Beranda blog Halaman 153

Semarak Peringatan Hari Santri di Lapas Nusakambangan Tumbuhkan Semangat dan Persaudaraan

0

CILACAP (Hidayatullah.or.id) — Semarak kebaikan terasa di Lapas Kelas IIA Kembangkuning Nusakambangan Cilacap dengan adanya pelaksanaan berbagai kegiatan perlombaan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2024.

Sejak 7 Oktober hingga 21 Oktober, lembaga-lembaga simpul sinergi seperti Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Islamic Medical Service (IMS), Majelis Taklim Telkomsel (MTT), PosDai, dan beberapa mitra lainnya turut serta menyelenggarakan serangkaian perlombaan yang diikuti dengan antusias oleh para warga binaan.

Momentum Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober, membawa misi besar untuk memperkenalkan dan menggemakan syiar Islam di kalangan masyarakat luas, khususnya di lembaga pemasyarakatan. Kegiatan ini tak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana membangun solidaritas, hiburan, serta media bagi warga binaan untuk mengembangkan bakat mereka dalam suasana penuh semangat.

Ustadz Hasan Makarim, seorang rohaniawan yang dikenal telah lama malang melintang dalam dalam pembinaan spiritual warga binaan, memberikan apresiasi yang tinggi atas pelaksanaan berbagai perlombaan ini. Menurutnya, kegiatan tersebut mengandung nilai-nilai penting dalam meningkatkan semangat religius dan moral di lingkungan lapas.

“Perlombaan ini menjadi wahana untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan dan memperkuat hubungan persaudaraan antar sesama warga binaan. Selain itu, momen ini merupakan sarana mensosialisasikan Hari Santri dan pentingnya syiar Islam di tengah masyarakat,” ungkap Ustadz Hasan Makarim dalam sambutannya.

Lebih lanjut, Ustadz Hasan menekankan bahwa partisipasi warga binaan dalam kegiatan-kegiatan semacam ini memiliki dampak positif yang signifikan, baik bagi individu peserta maupun bagi suasana keseluruhan lapas.

Dengan adanya kegiatan ini, para peserta dapat memanfaatkan waktu mereka dengan kegiatan yang bermanfaat, mengasah keterampilan, serta meningkatkan pengetahuan agama yang lebih mendalam. “Ini merupakan langkah nyata dalam proses rehabilitasi sosial dan spiritual bagi para warga binaan,” tambahnya.

Serangkaian Perlombaan

Sejak awal pelaksanaan pada 7 Oktober hingga puncaknya pada 21 Oktober, berbagai jenis perlombaan telah dilaksanakan. Kompetisi-kompetisi yang diselenggarakan meliputi Lomba Pidato/Ceramah yang diigelar pada 10 Oktober dengan 13 peserta yang berlaga di Masjid Al Ikhlas Lapas Kembangkuning.

Para peserta menampilkan kemampuan mereka dalam menyampaikan ceramah dengan tema-tema Islami, berupaya untuk memotivasi serta memberikan pencerahan kepada audiens. Lomba ini disambut dengan meriah, di mana para warga binaan lainnya turut hadir sebagai penonton yang sangat antusias.

Lomba Adzan akan diilaksanakan pada 14 hingga 15 Oktober dengan 44 peserta. Lomba ini menekankan kemampuan para warga binaan dalam mengumandangkan adzan dengan suara yang indah dan khusyuk, refleksi kecintaan mereka terhadap panggilan ibadah. Lomba ini juga akan memperlihatkan talenta tersembunyi para peserta dalam bidang seni suara Islami.

Lomba Hafalan Quran diiikuti oleh 12 peserta pada 16 Oktober, lomba ini menguji kemampuan hafalan mereka terhadap ayat-ayat suci Al-Quran. Bagi banyak peserta, ini menjadi kesempatan untuk memperdalam pemahaman mereka tentang Al-Quran, dan merupakan upaya dalam meningkatkan spiritualitas selama masa tahanan.

Lomba Tartil Quran pada 17 Oktober, sebanyak 13 peserta berlomba menunjukkan kemampuan mereka dalam membaca Al-Quran dengan tartil, yang mengutamakan ketepatan dalam tajwid dan pelafalan.

Berikutnya, Lomba Cerdas Cermat yang akan berlangsung pada 18 hingga 19 Oktober, lomba ini diikuti oleh 14 regu yang akan beradu cepat dan tepat dalam menjawab pertanyaan seputar pengetahuan agama Islam dan umum. Para peserta akan berlomba tidak hanya untuk menang, tetapi juga untuk menambah wawasan mereka dalam suasana kompetitif yang sehat.

Selain perlombaan yang bernuansa religius, kegiatan olahraga juga turut memeriahkan suasana Lapas Kembangkuning. Cabang olahraga yang dipertandingkan antara lain Lomba Futsal yang mulai pada 7 Oktober dan masih berlangsung, dengan 6 tim warga binaan yang bertanding di lapangan. Kegiatan futsal ini menjadi ajang bagi para peserta untuk berolahraga, bersosialisasi, serta menunjukkan semangat sportivitas.

Lalu ada Lomba Bola Volly dimulai pada 11 Oktober, diikuti oleh 9 tim. Para peserta bersaing dengan penuh semangat, menunjukkan kebolehan mereka di lapangan voli. Bagi para penonton, perlombaan ini tentu menjadi hiburan yang sangat dinantikan, mengingat terbatasnya akses hiburan di lingkungan lapas.

Antusiasme dan Semangat Peserta

Adi Setiawan, 42 tahun, salah satu warga binaan yang juga berstatus sebagai santri, terlibat aktif sebagai koordinator sekaligus peserta dalam lomba Bola Volly. Ia menyampaikan rasa gembiranya atas adanya kegiatan ini.

Dia mengaku sangat senang dengan adanya perlombaan ini. Kegiatan ini memberi mereka hiburan di tengah keterbatasan yang ada di lapas. Selain itu, Hari Santri menjadi lebih dikenal di kalangan warga binaan, bahkan yang bukan santri.

“Saya juga bisa menyalurkan hobi saya bermain voli, dan tentunya berharap bisa meraih hadiah yang disediakan,” ujar Adi.

Kemeriahan perlombaan begitu terlihat seperti ditunjukkan baik oleh peserta maupun penonton. Pada 10 Oktober lalu, Lomba Pidato/Ceramah berlangsung dengan suasana yang sangat meriah, di mana para peserta berusaha memberikan yang terbaik dalam menyampaikan pesan-pesan Islami.

Pada lomba Pidato/Ceramah, dewan juri terdiri dari Ustadz Hasan Makarim, Ustadz Salim dari Kementerian Agama Kabupaten Cilacap, serta Hendra Maha Saputra yang merupakan Kepala Seksi Pembinaan dan Pendidikan Lapas Kembangkuning. Kehadiran dewan juri ini menambah kredibilitas dan integritas dalam penilaian lomba, sekaligus memberikan panduan bagi para peserta untuk terus mengasah kemampuan mereka di masa mendatang.

Dengan semangat yang tinggi, baik dari peserta maupun penyelenggara, perlombaan dalam rangka Hari Santri Nasional di Lapas Kelas IIA Kembangkuning tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wadah untuk memperkenalkan nilai-nilai positif di tengah keterbatasan.*/Ridho Muhammad Fatihuddin

Cetak Muballigh Profesional, BMH dan KMH Gelar Pelatihan Dakwah di Era Digital

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui dakwah, Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) bersama Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menggelar Kursus Muballigh Profesional di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta Timur, Sabtu, 9 Rabiul Akhir 1446 (12/10/24).

