AdvertisementAdvertisement

Naspi Arsyad Tekankan Sistematika Wahyu dalam Pengelolaan Pesantren Hidayatullah

Content Partner

Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan arahan dalam kegiatan Inkubasi Manajemen Pesantren Unggul di IIBS Ar-Rohmah, Malang, Jawa Timur.

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., menegaskan bahwa Sistematika Wahyu (SW) sebagai manhaj tarbiyah dan dakwah tidak boleh hanya diterapkan dalam ruang formal, tetapi harus menjadi dasar pengelolaan yayasan dan pondok pesantren.

Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Inkubasi Manajemen Pesantren Unggul yang digelar Departemen Kepesantrenan DPP Hidayatullah di International Islamic Boarding School (IIBS) Ar-Rohmah, Malang, Jawa Timur, Rabu (17/09/2026).

Menurutnya, sebagai bagian dari jati diri Hidayatullah, Sistematika Wahyu harus menjadi landasan dalam setiap kegiatan dan program, termasuk manajemen pesantren.

“Jangan dipersempit pada ruang-ruang formal. Seakan cocoknya hanya ketika ceramah, materi kajian, materi khutbah, atau doktrin saja. Justru mengelola yayasan juga dasarnya harus SW,” tegasnya.

KH Naspi menyebut penerapan SW dalam pengelolaan lembaga menjadi bagian penting dalam memperkuat identitas Hidayatullah.

“Jadi Sistematika Wahyu dibutuhkan sebagai sense of identity untuk membangun, memperkuat, serta mendefinisikan Hidayatullah sebagai trademark yang kuat,” ungkapnya.

Di hadapan 50 peserta dari 25 yayasan pondok pesantren Hidayatullah se-Indonesia, ia menegaskan bahwa tantangan bukan lagi memperdebatkan manhaj, melainkan bagaimana menerjemahkannya dalam tata kelola yayasan sesuai kondisi masing-masing.

“Sebagai basis mengelola yayasan, manhaj ini bukan didiskusikan. Tapi diskusinya tentang bagaimana caranya menjelmakan SW dalam mengelola yayasan, mentransformasikan menjadi satu tujuan,” ujarnya.

Ia menambahkan, manhaj SW diharapkan mengarahkan kader untuk bekerja mewujudkan visi Hidayatullah, bukan visi personal.

“Jadi manhaj SW akan membuat seluruh kader bekerja demi terwujudnya visi Hidayatullah, bukan visi personal,” katanya.

Selain manhaj, KH Naspi menekankan pentingnya keberanian dalam kepemimpinan. Menurutnya, transformasi tidak akan berjalan jika pemimpin terjebak dalam zona nyaman.

“Jangan pernah bicara transformasi kalau sudah larut dalam zona nyaman. Tidak mau lagi mencari tantangan baru, puas dengan kondisi sekarang saja,” pungkasnya.

Inkubasi Manajemen Pesantren Unggul berlangsung 15–17 September 2026 dengan tema “Transformasi Manajemen Pesantren Menuju Miniatur Peradaban Islam yang Unggul, Mandiri, dan Berpengaruh.”

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Lailatul Ijtima’ DIY-Jatengbagsel: Kader Terpercaya Lahir dari Istiqamah

YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Jalan menuju keberhasilan selalu meminta dua kekuatan, yaitu iman dan istiqamah. Keduanya perlu hidup dalam diri setiap...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img