Beranda blog Halaman 83

Gelar DMU, Hidayatullah Bangka Belitung Cetak Generasi Muda Beradab Siap Songsong Indonesia Emas 2045

0

BABEL (Hidayatullah.or.id) – Semangat mempersiapkan generasi penerus yang cerdas dan beradab untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 digaungkan dalam kegiatan Dauroh Marhalah Ula (DMU) tingkat SMA se-Bangka Belitung.

Acara yang diselenggarakan oleh Hidayatullah ini berlangsung dari tanggal 9 Juni (cek in) hingga 11 Juni 2025, diikuti oleh siswa-siswi internal kelas 11 se-Bangka Belitung.

Pembukaan DMU ini menjadi momen penting dengan sambutan dari Ketua DPW Hidayatullah Bangka Belitung, Irwan Sambasong, serta sambutan daring dari Ketua Umum Ustaz Dr. Nasirul Haq, Lc., MA.

Dalam sambutannya, Ustaz Nasirul Haq menekankan pentingnya peran pemimpin masa depan dalam tegaknya peradaban Islam, sebuah visi yang selaras dengan cita-cita besar Indonesia.

Senada dengan itu, Ketua Perkaderan DPW Hidayatullah Bangka Belitung, Fur’adi Mansur, SE., S.Ag, turut menyampaikan urgensi kader muda dalam penguatan dakwah.

“Pentingnya kader muda untuk perkuatan dakwah dan menjadi pemimpin masa depan, sama apa yang telah disampaikan oleh Ketua Umum terkait dengan pemimpin masa depan untuk tegaknya peradaban Islam,” tegas Fur’adi dalam keterangannya, Kamis, 16 Zulhijah 1446 (12/6/2025).

Ia menekankan bahwa melalui DMU, diharapkan lahir pribadi-pribadi yang memiliki intelektualitas mumpuni, baik secara teori maupun aplikasi, sehingga mereka tidak lagi merasa sekadar remaja, melainkan calon pemimpin yang siap berkontribusi.

Irwan Sambasong, dalam sambutannya, juga menyoroti peran penting DMU sebagai wadah bagi kader-kader muda Hidayatullah untuk menjadi pelanjut dakwah.

Ia berharap para peserta mampu menginternalisasi ilmu yang disampaikan, sehingga kelak menjadi individu yang bukan hanya cerdas, tetapi juga memiliki aplikasi nyata dalam kehidupan.

Salah satu peserta, Andi Rahmat, menyampaikan kesannya dengan penuh antusias.

“Alhamdulillah menambah wawasan dan pemahaman tentang Islam dari pemateri yang memberikan materi tentang pengantar Studi Wakaf,” ungkap Andi. Ia juga menaruh harapan besar, “Semoga selalu istiqomah di jalan dakwah ini.”

Pelaksanaan DMU ini menjadi bukti nyata komitmen Hidayatullah dalam menyiapkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki pondasi keimanan dan akhlak yang kuat.

Di tengah dinamika zaman dan tantangan global, keberadaan generasi cerdas beradab adalah kunci utama untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 yang bermartabat dan berjaya.*/Herim

Medan Ekstrem Tak Halangi Kurban Bisa Dinikmati Warga Pelosok Pulau Buru

0

MALUKU (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) dengan jaringan yang tersebar di 35 provinsi dengan cepat menembus titik-titik sulit di negeri ini. Termasuk titik kepulauan untuk menyalurkan hewan kurban. Seperti ke Pulau Buru di Maluku.

“Berkat dukungan para donatur dan berbagai pihak, BMH berhasil mengirimkan kebahagiaan daging kurban ke 9 desa terpencil di Pulau Buru,” kata Kepala BMH Maluku, Supriyanto, seperti dalam keterangan diterima media ini, Selasa, 14 Dzulhijjah 1446 (10/6/2025).

“Desa itu meliputi Desa Savana Jaya. Sanleko, Marloso, Wamana baru, Migodo, Wabolem, Waegapa, Wuhan, Lele,” urai Supri, sapaan akrabnya.

Seorang warga Desa Sanleko, Ibu Siti mengaku sangat bersyukur atas perjuangan tim BMH.

“Saya belum pernah rasakan daging sejak setahun lalu. Alhamdulillah hari ini bisa makan daging bersama keluarga,” katanya haru.

Menempuh Medan Sulit

Namun di balik itu semua, BMH telah berhasil melalui medan yang sulit.