“Pelatihan ini bertujuan untuk membekali para muballigh dengan kemampuan dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman, khususnya di era digital,” terang Direktur KMH, Ust. Iwan Abdullah, M.Si.

Sebagai salah satu narasumber dalam kegiatan itu, Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, menyoroti pentingnya peran muballigh sebagai jembatan pemahaman umat akan nilai-nilai Islam dan hakikat dunia.

“Dai harus mampu menyampaikan pesan-pesan Islam dengan cara yang mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat modern. Menjadi jembatan yang memudahkan umat memahami Islam dan hakikat dunia,” ujarnya.

Menariknya, pelatihan ini juga menekankan strategi dakwah di dunia digital. Imam Nawawi, yang juga penulis rutin di www.masimamnawawi.com, menjelaskan bahwa konsistensi adalah kunci keberhasilan dakwah di media sosial.

“Algoritma media sosial memang menjadi tantangan tersendiri, namun fokus pada substansi dan penyampaian pesan yang konsisten akan menjangkau audiens yang lebih luas juga menarik terus dikuatkan,” jelasnya.

Tak hanya itu, para peserta juga diajak untuk mengeksplorasi berbagai metode dakwah di media sosial, termasuk melalui aksi nyata.

“Islam bukan hanya untuk dinarasikan, tetapi juga diimplementasikan,” tegas penulis buku Mindset Surga tersebut menjawab pertanyaan seorang peserta bernama, Setiadi.

Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya mereka dalam sesi tanya jawab. Salah satu peserta, Trianto, menanyakan tentang pentingnya perencanaan dalam dakwah digital. Pertanyaan lain muncul mengenai relevansi aksi dalam dakwah media sosial.

Di akhir sesi, seorang peserta, Agus menyampaikan kesan dan kesiapannya untuk lebih aktif berdakwah di media sosial setelah mengikuti pelatihan ini.

“Saya ingin bisa berdakwah lebih aktif di media sosial,” ujarnya semangat.

Kursus Muballigh Profesional ini menjadi bukti nyata komitmen KMH dan BMH dalam meningkatkan kualitas dakwah dan membangun manusia Indonesia melalui penyebaran nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin.*/Herim

Meraih Bahagia Selamanya dengan Menjadikan Allah sebagai Prioritas Utama

0

MENJADIKAN Allah Ta’ala sebagai satu-satunya tujuan dalam setiap aktivitas di dunia merupakan konsep mendasar dalam ajaran Islam. Ketika seorang hamba sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada Allah, baik dalam suka maupun duka, ia akan menemukan kebahagiaan sejati dan ketenangan yang langgeng.

Kebahagiaan ini tidak datang dari pencapaian materi atau keberhasilan duniawi semata, melainkan dari keyakinan bahwa semua masalah di dunia ini hanya dapat diselesaikan dengan melibatkan peran Allah SWT.

Dalam hal ini, Ustadz H. Ir. Khairil Baits, Anggota Dewan Mudzakarah (DM) Hidayatullah, yang baru saja pergi meninggalkan kita, menekankan pentingnya apa yang disebutnya sebagai “logika ilahiyah” dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan.

Dalam suatu forum Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pesantren Mahasiswa (Pesmadai), ia menyatakan bahwa masalah-masalah di dunia ini, jika dipikirkan secara manusiawi, tidak akan ada akhirnya.

Maka dari itu, beliau menyarankan agar kita menggunakan logika ilahiyah, yaitu pendekatan yang melibatkan keimanan dan pengembalian segala urusan kepada Allah. Ustadz Khairil menekankan bahwa logika manusia terbatas, dan hanya dengan bersandar pada Allah, kita dapat mencapai penyelesaian sejati.

Kebahagiaan Sejati

Kehidupan dunia adalah ujian yang penuh dengan rintangan dan kesulitan. Dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 155 seperti yang dituliskan di bawah ini, Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Dalam ayat ini, Allah dengan jelas menyatakan bahwa setiap manusia akan dihadapkan pada cobaan, namun kabar gembira diberikan kepada mereka yang sabar. Sabar dalam arti ini tidak hanya berarti menahan diri, tetapi juga mencakup keyakinan penuh bahwa Allah akan memberikan solusi terbaik bagi setiap masalah yang kita hadapi.

Logika manusia sering kali terbatas pada apa yang tampak di hadapan mata. Kita mencoba memecahkan masalah berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan kita, tetapi sering kali menemui jalan buntu. Inilah titik di mana logika ilahiyah menjadi sangat penting.

Logika ilahiyah mengajarkan kita bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah bagian dari rencana Allah. Bahkan musibah dan kesulitan yang kita hadapi adalah bentuk kasih sayang-Nya, karena dengan musibah tersebut dosa-dosa kita terhapus dan kita dipersiapkan untuk menerima kebaikan yang lebih besar di masa depan.

Ustadz Khairil Baits mengatakan, masalah kalau dipikir memang tidak ada selesainya, makanya kita pakai logika ilahiyah saja. Logika kita tidak mampu menjangkau setiap masalah, karena itu penyelesaiannya kembalikan kepada logika Allah. Kita minta bantuan kepada Allah.

Pernyataan ini sangat relevan dalam kehidupan modern, di mana banyak orang terjebak dalam tekanan masalah yang tidak pernah selesai. Dengan menggunakan logika ilahiyah, kita diajak untuk memahami bahwa masalah bukanlah sesuatu yang harus dihadapi dengan kekuatan sendiri, tetapi dengan bantuan Allah yang Maha Kuasa.

Hanya kepada Allah

Islam mengajarkan bahwa setiap hamba harus senantiasa memohon pertolongan kepada Allah dalam segala hal. Dalam Al-Fatihah, ayat yang kita baca berulang kali setiap hari, kita menyatakan, “Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah [1]: 5).

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

Ayat ini menegaskan bahwa hanya Allah yang menjadi tempat kita meminta pertolongan, dan tidak ada kekuatan lain yang mampu menolong kita selain Dia. Hal ini juga sejalan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, di mana Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ ، وَإِذَا  اسْتَعَنْتَ فَاسْتَـعِنْ بِاللهِ

“Jika engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah” (HR. Ahmad).

Memohon pertolongan kepada Allah bukan hanya soal mengangkat tangan dalam doa dan anggukan kepala yang khusyuk dalam, tetapi juga tentang keyakinan yang mendalam bahwa Allah mendengar dan akan menjawab doa kita sesuai dengan kebijaksanaan-Nya. Rasulullah SAW juga menegaskan dalam sebuah hadits bahwa,

الدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ

“Doa adalah senjata bagi orang beriman, tiang bagi agama, dan cahaya langit serta bumi.” (HR. Al-Hakim).

Dengan memanjatkan doa dan berpegang teguh pada keyakinan bahwa Allah akan menolong kita, kita akan mendapatkan ketenangan batin, yang pada akhirnya melahirkan kebahagiaan dan kegembiraan dalam menjalani hidup.

Logika Ilahiyah dalam Menghadapi Musibah

Salah satu bentuk logika ilahiyah adalah pandangan positif terhadap musibah. Dalam hadits Rasulullah SAW, disebutkan bahwa setiap musibah yang menimpa seorang Muslim akan menggugurkan dosa-dosanya. Rasulullah SAW bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ سَقَمٍ وَلاَ حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ

“Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu musibah berupa rasa sakit (yang tidak kunjung sembuh), rasa capek, rasa sakit, rasa sedih, dan kekhawatiran yang menerpa melainkan dosa-dosanya akan diampuni” (HR. Muslim).

