Ditulis oleh Ustadz Abdul Ghofar Hadi* Kamis, 06 September 2012 08:36
Hasan al-Bana pernah mengatakan bahwa, “Bina’ul rijal ahammu min bina’il-ahjar”. Artinya, membangun rijal (manusia) itu lebih utama dibandingkan membangun batu (gedung). Ini bukan ungkapan iseng tapi hasil dari pemikiran, perenungan dan pengalaman bertahun-tahun beliau dalam memimpin gerakan politik Ikhwanul Muslimin.
Membangun bangunan rumah atau gedung sebenarnya juga bukan perkara mudah. Ada ahlinya yang profesional yaitu arsitek yang bisa merancang design bangunan canggih, unik atau yang mewah.
Tingkat amatiran, para tukang juga melalui proses panjang untuk membangun sebuah rumah agar tahan lama, simetris dan indah. Dari merancang gambar, menghitung bahan dan finishingnya, itupun masih dibagi tukang batu dan tukang kayu yang berbeda keahliannya. Ini menunjukkan ketidaksederhananya menjadi seorang tukang bangunan.
Meskipun demikian, membangun sebuah bangunan itu bisa relatif lebih mudah karena pekerjaan kelihatan mata dan jelas proses serta hasilnya. Menata batu, pasir, semen ditambah air dan kapur diaduk kemudian ditempelkan, asalkan sesuai dengan ukuran dan posisinya. Semua bahan itu akan taat saja, artinya tidak pernah protes karena sebagai benda mati yang tidak memiliki pikiran dan perasaan.
Membangun manusia itu lebih sulit. Tentu yang dimaksud di sini bukan membangun secara biologis atau fisik semata. Sebab kalau sekedar membentuk otot-otot badan, mencetak fisik yang atletis itu bukan perkara sulit. Dimensinya tidak terlalu rumit, makan yang bergizi, olah raga teratur, latihan terus menerus, minum suplemen tambahan dan istirahat cukup. Instrukturnya juga relatif lebih mudah dan banyak di kota-kota besar. Sehingga ada lomba bina raga, tubuh indah, badan atletis, kaki indah dan ratu kecantikan.
Membangun manusia dalam dimensi jiwa dan akhlaqnya bukan pekara mudah dan singkat. Manusia adalah mahluk hidup yang memiliki pikiran, perasaan, keinginan, interest pribadi dan memiliki tabiat masing-masing. Jika dalam satu asrama ada 100 santri maka ada 100 karakter santri yang berbeda-beda.
Membangun manusia adalah mengembangkan karakter, akhlaq, moral dan integritas diri berdasarkan fitrah dan perintah Allah. Inilah yang berat dan membutuhkan kerja keras melalui pendidikan dan pelatihan. Hasilnya tidak langsung kelihatan dalam beberapa hari, bulan atau tahun, sebab prosesnya sangat panjang dan melelahkan.
Membangun manusia adalah visi dan misi dari Rasulullah diutus di muka bumi ini. Sebagaimana sabdanya, “Tidaklah aku diutus kecuali untuk meyempurnakan akhlaq”. Karakter dan jati diri manusia adalah pada akhlaqnya sebagai buah dari aqidah dan ibadah yang dilakukan. Wallahu a’lam bish shawwab.
*Penulis adalah Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah, Balikpapan
Hidup adalah perjuangan. Perjuangan memerlukan pengorbanan. Demikianlah pernyataan para instruktur training materi ideologi. Biasanya pernyataan tersebut disampaikan ketika masa orientasi perkaderan suatu organisasi. Masa orientasi itu adalah masa pendoktrinan suatu ideologi organisasi yang disampaikan pada peserta anyar. Peserta dicekoki dengan sekian banyak doktrin organisasi agar fanatik dan loyal kepada suatu kepemimpinan. Bahkan para instruktur dalam memberikan materi trainingnya mengarah ke pemikiran yang menonjolkan organisasinya.
Setiap kelompok bangga terhadap organisasinya, demikian firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi tidaklah heran jika setiap orang bangga dengan organisasinya. Namun, fakta perjalanan manusia dalam berorganisasi terjadi pasang surut dalam hal loyalitas. Loyalitas merupakan salah satu indikator kualitas kader.
Mengapa demikian? Sebab, kader merupakan generasi pelanjut kepemimpinan organisasi. Itulah sebabnya jika suatu organisasi tidak rajin mengadakan training perkaderan nisacaya usia organisasi itu hanya seumur pendirinya.
Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang nabi yang berdimensi negarawan. Sosialisasi ideologi dilakukan melalui rencana terukur. Analisis SWOT dilakukan secara seksama. Pengukuran konten SWOT didasarkan atas data riil kekuatan dan kelemahan internal dan eksternal, kemudian dipetakan seberapa besarnya peluang dan tantangannya. Hasil analisis SWOT dijadikan dasar untuk menyusun strategi membangun kekuatan yang dapat menumbangkan kekuatan lawan.
Tiga belas tahun Rasulullah SAW intensive mencetak kader yang output-nya adalah cerdas, militan, loyal, dan visioner. Darul al-Arqam adalah wadah training centre untuk membentuk mindset peserta didik. Paradigma jahiliah dirombak total menjadi paradigma islamiyah.
Paradigma yang diinjeksikan kepada peserta didik adalah masalah aqidah yang berdimensi imamah jamaah. Sebuah visi ideologis yang berdimenasi ukhrawi. Orientasi organisasi kufar hanya sebatas dunia, sementara orientasi organisasi Rasulullah SAW adalah lintas dunia bahkan akhirat.
Rasulullah SAW sebagai trainer handal. Belum ada duanya di dunia ini. Nilai aqidah sebagai dasar membangun pola pikir peradaban didoktrinkan tuntas kepada peserta didik. Karena itu, fanatisme terhadap ajaran Islam sebagai way of life tidak tergoyahkan. Gelombang ancaman, himpitan, bahkan siksaan dari kompetitor tidak menjadikan surutnya sebuah perjuangan ideologi.
