Beranda blog Halaman 681

Hidayatullah dan Umat Islam di Malang Tuntut THM Ditutup

Senin, 08 Juli 2013 22:06

Hidayatullah bersama sekitar 900 umat Islam berunjukrasa menuntut penutupan tempat hiburan malam (THM) dan pembatasan minuman keras. Dalam aksinya pengunjukrasa yang tergabung dalam Barisan Santri dan Masyarakat Muslim Malang Raya ini menutup Jalan Raya Tugu depan Balaikota Malang, Senin 8 Juli 2013.

“Tutup segala tempat hiburan selama bulan puasa,” kata koordinator aksi Muhammad Ghozali dalam orasinya.

Mereka meminta pemerintah agar bersikap tegas terhadap segala bentuk kemaksiatan selama bulan suci Ramadhan. Jika pemerintah tak menghiraukan tuntutan itu massa mengancam akan menuntup paksa tempat hiburan malam  secara sepihak.

Pengunjukrasa juga mendesak agar pemerintah mengambil sikap tegas terhadap maraknya penjualan minuman keras di minimarket. Apalagi menjual minuman keras dilarang sesuai Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 5 tahun 2006. “Prakteknya banyak supermarket yang menjual miras, ini jelas melanggar peraturan daerah,” kata dia.

Selain tidak sesuai peraturan daerah, penjualan minuman keras juga melanggar Peraturan Presiden nomor 3 tahun 1997. Penjualan minuman keras dikecualikan bila dilakukan di tempat khusus, yakni  hotel, bar, restoran dan tempat yang sudah ditetapkan oleh kepala daerah. “Peraturannya sudah jelas tapi masih banyak yang dilanggar,” kata Ghozali.

Ghozali memberi tenggat sampai bulan puasa. Bila masih banyak pelanggaran terhadap penjualan minuman keras massa  mengancam akan melakukan aksi penertiban dengan melibatkan unsur kepolisian, Majelis Ulama Indonesia dan Forum Kerukunan Umat Beragama.

Aksi massa tersebut didukung oleh berbagai organisasi masyarakat seperti Hidayatullah, Jamaah Ansharut Tauhid dan sejumlah jamaah lain di Malang.

Mereka membetangkan poster dan spanduk  bertuliskan “Wahai wanita muliakan dirimu dengan menutup aurat”; “Berantas kemaksiatan, raih kemulyaan”; “Tutup tempat maksiat”; “Jangan nodai bulan Ramadan dengan kemaksiatan”.

Juru bicara Pemerintah Kota Malang, Ade Herawanto menyatakan menerima aspirasi massa. Mengenai penjualan miras katanya, disesuaikan dengan mekanisme dan aturan yang berlaku. “Selama bulan puasa tempat hiburan ditutup sesuai peraturan wali kota,” katanya seperti dikutip Tempo.

Kemenag dan Hidayatullah Bangkalan Ikut Pantau Hilal

Tim rukyat dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Senin (8/7/2013) sore kemarin, menyatakan gagal melihat hilal di Pantai Desa Gebang, Kecamatan Bangkalan.

“Hilal tidak berhasil kami lihat. Berdasarkan perhitungan masih kurang dari satu derajat di bawah ufuk,” kata Kepala Kantor Kementerian Agama Bangkalan, Amin Mahfud seperti dikutip Kompas.com.

Kemenag selanjutnya melaporkan hasil rukyat yang dilakukan itu ke Menteri Agama sebagai pertimbangan untuk menetapkan tanggal 1 Ramadhan kali ini.

Selain NU dan Hidayatullah, sejumlah organisasi keagamaan lainnya seperti Persatuan Islam (Persis) juga bergabung dengan tim Kemenag Bangkalan untuk melakukan rukyatul hilal.

Desa Gebang, Kecamatan Kota, Bangkalan, merupakan salah satu lokasi yang biasa digunakan Kemenag setempat untuk melakukan rukyatul hilal setiap hendak menentukan tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawal.

Rukyatul hilal juga digelar di Pantai Desa Ambat, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan.

