
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Rais ‘Aam Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad sampaikan pandangan terkait dinamika penentuan Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah. Dalam acara taushiyah bertajuk Refleksi Akhir Ramadhan dan Bekal Perjuangan yang berlangsung pada Kamis, 19 Maret 2026, beliau menekankan pentingnya menyikapi potensi perbedaan tanggal lebaran dengan basis keilmuan yang kokoh serta ketenangan spiritual yang tinggi.
KH Abdurrahman Muhammad mengajak umat untuk tetap fokus pada esensi ibadah tanpa harus terganggu oleh ketidakpastian mengenai waktu hari raya. Ia menegaskan bahwa kepastian waktu lebaran bukanlah sebuah persoalan yang harus memicu keresahan sosial.
Menurutnya, jika memang penetapan 1 Syawal belum diputuskan untuk esok hari, maka tugas seorang mukmin adalah melanjutkan rangkaian ibadah dengan penuh ketekunan.
“Kira-kira kira-kira besok lebaran, kah? Ndak masalah kita lebaran atau belum lebaran ya. Kalau belum lebaran, ya kita salat lagi. Salat malamnya disambung lagi. Kalau belum lebaran besok, masih tarawih kita karena masih Ramadan. Dan tidak ada salat tarawih setelah Ramadan,” katanya.
Lebih lanjut, dalam tinjauan teologis, Rais Aam memberikan ulasan mengenai legalitas perbedaan metode ijtihad dalam Islam. Ia menyitir kaidah kenabian yang menyatakan bahwa umat Islam tidak akan bersepakat dalam sebuah kesesatan selama keputusan tersebut didasarkan pada landasan metodologi yang ilmiah.
Dalam pandangannya, baik metode Hisab yang sering diterapkan oleh Muhammadiyah maupun metode Rukyah yang diikuti oleh pemerintah dan organisasi Islam lainnya termasuk Nahdlatul Ulama (NU), keduanya memiliki basis argumentasi yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan secara syar’i maupun rasional.
“Semua berdiri di atas ilmu. Muhammadiyah berdiri di atas ilmu dan rukyah berdiri di atas ilmu. Jadi ndak ada masalah, gak usah disalahkan, gak usah dicaci maki,” katanya.
Sikap yang paling bijaksana dalam menghadapi keragaman ini, menurut KH Abdurrahman Muhammad, adalah mengambil jalan tawaqquf atau menahan diri. Beliau menginstruksikan agar umat Islam tidak perlu melontarkan komentar negatif atau terlibat dalam aksi saling merendahkan.
Ia mengingatkan bahwa segala perbedaan pendapat dalam urusan fikih penanggalan pada akhirnya akan diadili oleh Allah SWT di akhirat kelak. Oleh karena itu, energi umat seharusnya dialokasikan untuk peningkatan kualitas ketakwaan daripada perselisihan.
“Sudah, tawaqquf saja. Ndak usah komentar. Itu urusan Allah dan Allah selalu mengulang-ulang di Quran (bahwa) nanti di akhirat kamu diadili semua tentang perbedaan-perbedaan itu,” katanya, seraya menyampaikan keyakinan optimisnya bahwa Allah SWT akan memberikan ampunan terhadap perbedaan ijtihadiyah semacam ini.
Dalam analisis sejarah dan sosiologi agama di Indonesia, KH Abdurrahman Muhammad mencatat adanya harmoni fundamental yang mengikat ormas-ormas besar di tanah air. Beliau mengamati bahwa meskipun terdapat perbedaan gaya institusional dan metodologi, akar akidah yang dianut tetap bersumber pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.
Ia memberikan catatan sejarah mengenai perkembangan pemikiran modernis yang dibawa oleh tokoh seperti Syekh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha yang kemudian memengaruhi model pendidikan Muhammadiyah melalui inspirasi dari Taman Siswa.
Di sisi lain, beliau menghormati konsistensi KH Hasyim Asy’ari dalam menjaga tradisi pesantren. Meskipun terdapat evolusi dalam pola pikir dan strategi perjuangan, ia melihat bahwa pada akhirnya umat ini tetap menyatu dalam esensi ajaran yang sama.
Sebagai penutup, KH Abdurrahman Muhammad menegaskan bahwa keberadaan perbedaan pandangan justru merupakan bukti dari keunggulan intelektual para ulama.
Menurutnya, kapasitas untuk menghasilkan pemikiran yang beragam namun tetap berpijak pada disiplin ilmu yang ketat adalah sebuah kekayaan bagi peradaban Islam.
Ia berpesan agar umat mampu melihat perbedaan bukan sebagai titik lemah, melainkan sebagai manifestasi dari luasnya cakrawala keilmuan Islam. “Ada perbedaan dan itulah keunggulan karena ulama berpikir itu punya ilmu untuk berbeda seperti yang lain. Ada ilmunya,” tandasnya.
Refleksi Akhir Ramadan yang digelar Kampus Ummulqura Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, ini diharapkan menjadi seruan bagi kader termasuk seluruh elemen umat untuk mengedepankan ukhuwah, menghargai ijtihad, dan menjaga kehormatan sesama muslim dalam menyongsong Idulfitri 1447 Hijriah.






