Beranda blog Halaman 197

Waspadai Watak Kesombongan dan Merasa Hanya Diri Kita Paling Benar

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern dengan berbagai kemajuan teknologi di dalamnya amat memberikan kemudahan bagi masyarakat, namun di sini lain potensial melahirkan keretakan, ketertekanan, bahkan permusuhan yang dapat mendatangkan murka Tuhan karena menonjolnya kesombongan.

Hal itulah yang coba dibedah dalam khutbah Jum’at yang dibawakan oleh KH. Akib Junaid di Masjid Asy Syuhada, Markas Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Makostrad), Jakarta, pada Jum’at, 9 Dzulqaidah 1445 (17/5/2024).

Dai lintas nusantara asal Sinjai, Sulawesi Selatan, ini mengupas tuntas tema murka Allah Subhanahu wa Ta’ala, membuka mata kita terhadap jebakan kesombongan yang sering kali menjerumuskan manusia.

Akib mengawali khutbahnya dengan mendefinisikan ciri-ciri orang yang benar dalam keimanannya. Bagi mereka, segala peristiwa dalam kehidupan ini berada di bawah kendali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketetapan-Nya tak terelakkan, tak tergoyahkan oleh kekuatan manusia.

Namun, dalam situasi ini, manusia tak jarang terlena oleh kesombongan. Kekuatan fisik, harta melimpah, dan jabatan tinggi dapat menumbuhkan benih kesombongan, membuat mereka lupa diri. Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam firman-Nya di QS. Al-A’raf ayat 40, dengan tegas menegaskan bahwa kesombongan adalah pintu tertutup surga.

“Ciri orang yang benar dalam keimanannya dapat dikonfirmasi dari cara seseorang dalam melihat setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini,” katanya.

Bagi mereka yang beriman dengan kualitas iman yang benar, sudah pasti menyakini bahwa segala hal yang ada di alam raya ini tanpa terkecuali berada di dalam kendali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Dalam pengertian, jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan sesuatu untuk terjadi, maka ketetapan itu pasti akan terjadi,” terangnya.

Begitu pula sebaliknya, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki sesuatu terjadi, meskipun dengan persiapan dan perencanaan yang matang dan dengan segenap kemampuan yang dimiliki, jika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki untuk terjadi, maka tidak satupun mahluk yang dapat mengubah ketetapan-Nya,

Kemantapan keyakinan itu sebagaimana sebuah ungkapan doa dan wirid yang diamalkan Abu Darda yang diajarkan Nabi kepadanya yaitu: “Ma sya-allahu kana wama lam yasya’lam yakun”, jika Allah menghendaki sesuatu terjadi, maka dia pasti akan terjadi. Jika Allah tidak menghendaki, maka dia tidak akan mungkin terjadi.

Namun, tak jarang, situasi terkadang membuat manusia lupa diri dengan segenap kemampuan yang dimiliki berupa fisik yang kuat, harta yang melimpah serta jabatan yang melekat dalam dirinya. Dengan begitu, manusia merasa mampu untuk melakukan berbagai hal, tanpa disadari ia telah menumbuhkan benih-benih kesombongan dalam dirinya.

Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala begitu membenci orang-orang yang berlaku sombong, sebagaimana yang ditegaskan dalam firman-Nya;

وَلَا يَدْخُلُونَ ٱلْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ ٱلْجَمَلُ فِى سَمِّ ٱلْخِيَاطِ

“Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum” (QS. Al-A’raf : 40)

Ustadz Akib menjelaskan, ayat ini secara tegas menginformsikan kepada kita, sekaligus menjadi analogi yang begitu ekstrem, bahwa betapa Allah tidak ridha kepada manusia yang dalam dirinya terdapat kesombongan, sifat takabbur, sehingga konsekuensi yang diberikan bagi pelakunya berupa azab dari-Nya.

