Di tengah derasnya persaingan bisnis fashion, Ahmad Sabil Al Faqih tetap mantap berkiprah dalam industri yang dikuasainya dengan memasarkan produk melalui brand Rif-Q Collection.
Usaha konveksinya berfokus pada seragam sekolah dan seragam kelembagaan, memenuhi kebutuhan yang spesifik sehingga tetap bertahan dalam ketatnya persaingan pasar, baik dari produk lokal maupun impor.
“Melalui Rif-Q Collection, Ahmad Sabil berhasil memproduksi hingga 1.000 potong pakaian per bulan,” terang Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Sulsel, Basori Shabirin, dalam keteranganya, Kamis, 28 Rabiul Tsani 1446 (31/10/24).
Keuletannya menjadikan produk Rif-Q Collection diminati oleh konsumen perorangan, komunitas, hingga toko seragam sekolah yang memesan dalam jumlah besar.
Dalam mengembangkan usahanya, Ahmad melibatkan tiga tenaga kerja lokal yang ia latih sendiri, dan sementara ini, ia mengoperasikan bisnis dari rumahnya di Perumahan Puri Taman Sari, Makassar.
Namun, Ahmad Sabil bukan hanya seorang pengusaha sukses.
Di sela-sela kesibukannya, ia mengajar Al-Qur’an bagi anak-anak di sekitar komplek tempat tinggalnya, menyediakan ruang bagi mereka untuk belajar mengaji.
Setiap Jumat, ia juga aktif berdakwah sebagai khatib di berbagai masjid di Kota Makassar dan sekitarnya, menyebarkan nilai-nilai kebaikan kepada masyarakat.
Dukungan BMH
Perjalanan bisnis dan dakwah Ahmad Sabil turut didukung oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) yang memberikan bantuan modal usaha.
“Lewat dukungan ini, Ahmad bisa melengkapi alat-alat produksi seperti mesin jahit yang meningkatkan kapasitas usahanya,” imbuh Basori.
Ahmad berharap usahanya dapat terus berkembang, tidak hanya untuk kesejahteraan keluarganya tetapi juga untuk memberdayakan masyarakat di sekitarnya.
Ahmad Sabil Al Faqih menjadi contoh nyata seorang yang tidak hanya aktif dalam bisnis, tetapi juga dalam berdakwah dan memberikan manfaat bagi sesama. Hal ini juga menjadi bukti bahwa zakat, infak dan sedekah mampu memberdayakan sesama.*/Herim
DALAM beberapa dekade terakhir, dunia organisasi terus mengalami transformasi yang besar, khususnya dalam cara kepemimpinan, struktur, dan pola interaksi antar anggota. Salah satu perubahan signifikan adalah pergeseran dari struktur organisasi hierarkis ke jaringan yang lebih fleksibel dan dinamis.
Realitas dunia modern, mendorong organisasi bekerja lebih efektif dan efisien dengan menjadikan organisasi untuk mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, mengintegrasikan nilai-nilai inti dengan fleksibilitas, dan beroperasi dengan keterhubungan. Paradigma organisasi tradisional yang bertumpu pada struktur hierarkis kaku semakin bergeser menuju model jaringan yang lebih dinamis dan inklusif.
Dalam konteks membangun peradaban Islam yang kaffah, pergantian paradigma ini bukan sekadar respons terhadap perubahan zaman, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai Islam yang mengedepankan keterbukaan, kerjasama, serta sinergi dan kolaborasi antarumat dengan memperhatikan realitas kontemporer dan visi masa depan Organisasi.
Perspektif Islam tentang Struktur Organisasi
Islam menekankan pentingnya organisasi yang berlandaskan pada prinsip keadilan, musyawarah (syura), keseimbamngan (tawazun) dan kerjasama (ta’awun) yang saling melengkapi. Struktur organisasi yang berbasis jaringan, dibandingkan dengan hierarki, lebih dekat dengan prinsip-prinsip ini, karena mendorong peran aktif dari setiap anggota organisasi tanpa memandang jenjang atau posisi. Konsep jaringan dalam Islam sebenarnya tercermin dalam model kepemimpinan Rasulullah SAW yang mengedepankan musyawarah dalam setiap keputusan, serta menekankan pentingnya kebersamaan dan keterlibatan seluruh lapisan umat.
Peran musyawarah, sebagaimana disarankan dalam Surah Ali Imran ayat 159 dan Surah Asy-Syura ayat 38, merupakan dasar dalam membangun keputusan yang adil dan inklusif. Pada masa Rasulullah SAW, struktur organisasi yang beliau bangun dalam masyarakat Madinah dapat dianggap sebagai embrio dari organisasi berbasis jaringan, di mana nilai kesetaraan, kepercayaan, dan keterbukaan menjadi fondasi utama. Masyarakat Madinah saat itu diorganisir berdasarkan prinsip kebersamaan dan gotong royong, tanpa kebergantungan pada otoritas tunggal, meskipun pemegang kendali tertinggi dalam pengambilan keputusan tetap berada pada Rasulullah SAW.
Pergeseran dari Hierarki ke Jaringan dalam Perspektif Islam
Model organisasi hierarkis mengutamakan struktur yang bertingkat dengan alur wewenang dari atas ke bawah. Dalam hierarki, peran dan posisi biasanya statis dan formal, dengan keputusan dan kebijakan terpusat pada pimpinan puncak. Sebaliknya, model jaringan mengusung pola kolaborasi, desentralisasi, dan fleksibilitas, di mana setiap individu atau unit memiliki otonomi lebih besar dan keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan. Dalam perspektif Islam, model jaringan ini sangat relevan dengan prinsip musyawarah (syura), gotong-royong (ta’awun), dan kesatuan (wahdah) yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan al-Hadits.
Dalam sejarah Islam, kita bisa melihat bahwa organisasi berbasis hierarki pernah menjadi kekuatan dalam menyatukan umat dan mengefektifkan jalannya kepemimpinan. Sistem khilafah, misalnya, menghadirkan model struktur yang terorganisir dan berjenjang, dimana khalifah memegang otoritas tertinggi dan bertindak sebagai pemimpin dalam hal keagamaan dan duniawi, diikuti oleh para pemimpin regional dan komunitas. Dalam sistem ini, ketaatan dan loyalitas menjadi nilai utama yang menjaga kesatuan umat.
Namun, dalam era globalisasi dan perubahan teknologi saat ini, struktur hierarkis terkadang dianggap kaku dan kurang adaptif, terutama ketika organisasi Islam menghadapi tantangan yang lebih kompleks dan menuntut respons yang cepat. Struktur ini juga berisiko menciptakan jarak antara pemimpin dan anggota organisasi, yang seringkali mengurangi partisipasi aktif dan rasa memiliki di kalangan anggota.
