Beranda blog Halaman 84

Rasulullah Memilih Hewan Kurban Terbaik dan yang Memiliki Tampilan Menarik

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketekunan para peternak dalam merawat hewan kurban agar sehat dan menarik secara fisik memiliki dasar kuat dalam sunnah Nabi Muhammad SAW.

Hal ini tercermin dari praktik kurban yang dilakukan langsung oleh Rasulullah, sebagaimana dibahas dalam Kajian Ba’da Maghrib bertema “Kurban Rasulullah SAW” yang diselenggarakan oleh Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Balikpapan, dan dilansir kanal Youtube resminya. Selasa malam, 7 Dzulhijjah 1446 (3/6/2025).

Kajian ini menghadirkan narasumber Ustaz H. Ahmad Rifa’i, Lc., Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah.

Dalam ceramahnya, Ustaz Rifa’i mengangkat rujukan dari Kitab Bulughul Marom Bab Idul Qurban, yang menyajikan panduan dan hikmah berkurban menurut tuntunan Rasulullah SAW.

Dalam bagian kajiannya, Ustaz Rifa’i mengutip salah satu hadits dari Anas bin Malik ra, yang menyebutkan:

“Bahwasannya Nabi SAW berkurban dengan dua ekor domba yang berwarna putih, seperti putihnya garam dan juga bertanduk.” (HR. Bukhari-Muslim)

Mengulas hadits tersebut, Ustaz Rifa’i menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memilih hewan kurban dengan kualitas terbaik, tidak hanya dari segi kesehatan, tetapi juga dari segi tampilan fisik.

“Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dalam berkurban sangat memperhatikan tampilan daripada hewan kurban tersebut,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa meskipun tidak termasuk dalam syarat sahnya kurban, memperhatikan kualitas fisik hewan adalah bagian dari adab yang diajarkan Nabi SAW.

“Jadi beliau memberikan contoh kepada umatnya, kurban yang afdhol. Meskipun ini bukan syarat sah kurban, kita tetap berusaha mencari hewan kurban yang secara tampilan menarik, baik dari warna maupun tanduknya,” tegasnya.

Pesan utama dari kajian ini adalah ajakan kepada umat Islam untuk mempersembahkan yang terbaik dalam berkurban. Hal ini dipandang sebagai bentuk kesungguhan, rasa syukur, dan ketaatan kepada Allah SWT.

Melalui penjelasan dalam Bulughul Marom, jamaah mendapatkan pemahaman mendalam mengenai aspek-aspek penting dalam berkurban yang selama ini mungkin belum banyak diperhatikan.

Kajian Ba’da Maghrib ini merupakan bagian dari program rutin Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Balikpapan dalam rangka meningkatkan literasi keagamaan dan kualitas ibadah umat.

Kegiatan seperti ini sangat relevan menjelang perayaan Idul Adha, yang merupakan momentum penting dalam pelaksanaan syariat kurban.*/

Kendornya Aspek Ruhiyah Dinilai sebagai Penyebab Mundurnya Umat Islam

0
Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad memberikan arahan di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan (Foto: SKR/MCU)

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Geliat dakwah Islam di kancah dunia internasional tak luput dari perhatian serius KH Abdurrahman Muhammad, Pemimpin Umum Hidayatullah.

Fenomena menggembirakan ini disebutnya tak lain adalah campur tangan sekaligus pertolongan Allah buat umat Islam.

Untuk itu, Ustadz Abdurrahman, sapannya, mengimbau agar gairah dakwah itu tidak boleh kendor apalagi jatuh merosot. Justru dibutuhkan semangat yang lebih tinggi untuk pelayanan dakwah dan pembinaan umat.

“Biar (gedungnya) megah, biar ilmunya tinggi tapi tidak hidup dengan aktivitas ruhiyah, tidak hidup itu. Kalaupun (dianggap) hidup, aih sebentar saja matinya,” ucapnya mengingatkan tentang pentingnya kekuatan spiritual dan hubungannya dengan perkembangan dakwah beberapa waktu lalu.

“Saya membaca kenapa Cordova betul-betul runtuh waktu itu. Memang waktu itu kemajuan luar biasa. Bahkan sudah puncak kemajuan, puncaknya harta benda sampai puncaknya keilmuan,” ungkapnya memberi komentar tentang peristiwa runtuhnya peradaban Islam di Spanyol.

Menurutnya, satu di antara sebab keruntuhan adalah merosotnya aspek ruhiyah umat Islam.

“Halaqah ruhiyah merosot. Kenapa merosot? Karena terjadi sengketa hati. Coba baca sejarah Cordova, di mana-mana banyak faksi, banyak sultan, banyak kepentingan, akhirnya muncul perebutan kekuasaan,” lanjutnya, seperti dikutip media ini dari laman Ummuqurahidayatullah.id, Rabu, 8 Dzulhijjah 1446 (4/6/2025).

Level Tertinggi

Lebih lanjut, peristiwa Haji Wada’ (Haji Perpisahan), kata Ustadz Abdurrahman, adalah jaminan dan motivasi dakwah yang luar biasa. Dikatakan saat itu ada seratus orang lebih para Sahabat yang berkumpul bersama Nabi Muhammad.

