AdvertisementAdvertisement

Jejak Dakwah Dua Murabbi dari Gunung Tembak ke Bumi Nyiur Melambai

Content Partner

MANADO (Hidayatullah.or.id) — Perjalanan dakwah di Indonesia tidak pernah terlepas dari keteladanan para pelaku sejarahnya. Dalam arena Musyawarah Wilayah VI Hidayatullah Sulawesi Utara yang digelar di Masjid An Nabawi Asrama Haji Kota Manado, dua sosok murabbi tampil menyampaikan kesaksian hidup yang merekam denyut panjang perjuangan dakwah.

Mereka adalah Ustadz Baharudin Bachmid dan Ustadz Heri Mulyono. Keduanya merepresentasikan generasi penggerak yang membangun dakwah dengan kesabaran, keteguhan, dan pengabdian lintas dekade.

Ustadz Baharudin Bachmid, Anggota Dewan Murobbi Hidayatullah Sulawesi Utara, menuturkan bahwa keterlibatannya di Hidayatullah dimulai sejak 1980.

Pada masa itu, ia menempuh perjalanan panjang dari Palopo, Sulawesi Selatan, menuju Balikpapan menggunakan kapal kayu, lalu melanjutkan perjalanan darat menuju Gunung Tembak. Pengalaman tersebut menjadi titik awal penggemblengan ruh dan orientasi hidupnya dalam dunia dakwah.

“Pada masa awal itu, kami dibimbing langsung oleh Ustadz Abdullah Said rahimahullah. Santri masih sangat terbatas, namun pembinaan berlangsung terus menerus, terutama melalui ibadah, kerja keras, dan keteladanan pimpinan,” ungkap Ustadz Baharudin dalam tausiahnya.

Ia menjelaskan bahwa proses tarbiyah yang dijalaninya lebih banyak berlangsung di masjid dan lapangan kehidupan. Shalat malam, kerja siang hari, serta penguatan ruhiyah menjadi fondasi yang mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan dunia.

Setelah tiga tahun ditempa di Gunung Tembak, ia ditugaskan ke Manado dengan sikap kepatuhan penuh, sebuah sikap yang menurutnya lahir dari kesadaran berjamaah.

Lebih dari empat dekade mengabdi di Sulawesi Utara, berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain hingga kini menetap di Kotamobagu, Ustadz Baharudin memaknai dakwah sebagai jalan kesabaran.

Kedekatannya dengan Al-Qur’an, yang ia baca secara rutin setiap hari, membentuk pandangan hidup yang menempatkan sabar sebagai kunci utama perjuangan. Ia mengutip firman Allah dalam Al Qur’an surah Az-Zumar ayat 10 tentang balasan tanpa batas bagi orang-orang yang bersabar, seraya berharap Allah meridhai lembaga dan barisan perjuangan ini.

Al Qur’an yang Menghadirkan Kedamaian

Sementara itu, Ustadz Heri Mulyono menyampaikan kisah hijrahnya ke Hidayatullah yang berawal dari lingkungan kerja. Ia mengenal Hidayatullah pada awal 1990-an ketika bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan kayu lapis di Kalimantan Timur.

Melalui pembinaan pengajian karyawan yang dilakukan para mubaligh Hidayatullah, ia mulai mengenal Islam secara lebih mendalam, khususnya melalui kajian tauhid.

“Ketika kami diajak berkunjung ke Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, saya merasakan ketenangan yang sulit dilukiskan. Suasana shalat berjamaah dan lantunan Al-Qur’an menghadirkan kedamaian yang menggerakkan hati,” tutur Ustadz Heri.

Pengalaman tersebut mendorongnya mengambil keputusan besar: meninggalkan karier dan berhijrah ke pesantren bersama beberapa rekan lainnya. Sejak 1997 hingga 2025, ia mengabdi di berbagai wilayah Sulawesi Utara yang berjuluk Bumi Nyiur Melambai ini, menjalani peran sebagai dai dengan kesadaran penuh bahwa dakwah adalah jalan para nabi.

Di hadapan para kader muda, Ustadz Heri menegaskan pentingnya mencintai perjuangan dakwah sebagai jalan kemuliaan. Ia mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada pencapaian materi, melainkan pada pengabdian di jalan Allah, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an tentang janji surga bagi mereka yang menyerahkan diri dan harta untuk perjuangan.

Kisah dua murabbi ini memperlihatkan wajah dakwah yang tumbuh dari kesabaran, keikhlasan, dan kesetiaan. Perjalanan mereka menegaskan bahwa dakwah adalah ikhtiar membangun manusia dan masyarakat dengan nilai tauhid, kebersamaan, dan pengabdian jangka panjang.

Reporter: Iwan Abdullah
Editor: Adam Sukiman
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Membangun Sistem Kesadaran dalam Ramadhan

RAMADHAN telah datang berulang kali dalam kehidupan sebagian besar umat Islam. Jika urusan Ramadhan sebatas ibadah mahdhah, maka target...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img