Di lain pihak, kebutuhan untuk memperluas partisipasi umat dalam organisasi dan memperkuat kolaborasi adalah wujud dari nilai Islam yang inklusif dan aspiratif. Paradigma jaringan memungkinkan terjalinnya ikatan kolektif, memperkuat solidaritas umat, dan menghadirkan suara yang lebih beragam dalam menyelesaikan berbagai masalah. Selain itu, dalam mengemban visi membangun peradaban Islam yang kaffah, model jaringan memungkinkan tercapainya sinergi antarumat lintas daerah dan disiplin, yang pada akhirnya dapat mendukung penyatuan langkah dalam mewujudkan tujuan bersama.
Peluang Pergeseran Paradigma dari Hierarki ke Jaringan
Pergeseran paradigma dari hierarki ke jaringan memberikan sejumlah peluang bagi organisasi, diantaranya adalah:
Pertama, Menghidupkan Kolaborasi dan Partisipasi Aktif: Struktur jaringan memungkinkan setiap individu dalam organisasi untuk berperan aktif sesuai dengan kemampuan dan keahliannya masing-masing. Dalam konteks organisasi Islam, ini membuka peluang bagi umat untuk berkontribusi dalam dakwah, pendidikan, ekonomi, atau kegiatan sosial secara lebih leluasa tanpa harus terhambat oleh sistem hierarkis yang kaku.
Kedua, Peningkatan Keterhubungan dan Penyebaran Ide: Jaringan memungkinkan pertukaran ide dan pengalaman yang lebih dinamis. Hal ini penting dalam upaya memperkaya wawasan dan inovasi di dalam organisasi. Misalnya, sebuah organisasi Islam yang memiliki struktur jaringan dapat lebih mudah terhubung dengan komunitas-komunitas Muslim lainnya di berbagai negara dan berdialog tentang cara-cara efektif dalam menjalankan program-program sosial maupun dakwah.
Ketiga, Mengakomodasi Keberagaman dan Inklusivitas: Struktur jaringan yang bersifat fleksibel dan non-hierarkis juga membantu menciptakan ruang yang lebih inklusif untuk berbagai pandangan, keahlian, dan latar belakang. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang menghargai perbedaan dalam bingkai persatuan dan kerjasama yang produktif.
Keempat, Inklusivitas dalam Kepemimpinan dan Pengambilan Keputusan: Model jaringan memungkinkan kepemimpinan yang lebih terbuka dan partisipatif, di mana setiap individu dalam organisasi memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi dan pandangan. Prinsip syura dalam Islam mengajarkan pentingnya konsultasi dan partisipasi dalam pengambilan keputusan, sehingga model jaringan dapat mendorong partisipasi yang lebih luas dari seluruh anggota organisasi.
Kelima, Fleksibilitas dan Responsif terhadap Perubahan: Berbeda dari struktur hierarkis yang cenderung kaku, organisasi berbasis jaringan lebih responsif dan adaptif terhadap perubahan lingkungan. Ini sangat penting dalam menghadapi dinamika sosial-politik dan perkembangan teknologi yang pesat. Keterhubungan jaringan yang fleksibel memudahkan organisasi Islam untuk merespons secara cepat, mengantisipasi perubahan, dan menyesuaikan strategi untuk tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Keenam Pemberdayaan Individu dan Komunitas : Dalam jaringan, setiap individu memiliki otonomi lebih besar untuk mengembangkan potensinya. Dalam Islam, konsep pemberdayaan diri (tazkiyah an-nafs) dan pengembangan kompetensi adalah hal penting. Struktur jaringan memungkinkan setiap anggota berkontribusi sesuai kemampuan, bakat, dan wawasan mereka, memberikan mereka tanggung jawab langsung dalam mendukung misi organisasi.
Tantangan Pergeseran Paradigma dari Hierarki ke Jaringan
Meskipun memberikan sejumlah peluang yang cukup menjanjikan, akan tetapi pergeseran paradigma dari hierarki ke jaringan juga menyajikan beberapa tantangan yang tidak ringan, diantaranya adalah :
Pertama, Resistensi terhadap Perubahan: Pergeseran dari struktur hierarki ke jaringan sering kali menghadapi resistensi, terutama dari mereka yang telah terbiasa dengan sistem birokrasi tradisional. Dalam organisasi Islam, di mana nilai hormat pada pemimpin sangat tinggi, transisi ini mungkin memerlukan waktu dan pendekatan yang bijak agar nilai tradisional tetap terjaga namun sistem tetap modern dan relevan.
Kedua, Koordinasi yang Lebih Kompleks: Tanpa adanya jenjang hierarki yang jelas, struktur jaringan sering kali menghadapi tantangan dalam hal koordinasi. Namun, tantangan ini sebenarnya dapat diatasi dengan sistem komunikasi yang terstruktur dan mekanisme musyawarah yang berjalan secara efektif.
Ketiga, Kebutuhan Akan Keterampilan Baru:Dalam struktur jaringan, anggota harus memiliki kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan manajemen diri yang kuat. Tidak semua anggota organisasi Islam memiliki keterampilan ini, terutama dalam mengelola otonomi dan tanggung jawab pribadi. Oleh karena itu, investasi dalam pengembangan keterampilan (ta’lim) perlu menjadi prioritas agar setiap individu mampu berfungsi dengan baik dalam struktur jaringan.
Keempat, Ketidakpastian dalam Pengambilan Keputusan: Struktur jaringan mungkin membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih panjang karena adanya keterlibatan yang lebih luas. Dalam Islam, prinsip musyawarah sangat penting, tetapi hal ini harus dilaksanakan secara efisien. Oleh karena itu, organisasi Islam perlu merumuskan prosedur yang memungkinkan pengambilan keputusan cepat tanpa mengorbankan inklusivitas.
Kelima, Tantangan Pengendalian dan Akuntabilitas: Tanpa hierarki yang kaku, pengendalian dan akuntabilitas menjadi lebih menantang. Peran pemimpin dalam organisasi jaringan adalah fasilitator daripada pengontrol. Pemimpin harus memiliki kemampuan untuk memberikan arahan tanpa mendominasi, sejalan dengan nilai-nilai Islam yang mengajarkan bahwa pemimpin adalah pelayan umat, bukan penguasa.
Keenam, Kebutuhan Teknologi dan Komunikasi yang Mumpuni: Struktur jaringan membutuhkan sistem komunikasi yang cepat dan tepat. Ini memerlukan investasi di bidang teknologi dan sumber daya manusia yang terampil dalam mengoperasikan sistem-sistem digital. Tanpa dukungan teknologi, organisasi jaringan tidak akan dapat berfungsi secara optimal.
Ketujuh, Kesulitan dalam Standarisasi dan Pengendalian Mutu: Dalam jaringan, otonomi yang besar bagi setiap unit seringkali menyebabkan variasi standar dan kualitas kerja yang beragam. Ini menjadi tantangan dalam menjaga integritas dan kualitas program organisasi Islam. Untuk mengatasi ini, prinsip ihsan (kualitas terbaik) perlu diterapkan di setiap unit dengan tetap menjaga standarisasi sesuai syariah dan tujuan organisasi
Manfaat dari Pergeseran ke Struktur Organisasi Jaringan
Dari tantangan dan peluang sebagaimana diuraikah di atas, maka pergesern dari hirarkis ke jaringan ini, memberikan manfaat bagi organisasi, yang dapat diuraikan sebagai berikut :
Pertama, Mewujudkan Prinsip Keadilan dan Persamaan: Salah satu manfaat utama dari struktur jaringan adalah menciptakan lingkungan yang lebih adil dan setara. Dengan mengadopsi struktur ini, organisasi Islam bisa mendorong budaya keadilan di mana setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dan berperan dalam organisasi.
