Beranda blog Halaman 181

Meneladani Sikap Tawadhu’ dan Kearifan Dakwah Ulama Masa Lalu

BILA kita menelaah sejarah hidup generasi terdahulu, kita mendapati para ulama diantara mereka benar-benar menjadi pelita di tengah-tengah umat. Siapa pun yang melihat dan bergaul dengan mereka akan merasakan ketulusan yang tidak dibuat-buat, komitmen yang tak ternoda, dan kejujuran yang dapat diandalkan keasliannya.

Satu lagi, mereka sangat-amat tawadhu’ di atas segenap keluasan ilmu dan ketekunan ibadah yang diakui kawan maupun lawan.

Betapa sering mereka berhadapan dengan situasi-situasi yang menguji kemantapan akhlaknya, dan lulus. Salah seorang dari mereka memilih diam dan khusyu’ menyimak sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, meski disampaikan anak bau kencur.

Atha’ bin Abi Rabah (tabi’in, w. 114 H) berkata, “Seorang anak muda meriwayatkan sebuah hadits kepadaku, maka aku pun mendengarkannya seakan-akan aku belum pernah mendengarnya, padahal aku telah mendengarnya sebelum ia dilahirkan.”

Diriwayatkan pula bahwa Ibnu Wahb (atba’ tabi’in, w. 197 H) berkata, “Sungguh aku mendengar sebuah hadits dari seseorang yang sebetulnya sudah aku dengar sebelum kedua orangtuanya menikah, namun aku diam memperhatikannya seolah-olah aku belum pernah mendengarnya.” (Al-Adab asy-Syar’iyyah, II/170)

Karena ketawadhu’an pula mereka lebih banyak diam dan mendengarkan, bukan bicara kesana-kemari untuk menonjolkan diri.

Khalid bin Shafwan (w. 133 H) berkata, “Bila engkau melihat seorang ahli hadits menceritakan sebuah riwayat yang sudah kaudengar atau menceritakan suatu kisah yang sudah kauketahui, maka jangan mencampurinya dengan harapan agar orang-orang yang hadir tahu bahwa engkau pun sudah tahu, sebab yang seperti itu membuktikan ketidakcerdasanmu dan juga kekurangajaranmu.” (Al-Adab asy-Syar’iyyah, II/170)

Dengan kata lain, kegemaran untuk berkoar-koar seringkali membuktikan ketidakcerdasan semata. Banyak orang yang sangat bersemangat menginterupsi para ulama atau bertanya panjang lebar dalam forum-forum ilmiah, sekedar unjuk gigi dan bukan mencari ilmu. Sebab, meskipun pertanyaannya telah dijawab ia tidak akan mau menerimanya dan segera membantah dengan keras. Ini sekaligus menunjukkan tipisnya akhlak mulia dan tebalnya kekurangajaran pada diri mereka.

Di zaman kita, fenomena seperti ini sangat mudah ditemukan di status Facebook, video Youtube, akun Twitter, laman blog, ruang komentar di belakang artikel pada berbagai situs internet, dsb.

Cara generasi Salaf dalam memandang dirinya maupun orang lain memang sangat mengagumkan. Berkat kedalaman ilmunya, mereka sangat mengerti kesembronoan orang-orang di sekitar mereka dalam beramal.

Akan tetapi, di saat bersamaan mereka juga menyadari keadaan dirinya sendiri yang jauh lebih buruk. Mengapa demikian? Sebab, orang lain bertindak sembarangan karena awam dan belum mengerti, sehingga bisa diterima.

Sebaliknya, mereka adalah para ulama sehingga kesembronoannya pasti sulit dimaklumi. Inilah yang melahirkan sikap penuh kasih dan keinginan besar untuk membimbing kaum muslimin, tanpa merasa dirinya suci apalagi terbebas dari kesalahan.

Abu Darda’ berkata, “Engkau belum benar-benar faqih selama belum bisa melihat Al-Qur’an memiliki banyak sisi (makna). Engkau pun belum benar-benar faqih selama belum membenci bagaimana perilaku manusia tatkala berhadapan dengan Allah, kemudian engkau mengarahkan pandangan kepada dirimu sendiri, dan ternyata engkau lebih membenci perilakumu sendiri ketika berhadapan dengan Allah dibanding kebencianmu terhadap perilaku manusia.” (Riwayat Abdurrazzaq dan Abu Nu’aim al-Ashbahani).

Generasi Salaf lebih tertarik membenahi dirinya sendiri, bukan mengorek-korek aib sesama muslim apalagi mengobralnya. Diceritakan bahwa pada suatu musim haji al-Hafizh Abu Ishaq Ibnu Dizil (w. 281 H) didatangi dua orang yang bertanya tentang sebuah hadits.

Saat itu, az-Za’farani juga hadir dan berkata, “Wahai Abu Ishaq, mengapa Anda mau meriwayatkan hadits kepada orang Zindiq?” Ibnu Dizil balik bertanya, “Siapa yang Zindiq?” Az-Za’farani menjawab, “Orang ini! Sungguh Abu Hatim tidak mau meriwayatkan hadits sebelum beliau menguji (orang yang bertanya itu).”

Ibnu Dizil berkomentar, “Abu Hatim itu – menurut kami – adalah amirul mu’minin di bidang hadits, akan tetapi menguji (keyakinan orang lain) itu merupakan kebiasaan kaum Khawarij. Siapa pun yang hadir ke majelisku dan ia termasuk Ahlus Sunnah, maka ia akan mendengar sesuatu yang menyejukkan matanya. Namun siapa saja yang termasuk Ahlul Bid’ah, ia akan mendengar sesuatu yang memanaskan matanya.” (Siyaru A’lamin Nubala’, XIII/189)

Bandingkan dengan sebagian orang di zaman ini yang teramat gemar menelisik kesalahan-kesalahan orang lain dan mengumbar aib sesamanya di sembarang forum. Kata-katanya kasar, retorikanya arogan, dan motif-motifnya seringkali sulit dipahami akal sehat.

