AdvertisementAdvertisement

Nursyamsa Hadis Tekankan Kemandirian dan Pengaruh Harus Berjalan Seimbang

Content Partner

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris dan Anggota Majelis Penasihat Hidayatullah, Ust. H. Drs. Nursyamsa Hadis menekankan pentingnya konsolidasi jatidiri dan transformasi organisasi sebagai prasyarat bagi terwujudnya kemandirian dan pengaruh Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam.

Demikian disampaikan Nursyamsa saat menyampaikan pengarahan pada sesi pasca shalat subuh dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, selepas shalat subuh, Senin, 18 Rajab 1447 (13/1/2026).

Nursyamsa membuka pemaparannya dengan menegaskan bahwa tekad menjadi organisasi yang mandiri dan berpengaruh merupakan konsekuensi logis dari komitmen Hidayatullah terhadap pembangunan peradaban. Menurutnya, posisi tersebut tidak dapat diraih tanpa penguatan identitas ideologis dan pembaruan tata kelola organisasi secara berkelanjutan.

Ia menjelaskan bahwa konsolidasi jatidiri merupakan proses strategis untuk mempertegas identitas dan tujuan organisasi. Dalam konteks Hidayatullah, konsolidasi ini berarti memperkuat pijakan nilai dan memperdalam kesadaran kolektif atas arah perjuangan.

“Konsolidasi jatidiri di Hidayatullah bermakna meneguhkan komitmen pada nilai-nilai Sistematika Wahyu, Ahlussunnah Waljama’ah, al harakah al jihadiyah al islamiyah, Imamah Jamaah, Jama’atun Minal Muslimin, serta Washatiyah. Di saat yang sama, ini memperkuat identitas sebagai gerakan perjuangan Islam yang menjadi bagian dari arus utama tarbiyah dan dakwah umat,” jelasnya.

Menurut Nursyamsa, penguatan identitas tersebut tidak cukup berhenti pada deklarasi nilai, tetapi harus melalui refleksi dan evaluasi yang jujur terhadap praktik organisasi. Proses ini, katanya, bertujuan menyelaraskan nilai dasar dengan visi dan misi agar gerak organisasi tetap konsisten dan relevan.

Ia menambahkan bahwa upaya membangun kemandirian tidak boleh dilepaskan dari kemampuan memberi pengaruh positif kepada masyarakat. Dalam pandangannya, kemandirian internal dan pengaruh eksternal merupakan dua sisi yang saling menguatkan.

Kemandirian internal baik finansial, manajerial, maupun kaderisasi harus berjalan beriringan dengan pengaruh eksternal melalui program sosial, komunikasi, dan kolaborasi.

“Keduanya saling melengkapi. Tanpa kemandirian, pengaruh mudah rapuh, dan tanpa pengaruh, kemandirian kehilangan makna,” katanya.

Semangat Kaljasadil Wahid

Lebih jauh, Nursyamsa mengingatkan bahwa kerja membangun peradaban menyentuh seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, para pelaku dakwah dituntut meluruskan niat semata-mata karena Allah serta menghindari bibit perpecahan yang dapat melemahkan jamaah.

Ia menekankan pentingnya membangun semangat kebersamaan yang utuh di internal organisasi.

“Pemimpin Hidayatullah harus memastikan seluruh jajarannya menumbuhkan semangat kaljasadil wahid, semangat satu tubuh,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa kaljasadil wahid bermakna kesatuan jamaah yang saling terhubung seperti satu tubuh; ketika satu bagian merasakan sakit, bagian lain ikut merasakannya. Makna ini menuntut empati, loyalitas, dan kerja kolektif, sehingga organisasi bergerak sebagai satu kesatuan yang harmonis.

Dalam konteks menjaga persatuan, Nursyamsa menegaskan pentingnya musyawarah atau syura sebagai tradisi kepemimpinan. Menurutnya, syura bukan sekadar forum formal, melainkan proses yang menjunjung penghargaan terhadap setiap anggota.

“Syura adalah proses yang memberi ruang kepada anggota untuk menyampaikan pandangan. Itu bentuk penghargaan, dan pada akhirnya keputusan tetap berada di tangan ketua,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa soliditas organisasi menjadi prasyarat mutlak bagi lahirnya kepemimpinan yang efektif. “Tanpa soliditas, kepemimpinan tidak mungkin berdiri kokoh,” tegasnya.

Menutup arahannya, Nursyamsa menegaskan bahwa kepemimpinan yang kuat lahir dari konsistensi antara perkataan dan tindakan.

“Jika menginginkan kepemimpinan yang kuat, kuncinya adalah syura. Sampaikan apa yang dikerjakan, dan kerjakan apa yang telah disampaikan,” tandasnya.

Reporter: Ahmad Jaelani
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Mengapa Banyak Berpuasa Tapi Tak Tenang? Ini Jawaban Al-Qur’an

BETAPA banyak orang berpuasa, tapi mereka tidak memperoleh selain lapar dan dahaga. Hadits Nabi Muhammad SAW itu mengajak kita...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img