“Benar, perjalanan menuju lokasi penyaluran di Pulau Buru penuh tantangan, mulai dari jalan berlumpur, jurang curam, hingga gelombang tinggi di laut,” jelas Supriyanto.

Syarif, seorang relawan menguatkan kisah Surpi itu.

“Ada satu momen yang sangat menyentuh hati. Saat kami harus menyeberangi sungai besar dengan rakit tradisional sambil menjaga agar daging qurban tetap aman dan tidak terkontaminasi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, di beberapa titik, tim harus berjuang ekstra membawa beban daging kurban yang telah dikemas higienis melintasi rintangan.

Meski demikian, semangat warga menjadi pendorong utama. Di Desa Wamana Baru, salah satu desa paling terisolasi di Pulau Buru, antusiasme masyarakat begitu terasa.

Anak-anak menyambut gembira kedatangan rombongan LAZ BMH, sementara para ibu tak kuasa menahan haru saat menerima paket daging kurban.*/

LSH Hidayatullah dan Kampung 99 Pepohonan Sukses Kawal Penyembelihan Halal di Empat Titik Strategis

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam momentum Idul Adha 1446 H, Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah bersama Kampung 99 Pepohonan berhasil melaksanakan penyembelihan hewan qurban di empat lokasi strategis di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Total hewan yang disembelih dalam program ini mencapai 41 ekor sapi serta 151 ekor domba dan kambing.

Empat titik utama pelaksanaan meliputi Masjid Nurullah (Apartemen Kalibata City), Masjid Nurul Iman (Kompleks Kementerian Pertanian Ragunan), Masjid Al Ikhlas (Jatipadang), dan Masjid Al-Ghifari (Komplek Bali View, Cirendeu).

Pelaksanaan penyembelihan di seluruh titik tersebut dijalankan secara syar’i dan profesional oleh tim juru sembelih halal bersertifikat dari LSH Hidayatullah.

Ketua LSH Hidayatullah Pusat, KH. Nanang Hanani, S.Pd.I., M.A., menyatakan bahwa penyembelihan qurban bukan semata kegiatan rutin tahunan, tetapi bagian dari pelaksanaan syariat Islam yang harus dijalankan secara benar dari hulu ke hilir.

“Qurban adalah ibadah yang mengandung dimensi tanggung jawab syariat, amanah sosial, serta edukasi publik tentang pentingnya ketertiban dan kehalalan proses penyembelihan,” ujar Nanang, seperti dalam keterangannya kepada media ini, Selasa, 14 Dzulhijjah 1446 (10/6/2025).

Ia menegaskan pentingnya membangun sistem qurban yang terdokumentasi, transparan, dan terukur, agar amanah dari para mudhahhi (pequrban) tersampaikan dengan baik dan tepat sasaran.

Kampung 99 Pepohonan, sebagai mitra penyedia ternak, memastikan bahwa seluruh hewan qurban yang disediakan dalam program ini telah memenuhi standar kesehatan, kecukupan umur, serta lulus pemeriksaan antemortem. Dengan demikian, kualitas hewan terjamin sebelum proses penyembelihan berlangsung.

Kolaborasi ini menunjukkan integrasi antara lembaga keagamaan dengan pelaku peternakan modern yang berkomitmen pada standar halal, adil, dan profesional.

Selain teknis penyembelihan, aspek edukasi juga menjadi perhatian, di mana panitia masjid dan masyarakat sekitar dilibatkan untuk menyaksikan langsung proses qurban, sehingga prinsip syariat, kesehatan, dan ketertiban dapat terinternalisasi secara luas.

“Menegakkan syariat qurban bukan hanya soal pisau dan hewan. Ini soal integritas sistem—dari niat, penyediaan hewan, hingga distribusi daging secara adil dan transparan,” kata Nanang.

Nanang menggarisbawahi perlunya sinergi menyeluruh dalam pelaksanaan ibadah qurban, agar ibadah yang bernilai spiritual tinggi ini tidak terjebak sekadar menjadi rutinitas ritual, melainkan menjadi model ibadah yang amanah, profesional, dan memberi dampak sosial nyata.

Dengan capaian ini, baik LSH Hidayatullah maupun Kampung 99 Pepohonan berharap model kolaborasi ini dapat diperluas ke wilayah lain, menjadi standar baru dalam pelaksanaan qurban halal dan bertanggung jawab di Indonesia.*/

IMS Bersama Komunitas Biker Kolaborasi Dakwah dan Layanan Kesehatan Sosial

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Islamic Medical Service (IMS) menjalin kolaborasi strategis dengan komunitas biker dalam acara kajian Islam bertajuk “Kamu Yakin 100% dengan Al-Quran?”, Jakarta, Senin, 13 Dzulhijjah 1446 (9/6/2025).