Mereka sangat mahir menelanjangi orang lain, akan tetapi buta terhadap kekurangannya sendiri. Akibatnya, aktivitas dakwah berubah menjadi pencemaran nama baik, dan kajian ilmiah pun berbelok menjadi arena mempergunjingkan keburukan saudara sendiri (ghibah).

Apa sebenarnya yang mereka harapkan? Larinya umat dari dakwah dan semakin terbenam dalam kesesatannya? Mengapa untuk meyakinkan kebaikan diri sendiri harus ditempuh dengan mengobral keburukan orang lain? Akhlak siapakah yang mereka tiru? Metode dakwah siapakah yang mereka teladani?

Sungguh, Allah telah merangkum sifat dan akhlak Rasulullah ketika menghadapi umatnya, baik yang mukmin maupun kafir, dalam serangkaian sanjungan yang menakjubkan:

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (QS. At-Taubah: 128-129)

Tiga belas tahun beliau membimbing dengan penuh kasih, namun malah diusir dari Makkah dan terus-menerus diperangi. Tapi, apa yang Allah minta dari beliau? Ternyata, dalam surah ini Allah mengajarinya agar mengatakan: “cukuplah Allah bagiku”, bukannya mencaci-maki dan mencemarkan kehormatan lawan-lawannya. Untuk diketahui, surah at-Taubah termasuk yang paling akhir diturunkan kepada beliau.

Dakwah ini memerlukan lebih banyak ilmu, kearifan, kesabaran, dan ketawadhu’an; bukan hanya adu argumen dan paparan dalil. Bagaimana pun, debat akan disambut dengan debat, sedangkan kesantunan akan dihargai sesuai kadarnya.

Siapa saja yang mengandalkan debat sebagai jalan dakwahnya, akan disesatkan dalam labirin tak berujung. Imam Malik bin Anas pernah menertawakan orang-orang yang gemar berdebat dalam masalah akidah;

Beliau berkata, “Menurutmu, jika datang seseorang yang lebih pintar mendebat dibanding dirinya, bukankah setiap hari ia akan meninggalkan agamanya untuk mengikuti agama yang baru?” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, III/175). Ya, demikianlah faktanya. Wallahu a’lam.[]

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, penulis adalah pengasuh Yayasan Pendidikan Integral (YPI) Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Batu, Malang, Jawa Timur

Mujahid Dakwah itu selalu Semangat Shalat Berjamaah di Masjid

Pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Ustadz Amin Mahmud, dalam acara Semarak 1 Muharram 1446 Hijriyah di Masjid Ar-Riyadh Gunung Tembak, Balikpapan, Ahad (7/7/2024) pagi.* [Foto: SKR/MCU]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Mengambil spirit momen Muharram, Anggota Majelis Penasihat Hidayatullah, Ust. H. Amin Mahmud, menekankan pentingnya mental baja bagi para kader dan dai dalam berdakwah dan beribadah.

Di antara mental baja yang dimaksud adalah semangat beribadah, termasuk shalat berjamaah di masjid.

“Sebagai mujahid dakwah, kita haruslah senantiasa semangat dalam menunaikan shalat berjamaah,” ujarnya.

Pesan itu disampaikannya pada acara Semarak Muharram 1446 Hijriyah di Masjid Ar-Riyadh Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Ahad, 1 Muharram 1446 H (7/7/2024).

Menurut Pembina Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak ini, semangat shalat berjamaah di masjid harus betul-betul tinggi.

Bahkan, menurutnya, “Meskipun hujan, jangan jadikan alasan untuk tidak ke masjid. Kita bisa membeli mantel baru dan berganti pakaian di masjid. Ingatlah, shalat adalah satu-satunya perintah Allah yang tidak bisa ditinggalkan.”

Menurutnya, hal itu sebagai bentuk kokohnya keimanan.

“Kader dakwah haruslah memiliki iman yang kuat,” tegas dai senior tersebut, seperti dinukil dari laman ummulqurahidayatullah.id.

“Iman inilah yang menjadi modal utama dalam dakwah, seperti yang ditunjukkan oleh Ustadz Abdullah Said yang meskipun tidak memiliki harta benda, namun memiliki kekuatan iman yang luar biasa,” tambahnya.

Ustadz Amin juga mengingatkan para kader untuk selalu menjaga prasangka baik dalam menjalankan tugas dakwah.

“Jangan pernah ragu atau berprasangka buruk terhadap amanah yang diberikan,” pesannya.

“Kita semua memiliki niat yang sama, yaitu untuk menyebarkan agama Allah dan mengantarkan kebahagiaan bagi semua orang.”

Semarak Muharram 1446 H di Masjid Ar-Riyadh berlangsung dua hari, Sabtu-Ahad (6-7/7/2024), bertema “Kokohkan Jamaah dengan Spirit Hijrah”.* (Herim/MCU)

[KHUTBAH JUM’AT] Dakwah Membawa Misi Keselamatan

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’syiral muslimin jama’ah Jum’ah rahimakumullah

Dakwah adalah urusan besar bagi kaum muslimin, karena dakwahlah yang menentukan selamat atau binasanya umat manusia, serta bahagia atau celakanya.

Keselamatan manusia sejak di dunia hingga akhirat sangat tergantung sejauh mana dakwah yang dibawa para Rasul sampai kepada mereka.

Setelah sempurna misi dakwah Rasulullah ﷺ, tugas besar ini pun dibebankan kepada generasi yang hadir setelahnya dari kalangan orang-orang yang memiliki keimanan.

Tidak ada satupun generasi yang terlepas dari misi dakwah ini sebagai sebuah kewajiban mengajak manusia kepada kebenaran dan keselamatan.

Manusia memiliki tabiat yang cenderung mengikuti hawa nafsu (syahwat), berpotensi mengikuti kesesatan dan syubhat, juga berpeluang melakukan kezaliman. Oleh karenanya dakwah sangat dibutuhkan, mengingatkan tatkala mereka lalai, menasehati saat terlupa dan menolongnya tatkala lemah.

