Beranda blog Halaman 161

BMH dan POROZ Misi Kemanusiaan Solidaritas Indonesia untuk Palestina

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sebuah pesawat lepas landas dari Jakarta, membawa misi kemanusiaan yang tak biasa. Di dalamnya, terdapat delegasi dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dan POROZ, siap mengantarkan bantuan langsung ke Palestina.

Bukan sekadar bantuan, ini adalah simbol solidaritas yang mengakar kuat dalam sejarah bangsa Indonesia.

“Selama kemerdekaan Palestina belum diserahkan, maka selama itu Indonesia akan berdiri bersama Palestina,” kutipan Bung Karno yang diingat kembali oleh Imam Nawawi, Kepala Humas BMH Pusat, kala memberikan pemaparan mengapa kita membela Palestina dalam rangkaian pelepasan yang berlangsung di Pesantren Hidayatullah Depok, Rabu, 14 Rabi’ul Awal 1446 (18/9/2024).

Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, pun menegaskan, “Jangan pernah meninggalkan Palestina berjuang sendiri,” sambungnya menegaskan.

BMH, dengan dukungan penuh dari para donatur, menjawab panggilan kemanusiaan ini.

“Ini adalah komitmen kami untuk mendukung hak-hak hidup bangsa Palestina,” ucap Supendi, Direktur Utama BMH, sebelum berangkat.

Dengan syal Palestina melingkar di leher, mereka siap menghadapi perjalanan panjang dan penuh tantangan. Namun, semangat mereka tak pernah padam. Mereka membawa harapan dan doa dari jutaan rakyat Indonesia yang peduli.

Di tengah konflik yang tak kunjung usai, misi kemanusiaan ini menjadi secercah harapan bagi rakyat Palestina.

BMH dan POROZ membuktikan bahwa solidaritas bukanlah sekadar kata-kata, tapi tindakan nyata yang membawa perubahan.

Mereka adalah pahlawan kemanusiaan, yang dengan berani melangkah ke medan konflik, membawa pesan perdamaian dan kepedulian dari Indonesia.

“Semoga misi ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus berjuang demi kemanusiaan, tanpa memandang batas negara dan agama, hingga Palestina dapat hidup secara merdeka,” tutup Ketua Pengurus BMH Pusat, Firman ZA.*/Herim

Mualaf Baduy di Ciater Tersenyum Lega Sambut Ekspedisi Simpul Sinergi Kebaikan

0

LEBAK (Hidayatullah.or.id) — Jalanan rusak dan hutan terjal tak menghalangi semangat berbagi rombongan ekspedisi kebaikan simpul sinergi Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) dan YBM BRILiaN, Rabu, 14 Rabi’ul Awal 1446 (18/9/2024). Tim ekspedisi kebaiikan menembus Kampung Ciater, Desa Cibungur, Kabupaten Lebak, untuk menyalurkan bantuan kepada 30 keluarga mualaf Baduy.

Arfah (43), seorang perajin tas rajut, dan Mita (38), penjual pentol bakso, adalah dua dari sekian banyak mualaf yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup di tengah ekonomi yang sulit. Mereka memilih jalan hidayah dan tinggal di perkampungan mualaf yang dibangun oleh BMH sejak 2019.

“Alhamdulillah, walau sedikit ya dicukup-cukupkan saja,” ucap Mita, menggambarkan perjuangan mereka.

Melihat kondisi ini, BMH dan YBM BRILiaN bergerak cepat. Paket sembako dan perlengkapan ibadah, termasuk beras, minyak goreng, hingga sarung dan mukena, mereka antarkan langsung.

“Ini wujud kepedulian kita semua,” tegas Roni Hayani dari BMH Banten. “Kami tempuh jalanan rusak dan hutan licin, demi mengantarkan bantuan ini.”

Kehadiran mereka disambut gembira oleh para mualaf.

“Terima kasih BMH dan YBM BRILiaN,” ucap Arfah mewakili mereka, “Semoga semua donatur diberi keberkahan.”

Bantuan ini bukan hanya meringankan beban ekonomi, tapi juga menguatkan iman mereka. Di tengah keterbatasan, semangat berbagi ini menjadi bukti bahwa mereka tidak sendiri.

“Inilah berkah zakat, infak dan sedekah, menghadirkan satu kisah tentang perjuangan, keikhlasan, dan harapan. Di Kampung Ciater, BMH dan YBM BRILiaN tak hanya memberi bantuan, tapi juga menebar semangat hidup baru bagi para mualaf Baduy,” tutup Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Banten, Roni Hayani.*/Herim

Hadirkan Ambulance Gratis di Malinau Ringankan Beban Disaat saat Sulit

0

MALINAU (Hidayatullah.or.id) — Di tengah rimba Kalimantan Utara, di mana jalanan berliku dan akses terbatas, sebuah ambulans putih bersih melintasi perbatasan desa. Bukan sekadar kendaraan pengangkut pasien, ambulans ini adalah simbol harapan dan kepedulian, hadir untuk meringankan beban mereka yang membutuhkan di saat-saat sulit.

Pada 13 Rabi’ul Awal 1446 (17/9/2024), Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kaltara meresmikan layanan ambulans gratis di Malinau, sebuah inisiatif yang menyentuh hati dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Tak hanya melayani warga kota, ambulans ini juga siap menembus pedalaman, menjangkau mereka yang tinggal di wilayah terpencil, termasuk para mualaf yang dibina oleh Dai Tangguh BMH Kaltara, Ust. Muhydin, S.Pd.

Ust. Muhydin, dengan senyum penuh syukur, mengungkapkan betapa berartinya layanan ini bagi mereka. “Setelah kami menyelesaikan urusan jenazah, langsung diantarkan,” ujarnya, mengenang momen haru saat ambulans BMH Kaltara membantu mengantar jenazah seorang warga di RT 1 Desa Respen Tugu.

Ambulans ini bukan hanya sekadar alat transportasi, tetapi juga wujud nyata dari semangat berbagi dan kepedulian. Ia hadir di saat-saat genting, memberikan pertolongan tanpa pamrih, dan meringankan beban mereka yang sedang berduka.

