Beranda blog Halaman 143

Sinergi Multi-Lembaga dalam Pemberdayaan Berkelanjutan Melalui Program Kampung Zakat

0

KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) bekerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag), Baznas, dan berbagai Lembaga Amil Zakat (LAZ) di Sulawesi Tenggara meresmikan Program Kampung Zakat di Kelurahan Abeli Dalam, Kecamatan Puuwatu, Kota Kendari, Ahad, 1 Jumadil Awal 1446 (3/11/2024).

Program ini diinisiasi sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan zakat yang berkelanjutan dan terstruktur.

Dalam acara tersebut, hadir sejumlah tokoh, termasuk Asisten I Setda Kota Kendari, Ketua Baznas Provinsi dan Kota Kendari, Pejabat Kanwil Kementerian Agama, serta pengurus lembaga amil zakat dan tokoh masyarakat lainnya.

Kepala Kanwil Kemenag Sultra, H. Muhamad Saleh, mengapresiasi kolaborasi antar-lembaga yang berhasil menjalankan program ini.

“Program Kampung Zakat ini menunjukkan komitmen bersama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sultra,” kata Saleh.

Saleh menyebutkan, ini adalah Kampung Zakat ketiga di provinsi ini, setelah Desa Puubunga (Kolaka) dan Desa Lapolea (Muna Barat).

“Target ke depannya adalah setiap kabupaten/kota di Sultra memiliki satu Kampung Zakat sebagai pilot project,” katanya menambahkan.

Selain itu, Prof. Dr. Waryono AG, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Ditjen Bimas Islam Kemenag RI, menekankan tanggung jawab sosial program ini dalam pengentasan kemiskinan.

“Karena basis program ini adalah zakat, kita memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk memastikan warga mendapatkan kecukupan pangan, gizi, dan kebutuhan dasar lainnya,” ujarnya.

Kepala Perwakilan BMH Sulawesi Tenggara, Armin, juga menyatakan optimismenya terkait dampak positif dari partisipasi BMH dalam program ini.

“BMH siap berkontribusi lebih besar dalam pemberdayaan dan pendampingan masyarakat di Kampung Zakat ini agar manfaat zakat dapat dirasakan secara lebih luas,” ungkapnya.

Program Kampung Zakat di Sulawesi Tenggara ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam upaya memberdayakan masyarakat secara berkelanjutan, menurunkan angka kemiskinan, serta meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan warga.*/Herim

Menguatkan Pembelajaran Bahasa Arab dengan Bi’ah Lughawiyah di Pesantren Hidayatullah

0

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Bahasa Arab bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga bahasa suci Al-Quran dan As-Sunnah yang menjadi landasan ilmu agama Islam. Dengan menekankan pentingnya bahasa Arab, Departemen Kepesantrenan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, K.H. Muhammad Syakir Syafi’i, menyampaikan bahwa bahasa ini menjadi bahasa yang penting bagi umat Islam dalam membangun peradaban dengan ilmu dan amal salih.

“Di lingkungan pesantren, kemampuan berbahasa Arab yang baik menjadi daya tarik bagi syiar dan juga faktor kunci dalam meningkatkan kualitas pendidikan serta pengkaderan santri,” kata Syakir Syafi’i, seperti dalam keterangannya kepada media ini, Senin, 2 Jumadil Awal 1446 (4/11/2024).

Sebagai langkah konkret untuk mencapai tujuan ini, Departemen Kepesantrenan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah mengadakan “Workshop dan Pilot Project Nasional Pembentukan Bi’ah Lughawiyah” pada tanggal 28-31 Oktober 2024, bertempat di Ma’had Hidayatullah Kota Batu, Jawa Timur.

Tujuan utama dari kegiatan ini adalah membentuk lingkungan berbahasa Arab di Pondok Pesantren Hidayatullah yang kondusif dan mendukung pembelajaran bahasa Arab. Selain itu, terangnya, workshop ini bertujuan meningkatkan kompetensi para pengajar dan pengelola pesantren dalam mengelola program pembelajaran bahasa Arab.

“Program ini juga diharapkan dapat membangun budaya berbahasa Arab di kalangan santri, yang akan mendukung penguasaan literatur Islam serta peningkatan mutu pendidikan pesantren secara umum. Kegiatan ini juga akan menjadi wadah bagi para peserta untuk menyusun panduan dan program berkelanjutan dalam menciptakan lingkungan berbahasa Arab yang efektif,” imbuhnya.

Sebagai bagian dari program strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Arab, Departemen Kepesantrenan Hidayatullah melihat urgensi membentuk lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran bahasa ini.

Menurut K.H. Muhammad Syakir Syafi’i, kegiatan ini merupakan lanjutan dari program webinar Strategi Pembentukan Bi’ah Lughawiyah yang telah diadakan sebelumnya.

Sebagai langkah awal, program ini merekomendasikan pilot project di tiga lokasi pada tahun 2024, yakni di SMH Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan, MA Luqman Al Hakim Kampus Utama Hidayatullah Samarinda, dan MA Integral Kampus Madya Hidayatullah Manokwari.

Syakir menyebutkan, tahun 2025 nanti, implementasi akan diperluas ke delapan daerah lainnya, yaitu di SMA Luqman Al Hakim Kampus Utama Hidayatullah Surabaya, SMA Al Bayan Kampus Utama Hidayatullah Makassar, SMA Hidayatullah Kampus Madya Hidayatullah Yogyakarta, MA Ulul Al Baab Kampus Madya Hidayatullah Ternate, Ma’had Tahfizhul Quran Ahlus Shuffah Balikpapan, SMA IIBS Arrohmah Putri 2 Malang, SMH Putri Kampus Madya Hidayatullah Tulungagung, dan MTs Hidayatullah Putri Kampus Madya Hidayatullah Muntilan.

Dengan tambahan tiga pesantren yang telah distandardisasi sebelumnya, total terdapat sebelas pesantren yang berkomitmen penuh untuk menciptakan lingkungan berbahasa Arab yang efektif.

Dukungan dan Implementasi Program

Sebelas pesantren yang terpilih akan mendapatkan dukungan intensif dari Departemen Kepesantrenan Hidayatullah, terutama dalam bentuk pembinaan dan penugasan sumber daya insani (SDI) yang kompeten, khususnya guru bahasa Arab.

“Kesebelas pesantren yang menjadi pilot project tersebut akan diberikan suppor, di antaranya dalam bentuk pembinaan intensif dan prioritas penugasan SDI guru bahasa Arab yang berkompeten,” kata Syakir. Dengan adanya dukungan ini, dia mengharapkan para pengajar dan pengelola pesantren mampu mengimplementasikan program-program pembelajaran bahasa Arab dengan lebih optimal.

Workshop ini juga dirancang untuk menyediakan panduan dan program berkelanjutan dalam membangun Bi’ah Lughawiyah yang kondusif di pesantren. Para peserta, termasuk para pengajar, pengelola, dan mahasiswa tingkat akhir dari Ma’had Aly Hidayatullah Kota Batu, akan dibekali dengan metode dan strategi yang telah dirancang secara khusus.

Sesuai dengan kebijakan organisasi, Hidayatullah mengharapkan bahwa semua pesantren di bawah naungannya membangun keunggulan dalam pembelajaran bahasa Arab berbasis Bi’ah Lughawiyah. Melalui kegiatan ini, pesantren Hidayatullah berkomitmen menciptakan standar pembelajaran bahasa Arab yang lebih tinggi, di mana santri tidak hanya mampu membaca dan menulis dalam bahasa Arab, tetapi juga terampil dalam berkomunikasi sehari-hari.

“Semoga di tahun anggaran 2025, jumlah pesantren yang distandardisasi semakin bertambah jumlahnya secara signifikan, biidznillahi Ta’ala,” harap K.H. Syafi’i.

Peningkatan jumlah pesantren yang menerapkan standar Bi’ah Lughawiyah diharapkan membawa perubahan signifikan dalam sistem pendidikan pesantren. Dengan santri yang terbiasa menggunakan bahasa Arab dalam komunikasi sehari-hari, diharapkan kompetensi mereka dalam bahasa ini akan meningkat secara substansial.

Selain itu, terang Syakir, Bi’ah Lughawiyah akan membantu membangun budaya berbahasa Arab yang kuat di kalangan santri, yang pada akhirnya akan mendukung penguasaan literatur Islam.

Workshop ini menghadirkan sejumlah narasumber dan fasilitator berpengalaman, diantaranya adalah K.H. M. Syakir Syafi’i, Ketua Departemen Kepesantrenan, serta sejumlah pimpinan pesantren dan tim pengajar yang memiliki kompetensi tinggi dalam pengembangan Bi’ah Lughawiyah.

Fasilitator lainnya meliputi Ust. Muhammad Dinul Haq, Ust. Alimin Mukhtar, Ust. Fatchurrahman, Ust. Jundi Iskandar, dan Tim Mahaba. Kehadiran mereka diharapkan mampu memberikan panduan praktis dan wawasan strategis kepada para peserta mengenai cara terbaik untuk membangun Bi’ah Lughawiyah.

Selain narasumber, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa tingkat akhir Ma’had Aly Hidayatullah Kota Batu, yang memiliki kemampuan berbahasa Arab aktif. Total peserta berjumlah 50 orang, di mana sebagian besar sudah memiliki dasar kemampuan bahasa Arab.*/Adam Sukiman

Workshop Pilot Project Bi’ah Lughawiyah Hidayatullah untuk Kuatkan Keunggulan Pesantren se-Nusantara

0

BATU (Hidayatullah.or.id) — Departemen Kepesantrenan Dewan Pengurus Pusat (Deptren DPP) Hidayatullah mengambil langkah strategis melalui program Workshop dan Pilot Project Bi’ah Lughawiyah di Ma’had Hidayatullah Batu pada Senin-Kamis, 25-28 Rabiul Akhir 1446 (28-31/10/2024). Hal ini bentuk pelaksanaan kebijakan organisasi berupa seluruh Pesantren Hidayatullah harus membangun keunggulan, di antaranya pembelajaran bahasa Arab berbasis lingkungan.