Mahfud MD Dorong Hidayatullah Lanjutkan Kiprah Bangun Integritas Bangsa

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mohammad Mahfud MD, mengatakan Indonesia mempunyai semua hal untuk menjadi bangsa yang besar dan berwibawa, namun kita tidak punya orang untuk mengelola. Sebab umumnya pemangku amanah rakyat berprilaku seperti kancil pilek.

Mahfud meminta agar Hidayatullah tidak berhenti berupaya mengisi kekosongan tersebut dengan kiprah nyata membangun integritas bangsa melalui dakwah dan pendidikan.

Hal itu disampaikan Mahfud dalam sesi diskusi umum bertajuk “Membangun Integritas Bangsa” di arena Silatnas Hidayatullah, Balikpapan, Kaltim, beberapa waktu lalu.

“Untuk melakukan perubahan di negeri ini, kita membutuhkan orang yang berani. Bukan hanya berani tapi juga bersih, atau merah putih. Merah berarti berani, putih berarti suci. Tapi nyatanya kebanyak seperti kancil pilek,” kata Mahfud di hadapan ribuan peserta Silatnas Hidayatullah.

Mahfud kemudian menuturkan sebuah anekdot ihwal kancil pilek ini. Konon, ada seekor singa yang menjadi raja hutan yang sangat disegani. Saking gaharnya, rakyat hutan enggan berbicara dengan si raja.

Suatu hari, sang raja mengadu ke ibu singa perihal perilaku rakyatnya yang tidak mau berbicara apalagi menghadap kepadanya. Ibunya pun menyatakan bahwa rakyat hutan tak mau mendekat padanya karena tubuh raja bau.

Mendengar penjelasan ibunya, sang raja rimba itu sedikit murka. Dikumpulkanlah semua rakyatnya untuk membuktikan pernyataan itu. Yang pertama dipanggil adalah kijang, “benarkah tubuhku bau?” Tanya raja. Si kijang menjawab seadanya bahwa tubuh raja memang bau, “bau sekali raja,” kata kijang. Raja murka, dihabisilah kijang itu.

Giliran kedua, anjing dipanggil maju. Ditanya raja dengan pertanyaan serupa, si anjing rupanya ingin mencari selamat. Dia bilang tubuh raja tidak bau bahkan justru harum sekali. Tak dinyana, ternyata si anjing juga dicabik-cabik sampe tewas karena menyinggung perasaan sang raja. “Wong ibuku aja bilang saya bau,” guman raja.

Giliran ketiga, kancil dipanggil maju. Melihat kanan kirinya telah tewas kijang dan anjing, kancil juga khawatir berakhir tragis. Kancil memang cerdik, saat ditanya benarkah tubuh raja bau, dia jawab, “maaf raja, saya lagi pilek tidak bisa membau”. Alhasil si kancil pun aman.

“Umumnya perilaku birokrat dan pejabat kita seperti kancil pilek layaknya anekdot tadi, hanya cari aman, tidak berani, dan penuh kepura-puraan. Tentu tidak semua, yang baik juga banyak tapi kalah populer oleh kancil pilek,” katanya kemudian.

Kata Mahfud, kekayaan Indonesia luar biasa. Soliditas sosial juga terjaga. Yang kita tidak punya, kata dia, adalah integritas dan penegakan hukum. Setiap program pemerintah selalu beranggaran besar. Namun kita tetap saja terpuruk dalam bidang ekonomi karena korupsi, sebab hukumnya tidak pernah ditegakkan dengan benar.

“Kita harus punya komitmen untuk menegakkan hukum. Membangun strong leadership. Negara ini akan beres lebih dari 50 persen kalau hukum ditegakkan. Saya yakin, seyakin yakinnya,” tegasnya.

“Momentum ini sangat penting karena kita menyongsong berbagai agenda nasional ke depan yang diharapkan dapat membangun integrasi bangsa,” kata Mahfud.