Di Malinau, ambulans BMH Kaltara menjadi lebih dari sekadar kendaraan. Ia adalah simbol harapan, pengingat bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada tangan-tangan yang siap membantu.

“Ini adalah bukti nyata bahwa kebaikan tak mengenal batas, menjangkau setiap sudut negeri, bahkan hingga pelosok terpencil. Inilah berkah zakat, infak dan sedekah yang umat percayakan melalui BMH,” tutup Koordinator BMH Gerai Malinau, Irianto Damsy.*/Herim

Bersama Merajut Mimpi Besar Para Penghafal Quran Darul Hijrah

0

BONTANG (Hidayatullah.or.id) — Dalam ruangan sederhana di kantor Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Gerai Bontang, terjalin diskusi hangat antara dua pihak yang memiliki satu visi besar yakni melahirkan generasi penghafal Quran yang berkualitas.

Bukan sekadar rapat koordinasi biasa, pertemuan antara BMH Kaltim dan Yayasan Tahfidz Darul Hijrah Kaltim Bontang ini adalah wujud nyata komitmen untuk terus berbenah dan berinovasi.

“Kami tidak hanya ingin melihat sejauh mana program berjalan,” ujar Achmad Rifai, Kadiv Program dan Pendayagunaan BMH, dengan penuh semangat, dalam keterangan yang diterima media ini beberapa waktu lalu, 12 Rabi’ul Awal 1446 (16/9/24).

“Kami ingin menggali lebih dalam, memahami tantangan yang dihadapi, dan bersama-sama mencari solusi terbaik.”

Ustadz Syamsuddin, Ketua Yayasan Darul Hijrah, menyambut baik inisiatif BMH. “Dukungan BMH selama ini sangat berarti bagi kami,” ungkapnya dengan tulus. “Monitoring dan evaluasi ini menjadi cambuk bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas program tahfidz.”

Di balik tumpukan kertas dan diagram, tergambar mimpi besar para penghafal Quran di Darul Hijrah. Mereka bukan hanya ingin menghafal, tetapi juga memahami dan mengamalkan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami siap melangkah lebih baik di masa depan,” tegas Ustadz Syamsuddin, penuh keyakinan. “Dengan dukungan BMH dan kerja keras seluruh tim, kami yakin Darul Hijrah akan menjadi pondok tahfidz yang unggul dan menjadi rujukan di Kalimantan Timur.”

Rapat ini bukan sekadar formalitas, tetapi sebuah kolaborasi yang dibangun atas dasar amanah umat dan kepercayaan dan semangat untuk terus berkembang.

BMH Kaltim dan Darul Hijrah Bontang, bersama-sama merajut mimpi besar para penghafal Quran, menciptakan generasi yang tak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia.*/Herim

[KHUTBAH JUM’AT] Enam Bekal Agar Bahagia Hidup di Dunia dan Akhirat

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat iman dan Islam. Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, yang dengan rahmat-Nya kita masih bisa menikmati hari ini dengan penuh rasa syukur.

Kita semua, hamba-hamba Allah yang lemah, senantiasa membutuhkan karunia dan rahmat-Nya dalam setiap nafas dan langkah kita.

Hari ini kita berkumpul di rumah Allah, masjid yang penuh berkah, dalam keadaan sehat dan dalam keadaan iman yang teguh.

Sungguh, tidak ada nikmat yang lebih besar dari nikmat iman yang Allah tanamkan dalam hati kita. Iman inilah yang menjadi cahaya bagi kehidupan kita, penuntun kita di dunia menuju kebahagiaan yang hakiki di akhirat.

Betapa besar karunia-Nya, yang tak terhitung banyaknya, yang membuat kita mampu hidup dalam kebaikan dan kesejahteraan. Di tengah dunia yang penuh cobaan, Allah telah memberikan kita bekal kunci untuk hidup bahagia di dunia dan akhirat.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Dalam kitab Bustanul Fuqara’ wa Nuzhatul Qurra’, Imam Saleh Abdullah Haidar al-Katami pernah bercerita bahwa suatu hari Syaqiq al-Balkhi, ulama sufi yang terkenal sebagai pengobat hati, pernah bertanya kepada muridnya, Hatim al-A’sham, “Apa saja yang sudah engkau pelajari selama berguru kepadaku dalam kurung waktu tiga puluh tahun?”

Hatim menjawab, “Aku hanya belajar enam perkara”.

Pertama, aku melihat orang selalu meragukan rezekinya sehingga membuatnya kikir dan tamak. Tetapi aku selalu bertawakal kepada Allah tentang masalah rezeki.

Hud (هود) / 11:6

وَ مَا مِنۡ دَآبَّۃٍ فِی الۡاَرۡضِ اِلَّا عَلَی اللّٰہِ رِزۡقُہَا وَ یَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّہَا وَ مُسۡتَوۡدَعَہَا ؕ کُلٌّ فِیۡ کِتٰبٍ مُّبِیۡنٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (lauh mahfuzh)”

Karena aku termasuk makhluk melata sehingga hatiku tidak khawatir terhadap apa yang telah dijaminkan oleh maha kuasa untukku.

Kedua, aku melihat setiap orang memiliki teman untuk mengadukan keluhannya dan curhat kepadanya. Semua keluhan dan rahasianya diceritakan kepadanya. Namun ternyata temannya tidak bisa menyembunyikan rahasia itu sehingga tidak siap dengan takdir yang menimpanya.

Oleh karena itu, aku selalu menjadikan amal saleh sebagai teman agar nantinya bisa menolongku di hari kiamat, menguatkan aku ketika berhadapan dengan Allah SWT, dan menemaniku ketika melewati jembatan sirath.

Az-Zukhruf (الزخرف) / 43:67

اَلۡاَخِلَّآءُ یَوۡمَئِذٍۭ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الۡمُتَّقِیۡنَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”

Ketiga, aku telah melihat setiap orang memiliki musuh dan aku baru menyadari bahwa musuhku bukanlah orang yang menghinaku, menzalimiku dan menyakitiku, karena mereka hanya memberiku pahala mereka dan memikul segala dosaku.