Kedua, Peningkatan Daya Tanggap terhadap Perubahan: Dalam dunia yang terus berubah, organisasi berbasis jaringan lebih mudah beradaptasi dengan perubahan. Struktur ini memberikan kelincahan bagi organisasi untuk merespons situasi-situasi tak terduga dan peluang baru dengan lebih cepat.
Ketiga, Memaksimalkan Potensi Setiap Anggota: Struktur jaringan mendorong anggota untuk berkontribusi sesuai dengan minat dan keahlian mereka. Hal ini selaras dengan ajaran Islam yang menghargai pengembangan potensi individu sebagai bentuk ibadah. Melalui struktur ini, organisasi Islam dapat memaksimalkan bakat dan keterampilan anggotanya secara lebih efektif.
Keempat, Penguatan Solidaritas dan Persatuan Umat: Jejaring kolaboratif dalam organisasi Islam dapat memperkuat solidaritas dan persatuan umat. Ketika organisasi Islam di berbagai wilayah terhubung secara sinergis, umat Islam dapat saling mendukung dan berbagi sumber daya untuk menghadapi tantangan bersama. Kesatuan umat dalam jejaring kolaborasi ini merupakan fondasi kuat dalam mewujudkan peradaban Islam yang solid dan kokoh.
Kelima, Kemampuan Inovasi dan Kecepatan Respon terhadap Isu Sosial: Dengan adanya jaringan yang dinamis, organisasi Islam dapat lebih cepat merespons isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat. Kemampuan inovasi menjadi lebih kuat karena ide-ide kreatif dapat disalurkan melalui jaringan secara cepat dan efisien. Misalnya, dalam menghadapi isu lingkungan atau pendidikan, organisasi jaringan dapat merancang dan melaksanakan program secara kolaboratif sehingga dampak positifnya lebih luas.
Keenam, Peningkatan Ketahanan dan Daya Saing: Struktur jaringan menghasilkan organisasi yang lebih kuat dan tahan terhadap perubahan eksternal. Dalam Islam, ada prinsip berorganisasi seperti bangunan yang kokoh dan saling menguatkan (Surah Ash-Shaff: 4). Struktur jaringan dapat memperkuat ketahanan internal organisasi dan menjadikan organisasi Islam sebagai pemain utama di tingkat global dalam membangun peradaban yang kaffah.
Ketujuh, Menciptakan Pemimpin Masa Depan yang Visioner dan Kolaboratif: Struktur jaringan menumbuhkan iklim di mana setiap orang dapat menjadi pemimpin sesuai konteksnya. Ini sesuai dengan semangat Islam yang mengajarkan bahwa setiap Muslim adalah pemimpin atas dirinya sendiri dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Dengan mendukung pengembangan kepemimpinan di setiap level, organisasi jaringan akan menciptakan generasi pemimpin yang visioner, kolaboratif, dan berwawasan luas.
Realitas Masa Kini dan Harapan Masa Depan
Di era digital yang penuh dengan ketidakpastian dan persaingan, organisasi Islam menghadapi kebutuhan untuk lebih responsif, inklusif, dan berdaya tahan. Paradigma organisasi berbasis jaringan menjadi relevan karena ia memungkinkan interaksi dan kerjasama yang luas dengan berbagai pihak baik di tingkat lokal maupun global. Dengan adanya struktur yang terbuka, organisasi Islam dapat lebih cepat menangkap sinyal perubahan di masyarakat dan menyesuaikan strategi dakwah serta program-program sosialnya.
Selain itu, organisasi Islam yang mengadopsi sistem jaringan dapat berfungsi sebagai lokomotif perubahan sosial, terutama dalam isu-isu kemanusiaan, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan hidup. Organisasi yang terhubung dan fleksibel dapat bekerja sama dengan berbagai komunitas untuk menciptakan perubahan yang lebih berdampak luas. Misalnya, dalam menghadapi tantangan ekonomi global, organisasi Islam yang berbasis jaringan dapat bekerja sama dengan lembaga keuangan Islam untuk memberikan solusi yang sesuai dengan prinsip keadilan ekonomi Islam.
Penutup: Membangun Peradaban Islam yang Kaffah
Dalam mewujudkan peradaban Islam kaffah, struktur jaringan memberikan fondasi yang kokoh dan relevan. Paradigma ini memungkinkan organisasi Islam untuk menyebarkan dakwah dan nilai-nilai Islam dengan lebih efektif melalui gerakan yang tersebar dan partisipatif. Peradaban Islam kaffah tidak lagi menjadi utopia tetapi menjadi kenyataan yang berkelanjutan, dengan organisasi-organisasi Islam yang memiliki daya saing global dan kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat.
Seiring waktu, dengan jaringan yang kuat, organisasi Islam dapat menjadi pusat pembelajaran, inovasi, dan solusi yang menginspirasi masyarakat dunia. Organisasi dengan struktur jaringan mampu menyatukan keberagaman individu menjadi kekuatan kolektif, membangun hubungan lintas komunitas, dan secara proaktif berkontribusi pada perdamaian dan kemakmuran dunia. Inilah peluang besar untuk membumikan nilai-nilai Islam dalam konteks kehidupan nyata, menjadikan Islam sebagai pedoman hidup yang solutif, tawazun, dan berdaya guna sepanjang masa.
Struktur jaringan bukan hanya pola organisasi; ini adalah landasan baru yang mencerminkan tujuan Islam untuk membentuk umat yang kuat, seimbang, dan terhormat di hadapan Allah ta’ala dan dunia. Wallahu a’lam.[]
*) ASIH SUBAGYO,penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ditulis sambil berbaring karena kendala kesehatan.
PAGINYA orang beriman atau mulainya aktivitas orang beriman adalah pukul 03.00 atau sebelum Shubuh. Semakin awal bangun pagi maka akan semakin produktif karena banyak aktivitas yang bisa dilakukan dan dihasilkan.
Adapun amalan pertama di pagi hari bagi orang beriman adalah shalat Tahajjud. Shalat yang dilaksanakan di tengah malam atau sepertiga akhir malam atau menjelang pagi. Memulai kehidupan pagi dengan melaksanakan ketaatan kepada Sang Pemilik hidup dan mati, sebagai wujud Syukur kepada Allah.
Banyak keistimewaan dan keutamaan yang dijanjikan Allah bagi yang istiqomah shalat Tahajjud. Masing-masing orang mungkin berbeda dalam mendapatkan faedah atau manfaat namun semuanya dalam bingkai kebaikan. Tidak ada ruginya shalat Tahajjud kecuali orang salah dalam niat.
