
TOLITOLI (Hidayatullah.or.id) — Pentingnya pemuda memaknai Ramadhan sebagai ruang refleksi untuk semakin progresif dan beradab menjadi pesan utama dalam tausiyah Ramadhan yang disampaikan Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah, Adam Sukiman. Pesan tersebut disampaikan dia dalam kegiatan ceramah Ramadhan yang berlangsung di Masjid Darul Hijrah, Tolitoli, Sulawesi Tengah, pada Jumat, 23 Ramadhan 1447 (13/3/2026).
Dalam pemaparannya, Adam mengawali dengan mengingatkan tentang cepatnya pergantian waktu dalam kehidupan manusia. Ia mengutip pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Asr yang menyatakan bahwa manusia berada dalam keadaan merugi kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh. Ayat tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bagi setiap Muslim untuk memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang bernilai ibadah.
Adam menjelaskan bahwa keimanan tidak cukup berhenti pada pengakuan lisan atau keyakinan semata, tetapi harus diwujudkan melalui amal perbuatan. Ia menyampaikan bahwa hubungan antara iman dan amal saleh merupakan prinsip yang ditegaskan secara berulang dalam Al-Qur’an.
“Iman yang kita miliki tidak cukup hanya diucapkan. Ia membutuhkan pembuktian melalui amal saleh sebagaimana ditegaskan dalam lanjutan ayat Surah Al-Asr,” ujarnya di hadapan jamaah yang mengikuti kegiatan tersebut.
Dalam tausiyahnya, Adam juga menyinggung perintah puasa yang disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183. Ia menjelaskan bahwa ayat tersebut diawali dengan seruan kepada orang-orang yang beriman, yang menunjukkan bahwa ibadah puasa berkaitan langsung dengan kesadaran iman seorang Muslim.
Menurutnya, puasa tidak seharusnya dipahami hanya sebagai aktivitas menahan lapar dan dahaga. Ibadah tersebut memiliki dimensi spiritual yang lebih luas karena melatih pengendalian diri serta memperkuat hubungan seorang hamba dengan Allah.
Ia juga menjelaskan bahwa bulan Ramadhan merupakan momentum yang diberikan Allah kepada umat manusia untuk memperbanyak amal kebaikan dan meningkatkan kualitas ketakwaan. Dalam pandangannya, kesempatan tersebut menjadi bagian dari bentuk rahmat Allah kepada umat manusia.
“Allah menghendaki kita semua meraih surganya. Ramadhan dihadirkan agar kita memperbanyak amal dan mengumpulkan tabungan takwa,” jelasnya.
Dalam ceramah tersebut, Adam mengingatkan bahwa setiap Muslim memiliki pilihan dalam memanfaatkan bulan Ramadhan. Menurutnya, bulan tersebut dapat dijadikan sebagai momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah atau berlalu tanpa dimanfaatkan secara optimal.
Ia juga mengajak umat Islam untuk meningkatkan kesungguhan dalam beribadah ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan. Bagian akhir bulan Ramadhan tersebut dipahami sebagai fase yang memiliki nilai keutamaan dalam tradisi ibadah umat Islam.
“Jangan sia-siakan waktu. Sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah kesempatan untuk lebih giat beribadah dan menguatkan kesungguhan dalam meraih kemuliaan di bulan yang penuh berkah ini,” pungkasnya.
Tausiyah tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Ramadhan di Masjid Darul Hijrah Tolitoli yang diikuti oleh jamaah. Dalam kegiatan tersebut, pesan tentang pemanfaatan waktu, penguatan iman, serta peningkatan amal menjadi tema utama yang disampaikan kepada para peserta, khususnya generasi muda yang hadir dalam kegiatan tersebut.