Lebih jauh ia mengatakan Hidayatullah telah berhasil dalam gerakan dakwahnya. Sejak tahun 70-an akhir Mahfud mengaku sudah mengenal Hidayatullah ketika dirinya menjadi mahasiswa di Yogyakarta.

Pada waktu itu, akunya, belum banyak organisasi organisasi yang betul betul menonjol kecuali yang sudah ada lebih dulu seperti NU dan Muhammadiyah.

“Tapi waktu itu Hidayatullah muncul memberikan wawasan baru melengkapi yang sudah ada. Sehingga saya merasa Hidayatullah adalah suatu organisasi dakwah amar ma’ruf nahi munkar, yang saya yakin, berhasil melakukan gerakan Islam Indonesia dan memberi warna terhadap kehidupan politik,” tandasnya.

Isi Lengkap Piagam Gunung Tembak

Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah 2013 telah berakhir. Hajatan yang digelar di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur (22-24/6/2013) ini melahirkan Piagam Gunung Tembak. Berikut bunyi lengkap piagam tersebut.

 

Bismillaahirrahmanirrahiim

1. Bahwa membangun Peradaban Islam adalah jihad bagi setiap orang yang beriman.

 

2. Bahwa pusat Peradaban Islam adalah masjid. Oleh karena itu, setiap kader Hidayatullah wajib memakmurkan masjid sebagai pusat kegiatan ibadah, pusat pengembangan ilmu, pusat kebudayaan Islam, pusat pengembangan karakter dan kepemimpinan umat.

 

3. Bahwa setiap kader Hidayatullah wajib melaksanakan shalat berjamaah di masjid, melazimkan shalat nawafil, terutama qiyamul lail, membaca al-Qur’an dan melaksanakan amalan ibadah sesuai dengan ketentuan syari’ah.

 

4. Bahwa setiap kader Hidayatullah adalah generasi Rabbani yang wajib menghidupkan majelis ilmu, membangun tradisi keilmuan dan berdakwah menyebarkan Islam. Oleh karena itu kader Hidayatullah wajib berhalaqah sebagai sarana untuk melakukan transformasi ilmu, transformasi karakter dan transformasi sosial.

 

5. Bahwa kader Hidayatullah harus menjadi generasi yang berkarakter, peduli, suka menolong, gemar berkorban, tawadhu’, militan, qana’ah, wara’ dan mengutamakan kehidupan akhirat.

 

6. Bahwa setiap pemimpin dan kader Hidayatullah wajib menjadi teladan di tengah umat. Untuk itu setiap kader harus membangun soliditas jamaah dan ukhuwah Islamiyah.

 

Gunung Tembak, 24 Juni 2013

 

Atas Nama Seluruh Jamaah dan Kader Hidayatullah

 

1. Abdurrahman Muhammad (Pimpinan Umum)

2. Hamim Thohari (Ketua Dewan Syura)

3. Abdullah Ihsan (Ketua Majelis Pertimbangan Pusat)

4. Abdul Mannan (Ketua Umum)

Silatnas Hidayatullah Hasilkan “Piagam Gunung Tembak”

Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah 2013 yang digelar selama 4 hari di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan, mencetuskan lembar kesepahaman bernama Piagam Gunung Tembak.

Piagam tersebut ditandatangani Pimpinan Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad, Ketua Dewan Syura Hamim Thohari, Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) Abdullah Ihsan, dan Ketua Umum PP Hidayatullah Abdul Mannan. Penandatanganan serta pembacaan piagam itu dilakukan di aula utama arena Silatnas, Senin (24/06/2013).

Piagam Gunung Tembak memuat enam butir komitmen untuk warga Ormas Hidayatullah. Butir-butir piagam tersebut menegaskan bahwa membangun peradaban Islam adalah jihad bagi setiap orang yang beriman.

Adapun pusat peradaban Islam yang dimaksud yakni masjid. Piagam itu menyerukan setiap kader Hidayatullah wajib memakmurkan masjid sebagai pusat kegiatan ibadah, pusat pengembangan ilmu, pusat kebudayaan Islam, pusat pengembangan karakter dan kepemimpinan ummat.

