Beranda blog Halaman 152

Hadir di Sultra, Kabid Perekonomian Tegaskan Pentingnya Tata Kelola dalam Wujudkan Kemandirian

0

KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Dalam era modern ini, kemandirian ekonomi menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhatikan oleh organisasi, terlebih organisasi Islam yang memiliki visi besar dalam gerakan dakwah dan tarbiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Drs. Wahyu Rahman, MM.

Wahyu menggarisbawahi pentingnya penguatan tata kelola dalam upaya mewujudkan kemandirian organisasi. Hal ini disampaikan dia dalam kunjungannya ke Pondok Pesantren Hidayatullah, Jalan Jenderal AH Nasution, Kambu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Selasa, 12 Rabiul Akhir 1446 (15/10/2024).

“Sebagai organisasi Islam dengan mainstream gerakan dakwah dan tarbiyah, Hidayatullah memiliki cita-cita besar, yaitu membangun peradaban Islam. Cita-cita ini tentu memerlukan dukungan finansial yang kuat,” katanya dalam keterangannya kepada media ini.

Oleh karena itu, terangnya, kemandirian ekonomi tidak hanya dipandang sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan operasional organisasi, tetapi juga sebagai ikhtiar dalam menguatkan gerakan dakwah. Dengan kemandirian ekonomi, organisasi dapat bergerak lebih leluasa tanpa bergantung pada bantuan dari pihak luar.

Wahyu Rahman menegaskan bahwa kemandirian ekonomi tidak mungkin tercapai tanpa penguatan tata kelola. Tata kelola yang baik menjadi fondasi dalam membangun ekonomi yang berkelanjutan.

Dengan tata kelola yang baik, jelasnya, setiap sumber daya dapat dikelola dengan lebih efisien, setiap potensi dapat dioptimalkan, dan setiap risiko dapat diminimalisir.

“Dalam lingkup Hidayatullah, tata kelola ekonomi harus selaras dengan karakter dan corak dari gerakan Hidayatullah itu sendiri, yang memiliki visi besar untuk membangun peradaban Islam,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, kemandirian ekonomi bagi Hidayatullah bukan hanya tentang mendatangkan laba atau meningkatkan omset, melainkan bagaimana dana tersebut dikelola dengan baik dan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

“Pengelolaan yang didasarkan pada prinsip syariah menjadi perhatian utama, sehingga setiap aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh organisasi tidak hanya memberikan keuntungan finansial tetapi juga mendatangkan keberkahan,” terangnya.

Wahyu pun mengapresiasi Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari sebagai salah satu contoh dari implementasi tata kelola yang baik dalam membangun kemandirian ekonominya.

Dengan sinergi bersama Bank Indonesia (BI) di bawah koordinasi Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Tenggara, Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari telah mengambil langkah konkret dalam membangun ekonomi keummatan yang tidak hanya memberikan manfaat bagi pesantren, tetapi juga bagi masyarakat sekitar.

Kiprah Ekonomi Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari

Menurut Saiful, Person in Charge (PIC) Usaha Hidayatullah Kendari, pondok pesantren telah mengelola sejumlah amal usaha, seperti penjualan kambing qurban, layanan aqiqah, hingga produksi pupuk kandang. Amal usaha ini tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan ekonomi pesantren tetapi juga memberikan kontribusi bagi kesejahteraan warga, santri, dan kader.

Dia menyebutkan pada tahun 2024, layanan aqiqah Hidayatullah Kendari tercatat mencapai 1.222 ekor, mengalami kenaikan sekitar 20% dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, penjualan hewan qurban juga menjadi salah satu kegiatan ekonomi yang berkembang.

Saiful menyebutkan, pada tahun 2024, Hidayatullah Kendari berhasil menjual 51 ekor sapi dan 210 ekor kambing. Jumlah ini terus bertumbuh dari tahun ke tahun.

“Kegiatan ekonomi ini tidak hanya bermanfaat bagi pesantren tetapi juga bagi masyarakat luas yang menjadi bagian dari ekosistem ekonomi keummatan yang dibangun oleh Hidayatullah,” katanya.

Untuk mencapai kemandirian ekonomi yang berkelanjutan, diversifikasi usaha menjadi strategi yang diterapkan oleh Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari. Selain usaha penjualan kambing qurban dan layanan aqiqah, pondok pesantren ini juga mulai mengembangkan usaha lain yang memiliki potensi besar untuk menopang kemandirian ekonomi. Salah satunya adalah usaha ritel sembako dan menjadi agen gas elpiji melalui kerjasama dengan Pertamina.

“Usaha ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber pemasukan yang stabil bagi pesantren, mengingat kebutuhan sembako dan gas elpiji yang selalu ada di masyarakat,” ujar Saiful.

Tidak hanya itu, Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari juga mengembangkan rumah potong ayam dan pasar syar’i. Rumah potong ayam diharapkan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat akan daging ayam yang halal dan higienis, sementara pasar syar’i menjadi tempat bagi warga dan santri untuk memasarkan produk-produk kreatif yang mereka hasilkan.

“Ini adalah langkah konkret dalam membangun ekonomi lokal yang berbasis syariah, sekaligus memberikan peluang bagi warga dan santri untuk belajar berwirausaha,” imbuhnya.

Saiful menambahkan bahwa usaha perekonomian anggota dan kader Hidayatullah di Kendari juga terus menggeliat. Salah satu bentuk usaha yang dijalankan adalah mendatangkan produk dari PT Hage Probindo untuk dipasarkan ke komunitas, pasar, dan toko-toko yang ada di Sulawesi Tenggara.