Sebanyak 32 peserta utusan dari berbagai Pondok Pesantren Hidayatullah di seluruh Indonesia berkumpul di Kota Batu, Jawa Timur, untuk menerima panduan, pelatihan, dan motivasi dari tim pengajar yang dipimpin oleh K.H. Muhammad Syakir Syafi’i, Ketua Departemen Kepesantrenan DPP Hidayatullah.

Workshop ini diisi oleh tim inti Deptren DPP Ustadz Alimin Mukhtar, Ustadz Muhammad Dinul Haq, Ustadz Fatkhurrohman, Ustadz Syarif Daryono, Ustadz Jundi Iskandar, dan para dosen Ma’had Hidayatullah Batu yang diketuai Ustadz Ahmad Zaky Romadlony.

Dalam sambutan pembukaan, Kadeptren DPP Hidayatullah K.H. Muhammad Syakir Syafi’i menjelaskan bahwa program Biah Lughawiyah bertujuan menciptakan lingkungan berbahasa Arab yang hidup di pesantren-pesantren Hidayatullah, bukan hanya sebagai materi ajar tetapi sebagai budaya dan sarana komunikasi sehari-hari.

“Bahasa Arab adalah ruh yang menghidupkan keilmuan di pesantren. Dengan Bi’ah Lughawiyah, kita ingin bahasa ini menjadi bagian integral dari kehidupan para santri,” ujarnya.

Sebagai langkah awal, program ini merekomendasikan pilot project di tiga lokasi pada tahun 2024, yakni di SMH Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan, MA Luqman Al Hakim Kampus Utama Hidayatullah Samarinda, dan MA Integral Kampus Madya Hidayatullah Manokwari.

Tahun 2025 nanti, implementasi akan diperluas ke delapan daerah lainnya, yaitu SMA Luqman Al Hakim Kampus Utama Hidayatullah Surabaya, SMA Al Bayan Kampus Utama Hidayatullah Makassar, SMA Hidayatullah Kampus Madya Hidayatullah Yogyakarta, MA Ulul Al Baab Kampus Madya Hidayatullah Ternate, Ma’had Tahfizhul Quran Ahlus Shuffah Balikpapan, SMA IIBS Arrohmah Putri 2 Malang, SMH Putri Kampus Madya Hidayatullah Tulungagung, MTs Hidayatullah Putri Kampus Madya Hidayatullah Muntilan.

Program ini bukan sekadar pengajaran teori, pemateri Workshop Ustadz Muhammad Dinul Haq menyampaikan bahwa peserta yang terpilih sebagai pilot project akan mendapat pendampingan dan bimbingan intensif mulai Desember 2024 hingga Mei 2025.

“Kami akan mendampingi perkembangan di setiap lokasi. Harapannya, pada tahun ajaran 2025-2026, lingkungan bahasa Arab di pesantren-pesantren ini sudah hidup dan menjadi bagian dari keseharian santri,” jelasnya.

Suasana penuh semangat tampak di sela-sela workshop, terutama ketika para peserta mengikuti sesi simulasi penerapan Biah Lughawiyah. Beberapa peserta berbagi pengalaman dan tantangan dari pondok masing-masing, sangat antusias menyambut gagasan solusi lingkungan bahasa Arab yang akan diterapkan di pesantren mereka.

Suasana workshop menjadi lebih segar dan menarik dengan Ice Breaking yang dibawakan oleh Kak Syarif Daryono, Ketua Pusat Satuan Komunitas Pramuka (Sako) Hidayatullah.

Program Bi’ah Lughawiyah ini diharapkan menjadi model bagi pembelajaran bahasa Arab yang efektif dan mendalam. Dengan terwujudnya lingkungan yang mendukung praktik bahasa Arab secara langsung, Pesantren Hidayatullah berupaya menjadikan bahasa ini lebih dari sekadar pelajaran, tetapi sebagai budaya hidup di setiap pesantren di bawah naungan Hidayatullah. (ybh/hidayatullah.or.id)

Mendesain Manajemen Perubahan Organisasi Islam: Mewujudkan Relevansi dan Ketangguhan

0

PERUBAHAN adalah satu-satunya yang kekal di dunia, sehingga perubahan adalah sebuah keniscayaan; ia mengalir sebagaimana hukum kekekalan energi, tak pernah musnah dan hanya berganti bentuk. Dalam konteks organisasi Islam, perubahan adalah keniscayaan yang perlu diakomodasi agar organisasi tetap hidup, tumbuh, dan berkembang.

Terutama, ketika suksesi kepemimpinan dalam organisasi biasanya berganti setiap lima tahunan, di mana momentum ini seharusnya menjadi kesempatan untuk meninjau, memperbaiki, dan menyegarkan visi, misi, serta program agar tetap relevan dengan kebutuhan umat yang terus berkembang.

Organisasi yang menolak perubahan, memilih kenyamanan dalam status quo atau “zona nyaman,” pada akhirnya akan menghadapi ketertinggalan, kemunduran dan selanjutnya kehilangan daya saing.

Untuk menghindari stagnasi ini, diperlukan manajemen perubahan yang terencana, efektif, dan efisiesn serta berkelanjutan sehingga setiap pergantian kepemimpinan tidak hanya mengulang pola yang sama, melainkan membawa penyegaran dan perubahan organisasi menuju kemandirian, ketangguhan, dan kematangan yang relevan dengan zaman.

Tulisan ringkas ini akan membahas langkah-langkah dalam merancang manajemen perubahan organisasi Islam untuk memastikan setiap perubahan membawa kemajuan yang konstruktif.

Pertama, Memahami Urgensi dan Arah Perubahan

Organisasi Islam, seperti halnya organisasi lainnya, berfungsi sebagai pelayan umat (khadhimul ummah). Dinamika sosial, budaya, politik, dan teknologi yang terus berubah akan selalu membawa tantangan serta peluang baru bagi umat.

Jika organisasi Islam tetap dalam status quo, dan tidak mampu meresponnya secara memadai, ia akan kehilangan relevansi dan pengaruhnya. Oleh karena itu, perubahan menjadi kebutuhan dasar agar organisasi tetap dapat menyelaraskan diri dengan perkembangan zaman dan kebutuhan umat.

Selain itu, banyak organisasi Islam dihadapkan pada tantangan besar di era globalisasi ini, seperti kebutuhan untuk beradaptasi dengan perkembangan digital, perubahan dalam sistem pendidikan, ekonomi, politik, teknologi serta meningkatnya tantangan dakwah.

Untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut, organisasi harus berani menyesuaikan program dan struktur mereka. Tanpa perubahan yang terencana, organisasi berpotensi kehilangan kesempatan untuk menjadi pusat peradaban dan solusi bagi umat.

Dengan demikian maka, perubahan dalam organisasi Islam tidak hanya berorientasi pada rutinitas atau mengejar modernisasi semata, tetapi juga pada pencapaian nilai-nilai Islam yang kaffah (menyeluruh) dalam setiap aspek aktivitas organisasi yang bersumber dari jatidiri organisasi itu sendiri. Pergantian kepemimpinan eksekutif setiap lima tahunan seharusnya membuka pintu evaluasi mendalam terhadap visi, misi, serta keberhasilan program.

Kedua, Prinsip Dasar dalam Merancang Manajemen Perubahan

Dalam Islam, perubahan dan perbaikan (islah) adalah bagian dari sunnatullah yang mendasari segala hal. Firman Allah dalam Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum kaum tersebut mengubah keadaan mereka sendiri (QS. Ar-Ra’d: 11). Ayat ini mendorong umat Islam untuk senantiasa aktif, kreatif dan inovatif dalam mengupayakan perubahan ke arah yang lebih baik, terutama dalam organisasi yang memikul amanah besar untuk kesejahteraan umat.

Merancang manajemen perubahan bagi organisasi Islam membutuhkan prinsip-prinsip yang selaras dengan nilai-nilai Islam, seperti tawazun (keseimbangan), syura (musyawarah), dan istiqamah (konsistensi). Berikut adalah beberapa prinsip yang perlu menjadi landasan:

Pertama, Keselarasan dengan Nilai Islam dan Jatidiri: Perubahan yang dirancang harus tetap sesuai dengan prinsip-prinsip syariat dan tujuan utama organisasi, yaitu melayani dan membimbing umat menuju kebaikan dan merupakan elaborasi dari jatidiri Organisasi.

Kedua, Tawazun (Keseimbangan) dalam Penerapan Program : Prinsip tawazun atau keseimbangan perlu diterapkan, yaitu dengan mempertahankan program-program unggulan dari kepemimpinan sebelumnya sambil memperkenalkan program baru yang lebih inovatif dan kontekstual. Hal ini mencerminkan bahwa organisasi Islam menghargai nilai-nilai yang sudah ada, namun juga terbuka terhadap pembaruan dan pengembangan.

Ketiga, Transparansi dan Partisipasi Anggota: Keberhasilan perubahan sangat bergantung pada keterlibatan seluruh anggota organisasi. Oleh karena itu, proses perubahan harus dijalankan dengan prinsip musyawarah agar setiap anggota merasa memiliki dan bertanggung jawab dalam pelaksanaannya.

Keempat, Fokus pada Kemandirian dan Ketangguhan: Program yang dirancang sebaiknya bertujuan untuk membangun organisasi yang mandiri, tidak terlalu bergantung pada faktor eksternal, dan mampu bertahan menghadapi dinamika perubahan.