Kegiatan ini digelar di Papabro Cafe, Antasari, Jakarta Selatan, pukul 06.30–10.00 WIB, dihadiri oleh lebih dari 70 peserta dari berbagai komunitas motor.

Acara ini merupakan bagian dari program Ngaji Bareng Kopi Shubuh yang diinisiasi oleh komunitas Pria Masjid Ride (Pride), bekerja sama dengan Motovillage, Papabro Cafe, dan SARANI (Sarapan Rohani).

Dalam kesempatan tersebut, IMS mendapat kehormatan untuk membuka acara dengan memaparkan berbagai program sosial kesehatannya.

Muhammad Saturi, perwakilan pengurus inti IMS, menjelaskan kontribusi lembaga ini dalam bidang layanan kesehatan umat.

Beberapa program utama yang dipaparkan di antaranya Gerakan Peduli Sehat, program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di bidang kesehatan, serta layanan hapus tato gratis untuk sahabat hijrah.

Selain itu, IMS mengumumkan rencana peluncuran web funding kesehatan, sebuah platform pendanaan publik yang bertujuan menghimpun dukungan untuk pengadaan alat kesehatan (alkes) dan pelaksanaan program sosial kesehatan lainnya bagi masyarakat kurang mampu.

Selebriti Umay Lubis, yang turut hadir dalam acara ini, menyampaikan apresiasinya terhadap sinergi antara IMS dan komunitas motor.

“Program seperti ini sebaiknya diadakan rutin, bahkan suatu hari bisa dilaksanakan di GBK Senayan,” ungkapnya sambil tersenyum, menekankan potensi besar program dakwah dan kesehatan ini untuk menjangkau audiens yang lebih luas di masa depan.

Senada dengan itu, Kang Hadi dari Pride menyampaikan rasa terima kasih kepada IMS atas dukungannya. Ia berharap kolaborasi serupa dapat terus berlanjut dan berkembang dalam bentuk program kesehatan berikutnya.

Koh Dondy Tan, tokoh publik sekaligus mualaf yang menjadi pembicara utama dalam kajian ini, juga menunjukkan ketertarikannya untuk berkolaborasi lebih lanjut dengan IMS.

Ia menyebutkan rencananya untuk menggandeng IMS dalam program sosial Yayasan YPM At-Tauhid, terutama layanan hapus tato gratis bagi sahabat hijrah.

Sesi kajian berlangsung aktif, diwarnai diskusi yang dinamis antara peserta dan narasumber.

Di penghujung acara, IMS memperkenalkan armada ambulans layanan hapus tato keliling beserta peralatannya.

Sahuri mengatakan, inisiatif berbagai program ini menjadi ikhtiar konkret sinergis oleh IMS dalam menghadirkan inovasi di bidang layanan kesehatan sosial berbasis Islam.

Islamic Medical Service (IMS) adalah organisasi nirlaba yang fokus pada pelayanan kesehatan Islam. Program unggulannya meliputi layanan medis gratis, CSR kesehatan, dan hapus tato gratis untuk mendukung masyarakat dhuafa, penduduk pedalaman, serta para sahabat hijrah.*/

Berkurbanlah, Jangan Jadi Kurban

0

AL ANDALUS adalah pusat Jihad Ilmu yang berkilau di tengah peradaban dunia. Ibukota para cendekiawan, ilmuwan, penyair, dan ulama terbaik pada zamannya. Kota-kota seperti Córdoba dan Granada memiliki universitas-universitas terbaik, pusat-pusat pemandian termewah, lampu-lampu jalanan, dan ratusan perpustakaan terlengkap di saat Eropa masih di Zaman Kegelapan akibat kekuasaan raja dan gereja.

Namun Al-Andalus runtuh dari dalam.

Begitu kaum Muslimin semakin kaya raya dan hidup nyaman, tanpa Ruhul Jihad di dada mereka, pelan tapi pasti perpecahan merebak di mana-mana. Kerajaan dan kesultanan saling bergaduh. Mereka berpaling dari agama, bermewah-mewah dengan dalil-dalil agama, tapi melupakan nilai-nilai dasar yang pernah menyatukan mereka.

Pada tahun 1492, Raja Katolik Ferdinand dan Ratu Isabella merampas kembali Granada. Pemimpin Muslim terakhir Boabdil (Abu Abdullah), menyerahkan kotanya sambil menangis tersedu-sedu. Menurut sebuah riwayat, Ibunya berkata, “Jangan kau menangis seperti perempuan karena kau tak bisa berjihad sebagai laki-laki.”

