Beranda blog Halaman 145

Gagasan Gelombang Dakwah Ketiga Mengemuka di Konvensyen Dakwah Borneo 2024

LABUAN (Hidayatullah.or.id) — Dakwah Islam di Borneo memasuki babak baru melalui penyelenggaraan Konvensyen Dakwah Borneo yang diadakan selama 3 hari pada 22-24 Rabiul Akhir 1446 (25-27/10/2024) di Labuan, Wilayah Federal Malaysia. Acara ini diselenggarakan oleh Kadazan-Dusun-Murut-Sungai Muslim (KDRMS Muslim) Association yang berpusat di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia.

Konvensyen ini merupakan momen bersejarah, mengingat hadirnya lembaga-lembaga dakwah dari berbagai negara, termasuk Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam, dan Indonesia, serta aktivis dakwah yang menyebarkan pengaruh hingga ke seluruh penjuru Borneo. Acara ini menjadi wadah strategis untuk memupuk sinergi lintas batas dalam dakwah Islam, menjawab tantangan masa kini, dan menyusun visi dakwah ke depan di tanah Borneo.

Poin utama dalam konvensyen ini adalah gagasan Ketua KDRMS Muslim, Haji Nicholas Sylvester tentang gelombang dakwah ketiga di Borneo.

Dia menyebutkan, gelombang pertama datang dari sejak zaman Sahabat Rasulullah sampai zaman Dinasti Ming China yang pengaruhnya sampai ke sini (1368-1644).

“Lalu, gelombang kedua dari masa penjajahan Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda di kawasan Nusantara sampai masa kemerdekaan negeri-negeri Borneo, bahkan hingga sekarang,” katanya.

Menurut Haji Nicholas, pertanyaan besar yang harus dijawab dalam konvensyen ini adalah apakah umat Islam di Borneo mampu membangkitkan gelombang ketiga dakwah yang mampu membawa rahmat bagi seluruh pulau tanpa terkecuali.

Konvensyen Dakwah Borneo ini menjadi wadah untuk merumuskan pandangan bersama demi kemajuan dakwah di Borneo. Dengan terbangunnya jaringan antarorganisasi dakwah dari berbagai negara, diharapkan akan tercipta gelombang dakwah ketiga yang lebih terarah dan berkesinambungan.

Nicholas menambahkan, tantangan gelombang yang dihadapi sekarang mungkin besar, tetapi dengan kolaborasi lintas batas dan kesatuan visi, umat Islam di Borneo akan membawa perubahan yang berarti dan menjadi rahmat bagi seluruh masyarakat di kawasan ini.

Forum ini menekankan perlunya adaptasi dan pemahaman mendalam tentang karakteristik sosial, budaya, dan ekonomi di setiap wilayah di kawasan.

Tantangan tersebut dipandang perlu dijawab dengan semangat merajut persatuan dan kolaborasi yang kuat di antara lembaga lembaga pemerintah dan organisasi dakwah swadaya masyarakat di negara-negara serumpun. (ybh/hidayatullah.or.id)

Helatan Konvensyen Dakwah Borneo 2024 Merajut Visi Dakwah Antar Negara Serumpun

LABUAN (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya memperkuat dakwah lintas negara di wilayah Asia Tenggara, Konvensyen Dakwah Borneo 2024 yang berlangsung di Labuan, Malaysia, telah menjadi wadah penting bagi lembaga-lembaga pemerintah dan organisasi dakwah swadaya masyarakat dari Malaysia, Brunei, Indonesia, dan Filipina.

Acara ini, yang diinisiasi oleh Kadazan-Dusun-Murut-Sungai Muslim Association (KDRMS Muslim), berlangsung selama 3 hari pada 22-24 Rabiul Akhir 1446 (25-27/10/2024).

Dengan kehadiran delegasi dari Hidayatullah, yang dipimpin oleh Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa Dewan Pengurus Pusat (DPP), Dzikrullah W. Pramudya, bersama Sekretaris Kampus Induk dan Ketua ketua DPW Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Utara, acara ini bertujuan untuk merumuskan langkah-langkah strategis dalam berdakwah di kawasan Borneo yang meliputi berbagai latar belakang budaya dan etnis.

Dzikrullah W. Pramudya mengemukakan tiga tujuan utama kehadiran Hidayatullah dalam konvensi ini yang dianggap sebagai pijakan penting dalam mengembangkan dakwah di Borneo.

Tujuan pertama adalah membangun “Tata Pikir Borneo” bagi Ketua ketua DPW di mana semua program strategis di provinsi masing-masing merupakan bagian yang terikat dengan kegiatan dakwah semua gerakan lain sebagai kekuatan strategis umat Islam yang satu di wilayah Borneo tanpa dibatasi perbatasan administratif.

Harapan pertama ini menyiratkan bahwa dalam menjalankan dakwah, lintas provinsi di Borneo seharusnya tidak terpecah secara administratif atau sektoral, tetapi justru membangun kesatuan pemikiran strategis yang menyeluruh.

Konsep “Tata Pikir Borneo” dimaknai bahwa setiap lembaga-lembaga pemerintah dan organisasi dakwah swadaya masyarakat yang beroperasi di wilayah ini hendaknya memiliki visi bersama yang mampu menjembatani berbagai perbedaan administrasi dan politik di antara empat negara.

Tujuan kedua, adalah berdakwah kepada Non-Muslim di Borneo, terutama dengan melihat kisah sukses di Sabah. Dzikrullah menekankan bahwa pengalaman ini dapat menjadi rujukan untuk strategi dakwah lintas agama di kawasan Borneo.

Perkembangan dakwah di Sabah menunjukkan bahwa pendekatan yang penuh empati, menghormati kebudayaan setempat, dan mengedepankan dialog produktif adalah kunci kesuksesan dalam menjalin hubungan baik dengan komunitas non-Muslim.

Pengalaman ini juga memperlihatkan bahwa pendekatan semacam ini memungkinkan dialog lintas budaya yang positif dan produktif, sekaligus membangun persepsi bahwa Islam adalah agama yang membawa kedamaian.

Tujuan ketiga, kerjasama dalam bidang kepemudaan, teknologi informasi, kaderisasi dai, dan ulama. Hidayatullah melihat pentingnya kolaborasi di berbagai bidang yang relevan dengan era digital saat ini, di mana teknologi memainkan peran penting dalam penyebaran dakwah.

Kerjasama ini tidak hanya diharapkan mencakup pertukaran informasi tetapi juga pelatihan kaderisasi yang membekali para dai dan ulama dengan keterampilan kepemimpinan yang mampu menavigasi isu-isu global serta lokal yang kompleks.

