
GORONTALO (Hidayatullah.or.id) — Kepala Kepolisian Resor Pohuwato AKBP Busroni, S.I.K., M.H., mengajak para santri untuk menyongsong bulan suci Ramadhan dengan kesiapan batin, memperkuat kualitas ibadah, serta menjadikan puasa sebagai sarana pembinaan diri yang berkelanjutan.
Ajakan tersebut disampaikan Kapolres saat memberikan ceramah dalam kegiatan Tarhib Ramadhan 1447 Hijriyah yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Hidayatullah Pohuwato pada Kamis, 24 Syaban 1447 (12/2/2026). Dalam kesempatan tersebut, Kapolres menekankan pentingnya membersihkan hati, meningkatkan ketakwaan, dan menjadikan momentum Ramadhan sebagai ruang pembentukan karakter spiritual yang lebih baik.
Kegiatan Tarhib Ramadhan tersebut dihadiri oleh berbagai unsur pimpinan pesantren dan lembaga pendidikan. Turut hadir Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah KH. Abdul Wahid Patangari, S.Pd.I., M.Si., Ketua Yayasan Hidayatullah Kamil Patingki, S.HI., M.Pd., Ketua Yayasan Darul Hijrah Ustadz Abror, serta sekitar 250 santri yang mengikuti kegiatan secara langsung. Kehadiran Kapolres Pohuwato dalam kegiatan tersebut tidak hanya sebagai tamu undangan, tetapi juga sebagai penceramah yang menyampaikan pesan-pesan keagamaan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan.
Dalam ceramahnya, AKBP Busroni menjelaskan bahwa ibadah puasa merupakan kewajiban bagi umat Islam sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Baqarah ayat 183. Ia menyampaikan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa serta memperkuat dimensi pengendalian diri dalam kehidupan sehari-hari.
“Puasa adalah kewajiban umat Islam yang bertujuan membentuk pribadi bertakwa serta melatih kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri,” katanya, yang memberikan penguatan pemahaman kepada para santri tentang makna ibadah puasa dalam kehidupan seorang Muslim.
Kapolres juga menguraikan bahwa ibadah puasa tidak hanya berkaitan dengan menahan lapar dan haus, tetapi memiliki dimensi yang lebih luas, yaitu pembinaan karakter dan penguatan spiritual. Ia menekankan bahwa puasa menjadi sarana untuk melatih kesabaran dan meningkatkan kesadaran moral, serta membangun kedekatan yang lebih kuat dengan Allah SWT.

“Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih hati agar lebih sabar, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah SWT,” ujarnya.
Untuk memperjelas makna proses pembinaan melalui puasa, Kapolres menggunakan ilustrasi yang bersumber dari fenomena alam. Ia mencontohkan ayam yang tidak makan saat mengerami telur hingga menghasilkan kehidupan baru, serta ulat yang mengalami fase diam dalam kepompong sebelum berubah menjadi kupu-kupu.
Di hadapan jamaah dan ratusan santri, Kapoles memberi gambaran bahwa proses menahan diri memiliki peran penting dalam menghasilkan perubahan dan perkembangan.
Kapolres Pohuwato menegaskan bahwa Ramadhan merupakan momentum penting untuk memperbaiki diri, memperkuat hubungan dengan Allah SWT, serta membangun karakter yang lebih baik melalui latihan kesabaran dan pengendalian diri.