Tantangan Keberlanjutan

Meskipun Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari telah menunjukkan kemajuan dalam membangun kemandirian ekonomi, tantangan masih tetap ada.

Menurut Wahyu, salah satu tantangan utama adalah bagaimana menjaga keberlanjutan usaha yang telah dibangun, terutama dalam menghadapi perubahan pasar dan kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Untuk itu, Wahyu Rahman menyampaikan perlunya terus menerus dilakukan penguatan tata kelola serta menghadirkan inovasi dan kemampuan adaptasi sebagai kunci dalam menghadapi tantangan ini.

Di sisi lain, peluang untuk mengembangkan usaha baru masih terbuka lebar. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar organisasi, Wahyu menilai Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan menjadi contoh bagi pesantren-pesantren lain di Indonesia. (ybh/hidayatullah.or.id)

Tanah Wakaf Hj Nila Dewi di Tanjung Morawa Wujudkan Harapan untuk Pesantren Tahfidz

0

DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) — Suasana haru dan syukur menyelimuti acara serah terima tanah wakaf seluas 2.300 m² yang berlangsung di Aula Kantor Urusan Agama (KUA) Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut), Selasa, 12 Rabiul Akhir 1446 (15/10/2024).

Tanah wakaf ini diserahkan oleh Hj. Nila Dewi kepada Badan Perkumpulan Hidayatullah melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Sumatera Utara, untuk dimanfaatkan sebagai pesantren tahfidz.

Prosesi serah terima dilakukan langsung oleh Hj. Nila Dewi kepada Subur Pramudya, M.Pd., Ketua DPW Hidayatullah Sumut, disaksikan oleh Lukman, S.Ag., Kepala Laznas BMH Sumatera Utara.

Acara diawali dengan arahan dari Kepala KUA Tanjung Morawa, Dr. H. Kamaluddin, yang menekankan pentingnya amanah wakaf dan peran nadzir dalam menjaga serta memanfaatkannya.

“Hidayatullah telah terpercaya dalam mengelola tanah wakaf, dan memiliki rekam jejak yang baik dalam menjalankan amanah ini,” ungkapnya.

Tanah wakaf tersebut telah dilengkapi dengan musholla, asrama, rumah, toilet, gazebo, dan kolam ikan. Dengan mata berkaca-kaca, Hj. Nila Dewi menyatakan, “Harta ini milik Allah, dan saya hanya perantara. Semoga ini menjadi ladang amal kita semua dan difungsikan untuk pesantren tahfidz,” tuturnya.

Lukman menjelaskan, “Serah terima wakaf ini dilakukan di KUA agar tercatat secara resmi dan disaksikan oleh perangkat pemerintah yang berwenang. Ikrar wakafnya sudah tuntas,” ujarnya.

Rencananya, tanah wakaf ini akan digunakan untuk membangun pesantren tahfidz bagi anak yatim dan dhuafa, kelompok yang membutuhkan akses pendidikan.

Acara tersebut juga dihadiri oleh pengurus harian DPW Hidayatullah Sumut dan DPD Hidayatullah Deli Serdang, termasuk Isa Abdul Barry, Samsul Hadits, dan Pathunnur. Diharapkan, pesantren tahfidz ini dapat melahirkan generasi yang berkualitas, berkontribusi bagi masyarakat, dan siap menghadapi tantangan zaman.*/Herim

Kemarau Panjang, Ikhtiar Ajak Hadirkan Sumur untuk Santri Tahfidz Putri di Maros

0

MAROS (Hidayatullah.or.id) — Cuaca panas ekstrem melanda Maros, dengan suhu mencapai 41 derajat, membuat warga, termasuk santri di wilayah ini semakin merasakan dampak kemarau. Kemarau panjang sejak Juni 2024.

Sumur bor sedalam 14 meter yang menjadi sumber air di Ponpes Daarul Hijrah Tanralili Maros pun terdampak yang kerap mengering, terutama pada bulan Oktober. Hal ini memaksa para santri putri untuk mengantri air lebih lama.

Aisyah, santri asal Palu yang telah menghafal Al-Qur’an lima juz, mengungkapkan betapa sulitnya situasi tanpa air.

“Kadang kami tidak bisa mandi atau mencuci pakaian dengan bersih karena kekurangan air,” ujarnya, seperti dalam keterangannya diterima media ini, Selasa, 12 Rabiul Akhir 1446 (15/10/2024).

Kebutuhan air di pesantren ini juga harus dibagi dengan warga sekitar dan masjid, sehingga sumur kecil yang ada tidak lagi mencukupi bagi 36 santri yang tinggal di sana.

Ustadz Muhammad Rubianto, pengasuh pondok, menyampaikan pentingnya memiliki sumur bor baru yang lebih dalam.

“Kami sangat membutuhkan sumur tambahan agar kesehatan santri terjaga dan kebutuhan air bersih terpenuhi,” jelasnya.

Sumur Bor BMH Alirkan Kebaikan hingga ke Pelosok

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) telah sukses menjalankan program sumur bor bersama kiprah umat dan elemen bangsa.

Dengan dukungan donatur, Laznas BMH telah menyelesaikan pembangunan 11 titik sumur bor di Sulawesi Selatan, yang kini mengalirkan air bersih ke rumah-rumah, pondok pesantren, dan masjid.

Namun, perjuangan belum usai. Di Jeneponto, santri tahfidz Auladi menghadapi kekeringan yang sama setiap tahun. BMH mengajak para dermawan untuk turut membantu menyediakan sumur bor, demi mendukung kegiatan dan kesehatan para santri tahfidz di wilayah tersebut.