Dengan kata lain, musibah yang kita alami adalah sarana dari Allah untuk menyucikan kita dari dosa-dosa dan memperbaiki hubungan kita dengan-Nya.

Pandangan ini juga yang terus menjadikan almarhum Ustadz Khairil Baits selama hidupnya selalu semangat dan mengalirkan semangat itu melalui narasi konstruktif yang meneguhkan keyakinan.

“Setiap ada musibah harus dipandang positif sebagai penggugur dosa dan penghilang bala’. Semoga dengan musibah itu, ia menjadi proses penyelesai masalah yang kita hadapi,” katanya.

Pernyataan beliau tadi menunjukkan bahwa musibah, yang sering kali kita pandang sebagai sesuatu yang buruk, justru merupakan kesempatan bagi kita untuk membersihkan diri dan mendekatkan diri kepada Allah. Dengan pandangan ini, setiap musibah menjadi lebih mudah diterima, karena kita tahu bahwa ada hikmah besar di balik setiap kesulitan.

Hidup dengan Tawakkal

Tawakkal, atau berserah diri kepada Allah, adalah salah satu prinsip penting dalam Islam yang menjadi bagian dari logika ilahiyah. Ketika kita telah melakukan segala upaya yang maksimal dalam menghadapi masalah, langkah terakhir adalah menyerahkan hasilnya kepada Allah.

وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ

Dalam Al-Qur’an surah At-Talaq ayat 3 di atas, Allah berfirman, “Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia akan mencukupkan keperluannya”. Ayat ini mengajarkan bahwa ketika seseorang berserah diri kepada Allah, maka Allah akan mencukupi segala keperluannya, baik di dunia maupun di akhirat.

Tawakkal tidak berarti kita pasif dan menyerah begitu saja tanpa usaha. Justru, Islam mengajarkan kita untuk berusaha sebaik mungkin dalam segala hal. Namun, setelah usaha maksimal dilakukan, kita harus yakin bahwa hasilnya berada di tangan Allah.

Inilah bagian dari logika ilahiyah, di mana kita meyakini bahwa Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Dengan demikian, tawakkal membawa kedamaian hati, karena kita tidak lagi dibebani oleh kekhawatiran akan hasil yang di luar kendali kita.

Ketika kita menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam setiap aktivitas kita di dunia, kita akan merasakan kebahagiaan dan kedamaian yang tidak dapat ditemukan melalui pencapaian duniawi semata.

Logika ilahiyah mengajarkan kita bahwa segala sesuatu, baik itu kesulitan maupun kesenangan, adalah bagian dari rencana Allah yang sempurna. Dengan bersandar pada Allah dalam menghadapi setiap masalah, kita akan menemukan solusi yang jauh melampaui keterbatasan logika manusia.

Masalah kalau dipikir memang tidak ada selesainya, makanya kita pakai logika ilahiyah saja. Pesan ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa dalam menghadapi masalah, kita tidak boleh hanya bergantung pada akal dan logika manusia yang terbatas.

Sebaliknya, kita harus selalu memohon pertolongan kepada Allah dan yakin bahwa Dia akan memberikan jalan keluar terbaik bagi kita. Dengan logika ilahiyah, kita akan merasakan kebahagiaan, ketenangan, dan kegembiraan yang abadi, baik di dunia maupun di akhirat. (red/hidayatullah.or.id)

Selamat Jalan Ustadz Khairil, Mentor dan Sahabatku

0
RDP terakhir tim Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi bersama Ust Khairil Baits beserta jajaran Dewan Mudzakarah Hidayatullah lainnya di Jakarta (Foto: Istimewa/ Hidayatullah.or.id)

SETIAP orang yang mengenal sosok Ust. Ir. H. Hairil Baits, (saya pernah dijelaskan beliau nama yang ada di akte kelahirannya itu Hairil, bukan Khairil atau Khoiril, dst), adalah sosok periang, humoris, easy going, problem solver, dan diksi-diksi lain yang sejenis dengan itu.

Bahkan di Masjid Ummul Qura, tempat kami bertetangga tinggal di Depok, kalau ke masjid kerap kali ia membawa permen (gula-gula), untuk dibagikan bagi anak-anak yang rajin shalat di masjid.

Sehingga, tidak ada nampaknya orang yang pernah berinteraksi dengan beliau yang tidak merasa nyaman, terperhatikan, terbimbing, bahkan terorientasikan.

Disisi lain, bukan cuma menyediakan waktu, kepada siapapun untuk berkeluh kesah, curhat, “ngadu”, cari solusi dan lainnya, namun memang nampaknya dimensi ruang dan waktu yang ada pada diri beliau adalah untuk menjadi samudera yang menerima semua itu dalam dirinya.

Beliau kemudian menguraikannya dan dengan telaten memberi solusi yang nampak sederhana tapi solutif. Sehingga kedekatan secara fisik, personal dan fikrah dikombinasikan dengan cukup apik.

Kendati demikian, sisi kealiman beliau akan semakin jelas ketika dalam kajian, halaqah, atau diskusi-diskusi kecil berlangsung. Kemampuan menyajikan dalil aqli dan naqli mampu dibahasakan dengan lagi-lagi bahasa yang tidak berat, namun tepat.

Dan, jika sudah bicara aqidah, intonasi dan bahasanya sering meninggi, menunjukkan betapa concern-nya beliau terhadap urusan ini, baik dalam kontek individu ataupun dalam perspektif berorganisasi. Meski juga tak jarang disampaikan secara jenaka dan berirama. Sebab Ustadz Hairil, memang dianugerahi suara yang merdu, apalagi saat melantunkan ayat-ayat suci.

Maka, ketika tahun 2020, menjelang Munas ke-V Hidayatullah, Allahuyarham Ust. Dr. Abdul Mannan, Ketua Dewan Pertimbangan Pemimpin Umum saat itu, akan menugaskan kami menggantikan amanah beliau sebagsi Ketua Bidang (Kabid) Organisasi, dengan halus kami menyampaikan, jika yang menjadi standar Kabid Organisasi sebagaimana sosok Ust. Hairil, maka kami tidak bakal mampu.

Ust, Khaiirl Baits (Foto: Istimewa/ Hidayatullah.or.id)

Akan tetapi Allahuyarham Ustadz Abdul Mannan, menyatakan fokusnya nanti berbeda. Dan, qadarullah, di Munas V, kami diamanahi Kabid Organisasi, dan ini hanya berjalan 1 tahunan, karena nama bidangnya diganti nama menjadi Kabid Pembinaan dan Pengembangan Organisasi (PPO), sedangkan Ust. Hairil sebagai Anggota Dewan Mudzakarah (DM). Dan hal itu menjadi joke bahwa Kabid Organisasi tak tergantikan.

Di DM, beliau membidangi komisi organisasi jadi selalu menjadi partner kami. Dan disinilah aspek mentoring sekaligus transformasi terjadi.

Banyak problematika yang bisa diselesaikan tidak hanya mengandalkan kemampuan analitik semata, namun juga mesti memperkuat ruhiyah kita. Sehingga basis keputusan/kebijakan yang kita ambil, mendapatkan bimbingan ilahiyah.

Selain itu, pengalaman (baik diri sendiri maupun orang lain), juga bisa jadi tools untuk mengambil keputusan tadi. Jangan ambil keputusan saat emosi, hindari aspek like or dislike, bayangkan jika yang mendapatkan ketetapan dan keputusan itu adalah antum.