Tetapi musuhku adalah mereka yang menggodaku dengan kemaksiatan ketika aku berada dalam ketaatan. Aku tahu musuhku itu adalah iblis, diriku sendiri, dan hawa nafsu.

Aku selalu berhati-hati dengan mereka dan mempersiapan segalanya untuk memerangi mereka. Aku tidak pernah membiarkan mereka mendekatiku.

Hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعاً لِمَا جِئْتُ بِهِ» حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ رُوِّيْنَاهُ فِي كِتَابِ الحُجَّةِ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ

“Dari Abu Muhammad Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak beriman seorang dari kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa” (Hadits hasan sahih, kami meriwayatkannya dari kitab Al-Hujjah dengan sanad shahih).

Al-Isra’ (الإسراء) / 17:32

وَ لَا تَقۡرَبُوا الزِّنٰۤی اِنَّہٗ کَانَ فَاحِشَۃً ؕ وَ سَآءَ سَبِیۡلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”

Keempat, aku melihat setiap yang hidup akan dimintai pulang dan malaikat mautlah yang memintanya. Aku pun selalu mempersiapkan diri sebelum datang memintaku pulang. Ketika waktunya tiba, akupun sudah siap menyambutnya tanpa ada keterikatan dengan dunia sedikit pun.

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah” (QS. Ar-Ra’du 11)

Kelima, aku melihat orang-orang saling mencintai dan membenci. Aku melihat orang saling mencintai tetapi tidak sedikitpun mereka saling memiliki.

Aku pun mengamati sebab datangnya cinta dan benci. Aku baru tahu bahwa jasad manusia akan sirna dariku bersama sirnanya hubungan antara diriku dan dirinya yaitu nafsu syahwat.

Aku mencintai semua orang dan aku tidak menginginkan semua apa yang mereka miliki kecuali apa yang dibutuhkan oleh diriku sendiri.

Al-Qiyamah (القيامة) / 75:20

کَلَّا بَلۡ تُحِبُّوۡنَ الۡعَاجِلَۃَ

“Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia”

Al-Fajr (الفجر) / 89:20

وَّ تُحِبُّوۡنَ الۡمَالَ حُبًّا جَمًّا

“dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan”

Keenam, aku melihat bahwa setiap yang tinggal pasti akan pergi dan digantikan oleh orang baru. Dan tempat perginya setiap yang tinggal adalah kuburan.

Aku pun selalu mempersiapan segalanya semampuku dengan melakukan amalan yang dapat membuatku bahagia ketika berada di tempat baru yang di baliknya terdapat surga dan neraka.

Al-Mumtahanah (الممتحنة) / 60:13

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَوَلَّوۡا قَوۡمًا غَضِبَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ قَدۡ یَئِسُوۡا مِنَ الۡاٰخِرَۃِ کَمَا یَئِسَ الۡکُفَّارُ مِنۡ اَصۡحٰبِ الۡقُبُوۡرِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa”

Lalu Saqiq al-Balkhi berkata,”Bagus wahai muridku, enam hal itu cukup untuk menjadi bekalmu. Amalkanlah hingga maut menjemputmu!”

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Rezeki seseorang tidak akan pernah tertukar sedikitpun dengan orang lain. Kematian tidak pernah tertunda jika sudah waktunya tiba.

Rahasia yang dibeberkan kepada teman belum tentu bisa terjaga dan musuh hakiki adalah teman yang mengajak kepada kemaksiatan.

Dan, dua orang anak adam yang saling mencintai belum tentu saling memiliki karena jika salah satu di antara mereka meninggal sangat kecil kemungkinan akan ikut bersama-Nya di liang kuburan.

Bertawakallah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala atas segala pekerjaan yang sudah diusahakan. Persiapkan amal sebanyak-banyaknya sebelum ajal menjemput.

Jagalah rahasiamu sendiri jangan sampai diceritakan kepada orang yang tidak bisa memegang amanah. Pilihlah teman yang baik yang mengajak kepada ketaatan. Cintailah seseorang karena mencari ridha Allah Subhanahu wa ta’ala, bukan demi nafsu semata.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Refleksi atas Pemahaman Al-Qur’an dan Realitas Kehidupan Dewasa ini

0

DALAM sejarah peradaban manusia, periode Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabatnya dianggap sebagai puncak kemuliaan umat manusia. Rasulullah bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang hidup bersama beliau, mengarungi kehidupan dengan penuh keimanan dan ketundukan terhadap wahyu ilahi.

Pernyataan Rasulullah tersebut tidak hanya bersifat retorik, tetapi juga mengandung hikmah mendalam mengenai sifat utama yang membedakan masa Rasulullah dari era setelahnya.

Dalam dunia yang semakin terhubung melalui media informasi, objektivitas menjadi kunci dalam menilai kebenaran. Jika seseorang mendapatkan informasi yang utuh dan berpikir dengan jernih, niscaya ia akan sampai pada kesimpulan yang serupa dengan yang dipegang oleh para sahabat Rasulullah. Namun, ketika kesimpulan yang diambil berbeda, hal ini biasanya disebabkan oleh salah informasi, kurangnya konteks, atau cara berpikir yang rusak.

Rahasia di Balik Kemuliaan Masa Rasulullah

Banyak yang bertanya, apa rahasia di balik kemuliaan dan keberhasilan umat di masa Rasulullah? Mengapa dalam kurun waktu yang singkat, peradaban Islam berhasil memengaruhi dan menginspirasi dunia? Jawabannya terletak pada satu faktor utama, yaitu Al-Qur’an.

Al-Qur’an menjadi rujukan utama bagi setiap sikap, perilaku, dan keputusan yang diambil oleh Rasulullah dan para sahabat. Dengan bimbingan wahyu yang langsung dari Allah, mereka mampu menjalankan kehidupan dengan penuh kedisiplinan, ketundukan, dan keikhlasan yang luar biasa.