“Untuk satu sumur bor ini, mari kita hadirkan untuk anak-anak santri penerus kemajuan negeri ini,” tutup Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Sulsesl, Basori Shabirin.*/Herim

Penyaluran Logistik untuk Santri Ponpes Darul Ikhwan di Serang Banten

0

BANTEN (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) melaksanakan program Sedekah Beras untuk Pondok Pesantren Darul Ikhwan di Lingkungan Ciemas, Kelurahan Tinggar, Kecamatan Curug, Kota Serang, Banten, Selasa, 12 Rabiul Akhir 1446 (15/10/2024).

Bantuan itu disambut dengan syukur oleh santri dan pengurus pondok yang selama ini menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Pondok Pesantren Darul Ikhwan, yang berfokus pada pendidikan agama melalui kitab kuning dan hafalan Al-Quran, menampung santri dari kalangan dhuafa.

Tanpa memungut biaya, pondok ini mengandalkan dukungan dari donatur untuk memenuhi kebutuhan pokok. Selama ini, para santri sering kekurangan beras, bahkan harus mencari upah panen di sawah agar bisa memperoleh bahan pangan.

Ustadz Misri, pimpinan pesantren, mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan beras dari BMH ini.

“Alhamdulillah, terima kasih kepada para donatur Laznas BMH. Semoga sedekah beras ini menjadi amal jariyah yang berlimpah pahala,” ujarnya.

Salah satu santri, Muhammad Maulana, juga menyampaikan kebahagiaannya. “Kami kini tidak perlu khawatir kehabisan beras. Orang tua pun bisa tenang karena di rumah mereka juga sedang kesulitan,” tuturnya dengan senyum.

Roni Hayani, Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Banten, menegaskan bahwa program ini bertujuan untuk meringankan beban santri dan memastikan mereka bisa terus belajar tanpa khawatir soal makanan.

Bantuan beras ini bukan sekadar langkah karitatif untuk memenuhi kebutuhan hari ini, melainkan anak tangga yang mengantarkan para santri menuju masa depan yang lebih cerah.

Kata Roni, dengan pangan yang cukup, para santri dapat fokus belajar dan mengembangkan diri, tumbuh menjadi generasi unggul yang siap berkontribusi bagi bangsa.

“Saat mereka berhasil dan memberikan dampak positif di masyarakat, akan semakin jelas bahwa zakat, infak, dan sedekah memainkan peran vital dalam pembangunan manusia yang berkelanjutan,” tutup Roni.*/Herim

Perjalanan Majukan Pendidikan Menebar Cahaya Al-Qur’an di Pelosok Halmahera

0

HALMAHERA (Hidayatullah.or.id) –– Tim dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) baru saja menyelesaikan misi penting ke pulau-pulau terpencil di Halmahera Selatan.

Selama empat hari, mereka menempuh perjalanan panjang untuk menyalurkan Al-Qur’an dan buku Iqro ke daerah-daerah yang selama ini sulit diakses.

Mulai dari 11 hingga 14 Oktober, tim harus menyeberangi lautan dengan kapal, bahkan harus menunggu jadwal yang tak menentu, demi memastikan setiap mushaf sampai di tangan yang membutuhkan.

Salah satu titik distribusi adalah Desa Pasimbaos di Pulau Obib, Kecamatan Kepulauan Botang Lomang, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Setelah menyeberangi lautan, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh satu jam menuju desa yang berada jauh dari hiruk-pikuk kota ini.

Setibanya di sana, tim menyampaikan bantuan berupa 200 mushaf Al-Qur’an dan 100 buku Iqro yang dibagikan ke beberapa pulau di Halmahera Selatan, termasuk Pulau Bacan, Pulau Obib, dan Subaim di Pulau Halmahera.

Menurut Kepala BMH Perwakilan Maluku Utara, Nur Hadi, meskipun jumlahnya masih belum seberapa dibanding kebutuhan umat di titik titik jauh dan daerah yang belum tersentuh lainnya, bantuan ini diharapkan dapat meningkatkan semangat belajar mengaji di kalangan anak-anak di daerah pelosok.

“Alhamdulillah, bantuan ini telah tersalurkan. Kami berharap anak-anak semakin termotivasi dalam belajar agama, terutama di daerah-daerah yang sulit mendapatkan mushaf,” ujarnya.

Kegembiraan akan bantuan ini terlihat dari ucapan Pak Ardi, seorang pengajar di Pulau Bacan. Baginya, perjalanan yang selama ini sulit untuk mendapatkan mushaf Al-Qur’an kini sedikit lebih mudah.

“Anak-anak di sini harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan Al-Qur’an. Dengan adanya bantuan ini, insya Allah semangat mereka untuk mengaji akan semakin meningkat,” ungkapnya penuh syukur.

Tak hanya di Bacan, di Desa Cemara Jaya, seorang ustadz bernama Aziz menyambut kedatangan tim dengan wajah penuh rasa syukur. Anak-anak santrinya yang berasal dari keluarga dhuafa tak bisa menyembunyikan kegembiraan saat menerima mushaf baru.

“Al-Qur’an ini menjadi motivasi bagi mereka untuk menghafal. Program mengaji ini sangat penting bagi anak-anak santri di Subaim, terutama bagi yang kurang mampu,” tutur Ustadz Aziz.