Begitu sekelumit kesimpulan saat beliau memberikan mentoring diberbagai kesempatan, baik berdua, maupun saat bersama-sama dengan yang lain. Dan hal ini yang kemudian menjadi salah satu hal yang memandu Bidang PPO.

Humor-humor itulah yang menghiasi persahabatan tanpa sekat, mesti kami selalu menjadikan senior sebagai teladan. Beliau selalu beristighfar dengan kencang jika candaan sudah sedikit melenceng. Sebab, candaan-candaan ini seringkali mewakili bahasa cinta sebagai wujud ana uhibbuka fillah. Namun jika ada hal hal yang baik beliau selalu menyampaikan, “Alhamdulillah, lanjutkan kebajikan”.

Selamat jalan ustadz, mentor dan sahabatku, telah purna tugasmu di dunia, tinggal antum petik hasilnya. Sedangkan kami akan selalu melanjutkan kebajikan sebagaimana yang telah antum contohkan dalam torehan sejarah.

*) Asih Subagyo, ditulis dari Kamar Tulip 606 RS Dharmais. Penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Ustadz Khairil Mewariskan Seni Leadership yang Mengasuh dengan Hati

0

SOSOK murah senyum itu akhirnya menuju keharibaan-Nya. Pada malam Jumat, 10 Oktober 2024, yang bertepatan dengan 8 Rabiul Akhir 1446 H, Ustadz Ir. Khairil Baits, telah berpulang ke Rahmatullah. Beliau wafat di RSUD Bahteramas, Kendari, Sulawesi Tenggara, setelah berjuang melawan sakitnya dalam beberapa hari terakhir.

Sejak beliau mendapat amanah sebagai dewan pembina Pesantren Hidayatullah Batam, kami benar-benar tak punya waktu bertemu, duduk, bercengkerama lama seperti kala beliau masih tugas di Jakarta.

Hanya sesekali bertemu di Jakarta, itu pun sambil jalan dan beliau kembali pada tugas-tugas utamanya sebagai Anggota Dewan Mudzakarah. Dan, satu hal yang sangat kuat dalam benakku, Ust. Khairil Baits nyalar tersenyum, menyala, dan optimis.

Sahabat karibnya, Ust. Akib Junaid pun memiliki kesan yang sama bahkan jauh mendalam daripada kami yang muda-muda. Karena sempat tugas bersama di Sulawesi dan terakhir di Dewan Mudzakarah.

Kalimat Ust. Akib Junaid jelas, bahwa Ust. Khairil Baits adalah sosok penyantun, murah senyum sekaligus humoris. Hal itu membuat pria yang sering menerangkan tentang “Logika Ilahiyah” itu mudah untuk berinteraksi, bahkan akrab dengan siapapun.

Pikiran dan lisannya tampak tak pernah memberi ruang sedikit pun untuk diksi yang negatif kepada kader-kader muda. Saat membalas WA misalnya, Ust. Khairil, begitu biasa kami menyapa beliau, kalimat akhirnya selalu ditambah dengan ungkapan yang mendorong orang lebih baik. Misalnya, “Syukron akhi shaleh”. Lain waktu beliau membalas lagi, “Lanjutkan kebajikan, brader“.

Saya meyakini, semua itu tidak lepas dari perjalanan kepemimpinan Ust. Khairil, mulai dari Makassar, Kendari, bahkan Palu. Beliau mengerti bahwa leadership adalah seni dan kader adalah aset utama kesinambungan perjuangan. Itulah mengapa beliau memilih tak perlu ada emosi negatif dalam memimpin.

Apalagi perasaan menjadi manusia paling baik dalam segala hal, sehingga gampang menyalahkan dan mengungkit-ungkit persoalan masa silam. Ust. Khairil mampu menangkap aspirasi kader dengan hati, mendampingi dan menjadikan kader-kader muda dewasa dan berlapang dada dalam menyikapi persoalan-persoalan yang ada.

Manajemen SDM

Menarik kalau kita sempatkan waktu menyimak sesi #Bincang ke-9 Channel Youtube Hidayatullah ID dengan tema “Bekal Sukses Merintis Wilayah Dakwah”. Di sana, Ust. Ir. Khairil Baits menerangkan bagaimana tata kelola (manajemen) SDM yang dijalankan dalam menopang dan memperluas kekuatan dakwah Hidayatullah secara nasional.

Beliau menerangkan bahwa sistem penugasan melalui proses evaluasi wilayah, potensi wilayah, kemudian baru mencari sosok kader yang relevan dengan hasil penilaian itu.

Ketika ternyata yang mendapat penilaian layak itu seorang kader yang baru saja tugas ke suatu tempat, meski baru sebulan, kemudian muncul keputusan tugas, maka kader itu akan berangkat tugas. Empirisnya ada kajian, landasannya adalah prinsip sam’an wa tho’atan.

Ust. Khairil menegaskan, “Secara mental kader (paham dan karena itu) mereka siap ditempatkan (ditugaskan) dimana saja,” tegasnya. Meski demikian, Ust. Khairil segera menegaskan, “Tapi pengambil kebijakan tentu (tetap memprioritaskan sikap) bijaksana”.

Lanjutkan Kebajikan

Kini kita tidak akan bertemu lagi dengan Ust. Khairil Baits. Beliau telah wafat pada malam Jumat sekira pada pukul 23:31 WITA. Kita semua tentu memohon kepada Allah, agar Ust. Khairil mendapat ampunan, kasih sayang-Nya dan kebahagiaan di alam barzakh.

Namun, kalau ada pesan singkat namun padat dari beliau yang perlu kita rawat adalah “Lanjutkan kebajikan”.

“Lanjutkan kebajikan,” pesan singkat namun penuh makna dari Ust. Khairil tersebut selayaknya menjadi pelecut semangat bagi kita semua. Kita lanjutkan kebaikan-kebaikan yang ada di Hidayatullah, rawat dan transformasikan kepada kader-kader muda masa depan.*

*) Imam Nawawi, penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023, Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)

Ustadz Khairil Baits Berpulang, Figur Penggerak Dakwah yang Tak Kenal Lelah

0
Ustadz Khairil Baits (Foto: Muh Abdus Syakur/ MCU)

INNAALILLAHI wa inna ilaihi raji’un. Kabar duka menyelimuti keluarga besar Hidayatullah pada malam Jumat, 10 Oktober 2024, bertepatan dengan 8 Rabiul Akhir 1446 ini. Salah satu sosok besar dalam perjalanan dakwah Hidayatullah, Ustadz Ir. Khairil Baits, Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah, telah berpulang ke Rahmatullah.

Beliau menghembuskan napas terakhirnya di RSUD Bahteramas, Kendari, Sulawesi Tenggara, setelah menjalani perawatan intensif selama beberapa hari. Kepergian beliau pada pukul 23:31 WITA meninggalkan duka mendalam bagi umat, keluarga, sahabat, dan seluruh kader Hidayatullah.

Ustadz Khairil dikenal dengan kepribadian yang rendah hati, sabar, penuh perhatian, dan bersahabat. Kepergian beliau bukan hanya kehilangan bagi keluarga Hidayatullah, tetapi juga bagi seluruh umat yang pernah merasakan manfaat dari dakwah dan bimbingannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, beliau tidak pernah memperlihatkan rasa canggung saat berinteraksi dengan siapa pun, baik anak-anak maupun orang dewasa.