Namun, jika kita menelusuri lebih dalam, kita akan mendapati bahwa tidak hanya sekadar menghafal atau memahami Al-Qur’an secara tekstual yang membuat mereka unggul.

Pemahaman terhadap Al-Qur’an benar-benar mengakar dan memengaruhi tindakan mereka secara nyata. Al-Qur’an bukan hanya menjadi bacaan atau teori, tetapi menjadi pedoman praktis yang diterapkan dalam setiap aspek kehidupan mereka.

Yang menarik untuk dicermati adalah kenyataan bahwa Al-Qur’an yang sama, yang menjadi sumber kemuliaan umat di masa Rasulullah, masih tetap ada hingga saat ini. Secara tekstual, tidak ada perubahan dalam Al-Qur’an dari masa ke masa. Namun, mengapa hasilnya berbeda? Mengapa pada zaman sekarang sulit untuk menemukan sosok pribadi yang mempesona dan memiliki kemuliaan seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat?

Perbedaan hasil ini menimbulkan banyak pertanyaan bagi para ulama dan cendekiawan. Salah satunya, Ust. Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, yang sering menyatakan kekhawatirannya terhadap perkembangan zaman.

Ia mencermati bahwa semakin jauh dari masa Rasulullah, semakin banyak terjadi kerusakan dalam tatanan kehidupan, dan semakin sulit untuk menemukan individu yang benar-benar menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Perubahan ini menimbulkan kekhawatiran, apakah umat manusia benar-benar masih memanfaatkan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam kehidupan mereka?

Lima Model Manusia dalam Menyikapi Al-Qur’an

Dalam menyikapi Al-Qur’an, ada berbagai tipe manusia yang dapat kita amati. Berdasarkan analisis Ust. Abdullah Said, ada setidaknya lima model manusia dalam memandang dan memahami Al-Qur’an:

  1. Tidak Mau Tahu dengan Al-Qur’an
    Golongan ini adalah mereka yang tidak tertarik atau tidak peduli dengan Al-Qur’an. Mereka mungkin tidak memiliki waktu atau keinginan untuk mendalami ajaran Islam, sehingga Al-Qur’an hanya menjadi sekadar kitab yang tidak memengaruhi hidup mereka.
  2. Salah Paham terhadap Al-Qur’an (Sok Tahu)
    Tipe ini adalah mereka yang mengklaim memahami Al-Qur’an, namun pemahaman mereka sesungguhnya dangkal atau salah. Mereka mengartikan ayat-ayat secara keliru atau bahkan memanipulasi teks untuk mendukung pandangan pribadi yang sebenarnya bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
  3. Tahu Al-Qur’an Tapi Tidak Mau Mengikutinya
    Sebagian orang memahami isi Al-Qur’an, namun enggan mengikuti ajarannya. Hal ini bisa terjadi karena alasan-alasan duniawi, seperti tekanan sosial, kenyamanan hidup, atau ketidakmauan untuk berkomitmen secara penuh terhadap ajaran agama.
  4. Mau Mengikuti Al-Qur’an Tapi Tidak Paham Cara Mengikutinya
    Ada juga mereka yang berkeinginan kuat untuk hidup sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an, namun tidak memiliki bimbingan yang tepat. Tanpa panduan dari ulama yang kompeten atau lingkungan yang mendukung, mereka kesulitan untuk mengaplikasikan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Mengikuti Al-Qur’an Hanya Sebatas yang Bersesuaian dengan Keinginannya
    Golongan terakhir ini adalah mereka yang memilih untuk mengikuti sebagian ajaran Al-Qur’an yang sejalan dengan keinginan atau kepentingan mereka, namun mengabaikan bagian lain yang dianggap tidak sesuai dengan gaya hidup atau ambisi pribadi.

Upaya Memahami dan Menerapkan Al-Qur’an

Menyadari kerusakan yang semakin parah dalam tatanan kehidupan umat, Ust. Abdullah Said menekankan pentingnya memahami Al-Qur’an sebagaimana Rasulullah dan para sahabat memahaminya. Ada dua keyakinan utama yang dipegang oleh beliau dalam upaya memajukan umat melalui Al-Qur’an.

Pertama, proses mempelajari Al-Qur’an harus mengikuti metode yang ditempuh oleh Rasulullah, yaitu berangsur-angsur dengan tahapan yang benar. Di Hidayatullah, metode ini dikenal dengan Sistematika Wahyu, di mana Rasulullah menerima wahyu secara bertahap selama lebih dari dua dekade. Setiap ayat diturunkan sesuai dengan kebutuhan umat saat itu, sehingga pemahaman mereka terhadap wahyu sangat kontekstual dan aplikatif.

Kedua, pemahaman terhadap Al-Qur’an tidak akan ada artinya tanpa pengejawantahan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, untuk menciptakan lingkungan yang mendukung penerapan Al-Qur’an, diperlukan lingkungan yang kondusif. Hal ini kemudian diwujudkan dalam bentuk pondok pesantren, yang tidak hanya mengajarkan teori-teori agama, tetapi juga menciptakan suasana yang mendukung penerapan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan nyata.

Ust. Abdullah Said memulai inisiatif ini dengan mendirikan pondok pesantren di Gunung Tembak, Balikpapan, yang kemudian diikuti dengan pendirian banyak pesantren serupa di berbagai wilayah di Indonesia. Pesantren-pesantren ini berfungsi sebagai “kampus” di mana para santri tidak hanya belajar agama, tetapi juga dilatih untuk menjadi individu yang mampu menerapkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan tantangan zaman yang semakin kompleks dewasa ini, umat Islam dituntut untuk kembali kepada Al-Qur’an, tidak hanya sebagai bacaan spiritual, tetapi juga sebagai panduan hidup (worldview). Menghadapi globalisasi, krisis moral, dan dekadensi sosial, hanya Al-Qur’an yang bisa menjadi benteng pertahanan dan solusi nyata bagi umat manusia.

Namun, sebagaimana yang telah diuraikan, keberhasilan umat dalam memahami dan menerapkan Al-Qur’an sangat tergantung pada bagaimana mereka mendekati kitab suci ini.