“Maklumat umumnya adalah gerakan dakwah. Nabi mengatakan tidak ada lagi hijrah setelah fathu Makkah, yang ada adalah jihad. Maka sampaikan dakwah ini ke seluruh dunia,” ucapnya mengira pidato terakhir Rasulullah di hadapan para Sahabat.

“Jadi, bumi Allah seluruhnya adalah bumi jihad. Sehingga adakah satu kualitas melebihi mujahid? Tidak ada! Menjadi mujahid dakwah itu level tertinggi sudah itu. Menjadi “missionaris” yang punya misi membawa ajaran Allah,” terangnya penuh semangat.

“Ini harus diyakini, pesan almarhum (KH Abdullah Said, red) dalam menyebar kader-kader dakwahnya; tolonglah agama Allah kamu (pasti) akan ditolong Allah,” tegasnya mengakhiri motivasinya di hadapan para juru dakwah Hidayatullah.*/

Gelar Pelatihan Manajemen Qurban, KMH Tekankan Pentingnya Peran Muballigh dalam Syiar Halal

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Aula Orny Loebis Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, dipenuhi semangat para dai, pengurus masjid, dan relawan qurban, Senin, 6 Dzulhijjah 1446 (2/6/2025).

Mereka menghadiri Pelatihan Manajemen Qurban dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Sembelih Halal yang diselenggarakan oleh Korps Muballigh Hidayatullah (KMH), bekerja sama dengan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) dan Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah.

Tujuan acara ini tidak semata memperbarui pengetahuan teknis, tetapi mengokohkan kesadaran akan nilai syar’i dan etika dalam penyembelihan hewan qurban. Hal ini tercermin dari materi utama yang mengangkat prinsip ASUH atau Aman, Sehat, Utuh, dan Halal.

Sebagai narasumber utama, Ust. H. Nanang Hanani, S.Pd.I., MA., Ketua LSH Hidayatullah Pusat, memaparkan urgensi pemahaman fiqih udhiyah secara komprehensif.

“Qurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan. Ia adalah bentuk ibadah yang memerlukan pengelolaan yang profesional dan tetap berpijak pada prinsip syariat,” tegas Nanang.

Menurutnya, prinsip ASUH bukanlah jargon teknokratis belaka, melainkan turunan nilai-nilai Islam dalam memastikan kualitas ibadah qurban secara total.

“Aman”, jelas Nanang, berarti hewan dipastikan tidak menimbulkan risiko kesehatan masyarakat. “Sehat” menegaskan pentingnya kondisi fisik hewan sesuai standar. “Utuh” menekankan aspek integritas fisik—tidak cacat, tidak dipotong bagian tubuhnya.

Sementara “Halal” merupakan puncak dari segalanya, bahwa penyembelihan dilakukan sesuai syariat Islam, dengan niat, alat dan teknik yang benar, dan penyebutaan nama Allah.

Menambah dimensi praktis, Ust. H. Muhammad Syarif, S.Pd.I., selaku unsur Pengurus Pusat LSH Hidayatullah, menyampaikan pentingnya pelatihan teknis bagi para penyembelih hewan qurban di lapangan.

Syarif mengingatkan, tidak sedikit penyembelihan yang secara administratif sah, namun syar’inya dipertanyakan karena ketiadaan ilmu.

“Kualitas ibadah kita harus sebanding dengan ketekunan kita dalam belajar,” ujarnya. “Jangan sampai kesalehan sosial kita dalam berqurban justru cacat hanya karena kelalaian teknis.”

Lebih jauh, ia juga menekankan pentingnya standardisasi penyembelih halal, termasuk aspek kebersihan alat, waktu penyembelihan, serta manajemen distribusi daging kepada mustahik.

Pentingnya Syiar Halal dan Peran Muballigh

Acara ini juga dihadiri Direktur KMH, Ust. Iwan Abdullah, M.Pd.I., yang dalam keterangannya menekankan bahwa sembelih halal bukan semata ritual teknis, melainkan pernyataan nilai hidup.

Ia menyayangkan masih adanya sikap permisif di kalangan umat Islam terhadap perkara halal dan haram, terutama dalam konsumsi makanan.

“Ada yang sinis berkata, makan haram tak lantas bikin murtad. Ini pandangan keliru. Padahal, halal-haram adalah garis batas yang mendefinisikan iman,” tegas Iwan.

Iwan pun mengajak para muballigh untuk kembali menegakkan kesadaran halal sebagai bagian dari dakwah publik.

Dia menegaskan, sembelih halal adalah syiar. Ia bicara dua dimensi yaitu dunia dan akhirat.

“Dunia, karena menyangkut kesehatan masyarakat dan distribusi sosial. Berdimensi akhirat, karena itu adalah perintah Allah,” tegasnya.

Dalam kerangka ini, terang Iwan, pelatihan KMH bukan hanya ruang transfer pengetahuan, tapi juga forum konsolidasi nilai dan cermin peradaban.

Oleh karena itu, Iwan menekankan, ketika prinsip ASUH dijadikan fondasi, ibadah qurban bertransformasi dari sekadar pengorbanan materi menjadi peneguhan kualitas moral dan spiritual umat.

Dia menambahkan, dengan pendekatan manajerial yang terstandar, serta basis syar’i yang kokoh, acara ini berupaya menegaskan bahwa kemuliaan qurban terletak pada keterpaduan antara ilmu, akhlak, dan tata kelola.