“Kerjasama berbagai bidang: Kepemudaan, Teknologi Informasi, Kaderisasi Dai dan Ulama dengan organisasi organisasi yang hadir dari empat negara,” kata Dzikrullah.

Konvensyen Dakwah Borneo menjadi panggung di mana berbagai elemen masyarakat dan pemerintah dari empat negara bertemu, bertukar gagasan, dan membangun kesepahaman bersama. Kolaborasi ini diharapkan bisa menjadi langkah awal dalam memperkuat dakwah di wilayah yang kaya akan keberagaman.

Selain itu, konvensyen ini juga menjadi ajang formal bertemunya para dai guna menciptakan ruang dialog untuk membahas isu-isu strategis yang spesifik terkait wilayah Borneo.

Diketahui, kawasan Borneo merupakan rumah bagi berbagai kelompok etnis dan agama, yang menuntut pendekatan dakwah yang relevan dan bijaksana. Mengingat tantangan pluralitas budaya ini, pendekatan kolaboratif menjadi semakin penting ditengah tantangan dakwah yang tidak bisa hanya mengandalkan satu pola pendekatan saja.

Forum ini menekankan perlunya adaptasi dan pemahaman mendalam tentang karakteristik sosial, budaya, dan ekonomi di setiap wilayah di kawasan. Tantangan tersebut dipandang perlu dijawab dengan semangat merajut persatuan dan kolaborasi yang kuat di antara lembaga lembaga pemerintah dan organisasi dakwah swadaya masyarakat di negara-negara serumpun.*(ybh/hidayatullah.or.id)

Prinsip Wasathiyyah dalam Organisasi Islam, Menjaga Keseimbangan dan Menyelesaikan Problematika Keummatan

0

DALAM kehidupan kontemporer saat ini, umat Islam dihadapkan pada tantangan besar dalam berbagai aspek kehidupan: pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi, politik, hingga lingkungan hidup dan lain sebagainya. Masyarakat memerlukan sebuah pendekatan yang tidak hanya sesuai dengan nilai-nilai Islam, tetapi juga solutif dan realistis dalam konteks kekinian dan kedisinian. Oleh karenanya peran prinsip wasathiyyah menjadi sangat penting bagi organisasi Islam yang ingin memberikan kontribusi nyata dalam menyelesaikan permasalahan umat.

Prinsip wasathiyyah atau jalan tengah adalah salah satu konsep fundamental dalam ajaran Islam. Secara umum, konsep ini seringkali oleh berbagai pihak dipaksakan untuk diartikan sebagai moderasi dalam beragama. Namun, realitasnya lebih dari itu, wasathiyyah adalah prinsip yang mengarahkan umat Islam untuk menempatkan agama sebagai solusi kehidupan (minhajul hayyah), menciptakan pendekatan yang seimbang (tawazun) dalam menyelesaikan berbagai persoalan tanpa mengorbankan nilai-nilai ajaran Islam.

Oleh karena itu, wasathiyyah adalah prinsip yang mengajarkan keseimbangan dalam setiap aspek, mulai dari sikap terhadap perubahan, hingga penerapan nilai-nilai Islam dalam menjawab tantangan kehidupan modern. Sehingga melalui prinsip wasathiyyah, organisasi Islam dapat memainkan peran sentral dalam menghadapi dinamika modern sekaligus membawa kemajuan tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar agama.

Wasathiyyah: Prinsip Seimbang sebagai Jalan Tengah

Kata wasathiyyah berasal dari kata “wasath,” yang dalam bahasa Arab berarti “tengah” atau “seimbang.” Namun, dalam konteks Islam, maknanya tidak hanya berhenti pada sekadar “moderat.” Wasathiyyah juga mencakup makna keadilan, keseimbangan, dan kemudahan. Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman bahwa umat Islam adalah “umat yang wasath” (Ummatan Wasathan), yaitu umat yang adil, seimbang, dan memberikan manfaat bagi alam semesta (Q.S. Al-Baqarah: 143).

Konsep wasathiyyah inilah yang memungkinkan umat Islam untuk menghindari ekstremitas (ifrath) dalam berpikir maupun bertindak, menghindari sikap yang terlalu ketat atau terlalu longgar dan liberal (tafrith). Dalam organisasi Islam, wasathiyyah berarti menempatkan Islam sebagai solusi dalam setiap permasalahan dengan pendekatan yang tidak ekstrem dan seimbang, sehingga prinsip ini menjadi landasan dalam menjalankan setiap program dan strategi organisasi.

Wasathiyyah sebagai Paradigma Transformatif

Dengan memahami prinsip wasathiyyah sebagai sebuah paradigma sebagaimana diuraikan di atas, kita dapat melihat bahwa konsep ini memiliki potensi besar bahkan sangat komprehensip untuk menjadi kekuatan pendorong bagi transformasi organisasi Islam. Wasathiyyah dapat menjadi landasan bagi organisasi Islam untuk:

Pertama menjadi relevan: Dengan terus beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa mengorbankan nilai-nilai fundamental Islam, organisasi Islam dapat tetap relevan dan menarik bagi generasi muda.

Kedua, membangun kerjasama: Wasathiyyah mengajarkan kita untuk bersikap moderat, toleran, dan terbuka terhadap perbedaan. Hal ini memungkinkan organisasi Islam untuk membangun kerjasama dengan berbagai pihak, baik internal maupun eksternal.

Ketiga, sebagai solusi: Wasathiyyah menawarkan solusi yang seimbang dan komprehensif bagi berbagai permasalahan umat. Pendekatan yang tawazun ini memungkinkan organisasi Islam untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Keempat, menjadi teladan: Organisasi Islam yang menerapkan nilai-nilai wasathiyyah dapat menjadi contoh bagi masyarakat dalam menjalankan kehidupan yang harmonis dan seimbang.

Kelima, menjadi kompas: Dalam lautan perubahan yang begitu cepat, wasathiyyah menjadi kompas yang selalu menunjuk arah yang benar. Prinsip ini menjadi landasan bagi organisasi Islam dalam mengambil keputusan dan menyikapi berbagai isu kontemporer.

Keenam, sebagai jembatan: Wasathiyyah berperan sebagai jembatan antara nilai-nilai agama dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, organisasi Islam dapat relevan dan tidak tertinggal oleh zaman.

Implementasi Wasathiyyah

Sebagaimana dijelaskan di atas, Wasathiyyah, merupakan sebuah konsep yang begitu indah dan relevan untuk diterapkan dalam kehidupan modern. Beberapa model implementasi prinsip washatiyah di berbagai bidang dapat diuraikan sebagai berikut :

Pertama, Wasathiyyah dalam Pendidikan: Membangun Generasi yang Berakhlak dan Berilmu

Pendidikan adalah bidang penting di mana wasathiyyah dapat diterapkan secara nyata oleh organisasi Islam. Prinsip wasathiyyah dalam pendidikan berarti menghadirkan kurikulum yang seimbang antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern. Dalam sistem pendidikan Islam yang berlandaskan wasathiyyah, peserta didik tidak hanya diajarkan akidah dan ibadah, tetapi juga diperkenalkan dengan sains, teknologi, dan ilmu sosial sebagai bentuk aktualisasi dari potensi yang diberikan Allah ta’ala kepada manusia.