Untuk itu, masih dalam isi piagam, menekankan setiap warga dan kader Hidayatullah wajib melaksanakan shalat berjamaah di masjid, melazimkan shalat nawafil terutama qiyamullail, membaca al-Quran dan melaksanakan amalan ibadah sesuai dengan ketentuan syariah.

Piagam tersebut juga menegaskan bahwa setiap kader Hidayatullah adalah generasi rabbani yang wajib menghidupkan ilmu, membangun tradisi keilmuan dan berdakwah menyebarkan Islam.

Sebab itu, piagam ini juga menyeru kader Hidayatullah wajib berhalaqah untuk transformasi ilmu, transformasi karakter dan transformasi sosial. Adapun karakter kader Hidayatullah yakni peduli, suka menolong, gemar berkorban, tawadhu, militan, qanaah, wara’ dan utamakan kehidupan akhirat.

Butir keenam piagam tersebut yakni setiap pemimpin dan kader Hidayatullah wajib menjadi teladan ummat. Maka setiap kader harus membangun soliditas jamaah dan ukhuwah Islamiah.

Ketua panitia Silatnas Hidayatullah 2013, Hamzah Akbar, mengatakan Piagam Gunung Tembak adalah merupakan seruan untuk merevitalisasi visi Hidayatullah dalam membangun peradaban mulia.

“Peradaban mulia adalah peradaban islami yang di dalamnya mencakup nilai nilai kehidupan yang damai, mengayomi, dan menentramkan dengan penghargaan yang tinggi terhadap pluralitas,” tandas Hamzah. (Hidcom)

Perkumpulan Muallaf Perlu Alquran dan Alat Salat

Mushalla Al-Islami yang berada di komplek Gigantea Town House (Jalan Kafe Doremi) Desa Malinau Hulu, Kecamatan Malinau Kota, dalam setahun terakhir ini menjadi salah satu pusat pembinaan umat Islam. Khususnya bagi jamaah muallaf yang ada di wilayah kota Malinau.

Seminggu sekali yakni setiap Minggu, para mualaf yang ada di wilayah Malinau berkumpul untuk mendapat pembinaan di tempat yang juga menjadi sekretariat perkumpulan zikir mualaf tersebut.

“Pembinaan dilakukan secara rutin setiap hari Minggu oleh Pesantren Hidayatullah, mulai pukul 10.00 sampai dzuhur. Yang mau mengikuti silahkan, kami terbuka,” terang Ketua Perkumpulan Zikir Mualaf Kabupaten Malinau, Hj Christina Debora, dikutip Radar Tarakan, Jumat (7/6) lalu.

Sebulan sekali, imbuhnya Hj Chirstina Debora lagi, dilakukan acara pengajian dan dzikir bersama yang diikuti oleh seluruh umat muslim. Saat ini, imbuhnya, jumlah mualaf yang tercatat pada lembaganya sebanyak 600 orang. Pembinaan, lanjut Hj Christina Debora, difokuskan pada pematangan aqidah pribadi.

Pada saat-saat tertentu, selain mendapat pembinaan aqidah, jamaah juga mendapat pengetahuan berupa keterampilan tertentu yang diharapkan dapat menjadi modal untuk meningkatkan perekonomian mereka. “Itu juga kami lakukan di sini. Di samping kegiatan-kegiatan sosial, memberi bantuan yang sakit, meninggal, atau mendapat bencana,” papar Christina Debora.

Untuk lebih dapat menampung dan memberikan kenyamanan pada jamaah yang mengikuti kegiatan, sambung Christina Debora, pihaknya merencanakan untuk membangun dan menambah fasilitas. Termasuk membangun beberapa rumah kontrakan.

Rumah kontrakan diakuinya berperan penting dalam menghidupkan lembaga pembinaan umat yang dikelolanya tersebut. Sebab, sambungnya, dari situlah sumber dana untuk berbagai kegiatan yang dilakukannya.

“Selain dukungan dari Pesantren Hidayatullah dan para dermawan dari berbagai kota. Ada dari Yogyakarta, Bogor dan tempat lainnya,” terang Hj Christina Debora.