Kita memang tidak akan berperang di negeri yang damai. Tapi jika hari ini kita tidak memberikan Tarbiyah Jihadiyah, anak-anak yang kita didik di sekolah dan pesantren kita besok akan jadi rombongan kambing dan domba yang hanya digebuki oleh para penguasa disuruh kesana kemari, dan ujungnya akan disembelihi satu demi atau secara massal.

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».

“Dari Tsauban beliau berkata, telah bersabda Rasulullah ﷺ: ‘Nyaris para umat (selain Islam) berkumpul (bersekongkol) menghadapi kalian sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang makan manghadapi bejana makanannya.’ Lalu seseorang bertanya : ‘Apakah kami pada saat itu sedikit?’ Beliau menjawab : ‘Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian itu buih seperti buih banjir, dan Allah akan menghilangkan dari diri musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan kedalam hati-hati kalian wahn (kelemahan)’, Lalu bertanya lagi : ‘Wahai Rasulullah apa wahn (kelemahan) itu?’, Kata beliau: ‘Cinta dunia takut mati’.”

Vaksin terbaik menghadapi wahn adalah Tarbiyah Jihadiyah.

10 Dzhulhijjah 1446

Dzikrullah W. Pramudya

Nabi Ibrahim AS dan Warisan Spiritualitas dalam Kehidupan Modern

0

BULAN Dzulhijjah menjadi momentum spiritual yang tidak bisa dilepaskan dari sosok Nabi Ibrahim AS dan keluarganya.

Ibadah haji, qurban, dan berbagai ritual lainnya merepresentasikan perjuangan dan ketaatan keluarga Ibrahim kepada Allah SWT.

Nabi Ibrahim adalah tokoh sentral dalam sejarah kenabian; beliau digelari sebagai Abul Anbiya (bapak para nabi), karena dari 25 nabi yang disebut dalam Al-Quran, 19 di antaranya adalah keturunan beliau.

Tidak hanya itu, nama Nabi Ibrahim diabadikan dalam satu surah khusus, yaitu Surah Ibrahim, dan disebut sebanyak 69 kali di dalam 24 surat lainnya.

Allah memberikan beberapa gelar mulia kepadanya, seperti Khalilullah (kekasih Allah), Al-Musthafa (manusia pilihan), dan Ulil Azmi (nabi dengan keteguhan hati luar biasa).

Ibrahim Sang Kekasih Allah

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 125:

وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَّاتَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَاتَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلً

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kekasih(-Nya)”

Keikhlasan Ibrahim dalam beragama dan konsistensinya dalam menempuh jalan lurus menjadi bukti spiritualitasnya yang paripurna.

Gelar Khalilullah padanya bukan sekadar simbol kepribadian dirinya, melainkan cermin dari hubungan spiritual terdalam antara hamba dan Tuhannya.

Manusia Pilihan yang Penuh Hikmah

Allah SWT juga berfirman dalam AL Qur’an surah Shad ayat 47:

وَاِنَّهُمْ عِنْدَنَا لَمِنَ الْمُصْطَفَيْنَ الْاَخْيَارِۗ

“Dan sungguh, di sisi Kami mereka termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.”

Ayat ini mendeskripsikan Ibrahim AS sebagai bagian dari manusia-manusia terbaik, sebagaimana dijelaskan sebelumnya pada ayat sebelumnya:

وَاذْكُرْ عِبٰدَنَآ اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ اُولِى الْاَيْدِيْ وَالْاَبْصَارِ

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak, dan Yakub yang mempunyai kekuatan-kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu (yang tinggi).” (QS Shad: 45)

Menurut Tafsir As-Sa’di, mereka adalah manusia pilihan yang dikaruniai sifat-sifat mulia dan amal yang istiqamah.

Hal ini menunjukkan bahwa keistimewaan Ibrahim tidak hanya dalam iman, tetapi juga pada akal, ilmu, dan tindakan.

Ulil Azmi: Keteguhan di Tengah Cobaan

Ibrahim AS juga tergolong dalam jajaran nabi Ulil Azmi, yaitu para rasul yang memiliki keteguhan hati luar biasa. Allah berfirman dalam Kitab-Nya pada surah Al-Ahqaf ayat 35:

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ اُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَّهُمْۗ كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوْعَدُوْنَۙ

“Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati dan janganlah engkau meminta agar azab disegerakan untuk mereka…”

Kesabaran Ibrahim merupakan teladan bagi umat Nabi Muhammad SAW untuk bersikap teguh dalam menghadapi tantangan dakwah dan ujian kehidupan.