Melalui perjalanan panjang dan penuh tantangan ini, BMH berkomitmen untuk terus menjangkau pelosok demi memperkuat pendidikan Islam di Halmahera Selatan. Bagi masyarakat yang berada di daerah terpencil, setiap mushaf yang mereka terima adalah harapan baru untuk masa depan yang lebih baik.*/Herim

Hidayatullah dan Revitalisasi Peran Muballigh dalam Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

0

PERAN muballigh dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sangatlah penting. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, muballigh terus menjadi garda terdepan dalam menyebarkan nilai-nilai Islam, membangun akhlak yang baik, serta mencerdaskan masyarakat melalui pendidikan agama.

Bukan hanya sebagai penyampai ajaran agama, peran muballigh kini juga menjadi agen perubahan sosial yang berperan penting dalam memperkuat kesadaran berbangsa dan bernegara.

Hidayatullah merupakan salah satu organisasi Islam yang secara konsisten mengembangkan peran muballigh. Berdiri pada tanggal 1 Muharram 1393 Hijriah atau 5 Februari 1973, Hidayatullah awalnya adalah sebuah pesantren yang berlokasi di Karang Bugis, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Visi besar Hidayatullah sejak awal berdiri adalah mencetak generasi umat Islam yang tangguh secara akidah, berakhlak mulia, serta memiliki kecakapan intelektual yang mumpuni untuk menghadapi berbagai persoalan zaman.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Hidayatullah merintis sebuah program pendidikan khusus yang disebut Kuliah Muballigh dan Muballighat (KMM). Program ini dirancang untuk mencetak muballigh dan muballighat (pendakwah perempuan) yang memiliki kompetensi dalam berbagai bidang keilmuan Islam, serta kemampuan dakwah di masyarakat.

Program KMM ini kemudian berhasil melahirkan para pendakwah yang berkomitmen untuk mengabdi, khususnya di daerah-daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) Indonesia, wilayah-wilayah yang sering kali terisolasi dari akses pendidikan formal dan agama.

Pencerdasan yang Holistik

Daerah tertinggal, terdepan, dan terluar sering kali mengalami kesenjangan akses terhadap pendidikan, baik pendidikan formal maupun agama. Kehadiran para muballigh dan muballighat yang dididik melalui KMM kala itu menjadi sangat strategis.

Mereka mengabdikan diri di berbagai pelosok negeri untuk mencerdaskan generasi bangsa melalui pendidikan agama dan pembinaan moral. Langkah ini sejalan dengan amanat pembukaan UUD 1945 alinea keempat, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai tujuan kita bernegara.

Hidayatullah memahami bahwa upaya mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hanya tugas negara, tetapi juga bagian dari tanggung jawab umat Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Dan hendaklah di antara kalian ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

Ayat ini menjadi salah satu landasan bagi para muballigh dan muballighat untuk mengambil peran dalam dakwah, khususnya dalam ikhtiar mencerdaskan masyarakat, mendidik akhlak, dan membimbing generasi muda agar tumbuh dengan keimanan dan pengetahuan yang kuat. Rasulullah juga bersabda dalam sebuah hadis:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau satu ayat” (HR. Bukhari).

Hadis ini menunjukkan bahwa setiap Muslim memiliki kewajiban untuk menyampaikan kebenaran dan mengajarkan ilmu, meskipun hanya sedikit. Muballigh, dalam hal ini, menjadi penyalur utama ilmu agama kepada masyarakat luas.

Kursus Muballigh Profesional

Seiring perkembangan zaman, kebutuhan akan dakwah juga semakin kompleks. Jika pada masa lalu muballigh hanya fokus pada penyampaian ajaran agama secara tradisional, kini mereka juga diharapkan memiliki pemahaman yang mendalam tentang berbagai isu sosial, ekonomi, dan politik yang dihadapi umat. Selain itu, kemampuan komunikasi dan teknologi informasi menjadi krusial dalam menjalankan peran dakwah di era digital.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Hidayatullah melalui Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) kini menggulirkan program bernama “Kursus Muballigh Profesional”. Program ini merupakan bagian dari upaya revitalisasi peran muballigh, agar mereka tidak hanya fasih dalam menyampaikan ajaran agama, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi dan media modern dalam dakwahnya.

Kursus ini mencakup berbagai pelatihan, mulai dari retorika dakwah, manajemen konflik sosial, hingga penguasaan teknologi informasi yang diperlukan untuk menyebarkan pesan-pesan dakwah secara efektif tidak hanya di atas mimbar secara luring tetapi juga diharapkan dapat diaktualisasi di dunia maya.

Dengan adanya kursus ini, diharapkan lahir generasi muballigh yang mampu menjawab kebutuhan zaman, tanpa meninggalkan akar-akar tradisi dakwah yang selama ini menjadi landasan dalam mencerdaskan umat.

Sejak berdirinya, Hidayatullah selalu menempatkan pendidikan sebagai poros utama dalam gerakan dakwahnya. Melalui sistem pendidikan integral yang menggabungkan kurikulum formal dengan pendidikan keagamaan, pesantren-pesantren Hidayatullah di berbagai daerah telah berperan aktif dalam mencetak generasi muda yang cerdas secara intelektual dan kuat secara moral.

Dalam pada itu, peran muballigh bukan hanya sekadar menyampaikan ceramah di masjid-masjid atau majelis taklim, tetapi juga menjadi pengajar di lembaga-lembaga pendidikan atau rumah rumah Qur’an yang didirikan oleh Hidayatullah. Mereka berperan sebagai guru, mentor, pendamping, dan juga teladan bagi para santri yang kelak akan menjadi penerus perjuangan dakwah dan pencerdasan bangsa.

Menyentuh Aspek Spiritual dan Sosial

Muballigh dan muballighat yang dilahirkan oleh KMM tidak hanya sekadar mendidik dalam ruang lingkup lokal. Mereka diutus ke pelosok-pelosok negeri, bahkan ke wilayah yang jauh dari pusat peradaban, untuk memberikan pendidikan agama dan moral bagi masyarakat.