Beliau adalah seorang pendakwah yang tulus, selalu ramah dan bersikap hangat kepada siapa saja yang berkesempatan untuk bertemu dan berbicara dengannya.

Suhardi Sukiman, yang mengenal almarhum dengan sangat dekat, menggambarkan Ustadz Khairil sebagai seorang dai sejati. Suhardi yang merupakan kontestan Pileg 2023 untuk DPD RI Sulawesi Tengah, mengenang bagaimana Ustadz Khairil mendedikasikan seluruh hidupnya untuk dakwah.

“Beliau tidak pernah terlihat lelah, selalu bergerak sepanjang tahun, biasa pagi ada di Depok, sorenya tiba-tiba sudah di kota lain. Tidak ada lelahnya beliau mengurus dakwah sebagai jalan hidupnya,” ujar Suhardi yang memiliki interaksi yang intens dengan almarhum ketika menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah periode 2016-2019.

Mengurus Dakwah Tanpa Lelah

Ustadz Khairil Baits adalah sosok yang tak pernah berhenti bergerak. Kegigihannya dalam menggerakkan dakwah menjadi inspirasi bagi banyak orang. Dalam perjalanannya, ia sering berpindah dari satu kota ke kota lainnya, memastikan bahwa misi dakwah tetap terjaga dan berkembang di berbagai daerah.

Mazlis B. Mustafa, yang juga memiliki hubungan dekat dengan almarhum, mengenang bagaimana Ustadz Khairil selalu tekun mendengarkan aspirasi anak-anak muda, terutama di lingkungan Pemuda Hidayatullah.

“Beliau adalah teladan dalam menyelesaikan masalah organisasi dengan jalan yang baik, selalu dengan senyuman dan candaan khasnya yang ramah,” kata Mazlis, yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Pemuda Hidayatullah periode 2020-2023.

Di kalangan Pemuda Hidayatullah, Ustadz Khairil Baits dikenal sebagai sosok yang tak pernah lelah dalam mendampingi perjalanan organisasi lintas periode. Dedikasinya terhadap pembinaan generasi muda tidak pernah surut, bahkan dalam setiap Musyawarah Nasional (Munas), nama beliau selalu tercatat sebagai bagian dari Badan Pekerja Munas, sebuah bukti nyata kecintaannya terhadap regenerasi dan kelanjutan lembaga dakwah ini.

Mazlis pun mengenang permintaan kecil dari Ustadz Khairil yang hingga kini rasanya belum sempat dipenuhi, yaitu permintaan jas Pemuda Hidayatullah yang diutarakan beliau dengan nada canda.

“Permintaan candaan kecil beliau untuk dapat jas Pemuda Hidayatullah sampai akhir kita menjabat, mungkin bahkan sampai saat ini belum kita tunaikan,” ungkap Mazlis penuh haru. Candaan tersebut sekarang terasa begitu mendalam, mengingat betapa dekatnya hubungan beliau dengan seluruh anggota organisasi.

Pribadi Bersahaja

Sifat rendah hati dan kebersahajaan Ustadz Khairil Baits menjadi inspirasi tidak hanya bagi kader-kader Hidayatullah, tetapi juga bagi masyarakat umum yang pernah mengenalnya. Ia tidak segan untuk menyapa, berdiskusi, dan mendengarkan siapa pun yang datang kepadanya, tak peduli usia maupun latar belakang sosial.

Dalam banyak kesempatan, Ustadz Khairil selalu menekankan pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah, membina persaudaraan dalam Islam dengan semangat kasih sayang dan cinta.

Ia sering mengingatkan bahwa dakwah bukan semata menyampaikan ilmu, tetapi juga tentang menjadi contoh dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam pergaulan pribadi maupun dalam menjalankan tugas organisasi.

“Beliau sering mengulang ulang bahwa keteladanan adalah inti dari dakwah, dan hal itulah yang selalu dipegang teguh selama hidupnya,” kata Ustadz Abdul Hafidz, salah satu murid almarhum yang saat ini bertugas di Kendari.

Tidak hanya itu, semangat beliau dalam menumbuhkan kecintaan terhadap aktitas dakwah dan pembinaan umat, terutama generasi muda, patut dijadikan teladan.

Ustadz Khairil selalu memotivasi para santri dan kader untuk hanya menempatkan Allah SWT sebagai orientasi utama dalam segala keadaan baik keadaan lapang ataupun sukar.

Ia pun mencetuskkan istilah “logika ilahiyah” sebagai kiatnya dalam menyikapi setiap problema. Logika Ilahiyah, menurutnya, adalah menyerahkan semua masalah, ujian, cobaan atau problema yang dihadapi kepada Allah SWT Yang Maha Penyelesai Masalah.

“Masalah kalau dipikir memang tidak ada selesainya, makanya kita pakai logika Ilahiyah saja. Logika kita tidak mampu menjangkau setiap masalah, karena itu, penyelesaiannya kembalikan kepada logika Allah. Kita minta bantuan kepada Allah,” katanya, dalam kesempatan membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pesantren Mahasiswa (Pesmadai) di Aula Utama Gedung Abdurrahman, Jln Raya Kalimulya, Kebon Duren, Kecamatan Cilodong, Depok, Jawa Barat, Senin (11/1/2021).

Jejak Dakwah yang Abadi

Jejak dakwah yang ditinggalkan oleh Ustadz Khairil Baits akan selalu terukir dalam ingatan. Beliau adalah sosok dai yang tidak pernah berhenti dalam menyebarkan cahaya Islam, meski harus melewati berbagai kesulitan dan tantangan.

Kesungguhannya dalam mengurus umat dan membangun dakwah menjadikannya teladan bagi banyak orang. Beliau telah menunjukkan bahwa dakwah adalah jalan panjang yang memerlukan ketekunan, kesabaran, dan keikhlasan yang luar biasa.

“Perjuangan dan semangat beliau akan terus hidup dalam setiap jiwa yang pernah merasakan sentuhan dakwah dan bimbingannya,” kata Suhardi.

Keteladanannya dalam menjalani kehidupan sebagai seorang pendakwah dan pemimpin yang rendah hati akan selalu menjadi inspirasi bagi generasi-generasi selanjutnya.

Semoga kita semua dapat meneruskan perjuangan yang telah beliau mulai, melanjutkan dakwah yang beliau sebarluaskan, serta menjaga amanah dakwah dengan penuh keikhlasan, sebagaimana yang telah beliau contohkan.

Kepergian beliau menjadi pengingat bagi kita semua bahwa setiap kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga agama dan memperjuangkan kebenaran dengan meniti jalan dakwah ini, kapan pun dan di mana pun kita berada.

Semoga almarhum ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah, dan semoga cahaya dakwahnya terus menyinari langkah-langkah umat ini hingga akhir zaman. (redaksi/hidayatullah.or.id)

Liga Santri se-Kota Jayapura Bergulir, Pondok Pesantren Hidayatullah Tuan Rumah

0

JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) – Liga Santri se-Kota Jayapura resmi bergulir pada Rabu, 6 Rabi’ul Akhir 1446 (9/11/2024) dimana kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Holtekam, Kecamatan Muara Tami, Kota Jayapura, menjadi tuan rumah penyelenggaraan kegiatan ini. Pertandingan digelar di Lapangan Pondok Pesantren Hidayatullah Holtekamp.