Diakui Christina Debora, saat ini pihaknya masih membutuhkan banyak hal untuk memenuhi keperluan umat.

“Yang paling kami butuhkan adalah Alquran yang ada terjemahannya dan alat-alat salat. Juga buku-buku pendidikan keagamaan,” terangnya.

Jika ada kemampuan, imbuhnya lagi, pihaknya berencana untuk membangun taman bacaan/perpustakaan di sekitar kompleks tersebut. Hal ini juga sebagai salah satu upaya meningkatkan pengetahuan tentang keislaman bagi setiap warga mualaf.(rdt)

Guru PAUD Seharusnya Ada Laki-lakinya

“Ambilkan anu di situ, nak cepat” kutip Rita Sahara, S.Pd, menirukan kebiasaan orangtua yang sering menyuruh anak tanpa memberikan keterangan lengkap tentang maksud perintah itu.

Pengelola Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Hidayatullah Pati, Jawa Tengah, ini mengkritik kebiasaan buruk para pendidik anak yang lebih mementingkan egonya.

Sebanyak 200 peserta yang kebanyakan kaum hawa memadati acara yang bertema “Orangtua profesional, anak cerdas, sehat mental – spiritual” itu usai hingga menjelang waktu shalat dhuhur. Terlihat antusias mengikuti jalannya seminar.

Bertempat di Wisma Malabbi yang berjarak 200 meter dari kampus Hidayatullah jalan Abdul Syakur kelurahan Karema Utara.

“Acara ini kami lakukan sebagai upaya pencerahan kepada pendidik anak” Sambut Halijah, S. Pd. I ketua panitia seminar.

Acara dibuka oleh wakil ketua Forum PAUD Sulbar Drs. H. Bustamin yang juga pegiat pendidikan anak “Kepengasuhan memang harus oleh semua pihak, baik ayah maupun bunda. Makanya saya mengusul supaya guru di PAUD ada laki-lakinya” kritiknya disambut aplaus peserta.

Senada dengan pemateri, bapak yang murah senyum ini menambahkan “Upaya ini sangat memberikan pengimbangan dalam pembentukan karakter anak, agar tidak didominasi oleh pihak bunda saja atau sebaliknya.

Diaminkan Rita Sahara, “Memang harus keduanya karena tidak boleh ada salah satu yang paling mnendominasi di sana. karena dua-duanya dibutuhkan oleh anak”.

Menariknya, ketika pemateri sedang memberikan pengertian tentang pentingnya mengurangi kalimat larangan dan “jangan” kepada anak, ada anak dari salah seorang peserta maju ke panggung menghadap ke depan proyektor hingga menutupi sebagian tampilan yang menyorot ke dinding. Sontak ada yang nyeletuk “Ssst.. jangan di situ, main di luar saja”.

Hingga usai acara kebanyakan peserta memanfaatkan untuk foto bersama pemateri dan beberapa Pengurus Pusat dan Wilayah Mushida Sulbar. Dan terlihat sukses bekerjasama dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dan Lembaga Pendidikan Islam Hidayatullah (LPIH). (Muhammad Bashori – Mamuju)

Mushida Sulbar Gelar Talkshow PAUD

Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah (PW Mushida) Sulawesi Barat, kembali mengadakan event dalam dunia pendidikan berupa takshow pendidikan anak usia dini (PAUD).

Acara ini digelar sekaligus untuk mengisi liburan beberapa sekolah di bawah naungannya. Kali ini Pelatihan Pendidik Anak Usia Dini ini mengambil mengambil tema “Pendidikan Berkarakter Berdasarkan Manhaj Nabawi Mewujudkan Peradaban Islam”.

Bekerja sama dengan lembaga amil zakat nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dan Lembaga Pendidikan Islam Hidayatullah serta organisasi induk Hidayatullah sendiri sepakat untuk melangsungkan acara ini mulai hari ini 28 Mei hingga 2 Juni mendatang.