Nah, di sinilah wujud atau bukti seia sekata seorang instruktur perkaderan melalui pernyataan “hidup adalah perjuangan dan perjuangan memerlukan pengorbanan.” Perjuangan yang gigih dan konsisten akan menyaksikan sebuah kemenangan yang dicitakan. Rasulullah SAW adalah pelaku sejarah kemenangan. Tetapi, kemenangan itu tidak diraih dengan hayalan tanpa upaya serius. Pengorbanan harta benda, bahkan nyawa diperuntukkan demi eksisnya sebuah ideologi. Beliau tauladan umat manusia dalam segala hal.
Saat ini, umat Islam dirundung malang dalam proses perjuangan penegakkan peradaban Islam. Kekuatan berada di pihak kompetitor ideologi sekuler. Islam, diharapkan sebagai solusi pasti untuk menyelamatkan hidup dan kehidupan umat manusia yang sedang sekarat.
Mencapai visi hidup, sebagai organ dari suatu organisasi penegakkan peradaban Islam, tentu saja harus piawai dalam melihat lingkungan yang dinamis. Dinamika lingkungan tak terdeteksi oleh siapapun, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Manusia yang senantiasa mengandalkan kemampuan kognitif, ternyata banyak yang meleset asumsinya. Begitu pula manusia yang mengandalkan kepiawaian afektif saja, juga terbentur dengan realitas.
Dewasa ini para pakar psikologi mengandalkan kemampuan otak tengah sebagai mediator kognitif dan afektif.
Tapi, hasil rumusan otak tersebut belum memiliki akurasi yang benar jika nurani tidak diikutsertakan. Nurani berfungsi memberikan pertimbangan yang matang, agar memiliki daya dan tepat guna bagi pribadi dan masyarakat.
Olah nurani yang juga disebut olah rasa atau olah qalbu pada zaman serba materialisme ini, sangat kurang mendapat perhatian. Ghalibnya, orang modern lebih konsentrasi pada olah otak dengan segala perangkat motodologinya.
Bagi orang yang sudah keracunan pemikiran pragmatis, tentu saja tidak ingin repot dalam menikmati kehidupan. Tidak perlu lagi berpikir adanya suatu kekuatan di balik alam raya ini.
Mengingat manusia sudah terjebak dalam pragmatisme, maka tidak sedikit jumlah pejabat negara yang berposisi pengambil kebijakan strategis juga berpikir, berbicara dan beraksi pada tataran pragmatis. Kemudian, dalam kondisi umat manusia seperti ini apa yang harus dilakukan oleh pelaku peradaban Islam?
Jika Islam diturunkan untuk menciptakan keseimbangan hidup dunia dan akhirat, lantas apa konsep rethinking peradaban Islam sebagai solusi untuk mengakhiri dominasi pemikiran pragmatisme yang melupakan peran Tuhan?
Manusia, jika masih sadar dan menyadari dirinya yang memiliki segala keterbatasan dalam memandu hidupnya, pasti akan menengok ulang asal muasal dirinya. Dia akan menundukkan kepala menyadari diri bahwa hidup akan terus menurun seiring dengan menurunnya nilai materi yang dikejar setiap saat. Dia akan menemukan hakikat dirinya bahwa materi tidak dapat memberikan nilai kedamaian dalam diri yang abadi. Apalagi materi yang diraupnya melalui jalur manipulasi dan korupsi.
Setan, merasuk ke dalam benak manusia sejak Adam álaihisallam tergoda oleh setan dengan materi sebagai alat jeratnya. Setan gembira karena dapat menggoda Adam.
Bagaikan permainan sepak bola terjadi skor 1-0. Syukurnya, Adam sadar dan menyadari bahwa dia kalah tanding dengan setan. Yang paling pokok adalah dia menyadari bahwa Allah sebagai tempat mengadu untuk merehabilitasi diri melalui jalur taubat.
Adam meyakini bahwa jalur taubat itu akan mengembalikan status diri serta memulihkan potensi kekhalifahannya. Kita telah mengetahui dan menjadikan doa Adam untuk meratap kepada Allah, yang mana kita sebagai anak turunannya juga tidak lepas dari jeratan setan yang menghinakan.
Di sini, terasa bahwa peran otak dalam mengatasi godaan setan tidak ada. Berarti, di balik kekuatan otak itu masih ada potensi yang melebihi potensi otak, yaitu potensi qalbu. Dalam qalbu inilah iman bersemayam sebagai stabilator hidup dan kehidupan, bahkan merupakan pandu kehidupan.
Nah, sudah dapat kita simpulkan bahwa manusia hidup tanpa panduan iman, niscaya akan menemukan jalan buntu. Kebuntuan jalan hidup itu merupakan kesesatan, dan kesesatan itu membawa kesengsaraan lahir dan batin.
Di sinilah letaknya keseimbangan hidup. Keseimbangan itu bukanlah wilayah otak, akan tetapi wilayah qalbu. Dari sinilah definisi menejemen adalah seni diturunkan. Seni adalah wilayah rasa yang memproduksi nilai–nilai perikemanusiaan.
Jika perikemanusiaan itu tumbuh subur dalam jiwa manusia atas dasar iman, tentu saja keseimbangan hidup bermasyarakat dan bernegara akan stabil. ***
SALAH satu misi peradaban Islam adalah merubah pola pikir manusia dalam hidup. Peradaban Islam yang tumbuh dari akar keimanan mendorong diri manusia selalu dinamis dan produktif.
Sifat dan karakter manusia yang negatif dapat berubah menjadi positif jika iman sudah mengakar dalam diri seseorang.
Islam datang menawarkan suatu peradaban yang sangat bertolak belakang dengan peradaban materi (kapitalis, komunis). Pijakan peradaban Islam adalah iman kepada Allah Subhanahu waTa’ala (SWT) sehingga peradaban Islam merupakan manifestasi iman dalam semua aspek kehidupan.
Dalam sudut pandang manejemen modern bahwa untuk mencapai kinerja organisasi para pakar manejemen banyak berinovasi untuk menemukan metode pengembangan diri manusia. Mereka berkeyakinan bahwa manusia adalah sumber daya, sehingga daya–daya yang ada dalam diri manusia harus digali dan dikembangkan.