Kelima, Musyawarah dan Inklusivitas: Islam menekankan pentingnya musyawarah dalam mengambil keputusan. Perubahan yang direncanakan hendaknya melibatkan semua pihak yang berkepentingan dalam organisasi. Inklusivitas dalam perencanaan perubahan akan menciptakan rasa memiliki, sehingga setiap anggota lebih berkomitmen pada keberhasilan program perubahan.

Keenam, Kesinambungan dengan nilai dan prinsip dasar organisasi: Organisasi Islam harus menjaga prinsip-prinsip dasar yang telah menjadi pijakan organisasi selama ini. Perubahan tidak boleh mengorbankan identitas (jatidiri) dan tujuan mulia organisasi, melainkan memperkaya dan memperkuatnya.

Ketujuh, Berorientasi pada Visi Jangka Panjang: Perubahan yang dilakukan dalam organisasi haruslah didasarkan pada visi jangka panjang yang selaras dengan misi organisasi dan cita-cita peradaban Islam. Visi yang jelas akan memberikan arah dan makna pada setiap langkah perubahan, menjaga agar perubahan tidak hanya bersifat kosmetik atau reaktif, tetapi benar-benar kontributif.

Ketiga, Merancang Program Berkesinambungan dan Inovatif

Agar perubahan membawa manfaat yang optimal, diperlukan perencanaan program yang berkesinambungan. Terdapat dua jenis program dalam manajemen perubahan yang perlu diprioritaskan:

Pertama, Program Lanjutan: Evaluasi program lama yang masih relevan dan memberikan dampak positif untuk terus dilanjutkan dan diperbaiki. Program lanjutan ini menjadi landasan bagi keberlanjutan organisasi agar tidak “memulai dari nol” setiap pergantian kepemimpinan. Ini mencakup program pendidikan, sosial, dakwah, ekonomi atau digitalisasi  yang terbukti bermanfaat dan masih relevan dengan kebutuhan umat.

Kedua, Program Baru yang Visioner: Dengan semangat perubahan, diperlukan inovasi dalam merancang program baru yang lebih visioner, sesuai dengan kebutuhan aktual dan masa depan umat. Program baru ini harus mencakup strategi yang lebih adaptif dan responsif terhadap perubahan zaman, seperti pemanfaatan teknologi digital untuk dakwah, peningkatan kapasitas SDM dalam bidang kepemimpinan, atau membentuk lembaga think-tank dalam organisasi untuk merumuskan gagasan-gagasan strategis.

Keempat, Implementasi Strategi Manajemen Perubahan yang Efektif dan Berkelanjutan

Mengelola perubahan memerlukan implementasi yang tepat agar tidak hanya sekadar menjadi wacana, tetapi memberikan dampak nyata bagi organisasi. Berikut adalah strategi implementasi yang bisa dilakukan:

Pertama, Pemetaan Kebutuhan dan Potensi : Setiap perubahan harus berdasar pada pemahaman yang mendalam terhadap kebutuhan umat serta potensi internal organisasi. Ini termasuk pemetaan program yang perlu diperbarui, potensi sumber daya manusia yang tersedia, serta anggaran dan dukungan yang dimiliki. Dengan memahami peta kekuatan dan tantangan yang dihadapi, organisasi dapat merumuskan program perubahan yang tepat sasaran.

Kedua, Keterlibatan Semua Lapisan Organisasi: Perubahan yang berhasil adalah perubahan yang melibatkan seluruh lapisan organisasi. Proses komunikasi yang terbuka dan transparan, musyawarah dalam menentukan langkah perubahan, serta kesempatan bagi setiap anggota untuk berpartisipasi akan memberikan rasa memiliki (sense of ownership) yang tinggi terhadap perubahan yang diusung.

Ketiga, Pemberdayaan Kepemimpinan pada Setiap Level: Kepemimpinan yang efektif adalah kunci dalam perubahan organisasi Islam. Setiap lapisan organisasi, baik di tingkat pusat maupun daerah, perlu memiliki figur pemimpin yang visioner dan berkomitmen terhadap perubahan. Hal ini dapat dicapai dengan mengadakan pelatihan kepemimpinan yang menyeluruh untuk memastikan bahwa setiap pemimpin memiliki pemahaman yang sama terhadap visi perubahan.

Keempat, Penyusunan Program yang Terstruktur: Perubahan yang berkelanjutan memerlukan perencanaan program yang sistematis. Rencana lima tahun, misalnya, dapat menjadi kerangka kerja strategis bagi organisasi untuk melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkala. Program yang telah berjalan dengan baik dapat ditingkatkan, sedangkan program yang tidak efektif perlu ditinggalkan atau diganti dengan inisiatif baru yang lebih sesuai.

Kelima, Menjaga Kemandirian dan Ketangguhan Organisasi: Perubahan yang efektif tidak hanya menjadikan organisasi lebih adaptif, tetapi juga harus mampu membangun kemandirian dan ketangguhan agar tetap eksis di masa depan. Beberapa langkah yang perlu ditempuh untuk mencapai hal ini adalah:

  • Diversifikasi Sumber Pendanaan: Organisasi yang mandiri adalah organisasi yang tidak tergantung pada satu sumber pendanaan apalagi yang berasal dari eksternal, sebab ini akan rawan dan rentan. Untuk mencapai kemandirian finansial, organisasi perlu memperluas sumber pendapatan, baik melalui pemeberdayaan dan keterlibatan anggota dengan iuran/infaq, Membangun korporasi bisnis yang dimiliki organisasi maupun kerjasama yang tidak mengikat dengan lembaga-lembaga lain.
  • Peningkatan Kompetensi dan Regenerasi SDM: SDM adalah aset terbesar organisasi Islam. Menghadapi perubahan memerlukan SDM yang kompeten dan memiliki pemahaman yang mendalam terhadap nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, organisasi perlu menyusun perencanaan SDM yang komprehensip, dan diikuti dengan program pelatihan umtuk meningkatkan kompetensi anggota sekaligus merancang sistem regenerasi yang terencana agar organisasi memiliki pemimpin masa depan yang berkualitas.
  • Pemanfaatan Teknologi: Teknologi adalah salah satu aspek penting dalam membangun organisasi Islam yang tangguh dan efisien. Teknologi memungkinkan pengelolaan data yang lebih baik, mempermudah komunikasi, dan memperluas jangkauan dakwah. Dalam era digital ini, organisasi Islam harus bertransformasi menjadi organisasi berbasis data dan teknologi untuk memaksimalkan dampaknya.

Keenam, Evaluasi dan Pembelajaran Berkelanjutan: Evaluasi berkala penting untuk memastikan program yang dijalankan tetap berada di jalur yang tepat. Melalui evaluasi, organisasi dapat melakukan pembelajaran dari keberhasilan dan kegagalan program sebelumnya, memperbaiki kelemahan, dan memperkuat program yang terbukti berhasil.

Kelima, Tantangan dalam Implementasi Manajemen Perubahan

Perubahan yang baik, tidak selama berjalan dengan mulus, namun sering kali dihadapkan pada berbagai tantangan, terutama dalam konteks organisasi Islam. Tantangan-tantangan tersebut antara lain:

Pertama, Resistensi Terhadap Perubahan : Sebagian anggota atau pemimpin mungkin merasa nyaman dengan cara kerja yang sudah ada, sehingga enggan menerima perubahan. Dalam Islam, penting untuk menekankan bahwa setiap pembaruan bertujuan untuk mencapai kemaslahatan yang lebih besar, sesuai dengan prinsip tajdid (pembaruan) dalam ajaran Islam.

Kedua, Keterbatasan Sumber Daya dan Kapasitas : Keterbatasan sumber daya, baik finansial maupun sumber daya manusia, sering kali menjadi hambatan utama dalam implementasi perubahan. Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya secara efektif dan penggalangan dukungan dari masyarakat perlu diperkuat.

Ketiga, Tantangan Teknologi dan Adaptasi Digital: Di era digital, organisasi Islam perlu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Implementasi perubahan yang melibatkan transformasi digital memerlukan pelatihan dan adaptasi yang terus-menerus agar seluruh anggota organisasi melek teknologi dan mampu memanfaatkannya untuk kemajuan dakwah.

Keenam, Manfaat Jangka Panjang Manajemen Perubahan bagi Organisasi Islam

Jika perubahan direncanakan dan dikelola dengan baik, manfaat yang akan dirasakan oleh organisasi Islam sangatlah besar dan berkelanjutan. Beberapa manfaat tersebut antara lain:

Pertama, Meningkatkan Relevansi dan Daya Saing Organisasi: Perubahan yang tepat akan menjaga relevansi organisasi dengan kebutuhan umat dan perkembangan zaman. Organisasi akan lebih tanggap dan adaptif terhadap perubahan sosial, politik, dan teknologi, sehingga tidak tertinggal.

Kedua, Membangun Kemandirian dan Ketangguhan: Organisasi yang berani berubah menjadi lebih mandiri dan tangguh. Kemandirian ini tercermin dalam kemampuan organisasi untuk berdiri sendiri tanpa ketergantungan berlebihan pada pihak luar, sedangkan ketangguhan terlihat dalam kemampuan bertahan menghadapi berbagai tantangan.

Ketiga, Meningkatkan Keterlibatan dan Motivasi Anggota: Dengan manajemen perubahan yang efektif, setiap anggota merasa dilibatkan dan memiliki peran penting dalam kemajuan organisasi. Ini meningkatkan motivasi dan loyalitas anggota, serta mendorong mereka untuk memberikan yang terbaik bagi organisasi.