Puluhan peserta dari pengelola dan guru PAUD se-Sulbar juga dimeriahkan dua pengelola kota PAUD Hidayatullah Palu dan Morowali – Sulawesi Tengah.

Halijah, S. Pd. I sebagai ketua panitia yang juga pengelola TK Al-Furqon menyebutkan “(Acara) ini sudah setahun direncanakan. Saya ingin supaya guru-guru khususnya pendidik Anak Usia Dini memiliki kompetensi, berkualitas dan profesional dalam menghadapi dunia pendidikan anak usia dini”.

Lebih lanjut ketua Departemen Organisasi PW Mushida Sulbar ini menjelaskan bahwa tujuan diadakannya pelatihan ini selain terjalinnya silaturrahmi antar tenaga pendidik juga mampu memberikan transformasi nilai-nilai karakter dalam pencapaian target pembelajaran sebagai manifestasi membentuk peradaban Islam.

Bertindak sebagai pemateri instuktur nasional Mushida Ir. Amalia Husna, MM asal Jakarta, Rita Sarita, S. Pd. didatangkan khusus dari PW Mushida Semarang, Hamriani, S. Ag selaku pengurus Kabupaten Mushida Polman dan Mulyani, S. Pd. dari Palu Sulawesi Tengah.

Keempatnya terlihat sangat antusias menyampaikan materinya di depan peserta yang semuanya ibu-ibu.

Selain kesempatan bertemunya yang terhitung jarang, momen pelatihan serupa juga sangat mahal di kalangan pengelola PAUD di pedalaman semisal TK Lukmanul Hakim di kecamatan Baras Kabupaten Mamuju Utara yang hingga saat ini belum terjangkau jaringan seluler. Namun tidak menyurutkan niat untuk bisa hadir sebagai partisipan.

Hal ini sama yang dialami oleh peserta yang berasal dari kabupaten Polman, Mamuju Utara lainnya, Majene dan dari pengleola TK Al-Furqon Mamuju sendiri.

Ada yang lain dari acara ini. Semua peserta datang dengan keluarga. Anak dan suami turut mendukung jalannya acara yang bertempat di ruang kelas SD Integral Al-Furqon ini. “Biarlah kami yang jaga anak-anak supaya uminya (ibunya) bisa konsentrasi ikut acara” Kata Lasamuri, suami salah seorang peserta dari Morowali ini.

Penyelenggara sendiri berharap “Apa yang telah disampaikan oleh pemateri bisa diterapkan di sekolah masing-masing juga antara personil bisa bekerjasama dengan baik, saling menghargai agar lebih terjaga keharmonisan pendidikan sebagai indikasi pendidikan yang maju dan bersaing” tutup Halijah. (Laporan Bashori – langsung dari Mamuju)

Ramadhan Mendekat, PKT Dukung Pecepatan Rekonstruksi Masjid Karang Bugis

PT Pupuk Kaltim memberikan bantuan berupa dana sumbangan sebesar Rp 200 juta untuk pembangunan kembali (rekonstruksi) Masjid Hidayatullah yang berlokasi di di Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Karang Bugis, Balikpapan, yang mengalami kebakaran tahun lalu, Selasa lalu.

Bantuan diserahkan langsung oleh sekretaris perusahaan PKT, Surya Madya, kepada ketua pembangunan Masjid Hidayatullah, Ali Mustafa. Acara penyerahan yang digelar di Cafe Airport Sepinggan itu dibuka oleh Kepala kantor perwakilan PKT Balikpapan, Imam Ruhani.

“Bantuan ini merupakan partisipasi dari PKT, untuk pembangunan masjid Hidayatullah yang terbakar tahun lalu. Ini merupakan bantuan lepas yang diberikan,” ungkap Surya Madya.

Dengan bantuan yang diberikan ini, pihak Hidayatullah mengaku sangat berterima kasih karena dapat melanjutkan pembangunan masjid yang diharapkan bisa segera digunakan menjelang bulan Ramadan tahun ini.