“Inilah wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin, tertib, bersih, dan bermartabat,” tandas Iwan.*/

Profetik dan Profesionalisme dalam Amal Sosial, Bimtek LKSA Hidayatullah Sulawesi Utara

BOLMONGSEL (Hidayatullah.or.id) — Di tengah kompleksitas persoalan sosial dan kebutuhan anak-anak yatim maupun dhuafa, pengelolaan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) memerlukan pendekatan yang tidak hanya administratif, tetapi juga profetik dan profesional.

Menjawab tantangan ini, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah melalui Departemen Sosial menginisiasi kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi pengelola LKSA se-Sulawesi Utara.

Acara ini berlangsung pada 31 Mei hingga 1 Juni 2025, bertempat di Kampus Sekolah Dai Hidayatullah Desa Biniha, Kecamatan Helumo, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolmongsel), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Mengangkat tema “Meningkatkan Kualitas Pengelolaan LKSA secara Profetik & Profesional”, kegiatan ini menjadi refleksi serius atas pentingnya integrasi nilai-nilai kenabian dan profesionalisme dalam pelayanan anak.

Dalam sambutannya, Musliadi Daeng Raja selaku Ketua Departemen Sosial DPP Hidayatullah menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai bagian dari reformasi kelembagaan.

“Kami berharap LKSA Hidayatullah dapat menjadi lembaga yang lebih profesional dan efektif dalam memberikan layanan kepada anak-anak,” ujar Ust. Musliadi.

Dia menjelaskan, inisiatif ini sebagai upaya sinambung dalam memantapkan arah baru pengelolaan LKSA yang menuntut kompetensi, inovasi, dan kepedulian nyata terhadap masa depan anak-anak binaan.

Tujuan dari kegiatan ini, terang dia, dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan LKSA Hidayatullah se-Sulawesi Utara agar mampu memberikan layanan yang optimal, berkelanjutan, dan terarah, sehingga anak-anak yang dibina tidak sekadar terlayani, tetapi juga disiapkan menjadi kader-kader bangsa di masa depan.

Materi yang diberikan selama Bimtek mencakup aspek strategis seperti pengelolaan lembaga yang efektif, teknik penggalangan dana, dan pengembangan program yang berbasis pada kebutuhan riil anak.

Dengan menghadirkan narasumber yang berpengalaman luas di bidangnya—para peserta mendapatkan bekal teknis dan konseptual yang sangat aplikatif.

Ketua DPW Hidayatullah Sulut, Samsul Arifin, menyampaikan kegiatan ini diharapkan menghasilkan dampak langsung terhadap kapasitas pengelola LKSA.

Dalam bimtek ini peserta dilatih untuk mengelola lembaga secara efisien, menjalin sinergi dengan instansi terkait seperti Dinas Sosial di tingkat kabupaten dan provinsi, serta membangun program berbasis kebutuhan yang konkret.

“Hal ini merupakan prasyarat penting untuk mewujudkan LKSA yang adaptif terhadap dinamika sosial dan tuntutan regulasi,” katanya.

Dalam penutupan kegiatan, harapan besar dikemukakan terhadap LKSA Hidayatullah se-Sulawesi Utara agar mampu mentransformasikan diri menjadi lembaga yang tidak hanya hadir sebagai tempat perlindungan, tetapi juga sebagai pusat pertumbuhan dan pembinaan anak.

Disamping itu, Samsul berharap melalui kegiatan seperti ini, akan tumbuh kesadaran dan kepedulian yang lebih besar dari masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan lembaga sosial anak yang efektif dan efisien.

“Dengan kata lain, ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan proses peradaban kecil dengan membina manusia sejak dini dengan pendekatan profetik dan profesional untuk masa depan umat dan bangsa,” imbuhnya menandaskan.*/

Peradaban Islam dalam Perspektif Kontemporer

PERADABAN Islam merupakan salah satu bentuk peradaban yang unik dan menyeluruh karena berlandaskan wahyu Ilahi yang berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Berbeda dengan peradaban lain yang mungkin hanya berfokus pada aspek geografis, etnis, atau material, peradaban Islam memiliki fondasi spiritual dan moral yang kuat.

Hal ini, menjadikan peradaban Islam sebagai sebuah sistem nilai yang tidak hanya bertahan sepanjang masa tetapi juga memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, seni, pemerintahan, pendidikan, dan etika sosial.

Fondasi Peradaban Islam

Fondasi utama peradaban Islam adalah prinsip-prinsip Ilahi yang mencakup tauhid (keesaan Allah), ʿadl (keadilan), kesetaraan manusia, ʿilm (ilmu pengetahuan), serta universalitas dan inklusivitas.

Tauhid menjadi dasar dari pandangan dunia umat Islam, menegaskan bahwa semua aspek kehidupan harus selaras dengan kesatuan ilahi.

Keadilan, baik secara individual maupun struktural, mengatur segala tingkat masyarakat, mulai dari perilaku individu hingga struktur pemerintahan.

Kesetaraan manusia ditekankan dalam ajaran Islam melalui persaudaraan universal tanpa memandang ras, jenis kelamin, atau status sosial.

Ilmu pengetahuan menduduki posisi penting dalam peradaban Islam. Ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu “Iqra!” (Bacalah), menunjukkan betapa pentingnya ilmu dalam memajukan kemanusiaan.