Keempat, Mewujudkan Misi Islam yang Kaffah: Manajemen perubahan memungkinkan organisasi Islam untuk lebih mampu menjalankan misi dan visinya. Organisasi yang berkembang dengan relevansi dan ketangguhan yang kuat akan lebih efektif dalam menyebarkan dakwah Islam dan menciptakan dampak positif di masyarakat, sesuai dengan cita-cita Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.

Kesimpulan: Perubahan yang Berdaya Tahan dan Berkelanjutan

Merancang manajemen perubahan dalam organisasi Islam bukanlah pekerjaan singkat dan mudah. Diperlukan kepemimpinan visioner, visi yang kuat, rencana yang matang, dan implementasi yang konsisten agar perubahan dapat membawa manfaat nyata bagi umat.

Dengan memadukan prinsip Islam yang abadi dan metode manajemen modern, organisasi Islam mampu menjadi institusi yang mandiri, relevan, dan tangguh menghadapi tantangan zaman.

Organisasi yang dapat beradaptasi dengan perubahan bukan hanya akan bertahan, tetapi akan menjadi pionir dalam membangun peradaban Islam yang kaffah, menginspirasi umat untuk mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat.

Transformasi organisasi menjadi lebih dinamis, berdaya saing, dan solutif akan menjadikan organisasi Islam sebagai kekuatan strategis yang mampu menyelesaikan berbagai problematika umat dan membawa Islam sebagai pedoman hidup yang rahmatan lil ‘alamin.[]

*) ASIH SUBAGYO, penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ditulis sambil berbaring karena kendala kesehatan.

Family Gathering Hidayatullah Baubau Rajut Kebersamaan dan Rengkuh Keberkahan

0

BAUBAU (Hidayatullah.or.id) – Guna mengokohkan serta mempererat ikatan kekeluargaan dalam bingkai jamaah, Yayasan Pesantren Hidayatullah (YPH) Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra) mengelar agenda Familiy Gathering dan Rihlah Keluarga Besar Pesantren Hidayatullah Kota Baubau yang diadakan di Pantai Nirwana, Kota Baubau, selama 2 hari, Sabtu, 30 Rabiul Akhir – Ahad, 1 Jumadil Awal 1446H (2-3/11/2024).

Ustadz Asrar Amin, S.Ag. selaku Ketua Departemen Sosial dan Dakwah YPH Baubau mengatakan bahwa agenda ini dilaksanakan sebagai bentuk pengakraban dan rehat sejenak bagi warga Hidayatullah dari kesibukan harian berjibaku di masing-masing amanah lembaga, baik di bidang tarbiyah/pendidikan, dakwah, sosial, maupun ekonomi.

“Agenda ini juga menandai penutupan dan pembubaran kepanitiaan Pernikahan Mubarokah Hidayatullah Sultra tahun 1446H/2024 yang telah terlaksana dengan sangat baik di bulan Oktober lalu,” ungkap Ustadz Asrar Amin, S.Ag. yang juga Ketua Panitia Pernikahan Mubarokah 4 pasang santri Hidayatullah Sultra kemarin.

Acara penuh keakraban kekeluargaan ini dilaksanakan di hamparan pasir putih Pantai Nirwana, wisata primadona bagi masyarakat ‘Bumi Khalifatul Khamis’. Pantai Nirwana di Kota Baubau ini adalah surga tersembunyi yang memikat hati setiap pengunjung dengan keindahan alamnya yang luar biasa.

Suasana di pantai ini sangat menenangkan, dengan pasir putih yang lembut dan halus, serta air laut yang jernih berwarna biru kehijauan. Ombak yang tenang menyapu bibir pantai, menciptakan melodi alami yang menenangkan jiwa. Subhanallah. Maha Suci Allah, Sang Pencipta seru sekalian alam.

Di sepanjang pantai, pepohonan kelapa yang tinggi melambai lembut tertiup angin, memberikan nuansa tropis yang kental. Saat matahari terbenam, langit akan dipenuhi dengan warna-warni cerah, mulai dari merah, oranye, hingga ungu, menciptakan pemandangan yang sangat romantis dan menakjubkan. Waktu yang tepat untuk mentadabburi akan kebesaran-Nya.

Acara ini diikuti dengan nuansa bahagia oleh Pembina, Pengawas, Pengurus Yayasan, Ibu-ibu Muslimat Hidayatullah, Dewan Guru, Pemuda, dan santri putra-putri serta warga pesantren dari 3 kampus; Kampus 1 Kadolokatapi, Kampus 2 Putri Wonco, dan Kampus 3 Putra Kaisabu Baru.

Ragam kegiatan di antaranya adalah wahana pantai, naik banana boat, permainan tradisonal benteng, bola kasti, dan SKJ (Senam Kesegaran Jasmani) oleh ibu-ibu bersama santri putri, olahraga sepak takraw oleh bapak-bapak, kepanduan santri putra, masak bersama, tausiyah spirit motivasi, serta ditutup dengan kegiatan bersih-bersih lingkungan pantai sebelum beranjak meninggalkan lokasi.

Dakwah, Ajak yang Terdekat

Pada hari ke-dua, Ahad pagi, sesaat setelah jamaah melaksanakan sholat shubuh berjamaah, dzikir, dan tawajjuhat pagi, kegiatan pamungkas dilanjutkan dengan sesi tausiyah spirit motivasi bada shubuh oleh Pembina YPH Baubau Ust. Mahrus Salam, S.Pd.I.

Dalam tausiyah di hadapan para hadirin, Ust. Mahrus Salam berpesan untuk saling mengajak dalam mendakwahkan kebaikan Islam melalui kehadiran pondok dengan cara yang baik seraya mengutip Al-Qur’an Surah Fussilat ayat 33 yang artinya:

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?”

“Ajak orang sebanyak-banyaknya. Rangkul, jangan pukul. Ubah lawan jadi kawan. Jinakkan hatinya. Salam dan sapa dia,” katanya.

Mendakwahkan kebaikan islam, menurut Ust. Salam, sesuai petunjuk Allah SWT. adalah dengan mengajak dari keluarga terdekat. Wa anżir ‘asyīratakal-aqrabīn (Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat).

Bagi santri, beliau mencontohkan dengan mengajak keluarganya menjalankan ajaran agama sekaligus menjadi teladan dalam aplikasinya. Sehingga yang dulunya belum shalat menjadi gemar sholat, yang dulunya tidak berhijab menjadi berhijab, dan beberapa contoh lainnya.

Ustadz Salam melanjutkan bahwa dengan kita berkumpul di tempat ini, ada ukhuwah islamiyah, ada kebersamaan. “Itulah yang kita harapkan bagaimana nikmat yang besar bernama ukhuwah ini kita rawat dan kita jaga,” katanya.

Sehingga, lanjutnya, kehadiran dalam kegiatan ini membawa kebermanfaatan buat orang lain. Inilah yang ingin kita rengkuh. Kebersamaan yang menghasilkan selaksa keberkahan.

“Semoga kegiatan ini membawa kebersamaan dan keberkahan sekaligus menguatkan ikatan soliditas kita,” tutup Ustadz Salam penuh harap. */Noer Akbar

Istighfar di Waktu Sahur, Menggapai Ampunan dan Kesucian Jiwa

0

AMALAN kedua pada pagi hari setelah shalat Tahajjud adalah istighfar terutama di waktu sahur. Sebenarnya beriringan waktu istighfar dengan shalat Tahajjud dan keduanya saling menyempurnakan.

Istighfar secara esensi sebagai bentuk pengakuan terhadap lemahnya diri hamba yang berlumur dosa untuk meminta ampun kepada Allah SWT. Ada rasa khawatir dan takut jika dosa tidak terampuni oleh Allah SWT.

Dalam hal ini, kuantitas istighfar sangat tergantung dengan kesadaran seorang hamba. Tentu semakin banyak semakin baik dengan iringan kesadaran dan keyakinan diri. Tidak perlu memperdebatkan jumlah istigfar yang lebih utama. Tapi bagaimana dosa terhapus, tertutupi atau terampuni.

Pada umumnya doa sebagian orang, dari masa anak-anak hingga umur dewasa atau tua senantiasa minta harta, materi, kekayaan, uang yang melimpah. Bukan salah doa tersebut tapi seharusnya bisa naik level dengan doa yang lebih berkelas yaitu doa minta ampunan atau istighfar. Ketika Allah sudah mengampuni dosa-dosa seorang hamba maka jaminan sukses dan kebahagiaan dunia akherat.

Mengapa Harus Istighfar?

Pada dasarnya manusia terlahir dalam kondisi suci tanpa dosa karena belum terbebani kewajiban dan larangan. Instrumen akal dan panca Indera masih bersifat alamiah dan kodrati.

Bayi juga tidak membawa dosa keturunan, meski ia terlahir dari kedua orang tua pendosa dengan cara berdosa. Karena bayi tidak bisa memilih lahir dari orang tua seperti apa dan siapa. Allah dengan iradah-Nya menentukan bayi akan lahir dari orang tua yang mana dan semuanya sudah ada ketentuan taqdir yang terbaik.

Namun demikian dalam perjalanan kehidupannya, setelah dewasa ternyata sebagian manusia yang bergelimang dosa. Mereka lalai melaksanakan kewajibannya dan terjerumus berbuat kemaksiatan dan kemusyrikan yang menjadi larangan Allah.

Bahkan Sebagian manusia malah menentang Allah sebagai Penciptanya. Menentang perintah-perintah Allah, tidak mengakui kekuasaan Allah dan merasa sombong dengan mengerjakan larangan-larangan Allah. Mereka membuat makar, konspirasi dengan mendustakan ayat-ayat Allah.