Sebagai contoh, banyak sekolah dan lembaga pendidikan Islam kini menghadirkan program-program yang tidak hanya berfokus pada hafalan atau pengetahuan agama saja, melainkan juga pada pemahaman keterampilan abad ke-21, seperti literasi digital, kemampuan berpikir kritis, dan kolaborasi. Melalui wasathiyyah, pendidikan Islam membangun generasi yang tidak hanya saleh secara spiritual tetapi juga mampu berkontribusi dalam memecahkan masalah sosial, ekonomi, dan teknologi yang dihadapi oleh masyarakat modern.

Kedua, Wasathiyyah dalam Dakwah: Mengedepankan Dialog dan KearifanLokal

Dakwah adalah aspek krusial dalam organisasi Islam. Dengan wasathiyyah, dakwah dapat menjadi sarana yang inklusif, merangkul semua lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang atau pandangan keagamaan. Dakwah yang berlandaskan wasathiyyah tidak berfokus pada pemaksaan doktrin, tetapi pada penyampaian pesan Islam sebagai ajaran rahmatan lil ‘alamin, yang mampu memberikan solusi terhadap permasalahan hidup manusia.

Melalui dakwah yang wasathiyyah, organisasi Islam dapat memperkenalkan Islam sebagai agama yang bersifat solutif dan membawa kebaikan bagi semua. Dalam konteks ini, dakwah tidak hanya terbatas pada penyampaian ceramah, tetapi juga pada pemberdayaan sosial, pembangunan masyarakat, dan pembinaan moral yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap kelompok masyarakat. Dengan pendekatan yang lebih moderat dan berimbang, dakwah dapat menjadi daya tarik yang relevan di era modern dan dapat memperbaiki citra Islam di mata masyarakat luas.

Ketiga, Wasathiyyah dalam Sosial Ekonomi: Membangun Keseimbangan antara Kesejahteraan dan Keadilan

Islam memiliki prinsip yang jelas mengenai keadilan sosial dan kesejahteraan ekonomi. Wasathiyyah dalam ekonomi berarti menciptakan keseimbangan antara keuntungan dan keadilan sosial. Dalam ekonomi Islam, setiap individu memiliki hak untuk mencapai kesejahteraan, namun hal tersebut harus dicapai tanpa mengabaikan keadilan untuk orang lain. Konsep zakat, sedekah, dan wakaf adalah bentuk nyata dari prinsip wasathiyyah dalam ekonomi.

Organisasi Islam memiliki peran penting dalam mengembangkan sistem ekonomi yang adil, misalnya dengan mendorong sistem keuangan syariah yang berbasis bagi hasil, menghindari riba, dan menciptakan pemerataan ekonomi. Program pemberdayaan ekonomi, koperasi berbasis syariah, dan dukungan terhadap usaha kecil dan menengah adalah contoh implementasi ekonomi wasathiyyah, yang tidak hanya berfokus pada profit, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Keempat, Wasathiyyah dalam Politik: Menciptakan Kehidupan Bernegara yang Harmonis

Prinsip wasathiyyah juga sangat relevan dalam konteks politik. Wasathiyyah dalam politik adalah menjalankan amanah kepemimpinan dengan adil, menghindari ekstremitas dalam bertindak, serta berusaha untuk mencapai kemaslahatan bersama. Sebagai organisasi Islam, prinsip wasathiyyah ini diterapkan dengan cara memberikan kontribusi positif dalam kebijakan publik yang adil dan merata untuk seluruh masyarakat, bukan hanya untuk kepentingan golongan tertentu.

Di tingkat praktis, wasathiyyah dalam politik dapat dilihat dari sikap organisasi Islam yang aktif dalam memperjuangkan keadilan sosial dan hak-hak masyarakat, tanpa terjebak pada polarisasi politik yang tajam. Wasathiyyah mengajarkan bahwa kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk menegakkan keadilan dan melindungi hak-hak umat manusia. Sehingga Organisasi Islam tidak bisa terbeli oleh kepentingan politik praktis-pragmatis yang cenderung liberal dan transaksional.

Kelima, Wasathiyyah dalam Lingkungan Hidup: Melestarikan Alam sebagai Amanah

Dalam konteks lingkungan hidup, wasathiyyah mengajarkan keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian alam. Islam mengajarkan bahwa bumi dan isinya adalah amanah yang harus dijaga dengan baik. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman bahwa manusia diamanahkan sebagai khalifah di bumi untuk menjaga kelestarian alam.

Organisasi Islam dapat mempromosikan wasathiyyah dalam pelestarian lingkungan melalui kampanye-kampanye konservasi, penanaman pohon, pengurangan sampah plastik, dan gerakan ramah lingkungan lainnya. Prinsip wasathiyyah ini menjadi panduan dalam menggunakan sumber daya alam secara bijaksana, mencegah eksploitasi yang merusak, dan memastikan bahwa generasi mendatang masih dapat menikmati keberkahan alam.

Wasathiyyah: Connecting The Dots dari Kehidupan Menuju Solusi Tawazun

Secara keseluruhan, wasathiyyah adalah landasan yang menjadikan Islam sebagai jalan hidup (minhajul hayyah) yang mampu menghadirkan solusi tawazun di berbagai bidang. Prinsip ini bukan hanya memandu umat untuk menjalani kehidupan dengan seimbang, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi problematika keummatan. Melalui pendekatan wasathiyyah, Islam bukan hanya dipandang sebagai agama yang mengedepankan syariah dan ibadah semata, tetapi juga sebagai pedoman praktis yang dapat diterapkan dalam setiap aspek kehidupan.

Bagi organisasi Islam, prinsip wasathiyyah adalah jembatan antara idealisme agama dan realitas kehidupan. Dengan mengedepankan nilai-nilai keseimbangan, organisasi Islam dapat memainkan peran strategis dalam memberikan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, serta menciptakan kehidupan yang lebih adil dan sejahtera. Prinsip ini menjadikan Islam selalu relevan sepanjang masa, dan memberikan manfaat yang universal bagi umat manusia.

