serta santri-santri. Mereka makin bersemangat dalam melangkah menuju masa depan yang lebih cerah. Ini dibuktikan dengan kian meningkatnya kegiatan pembenahan kampus.

“Ini adalah upaya menuntut rida Allah dan untuk merintis jalan menuju kejayaan Islam. Kita tengah menggurat sejarah di tempat ini,” ungkap Abdullah Said kala itu yang ditirukan Sujaib, Bendahara Pesantren Hidayatullah, beberapa hari lalu.

Ia melanjutkan, dalam masa pendidikan santri-santri memang terus digembleng. Termasuk diuji dengan hijrah sampai tiga kali, yakni dari Gunung Sari ke Karang Rejo, kemudian ke Karang Bugis dan ke Gunung Tembak.

Tahun-tahun berikutnya diisi dengan pengiriman tim dakwah ke seluruh pelosok Kalimantan Timur, sembari berupaya memperluas areal kampus.

Pengiriman santri ini bertujuan memperkenalkan diri kepada masyarakat Kalimantan Timur sekaligus mencari santri di pelosok-pelosok desa. Pengiriman santri ini selanjutnya tak cuma terbatas di Kaltim, tetapi juga di pelosok tanah air, bahkan sampai ke Wamena, Irian Jaya.

Baik santri yang dikirim ke pelosok maupun santri yang tinggal di pesantren diajarkan untuk hidup mandiri sebagaimana dilakukan para pendahulu mereka. Setiap kali mereka datang ke suatu daerah biasanya para santri ini tidak dibekali dana memadai.

Mulai 1978 mereka merintis lembaga pendidikan mulai dari sekolah dasar atau Madrasah Ibtidaiyah sampai sekolah tinggi. Tiga yang terbesar adalah Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Hidayatullah (STIM-HIDA) di Depok, Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim (STAIL) di Surabaya, dan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STIS Hidayatullah) di Balikpapan sebagai lembaga pendidikan untuk pengkaderan dai.  Setiap tahunnya, Hidayatullah sukses meluluskan sedikitnya 320 mahasiswa sarjana kader dai

Hidayatullah juga berkembang dengan berbagai amal usaha di bidang sosial, dakwah, dan ekonomi serta menyebar ke berbagai daerah di seluruh provinsi di Indonesia. Seiring dengan tumbuhnya organisasi ini, melalui Musyawarah Nasional pertama pada 9-13 Juli 2000 di Balikpapan, Hidayatullah mengubah bentuk organisasinya menjadi organisasi kemasyarakatan (ormas) dan menyatakan diri sebagai gerakan perjuangan Islam. Sampai 2013, organisasi ini memiliki 33 DPD, 296 DPW, dengan ratusan DPC, PR, dan PAR yang terus bertambah.

“Hidayatullah benar-benar murni lahir dari sebuah ide, dengan modal semangat heroik yang digembleng dengan banyak organisasi yang melatari pendirinya. Seorang ideolog sejati yang membuat kita mengerti Islam yang sebenarnya,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Hidayatullah Abdul Mannan saat Silaturahmi Nasional Hidayatullah di Balikpapan medio Juli lalu.

Agenda utama Hidayatullah adalah pelurusan masalah akidah, imamah dan jamaah (tajdid); pencerahan kesadaran (tilawatu ayatillah); pembersihan jiwa (tazkiyatun-nufus); pengajaran dan pendidikan (ta’limatul-kitab wal-hikmah) menuju lahirnya kepemimpinan dan umat terbaik. (Kaltim Post, 10/08/2013).

“Kader Bermental Pengusaha, Jadilah Entrepreneur”

0

Rabu, 21 Agustus 2013 12:33

Dorongan besar selayaknya disampaikan kepada para pengusaha Muslim, khususnya kader Hidayatullah, agar lebih sukses dalam usahanya. Yang bermental pengusaha, jadilah seorang entrepreneur yang amanah dan berkarakter.