“Karena sementara berjalan, dan tidak bisa berhenti untuk mengejar bulan Ramadan. Progress sudah mencapai 70 persen, dengan adanya bantuan ini maka kami akan melakukan pengecoran dak dan pemasangan kubah. Kebetulan dana yang diberikan pas dengan dana yang kami perlukan, jadi ini adalah anugrah dari Tuhan,” ungkap Ali Mustafa.

Surya Madya, mengatakan bantuan dari pihaknya ini merupakan salah satu bentuk keprihatinan PKT terhadap musibah yang menimpa Masjid Hidayatullah tahun lalu itu.

“Melalui program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL), ini adalah kontribusi PKT dalam mewujudkan bentuk kepeduliannya terhadap masyarakat sekitar,” ujar Surya.

“Saya sangat sedih ketika membaca surat dari Hidayatullah tentang terbakarnya salah satu masjidnya,” ungkap Eduarsyah, Manager Humas PKT.

Senada dengan itu, Fatimah mengatakan, “Sebagai perusahaan yang ada di Kaltim, kita selalu care terhadap hal-hal yang berhubungan dengan masyarakat umum. Inilah salah satu wujud kepedulian kita dalam sosial masyarakat, dan membangun hubungan yang baik dengan masyrakat,” tutur Fatimah Ulfah, selaku manager PKBL.

Selain memberikan bantuan terhadap masyarakat yang membutuhkan, PKT selama ini juga memberikan bantuan berupa beasiswa pendidikan, untuk putra daerah yang kurang mampu dan berprestasi di sekolahnya untuk melanjutkan studi di Universitas terkemuka di Indonesia.

“Selain bantuan amal seperti ini, kami dari PKBL PKT juga memberikan beasiswa kepada putra daerah yang ingin melanjutkan studi S1 di universitas terkemuka di Indonesia, kami memberikan biaya untuk pendidikan dan biaya hidup mereka, hal ini juga untuk meningatkan kualitas putra daerah yang diharapkan jadi penerus pembangunan di Kaltim,” tutur Fatimah. (kp/ybh/hio)

Pengajaran Alquran Instan Tidak Optimal Bentuk Karakter

Pengajaran Alquran adalah pendidikan dasar Islam sejak dini. Saat ini telah lahir banyak metode yang digunakan oleh masyarakat Indonesia.  Metode Al-Baghdadi, metode Iqra’ dan metode Qira’ati di antaranya.

Hanya saja, metode instan dalam pengajaran Alquran perlu dicermati, Demikian disampaikan Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA dalam orasinya  pada salah satu sesi dari Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Ulama Alquran Tahun 2013. Kegiatan itu diselenggarakan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran, Balitbang dan Diklat Kementerian Agama di hotel Ledian, Banten (23/5).

“Pengajaran Alquran yang dipercepat (instan) tidak akan mampu membentuk karakter, karena ada nilai yang berubah dalam proses singkat itu”, tegas Wakil Menteri Agama ini mengingatkan.

Dalam sesi yang bertema “Pengembangan Pendidikan Karakter Berbasis Alquran dan Menanamkannya kepada Peserta Didik” ini, Nasar juga menyatakan bahwa Alquran menegaskan agar dalam proses pendidikan Islam dilakukan tazkiyat al-nafs (penyucian diri) dahulu sebelum tahap pembelajaran (ta’lim) terhadap anak didik, seraya menyitir QS Aljumu’ah: 2.

Karena proses itu membutuhkan cukup waktu, menurut pakar tasawwuf ini, maka metode instan bisa merubah nilai pembentukan karakter dalam proses pengajaran Alquran. Aspek ini yang harus diperhatikan, harapnya dengan serius.

Pada acara yang dihadiri oleh para ulama, pakar, pengkaji, dan peminat studi Alquran ini, Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Jakarta ini memandang bahwa yang tidak kalah penting bagi pembentukan karakter anak didik dalam pengajaran Alquran adalah soal pemahaman terhadap makna Alquran harus dilakukan secara komprehensif (menyeluruh) dan tidak parsial (sepotong-sepotong), tutupnya. (kem/ybh/hio)