Liga Santri ini akan berlangsung hingga 20 Oktober 2024 dengan 18 tim sepak bola. Ketua KONI Kota Jayapura, Abisai Rollo membuka resmi Liga Santri tersebut.

Ketua Panitia Liga Santri se-Kota Jayapura, M. Hasbullah Musa’ad, mengatakan event ini dalam rangka Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober 2024.

“Event ini diharapkan bisa bergulir setiap tahunnya. Bagaimanapun juga anak-anak santri ini merupakan bagian dari generasi bangsa Indonesia dimasa depan,” ungkapnya.

Liga Santri ini digelar untuk mengakomodir minat bakat generasi muda di Kota Jayapura, khususnya kalangan santri. Liga ini juga mengasah bakat sepak bola sebagai calon-calon pemain profesional di masa depan.

“Selain menyiarkan Hari Santri, event ini juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas anak-anak santri di Kota Jayapura,” ujarnya.

Dukungan Abisai Rollo untuk Liga Santri

Sementara itu, Ketua KONI Kota Jayapura, Abisai Rollo, yang meresmikan kegiatan ini menyampaikan apresiasi kepada semua pihak khususnya Liga Santri yang hadir di tengah-tengah anak-anak di Kota Jayapura.

Momen Liga Santri ini merupakan bagian dari bagaimana memasyarakatkan masyarakat mulai dari anak-anak santri.

“Lewat event seperti ini anak-anak kita ini bisa saling mengenal satu dengan yang lain. Selain itu juga mental sportifitas yang akan ditanamkan sejak dini lewat Liga Santri ini,” ujarnya.

Abisai Rollo menyebut akan menyiapkan Piala Bergilir untuk Liga Santri se-Kota Jayapura Tahun 2025. Ia pun menyerahkan bantuan uang tunai kepada panitia sebagai dukungan dan support bergulirnya Liga Santri se-Kota Jayapura.

“Tadi harapan panitia adalah event ini bisa bergulir setiap tahun yang akan memperebutkan Piala bergilir. Karena belum ada pialanya, maka tahun depan saya akan menyiapkan Piala bergilirnya,” ungkapnya.*/Natalya Yoku/ Kabar Papua

LPH Hidayatullah Hadir di Pavilion Halal pada Ajang Trade Expo Indonesia 2024

0

TANGERANG (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah turut hadir sebagai peserta dalam Pavilion Halal Export Indonesia pada ajang Trade Expo Indonesia (TEI) ke-39 berlangsung selama 5 hari di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten, yang resmi dibuka pada Rabu, 6 Rabi’ul Akhir 1446 (9/10/2024).

Ketua LPH Hidayatullah Muhammad Faisal Thamrin menekankan keikutsertaan lembaganya tersebut sebagai bentuk pengenalan lebih lanjut mengenai layanan LPH Hidayatullah, maupun sebagai langkah strategis untuk memperluas jangkauan pelayanan lembaga dalam konteks industri halal global.

Faisal mengatakan, sebagai salah satu Lembaga Pemeriksa Halal utama di Indonesia, LPH Hidayatullah memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan produk-produk yang dipasarkan kepada konsumen Muslim, baik di Indonesia maupun global, memenuhi standar halal yang diakui.

“LPH Hidayatullah berperan penting dalam membantu para pelaku pasar halal untuk mematuhi persyaratan yang dibutuhkan demi memastikan keberterimaan produk mereka di pasar Muslim dunia yang sangat kompetitif,” kata Faisal dalam keterangannya diterima media ini, Kamis, 7 Rabi’ul Akhir 1446 (10/10/2024).

Menurut Faisal Thamrin, keterlibatan LPH Hidayatullah dalam Pavilion Halal Export Indonesia tidak hanya sebagai sarana promosi lembaga, tetapi juga sebagai platform edukasi bagi pelaku pasar.

Banyak pengusaha, baik dari sektor makanan, farmasi, kosmetik, hingga pakaian, memanfaatkan kesempatan ini untuk berkonsultasi langsung mengenai pentingnya sertifikasi halal dalam menghadapi tuntutan konsumen Muslim yang semakin meningkat kesadaran akan pentingnya produk halal dalam kehidupan sehari-hari.

Spektrum Industri Halal Global

Pasar halal global saat ini tengah berkembang pesat, seiring dengan pertumbuhan populasi Muslim dunia yang mencapai lebih dari 1,9 miliar orang pada tahun 2024. Industri halal global mencakup sektor-sektor utama seperti makanan dan minuman, farmasi, kosmetik, hingga pariwisata halal. Dalam pada itu, Faisal menekankan pentingnya standarisasi dan sertifikasi halal yang kredibel untuk meningkatkan kepercayaan konsumen.

Dia menyebutkan, salah satu fakta menarik adalah pasar halal global diperkirakan akan mencapai nilai USD 4,96 triliun pada tahun 2025. Menurutnya, hal ini menunjukkan potensi besar yang bisa digarap oleh industri halal, terutama dengan meningkatnya kebutuhan akan produk yang aman dan sesuai dengan nilai-nilai syariah.

“Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, memiliki peran sentral dalam memanfaatkan peluang ini, baik dari segi produksi maupun ekspor produk halal,” imbuhnya.

Faisal Thamrin menjelaskan bahwa partisipasi LPH Hidayatullah dalam TEI 2024 juga menjadi langkah strategis dalam mendukung Indonesia sebagai pusat industri halal dunia. Spektrum industri ini sejalan dengan visi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen halal terbesar di dunia, bukan hanya sebagai konsumen.

“Dalam hal ini, LPH Hidayatullah ingin turut serta dalam memastikan bahwa produk-produk Indonesia dapat bersaing di pasar internasional dengan memberikan jaminan halal yang terpercaya,” imbuhnya,.

Pada ajang Pavilion Halal Export Indonesia di TEI 2024, LPH Hidayatullah menyediakan layanan konsultasi dan informasi mengenai proses sertifikasi halal kepada pelaku pasar yang ingin memperluas jaringan bisnis mereka, khususnya di sektor ekspor.

Muhammad Faisal Thamrin menekankan bahwa sertifikasi halal bukan hanya sekadar kebutuhan administratif, tetapi juga bagian penting dari strategi bisnis untuk menembus pasar Muslim global. Produk yang telah tersertifikasi halal memiliki nilai tambah yang signifikan di mata konsumen Muslim, yang semakin cerdas dan selektif dalam memilih produk yang sesuai dengan keyakinan agama mereka.

Di sisi lain, banyak pelaku usaha yang masih menghadapi tantangan dalam memahami dan memenuhi standar sertifikasi halal. Di sinilah peran LPH Hidayatullah sebagai mitra strategi sangat penting.

Faisal Thamrin menjelaskan bahwa LPH Hidayatullah berkomitmen untuk memberikan layanan yang komprehensif, mulai dari penyuluhan hingga pendampingan teknis bagi perusahaan yang ingin mendapatkan sertifikasi halal.

Dia menjelaskan bahwa pasar Muslim, baik di Indonesia maupun dunia, memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dari segmen pasar lainnya. Populasi Muslim dunia yang terus bertumbuh, serta meningkatnya kesadaran akan pentingnya produk halal, menciptakan permintaan yang terus meningkat terhadap produk-produk yang telah memenuhi standar halal.

“Di Indonesia sendiri, permintaan produk halal juga semakin meningkat, terutama di kalangan generasi muda yang semakin peduli dengan aspek kehalalan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Menurut data,Indonesia berpotensi menjadi pasar terbesar produk halal dunia dengan konsumsi makanan dan minuman halal mencapai nilai sekitar USD 170 miliar per tahun. Sementara itu, sektor pariwisata halal juga semakin berkembang, dengan destinasi wisata yang menawarkan layanan halal yang semakin diminati oleh wisatawan Muslim.