Dakwah menyelamatkan manusia dari ketersesatan dan malapetaka akibat peradaban materialistis, pengaruh ideologi, dan sistem jahiliyah. Misi dakwah mewujudkan kemaslahatan, menghindarkan kerusakan, serta mendatangkan dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman:

وَٱللَّهُ يَدۡعُوٓاْ إِلَىٰ دَارِ ٱلسَّلَٰمِ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ 

“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)”. (QS. Yunus: 25)

Ma’syiral muslimin jama’ah Jum’ah rahimakumullah

Misi keselamatan yang diperjuangkan dalam gerakan dakwah meliputi berbagai aspek, antara lain:

Misi Pertama: Menghadirkan kebenaran dan menumpas kebatilan

Allah Subhana wa ta’ala berfirman,

وَقُلْ جَآءَ ٱلْحَقُّ وَزَهَقَ ٱلْبَٰطِلُ ۚ إِنَّ ٱلْبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“Dan katakanlah: Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”. (QS. al Isra’: 81)

Ayat di atas menegaskan bahwa tatkala dakwah yang menyerukan kebenaran (al-haq) telah datang, niscaya kebatilan (al-bathil) akan hilang dan sirna. Jadi apabila kebenaran tidak diperjuangkan, maka kebatilan akan tetap eksis.

Misi Kedua: Menegakkan keadilan, dan melenyapkan kedzaliman

Syariat Islam memberikan perhatian yang sangat tinggi terhadap keadilan. Al Qur’an dan Sunnah telah meletakkan prinsip keadilan jauh sebelum muncul pemikiran tentang Hak Asasi Manusia (HAM) di tengah masyarakat dunia.

Terdapat 320 ayat berkaitan dengan penentangan terhadap kezaliman, ada 50 ayat tentang keadilan (al-‘adl danal- qisth), dan 10 ayat terkait larangan pemaksaan demi menjamin kebebasan berpikir, berkeyakinan dan mengutarakan aspirasi.

Banyak sekali ayat al Qur’an yang memerintahkan penegakan keadilan, di antaranya firman Allah Ta’ala:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (Ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan”. (QS. al Maidah: 8)

Ayat ini mengandung perintah menegakkan keadilan sebagai bentuk perwujudan ketakwaan. Orang-orang beriman diharuskan menjadi saksi yang adil, yakni tidak memihak kepada salah satu pihak, karena kebencian atau sentimen terhadap suatu pihak dapat menyebabkan kezaliman dan ketidakadilan.

Ma’syiral muslimin jama’ah Jum’ah rahimakumullah

Misi Ketiga: Menebar kebaikan, dan mencegah kerusakan

Dakwah senantiasa mengajak manusia untuk menjadi pribadi yang memberi manfaat bagi orang lain (nafi’an lighairihi) dan lingkungannya. Rasulullah  ﷺ bersabda yang artinya:

Sebaik-baik kalian adalah orang yang selalu diharapkan kebaikannya dan aman dari kejahatannya, adapun seburuk-buruk kalian adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya dan tidak aman dari kejahatannya.”  (HR. Ahmad)

Dakwah akan memotivasi setiap muslim menjadi pelita di lingkungan sekitarnya, menghadirkan energi positif bagi keluarga dan masyarakatnya melalui ilmu, karya, amal, sikap, perilaku, harta dan sebagainya.

Misi Keempat: Membangun persaudaraan, dan mencegah permusuhan

Prinsip persaudaraan yang ditanamkan Rasulullah ﷺ kepada masyarakat Madinah bukanlah slogan kosong yang sekedar didengungkan dengan lisan. Melainkan sebuah ajaran kebenaran yang dipraktekkan secara langsung dan terhubung dengan realitas kehidupan dan relasi sosial antara Muhajirin dan Anshar di bawah kepemimpinan Rasulullah ﷺ.

Persaudaraan yang dibangun itu sebagai upaya mempersatukan berbagai suku yang sekian lama saling bertikai dan bermusuhan sebelum datangnya cahaya Islam.

Melalui dakwah, permusuhan dan pertikaian hingga kesenjangan sosial dapat dihindarkan. Rasulullah saw sendiri sebagai pemimpin terjun langsung menjadi pelopor dan teladan, memberi tuntunan sehingga ikatan sosial dengan asas Iman semakin kokoh dan kuat.

Misi Kelima: Mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat

Dakwah mengajak manusia untuk beriman dan beramal shaleh, dengan itulah mereka akan meraih kebahagiaan hakiki.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun erempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. An Nahl: 97)

Ayat ini memberi jaminan bahwa orang berimana dan beramal shaleh akan mendapatkan kehidupan yang baik berupa kebahagiaan, ketenangan, ketentraman, dan kedamaian.

Kebahagiaan yang menjadi harapan orang beriman meliputi kehidupan dunia yang fana dan kehidupan akhirat yang abadi.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi”. (QS. al Qashash: 77)

Manusia diciptakan dari unsur ruh dan jasad, keduanya memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi secara adil dan proporsional. Ruh membutuhkan wahyu untuk memberi tuntunan dan panduan hidup yang benar, akal membutuhkan ilmu agar dapat berpikir dan berkarya, sedangkan jasmani membutuhkan nutrisi untuk bisa beramal dan beraktifitas. Iman, Ilmu dan amal jika menyatu itulah yang dapat menghadirkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ma’syiral muslimin jama’ah Jum’ah rahimakumullah

Demikianlah misi keselamatan yang diperjuangkan dalam gerakan dakwah Islam. Kita semua memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk menjalankannya sesuai kapasitas kita masing-masing. Semoga Allah memberi Taufiq dan kemampuan, Aamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Do’a Penutup

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ.

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Pentingnya Memahami Urusan Hibah untuk Jaga keharmonisan dan Keadilan

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pada kajian bakda maghrib di Masjid Ar-Riyadh Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, 25 Dzulhijjah 1445 (2/7/2024), Ustadz Ahmad Rifai, Lc., M.H, membahas salah satu topik menarik dari Kitab Hadits Ahkam.Yaitu pembahasan mengenai hibah, khususnya Al-Umrah, hibah dengan syarat.