“Menganggap diri paling suci, paling baik, seolah terbebas dari perbuatan salah adalah salah satu bentuk kesombongan yang paling dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala,” terang Akib, sambil mendaraskan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an surah An Najm ayat 35:

فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci”

Manusia Makhluk Lemah

Masih dalam khutbahnya, Ustadz Akib mengingatkan bahwa sejatinya manusia adalah makhluk yang amat lemah dan tanpa daya. Oleh sebab itu, seorang muslim dipandu oleh agama untuk selalu rendah hati dan tidak memandang diri lebih tinggi dari orang lain.

Dia menegaskan, bahwasanya kesuksesan, kekayaan, serta amalan yang konsisten hanyalah titipan dan bukan alasan untuk sombong.

“Kesuksesan, kekayaan serta amalan yang secara konsisten dapat kita lakukan seringkali memunculkan perasaan besar diri yang membuat kita lupa akan keterlibatan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap episode perjalan hidup yang seakan terjadi atas usaha dan jerih payah sendiri,” imbuhnya.

Sehingga wajar apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mentolerir sedikit pun juga sebagai wujud murkah-Nya kepada orang-orang yang memelihara perasaan sombong dalam dirinya, yaitu sombong terhadap al haq (kebenaran) dan sombong terhadap makhluk.

Khutbah Ustadz Akib Junaid bagaikan oase bagi jiwa yang lalai. Ia mengingatkan kita bahwa kesombongan adalah jebakan berbahaya yang dapat menjerumuskan manusia ke jurang murka Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dia juga memberikan solusi untuk menjauhkan diri dari kesombongan dengan mengangkat kembali anjuran Rasulullah yang menyerukan umatnya untuk selalu mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap langkah kehidupan, menyadari kebesaran-Nya bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.

Ustadz Akib menggaris bawahi bahwa kesombongan tak hanya dalam bentuk merasa diri paling suci atau paling baik, tetapi juga dalam sikap sombong terhadap kebenaran dan meremehkan orang lain. Hal ini, sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal itu diterangkan Ustadz Akib seraya menukil penjelasan ulama bahwa menolak kebenaran adalah dengan menolak dan berpaling darinya serta tidak mau menerimanya.

Sedangkan meremehkan manusia yakni merendahkan dan meremehkan orang lain, memandang orang lain tidak ada apa-apanya dan melihat dirinya lebih dibandingkan orang lain. (ybh/hidayatullah.or.id)

Ekspedisi Kebaikan Zakat dengan Bantuan di 153 Titik Jatim, Kali ini di Ponpes Al Qudsiyah

0

TUBAN (Hidayatullah.or.id) — Melalui tajuk program Ekspedisi Kebaikan Zakat, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur.

Hingga kini, BMH telah berhasil merealisasikan bantuan di 153 titik di Jawa Timur, dengan salah satu lokasi prioritas adalah Pondok Pesantren (Ponpes) Al Qudisyah di Tuban pada Rabu, 29 Syawal 1445 (8/5/2024).

Ustadz Agus Salim, pengasuh Pondok Pesantren Al Qudisyah, menyampaikan rasa syukurnya atas bantuan yang diberikan oleh Laznas BMH.

“Kami sangat berterima kasih kepada Laznas BMH yang telah memberikan bantuan ini. Ini sangat membantu dalam meningkatkan fasilitas dan kualitas pendidikan di pondok pesantren kami,” ujar Ustadz Agus Salim.

Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Timur, Imam Muslim, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen BMH untuk mendukung pendidikan dan kesejahteraan masyarakat di Jawa Timur.

“Realisasi bantuan di 153 titik ini menunjukkan upaya kami dalam menyebarkan manfaat zakat secara merata di berbagai daerah. Kami berharap program ini dapat memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas hidup dan pendidikan di masyarakat,” kata Imam Muslim.