Prinsip wasathiyyah bukan sekadar slogan, tetapi sebuah panggilan bagi organisasi Islam untuk menempatkan nilai-nilai Islam sebagai solusi nyata bagi umat manusia. Sebuah solusi yang tidak hanya berbicara pada tataran ideal, tetapi juga mampu membumi dan memberikan manfaat di tengah masyarakat luas, selaras dengan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Wallahu a’lam.[]

*) ASIH SUBAGYO, penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ditulis sambil berbaring karena kondisi kesehatan.

Penugasan Dai Sarjana STIE Hidayatullah dan Tasyakuran Renovasi Masjid Ummul Quraa

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Usia mengikuti Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana ke-XI sehari sebelumnya, sebanyak 27 mahasiswa program beasiswa (boarding) mengikuti kegiatan Penugasan Dai Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah sekaligus dirangkai dengan Tasyakuran Renovasi Pembangunan Masjid Ummul Quraa digelar di Pondok Pesantren Hidayatullah, Depok, Jawa Barat, Senin, 25 Rabiul Akhir 1446 (28/10/2024).

Acara yang dihadiri lebih dari 500 peserta ini menghadirkan nuansa penuh syukur dan semangat kebersamaan, memperlihatkan dedikasi para dai dan komunitas Hidayatullah dalam membangun masyarakat melalui dakwah dan pendidikan sebagai mainstream gerakannya.

Kegiatan ini, yang melibatkan para dai sarjana yang akan ditugaskan, bertujuan mempersiapkan para lulusan STIE Hidayatullah sebagai pemimpin dan penggerak di tengah masyarakat serta tempat kerja. Peresmian kembali Masjid Ummul Quraa setelah renovasi juga merupakan simbol kesyukuran, mempertegas dedikasi Hidayatullah dalam menyediakan sarana ibadah yang layak dan bermakna.

Pemandu acara, Ust. Hafid Bahar, M.M, menyampaikan Masjid Ummul Quraa yang dapat digunakan kembali usai menjalani renovasi 1,5 tahun ini bukan sekadar bangunan fisik, tetapi juga tempat spiritual yang menjadi pusat pembinaan, dakwah, dan pendidikan, yang kini dipersiapkan untuk menjadi wadah bagi lebih banyak aktivitas keagamaan di masa depan.

Semarak dalam Kekhidmatan

Kemeriahan acara dimulai dengan pembacaan tilawah Al-Qur’an oleh murid SD Integral Hidayatullah, dilanjutkan dengan penampilan hadrah oleh murid Sekolah Pemimpin, serta pembacaan kalam Ilahi oleh Ahmad Aufa, siswa kelas VIII.

Setelah sesi pembukaan yang dipandu oleh Ust. Hafid Bahar, M.M., acara berlanjut dengan sambutan dari Ketua Yayasan Hidayatullah Depok, Ust. Lalu Mabrul, M.Pd.I., yang diikuti oleh sambutan dari Ketua Pembina, Ust. Ir. Abu A’la Abdullah. Sambutan-sambutan ini menyoroti pentingnya kerja sama dan sinergi dalam menumbuhkan dakwah yang menyeluruh di seluruh pelosok negeri.

Pada momen istimewa, SK Penugasan Dai dibacakan oleh Ketua Departemen SDI DPP Hidayatullah, Ust. Muhammad Arfan AU, diiringi dengan pengalungan sorban oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, bersama KH. Hamim Thohari, serta tokoh sesepuh Hidayatullah, Haji Tahtit Eko Budi Susilo.

Pengalungan sorban ini mengandung simbol pemberangkatan para dai untuk menjalankan amanah dakwah dengan keikhlasan dan kesungguhan.

Dalam sesi sambutannya menyapa dai sarjana dan hadirin, Haji Tahtit Eko Budi Susilo menyampaikan pesan penting yang mengingatkan para dai akan tantangan dakwah di era modern. Dia menegaskan bahwa perjuangan dakwah telah berkembang dari waktu ke waktu.

“Kita sudah mengalami semua seperti adik-adik yang dulu dikatakan beda dengan sekarang. Kalau dulu merintisnya merintih, merintihnya merintis, kalau sekarang sudah ada semua, Insya Allah beda,” katanya.

Haji Susilo menekankan pentingnya keikhlasan dan kemampuan dalam menjalankan amanah yang telah dipercayakan kepada para dai, serta keyakinan bahwa segala sesuatunya akan berjalan sesuai dengan kehendak Allah SWT jika dilakukan dengan penuh ketulusan.

Sementara itu, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, dalam taushiyahnya juga menekankan pada nilai militansi dan keberanian dalam menghadapi tantangan dakwah. Ia menggarisbawahi pentingnya memperkuat kapabilitas melalui pengalaman dan kaderisasi yang mendalam di lingkungan Hidayatullah.

“Maka antum di umur seperti ini benar-benar kesempatan untuk meningkatkan kapabilitas. Dan saya sempat sampaikan kepada adik-adik di sini, antum boleh saja menimba ilmu di berbagai perguruan tinggi, tapi untuk mendapatkan gemblengan perkaderan yang membangun militansi, inovasi, dan keberanian, ya tempatnya di Hidayatullah,” ungkapnya.

Nashirul juga mengibaratkan proses kaderisasi ini dengan proses penempaan emas, “Emas itu semakin tempaannya kuat (maka) semakin bagus kualitasnya, begitu juga perkaderan,” imbuhnya.

Beliau juga menambahkan bahwa kekuatan dakwah Hidayatullah tak lepas dari doktrin keyakinan dan ketaatan kepada Allah SWT yang memungkinkan dakwah untuk hadir di 425 titik di seluruh Indonesia. Dia pun berharap agar para dai baru terus menjaga integritas dan komitmen dalam menyebarkan nilai-nilai Islam ke penjuru negeri.

Pada akhir acara, penghargaan khusus diberikan kepada individu-individu yang telah berkontribusi dalam pembangunan, perkembangan dakwah, dan pendidikan umat. Cinderamata sebagai simbol penghargaan dan apresiasi diserahkan kepada Haji Tahtit Eko Budi Susilo, Haji Andi Iman Loebis, Haji Amrul Partomuan Pohan, Direktur BMH Supendi, Gus Sulthon, dan arsitek Masyuri Kurniawan.[]

(Laporan dan foto oleh Mercyvano Ihsan, santri kelas IX peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok Angkatan 2024)

Menikmati Berkah Pagi dengan Mindset Baru untuk Hidup Lebih Bermakna

0

ADA pesan orang tua dulu yang masih relevan hingga sekarang dan sampai kapanpun yaitu, “Ayo bangun pagi, biar rezekinya gak dipatok ayam.

Meski anak-anak sekarang terutama yang tinggal di kota-kota besar, mereka bisa berkilah dan menjawab, “Bi, di Jakarta tidak ada ayam, ada rezekinya aman tidak akan dipatok ayam.” Padahal pesan dengan menyebut ayam itu hanya sebagai kiasan atau sindiran saja.