Kedudukan shalat Tahajjud tergolong shalat sunnah yang utama setelah shalat fardhu. Sebagaimana hadist Rasulullah
“Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah –Muharram-. Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah)
Shalat Tahajjud juga disebut sebagai amalan orang-orang sholeh, artinya bukan amalan orang biasa. Tidak semua orang bisa melaksanakan kebiasaan shalat Tahajjud ini karena diperlukan ikhtiar yang luar biasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Hendaklah kalian melaksanakan qiyamul lail (shalat malam) karena shalat amalan adalah kebiasaan orang sholih sebelum kalian dan membuat kalian lebih dekat pada Allah. Shalat malam dapat menghapuskan kesalahan dan dosa. ” (Lihat Al Irwa’ no. 452. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Shalat Tahajjud adalah shalat sunnah yang tergolong paling berat atau tidak mudah melaksanakan. Artinya tidak semua orang bisa melaksanakan secara istiqomah. Berat karena tantangan dan godaannya memang luar biasa, waktunya bukan di waktu biasa maka diperlukan ikhtiar yang luar biasa untuk bisa melaksanakan secara istiqomah. Bangun lebih cepat untuk berdiri shalat dengan melawan ngantuk di waktu enak-enaknya mimpi atau nyenyak-nyenyaknya tidur.
Shalat Tahajjud Undangan Eksklusif dari Allah
Shalat Tahajjud adalah undangan eksklusif dari Allah. Ibarat sebuah hajatan, Allah hanya akan mempersilahkan datang dan masuk tamu-tamu yang diundang. Jika masih merasa berat bangun malam shalat Tahajjud, bisa jadi belum layak untuk diundang oleh Allah.
Agar bisa diundang shalat Tahajjud di malam hari maka berusahalah untuk memantaskan diri dengan menjadi hamba yang sholeh, taqwa dan taat. Memulai dengan memenuhi dulu undangan-undangan Allah yang lain seperti shalat lima waktu berjamaah di masjid. Allah mengundang lima kali sehari ke Baitullah (masjid-masjid) dengan suara adzan dari muadzin dengan suara mic yang keras.
Mungkin semua orang mendengar suara panggilan adzan tapi tidak semua terpanggil untuk memenuhi panggilan tersebut. Sebab pendengarannya yang bermasalah tapi keimanannya yang belum sensitive mendengar panggilan Allah.
Jika sudah terbiasa menerima dan memenuhi undangan Allah, maka undangan pada akhirnya undangan shalat Tahajud akan diberikan pada waktu Istimewa atau spesial yaitu shalat Tahajjud di malam hari. Selanjutnya mungkin Allah akan mengundang ibadah umroh dan haji.
Sebenarnya banyak cara Allah mengundang hamba-hamba-Nya. Seperti melalui ajakan orang lain, mendengar ceramah ustadz, bacaan buku, nasehat teman yang semua menyampaikan mengajak untuk meraih shalat Tahajjud. Namun tidak semua merasa itu sebuah undangan, sehingga terkadang tidak merespon, semangat, cuek, ogah-ogahan atau biasa saja.
Keajaiban Shalat Tahajjud
Keajaiban shalat Tahajjud, mungkin membuat terkejut semua orang yang mengamalkannya. Menjadi moment spesial dalam pengalaman hidup.
Pertama, menjadi saat terbaik untuk mendapatkan kedekatan dengan Allah, di tengah malam pada saat orang tertidur lelap. Istilah bukan time crowdid atau waktu yang ramai atau sesak seperti jalan yang macet di kota-kota besar atau sinyal crowdid karena banyak pemakai gadget. Shalat Tahajjud di tengah atau sepertiga akhir malam seperti jalan tol yang sepi atau koneksi sinyal wifi yang paling kuat. Nyaman, sepi dan mudah untuk bisa khusyu’ untuk beribadah dan berdoa.
Kedua, shalat Tahajjud adalah ibadah dan doa sangat istimewa di hadapan Allah karena terantar untuk bisa memahami dirinya saat malam hari yang lemah di hadapan Allah yang Maha Kuasa. Betapa lemahnya dan kecilnya manusia dan Allah Maha segalanya. Tepatnya ketika melaksanakan sunnah membaca ayat 190 surat Ali Imron sambil memandang langit,
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
Ketiga, waktu shalat Tahajjud memberikan ketenangan hati yang tidak bisa dirasakan pada siang hari. Ketenangan hati hanya bisa dicapai dengan membangun kedekatan dengan pemilik hati. Malam hari, Allah sang Pemilik hati membuka seluas-luasnya kepada hati-hati hamba untuk mendekat dengan ibadah, dzikir dan berdoa. Bukan berarti siang hari, Allah tidak memberi kesempatan tapi malam hari kesempatan itu lebih terbuka lebar.
Keempat, waktu yang tepat untuk meminta segala kebutuhan, harapan. Doa yang dipanjatkan di shalat Tahajjud, insya Allah lebih mustajab, bahkan super mustajab sebagai jalur langit. Dalam hadist, Allah merasa malu kepada hamba yang berdoa jika tidak memenuhi doa tersebut.
Shalat Tahajjud adalah saatnya melangitkan doa di sepertiga malam, waktu yang dijanjikan Allah sebagai waktu yang mustajab apalagi saat sujud.
“Allah Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malamnya hingga tersisa sepertiga malam yang terakhir, Allah berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, akan Aku ampuni.’” (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758)
*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi,penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Kepala Humas Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Pusat, Mas Imam Nawawi, berkesempatan memberikan pelatihan jurnalisme filantropi di Sekolah Amil BMH, bertempat di Rumah Kreatif, Kalimulya, Depok, Jawa Barat.
Acara yang digelar pada Rabu, 27 Rabiul Akhir 1446 (30/10/2024) ini diikuti oleh calon amil muda, bertujuan untuk membekali mereka dengan kemampuan dasar jurnalistik yang relevan dengan kegiatan filantropi.
Dalam sesi tersebut, Mas Imam, yang setiap hari menulis di blog pribadinya, www.masimamnawawi.com, menekankan bahwa produk jurnalistik di ranah filantropi bukan hanya soal dokumentasi program, tetapi juga membangun kepercayaan publik.
“Karena produk jurnalistik lahir dari hadirnya implementasi program yang melibatkan masyarakat. Semakin bagus berita, baik kuantitatif maupun kualitatif, akan menjadikan publik trust bahkan menjadi senang untuk terus berdonasi,” tuturnya.
Mas Imam mendorong para peserta untuk aktif membaca sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan dan merancang produk jurnalistik yang bernilai.
Ia mengutip sebuah contoh inspiratif dari Bung Hatta, yang meski berstatus proklamator bangsa dan menerima beasiswa penuh di Universitas Indonesia untuk putri ketiganya, tetap memilih membayar biaya kuliah.
Langkah tersebut, lanjut Imam, didasarkan pada keinginan Hatta agar beasiswa itu dapat digunakan oleh mahasiswa lain yang memerlukan.