Hal itu disampaikan Sekjen PP Hidayatullah Ir Abu A’la Abdullah yang juga mendorong pemerintah untuk selalu melakukan pembinaan dan dukungan terhadap pengusaha kecil.

Mereka, para pengusaha kecil biasanya tak memiliki banyak modal. Ketika akan meminjam uang ke bank untuk pengembangan usaha, kata Abu, mereka tak mempunyai jaminan. Tentu saja pihak perbankan keberatan memberikan dana kepada mereka.

“Padahal, dana tersebut sangat dibutuhkan. Karena itu, sebaiknya lembaga keuangan syariah memberikan bantuan,” kata Abu A’la dikutip Harian Republika, belum lama ini.

Di sisi lain, ia berharap lembaga amil zakat turut berperan dalam pengembangan ekonomi umat ini, yaitu memberdayakan para pengusaha kecil.

Ia melihat sudah ada beberapa lembaga zakat yang telah menginisiasinya. Di antaranya, Dompet Dhuafa dan Baitul Maal Hidayatullah. Mereka membantu pengusaha kecil itu dengan dana pengembangan usaha.

Abu mengatakan, pengusaha Muslim yang sudah mapan dapat pula melakukan aksi yang sama. Mereka membina orang lain agar bisa mandiri secara ekonomi. Dengan demikian, nantinya akan semakin banyak Muslim yang memiliki usaha sendiri

Sementara itu, pakar ekonomi syariah Muhammad Syafii Antonio mengatakan perlunya memperkuat bidang ekonomi. Ia juga mengapresiasi langkah sebagian orang yang berusaha mewujudkan kerajaan bisnis dengan mengandalkan kekuatan dana umat.

Seperti sekarang yang digalang oleh Ustaz Yusuf Mansur. Baginya ini niatan yang baik. Sang ustaz menghimpun dana masyarakat untuk mengembangkan usaha ekonomi.

Meski demikian, semangat semacam ini mesti didukung sistem administrasi mumpuni.  Dengan demikian, tak ada permasalahan hukum dan lainnya di kemudian hari.

“Sebab, jika investasi yang berlaku, banyak skema yang bisa dilakukan agar investasi ini berkembang baik,” kata Syafii, di harian yang sama.

Namun, yang pasti pengelolaan dana ini harus menyertakan pihak ketiga, baik berupa bank maupun manajemen investasi. Hal lain yang perlu diperhatikan, investasi mestinya sesuai syariah.

Ia meminta seluruh upaya membangun ekonomi umat yang dilakukan lewat investasi bersama seharusnya tak melanggar aturan syariah.

Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Fahmi Salim mengatakan, penguatan ekonomi perlu segera dilakukan. Banyak terobosan yang ia harapkan agar umat Islam menguasai perekonomian karena selama ini terpinggirkan.

Menurut Fahmi, langkah penting yang dapat dijalankan adalah memperkuat jaringan pengusaha Muslim. Bagi Fahmi, dibutuhkan keberanian untuk mengajak dan menggerakkan para pemilik modal untuk mengembangkan usaha yang menguntungkan umat Islam. *

Digelari Umar bin Khattab, Dikenang Pemimpin Lurus

0

SATU Subuh pada 1974. Suara azan baru selesai bergema untuk wilayah Karang Bugis, Balikpapan. Santri Hidayatullah khusyuk membaca Alquran. Sebagian lagi sedang menikmati dua rakaat salat sunah qabliyah fajar.

Tiba-tiba, mereka dikejutkan dengan kedatangan orang nomor satu di Balikpapan ketika itu. Letkol H Asnawi Arbain, wali kota Balikpapan datang berkunjung secara mendadak ke Pesantren Hidayatullah.