Pesan orang tua dulu itu luar biasa dan sangat filosofis. Bangun pagi adalah pangkal kebaikan, menjadi awal kemenangan dan membuka pintu keberkahan sebagaimana yang didoakan oleh Rasulullah. Mengajak atau menyuruh bangun pagi karena banyak kebaikan di sana, sekaligus menghindarkan hal-hal yang tidak baik jika bangun tidur kesiangan.

Tentang rezeki yang dipatok ayam, sebenarnya hanya majas sindiran saja. Tentu rezeki manusia dan ayam berbeda. Pepatah bijak ini sebagai tamsil bahwa ayam adalah salah satu hewan yang sangat disiplin bangun pagi.

Ayam apa saja dan di mana saja, salah satu karakter terbaiknya adalah disiplin bangun pagi dengan suara kokok yang keras. Mereka saling bersahut-sahutan satu dengan yang lain. Suara kokoknya di pagi hari yang buta dan sunyi menambah nyaring suaranya.

Bahkan sebagian ayam jantan sudah bangun sejak sebelum shubuh. Seolah ayam-ayam itu membangunkan dan mengingatkan manusia-manusia di sekitarnya untuk segera bangun shalat lail dan shalat Shubuh menghadap kepada Allah Sang Maha Pencipta.

Manusia yang berakal tentu tidak boleh kalah dengan ayam yang tidak berakal untuk bisa bangun tidur lebih pagi. Padahal ayam memang tidak memakai alarm hp atau jam, tapi menggunakan alarm insting alam.

Bangun pagi adalah satu kebiasaan baik yang cukup sulit dilakukan untuk menjadi sebuah rutinitas sebagian orang. Kadang-kadang, meskipun sudah mengetahui manfaatnya, tapi masih sulit untuk bangun pagi. Seolah bangun pagi itu kurang menarik, tidak keren, dan tidak strategis, atau kurang menguntungkan. Mereka berpikir lebih baik tidur lagi untuk menyiapkan energi siang hari.

Kehidupan modern terkadang identik dengan kehidupan malam. Seolah semakin bisa melek atau begadang malam maka semakin keren. Bahkan ada pola kerja di beberapa kantor, minimarket, toko, atau perusahaan dengan shift malam karena sistem kerja 24 jam.

Begadang malam menjadi budaya diminati dan diikuti oleh banyak komunitas. Dari budaya nongkrong di kafe-kafe, mancing mania di spot sungai atau laut hingga tengah malam, olah raga dari badminton, futsal, bilyar juga desainnya  malam hari yang ramai. Pesta-pesta juga banyak dilakukan hingga tengah malam.

Ada yang begadang malam atau aktivitas hingga tengah malam, besar kemungkinan bangun kesiangan dan lebih nyaman memilih pagi untuk membayar tidur malamnya yang kurang.  Ada juga orang yang sulit bangun pagi bukan karena begadang tapi karena malas dan sudah terbiasa bangun siang.

Mereka mungkin belum membaca, memahami, atau mengalami efek atau dampak dari kebiasaan begadang malam dan tidur pagi yang tidak sederhana. Baik dari segi kesehatan jangka panjang maupun dalam tinjauan psikologis. Secara normatif menyalahi hukum alam yang Allah menegaskan bahwa malam adalah waktu untuk istirahat atau tidur.

Padahal, Subhanallah, luar biasa manfaat dari bangun pagi. Keberkahan waktu pagi sangat melimpah karena banyak amalan-amalan wajib dan sunnah yang diperintahkan Allah dan Rasulullah pada pagi hari. Jika tidur pagi atau bangun kesiangan maka otomatis terlewatkan, hilang keberkahan dan rezekinya betul-betul dipatok ayam.

Oleh sebab itu, perlu membangun mindset untuk bisa bangun pagi dan meraih keberkahannya pagi yang didoakan oleh Rasulullah.

 اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا

Artinya: “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya

Maindset pertama, harus yakin dan bersemangat untuk menjadi bagian umat Rasulullah yang didoakan mendapatkan keberkahan di pagi hari. Ketika bersyahadat dengan mempersaksikan bahwa Muhammad ada utusan Allah (Rasulullah) maka konskwensinya harus yakin dengan segala yang beliau sampaikan dan menjadikan beliau sebagai teladan yang baik. Terpanggil dan semangat untuk bisa mengikuti tuntunannya, salah satunya mendapatkan keberkahan pagi dengan bangun lebih pagi.

Mindset kedua, bahwa rumus kebaikan yang pasti adalah bahwa setiap perintah Allah dan Rasulullah niscaya banyak mengandung hikmah, kebaikan dan keberkahan. Serta menghindarkan dari keburukan, kecelakaan dan kejelekan. Dalam konteks pagi hari, jika tidak bangun pagi maka tidak mendapatkan keberkahan yang didoakan oleh Rasulullah.

Maindset ketiga, niat dari beramal harus ikhlas karena Allah swt. Niat ini sangat penting sebagai pondasi dari setiap amal ibadah dan amal sholeh. Logikanya, ketika meyakini keberkahan itu dari Allah maka harapan dan orientasi hanya kepada Allah. Bukan karena ingin mendapatkan pujian, apresiasi, sanjungan, penghargaan dari selain Allah. Ataupun berharap dari manfaat dari amal ibadah atau amal sholeh yang telah dilakukan di pagi hari.

Maindset keempat, bahwa keberkahan pagi hari itu tidak automatik diberikan tapi harus melalui menyakini,  kesungguhan atau mujahadah dan munajat yang konsisten. Bukan setengah-setengah, asal-asalan atau sekedarnya saja. Salah satu bentuk kesungguhannya adalah dengan membekali  ilmu. Tujuannya untuk memudahkan tehnis dari melaksanakan amal-ibadah dan amal sholeh yang mengundang keberkahan di pagi hari. Ilmu juga mencegah dari berbagai bentuk penyimpangan atau amalan yang tidak sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan Hadist. 

Maindset kelima, awal dengan kebaikan menjadi spirit untuk melangkah dan mengakhiri dengan kebaikan. Ketika pagi hari sebagai awal kehidupan bisa mengisi dengan banyak kebaikan amal ibadah dan amal sholeh, maka peluang besar untuk meraih banyak kebaikan siang, sore, dan malam hari atau sepanjang hari.

Kunci kemenangan pertama adalah dengan meraih keberkahan di pagi hari dengan menjalankan amalan-amalan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Membangun Peradaban Islam Melalui Penguatan Identitas, Refleksi dari DMW Hidayatullah DIY-Jatengbagsel

0

DAKWAH dan pembinaan kader merupakan arus utama dalam gerakan Hidayatullah. Sesuai dengan penekanan yang diutarakan oleh Ust. Muhammad Shaleh Utsman, Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, bahwa “Perkaderan itu termasuk arus utama dalam lembaga Hidayatullah, maka harus serius dalam mengurusnya.”