Ilmu dalam Islam tidak hanya dianggap sebagai alat untuk bertahan hidup tetapi juga sebagai ibadah yang mendekatkan seseorang kepada Allah SWT.

Selain itu, peradaban Islam bersifat universal dan inklusif, sehingga ia dapat menyesuaikan diri dengan berbagai budaya sambil tetap mempertahankan prinsip intinya.

Unsur-Unsur Utama Peradaban Islam

Unsur struktural peradaban Islam mencerminkan integrasi antara nilai-nilai religius dan aspek kehidupan duniawi.

Beberapa komponen utamanya adalah agama dan kerangka etika, pemerintahan dan tatanan politik, ilmu pengetahuan dan pendidikan, sains dan inovasi, seni dan arsitektur, serta lembaga sosial dan ekonomi.

Agama dalam Islam tidak hanya sebatas ranah pribadi, tetapi membentuk kompas etis dan hukum bagi seluruh masyarakat.

Pemerintahan dalam Islam didasarkan pada prinsip syura (musyawarah) dan keadilan, bertujuan untuk melayani kemaslahatan umum dan menjunjung martabat manusia.

Ilmu pengetahuan dilembagakan melalui madrasah, perpustakaan, dan pusat-pusat terjemahan yang menarik cendekiawan dari berbagai budaya.

Sains dan inovasi berkembang pesat selama masa Kejayaan Islam, di mana para ilmuwan Muslim melestarikan dan mengembangkan pengetahuan Yunani, Persia, dan India.

Seni dan arsitektur Islam mencerminkan makna spiritual dengan desain yang harmonis dan bermakna. Lembaga sosial seperti zakat dan waqf menjadi sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ekonomi Islam berlandaskan prinsip keadilan, kerja sama timbal balik, dan larangan eksploitasi, memastikan bahwa aktivitas ekonomi sejalan dengan norma-norma etis.

Peran Ilmu Pengetahuan dalam Peradaban Islam

Ilmu pengetahuan menempati posisi sentral dalam peradaban Islam. Pandangan Islam tentang ilmu menggabungkan wawasan spiritual, bimbingan moral, dan penyelidikan rasional, menjadikannya sebagai sistem epistemologi yang unik dan berpengaruh luas.

Integrasi antara ilmu naqli (wahyu) dan ʿaqli (rasional) menjadi ciri khas epistemologi Islam, di mana disiplin-disiplin seperti astronomi, logika, kedokteran, dan matematika dikembangkan dalam kerangka etika Islam.

Institusionalisasi ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam dilakukan melalui madrasah, perpustakaan, universitas, dan pusat penelitian yang didanai oleh waqf. Contohnya adalah Bayt al-Hikmah di Baghdad dan Universitas Al-Qarawiyyin di Maroko, yang menjadi pusat pembelajaran tertua di dunia.

Sistem transmisi berbasis ilmu ini membantu menjaga persatuan dan identitas di tengah keberagaman komunitas Muslim.

Dalam konteks modern, ilmu pengetahuan dalam tradisi Islam sering kali dipandang sebagai obat untuk kemerosotan moral, ekstremisme, dan stagnasi intelektual.

Sistem ilmu pengetahuan Islam mendorong pemikiran kritis, keterlibatan etis, dan pemahaman seimbang, yang mampu mengatasi munculnya salah tafsir dan kekakuan ideologis.

Relevansi Peradaban Islam dalam Dunia Modern

Meskipun berakar pada warisan sejarah yang mendalam, peradaban Islam tetap relevan dalam menghadapi tantangan modern.

Prinsip-prinsipnya yang spiritual, visi pendidikannya, dan kebijaksanaan institusionalnya menawarkan solusi untuk berbagai masalah global saat ini.

Di zaman sekuler yang penuh ambiguitas moral, peradaban Islam menawarkan panduan berbasis nilai yang berpusat pada keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab kepada Allah.

Reformasi pendidikan berbasis peradaban Islam dapat mengatasi dikotomi antara pembelajaran sekuler dan religius, menciptakan individu yang utuh dan berkontribusi bermakna bagi masyarakat.

Dialog antarperadaban dan ketahanan budaya menjadi relevan dalam masyarakat pluralis saat ini. Peradaban Islam secara historis terlibat dalam interaksi budaya dengan Yunani, India, Persia, dan Barat tanpa kehilangan identitasnya sendiri.

Model peradaban Islam juga menawarkan alat-alat penting untuk memajukan keadilan sosial melalui institusi seperti zakat, waqf, dan prinsip ekonomi yang adil.

Selain itu, pemulihan semangat autentik peradaban Islam—berlandaskan ilmu pengetahuan, kasih sayang, dan keadilan—dapat melawan radikalisme dan sektarianisme.

Menghidupkan kembali jalan tengah yang seimbang (al-wasaṭiyyah) dalam tradisi Islam sangat penting untuk memulihkan misi penyatuan peradaban tersebut.

Kesimpulan

Berdasarkan tulisan-tulisan ilmiah terbaru satu dekade terakhir, para ilmuwan mempertegas bahwa peradaban Islam bukan hanya fenomena sejarah, tetapi merupakan pandangan dunia dan sistem nilai yang menyeluruh, berakar pada wahyu ilahi, prinsip etis, dan visi integratif tentang ilmu pengetahuan.