Menilik waktunya yang berbeda, ini tentu bukan kunjungan biasa. Rupanya benar. Asnawi datang ingin mengecek kebenaran laporan yang ia terima dari seseorang. Ia dapat laporan ada kegiatan eksklusif yang diadakan sekelompok pemuda di Karang Bugis. Kegiatan yang menurut laporan terindikasi sebagai ajaran sesat dan dianggap meresahkan masyarakat.

Setelah berdialog dengan Abdullah Said, pendiri Pesantren Hidayatullah, Asnawi mendadak berubah pikiran. Jika sebelumnya sempat curiga, setelah itu Asnawi justru langsung menawarkan bantuan berupa peralatan tidur para santri. Sejak itulah keakraban Pesantren Hidayatullah dan Asnawi terjalin mesra. Selanjutnya mudah ditebak. Layaknya keislaman Umar bin Khattab, Asnawi berubah menjadi salah satu benteng kokoh utama Hidayatullah.

“Dulu Almarhum (Abdullah Said) biasa menggelari Pak Haji (panggilan Asnawi) itu dengan julukan Umar bin Khattab,” kenang Amin, seorang santri awal Hidayatullah, lantas tersenyum. Kiprah Asnawi tak berhenti sampai di situ. Dalam urusan pembebasan lahan pertama Hidayatullah di Gunung Tembak, Asnawi lagi-lagi menorehkan tinta emas kemurahan hatinya. Ketika ia mendapat laporan lokasi yang ditemukan, Wali Kota Balikpapan periode 1974-1981 ini segera meluncur menemui Darman, pemilik tanah di Gunung Tembak.

“Tanah ini milik saya, Pak. Di dalamnya pernah saya buka usaha pembakaran batu bata, tapi sekarang sudah berhenti,” ujar Darman kepada Asnawi. Usai mendapat penjelasan dari Wali Kota perihal keberadaan dan kebutuhan pesantren akan lokasi dakwah, Darman tiba-tiba menangis. Antara sedih dan haru. Hanya saja tak ada yang tahu, mengapa ia menangis ketika itu. Hingga beberapa tahun berselang, Darman lalu menjelaskan.

“Sudah dua tahun lamanya saya pernah bermimpi didatangi orang berpakaian putih dengan muka yang bercahaya. Sejak itu saya tidak pernah lagi makan nasi. Saya hanya makan buah-buahan dan minum air putih. Saya juga tidak tahu mengapa saya berbuat demikian. Hanya dalam hati saya ada perasaan bahwa ini pasti kebaikan yang akan muncul di tempat ini,” tutur Darman, yang juga ketua RT setempat.

Singkat kata, Wali Kota memberi instruksi kepada Abdul Muin, kepala Agraria Balikpapan saat itu untuk meninjau langsung lokasi bersejarah tersebut. Akhirnya, tepat tanggal 3 Maret 1976, Gunung Tembak menjadi lokasi baru Pesantren Hidayatullah. Selang dua hari, atas permintaan Asnawi juga, Darman resmi menyerahkan tanahnya kepada Pesantren Hidayatullah. Tercatat, lokasi tersebut seluas 5,4 ha dan diserahkan pada Sabtu, 5 Maret 1976. Atas inisiatif Wali Kota, Darman diberangkatkan ke Tanah Suci bersama istrinya untuk naik haji. Sepulang haji, nama Darman lalu diubah menjadi H Darmawan.

MERAKYAT

Ciri kebaikan itu niscaya melahirkan kebaikan selanjutnya. Demikian rumus kehidupan mengajarkan. Selanjutnya, irama langkahan Hidayatullah tak pernah sepi dari kemurahan hati Asnawi Arbain. Meski berstatus Wali Kota Balikpapan, bersama sang istri, Asnawi tak sungkan turun tangan langsung membantu kebutuhan di lapangan. Termasuk dalam urusan mencari dana di masyarakat. “Istri Pak Haji itu teman akrab dengan ibu saya (Ibu Aida Chered),” ungkap Muntadziruzzaman, putra bungsu Abdullah Said. “Mereka berdua sampai ikut keliling cari dana di masyarakat,” imbuhnya.