Daerah-daerah pedalaman yang jarang tersentuh pendidikan agama formal menjadi target utama dari program ini. Di sanalah, para pendakwah ini berjuang untuk mencerdaskan masyarakat yang sering kali jauh dari akses pendidikan.

Contoh nyata adalah keberadaan para muballigh di wilayah-wilayah terpencil di Papua, Nusa Tenggara, dan berbagai wilayah rentan lainnya di Indonesia. Mereka mendidik generasi muda di sana agar memiliki dasar keimanan yang kuat dan pengetahuan agama yang cukup untuk menjalani kehidupan mereka.

Tantangan yang dihadapi oleh para muballigh di daerah-daerah ini sangat berat. Keterbatasan infrastruktur, jarak yang jauh, serta akses yang sulit tidak menyurutkan semangat mereka. Justru di situlah semangat pengabdian mereka semakin diuji dan diperkuat.

Dengan semangat dakwah yang tulus, mereka mampu meraih kepercayaan masyarakat setempat dan secara bertahap memberikan perubahan positif dalam kehidupan sosial dan keagamaan di daerah-daerah tersebut.

Sebagaimana tertuang dalam ajaran Islam, mencerdaskan umat tidak dapat dipisahkan dari proses dakwah. Nabi Muhammad SAW sendiri diutus untuk memperbaiki akhlak manusia dan memberikan petunjuk kehidupan melalui wahyu yang diterima dari Allah SWT.

Maka dalam kerangka ini, peran muballigh adalah meneruskan misi kenabian tersebut, yaitu menyebarkan ajaran Islam, membimbing umat, dan mencerdaskan mereka melalui ilmu agama.

Dalam QS. Al-Jumu’ah ayat 2, Allah berfirman:

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Ayat ini menegaskan bahwa salah satu tujuan utama dakwah adalah mencerdaskan umat dengan ilmu yang benar, yakni ilmu yang bersumber dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul. Melalui pendidikan berbasis dakwah inilah, umat Islam dapat keluar dari kebodohan dan kesesatan, serta menjalani kehidupan yang lebih baik.

Tantangan di Era Digital

Di era digital seperti sekarang, dakwah dan pendidikan menghadapi tantangan yang tidak kalah besar dibandingkan dengan era-era sebelumnya, katakanlah seperti di masa KMM dulu. Arus informasi yang sangat cepat dan masif dapat membawa dampak positif maupun negatif bagi masyarakat, tergantung dari bagaimana masyarakat menyikapinya.

Di satu sisi, dengan kemajuan yang ada dakwah dapat dilakukan dengan lebih mudah melalui platform-platform digital. Di sisi lain, munculnya informasi yang tidak valid atau bahkan sesat bisa merusak pemahaman agama masyarakat.

Di sinilah pentingnya peran muballigh yang cerdas dan bijak dalam menyampaikan dakwah. Mereka harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, memanfaatkan teknologi untuk dakwah, serta tetap menjaga kemurnian ajaran Islam.

Hidayatullah dengan program Kursus Muballigh Profesional telah mengambil langkah konkret untuk mempersiapkan para muballigh agar lebih siap dalam menghadapi tantangan era digital ini.

Revitalisasi peran muballigh bukan hanya sekadar peningkatan kompetensi dalam menyampaikan ceramah atau khutbah. Ini adalah upaya menyeluruh untuk mengokohkan kembali peran muballigh sebagai agen perubahan sosial, sebagai pendidik yang mencerdaskan generasi bangsa.

Dengan adanya revitalisasi ini, Hidayatullah berharap bahwa muballigh dan muballighat akan tetap relevan dengan perkembangan zaman, dan terus menjadi garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dakwah yang dilakukan bukan hanya dalam konteks keagamaan semata, tetapi juga dalam mencerdaskan masyarakat dalam arti yang lebih luas, yaitu memberikan pemahaman yang benar tentang agama, moralitas, dan tanggung jawab sosial.

Sebagaimana amanat konstitusi, mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu tujuan utama negara Indonesia. Dan dalam kerangka ini pula, peran muballigh menjadi sangat krusial. Melalui dakwah yang cerdas, berakhlak, dan berwawasan luas, mereka dapat menjadi pilar utama dalam membangun bangsa yang cerdas dan bermoral.

Alhasil, revitalisasi peran muballigh adalah sebuah keharusan agar gerakan dakwah tetap sinambung dan senatiasa relevan dengan kebutuhan zaman.

Sebagai umat Islam, kita semua memiliki tanggung jawab untuk berperan dalam dakwah, sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 125:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”.

Melalui dakwah yang penuh hikmah dan pendidikan yang mencerdaskan, kita berharap agar bangsa ini menjadi bangsa yang cerdas, beriman, berakhlak mulia, berperadaban mulia, serta bertumbuh sebagai negeri yang subur dan makmur yang diliputi keberkahan Ilahi, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.[]

*) Iwan Abdullah, M.Si, penulis adalah Direktur Korps Muballigh Hidayatullah (KMH)

Halaqah Kubro Hidayatullah Jateng Bekali Penggerak Dakwah dan Pendidikan di Masyarakat

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Tengah menggelar Halaqah Kubro selama 2 hari yang berlangsung di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), yang terletak di Jl. Kyai Mojo, Srondol Kulon, Kec. Banyumanik, Kota Semarang, dimulai pada Sabtu, 9 Rabiul Akhir 1446 (12/10/2024).

