
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Muslimat Hidayatullah (Mushida) resmi dibuka yang diselenggarakan di Komplek Wisma & Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Senin, 17 Syawal 1447 (6/4/2026). Forum nasional tersebut diikuti oleh peserta yang terdiri dari unsur Pengurus Pusat, perwakilan Pengurus Wilayah dari 37 provinsi di Indonesia, serta kepala sekolah PAUD–TK Yaa Bunayya yang berada di lingkungan Kampus Induk dan Kampus Utama Hidayatullah.
Ketua Panitia Rakernas Muslimat Hidayatullah, Saryati, S.H.I., dalam sambutannya mengatakan kegiatan ini diselenggarakan sebagai ruang pertemuan organisasi untuk menyelaraskan arah program dan memperkuat koordinasi kelembagaan secara nasional.
Saryati mengatakan, Rapat Kerja Nasional sebagai forum strategis dalam perjalanan organisasi Muslimat Hidayatullah. Melalui forum tersebut dilakukan proses sinkronisasi program antara tingkat pusat, wilayah, serta unit-unit pendidikan yang berada dalam jaringan Hidayatullah.
Proses koordinasi ini, jelasnya, untuk membangun kesinambungan kebijakan organisasi sekaligus memastikan keselarasan pelaksanaan program di berbagai daerah.
Saryati menyampaikan harapannya agar forum tersebut melahirkan gagasan yang dapat memperkuat peran organisasi. “Melalui Rapat Kerja Nasional ini, kami berharap akan lahir gagasan-gagasan strategis, program-program unggulan,” ujarnya.
Menurutnya, forum Rakernas menjadi momentum bagi organisasi untuk memperkuat kapasitas kelembagaan dalam menjalankan berbagai program yang berkaitan dengan dakwah, pendidikan, serta kegiatan sosial. Program-program tersebut diarahkan untuk mendukung kontribusi organisasi dalam kehidupan masyarakat.
Transformasi Organisasi
Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah, Hani Akbar, S.Sos.I., M.Pd., dalam kesempatan yang sama mengingatkan pentingnya memahami dinamika perjuangan organisasi dalam perspektif sejarah. Ia menyatakan bahwa tantangan yang dihadapi saat ini tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang generasi sebelumnya.
“Ujian yang kita alami hari ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ujian generasi terdahulu,” katanya. Dalam penjelasannya, Hani menekankan pentingnya proses internalisasi jati diri organisasi sekaligus penguatan konsolidasi kelembagaan.
Hani juga menyampaikan perlunya transformasi organisasi menuju pendekatan yang lebih inklusif tanpa meninggalkan nilai profetik dan profesional yang menjadi dasar gerakan.
Selain membahas aspek organisasi, Hani juga menyinggung dimensi spiritual dalam aktivitas dakwah. Ia menyampaikan bahwa tujuan utama perjuangan tidak terlepas dari orientasi ukhrawi. “Kesuksesan sejati adalah tercapainya visi ukhrawi, yaitu dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga,” ujarnya.
Ia juga mengutip firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 139 yang berbunyi, “Janganlah kamu merasa hina dan bersedih, padahal kamulah yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman.” Kutipan ayat tersebut disampaikan Hani dalam konteks penguatan semangat dalam menjalankan aktivitas dakwah.
Dalam pembahasannya mengenai gerakan dakwah, Hani menegaskan bahwa perbaikan kondisi umat memerlukan kerja sama lintas organisasi. “Perbaikan kondisi umat tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi harus melalui sinergi dengan organisasi perempuan yang sevisi,” katanya.
Ia juga menyebutkan nilai-nilai yang menjadi landasan kerja sama tersebut, yaitu ta’aruf, tafahum, ta’awun, takaful, dan itsar yang dikenal sebagai 4T + 1I. Nilai-nilai tersebut diharapkan Hani dapat diwujudkan dalam berbagai program yang dijalankan oleh organisasi.
Tiga Unsur Penting
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., mengajak berefleksi dengan menjelaskan bahwa Rakernas kali ini mengusung tema “Konsolidasi Jati Diri dan Transformasi Organisasi Menuju Muslimat Hidayatullah yang Profetik, Profesional, dan Berpengaruh.”
Ia menyampaikan tiga unsur penting yang berkaitan dengan inovasi dan transformasi organisasi berkenaan dengan tema tersebut. Pertama adalah pola pikir atau mindset. Menurutnya, inovasi lahir dari individu yang memiliki sikap kritis, rasa ingin tahu, serta keberanian untuk mengambil langkah baru.
“Kedua, proses dan tindakan. Hal ini merupakan kelebihan yang dimiliki oleh pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, yang dikenal sebagai The Man of Action,” ujarnya.
Naspi juga menambahkan pentingnya strategi dan kolaborasi sebagai bagian dari proses adaptasi organisasi terhadap dinamika yang berkembang. Menurutnya, keterbukaan dalam membangun kerja sama menjadi faktor penting dalam penguatan organisasi.
Rakernas Muslimat Hidayatullah juga dihadiri sejumlah perwakilan organisasi perempuan Muslim dari berbagai lembaga, di antaranya Wanita Islam, Muslimah Wahdah Islamiyah, BKMM-DMI, Pengajian Al-Hidayah, Muslimat Dewan Dakwah Islamiyah, BKMT, Wanita Al Irsyad, dan Salimah.[]