Apakah mereka hanya mempelajarinya sebagai ritual tanpa makna? Ataukah mereka benar-benar memahami setiap ajaran dan berusaha untuk menerapkannya dengan sungguh-sungguh? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan masa depan peradaban manusia.

Dalam konteks modern, umat Islam harus mampu mengintegrasikan Al-Qur’an ke dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan, ekonomi, politik, dan sosial.

Hanya dengan demikian, kita bisa berharap untuk melahirkan generasi baru yang mampu mengembalikan kejayaan Islam, seperti yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya.

Al-Qur’an adalah kitab yang abadi, tetapi keberhasilan penerapannya sangat tergantung pada upaya manusia untuk memahami dan menjadikannya sebagai panduan hidup. Ini adalah tantangan besar bagi umat Islam di setiap zaman, termasuk di era modern ini. Namun, dengan tekad yang kuat dan kesungguhan dalam menuntut ilmu, harapan untuk melahirkan generasi yang mulia seperti di masa Rasulullah masih bisa terwujud.

Rahmatan Lil ‘Alamiin

Di era yang serba modern ini, umat Islam dihadapkan pada banyak tantangan yang menguji komitmen mereka terhadap Al-Qur’an. Sejarah mencatat bahwa generasi terbaik umat Islam adalah generasi yang hidup pada masa Rasulullah.

Namun, kemuliaan generasi ini bukanlah sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh generasi sekarang, asalkan umat ini bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an secara komprehensif.

Melalui pemahaman yang mendalam terhadap Al-Qur’an dan penerapan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat berharap untuk melahirkan generasi baru yang akan mengembalikan kejayaan Islam dan menjadi rahmat bagi seluruh alam (kaffatan linnas rahmatan lil ‘alamiin).[]

*) Adam Sukiman Langgu, penulis adalah intern researcher di Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) dan Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta. Catatan ini elaborasi dari serial reflektif ‘Menyerap Ibrah dari Para Pendiri’ Edisi ke-88 yang ditulis oleh Ust. Akib Junaid Kahar, Rabu, 18 September 2024.

Anak Muda Lulusan Sekolah Dai Sultanbatara Teguh Berkhidmat di Pelosok Desa

0

MAMASA (Hidayatullah.or.id) — Di sebuah daerah dengan suhu sejuk, berkisar antara 14 hingga 27 derajat Celsius, terdapat sebuah kabupaten yang tidak banyak diketahui oleh banyak orang. Namun, di balik keheningan pegunungan Mamasa, ada sebuah misi yang mulia yang kini sedang menyala.

Setelah melalui proses panjang, dua pemuda dari lulusan Sekolah Dai Hidayatullah (SDH) Sulawesi Selatan, Barat, dan Tenggara (Sultanbatara) di Parepare, Sapri dan Al Farabi, ditugaskan saat bertepatan dengan wisuda SDH Sultanbatara angkatan ke-V dilaksanakan di Gedung Dakwah Hidayatullah Sulsel, Parepare, Kamis, 26 Muharam 1446 (1/8/2024).

Keduanya ditugaskan untuk membawa cahaya Islam ke tempat yang masih kekurangan bimbingan rohani, tepatnya di Desa Panetean, Kecamatan Aralle, Kabupaten Mamasa.

Dengan hanya 28.509 jiwa Muslim dari total 170.354 penduduk pada tahun 2023, Kabupaten Mamasa bisa dibilang merupakan sebuah lahan subur bagi misi dakwah. Semangat yang mereka bawa begitu kuat, berlandaskan pengabdian tanpa syarat.

Tugas yang diberikan kepada mereka setelah menyelesaikan pendidikan dai adalah amanah yang diterima dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan. Bukan sekadar bekerja untuk menunaikan tugas, tetapi mereka datang dengan misi yang lebih besar—membangkitkan jiwa-jiwa yang haus akan bimbingan rohani dan pendidikan agama.

Hidupkan Dakwah di Atas Tanah Wakaf

Perjalanan dakwah di Mamasa tidak dimulai dengan mudah. Pencarian tanah wakaf untuk mendirikan pusat kegiatan agama sudah berlangsung sejak tahun 2015. Tahun demi tahun, harapan dan usaha untuk mendapatkan sebidang tanah tidak pernah surut.

Hingga akhirnya, kabar baik datang dari Kepala Desa Panetean Fikal S.sos. Sebuah sebidang tanah seluas satu hektar di desa tersebut dihibahkan oleh kepala desa atas nama keluarganya. Ini bukan sekadar sebidang tanah biasa, tapi sebuah anugerah besar yang disambut dengan rasa syukur dan keyakinan bahwa Allah telah memberikan jalan untuk memperjuangkan dakwah di daerah terpencil ini.

Tanah wakaf tersebut kini menjadi titik awal dari perubahan besar yang akan terjadi di Panetean. Dalam sebuah perjalanan yang memakan waktu hingga dua jam dari pusat Kabupaten Mamasa, Sapri dan Al Farabi melangkah mantap menuju desa yang akan menjadi ladang dakwah mereka. Berbekal keikhlasan dan tekad yang kuat, mereka memulai misi mereka di sana.

Hadirkan Rumah Qur’an

Sesampainya di Desa Panetean, keduanya langsung menempati salah satu rumah warga yang telah lama kosong. Namun, mereka tidak menunggu lama untuk mulai bergerak. Dalam hitungan hari, Rumah Qur’an Ar Royah diaktifkan. Lokasinya berada di Dusun Ba’bapane, desa kecil yang berada di kaki gunung. Kehadiran mereka disambut hangat oleh warga setempat, terutama oleh anak-anak yang antusias untuk belajar mengaji.

Setiap hari, rutinitas di rumah Qur’an ini menjadi sebuah oase baru bagi penduduk. Sapri dan Al Farabi dengan penuh dedikasi mengajari anak-anak setempat membaca Al-Qur’an. Kegiatan ini menjadi pusat perhatian desa karena sebelumnya tidak ada aktivitas keagamaan serutin ini.

