
JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd, menekankan bahwa transformasi pendidikan di era revolusi industri 4.0 harus tetap berlandaskan tauhid sebagai fondasi pembentukan peradaban Islam. Menurutnya, kemajuan teknologi dan sistem pendidikan modern perlu diarahkan untuk melahirkan manusia yang memiliki integritas spiritual dan tanggung jawab peradaban.
“Tujuan pendidikan Hidayatulllah adalah melahirkan insan kamil rabbani. Pondasi ini harus semakin dikuatkan ditengah dunia sedang berada dalam masa transisi dari era Revolusi Industri 4.0 menuju era Revolusi Industri 5.0.,” ujar Nanang dalam acara Upgrading Guru Hidayatullah se-Provinsi Papua bertajuk “Education 4.0 but Make It Tauhid” di Kota Jayapura, Jumat, 25 Syaban 1447 (13/2/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua tersebut merupakan bagian dari rangkaian Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di provinsi tersebut. Forum ini menghadirkan para pendidik dari berbagai lembaga pendidikan Hidayatullah di Papua dengan tujuan memperkuat kapasitas pedagogik, ideologis, dan kepemimpinan pendidikan di tengah perubahan global yang ditandai oleh digitalisasi, otomatisasi, dan integrasi teknologi dalam sistem pembelajaran.
Nanang menjelaskan, insan kamil rabbani adalah konsep manusia ideal dalam perspektif Islam yang mencapai kesempurnaan fungsi sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi. Istilah ini terdiri dari dua unsur utama. Insan kamil berarti manusia paripurna, yakni individu yang berkembang secara utuh dalam dimensi iman, ilmu, akhlak, dan amal. Rabbani merujuk pada sifat yang terhubung erat dengan Allah, menjadikan wahyu sebagai sumber orientasi hidup dan keputusan.
“Insan kamil rabbani ditandai oleh integrasi antara kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan tanggung jawab sosial. Ia tidak hanya memahami ilmu secara teoritis, tetapi mengamalkannya untuk kemaslahatan. Al-Qur’an menyebut karakter rabbani sebagai mereka yang mendidik dan membimbing manusia berdasarkan Kitab Allah serta terus mempelajarinya,” kata Nanang yang menukil surah Ali Imran ayat 79.
Nanang menjelaskan, tujuan membentuk insan kamil rabbani berarti melahirkan pribadi yang beriman kokoh, berakhlak mulia, kompeten secara profesional, dan mampu berkontribusi membangun peradaban yang adil, bermartabat, dan berlandaskan tauhid.
Kesadaran Berketuhanan

Masih dalam dalam pemaparannya, Nanang menegaskan bahwa visi pendidikan Hidayatullah tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi pada pembentukan manusia seutuhnya yang memiliki kesadaran ketuhanan.
Ia menyampaikan harapan agar lembaga pendidikan Hidayatullah di Papua mampu menerjemahkan visi tersebut secara konkret dalam praktik pendidikan.
“Diharapkan sekolah-sekolah Hidayatullah di Papua dapat mewujudkan sekolah dengan visi tersebut,” katanya.
Nanang juga menjelaskan bahwa tema “Education 4.0 but Make It Tauhid” mengandung makna integrasi antara kemajuan teknologi pendidikan dengan fondasi spiritual Islam. Education 4.0 merujuk pada sistem pendidikan yang memanfaatkan teknologi digital, kecerdasan buatan, pembelajaran berbasis data, dan konektivitas global. Namun, ia menegaskan bahwa seluruh perkembangan tersebut harus tetap berada dalam kerangka tauhid sebagai landasan epistemologis.
“Akar masalah problematika manusia karena putus hubungan dengan Allah,” ujarnya, menjelaskan bahwa pendidikan harus mengembalikan manusia pada kesadaran spiritual sebagai dasar peradaban.
Ia juga menekankan bahwa pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan peradaban modern, termasuk disrupsi teknologi dan perubahan sosial yang cepat. Menurutnya, pendidikan yang berlandaskan tauhid mampu memberikan arah bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi secara bertanggung jawab.
“Kehadiran pendidikan Hidayatullah diharapkan menjadi solusi dalam menyelesaikan problematika peradaban ini,” ungkapnya.
Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Dunia

Dalam pemaparannya, Nanang menjelaskan bahwa sistem pendidikan yang dikembangkan Hidayatullah tidak memisahkan antara ilmu agama dan ilmu dunia. Ia menegaskan bahwa seluruh disiplin ilmu harus diarahkan untuk membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai ketuhanan.
“Dibutuhkan pemimpin yang bisa mengusung visi pendidikan yang integral berbasis manhaj Hidayatullah, tidak mendikotomikan antara ilmu dunia dan ilmu agama yang diarahkan semuanya untuk memakmurkan bumi,” jelasnya.
Dalam konteks global, transformasi pendidikan berbasis teknologi menjadi bagian penting dari sistem pendidikan modern. Organisasi internasional seperti UNESCO menyebutkan bahwa Education 4.0 merupakan pendekatan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik menghadapi perubahan ekonomi digital, termasuk kecerdasan buatan, robotika, dan analisis data.
Namun, Nanang menegaskan bahwa integrasi teknologi harus tetap berada dalam kerangka nilai dan tujuan pendidikan yang jelas. “Teknologi adalah alat, bukan tujuan. Tauhid adalah fondasi yang menentukan arah penggunaan ilmu dan teknologi,” katanya dalam forum tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa peran guru menjadi semakin strategis dalam era transformasi digital. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi sebagai pembimbing yang mengarahkan peserta didik memahami makna ilmu dalam perspektif tauhid. Dalam kerangka ini, pendidikan dipandang dia sebagai proses pembentukan manusia yang mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan umat dan pembangunan peradaban.
Melalui kegiatan upgrading ini, Nanang berharap, hal ini akan semakin memperkuat kapasitas para guru dalam mengintegrasikan nilai-nilai tauhid dengan pendekatan pendidikan modern serta menjadi ruang konsolidasi untuk memperkuat visi pendidikan Hidayatullah di Papua sekaligus menyiapkan generasi pendidik yang mampu menjawab tantangan zaman dengan pendekatan yang berbasis nilai spiritual dan kemajuan ilmu pengetahuan.