Allah berfirman dalam surat an-Nahl ayat 4:

خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِن نُّطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُّبِينٌ

“Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata”

Ayat di atas, sangat menohok pesannya dan menjadi peringatan besar bagi orang-orang beriman untuk tidak lalai dari asal-usulnya. Meski ketika telah tumbuh besar menjadi penguasa, pengusaha atau orang besar harus tetap menyadari bahwa semua dari Allah dan akan kembali kepada Allah untuk diminta pertanggungjawabkan.

Allah juga menegaskan dalam salah satu ayat dari surat al-Qur’an yang pertama diturunkan yaitu al-‘Alaq:

خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”

Ketika manusia menyadari bahwa dirinya hanyalah insan yang tercipta dari al-‘Alaq (air mani yang hina), terlahir di dunia tidak bisa apa-apa selain menangis. Panca indera belum berfungsi kecuali pendengarannya, maka seharusnya manusia secara naluri tumbuh ketaatan dan ketergantungan kepada Allah.

Manusia pada umumnya tidak maksum dari kesalahan dan dosa, kecuali Rasulullah SAW. Tabi’at manusia sebagai makhluq (diciptakan) yang secara internal dirinya tidak luput berbuat salah, khilaf, lupa, lalai dan pasti ada kekurangannya. Ada nafsu yang ada di dalam jiwa, senantiasa menghiasi dan mengajaknya kepada keburukan dan dosa.

Secara eksternal, ada syetan baik berupa jin ataupun manusia yang dinyatakan oleh Allah dalam al-Qur’an sebagai musuh nyata bagi orang-orang beriman. Syetan sebagai musuh sejati tentu tidak ada kata berhenti untuk mengajak, menjebak, menjerat, menggoda dan menjerumuskan dengan sejuta jurusnya agar manusia mengikuti langkah-langkahnya sebagai penentang perintah Allah.

Syetan dalam menjalankan visi besarnya sangat professional, proposional, sistematis dan sabar dalam menggoda manusia. Dalam hal ini Allah bukan hanya memberikan informasi penting tapi juga memberikan perintah untuk tidak mengikuti syetan, salah satunya di Surat al-Baqarah ayat 168:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”

Menyadari kondisi tantangan manusia, baik internal jiwanya dan eksternalnya yang berpotensi besar berdosa. Maka istghfar menjadi satu kebutuhan mutlak bagi orang-orang beriman.

Secerdas apa pun seseorang takkan mampu mengetahui dan menghitung jumlah dosa yang telah ia perbuat dalam sehari, baik kecil maupun besar. Secanggih apapun kompeter sebagai alat modern yang ditemukan manusia, karena dimensi dosa bersifat lahir dan bathin. Maka tidak akan pernah bisa mendeteksi semua perbuatan dosa yang telah diperbuat manusia.

Tehnologi Artificial Intelligence (AI) tidak akan mampu mendeteksi dosa-dosa manusia. Mau memakai rumus algoritma ataupun rumus lain. Karena AI juga buatan manusia dan manusia ciptaan Allah.

Istighfar menjadi kunci solusi untuk menghapus dosa-dosa kepada Allah Zat yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih. Istighfar juga menjadi media komunikasi seorang hamba ke Allah untuk dzikir atau mengingat karunia.

Rasulullah saw saja yang terjaga dari perbuatan dosa dan kesalahan atau maksum masih istighfar 70 kali dalam sehari. Inilah kesadaran iman, istighfar menjadi kebutuhan atas keimanannya kepada Allah.

وعَنْ أبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي اليَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Aku telah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Demi Allâh aku sungguh beristighfar dan bertaubat kepada Allâh setiap harinya lebih dari tujuh puluh kali” [HR. Al-Bukhari]

Rasulullah menyebut: “lebih dari tujuh puluh kali” merupakan bentuk anjuran kepada umat Islam untuk bertaubat dan beristighfar. Sebaik-baiknya makhluk beristighfar dan bertaubat lebih dari tujuh puluh kali. Istighfar Rasulullah bukan dari sebab dosa tapi dari sebab keyakinan bahwa diri Rasulullah tidak sempurna dalam ibadah yang layak bagi Allah Azza wa Jalla.

Allah tidak memerlukan istighfar hamba-hamba-Nya, tidak ada kepentingan sedikit bagi Allah terhadap istighar manusia. Seandainya semua hamba beristighar ribuan kali setiap hari, tidak akan menambah sedikit kemuliaan Allah. Sebaliknya jika tidak ada satupun hamba yang beristighfar juga tidak akan mengurangi sedikitpun kemuliaan Allah.

Sebenarnya yang berkepentingan besar untuk istighfar adalah para hamba, terutama orang-orang beriman. Karena ada rasa khawatir dengan lumpur dosa yang mengotori jiwanya menjadi penghalang untuk bisa menghadap Allah Dzat Maha Suci.

Padahal kebahagiaan yang paling besar di akherat adalah bisa bertemu melihat Allah. Sebagaimana dalam hadits qudsi Allah Ta’ala berfirman,

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ : فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-nya.” (HR. Al-Bukhâri dan Muslim).

Pada waktu sahur, ketika keheningan malam menyelimuti, istighfar menjadi lebih bermakna karena pada saat itu Allah mendekatkan diri kepada hamba-Nya, membuka pintu pengampunan dan rahmat-Nya.

Bukan sekadar amalan lisan, istighfar adalah upaya mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh pengakuan dan ketundukan. Dengan beristighfar, seorang hamba meraih kebahagiaan hakiki yang tak hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Pernikahan Mubarakah sebagai Jalan Suci Menuju Cinta Karena Allah

0

Ayah: “Mas, siapa nama calon istrimu?”
Santri: “Belum tahu, Pak. Masih dalam musyawarah”
Ayah: “Ini kurang tiga hari lagi menikah, kok belum tahu nama istrinya”
Santri: “Doakan saja, Pak. Insya Allah calon istri yang terbaik untuk saya”
Ayah: “Seperti beli kucing dalam karung saja”
Santri: “Bukan begitu, Pak. Kalau beli kucing dalam karung, mungkin kita tidak tahu apa-apa tentang kucingnya. Tapi dalam pernikahan ini, panitia sudah melihat, menyaring, memilih, membekali, dan mendoakan setiap calon pengantin. Insya Allah cantik dan salehah semua”

DIALOG yang dialami oleh seorang santri yang hendak menikah di atas menggambarkan ketenangan dan keyakinan para santri dalam menjalani pernikahan mubarakah. Mereka percaya bahwa setiap pasangan yang ditetapkan melalui perantara ustaz dan ustazah adalah yang terbaik, karena penentuan jodoh ini tidak dilakukan secara sembarangan.

Proses penjodohan yang dilakukan di pesantren mencakup berbagai aspek seperti ketaatan, kesalehan, kecocokan keilmuan, serta kecocokan dalam latar belakang pendidikan dan keluarga.

Menjalani pernikahan tanpa melalui masa pacaran atau saling mengenal jauh sebelumnya adalah sebuah konsep yang mungkin terdengar asing bagi banyak orang. Namun, di kalangan santri Pesantren Hidayatullah, praktik ini telah berlangsung lama melalui apa yang mereka sebut sebagai “pernikahan mubarakah” atau pernikahan penuh berkah.

Pernikahan ini memiliki sistem penjodohan yang berlandaskan pada kepercayaan, ketaatan, dan pengabdian kepada Allah. Meski bagi sebagian orang hal ini mungkin terlihat seperti “membeli kucing dalam karung,” para santri meyakini bahwa jodoh yang datang melalui perantara ustaz dan ustazah adalah yang terbaik dari Allah, dan hal ini mereka jalani dengan penuh keyakinan dan ketulusan.

Nikah Tanpa Kenal Dulu, Kok Bisa?

Pertanyaan yang sering muncul dari masyarakat umum mengenai pernikahan mubarakah adalah: “Nikah tanpa kenal dulu, kok bisa ya?” Kekagetan ini beralasan, mengingat banyak orang terbiasa menjalani masa pacaran atau setidaknya mengenal calon pasangan secara mendalam sebelum menikah. Namun, konsep pernikahan mubarakah memang menitikberatkan pada niat tulus ikhlas karena Allah dan ketaatan kepada ajaran agama.

Pernikahan tanpa melalui pacaran ini bagi santri Pesantren Hidayatullah bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk ketaatan kepada Allah, Rasulullah, serta pemimpin pesantren. Di dalam pesantren, santri dibimbing untuk memahami bahwa jodoh telah ditetapkan oleh Allah, dan tidak akan tertukar oleh siapapun.

Keyakinan ini dibangun melalui proses tarbiyah yang intensif, di mana mereka diajarkan bahwa menjalani pernikahan dengan niat untuk mengabdi kepada Allah akan mendatangkan berkah yang lebih besar dibandingkan sekadar menjalani kehidupan berpasangan berdasarkan perasaan.

Proses penjodohan dalam pernikahan mubarakah bukanlah proses yang mudah atau asal-asalan. Para ustaz dan ustazah yang tergabung dalam panitia penjodohan, yang disebut “Steering Committee,” memiliki pengalaman dan kapasitas untuk menentukan pasangan yang terbaik bagi setiap peserta. Mereka sosok yang penuh perhitungan dalam mencarikan jodoh terbaik bagi setiap santri yang mengikuti program ini.

Kriteria yang dipertimbangkan dalam proses penjodohan meliputi banyak aspek, mulai dari ketaatan, kesalehan, tingkat keilmuan, latar belakang pendidikan, keluarga, hingga penampilan fisik. Seluruh aspek ini diukur dengan teliti dan melalui musyawarah serta doa yang mendalam.