Ustadz Ahmad Rifai menjelaskan bahwa Al-Umrah bukanlah ibadah umrah, melainkan salah satu jenis hibah.

“Dalam hibah ini, pemberi hibah menetapkan batas waktu kepemilikan. Contohnya, seseorang memberikan rumah dengan syarat jika penerima meninggal terlebih dahulu, maka rumah tersebut akan kembali kepada pemberi hibah. Sebaliknya, jika pemberi hibah yang meninggal lebih dahulu, maka rumah tersebut sepenuhnya menjadi milik penerima,” jelasnya.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menyatakan bahwa hibah yang diberikan tanpa syarat-syarat tertentu menjadi hak milik penuh penerima hibah.

Tambahan dari riwayat Muslim menyebutkan, “Tahanlah harta-harta yang kalian miliki dan janganlah kalian merusaknya.”

Artinya, jelas dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah ini, ketika seseorang menghibahkan harta kepada orang lain, maka harta tersebut sepenuhnya menjadi milik penerima tanpa memandang siapa yang meninggal terlebih dahulu. Bahkan, harta tersebut bisa menjadi warisan bagi keturunan penerima hibah.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam juga menjelaskan bahwa Al-Umrah termasuk jenis hibah yang dibolehkan. “Namun, ada perbedaan antara hibah mutlak dan hibah dengan syarat,” tegas Ustadz Ahmad Rifa’i.

“Jika seseorang mengatakan, “Ini adalah milikmu dan untuk keturunanmu,” maka hibah tersebut sah. Tetapi jika ia berkata, “Ini untukmu selama engkau masih hidup,” maka hibah itu tidak masuk dalam kategori Al-Umrah karena ketika penerima hibah meninggal, harta akan kembali kepada pemberi hibah,” lanjut dosen STIS Hidayatullah ini.

Hindari Sengketa

Permasalahan ini sering menimbulkan sengketa dalam masyarakat. Contohnya, ketika seseorang memberikan rumah kepada saudaranya dengan syarat selama ia hidup, setelah ia meninggal, anak-anaknya mengira rumah itu adalah milik orang tua mereka. Hal ini bisa menimbulkan konflik keluarga.

Kemudian soal pentingnya bukti dalam hibah. Ustadz Ahmad Rifai menekankan pentingnya bukti yang kuat dalam urusan muamalah, termasuk hibah, untuk mencegah konflik dan pemanfaatan yang tidak benar oleh pihak-pihak tertentu.

“Dengan bukti yang kuat, kepemilikan harta dapat dipastikan dan menghindarkan keluarga dari sengketa,” ulasnya.

Kajian ini memberikan kita pemahaman mendalam tentang pentingnya memperhatikan syarat dan bukti dalam hibah, serta bagaimana Islam mengatur aspek-aspek muamalah untuk menjaga keharmonisan dan keadilan dalam masyarakat.

Ustadz Ahmad Rifa’i lantas berpesan bahwa sebagai Muslim jadilah orang yang gemar memberikan kebahagiaan kepada sesama. Karena Rasulullah mencintai amalan yang seperti itu, “Memasukkan kegembiraan kepada sesama Muslim,” tutupnya.* (Herim/MCU)

Kepedulian Kemah Dai Hidayatullah Jatim Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Palestina

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Dalam sebuah langkah penuh kasih dan solidaritas, para dai Hidayatullah Jawa Timur (Jatim) berkolaborasi dengan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) berhasil menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada saudara-saudara kita di Palestina.

Kegiatan penyaluran ini berlangsung dalam rangkaian acara Halaqoh Kubro dan Kemah Dai, selama 3 hari yang diikuti oleh 700 peserta dari berbagai penjuru Jawa Timur ditutup pada Ahad, 1 Muharram 1446 (7/7/2024).

Acara yang sarat dengan semangat kebersamaan ini berhasil mengumpulkan dana infak sebesar Rp 132.000.000. Dana tersebut berasal dari berbagai sumber yang mencerminkan betapa besar hati dan kepedulian masyarakat Jawa Timur.

Sumbangan terbesar datang dari Ust. Dr. Ali Imron Ponpes Al Izzah Malang sebesar Rp 80.000.000, diikuti oleh sumbangan dari teman-teman dan Arrohmah Putri Malang sebesar Rp 32.000.000.

Tidak ketinggalan, DPW Hidayatullah Jatim turut menyumbang Rp 16.000.000, dan peserta Halaqoh Kubro Sejatim memberikan kontribusi sebesar Rp 8.000.000.

“Semua berlomba-lomba untuk berinfak sebagai latihan jiwa untuk bersegera dalam meraih ampunan Allah dengan berinfak bagi saudara kita di Palestina,” ungkap Imam Muslim.

Imam Muslim yang merupakan Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Jatim, menyatakan bahwa program ini memiliki dampak yang sangat besar bagi masyarakat Palestina.

“Bantuan yang kami salurkan diharapkan dapat meringankan beban saudara-saudara kita di Palestina yang tengah menghadapi kesulitan. Kolaborasi ini menunjukkan solidaritas dan kepedulian kuat dari masyarakat Jawa Timur terhadap kondisi di Palestina,” ujarnya.

Kata Imam, bantuan kemanusiaan ini tidak hanya merupakan wujud nyata dari komitmen para dai Hidayatullah Jatim dan BMH dalam memberikan dukungan kepada mereka yang membutuhkan, tetapi juga menjadi simbol kekuatan hati dan kebersamaan masyarakat Jawa Timur.

Dia berharap semoga bantuan ini membawa manfaat dan berkah bagi para penerimanya, serta menginspirasi lebih banyak orang untuk terus berbagi dan peduli terhadap sesama.

“Melalui tindakan nyata ini, kita berharap dapat menyalakan lilin harapan di tengah gelapnya malam penderitaan yang dialami saudara-saudara kita di Palestina,” imbuhnya menandaskan.*/Herim

Sapa Anak Muda, Haji Iman Loebis Sampaikan Modal Penting untuk Jadi Pengusaha

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Philanthropist yang juga tokoh sesepuh Hidayatullah, Haji Iman Karim Loebis, menyapa anak muda mahasiswa dalam acara Kuliah Umum dan Diskusi Bersama diinisiasi Departemen Hubungan Antarbangsa Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah serta menggandeng Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah dan Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah di Jakarta, Senin, 2 Muharram 1446 (8/7/2024).