Uswah Hasanah Sepanjang Zaman

Nama Ibrahim senantiasa disebut dalam doa-doa, termasuk dalam salawat Ibrahimiyah yang dibaca dalam shalat. Ini bukan tanpa makna, melainkan bukti bahwa hidupnya sarat dengan pelajaran yang patut diikuti.

Allah menegaskan hal ini sebagaimana dalam titah-Nya dalam surah Al-Mumtahanah ayat 4 dan 6:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗۚ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya…”

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْهِمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) terdapat suri teladan yang baik bagimu…”

1. Semangat Mencari Kebenaran

Lahir dari ayah pembuat berhala, Ibrahim tidak menerima begitu saja tradisi kaumnya. Ia berpikir, menelaah, dan akhirnya meyakini tauhid. Allah mengabadikan perenungannya dalam Surah Al-An’am ayat 76:

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًاۗ قَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ

“Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang lalu berkata: ‘Inilah Tuhanku.’ Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata: ‘Aku tidak suka kepada yang terbenam.'” (QS Al-An’am [6]:76)

فَلَمَّا رَاَ الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَىِٕنْ لَّمْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَكُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّاۤلِّيْنَ

“Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata: ‘Inilah Tuhanku.’ Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata: ‘Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.'” (QS Al-An’am [6]:77)

فَلَمَّا رَاَ الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَآ اَكْبَرُۚ فَلَمَّآ اَفَلَتْ قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ

“Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata: ‘Inilah Tuhanku, ini lebih besar.’ Tetapi ketika matahari itu terbenam dia berkata: ‘Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.'” (QS Al-An’am [6]:78)

2. Ketaatan dan Kesabaran dalam Ujian

Ibrahim diuji dari berbagai sisi: penolakan ayahnya, lama tak punya anak, hingga perintah Allah untuk meninggalkan istri dan bayinya di lembah tak berpenghuni:

رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ

“Ya Rabb kami! sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati…” (QS Ibrahim [14]:37)

Puncaknya adalah perintah untuk menyembelih putranya, Ismail:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

“Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'” (QS As-Shaffat [37]:102)

3. Pengabdian Total pada Kebenaran

Setelah menemukan kebenaran, Ibrahim aktif berdakwah dan berdoa agar negerinya menjadi negeri yang aman dan makmur:

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗٓ اِلٰى عَذَابِ النَّارِۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.’ Dia (Allah) berfirman, ‘Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.'” (QS Al-Baqarah [2]:126)

Akhir kata, Nabi Ibrahim AS bukan hanya figur sejarah, melainkan cahaya peradaban yang menuntun jalan iman, logika, dan keberanian untuk menegakkan kebenaran.

Keteladanannya bukan hanya untuk dikenang, melainkan untuk diteladani dan diimplementasikan—dalam keluarga, masyarakat, hingga kepemimpinan bangsa.[]

*) Ust. Iwan Abdullah, M.Si, penulis Direktur Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) Pusat

Bimtek MQH-RQH Meneguhkan Standarisasi Sistem Dakwah al-Qur’an secara Nasional

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Dakwah dan Komunikasi Penyiaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah dengan menggandeng Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) pusat dan daerah menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Standardisasi Majelis Quran dan Rumah Quran Hidayatullah (MQH-RQH) secara hibrid dari Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Rabu, 8 Dzulhijjah 1446 (4/6/2025).

Agenda ini menjadi bagian awal dari rangkaian proses monitoring dan evaluasi (Monev) skala nasional terhadap lembaga pendidikan Quran internal Hidayatullah, yang akan diikuti dengan asesmen per wilayah mulai pertengahan Juni.

Acara strategis ini turut dihadiri oleh unsur pengurus Badan Koordinasi Pembinaan Tilawah al-Qur’an (BKPTQ) Hidayatullah serta Koordinator Gerakan Dakwah Nasional Mengajar-Belajar Al-Qur’an (Grand MBA), Ust. Muhdi Muhammad. Keduanya menegaskan pentingnya pembangunan sistem dakwah yang solid, terstandar, dan berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Ust. Muhdi Muhammad menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan pengejawantahan dari amanat Rakernas 2020–2025 yang mengusung tema “Konsolidasi Manhaj, Organisasi, dan Wawasan menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik.”