Menejemen modern banyak menawarkan tentang metode pengembangan diri manusia melalui berbagai metode pelatihan dengan output perubahan karakter. Diantara program yang ditawarkan kepada publik adalah training personal mastery (perubahan pribadi).
Apakah setelah mengikuti training terjadi perubahan signifikan? Jawabannya adalah tergantung kepada peserta training. Sebab, training hanyalah membantu seseorang untuk proses berubah.
Perubahan sikap mental negatif menjadi positif bisa jadi drastis atau gradual. Semuanya adalah berpulang kepada pelaku perubahan, yakni diri sendiri.
Allah SWT menegasan dalam firman-Nya: “…Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka sendiri yang merubahnya...(Ar-Ra’d [13]: 11).
Pertanyaannya, dengan apa manusia harus merubah karakter atau nasib?
Setiap orang bisa berubah, tapi mengapa hanya sedikit orang yang bisa menghasilkan perubahan yang berarti dalam hidupnya. Ternyata ada sekumpulan keyakinan dan strategi yang harus dipraktekkan sehingga menghasilkan perubahan secara drastis.
Islam menawarkan suatu perubahan yang drastis dan dramatis dalam diri manusia yaitu perubahan paradigma dalam hidup. Paradigma itu dimulai dari iman kepada Alah SWT sebagai basis segala tindakan dan harapan.
Oleh karena itu, harga dan kualitas orang beriman adalah berstandar kepada ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur`an dan as-Sunnah.
Keyakinan yang menghunjam dalam dada, akan melahirkan suatu strategi perubahan diri yang signifikan. Signifikansi perubahan pola pikir hidup mulia itu terlukis pada diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) dan para Sahabatnya. Bagaimana Bilal bin Rabbah dari strata budak menjadi merdeka berkat keimanannya.
Begitu pula Abdurahman bin Auf sebagai milyuner juga karena keimanannya. Dan, masih banyak deretan Sahabat serta tabiin dan tabiit-tabiin memiliki pribadi unggul yang patut diteladani oleh semua pihak.
Kita selaku seorang yang “profesional” selalu dituntut meningkatkan kualitas pribadi secara berkesinambungan.
Tentu peningkatan pribadi unggul tidak hanya knowledge dan skill saja, tetapi juga pada sikap dan sikap mental menghadapi permasalahan yang dihadapi sehari-hari di perusahaan, bisnis, keluarga dan sosial, lebih-lebih dalam perjuangan penegakkan peradaban Islam.
Kunci keberhasilan kualitas pribadi terletak pada kemampuan dan kemauan masing-masing pribadi. Jadi, ajaran Islam merupakan solusi pasti dalam mengantarkan setiap manusia menuju hidup sempurna di bawah naungan ridha Allah SWT. []
*) Dr. H. Abdul Mannan,penulis adalah Ketua Umum DPP Hidayatullah
Salah satu misi peradaban Islam adalah merubah pola pikir manusia dalam hidup. Peradaban Islam yang tumbuh dari akar keimanan mendorong diri manusia selalu dinamis dan produktif. Sifat dan karakter manusia yang negatif dapat berubah menjadi positif jika iman sudah mengakar dalam diri seseorang.
Islam datang menawarkan suatu peradaban yang sangat bertolak belakang dengan peradaban materi (kapitalis, komunis). Pijakan peradaban Islam adalah iman kepada Allah Subhanahu waTa’ala (SWT) sehingga peradaban Islam merupakan manifestasi iman dalam semua aspek kehidupan.
Dalam sudut pandang menejemen modern bahwa untuk mencapai kinerja organisasi para pakar menejemen banyak berinovasi untuk menemukan metode pengembangan diri manusia. Mereka berkeyakinan bahwa manusia adalah sumber daya, sehingga daya–daya yang ada dalam diri manusia harus digali dan dikembangkan.
Menejemen modern banyak menawarkan tentang metode pengembangan diri manusia melalui berbagai metode pelatihan dengan out put perubahan karakter. Diantara program yang ditawarkan kepada publik adalah training personal mastery (perubahan pribadi).
Apakah setelah mengikuti training terjadi perubahan signifikan? Jawabannya adalah tergantung kepada peserta training. Sebab, training hanyalah membantu seseorang untuk proses berubah. Perubahan sikap mental negatif menjadi positif bisa jadi drastis atau gradual. Semuanya adalah berpulang kepada pelaku perubahan, yakni diri sendiri. Allah SWT menegasan dalam firman-Nya: “…Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka sendiri yang merubahnya...(Ar-Ra’d [13]: 11). Pertanyaannya, dengan apa manusia harus merubah karakter atau nasib?
Setiap orang bisa berubah, tapi mengapa hanya sedikit orang yang bisa menghasilkan perubahan yang berarti dalam hidupnya. Ternyata ada sekumpulan keyakinan dan strategi yang harus dipraktekkan sehingga menghasilkan perubahan secara drastis.
Islam menawarkan suatu perubahan yang drastis dan dramatis dalam diri manusia yaitu perubahan paradigma dalam hidup. Paradigma itu dimulai dari iman kepada Alah SWT sebagai basis segala tindakan dan harapan. Oleh karena itu, harga dan kualitas orang beriman adalah berstandar kepada ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur`an dan as-Sunnah.
Keyakinan yang menghunjam dalam dada, akan melahirkan suatu strategi perubahan diri yang signifikan. Signifikansi perubahan pola pikir hidup mulia itu terlukis pada diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) dan para Sahabatnya. Bagaimana Bilal bin Rabbah dari strata budak menjadi merdeka berkat keimanannya. Begitu pula Abdurahman bin Auf sebagai milyuner juga karena keimanannya. Dan, masih banyak deretan Sahabat serta tabiin dan tabiit-tabiin memiliki pribadi unggul yang patut diteladani oleh semua pihak.
Kita selaku seorang yang “profesional” selalu dituntut meningkatkan kualitas pribadi secara berkesinambungan. Tentu peningkatan pribadi unggul tidak hanya knowledge dan skill saja, tetapi juga pada sikapdan sikap mentalmenghadapi permasalahan yang dihadapi sehari-hari di perusahaan, bisnis, keluarga dan sosial, lebih-lebih dalam perjuangan penegakkan peradaban Islam.