Dengan latar belakang yang kuat dalam memahami karakter setiap calon pasangan, panitia penjodohan bertanggung jawab memastikan bahwa setiap pernikahan yang terjadi adalah pernikahan yang sehat secara fisik, mental, dan spiritual.

Bentuk Syiar Islam

Pernikahan merupakan akad yang suci dan sakral, maka jalan menuju pernikahan itu pun harus terjaga kesuciannya. Salah satu tujuan utama dari pernikahan mubarakah adalah menjaga keindahan dan kesakralan pernikahan sebagai bentuk syiar Islam.

Dalam pernikahan ini, walimah atau pesta pernikahan pun diadakan dengan cara yang sederhana namun bermakna, menghindari kemewahan yang tidak perlu dan lebih menekankan pada nilai-nilai syariat Islam.

Di tengah arus modernisasi yang membawa budaya barat ke dalam adat istiadat pernikahan, pernikahan mubarakah hadir sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya tersebut. Banyak pernikahan yang terbalut budaya asing yang jauh dari nilai syariat atau bahkan ternodai oleh unsur mistik dan takhayul.

Dalam pernikahan mubarakah, seluruh proses dijaga untuk tetap bersih dari hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, dan justru menampilkan kesederhanaan yang penuh makna sebagai cerminan dari ketakwaan kepada Allah.

Menjalani pernikahan mubarakah bukan berarti menghindari masalah atau menjadikan pernikahan tanpa tantangan. Bagi setiap pasangan yang mengikuti pernikahan ini, tantangan justru menjadi bagian dari perjalanan menuju kehidupan yang penuh dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah. Setelah akad nikah berlangsung, tanggung jawab untuk saling membahagiakan pasangan mulai menjadi kewajiban yang diemban bersama.

Mewujudkan kehidupan yang sakinah, mawaddah, dan rahmah adalah sebuah proses yang memerlukan usaha (mujahadah) dan ilmu. Setiap pasangan diharapkan terus belajar dan berlatih untuk menjadi suami atau istri yang baik, serta memahami kekurangan dan kelebihan satu sama lain.

Pernikahan bukanlah jalan hidup yang sempurna tanpa rintangan; kesempurnaan hanya milik Allah. Pasangan suami istri yang baru menikah melalui pernikahan mubarakah harus memahami bahwa kesabaran dan ketabahan adalah kunci dalam menghadapi setiap ujian dalam rumah tangga.

Manifestasi Keyakinan Kepada Allah

Pernikahan mubarakah bukanlah sekadar praktik menikah tanpa pacaran atau tanpa saling mengenal mendalam. Pernikahan ini adalah wujud nyata dari ketundukan kepada Allah dan manifestasi dari keyakinan bahwa jodoh telah ditentukan oleh Allah.

Dalam menjalani pernikahan ini, para santri Pesantren Hidayatullah mempraktikkan konsep ketulusan yang mendalam dan kepercayaan penuh terhadap proses yang ditentukan oleh para ustaz dan ustazah.

Pernikahan mubarakah mengajarkan bahwa cinta yang berlandaskan pada ketaatan akan membawa keberkahan yang tak terhingga. Melalui pernikahan ini, mereka belajar bahwa kebahagiaan sejati bukan datang dari kenal lebih dulu atau merasa nyaman secara duniawi, melainkan dari kedekatan kepada Allah dan ketulusan hati dalam menjalani takdir yang telah ditetapkan.

Dengan ketulusan dan ketabahan, pasangan yang menikah melalui pernikahan mubarakah siap menjalani kehidupan rumah tangga yang diberkahi, menjadi sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Pernikahan ini adalah langkah kecil namun berarti dalam menegakkan syariat Islam di tengah derasnya arus budaya asing. Nikah mubarakah bukanlah beli kucing dalam karung, melainkan jalan yang diridhoi untuk menuju cinta sejati yang tulus karena Allah.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Tips dan Manfaat Menggapai Kedekatan dengan Allah melalui Shalat Tahajjud

0

DALAM sistematika wahyu (tartibunnuzul) Al-Qur’an, terdapat urutan yang sistematis yang menunjukkan bagaimana Allah membimbing Nabi Muhammad SAW dalam mengemban tugas kenabian yang agung.

Wahyu pertama yang diturunkan, yakni Surah Al-Alaq ayat 1-5, menandai awal pengangkatan Muhammad sebagai nabi. Ayat-ayat dalam surah ini mengandung dorongan agar umat manusia mengarahkan perhatian pada penciptaan dan pengetahuan.

Selanjutnya, Surah Al-Qalam diturunkan, bertujuan menanamkan nilai-nilai dasar idealisme dan prinsip moral yang diperlukan seorang pemimpin, khususnya dalam menghadapi tantangan dakwah yang keras dan penuh rintangan.

Menjadi nabi bukanlah tugas yang ringan; peran ini memerlukan fondasi spiritual, moral, dan mental yang kokoh. Oleh karena itu, Allah menurunkan Surah Al-Muzammil sebagai wahyu ketiga, yang di dalamnya terdapat perintah untuk melaksanakan shalat Tahajjud di malam hari.

Perintah shalat malam ini memiliki tujuan mendalam untuk memperkuat ketahanan spiritual dan mental Nabi Muhammad dalam mengarungi beban berat sebagai pembawa risalah.

Shalat Tahajjud sebuah latihan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh kekuatan moral yang diperlukan dalam perjuangan menyampaikan kebenaran.

Melalui urutan wahyu yang berlapis ini, jelas bahwa setiap wahyu yang diturunkan memiliki tujuan yang saling melengkapi dalam mempersiapkan Nabi Muhammad SAW secara menyeluruh, baik dari sisi intelektual, spiritual, maupun emosional.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلْمُزَّمِّلُ, قُمِ ٱلَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا , نِّصْفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.” (QS. Al Muzzammil: 1-4)

Sapaan “Hai orang yang berselimut” mengandung makna simbolis yang menekankan peralihan Nabi dari keadaan terlindung dalam keheningan malam menuju panggung dakwah yang menantang. Ada yang mengatakan karena rasa ketakutan beliau dengan turunnya malaikat Jibril, ulama yang lain berpendapat karena beratnya tugas dakwah atau tugas kenabian yang diemban.

Di sini, “selimut” tidak hanya berarti kain fisik, tetapi juga merepresentasikan kenyamanan dan keamanan yang harus ditinggalkan demi mengemban misi yang besar. Perintah untuk bangun malam ini memberikan fondasi spiritual yang kokoh bagi Nabi Muhammad dalam menjalani tugas yang sangat berat.

Shalat malam (qiyamullail) adalah sarana utama untuk mengembangkan kekuatan batiniah, meresapi kedekatan dengan Tuhan, serta menyiapkan mental dan moral untuk tantangan dakwah.

Pada tingkat filosofis, panggilan ini menggambarkan perlunya manusia mengatasi kenyamanan pribadi demi mencapai tujuan yang lebih tinggi, yaitu tanggung jawab moral dan spiritual terhadap sesama.

Allah memerintahkan untuk mendirikan shalat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menyiapkan diri untuk memikul tugas dakwah.

Jadikanlah waktu malam antara untuk menegakkan ketaatan dan ibadah dan untuk beristirahat dan tidur, dengan menjadikan mayoritas waktu malam, setengahnya, atau sepertiganya untuk shalat dan beribadah; sedangkan sisanya untuk beristirahat dan tidur

Shalat Tahajjud merupakan shalatnya nabi dan pewaris tugas nabi yang merasakan beratnya mendakwahkan risalah Islam dengan segala tantangan, rintangan, halangan, dan godaan.

Beratnya tugas dakwah itu tidak bisa hanya mengandalkan retorika, keilmuan, pengalaman atau fisik saja. Namun diperlukan kekuatan spiritual, moral, mental dan Allah menyiapkan shalat Tahajjud untuk mendapatkan kekuatan tersebut.

Maka shalat Tahajjud itu tidak menarik bagi orang-orang yang tidak berjibaku dalam beratnya dakwah. Sebagian orang tidak terpanggil shalat Tahajjud bagi yang merasa tidak memiliki beban atau problem dalam hidupnya. Atau mereka yang merasa tidak memerlukan pertolongan Allah karena sudah di zona aman hidupnya. Atau belum mengenal Allah dengan baik.

Tidak ada jaminan orang yang biasa begadang, orang yang kuat fisik dan sehat badannya, atau pasang banyak alarm di kamarnya mampu menegakkan shalat Tahajjud. Sebab ini bukan hanya menuntut fisik yang fit tapi kekuatan spiritual.

Allah memberikan janji kepada orang yang senantiasa shalat Tahajud, sebagaimana dalam surah Isra’ ayat 79-80:

وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِۦ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِى مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِى مُخْرَجَ صِدْقٍ وَٱجْعَل لِّى مِن لَّدُنكَ سُلْطَٰنًا نَّصِيرًا

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Dan katakanlah: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong”

Manfaat Shalat Tahajjud

Manfaat shalat Tahajjud tidak hanya dirasakan dalam kehidupan spiritual, tetapi juga dalam aspek fisik, mental, dan sosial seseorang. Berikut beberapa manfaat utama dari ibadah shalat Tahajjud:

1. Mendekatkan Diri kepada Allah

Shalat Tahajjud adalah bentuk ibadah yang penuh kekhusyukan, yang menumbuhkan rasa kedekatan dan keikhlasan. Ketika seseorang bangun di tengah malam, meninggalkan kenyamanan tidur untuk beribadah, ia menunjukkan keikhlasan dan cinta kepada Allah.

2. Meningkatkan Kekuatan Spiritual dan Mental

Tantangan bangun di malam hari memerlukan kekuatan mental dan niat yang tulus. Shalat Tahajjud mengajarkan ketekunan, kesabaran, dan kedisiplinan dalam beribadah, yang dapat memperkuat kemampuan menghadapi cobaan hidup.