Hal ini menegaskan pentingnya kesinambungan dalam proses perkaderan melalui tahapan-tahapan yang telah dirancang khusus untuk membentuk kader yang tangguh, berintegritas, dan berkomitmen pada nilai-nilai Islam.

Sebagai realisasi dari visi tersebut, DPW Hidayatullah DIY-Jateng Bagian Selatan baru-baru ini mengadakan kegiatan Daurah Marhalah Wustha dengan tema “Transformasi Jati Diri Hidayatullah Menuju Terwujudnya Peradaban Islam.”

Kegiatan ini diadakan di Menara Qur’an Hidayatullah Karanganyar dan diikuti oleh para kader dari berbagai wilayah di DIY-Jateng Bagian Selatan, yang berlangsung selama 4 hari, 21-24 Rabiul Akhir 1446 (24-27/10/2024). Bimbingan langsung dari Dewan Murabbi Pusat dan Kadep Perkaderan DPP Hidayatullah menambah kedalaman dan keseriusan dalam kegiatan ini.

Salah satu nilai inti yang diharapkan dapat melekat pada setiap kader adalah konsep wasathiyah, yang berarti keseimbangan. Salah satu narasumber Dr. H. Tasyrif Amin, Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah, menekankan pentingnya konsep ini.

“Tidak lembek dan tidak berlebihan, berupaya menjadi penengah di antara kaum muslimin itulah di antara sikap wasathiyah Hidayatullah,” katanya, seraya mengimbuhkan nilai ini diharapkan menjadi karakter dasar setiap kader dalam menjalankan misi dakwah mereka di tengah masyarakat.

Kegiatan ini juga memfasilitasi pengembangan kualitas kader secara formal dan informal. Ketua DPW Hidayatullah DIY-Jateng Bagian Selatan, Ust. H. Abdullah Munir, mengajak kader untuk senantiasa meningkatkan kualitas mereka. Ia menegaskan, “Daurah ini bersifat formal, dengan kegiatan ini meningkatlah derajat kader secara formal, maka imbangilah dengan kualitas kader yang meningkat pula.”

Tidak hanya diisi dengan materi, daurah ini juga melibatkan kegiatan diskusi, presentasi, dan pembuatan makalah secara berkelompok, yang memacu semangat belajar dan membangun kebersamaan di antara peserta.

Meski dalam suasana yang kadang diselingi oleh suara hiburan alunan musik dangdut dari lingkungan sekitar, semangat peserta pelatihan tetap membahana.

Salah satu peserta bahkan setengah berseloroh mengajukan pertanyaan menarik dalam diskusi, “Bagaimana mengimplementasikan Jati Diri Hidayatullah saat mendengar tetangga dangdutan?” Dijawab dengan tenang oleh peserta yang lain, “Yang penting kita nggak ikut dangdutan.”

Diskusi berlanjut dengan perumusan strategi dakwah di tengah masyarakat yang berlandaskan pada nilai-nilai Sistematika Wahyu, yaitu penguatan tauhid, dakwah dengan akhlak mulia, penguatan diri melalui tazkiyatun nafs, ikhlas karena Allah, dan dakwah yang terstruktur.*/Herim

STIE Hidayatullah Gelar Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Angkatan ke-XI

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-XI di Aula Sekolah Pemimpin Pondok Pesantren Hidayatullah, Kalimulya, Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, Ahad, 24 Rabi’ul Akhir 1446 (27/10/2024).

Dengan dihadiri oleh 75 wisudawan/wati beserta keluarga dan kerabat, acara dimulai dengan prosesi yang khidmat. Para wisudawan memasuki ruangan, diikuti oleh struktur akademik, dan kemudian anggota senat, yang memberikan kesan sakral dan penuh kebanggaan.

Ayat suci Al-Qur’an dari surat Ar-Rahman (1-31) di awal acara yang dibacakan oleh Muhammad Muzammil Hikam, semakin menambah suasana kesyahduan pada momen tersebut.

Tema wisuda, “Peran Sarjana Penggerak Pembangunan dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045,” menggarisbawahi peran penting sarjana dalam pembangunan bangsa.

Sambutan Ketua STIE Hidayatullah, Muhammad Saddam, SE, M.Ak., menekankan integrasi kurikulum berbasis wahyu dan aqidah dengan kurikulum Kemendikbud di kampus yang memiliki tagline “Mencetak Kader Leader” yang ia pimpin ini.

“Kelebihan STIE Hidayatullah Depok adalah dapat mengintegrasi kurikulum berbasis sistematika wahyu dan aqidah dengan kurikulum Kemendikbud,” ungkap Saddam.

Acara ini, terang dia, bukan hanya sekadar penghargaan atas pencapaian akademik para lulusan tetapi juga merupakan momen penting dalam memberikan motivasi dan arahan moral bagi mereka yang siap memasuki dunia kerja dan masyarakat.

Ia menegaskan acara wisuda ini bukan sekadar formalitas akademik semata, tetapi merupakan momentum yang sarat dengan makna. Seperti disampaikan dalam tema sidang senat berkenaan degan peran sarjana sebagai penggerak pembangunan dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, Saddam menekankan harapan besar diletakkan di pundak para lulusan STIE Hidayatullah Depok untuk menjadi agen perubahan.

Saddam menambahkan, mereka diharapkan mampu berperan dalam membangun masyarakat, tidak hanya secara ekonomi tetapi juga moral dan spiritual, untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, Ust. Lalu Mabrul, M.Pd.I., turut memberi sambutan. Dia mengingatkan para lulusan bahwa wisuda bukanlah akhir dari pendidikan, melainkan awal dari pengabdian mereka yang sebenarnya kepada masyarakat.

“Proses wisuda ini bukanlah akhir dari proses pendidikan, tapi wisuda adalah langkah awal dan gerbang yang sangat luas dan lebar untuk mempelajari makna kehidupan yang riil dan kompleks,” ujarnya.

Mabrul menambahkan bahwa ilmu yang telah diperoleh harus diuji dan diimplementasikan demi manfaat bagi masyarakat, yang memperkuat nilai-nilai luhur dan amanah yang kini diemban para lulusan.

Di hadapan para wisudawan, ustadz asal Lombok ini menekankan pentingnya menghargai peran orang tua, dosen, dan seluruh pihak yang mendukung perjalanan para lulusan.

“Keberhasilan Anda dalam menyelesaikan pendidikan sarjana saat ini adalah peran orang tua yang senantiasa berkorban dan mendoakan,” katanya.

