AdvertisementAdvertisement

Tiga Penyakit Serius Kepemimpinan Organisasi

Content Partner

Ada kalanya kepemimpinan organisasi tertimpa penyakit. Sebagian penyakit sifatnya serius, sebagian lainnya ringan. Mengenali kesemua penyakit ini penting. Agar kepemimpinan organisasi terus sehat. Organisasi pun kuat.

Di antara semua penyakit tersebut, terdapat tiga penyakit serius karena berpotensi melahirkan penyakit dan kerusakan baru di organisasi. Memahaminya semoga mengantarkan para pemimpin untuk mengantisipasinya. Berikut penjelasannya.

  1. Meremehkan Early Warning System

Sebagaimana pengelolaan lingkungan nyata, organisasi juga membutuhkan early warning system. Ini penting agar organisasi tetap langgeng. Jika tidak demikian, tanpa disadari organisasi akan segera mati.

Early warning system bagi organisasi dibangun oleh seperangkat sistem evaluasi. Basis datanya numerik dan deskriptif. Variabelnya bisa beragam, empat di antaranya sebagaimana ditetapkan pada Balanced Score Card (BSC): Konsumen, keuangan, pembelajaran dan pertumbuhan, dan proses internal.

Keempat variabel tersebut perlu terus diukur dan diamati secara berkala. Data kuantitatif dari pengukuran dan data deskriptif dari pengamatan kemudian disatukan, dianalisis, serta diambil kesimpulan. Berikutnya lahirlah sejumlah rekomendasi untuk perbaikan berikutnya.

Meremehkan early warning system di organisasi dapat dilihat dari dua situasi/perilaku. Pertama, ketiadaan sistem evaluasi yang utuh dan kuat. Kedua, pengabaian atas rekomendasi ahli.

Sebuah organisasi mungkin menunjukkan salah satu perilaku. Ini masih berpeluang untuk diperbaiki. Akan tetapi apabila suatu organisasi menunjukkan dua perilaku sekaligus, maka tanda-tanda kematian organisasi sudah di depan mata.

Ketiadaan early warning system diperparah dengan ketiadaan sistem berpikir kolektif organisasi. Masing-masing tokoh dan personel organisasi membuat narasi sendiri. Akhirnya ruwetlah alam pikiran organisasi. Arah geraknya semakin tidak jelas. Akhirnya tidak ada tujuan yang tercapai. Di titik ini organisasi sudah menapaki jalan penurunan tajam.

  1. Membangun Idealitas di Atas Kerapuhan

Organisasi memiliki idealitas, apapun namanya, semisal visi dan misi. Idealitas itu dijadikan target lalu diikhtiarkan untuk digapai. Seluruh sumber daya dan kapasitas diarahkan menujunya.

Dalam pergerakan menggapai target, organisasi memiliki dua aktivitas utama, yakni membangun dan memperbaiki. Aktivitas membangun itu berhubungan dengan meningkatkan kapasitas organisasi. Sedangkan aktivitas memperbaiki itu berhubungan dengan meminimalisir potensi kerusakan.

Idealnya kedua aktivitas tersebut berjalan seiring. Akan tetapi pada situasi yang butuh pemilihan prioritas, maka aktivitas memperbaiki perlu diutamakan. Agar potensi kerusakan tidak menjelma menjadi kerusakan, dan kerusakan tidak meluas.

Problemnya sering organisasi tidak menyadari prioritas di antara dua aktivitas tersebut. Potensi kerusakan kadang diabaikan, dianggap masih terlalu kecil untuk menjelma jadi kerusakan nyata. Aktivitas membangun itu yang terus digencarkan. Hingga pada satu titik, potensi kerusakan benar-benar merusak. Setiap orang di organisasi baru tersadarkan.

Di sisi lain pengawasan di organisasi seringkali lemah. Ada anggapan pengawasan tidak terlalu diperlukan karena husnuzhan diutamakan. Padahal justru pengawasan itu dilakukan sebagai penguat husnuzhan. Pihak pengawas membuktikan bahwa pihak yang diawasi benar-benar berlaku benar.

Lemahnya pengawasan diperparah dengan subordinasi senior kepada yunior. Lalu kelompok-kelompok nonformal terbentuk. Friksi mulai terasakan. Pengawasan menjelma jadi upaya saling menggigit antarkelompok nonformal.

  1. Mengabaikan Multiperspektif

Alkisah di sebuah kebun binatang seorang pengunjung diminta duduk di kursi penonton pertunjukan. Lalu seekor gajah melewatinya. Sang pengunjung lalu mengamati gajah itu.

Esoknya sekembali dari kebun binatang, sang pengunjung bercerita tentang gajah. Ia menyampaikan, “Gajah punya satu gading, satu mulut, satu mata, satu telinga. Badannya besar. Kakinya empat. Ekornya satu.”

Salahkah ceritanya? Tidak juga. Karena sang pengunjung melihat dari satu sisi. Perspektifnya hanya satu arah.

Apabila sang pengunjung mengamati gajah dengan berkeliling, kemungkinan besar gambaran gajah akan didapatkannya lebih utuh. Potensi miskonsepsi minim. Orang lain yang mendapatkan cerita lebih mampu memiliki gambaran utuh tentang gajah.

Di sinilah multiperspektif berperan. Pandangan perlu diedarkan secara cukup. Kesimpulan akan relatif utuh.

Di konteks organisasi, multiperspektif penting. Agar kesalahan dalam menyimpulkan dan membuat kebijakan tidak terjadi. Sebaliknya, kesimpulan benar dan kebijakan relevan demikian yang dihasilkan organisasi.

Nah, pemimpin organisasi perlu untuk menerapkan multiperspektif di organisasinya. Dia tidak hanya melihat dengan pandangannya sendiri tapi juga orang-orang sekitarnya, bahkan pihak luar. Kesemuanya dikomplilasi, diintegrasikan, untuk kemudian diambil kesimpulan yang tepat. Kebijakan yang dihasilkan juga relatif tepat.

Memang tidak mudah menerima perspektif lain. Akan tetapi seorang pemimpin organisasi yang transformatif tentu lebih memilih untuk menerimanya. Semoga relevansi organisasi terus terjaga.

Wallahu a’lam.

Fu’ad Fahrudin, M.Pd / Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah

Editor: Adam Sukiman
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

KHUTBAH JUM’AT Meneladani  Nabi Ibrahim AS dalam Berdoa

Khutbah Pertama إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ وَحْدَهُ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img