Pada kesempatan tersebut pengusaha di bidang otomotif ini menyampaikan pesan sebagai modal penting yang harus dimiliki untuk terjun menjadi seorang pengusaha.

Berlangsung di Aula Hj Orni Loebis Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, kuliah umum yang dihadiri mahasiswa dan pemuda ini mengangkat tema “Membangun Bisnis di Indonesia: Hikmah-hikmah dari Akhir Abad 20 dan Awal Abad 21”.

Haji Iman Karim Loebis menyampaikan menjadi pengusaha tidak cukup hanya berbekal keberanian, kecakapan, kemampuan menakar, dan kejelian dalam membaca pasar, tetapi juga hendaknya memiliki integritas dan kualitas diri.

Seorang pengusaha menurutnya harus memiliki karakter yang kuat. Sebab, integritas dan nilai moral menjadi kunci dalam membangun kepercayaan dengan pelanggan, mitra bisnis, dan karyawan.

“Menjadi pengusaha, bukan hanya tentang menjual jasa atau barang, tapi ‘menjual diri’,” katanya.

Dia menjelaskan, “menjual diri” adalah kualitas diri. Artinya, seorang pengusaha mesti memiliki kapasitas dan kapabilitas sehingga dengan kualitas diri yang dimilikinya tersebut ia mendapatkan kepercayaan.

Selain itu, seorang pengusaha yang sukses tidak hanya fokus pada keuntungan finansial.

Menurutnya, pengusaha juga harus memiliki visi dan misi yang lebih tinggi, yaitu untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan berkontribusi pada pembangunan.

“Menjadi pengusaha, bukan hanya sekadar mencari keuntungan dunia, tapi juga akhirat,” tegasnya.

Demikian pula, bagi Haji Iman Karim Loebis, seorang pengusaha muslim harus selalu mengingat Allah SWT dalam setiap langkahnya.

Dzikir dan doa menurutnya menjadi kekuatan spiritual yang membantu mereka dalam menghadapi berbagai rintangan dan cobaan dalam dunia bisnis.

“Dzikir menjadi panduan dalam mewarnai jalan hidup seorang pengusaha,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya ilmu pengetahuan dan pengalaman dalam dunia usaha. Para pengusaha muda harus terus belajar dan mengembangkan diri agar dapat bersaing di era globalisasi yang semakin kompetitif.*/Bustanol Arifin

TBM Nurus Sibyan Pasilian Oase Ilmu dan Budaya di Tengah Keterbatasan Air Bersih

0

BANTEN (Hidayatullah.or.id) — Di Desa Pasilian, Kronjo, Tangerang, Provinsi Banten, sebuah Taman Belajar Masyarakat (TBM) bernama TBM Nurus Sibyan menjadi oase bagi anak-anak setempat untuk menimba ilmu agama dan budaya. TBM ini didirikan oleh kedua orang tua dari Ustadzah Muflihah, seorang penggerak pendidikan yang penuh dedikasi.

Setiap hari, Ustadzah Muflihah dengan penuh kasih sayang membimbing anak-anak belajar Al Quran dan menanamkan nilai-nilai agama dalam diri mereka.

Tak hanya itu, Ustadzah Muflihah juga mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak, melestarikan budaya leluhur dan menjauhkan mereka dari pengaruh negatif gadget.

Namun, perjuangan Ustadzah Muflihah dan anak-anak didiknya sempat terhambat oleh keterbatasan akses air bersih. TBM Nurus Sibyan yang berada di atas sebidang tanah di samping rumah Ustadzah Muflihah, hanya mengandalkan air dari sumur dangkal yang sering kering di musim kemarau.

“Alhamdulillah, berkat bantuan dari BMH, kini kami memiliki sumur bor dengan air yang jernih dan melimpah,” ungkap Ustadzah Muflihah dengan penuh syukur, seperti dalam keterangan diterima media ini, Ahad, 2 Muharam 1446 (7/7/2024).

“Matur nuhun buat semuanya dan masyaAllah tabarakallah atas adanya sumbangsih sumur bor dari BMH ini kami sangaaaat merasa bahagia akan adanya air bersih untuk anak-anak kami bertholabul ilmi,” sambungnya bahagia.

Kehadiran air bersih ini bagaikan oase yang menyejukkan hati Ustadzah Muflihah dan anak-anak didiknya. Kini, mereka dapat belajar dengan lebih nyaman dan fokus tanpa perlu khawatir kekurangan air.

“Tandon air kami simpan di samping bersamaan dengan tandon air milik rumah kami pribadi,” jelas Ustadzah Muflihah.

Kisah Ustadzah Muflihah dan TBM Nurus Sibyan menjadi pengingat bahwa akses air bersih merupakan kebutuhan dasar yang esensial bagi kehidupan. Dengan air bersih, anak-anak dapat belajar dan berkembang dengan optimal, menumbuhkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan berakhlak mulia.

Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Banten, Roni Hayani, menambahkan dengan mengajak bersama-sama membantu mewujudkan akses air bersih bagi lebih banyak anak-anak di seluruh penjuru negeri.

“Dengan kepedulian dan aksi nyata kita, kita dapat membuka jalan bagi masa depan yang lebih cerah bagi mereka,” tutur Roni Hayani.*/Herim

Hijrah sebagai Momentum Perubahan

0

HIJRAH dalam konteks Islam memiliki makna yang mendalam dan luas. Bukan hanya merujuk pada peristiwa historis ketika Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya berpindah dari Makkah ke Madinah, tetapi juga mencerminkan transformasi spiritual dan moral. Sehingga hijrah dapat diartikan sebagai semomentum perubahan diri yang wajib diinternalisasikan dalam kehidupan setiap muslim.