Menurutnya, MQH dan RQH adalah instrumen vital dalam mengakar kuatkan gerakan dakwah berbasis al-Qur’an.

“Standardisasi adalah jalan untuk menjadikan dakwah al-Qur’an dapat dijalankan secara serentak, konsisten, dan aplikatif di seluruh jaringan organisasi,” ujar Muhdi Muhammad.

Dengan sistem yang terukur dan terdokumentasi, lanjutnya, kaderisasi pengajar maupun peserta didik bisa berlangsung lintas generasi tanpa kehilangan arah dan ruh perjuangan.

Muhdi Muhammad menjelaskan bahwa Grand MBA merupakan inisiatif dakwah yang bertumpu pada kekuatan belajar-mengajar Al-Qur’an secara langsung dan masif.

“Kita ingin memastikan bahwa setiap titik MQH dan RQH memiliki standar layanan pendidikan al-Qur’an yang sama, mulai dari metode, kurikulum, hingga kualitas tenaga pengajarnya,” katanya.

Standardisasi bukanlah bentuk penyeragaman yang kaku, melainkan sistem penguatan yang memungkinkan fleksibilitas dalam bingkai mutu.

Oleh karena itu, proses Bimtek ini akan dilanjutkan dengan asesmen faktual di berbagai wilayah regional barat Indonesia, seperti Aceh, Sumatera Utara, Riau, hingga Jawa Timur, sepanjang 16 hingga 26 Juni 2025.

Proses ini akan ditunjang dengan perangkat pendukung seperti panduan teknis, modul MQH-RQH, lembar asesmen, hingga buku paket yang telah disiapkan.

Upaya ini, terang Muhdi, dimaksudkan untuk memperkuat ekosistem pendidikan Quran Hidayatullah agar dapat menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Hidayatullah memandang bahwa sistem dakwah tidak cukup hanya dibangun di atas semangat, tetapi juga harus ditopang oleh perangkat manajemen dan standardisasi.

“Siapa pun yang mengelola, sistem ini harus menjamin gerakan dakwah tetap hidup dan mengakar,” jelas Muhdi.

Lebih jauh, kegiatan ini menjadi momen konsolidasi nasional bagi kader dan pegiat dakwah Quran di seluruh jaringan Hidayatullah, khususnya wilayah barat. Dengan model pelaksanaan daring, efisiensi waktu dan partisipasi luas menjadi lebih memungkinkan, tanpa mengurangi substansi.

Bimtek dan asesmen MQH-RQH ini sebagai langkah taktis-strategis dalam membangun peradaban Islam melalui pendidikan al-Qur’an. Melalui kegiatan ini, Hidayatullah berikhtiar menjadikan rumah-rumah tahfizh dan majelis Quran sebagai simpul transformasi masyarakat, bukan hanya tempat belajar mengaji.

“Standar bukan untuk membatasi, tapi untuk meluaskan dampak,” tegas Muhdi. Di sinilah letak peran penting Bimtek ini, terangnya menambahkan, yakni memastikan setiap pegiat Quran memiliki fondasi yang sama untuk melangkah bersama.*/

Qurrota A’yun dan Nilai Keluarga Harmonis dalam Menghadirkan ‘Cahaya’ di Rumah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah ritme kerja institusi strategis seperti Kementerian Pertahanan RI, ada ruang kontemplatif yang diciptakan untuk kembali ke akar, yaitu keluarga.

Rumah Sakit Pusat Pertahanan Negara (RSPPN) Panglima Besar Soedirman Kemhan RI, Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, menggelar kajian bertajuk “Parenting Keluarga Harmonis” dengan menghadirkan Ustadz Zainuddin Musaddad (UZM) sebagai narasumber utama, pada Rabu, 8 Dzulhijjah 1445 (4/6/2025).

Bertempat di ruang meeting RSPPN, Bintaro, kegiatan ini sebuah ikhtiar menyelaraskan kehidupan personal dan profesional para insan Kemhan.

Kolonel Ckm Muhammad Mursid, S.Sos, dalam sambutannya menyatakan harapannya agar kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda temporer, melainkan menjadi energi baru yang rutin untuk membina semangat dan kualitas hidup para pegawai.

“Semoga kajian ini menjadi inspirasi dan semangat bagi kita semua, agar tidak hanya produktif di kantor, tapi juga berhasil menjadi pribadi yang membawa harmoni di dalam rumah,” ujar Kolonel Mursid.