Selain itu, di tingkat global, pasar makanan halal dunia diperkirakan akan mencapai USD 1,97 triliun pada tahun 2024, dengan pertumbuhan yang stabil di sektor-sektor lain seperti kosmetik halal, farmasi halal, dan fashion Islami. Hal ini menciptakan peluang besar bagi Indonesia sebagai produsen produk halal, dan LPH Hidayatullah siap mendukung ekspansi industri ini dengan layanan sertifikasi halal yang berkualitas dan terpercaya.

Lebih jauh Faisal menyampaikan bahwa keterlibatan LPH Hidayatullah dalam TEI 2024, termasuk ekspo halal internasional yang diikuti sebelumnya yaitu di Arab Saudi, Kamboja, dan Malaysia menjadi momentum penting bagi lembaga ini untuk semakin menegaskan posisinya sebagai LPH utama di Indonesia.

Dengan terus meningkatkan kualitas layanan, Faisal menambahkan, LPH Hidayatullah berharap dapat merambah pasar yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Salah satu langkah strategis yang diambil oleh LPH Hidayatullah adalah menjalin kemitraan dengan lembaga-lembaga internasional di bidang sertifikasi halal. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa sertifikat halal yang dikeluarkan oleh LPH Hidayatullah diakui secara internasional, sehingga produk-produk Indonesia dapat bersaing di pasar global,” tandasnya.

Stan booth expo LPH Hidayatullah yang berada di nomor 20 ICE BSD, Tangerang, Banten, sempat ditinjau langsung oleh Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Muhammad Aqil Irham yang disambut oleh tim LPH Hidayatullah di lokasi yaitu Usman Hamid (Divisi Keuangan & Umum, Adika Nosa (Divisi Operasional), dan Bustanol Arifin (Divisi Sosialisasi & Edukasi).

Trade Expo Indonesia 2024

TEI 2024 dibuka oleh Presiden Joko Widodo dan dihadiri sejumlah pejabat penting, melibatkan lebih dari 1.460 eksibitor dan menarik lebih dari 7.000 pembeli internasional.

Selain Halal Pavilion, TEI 2024 menghadirkan program-program pendukung seperti business matching dan business counseling, yang dirancang untuk membantu pelaku usaha memperluas jaringan bisnis mereka di tingkat internasional.

Acara ini juga akan memberikan penghargaan ‘Prima Niarta’ kepada eksportir terbaik dan ‘Prima Duta’ kepada pembeli internasional yang setia mendukung ekspor Indonesia.

Expo yang berlangsung hingga 12 Oktober ini diharapkan mampu menghasilkan transaksi ekspor signifikan, melampaui pencapaian tahun lalu sebesar 30,5 miliar dolar AS. (ybh/hidayatullah.or.id)

[KHUTBAH JUM’AT] Ahlus Sunnah wal Jamaah dan Prinsip Wasathiyah dalam Islam

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Yaa Ummatal Islam, Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Pada hari yang mulia ini, Al-Khatib mengingatkan diri dan jamaah Jumat untuk senantiasa meningkatkan taqwa kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sesungguhnya, ketaqwaan adalah jalan keselamatan di dunia dan akhirat.

Dalam khutbah Jumat yang singkat ini, kita akan membahas Ahlus Sunnah wal Jamaah dan prinsip Wasathiyah dalam Islam. Dua konsep ini adalah pondasi utama dalam memahami ajaran Islam secara benar dan menyeluruh.

Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah golongan umat yang selalu berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah ﷺ serta memahami keduanya sesuai pemahaman salafussalih. Mereka tidak hanya mengikuti secara tekstual, tetapi juga memahami substansi dari ajaran tersebut. Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعاً وَلَا تَفَرَّقُوْا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…” (QS. Ali Imran: 103)

Ayat ini adalah perintah langsung dari Allah untuk kita agar bersatu di bawah ajaran Islam yang murni, bukan hanya dari segi lahiriah tetapi juga dalam akidah, ibadah, dan muamalah.

Ahlus Sunnah wal Jamaah, sebagai penegak jalan yang lurus, mengikuti pemahaman sahabat Nabi ﷺ yang merupakan generasi terbaik. Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الذين يَلُوْنَهُمْ ثم الذين يلونهم

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelahnya (Tabi’in), kemudian yang setelahnya (tabi’u tabi’in).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Islam mengajarkan keseimbangan dalam segala aspek kehidupan, maka Islam juga dikenal dengan istilah ummatan wasathan. Konsep wasathiyah ajaran Islam mengarahkan umatnya agar adil, seimbang, bermaslahat dan proporsional, atau sering disebut dengan kata ‘moderat’ dalam semua dimensi kehidupan. Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian…” (QS Al-Baqarah: 143)

Dalam konteks ini, wasathiyah berarti bersikap seimbang, tidak berlebihan (ghuluw) dan tidak meremehkan (tafrith) dalam menjalani agama.

Prinsip ini diterapkan dalam akidah, ibadah, serta interaksi sosial. Dalam beribadah, kita dituntut untuk menghindari sikap ekstrem yang bisa memberatkan diri sendiri dan orang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا

“Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali dia akan kalah (tidak mampu menjalankannya); maka berlakulah lurus, mendekatlah (kepada yang benar) dan berilah kabar gembira.” (HR Al-Bukhari)

Maksudnya, Islam diturunkan sebagai rahmat dan kemudahan bagi umat manusia, bukan sebagai beban yang membuat manusia kewalahan.

Konsep ini sangat relevan di masa kini, di mana sikap ekstremisme dan radikalisme sering muncul sebagai ancaman terhadap keharmonisan masyarakat dan dunia global.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

“Wasathiyah adalah keseimbangan antara sikap berlebih-lebihan dan kekurangan dalam agama, dan itu adalah karakteristik Ahlus Sunnah wal Jamaah.” (Majmu’ Fatawa).

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Konsep wasathiyah dalam Ahlus Sunnah wal Jamaah juga terlihat dalam sikap mereka terhadap akidah dan ibadah.

Mereka tidak berlebihan dalam memuliakan seseorang hingga ke titik yang melampaui batas seperti yang dilakukan beberapa golongan dalam mengultuskan tokoh-tokoh tertentu. Sebaliknya, mereka juga tidak mengurangi hak-hak para Sahabat Nabi dan para Ulama.

Imam Malik rahimahullah berkata: “Sunnah adalah seperti bahtera Nabi Nuh. Barang siapa yang menaikinya pasti selamat, dan siapa yang meninggalkannya akan tenggelam.” (Al-I’tisham)

Dalam ibadah, Ahlus Sunnah wal Jamaah menjaga keseimbangan antara ibadah fisik dan hati. Mereka meyakini bahwa ibadah bukan hanya sekadar formalitas ritual, tetapi juga harus disertai dengan keikhlasan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Sikap ekstremisme dan fanatisme adalah hal yang sangat bertentangan dengan prinsip wasathiyah. Ekstremisme dalam beragama akan mengantarkan kepada kehancuran, baik secara individual maupun kolektif. Rasulullah ﷺ memperingatkan kita tentang bahaya ghuluw (berlebihan) dalam agama:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اَلْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam agama, karena yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian adalah ghuluw dalam agama.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i)

Islam mengajarkan keseimbangan dan kelembutan dalam semua perkara. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ

“Sesungguhnya Allah Maha lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Sebagai umat yang berpegang teguh pada Ahlus Sunnah wal Jamaah, kita harus selalu mengutamakan keseimbangan dalam beragama, baik dalam akidah, ibadah, maupun muamalah.