Kata “hijrah” menurut bahasa memiliki dua arti, pertama secara zhahiriy, yaitu perpindahan dari suatu tempat menuju ke tempat yang lebih baik. Yang kedua secara ma’nawiy, yaitu perubahan dari satu kondisi kepada kondisi yang lebih baik. Sedangkan hijrah merupakan akar kata hajara juga memiliki arti meninggalkan/menjauhkan diri. 

Al-Quran dan hadits memberikan dasar kuat tentang pentingnya hijrah. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa (4:100), “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” 

Selain itu, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang Muslim adalah orang yang tidak mengganggu Muslim lainnya dengan lisan dan tangannya, dan seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah” (HR. Bukhari). Kedua dalil tersebut menggarisbawahi bahwa hijrah adalah perintah yang mendalam, mencakup perubahan perilaku dan pola pikir untuk mencapai keridhaan Allah.

Memaknai Hijrah

Berkenaan dengan hijrah ini, Abdullah At Tustary رحمه الله )w. 283H), sebagaimana terdapat dalam kitab Hilyatul Aulya : I/196, berkata :

الْهِجْرَةُ فَرْضٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ؛ مِنَ الْجَهْلِ إِلَى الْعِلْمِ وَمِنَ النِّسْيَانِ إِلَى الذِّكْرِ وَمِنَ الْمَعْصِيَةِ إِلَى الطَّاعَةِ، وَمِنَ الْإِصْرَارِ إِلَى التَّوْبَةِ

“Hijrah itu hukumnya wajib sampai hari kiamat; dari kebodohan menuju ilmu, dari lalai menuju ingat kepada Allah, dari maksiat menuju taat, dan dari biasa berbuat dosa menuju taubat”

Dari pernyataan ini menegaskan bahwa hijrah bukan hanya aktifitas tunggal dan sesaat, melainkan menjelaskan bahwa baganimana urgensi hijrah sebagai pekerjaan multidimendi dan sekaligus sebagai momentum perubahan yang berkelanjutan. Selalanjutnya secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut : 

Pertama, Hijrah: Dari Kebodohan Menuju Ilmu, hijrah dari kebodohan menuju ilmu adalah langkah pertama menuju pencerahan intelektual dan spiritual sekaligus. Ilmu merupakan cahaya yang membimbing kita dalam kehidupan. Dalam Surah Al-Mujadila ayat 11, Allah berfirman, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” Pengetahuan agama dan duniawi harus seimbang dan menjadi fokus utama dalam hidup kita, karena dengan ilmu kita dapat memahami ajaran Islam dengan benar dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, Hijrah: Dari Kelalaian Menuju Ingat kepada Allah, kelalaian atau ghaflah adalah kondisi di mana seseorang lupa akan tujuan hidupnya dan jauh dari mengingat Allah. Hijrah dari kelalaian menuju ingat kepada Allah adalah perubahan yang harus terus-menerus dilakukan. Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 41, “Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” Dzikir menguatkan hati dan jiwa, serta menjaga kita agar selalu berada dalam naungan rahmat Allah. Pada saat yang bersamaan mengingat Allah juga dimaknai bahwa setiap aktifitas yang kita lakukan juga berawal dari nawaitu karena Allah dan bermuara kepada Allah ta’ala.

Ketiga, Hijrah: Dari Maksiat Menuju Ketaatan, meninggalkan maksiat dan beralih kepada ketaatan adalah esensi dari hijrah spiritual. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak adam sering berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi: 2499). Ketaatan adalah manifestasi dari ketaqwaan kepada Allah ta’ala, yang meliputi menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketaatan ini membawa keberkahan dan ketenangan dalam hidup kita.

Keempat, Hijrah: Dari Dosa Menuju Taubat, taubat adalah langkah hijrah yang sangat fundamental. Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53, “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” Taubat adalah pintu kembali kepada Allah, dan ini adalah hijrah yang paling mulia karena menunjukkan kesadaran dan penyesalan atas kesalahan yang telah dilakukan.

Konteks Kontemporer dan Tantangan

Di era modern ini, banyak tantangan yang menguji iman dan komitmen kita kepada ajaran Islam. Fenomena kerusakan moral seperti riba, pinjaman online, judi online, korupsi, kolusi, nepotismi, perbuatan zhalim, tindakan asusila, dan berbagai perbuatan maksiat lainnya merajalela di masyarakat. Kondisi ini menuntut kita untuk melakukan hijrah dalam arti yang lebih luas dan mendalam.

Sehingga dengan menggunakan kerangka dari Abdullah At Tustary رحمه الله, maka tahapan Hijrah menuju sistem Islami sebagai momentum perubahan dapat dirumuskan, sebagai berikut :

Pertama, hijrah dari kebodohan menuju ilmu: Melalui pendidikan yang baik dan pembelajaran agama yang mendalam dan komprehensip. Dalam hal ini menyedikan fasilitas pendidikan baik infrastuktur hingga sistemya, juga memperbanyak majelis-majelis ilmu dalam rangka untuk membesarkan nama Allah ta’ala, dan mengimplemtasikannya dalam semua kehidupan kehidupan  untuk membangun peradaban Islam. 

Kedua, hijrah dari kelalaian menuju ingat kepada Allah: manusia adalah tempatnya salah dan lupa, sehingga dengan menyadarinya, maka tidak ada cara lain selain dengan memperbanyak dzikir, shalat, dan ibadah lainnya. Selain itu, juga berusaha mendekat dengan orang-orang sholeh melalui halaqah, majelis taklim dan lain sebagainnya.

Ketiga, hijrah dari maksiat menuju ketaatan: saat ini fasilitas, sarana dan kesempatan untuk maksiat sngat bebas untuk diakses siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Oleh karenanya, setiap kita harus sekuat tenaga untuk menghindari dan meninggalkan perbuatan dosa dan menggantinya dengan amal shaleh melalui berbagai jenis aktifitas yang bermanfaat dan tidak syubhat serta tidak melanggar syari’at.