Peradaban Islam didefinisikan oleh komitmennya pada tauhid, keadilan, ilmu pengetahuan, dan martabat manusia universal. Nilai-nilai dasarnya membentuk lembaga-lembaga beragam—mulai dari pendidikan dan pemerintahan hingga sains, ekonomi, dan seni.

Unsur-unsur tersebut mencerminkan integrasi holistik antara hal-hal spiritual dan materi, individu dan masyarakat, serta religius dan rasional.

Pusat dari peradaban ini adalah pengejaran ilmu pengetahuan, yang berfungsi sebagai kewajiban spiritual sekaligus sarana kemajuan peradaban.

Di dunia yang terpecah belah saat ini, nilai-nilai peradaban Islam menawarkan sumber daya penting untuk kejelasan etis, reformasi pendidikan, dialog antarperadaban, dan keadilan sosial.

Oleh karena itu, peradaban Islam bukan hanya menarik secara historis, tetapi juga sangat relevan secara kontemporer, menawarkan model kehidupan di mana iman, akal, dan etika hidup berdampingan secara harmonis demi kemaslahatan seluruh umat manusia.[]

*) Muzakkir Usman, M.Ed., Ph.D, penulis dai muda Hidayatullah. Disampaikan dalam kegiatan pengajian pekanan, Senin 6 Dzulhijjah 1446 (2/6/2025) bersama Murabbi Ust. Abdul Aziz Qahar Mudzakkar

Revitalisasi Jatidiri Hidayatullah, AQM Sampaikan Refleksi Memasuki 50 Tahun Kedua

0

PALANGKARAYA (Hidayatullah.or.id) — Dalam suasana yang khidmat dan penuh semangat, ratusan kader Hidayatullah perwakilan dari berbagai penjuru Kalimantan Tengah berkumpul di Aula SMH Hidayatullah Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng), 3-4 Dzulhijah 1446 (30–31/5/2025).

Mereka datang tidak hanya sebagai peserta, tetapi sebagai bagian dari ikhtiar besar: menyambut 50 tahun kedua perjuangan Hidayatullah dengan kesadaran ideologis yang diperbarui.

Acara yang bertajuk “Temu Kader dan Upgrading Kader Ulaa-Wustha Hidayatullah Kalimantan Tengah” ini menghadirkan spektrum kader dari berbagai tingkatan mulai pengurus DPD, kader basis, serta organisasi otonom seperti Muslimat Hidayatullah (Mushida) dan Pemuda Hidayatullah. Lebih dari sekadar pertemuan rutin, forum ini dirancang sebagai ruang refleksi, konsolidasi, dan penajaman jati diri gerakan.

Kisman Maku, Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Kalimantan Tengah, membuka kegiatan dengan penegasan tujuan strategisnya.

Kata dia, penguatan militansi kader bukanlah proyek jangka pendek, melainkan fondasi kelangsungan gerakan Islam dalam lanskap kebangsaan yang terus berubah.

“Kegiatan ini kami rancang untuk memperkuat semangat juang kader Hidayatullah Kalteng,” katanya.

Refleksi Memasuki 50 Tahun Kedua Hidayatullah

Puncak kegiatan ini ditandai dengan kehadiran dan paparan anggota Dewan Pertimbangan Pusat Hidayatullah, Dr. Ir. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakakkar atau karib disapa AQM.

Sebagai mantan anggota MPR RI tiga periode (1999–2014) dan kader tulen gerakan dakwah, Dr. Aziz membawa kredibilitas intelektual dan spiritual yang menyatu.

Dalam penyampaian reflektifnya, ia menguraikan empat warisan ideologis dari pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, yang penting untuk dijaga dan dikembangkan. Keempat warisan ini menjadi jantung pemikiran gerakan.

Pertama, sistematika wahyu sebagai manhaj tarbiyah dan dakwah. Artinya, jelas dia, alur pendidikan dan penyadaran umat tidak boleh berpijak pada filsafat Barat ataupun pragmatisme dakwah belaka, tetapi harus berakar pada pola nuzul wahyu yang otentik.

“Wahyu bukan sekadar sumber hukum, melainkan struktur epistemologi yang membentuk cara pandang dan cara hidup,” terangnya.

Kedua, konsep kepemimpinan yang disebut imamah jamaah. Kepemimpinan dalam Hidayatullah, jelasnya, bukan sekadar struktur administratif, melainkan penggerak ruh kolektif yang bertumpu pada ketaatan, keteladanan, dan keberpihakan pada nilai-nilai Islam.

Ketiga, lembaga perjuangan yang dirumuskan sebagai Al Harakah Al Jihadiyah Al Islamiyyah. Dalam pengertian ini, terang Aziz, jihad bukan dalam makna sempit yang sering disalahpahami, tetapi sebagai totalitas perjuangan untuk menegakkan Islam dalam kehidupan—mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga sosial-politik.

Keempat, sistem berkampus sebagai ruang konkret peragaan ajaran Islam. Kampus dalam perspektif Hidayatullah bukan sekadar tempat belajar, tetapi miniatur masyarakat Islam yang ideal.

Terkait pilar kampus ini, Aziz mengutip pernyataan Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad: “Kampus Hidayatullah harus memiliki empat pilar, yaitu aktivitas ruhiyah (spiritual), aktivitas keilmuan, etika dan estetika, serta kepemimpinan dan manajemen.”