Rumah Qur’an Ar Royah menjadi simbol semangat baru, di mana anak-anak kecil di dusun tersebut mulai mengenal Islam lebih dalam. Tidak hanya anak-anak, para orang tua pun merasakan keberkahan dari kehadiran dua dai muda ini.

Keaktifan Sapri dan Al Farabi di masjid setempat juga menjadi daya tarik tersendiri bagi warga. Tidak lazim di desa tersebut ada anak muda yang rajin bolak-balik ke masjid lima kali sehari. Keduanya tak hanya hadir untuk melaksanakan shalat, tetapi juga mengambil peran dalam membersihkan masjid, mengumandangkan adzan, dan memimpin jamaah dalam shalat. Aktivitas mereka memancarkan aura kepemimpinan yang kuat, menginspirasi generasi muda setempat untuk lebih dekat dengan agama.

Tak heran jika dalam hitungan minggu, nama mereka mulai dikenal di seluruh penjuru desa. Setiap Jumat, keduanya selalu tampil sebagai khatib dalam khutbah Jumat. Hal ini semakin memperkuat peran mereka di masyarakat, sebagai tokoh muda yang menjadi penggerak dakwah di tengah keterbatasan sarana dan prasarana di desa tersebut.

Tantangan Mengajar dan Bangun Pondok

Satu tantangan unik yang dihadapi oleh Sapri dan Al Farabi datang dari para ibu-ibu setempat. Keinginan para ibu-ibu untuk belajar tahsin Al-Qur’an akhirnya mencuat. Ini menjadi pengalaman baru bagi keduanya, karena selama di pondok, mereka belum pernah mengajari ibu-ibu.

Awalnya, ada rasa grogi dan malu, tetapi keinginan untuk menyebarkan ilmu tahsin lebih besar. Mereka pun menerapkan metode pembelajaran Al-Qur’an Grand-MBA dengan sukses.

Dikutip dari laman Posdai.or.id, kelas tahsin ini tidak hanya menjadi tempat belajar bagi para ibu, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi yang mempererat hubungan antarwarga. Perlahan, kebiasaan baik ini menyebar ke desa-desa tetangga. Berkat tekad dan pengabdian mereka, dakwah Islam di daerah tersebut semakin berkembang pesat.

Keberadaan Sapri dan Al Farabi di Desa Panetean tak hanya membawa manfaat jangka pendek. Bapak Fikal selaku Kepala Desa Panetean, berharap agar Hidayatullah dapat menempatkan dai permanen di desa tersebut. Fikal melihat dampak positif dari kehadiran dua dai muda ini. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, semuanya semangat untuk belajar mengaji dan memperdalam agama.

Bahkan, warga dari desa tetangga seperti Aralle Utara dan Bumal juga mulai meminta agar kegiatan serupa dilakukan di desa mereka. Hal ini menunjukkan bahwa semangat dakwah yang dibawa oleh Sapri dan Al Farabi tidak hanya terbatas di Panetean, tetapi juga menyebar ke seluruh pelosok Kabupaten Mamasa.

Fikal juga berharap pembangunan pondok pesantren di atas tanah wakaf segera terwujud. Ia yakin, dengan adanya pondok, pembinaan umat Islam di daerah tersebut bisa lebih terstruktur dan berkesinambungan.

Menjalani Dakwah dengan Kesederhanaan

Meski tantangan dan jarak menjadi bagian dari keseharian mereka, Sapri dan Al Farabi tidak pernah mengeluh. Setiap hari, mereka berjalan kaki dari rumah ke masjid dan majelis taklim. Terkadang, tetangga menawarkan sepeda motor untuk mereka pinjam, tetapi keduanya merasa enggan untuk terlalu sering meminjam. Kemandirian dan keteguhan mereka dalam menjalankan misi dakwah benar-benar mencerminkan spirit pengabdian yang luar biasa.

Dengan ketulusan, kesabaran, dan keberanian, Sapri dan Al Farabi telah menjadi simbol pahlawan dakwah di pelosok Mamasa, membuktikan bahwa di balik keterbatasan, selalu ada jalan untuk menyebarkan kebaikan dan memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam semangar keberanian, pengorbanan, dan keyakinan. (ybh/hidayatullah.or.id)

Terus Meneguhkan Khidmat Dakwah dan Tarbiyah Islamiyah di Wilayah Penyangga

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayaturrahman (PQH) di Caringin, Ciawi, Bogor, menjadi tuan rumah acara Halaqah Kubra – Silaturrahim Gabungan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta (DKJ), Jawa Barat, dan Banten, selama 2 hari, Sabtu – Ahad, 10-11 Rabi’ul Awal 1446 H atau bertepatan dengan 14-14 September 2024.

Dalam kesempatan ini, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. H. Dr. Nashirul Haq, Lc, MA, menyampaikan pesan penting terkait peran wilayah penyangga ini dalam gerakan dakwah dan tarbiyah islamiyah.

Dalam taushiahnya yang dihadiri ratusan kader, Nashirul Haq menekankan betapa pentingnya keberlanjutan gerakan dakwah islamiyah di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Menurutnya, ketiga wilayah ini tidak hanya menjadi tulang punggung bagi pergerakan Hidayatullah di Indonesia, tetapi juga selalu tampil sebagai pelopor yang tidak tergantikan dalam mendukung misi dakwah Islam.

“Gerakan dakwah dan tarbiyah tidak boleh berhenti karena DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten adalah wilayah penyangga yang kepeloporannya selalu tak tergantikan, mulai dari sumber daya manusia hingga sumber daya lainnya yang terkandung di dalamnya,” ujar Nashirul Haq di hadapan peserta halaqah di lapangan PQH, Sabtu malam, 10 Rabi’ul Awal 1446 (14/9/2024).

Dalam momen tersebut, Nashirul Haq juga menjelaskan tentang tiga warisan utama Hidayatullah yang menjadi pondasi bagi para kader dalam melaksanakan gerakan dakwah dan tarbiyah. Ketiga warisan itu adalah superstruktur, suprastruktur, dan infrastruktur. Ia mengingatkan bahwa warisan ini tidak hanya berupa bangunan fisik atau jaringan organisasi, tetapi juga mencakup visi besar yang perlu dijaga dan dilanjutkan.