Keempat, hijrah dari dosa menuju taubat: setiap Bani Adam itu bersalah, dan sebaik-baik orang yg bersalah yaitu bertaubat. Sehingga senantiasa untuk memohon ampunan kepada Allah dan berkomitmen untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Kelima, hijrah dari sistem jahiliyah menuju sistem Islami: kehidupan jahilyah tanpa kita sadari telah berada disekitar kita, jika tidak hati-hati dan waspada, maka kita akan dengan mudah terjerumus didalamnya. Dengan demikian maka salah satu kuncinya adalah mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam setiap aspek kehidupan, mulai dari individu, keluarga, masyarakat, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara.

Penutup

Tahun baru Hijriyah 1446 Hijriyah, sudah hadir membersamai kita, sehingga tidak ada alasan untuk tidak menjadikannya sebagai momentum perubahan sekaligus dalam rangka untuk introspeksi dan perbaikan diri. Salah satu kuncinya adalah dengan meninggalkan sistem jahiliyah dan menuju sistem Islami. 

Dengan demikian maka, hijrah adalah proses yang berkelanjutan. Kita harus terus berusaha untuk menjadi lebih baik setiap hari. Oleh karenanya patut untuk  menjadikan momentum Hijrah ini sebagai awal yang baru untuk melakukan perubahan positif dalam hidup kita. Abdullah At-Tustary رحمه الله mengingatkan kita, yang pernyataan terus relevan hingga saat ini, bahwa hijrah adalah kewajiban yang berlanjut hingga hari kiamat.

*) ASIH SUBAGYO, penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Semarak Daurah Marhalah Wustha ke-V Kuatkan Ukhuwah di Bumi Kaltim

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Di tengah gemuruh semangat dan kebersamaan, Daurah Marhalah Wustha (DMW) ke-V Hidayatullah Kalimantan Timur berlangsung dengan penuh antusiasme. Acara yang dimulai sejak hari Kamis, 27 Dzulhijjah 1445 H (4 Juli 2024) hingga Ahad, 30 Dzulhijjah 1445 H (7 Juli 2024), menjadi momen istimewa bagi para peserta yang datang dari berbagai penjuru Kaltim.

Pembukaan Daurah ini diresmikan oleh Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah Ust. Dr. HM. Tasmin Latif, disaksikan oleh sejumlah pembimbing senior yang turut memberikan dukungan dan inspirasi.

Di antara mereka hadir Ustadz Amin Mahmud, Ustadz Abd Latif Usman, Ustadz Manandring, Ustadz Sarbini, Ustadz Anwari Hambali, Ustadz Husain Kallado, dan Ustadz Bahar Ismail.

“Kehadiran para pembimbing ini memberikan warna tersendiri, membawa pesan kebersamaan dan persaudaraan yang kuat bagi kami para penerus,” ungkap Kadep Perkaderan DPW Hidayatullah Kaltim, Ust. Fathun Qarib.

Ketua Ummul Qura juga turut hadir dan memberikan sambutan yang menggugah hati. Tak ketinggalan, Ketua DPW Hidayatullah Kaltim Ust. H. Uswandi yang hadir memberikan pesan penuh makna, menyemangati para peserta untuk terus berjuang dalam jalan dakwah.

“Daurah ini bukan hanya tempat belajar, tetapi juga wadah untuk memperkuat ukhuwah dan menumbuhkan semangat juang dalam menebarkan cahaya Islam,” ungkapnya dengan penuh semangat yang menyala.

Total peserta yang hadir sebanyak 184 orang, terbagi dalam 4 rombongan belajar (rombel). Fathun Qarib merinci, diantara mereka, 71 peserta adalah Ikhwan yang terdiri dari 39 mahasiswa dan 32 dari kalangan umum.

Sementara itu, Akhwat yang berjumlah 113 orang terdiri dari 82 mahasiswi dan 31 peserta umum. “Keberagaman latar belakang peserta ini memperkaya dinamika dan semangat dalam setiap sesi kegiatan,” kata Ust. Fathun.

Menariknya, di antara para peserta terdapat 2 Aparatur Sipil Negara (ASN) dan 7 pegawai Baitul Maal Hidayatullah (BMH), serta utusan dari berbagai daerah di Kalimantan Timur seperti Berau, Bontang, Paser, Samarinda, bahkan Kutai Barat.

“Keberagaman ini menunjukkan betapa luasnya jangkauan dan pengaruh dakwah Hidayatullah di bumi Kaltim,” ungkap Ketua Departemen Perakderan DPP Hidayatullah, Ust. Muhammad Shaleh Usman.

Salah satu peserta, sebut saja Ahmad, seorang mahasiswa dari Berau, mengungkapkan rasa syukurnya bisa ikut serta dalam Daurah ini.

“Ini pengalaman yang luar biasa. Saya tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga mendapatkan banyak teman baru dan merasakan kekuatan ukhuwah yang sangat erat,” ujarnya dengan senyum penuh kebahagiaan.

Kehadiran para pembimbing senior yang penuh dedikasi, serta semangat peserta yang tinggi, menjadikan Daurah Marhalah Wustha ke-5 ini sebagai ajang yang penuh makna. Setiap sesi, mulai dari kajian keilmuan hingga diskusi kelompok, diisi dengan semangat kebersamaan dan keikhlasan.

Daurah ini diharapkan dapat memberikan bekal yang kuat bagi para peserta untuk menjadi kader dakwah yang tangguh dan siap menghadapi tantangan zaman.

Dengan semangat yang membara, kata Shaleh, mereka diharapkan mampu menyebarkan cahaya Islam ke seluruh penjuru Kaltim, membawa perubahan positif yang berkelanjutan.

Semangat dan kebersamaan yang terjalin dalam Daurah Marhalah Wustha ke-5 ini menjadi bukti nyata bahwa persaudaraan dalam Islam adalah kekuatan yang tak ternilai.

“Dengan iman yang kokoh dan tekad yang kuat, para kader dakwah Hidayatullah siap melangkah maju, menyebarkan kebaikan dan membawa cahaya Islam ke seluruh pelosok negeri,” tutup Ust. Shaleh Usman.*/Herim

Semarak Muharram di Kampus Ummulqura, Momen Kuatkan Semangat Dakwah

0

SEMARAK peringatan tahun baru 1 Muharram 1446, Ahad (7/7/2024) di Masjid Ar Riyadh Kampus Ummulqura Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, menjadi momen berharga yang dirasakan dengan penuh kebersamaan dan semangat.