Kampus sebagai wadah aktivitas ruhiyah berarti seluruh warga kampus harus memakmurkan masjid dan menjadikan spiritualitas sebagai atmosfer utama.

Kedua, aktivitas keilmuan meliputi kajian keislaman yang terstruktur, termasuk program tahsin dan pembelajaran Al-Qur’an sebagai minimum wajib.

Berikutnya, kampus dengan pilar etika dan estetika, yakni menjadikan kampus sebagai ruang yang bersih, rapi, dan mencerminkan adab. Dan, terakhir, pilar kepemimpinan dan manajemen.

Dalam hal ini, Aziz menegaskan pentingnya struktur organisasi yang efektif dan efisien, demi terjaminnya gerakan yang terukur.

Sebagai penutup, Aziz menegaskan tiga prinsip jati diri Hidayatullah yang harus selalu menjadi identitas kolektif yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Jama’atun minal Muslimin, dan Al-Wasathiyah.

Ketiga identitas ini, tegas Aziz, bukan label semata, melainkan orientasi manhajiyah dan harakiyah dalam menjawab tantangan zaman.

Melalui Temu Kader ini, Hidayatullah Kalimantan Tengah membuktikan bahwa revitalisasi perjuangan bukanlah romantisme sejarah, tetapi tindakan sadar dan terstruktur.

Di tengah arus disrupsi nilai, Aziz berpesan, Hidayatullah perlu terus meneguhkan dirinya sebagai gerakan yang tak sekadar bertahan, melainkan terus bertumbuh dengan akar ideologi yang dalam dan sayap perjuangan yang luas dalam rangka berkhidmat untuk kemajuan agama, bangsa, dan negara.

Keterbatasan Tak Halangi Semangat Mengaji di Rumah Quran Al-Mutmainnah Kadia

0

KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Di sebuah sudut Kota Kendari, tepatnya di Rumah Quran Al-Mutmainnah yang berlokasi di Jl. Laremba, Lr. SCTV, Kelurahan Kadia, Kecamatan Kadia, ada secercah kebahagiaan yang baru saja merekah.

Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) kembali menorehkan jejak kebaikan. Mereka hadir membawa harapan, dalam bentuk lembaran-lembaran suci Al-Qur’an dan buku Iqro, untuk anak-anak pelosok yang haus akan ilmu agama.

Ini bukan kali pertama BMH melakukannya. Program penyaluran ini adalah bagian dari komitmen mereka yang tak pernah putus: mendukung pendidikan Al-Qur’an di daerah-daerah terpencil, tempat di mana fasilitas seringkali menjadi tantangan.

Kali ini, sebanyak 10 mushaf Al-Qur’an dan 10 Iqro diserahkan, bukan sekadar buku, melainkan gerbang menuju cahaya bagi para santri cilik.

Semangat Mengaji yang Tak Padam Meski Keterbatasan

Armin, Kepala Perwakilan BMH wilayah Sulawesi Tenggara, berbagi cerita. Ia melihat langsung bagaimana di pelosok-pelosok sana, semangat mengaji anak-anak begitu membara, namun terbentur pada ketersediaan mushaf yang sangat terbatas.

“Banyak anak-anak yang semangat belajar mengaji, tetapi mereka harus berbagi mushaf yang jumlahnya sangat terbatas,” ujarnya seperti dalam keterangan diterima media ini, Senin, 6 Dzulhijjah 1446 (2/6/2025).

“Alhamdulillah, dengan bantuan ini, mereka bisa lebih mudah belajar dan menghafal Al-Qur’an,” lanjutnya.

Bayangkan, tangan-tangan mungil itu tak lagi harus berebut satu mushaf. Kini, mereka bisa memegang Al-Qur’an sendiri, menelusuri setiap hurufnya dengan lebih leluasa, dan menghafal setiap ayat dengan lebih tenang.

Sebuah kemudahan yang bagi sebagian besar dari kita mungkin terasa biasa, namun bagi mereka, itu adalah anugerah tak ternilai.

Ucapan Syukur dari Hati yang Tulus

Kegiatan penyaluran ini disambut dengan antusiasme yang luar biasa. Para ustadz dan pengurus TPA di Rumah Quran Al-Mutmainnah tak bisa menyembunyikan rasa syukur mereka.

“Terima kasih kepada para donatur dan BMH,” ucap salah satu pengajar dengan senyum merekah.

“Bantuan ini sangat berarti bagi kami, semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.”

Sebuah doa tulus, mengalir dari hati yang merasakan langsung manfaat dari uluran tangan para dermawan.

BMH tak berhenti sampai di sini. Mereka terus mengajak kita semua untuk menjadi bagian dari cerita kebaikan ini.

Setiap donasi Al-Qur’an dan Iqro yang kita berikan, bukan hanya membantu anak-anak belajar mengaji.

Lebih dari itu, kita sedang ikut menanam benih-benih cinta Al-Qur’an di hati generasi muda, membangun masa depan yang berlandaskan iman dan ilmu.

“Sebuah investasi akhirat yang takkan pernah merugi,” tutup Armin.*/

Asrama Santri Hidayatullah Diresmikan di Jantung Nagari Sungai Jaring

0

AGAM (Hidayatullah.or.id) — Bukan dongeng, bukan pula sekadar impian di siang bolong. Di jantung Nagari Sungai Jaring yang syahdu, tepatnya di Jorong V, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, sebuah keajaiban nyata baru saja berdiri kokoh.