Halaqoh Kubro ini dihadiri oleh ratusan kader utusan dari berbagai daerah Jawa Tengah yang penuh semangat mengikuti setiap sesi kegiatan.

Halaqoh Kubro menjadi salah satu agenda tahunan terpenting bagi Hidayatullah Jawa Tengah dalam rangka membekali para kader penggerak dakwah dan pendidikan, seperti yang disampaikan oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Tengah, Ust. Ahmad Ali Subur. Menurutnya, acara ini bertujuan sebagai ajang silaturrahim dan penguatan spiritual bagi para kader.

“Sebagai organisasi yang berbasis pada dakwah dan tarbiyah, Hidayatullah sangat menekankan pentingnya penguatan spiritual dan moral para kader,” jelas Ali Subur.

Di tahun ini, kegiatan diikuti oleh perwakilan dari berbagai daerah di Jawa Tengah, menjadikan momen tersebut sebagai sarana bertukar pengalaman dan memperkuat ikatan emosional serta kebersamaan antar kader.

Penguatan Spiritual dalam Dakwah

Ali Subur lebih lanjut menjelaskan bahwa Halaqoh Kubro ajang untuk memperkuat hubungan antar-kader dan sarana untuk memperdalam pemahaman spiritual. Hidayatullah, yang berfokus pada dakwah dan tarbiyah, kata dia, sangat menekankan perlunya penguatan spiritual bagi setiap kadernya.

“Di era seperti sekarang, menjaga kestabilan spiritual sangat penting bagi seorang kader yang berperan sebagai penggerak dakwah dan pendidikan di masyarakat,” tegas Ali Subur.

Oleh karena itu, acara ini bertujuan untuk membekali para kader dengan keteguhan spiritual dan mental, sehingga mereka mampu menghadapi berbagai rintangan dalam perjalanan dakwah. Dengan mengedepankan aspek spiritualitas, para kader diharapkan bisa menjadi teladan yang baik di masyarakat, memancarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Terus Meningkatkan Pemahaman Islam

Selain itu, Halaqoh Kubro kali ini juga menjadi momentum penting bagi pelaksanaan pendalaman Materi Bayani. Untuk Halaqoh Ula, para peserta mendalami 50 Jadwal Bayani, sementara Halaqoh Wustho membahas 60 Jadwal Bayani.

Materi Bayani ini berfungsi sebagai panduan komprehensif dalam menjalankan ibadah, dakwah, dan tanggung jawab sosial sehari-hari. Dengan demikian, halaqah ini juga menjadi ajang evaluasi dan penyegaran bagi para kader agar tetap konsisten dalam mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah, Ust. H. Sholih Hasyim menekankan bahwa sebagai kader dakwah, penting untuk menjaga nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat yang terus berubah.

“Konsistensi dalam menjalankan amanah dakwah dan pendidikan merupakan kunci untuk tetap relevan dan berpengaruh di masyarakat,” ujarnya dalam salah satu sesi taushiahnya.

Sholih Hasyim juga menyampaikan arahan-arahan konkret mengenai bagaimana para kader dapat meningkatkan kualitas spiritual mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Penguatan spiritualitas yang dibangun melalui halaqah ini diharapkan mampu membentuk kader-kader yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki keteguhan iman yang kuat.

Di samping kegiatan utama halaqah, acara ini juga menjadi ajang penting bagi para kepala sekolah integral Hidayatullah se-Jawa Tengah untuk memperkuat sinergi dalam pengelolaan pendidikan.

Dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah Integral (MKKSI) yang diselenggarakan bersamaan, dibahas langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah-sekolah Hidayatullah.

Pertemuan ini menjadi forum yang penting untuk rumuskan kebijakan yang selaras dengan visi dan misi Hidayatullah dalam bidang pendidikan.

Rapat tersebut membahas berbagai kebijakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengelolaan sekolah, sehingga para siswa di sekolah-sekolah Hidayatullah dapat tumbuh menjadi generasi yang berkarakter islami dan berdaya saing tinggi.*/Muhammad Dwi Eviq Erwiandy

Simpul Sinergi Berdayakan Mustahik Kampung Zakat Melalui Bantuan Ternak Domba

0

TUBAN (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) bekerja sama dengan simpul sinergi Kementerian Agama (Kemenag) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Tuban menyalurkan bantuan hewan ternak berupa domba kepada kelompok mustahik di Kampung Zakat, Desa Jatimulyo, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, beberapa waktu lalu, 7 Rabiul Akhir 1446 (10/10/2024).

Program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dan meningkatkan taraf ekonomi para mustahik melalui pengembangan usaha ternak domba.

Hadirnya bantuan ini, diharapkan dapat membawa kemajuan terhadap kehidupan ekonomi mereka. Kedepan mereka semakin sejahtera, mandiri, dan berkelanjutan.

Ngaji, salah satu penerima manfaat mengungkapkan rasa syukur dan harapannya atas bantuan tersebut.

“Alhamdulillah, dengan bantuan ini, kami semakin bersemangat untuk memulai usaha ternak. Terima kasih kepada BMH, Kemenag, dan Baznas yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk meningkatkan taraf hidup,” ujarnya.

Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Timur, Imam Muslim, menyatakan bahwa program ini merupakan bentuk nyata dari upaya kolaboratif dalam memberdayakan mustahik di Kampung Zakat.

“Melalui program bantuan hewan ternak ini, kami berharap kehidupan ekonomi para mustahik dapat meningkat dan mereka mampu menjadi lebih mandiri secara finansial, bahkan kelak bisa menjadi muzakki,” jelas Imam Muslim.