“Superstruktur, suprastruktur, dan infrastruktur adalah warisan yang harus dipahami dan dilanjutkan oleh setiap kader. Warisan ini menjadi landasan dalam menjalankan dakwah islam, yang harus terus kita kembangkan dengan penuh tanggung jawab,” jelas Nashirul.

Superstruktur merujuk pada tatanan organisasi Hidayatullah yang bersifat terstruktur dari pusat hingga ke tingkat daerah, sementara suprastruktur adalah aspek nilai, metodologi, dan semangat yang melandasi seluruh gerakan. Sedangkan infrastruktur mencakup fasilitas dan sarana pendukung yang dibangun untuk memperkuat aktivitas dakwah Islamiyah di berbagai wilayah.

Lebih lanjut, Nashirul Haq menegaskan pentingnya mewujudkan nilai-nilai dasar organisasi Hidayatullah ke dalam sistem yang terintegrasi. Menurutnya, setiap kader harus memastikan bahwa semua tindakan dan program yang dijalankan mengarah pada tujuan utama, yaitu tegaknya kalimatullah hiyal-‘ulya (Kalimat Allah yang tertinggi).

“Nila-nilai dasar organisasi harus mewujud dalam sistem yang kita bangun. Semua yang kita lakukan harus terstruktur dan terukur, semuanya dalam rangka kalimatullah hiyal-‘ulya,” tegas Nashirul.

Dalam penjelasannya, Nashirul menyampaikan bahwa tegaknya kalimatullah tidak hanya berkaitan dengan aspek ritual atau ibadah, tetapi juga mencakup seluruh aktivitas kehidupan. Ini berarti, dakwah islamiyah yang digalakkan Hidayatullah harus bersifat menyeluruh, merangkul setiap aspek kehidupan umat, mulai dari pendidikan, ekonomi, sosial, hingga politik.

Sebagai organisasi yang telah eksis selama puluhan tahun, Nashirul Haq mengingatkan bahwa jatidiri Hidayatullah harus tetap menjadi paradigma yang kokoh bagi setiap kader. Jatidiri ini, kata Nashirul, tidak boleh tergerus oleh tarikan dari luar, apalagi hanya karena melihat hal-hal yang tampak menarik dari satu sisi saja.

“Jatidiri Hidayatullah harus menjadi fikroh (paradigma) bagi segenap kader agar tidak mudah tergoda, tergiur, atau terpesona dengan berbagai tarikan dari yang lain hanya karena melihat dari satu sisi,” ujar Nashirul.

Ia menegaskan bahwa dalam situasi dunia yang semakin kompleks, kader Hidayatullah harus memiliki keteguhan hati dan pikiran dalam menghadapi berbagai tantangan dan godaan. Menurutnya, keteguhan ini hanya bisa dibangun jika setiap kader memahami dengan baik jatidiri Hidayatullah dan mampu menjadikannya sebagai landasan berpikir serta bertindak.

Bekerja dengan Hati dan Nyali

Salah satu bagian penting dari pesan spirit Nashirul Haq adalah saat ia menjelaskan tentang metode gerakan Hidayatullah, yaitu dari fikriyah (pemikiran) ke amaliyah (tindakan). Ia menyebut bahwa setiap pemikiran yang baik harus diwujudkan dalam tindakan nyata, dan gerakan Hidayatullah mengharuskan para kader untuk bekerja dengan penuh keikhlasan, keberanian, dan ketulusan hati.

“Metode gerakan Hidayatullah itu dari fikriyah ke amaliyah, dari konsepsional ke gerakan yang muaranya adalah bekerja sebaik-baiknya untuk mencapai predikat ahsanu ‘amala, yakni bekerja dengan hati, tangan, dan nyali,” ungkap Nashirul.

Ia menekankan bahwa pengkhidmatan Hidayatullah dalam dakwah dan tarbiyah umat harus selalu mengedepankan kualitas dalam setiap amal yang dilakukan. Dengan mengutip ayat Al-Qur’an tentang ahsanu ‘amala (amal terbaik), Nashirul berharap setiap kader Hidayatullah selalu memberikan yang terbaik dalam setiap tugas dakwah yang diemban.

Tantangan dan Harapan

Dalam acara halaqah tersebut, Nashirul Haq juga menyampaikan harapan besar kepada para kader di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Ia meminta sebagai pemakmur bumi agar mereka terus menjaga semangat perjuangan, tidak hanya untuk Hidayatullah, tetapi juga untuk kemajuan umat Islam secara keseluruhan.

“Tantangan di masa depan akan semakin besar, terutama di wilayah penyangga ini. Namun, saya yakin bahwa dengan semangat dan keteguhan hati, kader Hidayatullah akan mampu menjawab setiap tantangan tersebut dengan baik,” kata Nashirul optimis.

Nashirul juga mengingatkan bahwa wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten memiliki potensi besar yang perlu dikelola dengan baik. Dengan sumber daya manusia yang melimpah dan potensi ekonomi yang besar, ketiga wilayah ini diharapkan dapat menjadi lokomotif bagi perkembangan dakwah di masa depan.

Dengan pesan-pesan yang kuat dan relevan, pada kesempatan tersebut Nashirul Haq menegaskan posisi penting Hidayatullah sebagai salah satu gerakan dakwah terdepan di Indonesia. Warisan yang telah ditinggalkan oleh para pendiri, baik itu dalam bentuk superstruktur, suprastruktur, maupun infrastruktur, kini menjadi tanggung jawab bersama untuk diteruskan oleh generasi penerus.

Acara Halaqah Kubra ini berakhir dengan suasana penuh khidmat dan semangat juang yang tinggi. Para peserta yang hadir, mulai dari para pengurus DPW hingga para kader dar tiga wilayah dan santri, mengaku mendapatkan banyak inspirasi dari pidato yang disampaikan narasumber.