Saya sendiri yang menyaksikan acara ini merasakan betapa istimewanya momen ini. Terlebih dengan kehadiran dai senior Ust. Amin Mahmud yang memberikan ceramah esensial terkait mental kader.

Ceramah yang disampaikan beliau menitikberatkan pada pentingnya memiliki mental baja bagi para kader dakwah, agar senantiasa siap sedia dalam menjalankan tugas mulia menyebarkan Islam.

“Kader dakwah haruslah memiliki iman yang kuat,” tegas Ustadz Amin dalam pembukaannya.

Iman, menurut beliau, adalah modal utama dalam menjalankan dakwah. Ustadz Amin mengingatkan para kader tentang kisah inspiratif Ustadz Abdullah Said, yang meskipun tidak memiliki kekayaan materi, tetapi memiliki kekuatan iman yang luar biasa.

“Iman inilah yang menjadi modal utama dalam dakwah, seperti yang ditunjukkan oleh Ustadz Abdullah Said yang meskipun tidak memiliki harta benda, namun memiliki kekuatan iman yang luar biasa,” lanjutnya.

Pesan ini menyentuh banyak hati yang hadir, termasuk yang menyaksikan secara online melalui channel Youtube Ummulqura Hidayatullah seperti saya.

Narasi beliau memberikan dorongan kepada audien untuk terus menjaga keimanan dalam setiap langkah dakwah. Lebih lanjut, Ustadz Amin mengingatkan para kader untuk selalu menjaga prasangka baik dalam menjalankan tugas dakwah.

“Jangan pernah ragu atau berprasangka buruk terhadap amanah yang diberikan,” pesannya. “Kita semua memiliki niat yang sama, yaitu untuk menyebarkan agama Allah dan mengantarkan kebahagiaan bagi semua orang.”

Semangat yang dibawa oleh Ustadz Amin tidak berhenti pada keimanan dan prasangka baik saja. Beliau juga menekankan pentingnya semangat dalam menjalankan ibadah, terutama shalat berjamaah.

“Sebagai mujahid dakwah, kita haruslah senantiasa semangat dalam menunaikan shalat berjamaah,” ujarnya.

“Meskipun hujan deras, jangan jadikan alasan untuk tidak ke masjid. Kita bisa membeli mantel baru dan berganti pakaian di masjid. Ingatlah, shalat adalah satu-satunya perintah Allah yang tidak bisa ditinggalkan.”

Semangat dakwah yang membara di Semarak Muharram ini menjadi bukti bahwa kader-kader muda siap sedia untuk menjadi garda terdepan dalam menyebarkan cahaya Islam di seluruh penjuru negeri.

Momentum Kuatkan Soliditas

Sebelum Ustadz Amin Mahmud ada sambutan dari Ust. H. Hamzah Akbar, Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah Ummulqura Balikpapan.

Pria murah senyum itu menyampaikan pesan penuh makna dalam menyambut 1 Muharram. Tanggal 1 Muharram menjadi lebih dari sekadar pergantian tahun dalam kalender Islam.

Bagi komunitas Hidayatullah, kata Hamzah, Muharram seperti ini adalah saat untuk refleksi mendalam dan penguatan kebersamaan.

“Kita terus berupaya senantiasa mengambil momentum yang memang sangat bersejarah dalam perjalanan keislaman kita, seperti 1 Muharram ini,” ujar Ustadz Hamzah pada kesempatan yang sama.

Beliau mengingatkan bahwa momentum 1 Muharram adalah waktu yang sangat penting untuk penguatan gerakan jama’ah. Hal ini tercermin dari perjalanan almarhum Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, yang selalu menekankan pentingnya Muharram sebagai waktu untuk memperkokoh jama’ah.

“Semuanya menjadi momentum yang dijadikan penguatan oleh Allahuyarham Ustadz Abdullah Said dalam mengokohkan jama’ah dengan istilah penajaman komando,” jelas Ustadz Hamzah.

Penajaman komando, dalam konteks ini, merujuk pada penguatan kepemimpinan dan koordinasi di antara para kader dan anggota jama’ah.

“Dalam narasi kita saat ini, kita membangun kepemimpinan,” tambahnya, menegaskan bahwa momen Muharram juga harus dimaknai sebagai waktu untuk mengasah kemampuan kepemimpinan setiap kader.

Ustadz Hamzah mengajak semua pihak untuk menjadikan refleksi dalam momentum ini sebagai warisan yang berharga bagi generasi mendatang.

“Refleksi dalam momentum (hijrah) ini harus menjadi warisan yang berharga,” tutup Ustadz Hamzah dengan penuh harap.

Komitmen

Dengan semangat ini, Pesantren Hidayatullah Ummulqura Balikpapan berkomitmen untuk terus memajukan pendidikan dan kepemimpinan Islami, menjadikan setiap momen sebagai langkah untuk kebaikan bersama. Refleksi dan aksi nyata dari setiap kader diharapkan dapat membawa perubahan positif yang berkelanjutan dalam masyarakat.

Semangat Muharram yang dirasakan di Pesantren Hidayatullah Ummulqura Balikpapan menjadi perayaan dan pengingat sejarah, sekaligus membangun fondasi yang kuat untuk masa depan. Ini adalah momen untuk memperkuat iman, mempererat persaudaraan, dan mengokohkan kepemimpinan dalam menjalankan misi dakwah, agar keindahan Islam bisa dirasakan oleh sebanyak-banyak manusia.

Dengan demikian, semarak Muharram di tahun ini mengalirkan kembali semangat baru yang berkobar di hati para kader yang siap menyongsong tugas mulia dengan penuh keikhlasan dan keteguhan hati, menjadikan setiap langkah sebagai bagian dari perjalanan besar dalam menyebarkan cahaya Islam.

*) Imam Nawawi, penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023, Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)