Kunci keberhasilan kualitas pribadi terletak pada kemampuan dan kemauan masing-masing pribadi. Jadi, ajaran Islam merupakan solusi pasti dalam mengantarkan setiap manusia menuju hidup sempurna di bawah naungan ridha Allah SWT. *
Kita sering mendengar istilah “membangun manusia”. Kita kemudian bertanya, apanya yang dibangun? Manusia mana yang akan kita bangun? Bangunan manusia seperti apa?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut marilah kita jawab agar manusia yang dibangun betul-betul menjadi sempurna.
Harus diakui, pertanyaan-pertanyaan tadi sulit sekali dijawab. Sejak zaman Aristoteles hingga saat ini belum ada kata sepakat apa sesungguhnya manusia. Tak ada kesimpulan yang bisa dijadikan rujukan.
Salah satu kesimpulan tentang manusia adalah “hewan yang bisa berbicara”. Pertanyaannya, apakah benar bahwa manusia itu hewan?
Jika benar demikian, maka teori evolusi Darwin dianggap benar adanya. Padahal, itu tidak mungkin. Manusia jelas bukan binatang. Nasab manusia jelas berbeda dengan nasab binatang.
Lalu, apa yang membedakan manusia dengan binatang? Paling tidak, manusia memiliki akal, sedangkan binatang tidak. Dengan demikian, manusia dapat mengungguli segala kelebihan yang dimiliki oleh binatang.
Meski manusia memiliki otak, tidak berarti semua manusia sama. Pepatah mengatakan, rambut manusia boleh sama hitam, tetapi isi kepalanya berbeda-beda.
Karena itu, tak heran jika ada manusia yang pada saat-saat tertentu berperilaku seperti binatang, bahkan lebih hina dari binatang.
Mengapa derajat manusia bisa naik dan turun? Mengapa manusia bisa menjadi lebih hina dari binatang? Apa standar manusia dikatakan mulia dan hina?
Para Nabi dan Rasul diutus Allah Ta’ala ke dunia dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas serta derajat manusia. Seperti sabda Nabiyullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bahwa, “Aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak manusia.”
Hadits ini simpel, namun mengandung makna sangat dalam. Kedalaman makna Hadits ini menjadi bahan diskusi di berbagai kalangan hingga saat ini.
Hal ini wajar. Sebab, sejak zaman Aristoteles manusia sudah membicarakan moral. Moral yang digagas Aristoteles tentu saja didasarkan atas akal manusia. Jelas diragukan kebenarannya. Sebab, andai pendapat itu benar, maka benar menurut siapa? Apa standar moral yang baik? Apa pula standar moral yang buruk?
Ada yang mengatakan, moral harus berdasarkan tradisi masyarakat yang berlaku saat itu. Ada pula yang mengatakan, standar moral harus sesuai dengan budaya nenek moyang pada masa lalu.
Yang mana yang benar? Para filosof bingung. Kebingungan inilah yang menyebabkan Allah Ta’ala menjelaskan perkara moral ini sebagai perangkat manusia yang sempurna lewat Rasul utusan-Nya.
Tugas utama Nabiyullah Muhammad SAW di dunia ini adalah memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia. Jika sebelum turunnya risalah kenabian kondisi manusia dalam keadaan jahiliah, maka setelah itu manusia memiliki akhlak mulia. Begitulah standarnya.
Persoalan akhlak yang paling awal diperbaiki oleh Rasulullah SAW adalah akhlak terhadap al-Khaliq, Pencipta alam semesta
Berangkat dari sinilah manusia kemudian ditata menjadi utuh. Keutuhan ini bukan terletak pada gagahnya fisik, melimpahnya kekayaan, serta tingginya kekuasaan. Namun, keutuhan manusia terletak pada akhlaknya dalam berinteraksi secara vertikal dengan Allah Ta’ala dan horizontal dengan sesama makhluk. Manual bimbingan untuk manusia berakhlak adalah al-Qur`an dan as-Sunnah.
Bagi manusia beriman, tak ada pilihan lain yang mampu mengantarnya menjadi manusia berakhlak mulia selain risalah yang dibawa Nabiyullah Muhammad SAW. Tak mungkin umat Islam diselamatkan oleh Abu Jahal, Abu Lahab, Adam Smith, Karl Marx, Stalin, atau George W Bush, dari jebakan setan yang tidak ber-Qur`an.
Marilah kita menyadari bahwa hanya dengan memahami dan menerapkan al-Qur`an dan as-Sunnah manusia bisa menjadi utuh. *SAHID Mei 2010
Setiap manusia pasti mengalami hidup, mati, kehidupan, dan kematian. Kita juga diberi batasan dalam hidup ini dalam koridor kepercayaan dalam religi. Tapi apakah esensi kehidupan yang diberikan kepada kita oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala?
Sudah pasti setiap orang akan mencapai tahapan pencarian tujuan hidupnya masing-masing. Lalu, memikirkan kematian dan kehidupan yang sudah dijalani merupakan sesuatu yang memberikan refleksi positif bagi setiap orang yang mau meluangkan sedikit waktu yang sudah dilalui.
Ada yang berkomentar bahwa hidup ini buat dijalani bukan buat dipikirkan. Memang ada benarnya juga jika hanya untuk menenangkan jiwa yang lagi gundah gulana. Jika seseorang dibentuk dan dibesarkan dari latar belakang sains, maka logika merupakan suatu parameter yang sangat menonjol di atas sense yang lain. Sebab pendapatnya bahwa manusia ini tidak lebih dari makhluk hidup lain. Hanya rentang waktu hidupnya saja yang lebih panjang, bila dibanding dengan semut, atau nyamuk.
Life expectancy manusia seperti bangsa Indonesia mungkin 65 tahun. Pada umur beranjak usia sekitar 18 tahun, mulai masa peralihan remaja menuju dewasa. Ia akan memasuki bangku kuliah yang mengandung makna bahwa pada masa kuliah ini akan dijejali dengan pemikiran logis.