Pemberian bantuan ini juga sejalan dengan visi Kampung Zakat yang mengedepankan pemberdayaan masyarakat berbasis zakat, infak, dan sedekah. Untuk memastikan program berjalan dengan baik dan memberikan hasil optimal, para mustahik akan didampingi secara berkelanjutan.*/Herim

Waspada Jebakan Pinjol dan Paylater Kalangan Anak Muda dengan Literasi Keuangan

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Maraknya kasus jeratan pinjaman online (pinjol) dan paylater di kalangan anak muda terutama mahasiswa dan pelajar mendorong Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) untuk turun tangan.

Laznas BMH yang menggandeng Pemuda Hidayatullah menggelar diskusi literasi keuangan bertajuk “Bahaya Pinjol dan Paylater” di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Sabtu, 9 Rabiul Akhir 1446 (12/10/24).

Diskusi ini menghadirkan Dr. H. Nasrullah Sapa, pakar ekonomi Islam dan dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, sebagai pembicara.

Nasrullah menyoroti fenomena rendahnya literasi keuangan di kalangan masyarakat yang menjadi salah satu faktor penyebab banyaknya korban pinjol dan paylater.

“Menurut studi, banyak pelaku awalnya meminjam untuk membayar hutang atau memenuhi kebutuhan yang mendesak, lalu karena sumber penghasilan terbatas dan pengeluaran besar, mereka meminjam lagi, sementara bunga yang ditetapkan sangat tinggi,” ujar Nasrullah.

Ia juga menjelaskan bahwa overkonsumsi dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi dan menimbulkan ketidakseimbangan ekosistem.

“Sekali terjebak pinjol dan tidak bijak dalam menerapkan keuangan, maka perlu upaya kuat untuk melepasnya,” tegasnya.

Untuk mencegah mahasiswa dan pelajar terjerat pinjol dan paylater, Nasrullah memberikan beberapa solusi, di antaranya, hindari FOMO atau Fear of Missing Out.

Fomo adalah istilah masalah mental dimana seseorang selalu terbawa dengan perasaan cemas atau takut ketinggalan momen, interaksi sosial, tren, atau kesempatan yang sedang terjadi.

“Jangan mudah tergoda untuk mengikuti tren atau gaya hidup yang tidak sesuai dengan kemampuan keuangan,” tegasnya.

Kemudian prioritaskan kebutuhan, bukan gaya hidup. Bedakan mana yang merupakan kebutuhan pokok dan mana yang hanya sekadar keinginan.

“Lalu, berjuanglah untuk bersyukur. Karena rasa syukur dapat mencegah sikap konsumtif dan menghargai apa yang telah diperoleh,” terang Nasrullah.

Diskusi ini merupakan rangkaian Bulan Ekonomi Syariah yang digagas oleh Bank Indonesia (BI) dan diselenggarakan atas kerjasama BMH dengan Pemuda Hidayatullah Sulsel.

Risiko Kemudahan Akses Keuangan Digital

Abdurrahman Sibghatullah, ketua Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Sulsel, menilai maraknya kasus jeratan pinjaman online dan fenomena paylater di kalangan anak muda, khususnya mahasiswa dan pelajar, telah menjadi isu yang mendesak.

Fenomena ini menurutnya tidak hanya menandai lemahnya literasi keuangan di kalangan generasi muda, tetapi juga memperlihatkan ketidaksiapan mereka dalam menghadapi kemudahan akses keuangan digital.

Keadaan ini mendorong pihaknya yang bekerjasama dengan Laznas BMH untuk mengambil langkah proaktif dalam mengatasi permasalahan ini.

Dia menegaskan, pentingnya pemahaman keuangan yang baik, terutama dalam konteks pengelolaan utang dalam aspek syariah, tidak dapat diabaikan.

Selain itu, ketidaktahuan mengenai bunga pinjaman yang tinggi dan risiko denda keterlambatan menyebabkan korban judol ini akhirnya terjebak dalam siklus utang yang merusak kesejahteraan mereka.

“Melalui upaya edukasi keuangan yang dilakukan ini, diharapkan generasi muda tidak hanya meningkatkan pengetahuan pribadi, tetapi juga menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga dan komunitas mereka,” kata pria yang karib disapa Bang ARS ini.

Transformasi pengetahuan keuangan ini jelas dia sangat relevan dalam membangun masyarakat yang lebih sadar akan bahaya dan dampak buruk dari pinjaman online dan paylater, yang sering kali disertai praktik ribawi serta ancaman bagi stabilitas ekonomi pribadi.

Sementara itu, Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Sulsel, Basori Shabirin, menambahkan, upaya ini tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga preventif, dalam rangka membantu generasi muda untuk memiliki kecakapan dalam mengambil keputusan finansial yang bijaksana dan bertanggung jawab.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan menguatkan ekonomi syariah di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda,” tutur Basori Shabirin.*/Herim

Rakerwil Pemuda Hidayatullah Sulsel Kukuhkan Nilai-nilai Moral dan Keilmuan

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan mengadakan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) selama 2 hari berlangsung di Aula Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Makassar dibuka pada Sabtu, 9 Rabiul Akhir 1446 (12/10/24). Rakerwil kali ini mengusung tema besar “Konsolidasi Progresifitas Pemuda yang Beradab Menuju Indonesia Emas”.

Ketua Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan, Abdurrahman Sibghatullah, dalam sambutannya mengungkapkan fokus pengurusan periode 2024-2025 yang ia pimpin fokus pada dakwah kampus dan tarbiyah literasi.

“Visi ini merefleksikan tekad Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan untuk mengukuhkan nilai-nilai moral dan keilmuan di tengah pemuda sebagai jalan menuju cita-cita besar bangsa,” katanya.