3. Meraih Ketenangan dan Kejernihan Pikiran

Suasana malam yang sunyi memberikan kesempatan untuk fokus dan merenung. Ini membantu seseorang meraih ketenangan batin dan kedamaian dalam pikirannya, serta mampu merenungi makna kehidupan yang lebih mendalam.

4. Dijanjikan Kedudukan Mulia di Sisi Allah

Berdasarkan dalil yang ada, Allah berjanji akan mengangkat derajat orang-orang yang secara rutin melaksanakan shalat Tahajjud. Ini dapat berupa peningkatan dalam karier, status sosial, dan kehormatan di hadapan manusia dan di hadapan Allah.

Tips Praktis Bangun Shalat Tahajjud

Menghadirkan shalat Tahajjud dalam rutinitas tidak mudah, terutama bagi mereka yang terbiasa tidur larut malam atau kurang memiliki keinginan kuat. Berikut ini beberapa tips untuk memudahkan bangun shalat Tahajjud:

1. Memahami Keutamaan Shalat Tahajjud

Membaca keutamaan shalat Tahajjud dan kisah-kisah orang saleh yang rutin melaksanakannya dapat memperkuat motivasi. Pengetahuan tentang manfaat dan keutamaan ini menjadi landasan spiritual yang akan menginspirasi untuk bangun di tengah malam.

2. Menumbuhkan Niat dan Tekad yang Kuat

Niat yang tulus dan tekad yang kuat adalah kunci utama dalam bangun shalat Tahajjud. Cobalah untuk menuliskan niat sebelum tidur dan renungkan alasan serta manfaat dari ibadah ini agar terbentuk dorongan yang tulus dari dalam diri.

3. Membersihkan Hati dan Memurnikan Niat

Dosa-dosa, terutama yang berhubungan dengan mata dan pikiran, sering menjadi penghalang seseorang untuk bangun malam. Bersihkan hati dari niat yang kurang tulus dan dosa-dosa yang menumpuk. Beristighfar sebelum tidur dapat menjadi langkah yang baik untuk memurnikan niat.

4. Menentukan Target Bertahap

Untuk pemula, bangun 15 menit sebelum waktu Subuh dan melakukan shalat Tahajjud dua rakaat adalah langkah awal yang baik. Setelah terbiasa, durasi bangun bisa ditingkatkan secara bertahap, hingga mampu bangun satu jam sebelum Subuh untuk melaksanakan 11 rakaat atau lebih.

Pendukung Teknis untuk Memudahkan Shalat Tahajjud

Selain tips motivasi, ada beberapa langkah teknis yang dapat membantu mempermudah bangun malam untuk shalat Tahajjud:

1. Makan Malam Secukupnya dan Lebih Awal

Makan malam dalam porsi kecil dan di waktu lebih awal, misalnya sebelum Isya, dapat memudahkan tubuh untuk bangun lebih ringan. Pencernaan yang tidak terlalu bekerja keras di malam hari akan membuat tidur lebih nyaman dan bangun terasa lebih mudah.

2. Tidur Lebih Awal

Tidur lebih awal adalah kunci untuk bisa bangun di sepertiga malam terakhir. Disarankan untuk tidur sekitar pukul 21.00, agar ketika bangun pukul 02.00 atau 03.00, tubuh sudah mendapat istirahat yang cukup. Hal ini membantu memperbaiki kualitas tidur dan membuat bangun malam lebih mudah.

3. Persiapan Fisik Sebelum Tidur

Buang air kecil dan sikat gigi sebelum tidur membantu menjaga kenyamanan dan kualitas tidur. Hal ini dapat mencegah gangguan yang mungkin terjadi di tengah malam dan memungkinkan tidur yang nyenyak.

4. Wudhu Sebelum Tidur

Wudhu sebelum tidur tidak hanya menyehatkan, tetapi juga memberikan ketenangan hati. Rasulullah SAW juga menganjurkan hal ini untuk menjaga kebersihan fisik dan spiritual menjelang tidur.

5. Menggunakan Alarm atau Meminta Dibangunkan

Pasang alarm di tempat yang jauh dari jangkauan sehingga kita perlu bangun untuk mematikannya. Sekali lagi alarm hanya berfungsi sebagai alat bantu dan yang terpenting menjaga alarm dalam hati untuk senantiasa ingat shalat tahajjud di malam hari.

Shalat Tahajjud adalah ibadah yang luar biasa dalam meningkatkan kedekatan kepada Allah dan memberikan banyak manfaat spiritual. Meskipun bangun malam bukan perkara mudah, ada banyak cara dan tips yang bisa membantu agar kita mampu melaksanakannya secara konsisten.

Dengan konsistensi, shalat Tahajjud dapat menjadi sumber kekuatan spiritual dan ketenangan batin yang membawa kedamaian serta kejernihan dalam menjalani kehidupan.

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Anugerah Kalpataru dan Pemuda Hidayatullah dalam Gerakan Pelestarian Lingkungan

0

PERUBAHAN iklim, deforestasi, dan pencemaran lingkungan adalah ancaman yang semakin nyata bagi kehidupan di bumi. Situasi ini membutuhkan kesadaran kolektif dan aksi nyata untuk melestarikan lingkungan agar generasi mendatang dapat menikmati keberlanjutan yang kita perjuangkan hari ini.

Di tengah tantangan ini, Pemuda Hidayatullah memiliki amanah sejarah yang besar sebagai entitas generasi masa kini yang melanjutkan perjuangan untuk memastikan lingkungan tetap terjaga. Amanah tersebut adalah warisan dari pendiri Hidayatullah yang menekankan pentingnya hidup harmonis dengan alam dan menghindari aktivitas yang merusak tatanan ekologis yang Allah ciptakan.

Perjuangan almarhum Ustadz Abdullah Said—pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah dan tokoh yang mendapat penghargaan anugerah Kalpataru dari Presiden Soeharto tahun 1984—patut menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya Pemuda Hidayatullah, dalam melanjutkan amanah besar untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Lelaki asal Lamatti Rilau Sinjai ini tidak hanya dikenal sebagai pemikir, orator, pendidik, dan sosok ‘man of action’ seperti dikemukakan Prof. Dr. H. Amien Rais, Ustadz Abdullah Said juga sebagai tokoh pengabdi lingkungan yang telah berkontribusi besar dalam upaya pelestarian alam.

Melalui Pondok Pesantren Hidayatullah, ia mengajarkan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian integral dari ibadah dan tanggung jawab sebagai hamba Allah di muka bumi. Upayanya dalam reboisasi dan pengelolaan hutan yang lestari di Kalimantan Timur menunjukkan kesadaran yang mendalam akan peran manusia dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Pemberian Kalpataru kepada Ustadz Abdullah Said oleh pemerintah adalah bukti nyata apresiasi terhadap kontribusinya dalam pelestarian lingkungan. Beliau berhasil membangun kesadaran kolektif di kalangan santri dan masyarakat sekitar untuk menjaga hutan dan melakukan penanaman pohon sebagai langkah melawan degradasi lingkungan. Nilai-nilai yang beliau tanamkan ini selayaknya menjadi panduan bagi Pemuda Hidayatullah untuk meneruskan perjuangan yang telah dimulai.

Masa Kini dan Indonesia Hijau 2045

Dewasa ini, kondisi lingkungan di Indonesia berada dalam situasi yang memprihatinkan. Deforestasi, alih fungsi lahan, pencemaran udara, air, dan tanah, serta eksploitasi sumber daya alam tanpa batas adalah ancaman nyata yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan kualitas hidup manusia.

Data menunjukkan bahwa laju deforestasi di Indonesia masih tinggi, dengan hutan-hutan yang terus mengalami pengurangan setiap tahunnyaan hutan ini berdampak luas, seperti menurunnya kualitas oksigen, hilangnya habitat hewan, dan meningkatnya risiko bencana alam seperti banjir dan tanah longsor .

Ancaman iklim juga semakin nyata. Peningkatan suhu global, naiknya permukaan air laut, serta pola cuaca yang semakin tidak menentu membawa dampak besar bagi keberlanjutan kehidupan.

Maka, dalam kerangka tantangan tersebut, generasi muda Hidayatullah diharapkan mampu mengambil peran aktif dalam gerakan penyelamatan lingkungan sebagai bentuk nyata dari amanah sejarah yang telah diwariskan oleh Ustadz Abdullah Said.

Oleh karena itu, sejalan dengan visi “Indonesia Emas 2045” yang selalu digaungkan, Pemuda Hidayatullah juga perlu mengembangkan konsep “Indonesia Hijau 2045,” sebuah visi yang mengedepankan lingkungan yang lestari seiring dengan kemajuan ekonomi.

Indonesia yang “emas” dan “hijau” bukan hanya menandakan kekuatan ekonomi dan kemajuan sosial, tetapi juga kesadaran lingkungan yang tinggi. Dalam hal ini, Pemuda Hidayatullah diharapkan menjadi teladan dalam kampanye pelestarian lingkungan, sehingga gerakan ini dapat menjadi era baru kesadaran bagi generasi muda untuk mengintegrasikan nilai-nilai hijau dalam segala aspek kehidupan.

Urgensi Tindakan Nyata

Perubahan iklim bukan lagi isu spekulatif tetapi sudah terbukti berdampak secara nyata. Data terbaru dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menunjukkan bahwa suhu bumi terus meningkat, dengan rata-rata peningkatan sekitar 1,1 derajat Celcius sejak era pra-industri. Peningkatan ini menyebabkan lebih seringnya bencana alam seperti banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan yang merusak lingkungan, infrastruktur, dan bahkan mengancam nyawa manusia.