Jangan sampai kita terjebak dalam sikap ekstrem yang justru menjauhkan kita dari rahmat Allah Taala. Ingatlah bahwa Islam adalah agama yang mudah, penuh kasih sayang, dan rahmat bagi semesta alam.

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ

“Dan katakanlah: Inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya…” (QS. Al-An’am: 153)

Akhirnya, marilah kita berdoa kepada Allah agar diberikan hidayah untuk senantiasa berada di jalan yang lurus, dan menjaga diri kita dari segala bentuk penyimpangan dan menyesatkan orang lain.

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد، مكا صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، وبارك على محمد وعلى آل محمد، كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

اللهم اغفر لنا وللمسلمين، وارحمنا وارزقنا الثبات على الدين. اللهم اجعلنا من أهل السنة والجماعة، واهدنا إلى طريق الوسطية في كل أمر من أمور ديننا ودنيانا. اللهم احفظ بلادنا وبلاد المسلمين من الفتن ما ظهر منها وما بطن، واجعلنا من الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار والحمد لله رب العالمين

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

KH Hamim Thohari Tekankan Pentingnya Penyucian Jiwa dalam Pendidikan Kader

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah, KH. Hamim Thohari, M.Si, meluangkan waktunya menghadiri acara Majelis Reboan Hidayatullah yang digelar oleh Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jawa Barat secara daring melalui platform Zoom, Rabu, 6 Rabi’ul Akhir 1446 H (9/10/2024).

Dalam penyampaiannya, KH. Hamim menyoroti urgensi tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) bagi para kader Hidayatullah yang relevan dalam konteks pengembangan pribadi dan pendidikan spiritual.

Ia menyampaikan bahwa ilmu adalah cahaya yang sangat penting dalam kehidupan setiap Muslim. Namun, beliau menekankan bahwa cahaya ini tidak akan masuk ke dalam jiwa yang penuh dengan dosa.

“Ilmu itu cahaya, dan cahaya itu tidak akan masuk ke dalam jiwa yang penuh dengan dosa. Ia hanya akan menembus jiwa yang terus-menerus disucikan,” tegasnya, menggarisbawahi bahwa penyucian jiwa bukan hanya sekedar tuntutan spiritual, melainkan juga kunci dalam mencapai pemahaman yang lebih mendalam terhadap ilmu pengetahuan.

Tazkiyatun nafs, jelasnya, adalah proses yang harus dilakukan secara terus-menerus oleh setiap Muslim, khususnya kader Hidayatullah. Dalam proses ini, seseorang membersihkan hatinya dari dosa-dosa dan kotoran spiritual agar cahaya ilmu dapat menerangi hati.

Lebih lanjut, KH Hamim mengingatkan para kader untuk meneladani kerendahan hati Nabi Muhammad SAW ketika menerima perintah Iqra’ (bacalah) dari Allah SWT. Ketika Nabi pertama kali diperintahkan untuk membaca, beliau dengan rendah hati menjawab, “Maa ana biqari’ (saya tidak bisa membaca).”

“Ini adalah wujud kerendahan hati, siap menerima apa yang akan Allah berikan berupa cahaya ilmu bagi jiwa,” jelas Ustadz Hamim.

Sikap kerendahan hati yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW ini, lanjutnya, adalah pelajaran penting bagi para kader Hidayatullah untuk selalu bersikap rendah hati dalam menuntut ilmu.

Sikap ini mencerminkan bahwa ilmu sejati datang bukan hanya dari usaha manusia, tetapi juga dari kesadaran bahwa segala pengetahuan adalah milik Allah. Dengan hati yang bersih dan rendah hati, seseorang akan lebih siap menerima hikmah dan petunjuk dari Allah SWT.

Pendidikan yang Mengintegrasikan Penyucian Jiwa

KH Hamim kemudian berbicara tentang pentingnya mengintegrasikan konsep penyucian jiwa dalam pendidikan. Ia menekankan bahwa pendidikan yang hanya fokus pada pengembangan kognitif semata tidak akan menghasilkan manusia yang seutuhnya.

“Jika kita bisa menghadirkan konsep pendidikan yang menyertakan jiwa sebagai materi penting, maka kebaikan-kebaikan akan mulai tercipta,” ujarnya.

Pendidikan yang melibatkan penyucian jiwa tidak hanya mempersiapkan individu untuk sukses dalam hal materi, tetapi juga untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna.

Dengan menggabungkan aspek spiritual dalam kurikulum pendidikan, KH Hamim yakin bahwa para kader akan menjadi pribadi yang lebih baik, baik dalam hal moral maupun spiritual.

Ia mengingatkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam dunia pendidikan saat ini adalah terlalu fokus pada kecerdasan intelektual, sementara aspek-aspek spiritual dan emosional sering kali diabaikan.

“Ini terjadi karena kita terlalu fokus pada pengembangan aspek kognitif saja, sementara aspek spiritual dan emosional terabaikan,” tegasnya.

Dengan demikian, KH Hamim mengajak para pendidik dan kader untuk menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual dan spiritual, agar hasil pendidikan dapat dirasakan secara lebih menyeluruh.

Dampak Teknologi Terhadap Nilai-Nilai Kemanusiaan

Salah satu poin penting dalam ceramah KH Hamim adalah kritiknya terhadap dampak kemajuan teknologi terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Menurutnya, perkembangan teknologi yang pesat saat ini sering kali membuat manusia terjebak dalam kecerdasan buatan dan inovasi teknologi yang menjauhkan mereka dari esensi kemanusiaan itu sendiri.

“Kecerdasan intelektual dan kemajuan teknologi justru menjauhkan manusia dari nilai-nilai kemanusiaan,” ungkapnya.

Ia menggarisbawahi bahwa teknologi seharusnya digunakan sebagai alat untuk mempermudah kehidupan, bukan sebagai tujuan akhir.

Ketika manusia terlalu fokus pada teknologi dan melupakan pentingnya menjaga hubungan spiritual dengan Allah dan sesama manusia, maka mereka akan kehilangan arah hidup.

Hal ini, terang beliau, menjadi fenomena yang harus diwaspadai, terutama bagi para kader Hidayatullah yang diharapkan menjadi teladan dalam menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.

Dai senior yang aktif menulis ini juga mengajak para kader Hidayatullah untuk terus bermuhasabah, yaitu melakukan evaluasi diri secara rutin. Muhasabah, dalam pandangan Islam, adalah langkah penting dalam upaya penyucian jiwa.

Dengan bermuhasabah, seseorang dapat melihat kembali kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat dan berusaha memperbaiki diri agar menjadi individu yang lebih baik.

Ia juga kembali menekankan bahwa dengan jiwa yang bersih, hati akan menjadi lebih terang dan cahaya ilmu akan lebih mudah masuk ke dalam diri seseorang.

“Dengan jiwa yang bersih, hati akan terang, dan cahaya ilmu pun akan mudah masuk dan mengantarkan pada kebaikan,” jelasnya.

Proses penyucian jiwa ini, tambahnya, adalah langkah awal yang harus dilakukan oleh setiap kader untuk dapat meraih kesuksesan, baik di dunia maupun di akhirat.*/Hermanto Imam