Langkah strategis Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan ini dalam rangka menjawab tantangan zaman digital, di mana informasi begitu cepat tersebar tetapi tidak diimbangi dengan kedalaman literasi yang memadai.

“Peran dakwah kampus menjadi sangat vital mengingat kampus adalah tempat berkumpulnya pemuda yang kritis dan siap menghadapi perubahan,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, pada era globalisasi dan digitalisasi seperti sekarang, literasi bukan hanya terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi mencakup kemampuan memahami, mengkritisi, dan memanfaatkan informasi untuk kepentingan yang lebih luas.

Karena itu, terang dia, melalui tarbiyah literasi, diharapkan para pemuda tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen informasi yang dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat.

“Dengan menghidupkan kembali budaya Iqra’, Pemuda Hidayatullah ingin memastikan bahwa kader-kader muda tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan keilmuan yang memadai,” katanya.

Dia memaparkan bahwa Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan, dan seruan untuk membaca ini bukan sekadar membaca teks, tetapi memahami realitas dunia dengan hikmah. Dengan demikian, dia menegasan, program tarbiyah literasi yang dicanangkan oleh Pemuda Hidayatullah Sulsel memiliki landasan yang kuat dalam ajaran Islam itu sendiri.

Dalam pada itu, pria lulusan Universitas Internasional Afrika (Jami’ah Ifriqiyā al-‘Ālamiyyah) Khartoum, Sudan, yang biasa disapa Bang ARS ini menekankan pentingnya kolaborasi antara Pemuda Hidayatullah dengan institusi lain, baik internal maupun eksternal, dalam mewujudkan visi dan misi ini.

Kolaborasi ini, dijelaskan ARS, menjadi krusial di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks dan membutuhkan sinergi dari berbagai pihak untuk menghadapi tantangan globalisasi, sekularisasi, dan tantangan ideologis lainnya.

Disamping itu, Bang ARS menyoroti progresifitas peran pemuda dalam proses menuju Indonesia Emas menjadi sangat strategis, mengingat besarnya populasi pemuda yang memegang peranan penting dalam ekonomi, politik, dan budaya. Namun, progresifitas yang dimaksud bukan hanya semangat bergerak maju, melainkan progresifitas yang beradab—pemuda yang maju tetapi tetap menjunjung tinggi nilai-nilai moral, agama, dan budaya.

“Gerakan progresif beradab ini bisa diurai melalui teori-teori pembangunan yang menekankan pentingnya pembangunan moral dan karakter selain pembangunan material,” imbuhnya.

Dorongan untuk Berinovasi dan Kreatif

Rakerwil Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan kali ini didampingi oleh Haniffudin Abraham Chaniago dari Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah. Dalam arahannya, Haniffudin mengharapkan PW Pemuda Hidayatullah Sulsel dapat lebih inovatif dan kreatif dalam merencanakan program-programnya.

“Kreativitas dan inovasi menjadi kunci dalam menjalankan program-program yang tidak hanya relevan tetapi juga menarik minat pemuda,” kata Haniffudin dalam arahahannya.

Haniffudin menjelaska, inovasi dalam dakwah dan pendidikan sangat dibutuhkan, mengingat cara-cara konvensional mungkin tidak lagi efektif dalam menjangkau generasi muda yang tumbuh di era digital.

Selain itu, kebutuhan untuk menyelenggarakan kegiatan yang progresif dan inovatif, seperti Latihan Kepemimpinan Tingkat Tinggi (LTC), akan membantu membangun kapasitas para kader, baik dalam hal kepemimpinan maupun dalam hal intelektual.

Dalam sambutannya, Ustadz Rezkyaman, yang mewakili Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, menyampaikan pentingnya meneladani gerakan dakwah para nabi.

Dakwah adalah tugas mulia yang dilakukan oleh setiap nabi dengan karakteristik yang berbeda-beda, namun semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu menyampaikan kebenaran kepada umat manusia.

Dalam konteks pemuda Hidayatullah, teladan dari para nabi ini bisa diambil dalam bentuk strategi dakwah yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi zaman. Misalnya, Nabi Musa yang berani menghadapi tirani Firaun, atau Nabi Isa yang penuh kelembutan dalam menghadapi umatnya.

“Setiap nabi memiliki karakteristik yang unik dalam berdakwah, tetapi mereka semua memiliki keteguhan iman yang menjadi pelajaran penting bagi para pemuda Hidayatullah,” pesannya.

Ustadz Rezkyaman menambahkan, gerakan dakwah ini bukan hanya tentang menyampaikan kebenaran secara lisan, tetapi juga dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan menjadikan para nabi sebagai teladan, kata dia, Pemuda Hidayatullah diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang berani dan cerdas dalam menghadapi tantangan zaman.

Pada kesempatan rangkaian acara Rakerwil ini juga digelar sesi literasi keuangan dengan tema “Bahaya Pinjol dan Paylater.” Sesi ini menghadirkan Dr. Nasrullah Sapa, Lc. MA., yang juga Ketua DPD Makassar dan Dosen UIN Alauddin. Tema ini diangkat sebagai respon terhadap maraknya penggunaan pinjaman online (pinjol) dan fasilitas paylater di kalangan generasi muda, yang dianggap meresahkan.

Dr. Nasrullah mengingatkan bahwa literasi keuangan sangat penting agar pemuda tidak terjebak dalam pola konsumtif yang berlebihan, terperangkap dalam jeratan riba pinjol yang berpotensi merusak masa depan mereka dan bisa mengelola keuangannya dengan bijak.*/Aditya