Di Indonesia, perubahan iklim berimbas langsung pada ekosistem hutan tropis kita yang kaya akan keanekaragaman hayati. Data dari Forest Watch Indonesia menunjukkan bahwa laju deforestasi di Indonesia terus meningkat.

Alih fungsi lahan untuk perkebunan dan pertambangan menjadi salah satu penyebab utama kerusakan hutan di Indonesia, yang menurunkan kualitas oksigen dan menyebabkan punahnya berbagai spesies endemik. Dampak ini tidak hanya berakibat buruk pada ekosistem lokal, tetapi juga memperparah perubahan iklim global.

Pemuda Hidayatullah harus melihat permasalahan ini sebagai tantangan dan kesempatan untuk berperan dalam menjaga bumi sebagai amanah dari Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya”

Seruan Allah dalam Al Qur’an surah Al-A’raf ayat 56 ini mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Pemuda Hidayatullah harus menyadari bahwa tanggung jawab melindungi bumi adalah bagian dari ibadah. Rasulullah juga bersabda:

لاَ يَغْرِسُ مُسْلِمٌ غَرْسًا وَلَا يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلَادَابَّةٌ وَلَا شَيْءٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

“Tiada seorang muslim yang menanam pohon atau tumbuhan lalu dimakan oleh seseorang, hewan ternak, atau apapun itu, melainkan ia akan bernilai sedekah bagi penanamnya” (HR Muslim).

Hadis ini menguatkan konsep bahwa pelestarian lingkungan, termasuk menanam pohon dan menjaga alam, adalah amalan yang mulia. Sebagai generasi muda yang berakhlak dan berwawasan lingkungan, Pemuda Hidayatullah diharapkan mampu menerjemahkan nilai-nilai Islam ini ke dalam aksi nyata, seperti melakukan penghijauan, merawat ekosistem, dan melestarikan sumber daya alam.

Berangkat dari kesadaran tersebut, Pemuda Hidayatullah memiliki posisi strategis sebagai generasi penerus yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pelestarian lingkungan untuk mencapai visi Indonesia Hijau 2045. Pemuda Hidayatullah perlu merancang beberapa inisiatif dan aksi nyata sebagai kontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan. Setidaknya ada empat langkah konkret yang bisa diambil.

Pertama, melakukan kampanye kesadaran lingkungan. Pemuda Hidayatullah dapat memanfaatkan platform digital dan media sosial untuk meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan generasi muda. Dengan menyebarkan informasi tentang bahaya perubahan iklim, dampak deforestasi, dan pentingnya menjaga alam, generasi muda akan lebih sadar akan tanggung jawab mereka terhadap lingkungan .

Kedua, gerakan reboisasi dan penghijauan. Langkah ini dapat dilakukan di berbagai tempat yang digerakkan oleh Pengurus Wilayah (PW) dan Pengurus Daerah (PD) Pemuda Hidayatullah tingkat kota, kecamatan, hingga desa, untuk mengembalikan fungsi hutan yang hilang akibat deforestasi. Selain menanam pohon, Pemuda Hidayatullah dapat mengadakan kegiatan gotong royong membersihkan kawasan-kawasan yang mengalami kerusakan akibat sampah atau penggundulan hutan. Gerakan ini juga dapat melibatkan masyarakat lokal agar manfaat penghijauan dapat dirasakan bersama.

Ketiga, pendidikan dan pelatihan lingkungan untuk menamankan kesadaran lingkungan sejak dini. Pemuda Hidayatullah dapat mengadakan pelatihan dan pendidikan lingkungan bagi anak-anak dan remaja, baik di sekolah-sekolah maupun di komunitas-komunitas lokal. Dengan begitu, generasi penerus akan tumbuh dengan pemahaman yang kuat tentang pentingnya menjaga alam.

Dan, Keempat, melakukan kolaborasi dengan organisasi lingkungan. Melalui kerja sama dengan organisasi lingkungan nasional maupun internasional, Pemuda Hidayatullah dapat mengakses sumber daya yang lebih luas dan meningkatkan kapabilitas dalam pelestarian lingkungan. Kolaborasi ini juga membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan teknologi yang mendukung kelestarian lingkungan.

Menuju Masa Depan yang Lestari

Gagasan Indonesia Hijau 2045 tidak hanya berarti meningkatkan tutupan hutan atau mengurangi emisi karbon, tetapi lebih dari itu. Konsep ini mencakup paradigma baru dalam pembangunan yang mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan di setiap aspeknya. Hijau dalam Indonesia Hijau 2045 mencakup keseimbangan ekosistem, penggunaan sumber daya alam yang bijaksana, dan penerapan ekonomi sirkular yang mengurangi limbah dan mendorong daur ulang.

Pemuda Hidayatullah perlu menanamkan nilai hijau ini dalam budaya kita sejak dini. Melalui tindakan dan visi Indonesia Hijau 2045, Pemuda Hidayatullah dapat berkontribusi pada terciptanya era kesadaran lingkungan baru, di mana pertumbuhan ekonomi tidak mengesampingkan pelestarian lingkungan. Indonesia yang hijau, lestari, dan makmur akan membawa kita pada keseimbangan yang diidamkan, bukan hanya untuk kita, tetapi juga bagi generasi mendatang.

Selain aksi nyata, Pemuda Hidayatullah juga dapat berperan dalam mendorong kebijakan hijau di tingkat lokal dan nasional termasuk dalam penggunaan teknologi ramah lingkungan seperti panel surya, teknologi daur ulang, dan pengelolaan sampah yang efektif. Dengan menyuarakan kepentingan lingkungan, Pemuda Hidayatullah dapat menjadi bagian dari proses pengambilan kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan alam.

Sebagai generasi penerus yang memegang amanah sejarah, Pemuda Hidayatullah memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga lingkungan. Tugas ini tidak hanya berkaitan dengan tuntutan sosial, tetapi juga amanah spiritual dari Allah untuk melindungi alam semesta yang telah Dia ciptakan.

Melalui kesadaran, tindakan nyata, dan kolaborasi, Pemuda Hidayatullah sejatinya dapat menjadi pelopor dalam mewujudkan Indonesia Hijau 2045, sebuah masa depan yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dan keberlanjutan lingkungan.

Perjuangan Ustadz Abdullah Said dalam melestarikan lingkungan merupakan warisan berharga yang harus dilanjutkan oleh Pemuda Hidayatullah hari ini dan selanjutnya. Melalui visi Indonesia Hijau 2045, Pemuda Hidayatullah diharapkan mampu mengaktualisasikan nilai-nilai pelestarian lingkungan yang tidak hanya menjadi tanggung jawab pribadi tetapi juga komitmen kolektif sebagai bangsa.

Singkatnya, ini adalah amanah sejarah, yang, jika dilakukan dengan sepenuh hati, akan menjadi investasi berharga bagi masa depan bumi kita. Sebagai bangsa yang berlandaskan nilai-nilai luhur dan keimanan, tanggung jawab untuk menjaga lingkungan hidup adalah amanah yang tidak boleh diabaikan.[]

*) Adam Sukiman, penulis adalah Ketua Pengurus Wilayah (PW) Pemuda Hidayatullah Jakarta dan bergiat dalam kampanye lingkungan bersama lembaga kajian dan pengembangan pemuda Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) Indonesia

Komitmen Sinergi Kebaikan dalam Mendukung Dakwah di Sulawesi Utara

0

MANADO (Hidayatullah.or.id) — Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) kembali menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan dakwah di wilayah Sulawesi Utara. Melalui program Wahana Dakwah, MTT menyalurkan dua unit motor guna mendukung mobilitas dai muda dalam menyampaikan nilai-nilai keislaman penuh kedamaian di daerah ini, Kamis, 28 Rabiul Tsani 1446 (31/10/24). Bantuan ini ditujukan untuk mempermudah akses dakwah, khususnya di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau.

Penyerahan simbolis dilakukan di Kantor Telkomsel Manado, dengan Sahrul sebagai perwakilan dari MTT Area Manado yang menyerahkan langsung kepada Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Bantuan tersebut diterima oleh Abdul Wahid Mokodompit, Kepala BMH Perwakilan Sulawesi Utara, sebagai bagian dari dukungan atas program dakwah di daerah tersebut.

Dalam sambutannya, Sahrul menegaskan komitmen MTT dalam berperan serta dalam mencerdaskan bangsa melalui dakwah. “Kami berikan dukungan ini sebagai bentuk kepedulian mencerdaskan bangsa melalui dakwah,” ucapnya.

Dukungan ini diwujudkan dalam bentuk dua unit motor yang nantinya digunakan oleh Ustadz Abdul Karim (24 tahun) dan Ustadz Fakhri Zaki Hardy (20 tahun), dua dai muda yang telah berdedikasi dalam menjalankan misi dakwah di Sulawesi Utara.

Abdul Wahid Mokodompit, mewakili BMH, turut menyampaikan apresiasinya atas kepedulian MTT terhadap inisiatif yang dilakukan oleh BMH.

“Kami sangat senang karena MTT sangat peduli dengan program yang kami tawarkan. Di sisi lain, kami merasa berat menerima motor ini karena ini adalah amanah umat. Kedepan semoga sinergi kebaikan ini terus berjalan dengan baik,” ungkapnya penuh haru.

Melalui sinergi ini, diharapkan para dai muda dapat lebih efektif dalam melaksanakan tugas dakwahnya, terlebih di wilayah-wilayah dengan akses terbatas. Dukungan dari MTT ini menjadi simbol dari upaya kolektif untuk memajukan dakwah dan mencerdaskan bangsa melalui penyebaran nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.*/Herim