“Kata putri pertama Bung Hatta agar beasiswa itu bisa lebih tepat sasaran, untuk anak bangsa yang mau kuliah dan terkendala biaya. Ternyata beasiswa itu bisa digunakan oleh dua mahasiswa UI,” paparnya.
Mas Imam menegaskan bahwa kisah semacam ini bisa menjadi motivasi bagi seorang amil untuk menciptakan produk jurnalistik yang tidak hanya informatif tetapi juga inspiratif.
Secara teknis, ia memperkenalkan dua jenis karya jurnalistik, yaitu berita on the spot dan feature—yang kedua dikenal sebagai bentuk tulisan bertutur yang mampu menggugah emosi pembaca.
Di akhir pelatihan, peserta mendapat kesempatan praktik langsung untuk menulis berita, memperdalam pemahaman mereka mengenai tugas seorang amil yang tak hanya mengabdi tetapi juga menyampaikan kisah penolongannya kepada khalayak.
Pelatihan ini diharapkan dapat memperkaya calon amil muda dengan keterampilan jurnalistik yang mampu mengkomunikasikan nilai dan aksi filantropi secara mendalam dan menginspirasi masyarakat luas. (ybh/hio)
DAKWAH memiliki peran penting dalam membangun karakter bangsa, khususnya dalam menciptakan generasi yang berakhlak, berilmu, dan mandiri. Dalam konteks Indonesia, wilayah tertinggal, terdepan, terluar, dan rentan (3TR) seringkali mengalami keterbatasan akses terhadap pendidikan formal, informasi, dan bimbingan spiritual.
Untuk mengatasi tantangan ini, Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) hadir sebagai motor penggerak dakwah pedalaman, dengan tujuan utama membangun sumber daya manusia (SDM) di wilayah 3TR melalui pendidikan agama dan sosial.
Dengan memperkuat dakwah di wilayah pedalaman, kita berkontribusi pada pencapaian visi Indonesia unggul, sesuai dengan cita-cita bangsa sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, yakni “mencerdaskan kehidupan bangsa.”
Dakwah Membangun Bangsa
PosDai memiliki peran sentral dalam mendukung pembangunan bangsa, terutama dalam membangun SDM di wilayah 3TR yang sering diabaikan. Wilayah-wilayah ini tidak hanya rentan dari sisi ekonomi, tetapi juga dari aspek pendidikan dan pembinaan moral.
Salah satu pilar utama yang disasar oleh PosDai adalah meningkatkan pendidikan berbasis nilai-nilai agama Islam yang menjadi fondasi dalam membentuk masyarakat yang berakhlak dan berdaya saing tinggi.
Dalam kerangka pembangunan nasional, peran dakwah pedalaman sangat strategis, mengingat daerah-daerah tertinggal seringkali menjadi bagian yang terabaikan dalam agenda pembangunan ekonomi dan sosial.
Program dakwah pedalaman yang dijalankan oleh PosDai mampu menjangkau masyarakat yang sulit diakses oleh pendidikan formal, dengan menghadirkan para dai yang tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga keterampilan hidup seperti kewirausahaan dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan .
Dakwah pedalaman tidak hanya fokus pada aspek spiritual, tetapi juga memperkuat pengetahuan lokal tentang pengelolaan sumber daya dan ekonomi kreatif. Sebagai contoh, program pemberdayaan ekonomi melalui bimbingan wirausaha dan pengelolaan sumber daya alam membantu masyarakat memahami potensi yang mereka miliki serta bagaimana memanfaatkannya dengan baik.
Tantangan di Wilayah 3TR
Tantangan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar sangat beragam, mulai dari keterbatasan infrastruktur, aksesibilitas, hingga rendahnya tingkat pendidikan. Melalui program dakwah pedalaman, PosDai memainkan peran vital dalam memberikan pendidikan agama dan pembinaan moral yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat di wilayah tersebut.
Pendidikan agama yang diajarkan oleh para dai mampu menjadi filter terhadap berbagai pengaruh negatif, seperti kenakalan dan penyimpangan sosial, yang kerap menjangkau masyarakat di wilayah-wilayah rentan.
Selain itu, PosDai juga mengintegrasikan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air dalam setiap program dakwahnya. Dengan demikian, dakwah tidak hanya terbatas pada ajaran agama, tetapi juga mengembangkan wawasan nusantara dan cinta terhadap Indonesia. Dalam jangka panjang, hal ini diharapkan mampu menciptakan generasi muda yang memiliki komitmen kuat untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa .
Tujuan akhir dari program dakwah pedalaman adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana yang diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945. Dengan memperkuat pendidikan agama dan akhlak di wilayah-wilayah pedalaman, PosDai membantu membentuk individu yang cerdas secara intelektual, spiritual, dan moral.
Pendidikan agama yang diberikan tidak hanya menitikberatkan pada ritual-ritual ibadah, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai universal seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kerja keras .
Dalam skala global, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara yang unggul jika mampu mengoptimalkan potensi sumber daya manusianya. Namun, ini hanya mungkin jika setiap individu di seluruh pelosok negeri mendapatkan akses yang setara terhadap pendidikan, baik pendidikan umum maupun pendidikan agama.
Dengan melihat berbagai dinamika tersebut, maka program dakwah pedalaman PosDai menjadi salah satu solusi strategis untuk mencapai cita-cita tersebut, dengan menjangkau wilayah-wilayah yang paling membutuhkan perhatian .
Salah satu aspek penting dalam menciptakan Indonesia unggul adalah dengan memperkuat moralitas bangsa melalui pendidikan agama yang berbasis pada nilai-nilai Islam. Dakwah yang disampaikan para dai di pedalaman berfungsi sebagai pembinaan spiritual, selain mereka sebagai agen perubahan sosial yang mendorong masyarakat untuk hidup lebih produktif, mandiri, dan harmonis .
Dengan menciptakan masyarakat yang berakhlak baik, memiliki pengetahuan yang luas, dan keterampilan yang memadai, Indonesia dapat bersaing di kancah global. Lebih dari itu, program dakwah pedalaman juga berkontribusi pada upaya mengentaskan kemiskinan di wilayah-wilayah tertinggal melalui program pemberdayaan ekonomi berbasis syariah yang diajarkan oleh para dai.
Cara untuk Terlibat dalam Dakwah Pedalaman
Bagi masyarakat yang tinggal di kota besar dengan kesibukan yang sangat padat, terlibat langsung dalam program dakwah di pedalaman mungkin terasa sulit. Namun, berikut ini ada 5 cara yang dapat dilakukan untuk tetap berkontribusi dalam dakwah Islamiyah di pedalaman:
1. Menyisihkan Dana untuk Program Dakwah
Salah satu cara termudah untuk berkontribusi adalah dengan menyisihkan sebagian harta untuk mendukung program dakwah pedalaman. Banyak organisasi, termasuk PosDai, yang membuka peluang bagi masyarakat untuk berdonasi guna membantu keberlangsungan program dakwah di wilayah terpencil. Kontribusi finansial ini dapat digunakan untuk membiayai perjalanan atau memenuhi kebutuhan akomodasi bulanan para dai agar bisa lebih fokus berdakwah, pembangunan sarana dakwah, atau program pemberdayaan ekonomi
2. Menyebarkan Informasi tentang Dakwah Pedalaman
Dengan memanfaatkan platform media sosial, kita dapat membantu menyebarkan informasi tentang pentingnya dakwah pedalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para dai. Kesadaran masyarakat yang lebih luas tentang pentingnya dakwah di wilayah pedalaman dapat mendorong lebih banyak orang untuk terlibat dalam program ini, baik secara langsung maupun tidak langsung.