Kesimpulan dari materi logika itu adalah tidak ada sesuatu yang benar dan dapat diterima oleh akal jika tidak logis. Sehingga terpatri dalam benaknya bahwa hidup ini serba logis. Segala sesuatu yang harus dilalui dalam hidup dan kehidupan harus logis.
Nah, apakah yang kita ingin capai dalam kehidupan ini? Setiap orang punya tujuan yang berbeda-beda. Perbedaan tujuan hidup itu juga tergantung dari pada visi hidup dan kehidupan seseorang.
Jika manusia hanya bertujuan untuk hidup, maka kehidupannya tak ubahnya binatang yaitu hidup untuk makan, kawin, kemudian mati. Kalau makan, kawin, mati merupakan orientasi hidup dan kehidupan maka visi hidupnya hanya terbatas pada dunia.
Oleh karena itu, segala akktivitas sepanjang hayatnya hanya untuk mencapai kesejahteraan dunia yaitu akumulasi asset yang tidak akan dibawa ke alam kubur. Adakah manusia hidup tanpa menuju alam kubur?
Bukankah dewasa ini telah disetting suatu model kuburan yang dapat membahagiakan para ahli kubur? Di tengah masyarakat Indonesia yang kental dengan ajaran religi telah dibuka kuburan elit yang dikhususkan bagi calon ahli kubur berduit. Kuburan itu bernama San Diego Hills yang berada di Karawang Barat, Jawa Barat.
Pemikiran tentang kuburan elit yang jika diyakini bisa menangkal siksa malaikat Munkar dan Nakir bagi penganut Islam tentu saja dapat merusak tatanan aqidah. Pemikiran sekuler berpandangan bahwa kehidupan itu hanya terbatas di dunia dan setiap orang akan kembali kepada alam dunia. Mereka meyakini tidak ada lagi kehidupan setelah mati yang dinamakan kehidupan akhirat.
Disinilah letak perbedaan ekstrem pemahaman dan pemikiran antara orang yang beriman kepada Allah, yang meyakini ada suatu kehidupan abadi yaitu akhirat. Setiap manusia akan dihisab atas segala perbuatannya selama di dunia. Reward dan punishment akan diberikan kepadanya sebagai kompensasi dari Allah.
Disinilah makna peringatan Allah dalam Surah At-Takaatsur ayat 8: “Kemudian, kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikamtan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” Karena itu, kita sebagai orang beriman hendaknya mampu memenej waktu kita dalam mengisi hidup dan kehidupan. *
LINGKUNGAN masyarakat saat ini mengantarkan kita hidup pesimis dalam menggapai suatu tata kehidupan yang stabil. Umumnya stabilitas hidup diukur dengan mapannya suatu kesejahteraan ekonomi. Tolak ukur ekonomi adalah melimpahnya kekayaan yang dimiliki.
Sementara teori ekonomi konvensional yang diajarkan di perguruan tinggi mulai dari strata satu hingga pasca tidak mungkin dapat mengatasi problema ekonomi yang diderita oleh masyarakat. Persis bait nyanyian raja dangdut Rhoma Irama: yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin…
Bait nyanyian tersebut memang ekspresi kesadaran terhadap realitas masyarakat yang hidup di lorong–lorong gang, di bantaran kali, di bawah jembatan, Ibu Kota Jakarta. Sungguh mengenaskan.
Sebenarnya solusi makro berada di tangan pemerintah. Menurut John Maynard Keynes bahwa fungsi pemerintah adalah mengatur agar negara dalam stabil.
Itulah sebabnya ia merumuskan sistem ekonomi dalam deret regresi ekonomi satu sektor hingga empat sektor. Lagi–lagi, teori adalah teori. Yang menjalankan teori kedalam praktek adalah manusia.
Terdapat sebuah joke di tengah masyarakat bahwa mencari sumber hidup yang haram saja susah, apalagi mencari sumber hidup yang halal. Joke ini merupakan refleksi betapa susahnya hidup zaman sekarang.
Akan tetapi tidak banyak orang yang berpikir untuk mencari tahu penyebab susahnya hidup. Susah hidup karena menganggur. Menganggur karena bertambah menyempitnya peluang kerja. Menyempitnya peluang kerja disebabkan sekian banyak faktor.
Faktor yang menonjol adalah pengusaha menerapkan padat modal. Padat modal berarti menerapakn sistem teknologi canggih dalam dunia industri sehingga menggeser tenaga kerja unskilled.
Menurut Keynes bahwa pengangguran adalah tanggung jawab penuh pemerintah. Bagaimana cara pemerintah untuk mengatasi pengangguran?
Setiap presiden di seluruh dunia jika mereka usai dilantik menjadi presiden secara resmi, mereka dapat dipastikan menyusun program 100 hari untuk mengatasi; inflasi, pengangguran dan menciptakan stabilitas. Namun kenyataannya tidak ada satu orang presiden pun di dunia yang dapat merealisasikan program 100 hari tersebut.
Terlepas dari kondisi ekonomi dunia yang mencekam atau konsep ekonomi konvensional yang tidak dapat menciptakan keseimbangan atau keadilan, serta program ekonomi 100 hari dari para presdiden, kita sebagai manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan tentu saja tidak tergantung sepenuhnya pada kondisi. Kondisi hidup dan kehidupan manusia bukanlah sebab, akan tetapi akibat.
Jika manusia memenej sumber daya alam atas dasar needs niscaya sumber daya alam ini akan tetap lestari dan tidak mendatangkan bencana, baik bencana sosial ekonomi maupun bencana alam.
Akan tetapi manusia adalah menerapkan animal economic, maka kerakusan yang terjadi sehingga sumberdaya alam dipaksa untuk diperah demi memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas. Fakta membuktikan bahwa dengan melimpahnya kekayaan hasil produksi, ternyata kepuasan hidup tak kunjung tiba.
Maka benarlah apa yang dikatakan Nabiullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bahwa jika manusia diberi kekayaan dua lembah emas, niscaya ia akan meminta lembah emas yang ketiga.