Dalam ceramahnya, Ustadz Zainuddin Musaddad memulai dengan sebuah fondasi spiritual yang kuat bahwa memilih pasangan yang tepat sebagai titik awal dari sebuah keluarga yang harmonis.

Ia menyinggung kisah monumental Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Siti Sarah sebagai contoh sejarah spiritual tentang cinta, kesetiaan, dan peran kolektif dalam membangun keluarga tangguh di tengah tantangan besar.

Pria yang karib disapa Abah Zain ini tidak berhenti di tataran ideal, ia menyelami hal-hal praktis yang sering kali luput dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan bahasa yang ringan namun sarat makna, ia memberikan sejumlah tips sederhana yang membawa dampak mendalam.

Dalam kehidupan sehari-hari, katanya, kebahagiaan seringkali lahir dari hal-hal kecil yang sederhana namun bermakna. Sebuah senyuman tulus dan uluran bantuan ringan kepada keluarga, rekan kerja, atau teman bisa menjadi sumber energi positif yang menguatkan ikatan sosial dan emosional.

Di tengah rutinitas, pekerjaan yang dilakukan dengan cinta dan kesadaran sebagai bentuk ibadah akan terasa lebih ringan, bahkan menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada nilai-nilai spiritual.

Begitupun momentum berangkat dan pulang kerja seharusnya tidak dilewati begitu saja.

Menyapa keluarga dengan penuh kasih saat hendak meninggalkan atau kembali ke rumah adalah bentuk penghormatan terhadap keberadaan mereka—sebuah cara sederhana untuk mengatakan bahwa mereka berarti.

Di sisi lain, dalam era digital, percakapan langsung dengan pasangan sering terganggu oleh layar gawai. Mengurangi ketergantungan ini adalah upaya nyata untuk hadir sepenuhnya dalam kebersamaan yang otentik.

Abah Zain juga menekankan bahwa sikap syukur dalam setiap kondisi, baik suka maupun duka, membuka ruang refleksi yang jernih.

Ketika konflik muncul, doa menjadi jalan kembali—tempat bertanya, mengevaluasi, dan berharap pada solusi yang lebih dari sekadar logika, yakni ketenangan yang datang dari Yang Maha Mengatur.

Qurrota A’yun sebagai Penjaga Harmoni Keluarga

Salah satu poin yang menggetarkan ruang adalah ketika Abah Zain mengutip konsep qurrota a’yun, yakni memandang pasangan dan anak-anak sebagai penyejuk hati, bukan beban atau pembanding.

“Lihatlah wajah pasangan dan anak-anak dengan kasih sayang, bukan dengan standar orang lain. Jangan biarkan cinta menjadi formalitas, biarkan ia tumbuh sebagai rahmat,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan pentingnya keterhubungan dengan spiritualitas. “Dekatkan diri ke tempat sujud. Di sanalah letak pintu menuju surga, termasuk surga rumah tangga”.

Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah karyawan RSPPN dan tokoh-tokoh strategis seperti Analis Kebijakan Madya Bidang Keselamatan Pasien dan Karyawan serta perwakilan dari Pusrehab Kemhan, Harry Nurhamid.

Mereka mendengarkan dengan seksama, menunjukkan bahwa dalam dunia birokrasi pun ada ruang untuk menyuburkan sisi kemanusiaan yang lembut dan hangat.

Antusiasme peserta menjadi bukti bahwa kerja keras profesional bukan alasan untuk menanggalkan peran sebagai suami, istri, atau orang tua. Justru, keluarga menjadi fondasi yang menopang integritas seseorang dalam menjalankan tugas negara.

[KHUTBAH IDUL ADHA 1446] Implementasi Nilai-Nilai Idul Adha dalam Pendidikan Keluarga

DI ERA modern yang penuh hiruk-pikuk ini, banyak keluarga Muslim mulai kehilangan arah dalam menjalani kehidupan beragama. Arus budaya Barat melalui kecanggihan tehnologi informasi dan komunikasi yang masuk perlahan, telah menggerus nilai-nilai Islam dalam kehidupan keluarga.

Hari ini adalah hari yang agung, hari pengorbanan, hari di mana kita mengenang kembali kisah penuh keteladanan dari Nabi Ibrāhīm ‘alayhis salām dan putranya, Nabi Ismā‘īl ‘alayhis salām. Idul Adha bukan sekadar seremoni penyembelihan hewan kurban, bukan semata-mata momen berbagi daging kepada sesama.

Lebih dari itu, Idul Adha adalah panggung besar tempat nilai-nilai luhur Islam ditampilkan dan dimaknai — nilai-nilai keimanan, ketaatan, keikhlasan, serta pendidikan dalam keluarga.

