AdvertisementAdvertisement

Berbagi Kiat Menulis, Ust Drs Ahmad Yani Ibaratkan seperti Mau Pergi ke Bandung

Content Partner

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dai yang juga penulis buku produktif bertema keislaman Ust Drs Ahmad Yani meluangkan waktu ditengah kesibukannya menyambangi Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jln Cipinang Cempedak I, No. 14, Otista, Polonia, Jatinegara, DKI Jakarta, Selasa, 11 Muharram 1444 (9/8/2022).

Kehadiran Ust Ahmad Yani bukan tanpa alasan. Ia diundang menjadi narasumber dalam acara Kuliah Peradaban Syiar Muharram yang digelar secara hybrid. Ia didapuk membawakan materi “Dakwah bil Qalam & Kebangkitan Peradaban”. Bersama dia, hadir juga narasumber lainnya Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah Ust Dr Tasyrif Amin, M.Pd, yang mengkaji tema “Iqra’ sebagai Basis Nilai Kebangkitan Peradaban”.

Dengan pembawaannya yang khas, Ahmad membawakan materi dengan tenang, cenderung datar namun sesekali menyentak mengawali uraiannya dengan sebuah kisah. Kisah yang lumayan aneh.

Jadi pernah suatu waktu, seorang dosen dari salah satu universitas islam negeri di Jakarta dengan pendidikan doktoral datang mendekat kepadanya. Keperluannya adalah bertanya, apa rahasia dalam menulis.

Ahmad Yani mengaku sempat kaget, apa benar ia bertanya, sedangkan dirinya belum pernah kuliah sampai doktor.

“Karena dia bertanya, ya, saya jawab,” katanya yang disambut tawa hadirin yang datang sebagai peserta offline.

“Kalau Anda tidak punya niat ke Bandung, kira kira nyampe nggak ke Bandung,” tanya Ahmad Yani ke sang dosen itu.

“Nggak!,” jawab dosen tersebut.
“Nah, itu rahasianya!,” timpal Ahmad Yani tersenyum.

Ia menjelaskan, rahasia menulis adalah niat. “Kalau Anda tidak niat menulis, ya tidak ada tulisan. Kalau saya niat (menulis), sehingga saya berusaha ada sesuatu yang saya tulis. Apa saja bisa ditulis,” katanya.

Jadi, rahasia dapat produktif menulis menurut Ahmad Yani adalah berangkat dari niat.

“Maka kalau Anda niat ke Bandung, kan nggak diam saja di rumah. Anda harus pergi ke terminal, cari bus jurusan Bandung. Berangkat. Nyampe ke Bandung. Beda ama calo, emang dia nggak niat ke Bandung,” selorohnya.

Dengan tamsil tersebut, Ahmad Yani menekankan bahwa menulis hendaklah didahului dengan niat kuat yang dengan itu ia melakukan upaya sungguh sungguh bergerak melangkah untuk sampai pada tujuan yang diniatkannya. Tanpa niat, maka tidak akan pernah ada upaya sungguh-sungguh.

Bagaimana seorang yang sejak belia telah aktif sebagai aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) mampu menulis sampai 57 judul buku?

Ternyata itu berangkat dari pengalaman Ahmad Yani yang sangat sederhana. “Saya selalu menulis setiap hari. Kemudian (dalam tempo tertentu) saya himpun dan jadilah buku.”

Buku pertama kali yang ia tulis pun judulnya singkat, “Catatan Ringan.” Karena merupakan kumpulan catatan yang ia lakukan setiap hari.

Karena terbiasa, akhirnya penulis teks khutbah itu pun menjadi sangat senang dengan kegiatan menulis. Sampai-sampai memiliki moto hidup yang menarik. Yaitu, “Tulislah apa yang akan diceramahkan. Dan, ceramahkanlah apa yang ditulis.”

Lebih lanjut, Ahmad Yani mengatakan perihal keuntungan dakwah dengan menulis.

Pertama, pesan bersifat langgeng. Karena tulisan memang akan abadi. Seperti Imam Ghazali dan Imam Nawawi, darimana kita mengenal mereka kalau bukan dari tulisan-tulisan mereka.

Kedua, dakwah dengan menulis pada era sekarang semakin mudah untuk siapapun menerima dan menyebarkan. Memang ada video, tapi menurut Ahmad menyebarkan tulisan jauh lebih mudah dan ringan daripada konten video.

Ketiga, menulis mendorong diri untuk terus belajar dan rajin membaca. Jadi, lakukanlah dakwah dengan menulis, karena ini adalah amal shaleh yang usianya melebihi usia hidup penulisnya sendiri. Inilah dakwah yang sangat panjang eksistensinya.

Dalam rangkaian menyambut dan memeriahkan bulan Muharram 1444 H yang juga bertepatan dengan momentum Dirgahayu HUT RI ke-77 Tahun, Pemuda Hidayatullah bersama Korps Muballig Hidayatullah (KMH) berkolaborasi laksanakan rangkaian acara bertajuk “Literasi dan Kebangkitan Peradaban”.

Acara Kuliah Peradaban yang digelar secara hybrid dari Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah dan disiarkan secara live oleh kanal YouTube Hidayatullah ID ini dimoderatori pemimpin redaksi Hidayatullah.or.id Mahladi Murni.

Acara ini juga turut dihadiri oleh sejumlah pengurus DPP Hidayatullah, unsur badan dan amal usaha, organisasi pendukung (orpen), dan digelar atas kerjasama DPP Hidayatullah, Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) dan Pemuda Hidayatullah yang didukung BMH.*/Ainuddin/Imam

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Spirit Halal Bihalal dan Menetapi Ketakwaan Kita

ATAS gagasan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KH Abdul Wahab Chasbullah yang merespon dinamika politik yang muram pada masa itu,...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img