
NAGEKEO (Hidayatullah.or.id) — Search & Rescue (SAR) Hidayatullah terus membersamai penyintas gempa di Nusa Tenggara Timur, termasuk mereka yang berada di wilayah terpencil dan masih menghadapi rangkaian persoalan pascabencana.
Pendampingan dilakukan melalui distribusi bantuan logistik, pemantauan kondisi warga, serta edukasi jalur evakuasi di tengah ancaman gempa susulan, keterbatasan air bersih, dan cuaca ekstrem. Respons ini berlangsung setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah utara Flores pada 15 Agustus 2026.
Kepala Divisi Operasi Pusat SAR Hidayatullah, Murdianto, melaporkan kondisi dari Nanganumba, dusun terpencil di Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Menurut laporan yang disampaikannya pada Senin, 11 Rabi’ul Awal 1448 (24/8/2026), kondisi lingkungan masih menambah beban yang harus dihadapi penyintas.
“Ditengah ancaman gempa susulan yang masih berlangsung warga juga harus berhadapan dengan cuaca ekstrem 30° siang hari dan 17° malam harinya,” kata Murdianto.
Di lokasi tersebut, Murdianto juga bertemu dengan orang tua bayi kembar berusia lima bulan, Kinanti dan Jendra. Keluarga tersebut menjalani masa pascabencana dengan keterbatasan kebutuhan dasar.
“Belum lagi susahnya air bersih dan debu kemarau ditambah kencangnya angin,” ujar Murdianto yang memimpin Posko Hidayatullah Peduli di kawasan itu.
Persoalan warga juga berkaitan dengan tempat tinggal. Hingga kini, sebagian penyintas masih bertahan di sejumlah titik pengungsian karena belum berani kembali tidur di rumah. Trauma akibat gempa masih dirasakan, sementara sejumlah rumah mengalami kerusakan dan sebagian lainnya dinilai membahayakan apabila kembali ditempati.

Bersama Laznas BMH, SAR Hidayatullah menyalurkan bantuan logistik kepada penyintas. Pendampingan juga dilengkapi edukasi mengenai jalur evakuasi sebagai langkah kesiapsiagaan apabila gempa susulan dengan kekuatan lebih besar terjadi.
Murdianto mengatakan, respons lapangan tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga membantu warga memahami langkah keselamatan ketika menghadapi risiko berikutnya.
Konteks kegempaan Flores menjadi perhatian karena peristiwa pada Agustus 2026 ini memiliki kemiripan magnitudo dengan gempa Flores pada 12 Desember 1992. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut gempa 1992 berkekuatan sekitar Mw 7,7–7,8 dan disertai tsunami yang sangat destruktif.
Di Riangkroko, ujung timur laut Flores, run-up tsunami pada 1992 tercatat mencapai 26,2 meter dan menyebabkan ribuan korban jiwa. Meski memiliki kemiripan magnitudo, dampak tsunami kedua peristiwa tersebut berbeda. BRIN menjelaskan bahwa besarnya tsunami tidak ditentukan oleh magnitudo semata. Pergerakan dasar laut ketika patahan mengalami ruptur atau pecah menjadi faktor penting dalam menentukan karakter tsunami.
Kondisi tersebut membuat kesiapsiagaan tetap menjadi kebutuhan selama masa pascabencana. Bagi SAR Hidayatullah, Murdianto menambahkan, keberlanjutan pendampingan di Nagekeo mencakup bantuan kebutuhan dasar, pemantauan warga, dan penguatan pengetahuan evakuasi.
“Di tengah ancaman susulan, cuaca ekstrem, keterbatasan air bersih, dan trauma yang masih berlangsung, penyintas tetap membutuhkan dukungan yang konsisten selama proses pemulihan,” pungkas Murdianto.