Inilah Asrama Santri Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, sebuah bukti bisu dari tetesan keringat, linangan doa, dan kedermawanan luar biasa yang kini menjelma jadi rumah bagi ratusan asa.

Hari yang cerah itu, seolah semesta turut merayakan, menjadi momen bersejarah peresmian sebuah impian yang kini menggenggam masa depan.

Ini bukan upacara biasa. Ini adalah simbol dari perjuangan yang tak kenal lelah, kolaborasi kebaikan yang menghangatkan hati, dan bukti nyata betapa kuatnya kekuatan sedekah.

Asrama ini adalah hadiah dari hati-hati tulus para dermawan yang merelakan sebagian rezekinya demi masa depan generasi penerus.

Doa dan Air Mata Haru Mengiringi Mimpi yang Terwujud

Suara-suara polos itu, lantunan doa yang khusyuk dari para santri cilik, menggema di setiap sudut bangunan baru.

Mereka memohon agar asrama ini, rumah baru mereka, menjadi ladang ilmu, iman, dan amal shalih.

Di wajah-wajah bening itu, terpancar semangat baru, seolah beban berat yang tadinya menghimpit kini terangkat oleh kehadiran bangunan sederhana namun penuh makna ini.

Harapan-harapan yang dulu hanya berani mereka impikan, kini mulai bersemi, menunggu untuk mekar.

Ketika tumpeng dipotong dan simbolis penyerahan dilakukan, suasana haru tak dapat dibendung.

Para pengurus pondok, tokoh masyarakat, dan perwakilan BMH berpegangan tangan dalam rasa syukur yang meluap.

Setiap detik dalam acara ini menegaskan satu hal: kebaikan takkan pernah berujung sia-sia. Zakat, infak, dan sedekah yang dipercayakan kepada BMH, kini benar-benar telah menjadi mercusuar harapan bagi anak-anak bangsa yang seringkali terabaikan.

Pelukan Kebaikan dari Hati yang Tulus

“Kami tak bisa berkata-kata, kecuali ribuan terima kasih yang terdalam kepada para sahabat kebaikan, para donatur, dan semua pihak yang telah menorehkan jejak kebaikan dalam pembangunan ini,” ujar Ustadz Muhammad Irsyad Istoyo, Ketua DPW Sumatera Barat, dengan suara bergetar.

“Doa kami takkan pernah putus, semoga kebaikan dan keberkahan senantiasa menyelimuti hidup kalian semua.”

Ustadz Irsyad menambahkan, “Semoga Allah SWT melipatgandakan pahala, melimpahkan kesehatan, menganugerahkan keluarga yang sakinah, dan tak henti-hentinya menuangkan rezeki yang berlimpah. Dan yang terpenting, semoga setiap amal jariyah ini terus mengalir, bahkan ketika kaki tak lagi menapak di bumi.”

Prawira Dijaya, Kepala Perwakilan BMH Sumatera Barat, dengan bangga menutup, “Asrama ini bukan sekadar kumpulan bata dan semen. Ia adalah saksi bisu dari cinta yang tak terlihat, dari tangan-tangan yang memberi dalam diam, dari hati-hati yang bergetar ingin melihat generasi Islam tumbuh dengan pendidikan yang layak.”

Asrama ini adalah permulaan. Sebuah babak baru bagi santri-santri di Sungai Jaring. Sebuah bukti bahwa ketika hati-hati mulia bersatu, keajaiban dapat terjadi.

“Siapa tahu, dari sinilah, dari asrama sederhana ini, akan lahir pemimpin-pemimpin masa depan yang membawa berkah bagi bangsa dan agama,” tutup Prawira.*/

Wisuda Angkatan II Sekolah Dai Bolmongsel Langkah Awal Para Penebar Cahaya Al-Qur’an

0

BOLMONGSEL (Hidayatullah.or.id) — 4 Dzulhijjah 1446 Hijriah, atau tepatnya 31 Mei 2025, akan selalu dikenang sebagai hari bersejarah di Kampus Sekolah Dai Hidayatullah (SDH) Biniha Timur, Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara.

Di tengah lanskap perbukitan yang hijau dan gemericik air sungai yang tak henti mengalir di samping pondok, sebuah momen sakral terukir: Wisuda Angkatan ke-2 Sekolah Dai Hidayatullah.

Ini bukan sekadar wisuda biasa; ini adalah bagian dari sejarah yang ditulis di kampus peradaban yang berlandaskan nilai Islamiyah, Ilmiyah, dan Alamiah, sebuah buah karya dari Amal Usaha DPP Hidayatullah.

Suasana pagi itu terasa begitu syahdu. Semilir angin seolah ikut merayakan, mengiringi setiap langkah para wisudawan menuju panggung.

Prosesi berlangsung khidmat, dipenuhi rasa syukur dan harapan. Ustaz Musliadi, Kepala Departemen Sosial DPP Hidayatullah, turut hadir membersamai, berbagi wejangan yang begitu mendalam.

“Kita punya tanggung jawab berbuat untuk umat, mengajari mereka dengan Al-Qur’an,” tegasnya.

Sebuah nasihat yang bukan hanya menyentuh kalbu, tapi juga membakar semangat untuk terus menebar kebaikan.