Program ini diharapkan dapat memberikan dampak signifikan bagi penerima manfaat, terutama dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan ekonomi. Dengan adanya bantuan ini, diharapkan pondok pesantren dan masyarakat sekitar dapat lebih mandiri dan sejahtera.

Selain membantu dalam penyediaan air bersih, program sumur bor ini juga bertujuan untuk mendukung aktivitas pendidikan dan kehidupan sehari-hari di pondok pesantren.

Dengan fasilitas yang memadai, para santri dapat belajar dengan lebih nyaman dan fokus. Upaya ini juga mendukung program pemberdayaan ekonomi di masyarakat sekitar, membantu mereka menjadi lebih mandiri dan sejahtera.

Kata Muslim, Laznas BMH berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera dan mandiri, terutama di wilayah Jawa Timur.

“Program ini adalah salah satu wujud nyata dari upaya tersebut, menunjukkan bahwa zakat dapat memberikan manfaat yang luas dan berkelanjutan bagi masyarakat,” tutup Muslim.*/Herim

Ketua Umum Tutup Training Kepemimpinan Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, Lc, MA, menutup rangkaian acara Training Kepemimpinan Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah digelar Hidayatullah Institute (HI) dan Bidang Pembinaan Dan Pengembangan Organisasi DPP Hidayatullah bertajuk “Kepemimpinan Manhaji: Menjadi Pemimpin yang Visioner dan Progresif” di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Otista Polonia, Jatinegara, Jakarta, Jum’at malam, 9 Dzulqaidah 1445 (17/5/2024).

Training kepemimpinan yang diikuti 37 peserta ini bertujuan membekali pengetahuan kepemimpinan Islam dan model kepemimpinan Hidayatullah, serta membekali peserta berkenaan dengan pengetahuan desain, perencanaan strategis organisasi dan transformasi organisasi.

Peserta juga akan dibekali pengetahuan dan keterampilan project management, mempelajari keterampilan networking, dan membekali peserta berupa pengetahuan dan keterampilan manajemen tim kerja.

Diharapkan dari kegiatan yang digelar selama 5 hari ini, Senin-Jum’at, 13-17 Mei 2024, melahirkan profil output peserta yang memiliki pemahaman tentang fungsi dan model kepemimpinan dalam Islam, pemahaman tentang kepemimpinan Hidayatullah, dan pemahaman tentang desain dan perencanaan strategis organisasi.

Selain itu, juga melahirkan profil yang memiliki keterampilan tentang pembuatan sebuah project management, kemampuan keterampilan meyakinkan third party untuk berkolaborasi dalam sebuah program kegiatan, dan keterampilan mengelola tim kerja berbasis nilai nilai profetik.*/Yoga Agus Yulianto

TONTON VIDEO: Training Hidayatullah Institute 5 Hari, 28 Sesi, 40 Jam, Masih Mau Tambah Lagi

Qorib Pemenang, Lomba Bikin Video Kreatif Gairahkan Asah Skil Staf DPP Hidayatullah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Staf di lingkungan kantor Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah tak hanya dituntut untuk cakap dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya sehari-hari. Lebih dari itu, mereka didorong untuk terus mengembangkan potensi dan bakat yang mereka miliki. Hal ini terutama untuk menumbuhkan bakat dan mengasah keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Salah satu langkah yang dilakukan untuk mendorong kreativitas para staf ini adalah dengan mengadakan kompetisi video kreatif sinematik.

Kompetisi ini diprakarsai oleh bagian Kesekretariatan DPP Hidayatullah, dengan tujuan mengonsolidasikan sumber daya staf dan memberikan wadah bagi mereka untuk mengekspresikan ide-ide kreatif mereka.

Kepala Kantor Kesekretariatan DPP Hidayatullah, Muhammad Saihul Islam, memandang di era digital saat ini, kemampuan membuat konten multimedia digital yang menarik dan informatif menjadi nilai tambah. Karena itu, DPP Hidayatullah berupaya membekali para staf dengan keterampilan yang relevan, salah satunya dalam pembuatan video kreatif.