UNDUH NASKAH INI SELENGKAPNYA, KLIK DI SINI

Mahasiswa Sekolah Dai Hidayatullah Bogor Jalani Ujian Terbuka Sebelum Penugasan

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Dai Hidayatullah Ciomas, Bogor, Jawa Barat, menggelar Ujian Terbuka pada awal Juni ini. Ujian ini menjadi tahap akhir pendidikan bagi para calon dai muda yang telah menempuh masa belajar selama satu tahun.

Sebanyak 20 mahasiswa mengikuti ujian terbuka tersebut. Mereka datang dari berbagai penjuru Indonesia, mulai dari Papua Selatan, Papua Barat, Papua Barat Daya, hingga Kalimantan Timur, NTB, NTT, Ternate, Kepulauan Riau, dan wilayah lainnya.

Selama setahun, para peserta dibekali berbagai disiplin ilmu dakwah serta keterampilan praktis untuk menunjang kemandirian saat terjun ke tengah masyarakat.

Ujian terbuka yang digelar pada Ahad, 5 Dzulhijah 1446 (1/6/2025) ini menguji empat bidang inti, yaitu Fiqih oleh Ustadz Nurhidayat, S.Ag, Mengajar dan Belajar al-Qur’an (MBA) oleh Ustadz Muhdi Muhammad,S.Pd.I, MA, serta Tahfidz oleh Ustadz Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.Pd.I.

Direktur Sekolah Dai Hidayatullah Bogor, Ustadz Saepudin Abdullah, Lc., menjelaskan bahwa pelaksanaan Ujian Terbuka merupakan bagian penting dari proses pendidikan yang menandai kesiapan akhir peserta didik sebelum diwisuda dan ditugaskan ke lapangan dakwah.

Ujian ini tidak hanya menguji aspek teori, tetapi juga kompetensi praktik yang akan mereka perlukan saat bertugas di masyarakat.

“Ujian terbuka ini bagian dari mekanisme evaluasi menyeluruh atas kesiapan dai-dai muda dalam aspek pemahaman ilmu, keterampilan berdakwah, dan ketangguhan mental sebelum mereka diwisuda dan diamanahi tugas dakwah di daerah,” ungkap Saepudin.

Ia menambahkan bahwa ke depan, tantangan dakwah tidak hanya berkutat pada penguasaan materi agama, tetapi juga pada kecakapan sosial, kepemimpinan lokal, dan kemampuan beradaptasi di berbagai kultur masyarakat.

Karena itu, dia menambahkan, Sekolah Dai Hidayatullah merancang proses pendidikannya berbasis integrasi antara ilmu, praktik, dan pembinaan karakter.

Disiarkan Secara Daring

Pelaksanaan ujian dilakukan secara terbuka dan disiarkan langsung melalui TikTok. Meski sempat terlihat gugup, sebagian besar peserta mampu melewati ujian dengan cukup baik.

Al-Fajri Abdul Aziz, mahasiswa asal Kalimantan Timur, dinobatkan sebagai peserta terbaik. Ia menunjukkan penguasaan yang menonjol dalam aspek fikih, tahsin, MBA, dan hafalan al-Qur’an.

Abdul Ghofar Hadi mengapresiasi kegiatan ujian terbuka ini yangt sekaligus menandai satu dekade berdirinya Sekolah Dai Hidayatullah Ciomas.

Ghofar mengatakan, konsistensi mencetak kader dai muda di tengah tantangan zaman bukan perkara mudah. Namun, ia bersyukur kiprah Sekolah Dai Bogor mulai tampak nyata.

“Sebagian alumninya kini aktif berdakwah di daerah penugasan, menjadi imam, guru mengaji, hingga membuka Rumah Qur’an di wilayah-wilayah baru,” kata Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah ini.

Dia berharap, Sekolah Dai Bogor ini terus berikhtiar melahirkan dai-dai muda yang tidak hanya siap berdakwah, tetapi juga mampu hidup mandiri dan memberi manfaat bagi masyarakat luas.

Dalam aspek operasional, Sekolah Dai Ciomas yang setara dengan Sarjana Strata Satu ini tidak membebani mahasiswa dengan biaya pendidikan, melainkan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak yang peduli terhadap pembangunan SDM dakwah. Salah satu mitra utama adalah Baitul Maal Hidayatullah (BMH), lembaga amil zakat nasional yang secara konsisten mendukung pembinaan kader dai dari hulu ke hilir.*/