Jadi, manusia dengan rumus ekonomi konvensioanal bahwa kebutuhan manusia itu tidak terbatas persis seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah tersebut. Berarti bahwa manusia tidak akan menang selamanya jika menuruti hawa nafsu untuk memenuhi kepuasannya dengan materi.
Disinilah perlunya ajaran Islam untuk mengatur hidup dan kehidupan manusia hingga ia menang secara hakiki sebagaimana hidup yang sudah dicontohkan oleh tokoh peradaban Islam yaitu Rasulullah SAW. *
PADA acara Coffe Morning Peradaban (CMP) pekanan yang digelar Institute For Islamic Studies and Civilization (INISIASI)-Hidayatullah pada Sabtu, (07/04/2012) lalu, Direktur Inisiasi, Suharsono, mengungkapkan dalam pengantar diskusi bahwa dalam setiap generasi dalam kehidupan manusia selalu ada fase pemikiran karena keberlangsungan pemikiran senantiasa mendominasi perilaku hidup manusia.
Maka, tegas Suharsono, jika seseorang hidup tanpa dilandasi pemikiran yang kokoh bagaikan tong kosong yang berbunyi nyaring dan begitu ringan dan mudah diombang ambingkan.
“Umat Islam semestinya tampil dengan superioritasnya dan tidak perlu takut menghadapi berbagai macam fase pemikiran karena ada Al-Qur’an yang berisi petunjuk dan wahyu Allah selalu relevan,” kata Suharsono.
Sesungguhnya peradaban kini hari ini telah dikuasai fase pemikiran sosialis, materialis, kapitalis, sekularis, liberalis dan lain-lain. Maka jika pemikiran liberal dan lain-lainnya itu adalah virus, tegas Suharsono, umat Islam sesungguhnya telah memiliki anti-virus tersebut yakni jalan kebenaran yang tertuang di dalam surah Al-Qur’an.
Suharsono menilai, sangat berbahaya jika seorang muslim hidup tanpa membiasakan diri berpikir dan menurutnya inilah penyakit global saat ini karena minimnya karya dari hasil pikir yang dihasilkan.
Lebih lanjut Suharsono menguraikan, ibadah yang dilakukan setiap individu Muslim semestinya berasal dari kesadaran dan bukan suatu rutinitas yang dilakukan tanpa tujuan. Karena beribadah, terang dia, adalah berangkat dari kesadaran diri dan merupakan hasil pemikiran yang telah dipahami.
Tapi melihat kondisi bangsa dan pemangku amanah negeri termasuk menjangkiti akademisi dewasa ini, Suharsono melihat ada gejala yang tidak baik menimpa mentalitas akademisi bangsa Indonesia yang tergolong plagiator alias tidak gemar berfikir.
Sehingga suharsono berpendapat pikiran-pikiran besar tidak musti selalu lahir dari mimbar-mimbar mulia altar kampus bergengsi tapi bisa mencuat dari tempat sederhana seperti dakwah nabi yang digalakkan melalui halaqoh-halaqoh.
“Bahkan beberapa ulama dan pemikir Islam terkenal dalam sejarahnya menuangkan gagasan besar mereka di penjara,” katanya.
Benturan Dua Ideologi
Peserta dikusi lainnya Ustaz Wahyu Rahman yang juga Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat ini mengungkapkan bahwa sesungguhnya sebab utama pertentangan yang terjadi di masyarakat saat ini karena adanya benturan mendasar antara ideologi langit (theologis) dan ideologi bumi (materialis).
Ia menjelaskan, konsep keilmuan yang lahir dari falsafah bumi akar-akarnya adalah materi, sementara orang-orang berilmu yang mendasarkan pada falsafah langit memiliki standar syahadat yg kuat.
“Untuk membangung syadahat yang mengakar SNW-lah kuncinya. Tahapan-tahapan dalam SNW sangat menekankan manusia berilmu dengan berlandaskan wahyu yang merupakan cahaya Allah,” ujarnya.
Pernyataan Wahyu Rahman mendapat tanggapan dari Gatot Supriadi dari Pesantren Hidayatulah karawang. Pada intinya Gatot hanya menambahkan apa yang sudah dijabarkan oleh Wahyu Rahman tentang benturan dua ideologi dengan realitanya di masa kini.
Menurut Gatot, realitanya memang banyak umat Islam yang terjangkiti virus liberal di bangku kuliah sebagai kaum intelektual, bahkan kini sudah mulai merangsek masuk ke pendidikan menengah atas.
Gatot berkesimpulan, jika umat Islam mampu konsisten memegang nilai nilai Tauhid yang termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-‘Alaq maka fase pemikiran liberal tidak akan berarti apa-apa dan mentok.
“Banyak saudara-saidara kita seiman yang gagap terhadap konsep-konsep keilmuan dengan falsafah bumi ini,” kata Gatot memungkasi.
Pendapatat Wahyu Rahman diiyakan juga Ustaz Abu A’la Abdullah. Sebab pada dasarnya, kata Abu ‘Ala, setiap manusia memang terlahir dengan konsep berpikir yang berbeda-beda, tapi seyogyanya kata dia tidak perlu saling memojokkan yang dalam Alquran disebut jangan saling mengolok.
Menurut Abu, tidak ada manusia yang suci di dunia ini sehingga menurutnya banyak orang yang katanya anti liberal tapi perilaku kesehariannya tak ubahnya sebagai provokator yang suka marah, tidak sopan, gemar adu domba, dan jauh dari jamaah.
“Berpikirlah bahwa sebenarnya ada dan menghasilkan karya. Jika arus berpikir manusia hanya berperang dalam wacana maka kita akan kelelahan tanpa hasil,” tukasnya.
Tradisi berfikir ini justru lebih berkembang di Barat di mana mereka senantiasa melakukan eksplorasi dalam penelitian. Ini artinya, menurut Abu, pemikiran harus melalui tahapan dan aksi yang sistematis dan tidak berhenti pada sebuah konsep semata.
