
SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Di tengah tantangan generasi muda era digital, Quaneisha Bilqis Adlina membuktikan bahwa ketekunan dan kedisiplinan mampu melahirkan prestasi luar biasa. Santri MA Al Burhan Hidayatullah Semarang itu berhasil menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an dalam waktu sekitar satu setengah tahun dan menyetorkannya secara bil ghaib dalam sekali duduk.
Capaian tersebut mengantarkan Bilqis sebagai wisudawan terbaik pada Wisuda Akbar Tahfiz dan Tasmi’ Angkatan V yang diselenggarakan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bersama Yayasan Al Burhan Hidayatullah Semarang, Sabtu (20/6/2026).
Bagi Bilqis, keberhasilan itu bukan sesuatu yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Saat pertama kali masuk pesantren, hafalannya baru sekitar satu setengah juz. Namun melalui proses pembinaan yang intensif, hafalannya terus bertambah hingga akhirnya berhasil menuntaskan seluruh 30 juz Al-Qur’an.
“Saya tidak pernah menyangka bisa menyelesaikan hafalan 30 juz dan menyetorkannya sekali duduk bil ghaib. Semua ini atas izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ujarnya.
Perjalanan menghafal Al-Qur’an, kata Bilqis, tidak selalu berjalan mulus. Ia mengaku beberapa kali mengalami masa-masa sulit yang membuatnya hampir menyerah.
“Selama proses menghafal saya pernah beberapa kali putus asa dan ingin menyerah karena tekanan yang terasa cukup berat,” tuturnya.
Namun, dukungan para guru, pembina tahfiz, serta doa kedua orang tua menjadi sumber kekuatan yang membuatnya tetap bertahan dan melanjutkan perjuangan.
“Saya selalu mengingat motivasi dari guru-guru dan ustazah saya. Ditambah doa dari kedua orang tua yang membuat saya tetap semangat untuk melanjutkan hafalan,” katanya.
Bilqis mengungkapkan bahwa menjaga niat menjadi kunci utama dalam perjalanan menghafal Al-Qur’an. Menurutnya, hafalan tidak boleh dikejar semata-mata untuk memperoleh pengakuan atau prestasi duniawi.
“Hafalan itu benar-benar harus diniatkan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan karena urusan dunia atau pujian manusia,” ujarnya.
Selain menjaga niat, ia juga memiliki waktu-waktu khusus yang dimanfaatkan untuk menambah hafalan. Baginya, suasana malam hingga menjelang Subuh menjadi waktu paling efektif untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an.
“Biasanya saya menghafal sekitar pukul 02.45 dini hari, setelah salat Isya, dan setelah Subuh. Itu waktu yang paling nyaman untuk menambah hafalan,” katanya.
Keberhasilan Bilqis tidak hanya terlihat dalam bidang tahfiz. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia juga berhasil melanjutkan studi ke perguruan tinggi melalui jalur beasiswa tahfiz.
Meski sempat gagal dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan belum berhasil meraih cita-cita awalnya di bidang kedokteran, Bilqis akhirnya diterima di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) dengan beasiswa penuh pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris.
“Alhamdulillah saya diterima dengan beasiswa penuh,” ujarnya.
Kepala MA Al Burhan Hidayatullah Semarang, Eko Zainuri, menilai Bilqis merupakan salah satu santri yang menunjukkan kesungguhan luar biasa dalam mengikuti program tahfiz.
“Bilqis termasuk anak yang luar biasa. Capaian ini lahir dari proses panjang, kedisiplinan yang kuat, dan kesungguhannya dalam menjaga target hafalan,” katanya.
Menurut Eko, keberhasilan tersebut juga didukung oleh sistem pendidikan yang mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan pembinaan tahfiz secara intensif. Santri program takhassus memperoleh pendampingan khusus sehingga dapat fokus menghafal tanpa meninggalkan pendidikan formal.
“Pembinaan hafalan berlangsung secara berkesinambungan, mulai pagi hingga malam hari. Madrasah dan pesantren berjalan secara terpadu dalam mendampingi para santri,” ujarnya.
Bagi Bilqis, wisuda tahfiz bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga hafalan dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
“Selama enam tahun belajar di Al Burhan, saya mendapatkan banyak ilmu dan pelajaran hidup yang sangat berharga. Semoga Allah memudahkan saya untuk terus menjaga hafalan ini,” katanya.
Prestasi Bilqis menjadi bukti bahwa kesungguhan, lingkungan pendidikan yang mendukung, serta bimbingan yang konsisten mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga dekat dengan Al-Qur’an dan siap memberi manfaat bagi masyarakat.