Asnawi Arbain bukan lagi sekadar Wali Kota bagi santri Hidayatullah di Balikpapan. Tapi Asnawi juga berperan sebagai orangtua yang mengayomi dan membina santri. Lebih dari itu, mantan Bupati Bulungan, Kaltim ini juga sebagai sahabat karib, tempat para santri dan warga Hidayatullah berbagi masalah.

Tanggal 5 Agustus 1976, diadakan peresmian Pondok Pesantren Hidayatullah di kampus Gunung Tembak. Berbeda dengan pejabat pemerintah lain, Asnawi malah lebih memilih sebagai “yang punya hajat” atau yang turut mengundang. Tampak beberapa tokoh hadir dalam acara peresmian. Di antaranya Prof Dr KH Mukti Ali, MA (Menteri Agama RI), KH Abdullah Syafi’i (Ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat) dan putrinya Tutty Alawiyah, serta HA Wahab Sjahranie (Gubernur Kaltim).

Demikian seterusnya, sesuai janji Allah. Dia dan Pertolongan-Nya sangat dekat kepada hamba-Nya yang menolong agama Allah. Kemesraan berjuang di jalan Allah terus terjalin antara Pesantren Hidayatullah dan Asnawi Arbain. Tercatat, blangko permohonan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) yang diedar oleh para santri Hidayatullah itu ditandatangani oleh Wali Kota Balikpapan sejak 1974.

Tradisi ini lalu dilanjutkan oleh penerusnya Wali Kota Syarifuddin Yoes. Pak Yoes, demikian sapaannya, bahkan pernah membubuhi tandatangan langsung hingga ribuan lembar Proposal Pembangunan Masjid Hidayatullah. Ketika disodori stempel tandatangan, dengan tersenyum Pak Yoes berujar, “Semoga menjadi amal bagi saya”.

Kiprah keteladanan dan kebaikan Asnawi Arbain tak hanya dirasakan oleh warga dan santri Pesantren Hidayatullah. Tapi seluruh masyarakat Balikpapan turut merasakan hal yang sama. Hal itu disampaikan oleh Rizal Effendi, wali kota Balikpapan sekarang dalam sambutannya saat takziyah di kediaman almarhum beberapa hari yang lalu.

“Beliau (Asnawi Arbain) adalah pemimpin yang lurus,” ucap Rizal di hadapan ratusan warga yang melayat di rumah duka Jalan Wiluyo Puspoyudo, Balikpapan, Sabtu (27/7) lalu.

“Dialah sesungguhnya peletak pertama pondasi awal konsep Balikpapan religius (kini dikenal dengan istilah Balikpapan Madinatul Iman),” lanjut Rizal.

Senada dengan itu, Awang Faroek Ishak, gubernur Kaltim saat ini, juga tak segan memberi apresiasi kepada Asnawi yang tak lain merupakan purnawirawan.

“Asnawi Arabin adalah sosok teladan pemimpin yang punya jiwa integritas tinggi,” ungkap Awang dalam sambutan takziyah mewakili pemerintah Kaltim.

Kini Asnawi Arbain telah berpulang menghadap Sang Pencipta. Pada pengujung usianya, ia masih sempat meluangkan waktunya membina Pesantren Insan Kamil di dekat kediamannya di Balikpapan. Sebelum meninggal, Asnawi juga sempat berpesan untuk dikubur di lokasi pesantren yang dibinanya itu. Atas wasiat tersebut, pihak keluarga akhirnya menolak tawaran untuk dikebumikan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Balikpapan.

Asnawi Arbain wafat pada usia 87 tahun di Rumah Sakit Pertamina Balikpapan, meninggalkan 12 anak dan 33 cucu. Jumat, (26/7), bertepatan dengan 17 Ramadan 1434 H adalah hari terakhir masa hidup beliau di dunia. (*/kp/bjo/far/k1)