Pria asal Klaten ini juga sempat mempersoalkan pengajaran Ushuluddin di perguruang tinggi yang, menurutnya, justru tak memberi andil besar dalam transformasi aqidah Islam. Malah ada mahasiswa yang belajar ilmu Ushuluddin (filsafat/ perbandingan agama) dari guru yang salah dapat menjadikannya mengikuti filsafat sesat yang mempertanyakan eksisteni Allah, dzat yang tidak terbatas.
Maka, simpul Abu, hanya wahyu Qur’an yang dapat menuntun umat manusia untuk menemukan jadidirinya dalam fitrah kemanusiaan manusia sebab definisi peradaban Islam sendiri adalah manifestasi wahyu.
“Hidayatullah harus tetap bergerak pada patronnya sendiri karena dengan itu kita dapat eksis diantara perdebatan banyak kelompok yang berseteru,” kata Abu menandaskan.
Fastabiqul Khairat dan Identitas Islam
Diskusi yang berlangsung dalam acara CMP pekanan ini begitu menarik. Peserta cukup antusias memberikan pendapat dan tanggapan.
Suyudi As’ad dari SMP Al Qalam Depok, misalnya, memberikan pencerahan bahwa jika Allah berkehendak maka manusia akan diciptakan sejenis dan semua mendapat petunjuk. Namun, nyatanya, kita diciptakan dalam perbedaan karena tugas manusia adalah senantiasa fastabihul khoirot.
Fastabiqul khairat itu, dicontohkan Suyudi, seperti gerakan Hidayatullah dalam membangun peradaban dengan cara mengembalikan konsep nubuwah, membangun kampus peradaban, dan membangun budaya berjamaah.
Menanggapi fenomena gagasan liberalisme Islam di kampus-kampus, Iwan Ruswanda, menilai hal itu memang tak bisa dipungkiri.
Pengajar Matematika di SMP Al Qalam Depok ini menilai masa mahasiswa adalah masa di mana usia pubertas pemikiran sedang centil-centilnya. Inilah perideo yang menurut Iwan di mana mahasiswa sangat rawan terjebak dalam merespon konsep konsep pemikiran liberal.
“Banyak orang sombong karena merasa ilmu filsafatnya telah tinggi tanpa sadar dari mana filsafat itu dipelajarinya. Maka kesadaran wahyu-lah yang dapat mengantarkan umat Islam mengcounter pemikiran liberal yang berkembang saat ini,” ujar Iwan, lulusan IAIN Bandung ini.
Senada dengan itu, Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Hidayatullah Depok Ustaz Lalu Mabrur, memandang wahyu Allah tidak semestinya menjadi diskursus yang selalu diperdebatan seperti yang rajin dilakukan banyak sarjana sesat dan orientalis Barat.
Dalam pada itu, menurut Lalu, pemikiran liberal adalah hasil berpikir bebas yang berasal dari barat karena tidak puas atas kebijakan gereja yang tidak kooperatif kala itu.
Sehingga, lanjut Lalu, tak mengherankan jika kemudian hari ini banyak dari kalangan generasi-generasi muda memilih pemikiran yang bebas yang terlepas dari landasan aqidah sebagai bentuk eksplorasi kemampuan diri mereka.
“Orang-orang yang mengemukakan pemikiran liberal hanyalah orang-orang sombong dan tidak memahami ilmu aqidah. Sebab pemikiran yang benar harus berada dalam bingkai menjaga agama, menjaga akal, mengendalikan nafsu, dan menjaga keluarga,” cetus Lalu Mabrul.
Perang Pemikiran dan Filsafat
Musliadi Raja yang merupakan jebolan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang sempat terhipnotis dengan pemikiran liberal, tak menampik adanya gejala kecentilan mahasiswa terhadap aliran pemikiran bebas nilai ini.
Namun, Musliadi menegaskan, orang yang memiliki akar aqidah yang kuat pasti bisa bertahan karena dengan itulah Allah akan mengangkat derajat orang-orang berilmu.
Musliadi menambahkan bahwa perlu ada semacam pisau analisa dalam memahami kehidupan manusia sekitar kita yang akan mengantarkan hidup menuju kemandirian umat bukan kesesatan berfikir dan dalam bertindak.
Secara lebih tegas mantan aktivis Forum Ciputat yang kerap mengkampanyekan liberalisme ini, mengatakan bahwa sebenarnya hari ini Barat yang berpaham liberal-sekuler sedang menggali kuburannya sendiri.
Sehingga menurut Musliadi tidak perlu terlalu sibuk menanggapi pemikiran liberal di negeri ini yang diantaranya dibawa oleh Jaringan Islam Liberal (JIL) sebab funding mereka pun sudah keok.
“Yang penting saat ini adalah bagaimana kita terus berupaya merekonstruksi pola pikir generasi umat ini agar tercerahkan oleh cahaya wahyu,” tukasnya.
Sepenarian dengan itu, Sekjen Inisiaisi, Imam Nawawi, memandang bahwa sistem pendidikan nasional kita saat ini mulai dari tingkat dasar telah terjangkiti liberalisme yang menjurus pada perpaduan pola liberalisme sebagaimana dianut Barat yang kental nilai-nilai kekristenan dan Yahudismenya.
Padahal, menurut Imam, dalam perjalan sejarahnya sendiri Kristen dan Yahudi jelas tidak pernah akur karena Tuhan Kristen dibunuh kaum Yahudi, dan kitab-kitab Yahudi diacak-acak kaum Kristen.
“Itulah mengapa kemudian peradaban barat kerap diidentikkan sebagai peradaban ateistik karena berisi peradaban dua ideologi yang saling berlomba meninggalkan Tuhannya,” kata Imam.
Untuk itu, lanjut Imam, untuk mengetahui kekuatan antivirus seseorang terhadap pemikiran liberal maka dilihat saja sejauh mana interaksinya dengan Al-Qur’an. Al Qur’an sesungguhnya memiliki kandungan-kandungan yang penuh hikmah dan filosfis.
Pandangan Imam agak sedikit berbeda dengan pendapat penanggap sebelumnya yang cenderung menegasikan peran filsafat. Justru, menurut Imam Nawawi, pendidikan filsafat sangat penting sejak dini karena telah tercantum dalam Qur’an surah Al-Alaq.