Dia mengingatkan para lulusan untuk selalu mengucapkan terima kasih dan berdoa bagi kebaikan orang tua, para dosen, dan siapa pun yang telah mendukung mereka selama menempuh pendidikan.

Pengukuhan Gelar Predikat Sarjana

Selanjutnya, acara berlanjut dengan pengukuhan SK yang dibacakan oleh Wakil Ketua 1 STIE Hidayatullah Depok, Ridwan Fahrozi, SE, M.M, yang memberikan keabsahan akademik bagi setiap lulusan.

Prosesi pelantikan ini memperkuat identitas mereka sebagai sarjana akuntansi dan manajemen, yang siap berperan dalam masyarakat. Penghargaan kepada wisudawan terbaik, yaitu Muhammad Zuhri Fadlullah, S.M. dan Widayati, S.M., menjadi penanda atas usaha dan prestasi yang mereka capai selama masa studi.

Dalam kesan dan pesan yang disampaikan oleh Muhammad Zuhri Fadlullah, dia menyampaikan semangat dan optimisme para lulusan untuk bersaing dengan lulusan lain di tingkat nasional.

“Hari ini bukanlah akhir dari perjuangan kita, hari ini bukanlah akhir dari mimpi kita, hari ini adalah awal dari perjuangan amanah dan tugas yang telah menanti kepada kita,” ungkapnya. Zuhri yakin bahwa mereka yang lulus dari STIE Hidayatullah telah ditempa dan dibentuk menjadi sarjana yang unggul dan siap menyongsong masa depan.

Orasi Ilmiah Ingatkan Tantangan Hari ini

Orasi ilmiah dari Ketua Departemen Sumber Daya Insani (SDI) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah), Dr. Muhammad Arfan AU, M.Si, memberi arahan strategis bagi lulusan untuk meneguhkan penerapan ekonomi syariah di atas dominasi praktik ekonomi konvensional yang berkembang pesat di Indonesia.

“Tantangan kita hari ini adalah ekonomi syariat berkembang namun ekonomi konvensional terus eksis dan berkembang. Di sinilah peran para alumni STIE untuk mengintegrasikan ekonomi syariat dengan ekonomi konvensional,” tegas Arfan.

Arfan juga menekankan bahwa salah satu tantangan utama adalah kurangnya pemahaman masyarakat terhadap ekonomi syariah, yang menuntut para alumni untuk mengedukasi masyarakat agar semakin mudah memahami konsep-konsep syariah dalam aktititas ekonomi.

Dalam pernyataan reflektif lainnya, Arfan mengingatkan para lulusan bahwa perubahan global menuntut mereka untuk terus belajar dan meningkatkan ilmu agar tidak terjebak dalam ekonomi kapitalisme. “Orang yang mengikuti globalisasi namun tidak disertai dengan ilmu Islam, sangat mungkin terjadi ia akan terjebak dengan Ekonomi Kapitalisme,” tambahnya.

Acara yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ust. Hafid Bahar, M.M., yang menjadi simbol syukur dan pengharapan agar seluruh lulusan diberi kemudahan dan keberkahan dalam meniti masa depan.

Doa ini menjadi akhir yang menenangkan, membangun optimisme, dan memperkuat tekad para lulusan untuk menjalani setiap fase kehidupan dengan penuh tanggung jawab.[]

(Laporan dan foto oleh Mercyvano Ihsan, santri kelas IX peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok Angkatan 2024)

Kolaborasi Pelibatan Generasi Muda dalam Pelestarian Lingkungan sebagai Amanah Ibadah

0

DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) — Pesantren Darul Hijrah, yang berlokasi di Desa Tanjung Mulia, Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, meneguhkan peran untuk menjadi pusat percontohan dalam melestarikan lingkungan melalui kegiatan penghijauan atas inisiasi Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Sumatera Utara bekerjasama dengan pesantren ini.

Kegiatan penanaman pohon yang dilaksanakan pada Ahad, 24 Rabiul Akhir 1446 (27/10/2024) ini sebagai upaya pemulihan lingkungan yang mengusung misi pendidikan ekologi yang terintegrasi dengan nilai-nilai agama.

Dengan tema “Bersama Santri, Hijaukan Bumi, Wujudkan Masa Depan,” kegiatan ini mendorong para santri untuk terlibat secara aktif dalam upaya pelestarian lingkungan, sekaligus memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat setempat.

Aksi ini menyediakan puluhan bibit pohon yang beragam, seperti pinang dan mangga, yang ditanam di sekitar area pesantren. Kepala BMH Sumatera Utara, Lukman, mengatakan program ini tidak hanya sebatas penghijauan tetapi juga diharapkan dapat membekali para santri dengan kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan alam sebagai bagian integral dari pengabdian spiritual mereka.

Lukman menekankan pentingnya peran santri sebagai generasi penerus yang memegang tanggung jawab besar terhadap lingkungan.

“Santri adalah generasi penerus yang memiliki peran tanggung jawab besar terhadap lingkungan. Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan kesadaran bahwa menghijaukan bumi dan merawat lingkungan adalah bagian dari ibadah,” katanya.

Lebih lanjut, Lukman juga menekankan bahwa nilai-nilai agama yang diemban santri memiliki relevansi kuat dalam konteks ekologi, terutama konsep khalifah fil ardh atau wakil Allah di bumi.

Konsep ini, jelas Lukman, menekankan tanggung jawab manusia dalam menjaga alam sebagai bentuk ibadah, yang berimplikasi pada kesadaran ekologi berkelanjutan.

Dengan terlibat dalam kegiatan penghijauan ini, para santri diharapkan mampu memahami bahwa peran mereka dalam pelestarian lingkungan memiliki dimensi spiritual dan sosial.

Lebih jauh dia menjelaskan, pendidikan lingkungan yang berkelanjutan di pesantren menciptakan peluang bagi santri untuk menjadi pelopor dalam gerakan pelestarian lingkungan, terutama di kawasan pedesaan yang bergantung pada kelestarian alam.

“Santri memiliki peran strategis dalam upaya menghijaukan bumi karena mereka mengemban nilai-nilai agama yang mendorong kepedulian lingkungan,” jelas Lukman.

Melalui konsep yang mengintegrasikan pemahaman agama dan ekologis, dia menambahkan, santri dapat melaksanakan misi pelestarian lingkungan sebagai amanah yang bersifat spiritual sekaligus tanggung jawab sosial.

Pimpinan Pesantren Darul Hijrah, Ustadz Pathunnur, mengapresiasi kegiatan kolaboratif ini dan menyatakan bahwa aksi ini memberikan kontribusi nyata bagi masa depan, terutama dalam memberikan keteduhan bagi lingkungan belajar santri di pesantren.