3. Menjadi Relawan Digital
Jika tidak memungkinkan untuk terjun langsung ke lapangan, menjadi relawan digital adalah alternatif yang efektif. Misalnya, membantu dalam mendukung pengelolaan media sosial atau website PosDai, menyebarkan kampanye dakwah, atau membuat konten edukatif tentang pentingnya dakwah di wilayah 3TR .
4. Meluangkan Waktu untuk Kegiatan Dakwah di Kota
Meskipun tinggal di kota besar, kita tetap bisa terlibat dalam dakwah melalui kegiatan-kegiatan sosial di kota. Dengan membangun jaringan antara kota dan pedalaman, kita bisa membantu memperkuat hubungan dan dukungan untuk para dai yang berjuang di wilayah terpencil.
5. Mengembangkan Program Wirausaha
Melalui program pemberdayaan ekonomi berbasis syariah, kita dapat membantu masyarakat di wilayah 3TR untuk membangun kemandirian ekonomi. Bagi mereka yang memiliki keterampilan atau pengetahuan dalam bidang wirausaha, memberikan pelatihan atau mentorship secara daring kepada masyarakat pedalaman dapat menjadi salah satu bentuk kontribusi yang nyata .
Pada akhirnya, kami berharap program dakwah pedalaman yang dijalankan oleh PosDai ini adalah salah satu langkah strategis dalam membangun sumber daya manusia Indonesia, terutama di wilayah-wilayah yang tertinggal, terdepan terluar, dan rentan.
Bagi Anda yang tinggal di kota besar atau siapapun dengan kesibukan ekstra, terdapat banyak cara untuk dapat tetap ikut terlibat dalam dakwah Islamiyah di pedalaman, meskipun dengan keterbatasan waktu dan kesibukan.
Setiap bentuk dukungan, baik berupa finansial, tenaga, maupun ide Anda, amatlah sangat berarti bagi keberlanjutan dakwah dan pembangunan SDM di wilayah 3TR.[]
MUHAMMAD Irsan, seorang santri kelas 1 SMP di Pesantren Al-Ikhlas Hidayatullah Laro, Luwu Timur, menunjukkan bahwa meskipun tinggal di pesantren, ia tetap memiliki ketertarikan yang sama dengan anak-anak lainnya, yakni bermain sepak bola.
“Sukanya di pesantren itu banyak teman. Ada teman yang jago bola seperti Dahlan, dan ada juga yang pintar di sekolah seperti Angga,” ujarnya, penuh antusiasme, tentang pengalaman bersahabatnya.
Lapangan luas di depan masjid pesantren menjadi saksi kebersamaan dan semangat mereka. Melalui sepak bola, Irsan menemukan persahabatan yang lebih dari sekadar permainan; ini adalah jalinan relasi yang menyatukan santri dari berbagai daerah dalam satu semangat kebersamaan.
Selain itu, Irsan yang sudah hafal satu juz Al-Qur’an juga mendapatkan kesempatan belajar nilai-nilai kedisiplinan melalui rutinitas yang terstruktur di pesantren, mulai dari sholat berjamaah hingga mengikuti kegiatan belajar dan makan bersama.
Bagi para santri, kebersamaan di meja makan pun menjadi pengalaman unik tersendiri. “Kalau jam makan ke dapurnya sama-sama. Hari ini ada nasi, lauknya ayam dan sayur. Ibu dapurnya baik, sabar, tidak pernah marah,” cerita Irsan tentang keseharian di dapur pesantren.
Di balik aktivitas dapur ini, Ibu Rahmasita, petugas dapur di Pesantren Al-Ikhlas, memiliki peran besar dalam menyiapkan hidangan sehari-hari bagi 92 santri.
“Sehari kami masak 30 liter beras untuk santri putra dan putri,” jelas Rahmasita. Ia bahkan memulai aktivitas lebih awal pada hari Senin dan Kamis agar dapat menyediakan makanan sahur bagi para santri yang berpuasa.
Peran penting seperti yang dijalankan oleh Ibu Rahmasita semakin didukung oleh bantuan dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) yang memberikan pasokan beras untuk kebutuhan santri.
“Kami sangat bersyukur atas silaturahmi dan bantuan dari Laznas BMH. Harapannya, menjelang Ramadan ini kebutuhan beras santri tercukupi,” ujar Parmin Hanifa, Sekretaris Yayasan, penuh harap.
Bantuan ini tidak sekadar memenuhi kebutuhan pangan; dukungan Laznas BMH menjadi jaminan keberlanjutan pendidikan dan kesehatan bagi para santri. Kehidupan di pesantren Al-Ikhlas Laro adalah miniatur dari perjalanan yang dipenuhi dengan kebersamaan, kedisiplinan, dan kepedulian.*/Herim
BANTEN (Hidayatullah.or.id) — Akses terhadap air bersih, terutama melalui sumur bor, memiliki dampak langsung yang signifikan terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan juga merupakan aspek fundamental dalam mencapai kualitas hidup yang baik dan produktif.
Seperti yang diketahui bersama, kualitas air yang buruk sangat terkait dengan berbagai penyakit, seperti diare, infeksi kulit, dan gangguan pencernaan lainnya.
PBB telah menjadikan akses air bersih sebagai salah satu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), dengan fokus pada SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi) serta SDG 3 (Kesehatan yang Baik). Dalam hal ini, tersedianya akses air bersih tidak hanya berarti kesehatan fisik tetapi juga merupakan fondasi bagi kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat.
Kadiv Program dan Pemberdayaan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), Roni Hayani, mengatakan dengan sumur bor Pondok Pesantren An-Nidzam yang menyediakan air bersih, risiko penyakit menular yang disebabkan oleh air tercemar dapat dikurangi secara signifikan, sehingga kualitas hidup dan produktivitas masyarakat meningkat secara keseluruhan.
“Inilah yang mendorong BMH terus menghadirkan sumur bor untuk generasi bangsa, termasuk para santri, agar mereka bisa hidup sehat, ibadah dengan baik, dan belajar dengan lancar,” jelas Kadiv Roni Hayani, seperti dalam keterangan diterima media ini, Rabu, 27 Rabiul Akhir 1446 (28/10/2024).
Sebelum hadirnya sumur bor, Pondok Pesantren An-Nidzam bergantung pada aliran sungai irigasi untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Dahulu, sungai ini menjadi sumber berkah karena airnya yang jernih dan segar, namun kini kondisi sungai berubah akibat pencemaran limbah dan sampah.