“Fisafat ada dalam Al Qur’an, karena itu pendidikan filsafat sangat penting dikenalkan sejak dini,” kata Imam menandaskan.
Tandang ke Gelanggang
Sebagai closing statement dalam acara diskusi lepas Shubuh ini, pengurus PP Hidayatullah, Abdul Muhaimin, menegaskan bahwa tak bisa dinafikkan pemikiran liberal adalah sesuatu yang fundamental untuk diperhatikan saat ini.
“Kita harus mempelajari semua fase pemikiran. Kita pelajari pemikiran yang baik (wahyu) untuk bekal kita membangun peradaban mulia, sedangkan memperhatikan pemikiran yang buruk (liberal dan turunannya) agar kita tahu bagaimana kebathilan itu untuk menguatkan pertahanan diri dan umat,” katanya.
Memamg tak bisa dipungkiri, kata Muhaimin, Barat merusak peradaban umat manusia saat ini dengan merusak perekonomian melalui model, nilai, fashion dan olahraga.
Pun demikian penjajahan adab di bidang ekonomi, ekonomi syariah tak bisa dikatakan syariah karena masih dalam prinsipnya yang mengekang dan merusak aspek muamalah dalam Islam.
Abdul Muhaimin menuturkan, yang dibutuhkan umat hari ini adalah ulama yang benar-benar ulama. Menurutnya, ulama yang sesungguhnya adalah orang-orang yang siap gerak, berjihad terjun ke gelanggang dan tidak sekedar berceramah.
Logikanya, terang Muhaimin, ajaran Islam telah mendidik manusia dengan sholat untuk senantiasa bergerak, maka dari situlah termaktub substansi pesan kepada penganut Islam untuk selalu dinamis, selalu bergerak sesuai kaidah-kaidah dalam Islam. Karena sholat yang sempurna harus sesuai dengan rukun gerakannya
“Saat ini umat Islam sedang digeser untuk mencintai bola (olahraga) demi menjauhkan Qiyamul lail. Mindset umat Islam sudah dirusak dengan merubah pola pikir dasar generasinya,” pungkasnya.*/Ainuddin
Spirit adalah semangat. Fungsinya dalam wilayah menejemen adalah penyemangat. Tujuannya ialah memberikan semangat produktif kepada semua lini organisasi baik secara personal maupun kelompok.
Spiritualisasi terhadap individu atau kelompok dilakukan oleh pemimpin dalam rangka untuk mencapai visi organisasi. Pencapaian sebuah visi secara menejerial dirancang melalui strategi baik jangka panjang, menengah maupun pendek. Jangka waktu strategi ini untuk memudahkan evaluasi kinerja menejemen secara kuantitatif.
Umar bin Khaththab berkata; belajarlah sebelum engkau memimpin (tadaarasuu qabla anta rasuu). Begitu pula kata pepatah Arab; menejemen adalah mudah tetapi tidak mudah tanpa menejemen (al-idaaratu laa syai’a wa laa syai’a biduunihaa). Pernyataan Umar bin Khaththab, dan pepatah Arab tersebut mengundang pertanyaan sebagai berikut. Sejauhmana pentingnya ilmu menejemen dalam suatu organisasi?
Dalam menejemen modern, terjadi pergeseran paradigma bisnis. Jika sebelumnya prinsip yang diterima secara luas adalah business is business, maka kini para pelaku bisnis mulai melirik apa yang disebut sebagai etika bisnis. Menejemen otoriter diubah menjadi egaliter, dari hierarkis menjadi kesetaraan.
Belakangan, berkembang apa yang disebut spiritualisasi menejemen, yang memandang bahwa suatu perusahaan merupakan perwujudan kolektif spirit-spirit, yakni jumlah total ruh individu yang berkerja di dalamnya. Mereka diibaratkan anggota tubuh, jika satu organ terganggu fungsinya, maka akan mengganggu fungsi tubuh secara keseluruhan.
Dalam suatu pekerjaan yang dilakukan gotong-royong, seorang pemimpin yang dibekali spiritualitas memadai, akan memandang penting siapapun dan di bagian apa pun mitra kerja.
Spiritualisasi menejemen terjadi bukan semata-mata karena Barat akhir-akhir ini sedang dilanda krisis kemanusiaan yang berupa krisis eksistensi, ataupun kehampaan makna hidup, keterasingan dan kegelisahan. Tapi lebih jauh lagi karena spiritualitas adalah ruh yang bisa menggerakkan bisnis menuju muara kesuksesan besar. Tidak hanya secara finansial, tapi juga secara moral.
Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa salam dalam proses spiritualisasi menejemen dimulai dari pendidikan tauhid. Beliau sendiri yang mentransfer tauhid dan nilainya kepada peserta didik secara klasikal. Lembaga training Daarul Arqam sebagai sentra pendidikan. Out put-nya terdapat empat orang sahabat menjadi inner staff yang handal: Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Usman bin Affan, dan Ali bin Thalib.
Apa rahasianya? Tentu kita sudah maklum bahwa letak keberhasilan kepemimpinan Rasulullah terlukis dari sifatnya: siddiq (jujur), amanah (tanggung jawab), tabligh (komunikatif), dan fathanah (cerdas).
Empat sifat Rasulullah ini merupakan personal primary sebagai seorang pemimpin. Seorang sahabat bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu anha tentang akhlak beliau. Sayidah ‘Aisyah menjawab bahwa akhlak Rasulullah adalah al-Qur`an. Konotasinya adalah bahwa Rasululah adalah al-Qur`an berjalan.
Adalah sebuah mimpi jika seorang yang memiliki visi membangun peradaban Islam tidak ittiba’ pada pola dan gaya kepemimpinan Rasulullah. Inti kepemimpinan dalam Islam adalah mentransfer nilai tauhid kepada seluruh lini jamaahnya.
Jika tidak melakukannya, jangan harap memperoleh bibit generasi penerus yang melanjutkan misi peradaban Islam. Oleh karena itu, menjadi penting spiritualisasi menejemen agar seluruh lini jamaah tercerahkan sehingga visi membangun peradaban Islam dapat dicapai secara efektif. *