AdvertisementAdvertisement

Tetaplah Bersikap Adil Meskipun Sedang Benci

Content Partner

BILA rasa cinta telah menguasai hati, sederet keburukan bisa menjadi sekuntum keindahan. Namun, bila kebencian telah menggelapkan jiwa, segunung kelebihan pun bisa menjadi seonggok sampah menjijikkan.

Pada dua keadaan tersebut, manusia sering terjerumus ke dalam perilaku-perilaku yang salah. Mereka tercerabut dari obyektifitas, sikap adil, dan posisi pertengahan. Ada yang terjebak dalam fanatik buta. Ada pula yang terjerat dalam permusuhan liar.

Sudah tak terhitung lagi berapa kezaliman yang bermula dari kebencian. Tidak sedikit pula tindakan ngawur yang didorong cinta buta. Iblis adalah oknum nomer satu untuk kezaliman yang dilatarbelakangi kebencian ini.

Semata-mata karena membenci Adam, maka Iblis bersumpah menjerumuskan seluruh anak cucu Adam ke neraka. Padahal, apa salah keturunan Adam kepada Iblis? Bukankah ketika itu mereka belum dilahirkan? Namun, Iblis tidak butuh alasan untuk kezalimannya. Pokoknya, ia benci dan ingin mencelakakan. Titik!

Maka, kita diperintahkan berlaku adil semaksimal mungkin. Jangan sampai kebencian mendorong kita bertindak yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Itu sama saja dengan mengekor Iblis dan konco-konconya, padahal mereka musuh kita yang paling nyata.

Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ وَمَنْ يَّتَّبِعْ خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ فَاِنَّهٗ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ مَا زَكٰى مِنْكُمْ مِّنْ اَحَدٍ اَبَدًاۙ وَّلٰكِنَّ اللّٰهَ يُزَكِّيْ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

“Hai orang-orang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan yang keji dan munkar. Andai bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, niscaya tak seorang pun dari kalian bersih (dari yang keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS an-Nur: 21).

Jelas tidak gampang menahan diri dan tetap adil, obyektif, pertengahan manakala kita sedang mendongkol. Tapi, besarnya pahala juga ditentukan oleh besar-kecilnya kesulitan yang dihadapi.

Apalagi, sekarang bermacam-macam fitnah dan kabar burung sedemikian mudah di-forward dan copy-paste (copas) melalui internet, media sosial, dan fitur pesan cepat (instant messaging) seperti Whatsapp langsung di ujung jari kita.

Kita sering dibombardir oleh informasi-informasi yang telah dipelintir tanpa menyadari agenda tersembunyi di baliknya. Belakangan kita baru tahu bahwa ternyata semua itu hoax (kebohongan) atau salah.

Emosi kita diusik melalui gambar, video, dan narasi-narasi yang menghentak. Begitu kemarahan kita tersulut, provokasi pun disebar dan tiba-tiba kita telah terkepung kobaran api yang tidak diketahui mana pinggiran mana pula pusatnya.

Oleh karenanya, kita mendapati hadits ke-16 dalam Arba’in Nawawiyah berisi nasehat Rasulullah agar tidak mudah marah (laa taghdhob), dan beliau mengulanginya berkali-kali.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari)

Pesan beliau dalam hadis ini sangat relevan pada hari-hari ini. Sekarang kita menjadi semakin paham pula mengapa hadits itu termasuk salah satu poros ajaran Islam (madaarul islam).

Jangan Gegabah

Alkisah, pada zaman Nabi, para Sahabat pernah hampir terprovokasi dan bertindak gegabah. Zaid bin Aslam menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat berkumpul di Hudaibiyyah setelah kaum musyrikin Makkah menghalangi mereka mengunjungi Baitullah. Jelas saja mereka sedang jengkel.

Tiba-tiba, ada serombongan kaum musyrikin lain dari kawasan timur Jazirah Arab yang bermaksud menunaikan Umrah. Dulu, kaum musyrikin juga mengunjungi Baitullah, dengan mencampurkan ritual syirik ke dalam syariat haji.

Para Sahabat pun berkata, “Kita halangi saja mereka seperti teman-teman mereka menghalangi kita!” Namun, Allah tidak menyetujui rencana ini dan menurunkan ayat ke-2 dari surah al-Maidah (Tafsir Ibnu Katsir, II/12).

Di dalam ayat ke-2 dari surah al-Maidah itu, Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُحِلُّوا۟ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ وَلَا ٱلشَّهْرَ ٱلْحَرَامَ وَلَا ٱلْهَدْىَ وَلَا ٱلْقَلَٰٓئِدَ وَلَآ ءَآمِّينَ ٱلْبَيْتَ ٱلْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّن رَّبِّهِمْ وَرِضْوَٰنًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَٱصْطَادُوا۟ ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ أَن تَعْتَدُوا۟ ۘ وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, jangan melanggar kehormatan Bulan-bulan Haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang Hadyu dan Qalaid, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridhaan dari Tuhannya. Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Jangan sekali-kali kebencian(mu) kepada suatu kaum – karena mereka telah menghalangimu dari Masjidil Haram – mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS al-Maidah: 2).

Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini, sebagai berikiut:

“Jangan sampai kebencian kalian kepada suatu kaum – yang telah menghalangi kalian dari Masjidil Haram, yaitu pada Tahun Perjanjian Hudaibiyah – menyeret kalian untuk bertindak aniaya dalam melaksanakan hukum Allah, sehingga kalian melakukan pembalasan kepada sebagian dari mereka secara zhalim dan melampaui batas. Akan tetapi, putuskan hukum sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada kalian, yaitu berbuat adil kepada siapa saja.”

Perintah serupa diulang pada ayat ke-8 surah yang sama. Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Jangan sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Menurut Imam Ibnu Katsir, maknanya adalah: “Jangan sampai kebencian kepada suatu kaum menyeret kalian untuk meninggalkan sikap adil, sebab adil itu wajib atas siapa saja, terhadap siapa saja, dalam kondisi apa saja.”

Alhasil, meski kita tak menyukai figur, tokoh, gerakan, partai tertentu, dan lain sebagainya; jangan sampai kita terseret berbuat zalim dan aniaya, misalnya ikut serta menyebarkan informasi palsu, belum diverifikasi, atau fitnah.

Berhati-hatilah dan jangan mudah terprovokasi. Berusahalah bersikap adil, tenang, dan obyektif. Sungguh, keadilan itu lebih dekat kepada takwa, dan ketakwaan akan membawa kita ke surga. Wallahu a’lam.

*) Ust. H. M. Alimin Mukhtar, pengasuh Yayasan Pendidikan Islam Ar Rohmah Hidayatullah Malang

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Capai Tujuan Pendidikan Nasional dengan Padukan Spiritual hingga Aspek Kepemimpinan

DEPOK (Hidayatullah.or.id) -- Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, M.A, mengatakan sistem pendidikan...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img