Di musim kemarau, keadaan semakin sulit karena aliran sungai sering kali mengering, membuat santri dan warga sekitar sangat membutuhkan sumber air yang bersih dan layak.
Saat sumur bor yang baru selesai dibangun, Edy Humaedi, pengurus pesantren, mengungkapkan rasa syukur yang dalam.
“Alhamdulillah, sumur bor ini benar-benar membawa berkah, membantu memenuhi kebutuhan air bersih untuk para santri,” ujarnya. Baginya dan para pengurus lainnya, sumur bor ini adalah jawaban atas doa-doa panjang mereka akan kebutuhan air yang layak.
Rasa terima kasih pun dilayangkan kepada para donatur Laznas BMH Banten yang telah mendukung program ini. “Semoga Allah membalas kebaikan para donatur dengan pahala yang berlimpah, dilapangkan rezekinya, dan selalu diberi kesehatan,” doa Edy yang diaminkan penuh khidmat oleh santri-santri yang turut merasakan kebahagiaan akan hadirnya sumur bor ini.
Abdul Basith Amin, seorang santri berusia 14 tahun, mengungkapkan kegembiraannya. “Saya dan teman-teman sangat senang sekarang bisa berwudhu dengan mudah, tak perlu lagi ke sungai yang kadang airnya kotor, atau bahkan kering,” ujarnya dengan mata berbinar.
Bagi Abdul dan para santri lainnya, sumur bor ini bukan hanya sumber air, tetapi juga simbol kenyamanan yang memudahkan kegiatan ibadah dan aktivitas sehari-hari mereka.
Kini, setiap tetes air yang mengalir dari sumur bor menjadi simbol harapan dan dukungan yang akan terus mengalir, menjaga kesehatan dan semangat belajar 263 penerima manfaat, termasuk 22 santri putra, 32 santri putri, serta 84 kepala keluarga di sekitar pesantren.*/Herim
Pada hari yang mulia ini, marilah kita senantiasa tak henti hentinya memuji Allah Subhanahu wa ta’ala, sebagai wujud rasa syukur atas segala nikmat dan karunia yang telah dilimpahkan kepada kita. Shalawat serta salam tak lupa kita haturkan kepada junjungan kita, Nabiullah Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Keberadaan manusia di alam semesta ini akan selalu berfikir dan beraktivitas. Aktivitas manusia sebagai makhluk berakal akan selalu terdorong oleh pandangan hidup yang dianutnya.
Pandangan hidup adalah asas bagi pemahaman dan aktifitas seseorang. Syeikh Abul ‘Ala Al Maududi mengatakan bahwa, “pandangan hidup seorang muslim adalah pandangan hidup yang dibangun dari konsep Tauhid yaitu dua kalimat syahadat yang berimplikasi pada seluruh aktivitas kehidupan seorang muslim di dunia”.
Orang beriman maupun orang kafir, buah dari perbuatannya di dunia semuanya didasari dari bagaimana ia memandang kehidupan di dunia ini.
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Walaupun pada awal mula diturunkan syariat Islam perintah syahadat tidak secara eksplisit disebutkan, tapi secara otomatis lima ayat pertama kali turun dalam surah Al ‘Alaq memberi kesadaran keimanan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai hasil dari proses membaca yang merupakan pesan utama dari wahyu pertama.
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ / Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ / Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ / Tuhanmulah Yang Maha mulia. الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ / Dia yang mengajarkan (manusia) dengan pena. عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ / Mengajarkan manusia dari apa yang tidak diketahui
Ayat pertama menjelaskan sekaligus meluruskan pandangan hidup manusia. Allah Subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa dalam hidup ini ada Rabb sebagai pencipta kehidupan yaitu Allah, yang menguasai dan mengatur segala yang diciptakannya.
Dialah Allah Subhanahu wa ta’ala, dzat Rabb yang Maha Berkehendak. Jika hendak menciptakan sesuatu maka Dia hanya berkata kun, jadilah, fayakun maka jadilah!.
Sementara, disisi lain, manusia hanya salah satu dari sekian banyak ciptaan Allah Subhanahu wa ta’ala yang memiliki banyak kelemahan dan kekurangan.
Pada potongan ayat selanjutnya juga menjelaskan bahwa Rabb (Allah) memiliki sifat Maha Mulia, kemuliaan Allah Subhanahu wa ta’ala tidak tergantung sedikit pun kepada ciptaan-Nya, kemuliaan Allah tidak berkurang sedikitpun walaupun tidak ada manusia yang menyembahNya.
Sementara manusia adalah hina, diciptakan dari segumpal darah. Kemudian, lebih lanjut Allah Subhanahu wa ta’ala mempertegas hakikat diri-Nya yang maha mengetahui segalanya sementara manusia adalah makhluk yang terlahir ke dunia dalam keadaan tidak tahu apa apa (bodoh).
“Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur” (QS. An Nahl: 78)
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Pandangan hidup yang dibangun dari kesadaran nilai Tauhid, bahwa Allah Maha Kuasa atas ciptaan-Nya dan Maha Melihat segala aktifitas hamba-Nya baik yang tampak maupun yang tersembunyi, maka akan melahirkan tiga sikap sebagai indikator kesadaran Tauhid.
Pertama, memasrahkan diri kepada Allah dengan Ikhlas beramal hanya karena Allah Subhanahu wa ta’ala semata.
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS: Al An’am: 162)
Seseorang yang sadar akan segala kelemahannya maka dia mengikhlaskan segala hidupnya hanya kepada Allah karena Allah Subhanahu wa ta’ala sebaik pemberi ganjaran dan tidak pernah lalai mengawasi segala aktifitas hamba-Nya.
Kedua, berbuat sesuai dengan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, karena Allah Subhanahu wa ta’ala yang menciptakan semuanya.
Dialah yang paling mengetahui apa yang tepat untuk ciptaan-Nya. Karena itu, sangat tepat ketika manusia berbuat sesuai petunjuk syariat yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa ta’ala.
“Tidaklah pantas bagi mukmin dan mukminat, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketentuan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata” (QS. Al Ahzab: 36)
Walaupun sebab turunnya ayat ini berkaitan dengan pernikahan Zainab binti Jahsy dangan Zaid bin Kharitsah yang dianggap tidak sekufu, namun yang menjadi poin penting bahwa hal itu merupakan perintah dari Rasulullah untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya.
Maka tidak pantas dan tidak layak bagi orang yang memiliki iman selain melakukan perbuatan yang diridhai Allah dan Rasul-Nya, menjauh dari kemurkaan Allah dan Rasul-Nya, mengerjakan perintah dan menjauhi larangannya.
Tidak pantas bagi mereka memiliki pilihan lain, bahkan seorang mukmin laki-laki maupun perempuan tentu mengetahui, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih utama bagi mereka daripada diri mereka sendiri.
Oleh karena itu, jangan sampai sebagian hawa nafsu mereka menguasainya dan menghalanginya menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya.