“Kami berterimakasih, karena kegiatan ini tidak hanya membawa manfaat bagi pesantren, tetapi juga memberikan pemahaman kepada santri bahwa setiap pohon yang ditanam merupakan kontribusi nyata untuk masa depan,” kata Ustadz Pathunnur.

Selain menanam pohon produktif seperti pinang dan mangga, kegiatan ini juga melibatkan penanaman tanaman bumbu seperti lengkuas, serai, pandan, dan tanaman lain yang dapat menunjang kebutuhan sehari-hari pesantren.

Di akhir kegiatan, santri dan masyarakat berkumpul dalam suasana kebersamaan untuk makan siang, serta berdoa agar pohon-pohon yang ditanam dapat tumbuh subur dan bermanfaat bagi alam sekitar.

Dengan harapan bahwa upaya ini akan menjadikan santri sebagai agen perubahan dalam gerakan pelestarian lingkungan di komunitas mereka, Pathunnur berharap, kegiatan ini menegaskan bahwa pendidikan agama yang menyatu dengan nilai-nilai ekologis memiliki potensi besar dalam mengarahkan generasi muda untuk menjaga bumi dengan penuh tanggung jawab.*/Herim

Dampak Sosial dan Pendidikan dari Proyek Pipanisasi Air Bersih di Pesantren Darul Hijrah

0

GRESIK (Hidayatullah.or.id) — Ditengah dinamika kehidupan Pesantren Darul Hijrah di Bukit Kukusan, Panceng, Gresik, hadir kisah perjuangan yang tak biasa, yakni usaha memperoleh air bersih untuk menunjang kebutuhan sehari-hari.

Para santri harus membeli air, meski itu hanya untuk keperluan mendasar seperti berwudhu, mandi, dan minum. Namun, kondisi ini akhirnya menemukan titik terang dengan hadirnya inisiatif pipanisasi dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), yang didukung oleh para donatur dermawan.

Kini, proyek pipanisasi sepanjang 1,1 kilometer tersebut telah berfungsi, memungkinkan air bersih mengalir langsung ke pesantren. Proyek ini tidak hanya meringankan beban ekonomi para santri tetapi juga memberi mereka kesempatan belajar dan beribadah dengan lebih nyaman.

Rohmat, salah seorang santri, dengan rasa syukur mengungkapkan, “Alhamdulillah, terima kasih kakak-kakak dari BMH. Insya Allah, dengan bantuan ini, kami tak perlu lagi merasa khawatir akan kebutuhan air bersih di pesantren.”

Imam Muslim, selaku Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Timur, menjelaskan bahwa proyek ini lebih dari sekadar program penyediaan air bersih.

“Ratusan santri kini dapat menjalankan ibadah dan proses belajar-mengajar tanpa terkendala kebutuhan air bersih,” ujarnya, menekankan bahwa program ini juga mengurangi beban ekonomi pesantren yang sebelumnya mengalokasikan dana untuk membeli air.

Secara umum, proyek pipanisasi ini memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan, ekonomi, dan kualitas pendidikan para santri. Dengan akses langsung ke air bersih, risiko penyakit dapat ditekan, biaya operasional yang sebelumnya digunakan untuk pembelian air dapat dialihkan, serta suasana belajar menjadi lebih kondusif, sehingga para santri dapat lebih fokus menimba ilmu tanpa khawatir akan kebutuhan dasar mereka.

Inisiatif pipanisasi di Pesantren Darul Hijrah ini menunjukkan bagaimana dukungan infrastruktur dasar yang memadai berperan besar dalam membangun generasi masa depan yang lebih kuat, mandiri, dan berwawasan.

Diharapkan dengan adanya pipanisasi, pesantren bukan hanya dapat memenuhi kebutuhan harian para santri, tetapi juga dapat menciptakan lingkungan yang mendukung proses pendidikan mereka secara menyeluruh.*/Herim

Perjuangan Ali Imron Ditengah Keterbatasan Membangun Masa Depan Generasi Qur’ani

0

DUA tahun silam, tepatnya 24 Februari 2022, Ustaz Ali Imron memulai misinya membangun Rumah Qur’an Raudhatul Jannah di Palu, Sulawesi Tengah.

Berbekal bahan bangunan sisa tsunami yang disedekahkan oleh Hj. Kamsida, ia memanfaatkan kayu-kayu tersebut untuk membangun tempat mengaji, menghafal Al-Qur’an, dan tempat tinggal bagi dirinya, istri, dan empat anaknya yang masih kecil.

Setiap sore, Ustaz Imron meluangkan waktu untuk bekerja di lokasi pembangunan Rumah Qur’an, meski dengan alat seadanya.

Sedikit demi sedikit, bangunan kayu mulai terbentuk. Namun, di bulan Ramadhan, ia sempat menghentikan pembangunan karena sibuk mengelola zakat, infak, dan sedekah umat bersama BMH.

Usai Ramadhan, tepatnya pada 9 Syawal, Ustaz Imron kembali ke lokasi dengan semangat, namun ia tercengang melihat bangunan yang sudah berdiri roboh. Kayu-kayunya banyak yang patah, membuatnya harus membangun ulang dari awal.

Meski sempat kecewa, Ustaz Imron tidak patah semangat. Ia memulai kembali pembangunan secara bertahap, memastikan struktur bangunan lebih kokoh agar tidak roboh lagi.

Pada Oktober 2022, bangunan utama Rumah Qur’an akhirnya berdiri, hanya tinggal memasang pintu dan jendela. Tanggal 3 Desember 2022, Rumah Qur’an Raudhatul Jannah selesai sepenuhnya.

Pada 19 Desember 2022, Ustaz Imron bersama keluarganya mulai pindah ke rumah baru ini, membawa barang-barang pribadi serta perabotan untuk ditata.

Pada 20 Desember, ia mengajak istri dan anak-anaknya menuju Rumah Qur’an dengan penuh kebahagiaan.

Kemudian di bulan Januari 2023, anak-anak dari TK hingga SMP mulai berdatangan untuk belajar mengaji. Hingga Ramadan 2023, Rumah Qur’an Raudhatul Jannah sudah memiliki 43 santri yang aktif belajar Al-Qur’an.

Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Lasamuri, Kepala BMH Perwakilan Sulawesi Tengah, menyatakan bahwa semangat Ustaz Imron dan dukungan umat melalui zakat, infak, dan sedekah menjadi kekuatan utama dalam terwujudnya Rumah Qur’an Raudhatul Jannah.

“Dukungan umat melalui BMH terus berperan dalam membangun fasilitas pendidikan agama bagi generasi muda, demi masa depan yang lebih baik dan berkah bagi masyarakat di Palu dan sekitarnya,” tutur Lasamuri.*/Herim