“Semoga nilai-nilai yang disampaikan dalam acara ini dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam aktivitas dakwah maupun kehidupan pribadi,” kata Munawwir Baddu, ketua panitia.

Menurut Munawwir, gerakan Hidayatullah tidak hanya berhenti pada tataran konsepsi. Forum ini, dengan menghadirkan para senior sebagai narasumber, menurutnya ingin meneguhkan langlah setiap kader untuk terus bergerak, berkarya, dan memberikan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa.

“Dengan semangat ahsanu amala seperti ditekankan Ustadz Nashirul tadi, diharapkan bahwa dakwah Hidayatullah akan terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi masyarakat luas, terutama di wilayah penyangga seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten,” tandasnya.*/(ybh/hio)

Melintasi Waktu dan Medan Torehkan Senyum di Wajah Mualaf Bangkalaan Dayak

0

KOTABARU (Hidayatullah.or.id) — Debu jalanan yang beterbangan, guncangan kendaraan yang tak kenal ampun, dan terik matahari yang membakar kulit tak menyurutkan langkah tim Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kalimantan Selatan.

Dengan hati penuh tekad, mereka menempuh perjalanan panjang selama 10 jam menuju Desa Bangkalaan Dayak, Kecamatan Kelumpang Hulu, Kotabaru. Tujuannya satu: membawa secercah harapan bagi para mualaf di pelosok.

Setibanya di desa, lelah perjalanan seakan terbayar lunas. Ratusan pasang mata penuh harap menyambut mereka. Bukan sekadar paket sembako dan perlengkapan ibadah yang mereka bawa, tapi juga semangat persaudaraan yang tak ternilai harganya.

KH. Dzulkifli Mansur, dengan tutur katanya yang lembut namun penuh makna, mengisi pengajian yang digelar bersamaan dengan acara penyaluran bantuan. Tausiyahnya tentang pentingnya rasa syukur atas hidayah Allah menyentuh hati para mualaf, termasuk Ibu Lisda.

Air mata haru mengalir di pipinya saat menerima bantuan. “Terima kasih kepada BMH, YBM BRILiaN, dan seluruh tim yang telah memberikan paket sembako dan perlengkapan ibadah kepada kami,” ucapnya lirih.

“Semoga BMH dan para timnya terus memberikan kontribusi nyata kepada umat,” katanya, Sabtu, 10 Rabi’ul Awal 1446 (14/9/2024)

Namun, di balik rasa syukur itu, tersirat sebuah harapan yang lebih besar. “Kami berharap kepada BMH agar musholla kami yang sangat kecil ini bisa direnovasi dan lebih besar, serta bisa dilengkapi dengan MCK sehingga musholla kami ini bisa menampung lebih banyak jamaah pada saat kegiatan pengajian rutin,” pinta Ibu Lisda, mewakili suara hati warga desa.

Ahmad Bardi, Kepala BMH Perwakilan Kalimantan Selatan, menyaksikan momen mengharukan ini dengan penuh rasa syukur. “Perjalanan panjang ini adalah bukti bahwa kepedulian tidak mengenal batas dan jarak,” ujarnya.

“Kami akan terus berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi saudara-saudara kita di pelosok,” ucapnya.

Di Desa Bangkalaan Dayak, 137 paket bantuan telah disalurkan, namun yang lebih penting, semangat kebersamaan dan kepedulian telah ditanamkan.

BMH Kalsel telah membuktikan bahwa jarak bukanlah penghalang untuk berbagi, dan setiap langkah kecil yang mereka ambil dapat memberikan dampak besar bagi kehidupan mereka yang membutuhkan.*/Herim

Sumur Bor Wakaf Harapan Baru Mengalir di Tengah Kekeringan Singosaren

0

PONOROGO (Hidayatullah.or.id) — Di tengah terik matahari yang membakar dan tanah yang retak di Desa Singosaren, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, sebuah harapan baru mulai mengalir. Bukan dari hujan yang telah lama dinanti, melainkan dari sebuah sumur bor yang tengah dibangun dengan penuh semangat oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

Sumur bor ini bukan sekadar sumber air, tetapi juga simbol kepedulian dan amanah wakaf dari Ibu Isy Karimah Syakir, SH., M.Kn., M.H., yang ingin memberikan kehidupan baru bagi para santri Pondok Pesantren Quran Cahaya Tasbih 2.

Ustaz Saifullah, pengasuh pondok pesantren, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. “Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih kepada BMH dan Ibu Isy Karimah Syakir atas wakaf ini,” ujarnya dengan mata berbinar.

“Dengan adanya sumur bor, santri kami akan lebih fokus dalam belajar dan beribadah tanpa harus khawatir akan ketersediaan air bersih,” lirihnya menambahkan.

Di balik layar, tim BMH bekerja keras, menggali tanah yang keras dan kering, membawa harapan akan air yang akan segera mengalir. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, yang berjuang untuk mewujudkan impian para santri akan akses air bersih yang layak.

Ibu Isy Karimah Syakir, SH., M.Kn., M.H., sang pewakaf, turut merasakan kebahagiaan para santri.

“Saya berharap, melalui wakaf ini, para santri bisa mendapatkan manfaat maksimal dan dapat mengembangkan potensi mereka dalam menghafal dan mempelajari Al-Qur’an tanpa hambatan,” tutur Ibu Isy Karimah dengan penuh harap.

Imam Muslim, Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jatim, menegaskan komitmen BMH untuk mengawal amanah wakaf ini hingga tuntas.

“Kami ingin memastikan setiap tetes air yang dihasilkan dari sumur bor ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi para santri dan warga sekitar,” ungkapnya, seperti dalam keteramgannya diterima media ini, Selasa, 13 Rabi’ul Awal 1446 (17/9/2024).

Sumur bor ini bukan sekadar proyek pembangunan, tetapi juga sebuah kisah tentang semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama.

Di tengah kekeringan yang melanda, sumur bor ini menjadi oase yang memberikan harapan dan kehidupan baru bagi masyarakat Ponorogo.*/Herim