Empat Saudara, Seribu Asa untuk Umat

Mungkin hanya empat nama yang diwisuda hari itu, tapi dampaknya? Insya Allah tak terhingga.

“Mereka adalah Saudara Abdul Rozak yang siap mendedikasikan dirinya di Gorontalo Utara; Saudara Andre yang akan menguatkan dakwah di Hidayatullah Adow Bolsel; Saudara Irfan yang mengemban tugas tetap mengabdi di almamaternya, Sekolah Dai Hidayatullah Biniha Timur Bolsel; dan Saudara Faqih Muhtar Arifin yang akan melanjutkan perjuangan dengan tugas belajar ke Surabaya,” terang Murdianto Kadep Perkaderan DPW Hidayatullah Sulawesi Utara merinci.

Ada satu pesan yang begitu menghangatkan hati dari Saudara Faqih Muhtar. Ia merasa sangat terhormat bisa menjadi bagian dan mengambil peran di masyarakat, utamanya dalam membumikan Al-Qur’an.

Dengan penuh harap, ia juga memohon doa dari kita semua agar dapat istiqamah dalam menjalankan tugas yang mulia ini. Betapa besar semangat dan ketulusan hati mereka.

Empat orang ini mungkin terasa sedikit jika dihitung dengan angka, tapi mereka adalah empat pilar harapan yang akan berdiri tegak, siap menyebarkan ilmu dan cahaya Al-Qur’an di berbagai penjuru.

Kisah mereka adalah pengingat bahwa sekecil apa pun langkah yang kita ambil untuk kebaikan, jika dilandasi keikhlasan dan niat tulus, akan menjadi gelombang inspirasi yang tak terhingga.

“Semoga Allah Swt. senantiasa memberkahi perjalanan mereka dan menjadikan kita semua pribadi-pribadi yang terus termotivasi untuk berbuat kebaikan,” ungkap Kepala BMH Sulawesi Utara, Abdul Wahid Mokodompit.*/

Sinergi Kuatkan Peran Guru PAUD Membentuk Kepribadian Generasi Penerus

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di balik riuhnya Jakarta, sebuah momentum kepedulian hadir menyapa mereka yang kerap terlewat dari sorotan: para guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Di PAUD Nurul Fikri Assyakira Rawadas, Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur, sebuah kegiatan hangat berlangsung. Vanilla Hijab, brand fashion yang dikenal luas di kalangan muslimah, berkolaborasi dengan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH), menyalurkan puluhan paket sembako kepada para guru PAUD.

Sebanyak 20 guru menerima langsung bantuan tersebut. Mereka adalah pendidik-pendidik yang dengan kesabaran dan ketekunan, membentuk karakter anak-anak sejak dini.

Profesi guru anak usia dini ini seringkali dipandang sebelah mata, namun di sinilah letak awal pembentukan kualitas manusia Indonesia. Dan kali ini, mereka menerima perhatian yang tulus.

Amelia, seorang ibu salah satu penerima manfaat, mengungkapkan rasa terima kasih yang dalam.

“Jazakallah Khoiron katsiron kepada BMH yang menjadi washilah rezeki kami guru-guru PAUD. Semoga berkah dan sehat selalu,” ujarnya dengan suara bergetar. Ungkapan tersebut menyiratkan lebih dari sekadar rasa syukur: ia adalah pengakuan atas eksistensi dan perjuangan mereka.

Menurut Imam Nawawi, Kepala Humas BMH Pusat, program ini merupakan hasil keselarasan visi antara BMH dan Vanilla Hijab.

“Vanilla Hijab memandang strategisnya guru-guru PAUD dalam membentuk generasi bangsa. BMH pun demikian,” tegasnya, seraya menekankan bahwa bantuan yang diberikan juga sebagai penghargaan atas peran fundamental yang dimainkan para guru PAUD.

Lebih jauh dari sisi logistik, kegiatan ini menyampaikan pesan kemanusiaan. Dalam satu gerakan, kolaborasi ini menghadirkan pengakuan sosial terhadap kerja sunyi para pendidik anak usia dini. Mereka yang setiap hari membentuk dasar kepribadian generasi penerus, kini disapa oleh tangan-tangan yang peduli.

Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa sinergi antara sektor usaha dan lembaga sosial mampu menjangkau ruang-ruang yang jarang tersentuh. Dari sembako yang dibagikan, muncul makna kolektif bahwa bangsa ini masih memiliki jiwa gotong royong. Bahwa pendidikan tidak bisa berjalan sendiri. Butuh kolaborasi, butuh dukungan, dan butuh apresiasi yang konsisten.

Imam Nawawi menutup kegiatan ini dengan harapan semoga kebaikan ini terus mengalir, menginspirasi lebih banyak lagi tangan-tangan dermawan untuk ikut serta menyemai benih kebaikan di seluruh penjuru negeri.

Apa yang dilakukan Vanilla Hijab dan BMH bukan hanya kegiatan amal, tetapi juga sebuah pernyataan sosial. Mereka yang kerap disebut “pahlawan tanpa tanda jasa”, kini diberi ruang untuk menerima, dihargai, dan diakui. Tidak lebih, tapi juga tidak kurang dari yang seharusnya mereka terima sejak awal: perhatian dan penghormatan.*/

Herim Achmad