Ketiga, segala usaha dan kerja keras yang dilakukan hasilnya hendaknya dikembalikan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Dalam kehidupan senang maupun susah terkadang kita rasakan. Sudah mengeluarkan tenaga dan seluruh potensi yang kita miliki namun kenyataanya apa yang kita harapkan tidak sesuai.
Maka, itulah perlunya kita berserah diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala karena Dia lebih mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya.
“Kelak kamu akan mengingat apa yang kukatakan kepadamu. Aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Gafir: 44)
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد
LABUAN (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah mengirim delegasi dalam helatan akbar Konvensyen Dakwah Borneo 2024 yang digelar oleh Kadazan-Dusun-Murut-Sungai Muslim (KDRMS Muslim) Association pada selama 3 hari pada 22-24 Rabiul Akhir 1446 (25-27/10/2024) di Labuan, Wilayah Federal Malaysia.
Sebelumnya, Ketua KDRMS Muslim, Haji Nicholas Sylvester, dalam lawatannya ke Indonesia dia menyampaikan undangan perihal agenda tersebut kepada Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah dalam kunjungannya ke Pusat Dakwah di Jakarta sebulan yang lalu.
Menyambut baik undangan itu, DPP Hidayatullah mengirimkan delegasi beranggotakan enam orang, dipimpin Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa Dewan Pengurus Pusat (DPP), Dzikrullah W. Pramudya, bersama Sekretaris Kampus Induk dan Ketua ketua DPW Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Utara.
Dalam sambutannya, Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa Hidayatullah menegaskan bahwa tujuan utama kehadiran Hidayatullah di konvensyen ini adalah tiga sasaran besar. Pertama, membangun “Tata Pikir Borneo” yang menggarisbawahi kesatuan visi antarprovinsi dalam menjalankan program dakwah strategis.
“Semua program strategis di provinsi masing-masing merupakan bagian yang terikat dengan kegiatan dakwah semua gerakan lain sebagai satu kekuatan strategis umat Islam di wilayah Borneo tanpa dibatasi perbatasan administratif negara-negara,” terangnya.
Sasaran kedua, yang sangat penting, adalah fokus pada dakwah kepada non-Muslim, terutama mempelajari kisah sukses dakwah di Sabah. Wilayah ini memiliki karakteristik unik dengan keberagaman agama dan budaya yang tinggi. Oleh karena itu, praktik dakwah di Sabah menawarkan banyak pelajaran yang dapat diterapkan di wilayah lain di Borneo.
Ketiga, mengembangkan kerja sama di berbagai bidang, termasuk kepemudaan, teknologi informasi, kaderisasi da’i, dan ulama. Dengan sinergi antarorganisasi dakwah yang hadir dari empat negara, diharapkan akan muncul pola kerja sama yang konkret untuk memperkuat dakwah di seluruh Borneo.
Paparan dari Kampus Induk Hidayatullah
Delegasi Hidayatullah yang diwakili oleh Sekretaris Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Abu A’la Al Maududi, memaparkan konsep unik yang dimiliki Kampus Induk sebagai pusat kaderisasi da’i.
Al Maududi menyebut bahwa kampus ini “sebagai kampung sekaligus pusat kaderisasi da’i yang sebisa mungkin membangun nilai-nilai Madinatun Nabi: Persaudaraan, Ibadah, Tradisi Ilmu, Amal berjama’ah, dan Silaturrahim dengan masyarakat seluas mungkin.”
Dengan konsep ini, jelasnya, Kampus Induk Hidayatullah tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga menjadi komunitas yang hidup dengan nilai-nilai Islam yang holistik. Pendekatan ini dianggap penting dalam mempersiapkan generasi da’i yang berilmu dan mampu bersinergi dengan masyarakat dalam dakwah bil hal.
Selain itu, dia menyebutkan, Lembaga Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan sebagai asset penting umat Islam Borneo dalam melanjutkan dakwah di pulau besar ini.
PUZ berfungsi sebagai pusat pendidikan yang mengintegrasikan ilmu agama (ulumuddin) dan kepemimpinan, menjadikannya relevan dalam menghadapi tantangan dakwah kontemporer yang dihadapi oleh umat Islam di kawasan serta lulusannya diharapkan mampu berperan aktif dalam membangun masyarakat yang damai dan Islami di kawasan Borneo. (ybh/hidayatullah.or.id)
LABUAN (Hidayatullah.or.id) — Dakwah Islam di Borneo memasuki babak baru melalui penyelenggaraan Konvensyen Dakwah Borneo yang diadakan selama 3 hari pada 22-24 Rabiul Akhir 1446 (25-27/10/2024) di Labuan, Wilayah Federal Malaysia. Acara ini diselenggarakan oleh Kadazan-Dusun-Murut-Sungai Muslim (KDRMS Muslim) Association yang berpusat di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia.
Konvensyen ini merupakan momen bersejarah, mengingat hadirnya lembaga-lembaga dakwah dari berbagai negara, termasuk Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam, dan Indonesia, serta aktivis dakwah yang menyebarkan pengaruh hingga ke seluruh penjuru Borneo. Acara ini menjadi wadah strategis untuk memupuk sinergi lintas batas dalam dakwah Islam, menjawab tantangan masa kini, dan menyusun visi dakwah ke depan di tanah Borneo.
Poin utama dalam konvensyen ini adalah gagasan Ketua KDRMS Muslim, Haji Nicholas Sylvester tentang gelombang dakwah ketiga di Borneo.
Dia menyebutkan, gelombang pertama datang dari sejak zaman Sahabat Rasulullah sampai zaman Dinasti Ming China yang pengaruhnya sampai ke sini (1368-1644).
“Lalu, gelombang kedua dari masa penjajahan Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda di kawasan Nusantara sampai masa kemerdekaan negeri-negeri Borneo, bahkan hingga sekarang,” katanya.
Menurut Haji Nicholas, pertanyaan besar yang harus dijawab dalam konvensyen ini adalah apakah umat Islam di Borneo mampu membangkitkan gelombang ketiga dakwah yang mampu membawa rahmat bagi seluruh pulau tanpa terkecuali.
Konvensyen Dakwah Borneo ini menjadi wadah untuk merumuskan pandangan bersama demi kemajuan dakwah di Borneo. Dengan terbangunnya jaringan antarorganisasi dakwah dari berbagai negara, diharapkan akan tercipta gelombang dakwah ketiga yang lebih terarah dan berkesinambungan.
Nicholas menambahkan, tantangan gelombang yang dihadapi sekarang mungkin besar, tetapi dengan kolaborasi lintas batas dan kesatuan visi, umat Islam di Borneo akan membawa perubahan yang berarti dan menjadi rahmat bagi seluruh masyarakat di kawasan ini.
Forum ini menekankan perlunya adaptasi dan pemahaman mendalam tentang karakteristik sosial, budaya, dan ekonomi di setiap wilayah di kawasan.
Tantangan tersebut dipandang perlu dijawab dengan semangat merajut persatuan dan kolaborasi yang kuat di antara lembaga lembaga pemerintah dan organisasi dakwah swadaya masyarakat di negara-negara serumpun. (ybh/hidayatullah.or.id)