“Lomba video kreatif menjadi sarana yang tepat untuk mengasah kemampuan tersebut sekaligus mendorong semangat berkompetisi yang sehat,” kata Saihul sesaat sebelum membacakan nama pemenang lomba, Selasa, 6 Dzulqaidah 1445 (14/05/2024).

Saihul mengapresiasi seluruh staf yang sudah ikut serta dalam perlombaan yang telah dilaksanakan. “Luar biasa ya semangatnya, sangat antusias untuk saling berlomba dalam membuat video sinematik terbaik,” katanya.

Sebelum menutup pertemuan, Saihul mengumumkan nama pemenang yaitu Muhammad Qorib Rifai sebagai pemenang utama perlombaan. Qorib mendapatkan bingkisan hadiah sebagai bentuk apresiasi.

“Mas Qorib luar biasa, selamat kepada Mas Qorib. Semoga dengan hadiah ini bisa menjadi semangat untuk terus mengembangkan bakatnya,” ujar Saihul.

Acara perlombaan itu merupakan upaya Kesekretariatan DPP Hidayatullah dalam mengembangkan potensi dan skil staf sekaligus memetakan sumber daya potensial yang nantinya akan dipandu guna memperkuat kerja kerja kemultimediaan yang lebih berkualitas.

Pada kegiatan ini, diberikan waktu selama 1 minggu yang diikuti sekitar 20 staf di DPP Hidayatullah. Diharapkan dari kegiatan ini semakin menggairahkan semangat staf untuk terus mengembangkan skilnya di bidang praktis yang mereka minati.*/ Gagah Rafi Hidayatullah

Tingkatkan Kualitas Pendidikan Generasi Muda Melalui Pelatihan Instruktur DMU se-Kaltara

TARAKAN (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan mutu dan kualitas pendidikan generasi muda, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Perwakilan Kaltara bersama DMW Hidayatullah Kaltara menggelar pelatihan untuk calon Instruktur Daurah Marhala Ula (DMU) SMA se-Kaltara, di Kota Tarakan, Senin, 5 Dzulqaidah 1445 (13/5/2024).

Dalam sambutannya Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Kaltara, Ust. Jamiruddin, S.Pd, menyamaikan pelatihan ini bertujuan untuk mencetak generasi muda yang cerdas dan mencerahkan, siap menjadi penerus bangsa yang berkualitas.

Diharapkan para calon instruktur yang mengikuti pelatihan ini dapat membekali para siswa SMA dengan ilmu pengetahuan agama dan moral yang mumpuni, sehingga mereka dapat menjadi generasi penerus bangsa yang berakhlak mulia dan berwawasan luas.

“Kami ucapkan terima kasih kepada BMH Kaltara yang telah memfasilitasi suksesnya kegiatan hari ini. Semoga apa yang telah kita lakukan Allah angkat derajat kita semua amilnya dan para donatur,” kata Jamiruddin.

Jamiruddin menyampaikan apresiasi kepada BMH Kaltara atas fasilitasi yang telah diberikan sehingga kegiatan pelatihan ini dapat terlaksana dengan sukses.

Ia juga berharap agar para calon instruktur yang mengikuti pelatihan ini dapat memanfaatkan ilmu dan pengetahuan yang diperoleh dengan sebaik-baiknya untuk membimbing para siswa SMA di Kaltara.

Pelatihan ini merupakan salah satu bentuk komitmen BMH dan Hidayatullah dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan di wilayah Kaltara. Disadari bahwa pendidikan merupakan kunci utama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, mereka terus berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya di wilayah Kaltara.

Diharapkan dengan adanya pelatihan ini, akan lahir generasi muda yang cerdas dan berakhlak mulia, siap membangun bangsa dan negara Indonesia menjadi lebih maju dan sejahtera, harap Jamiruddin.

Acara pelatihan yang berlangsung selama satu hari ini dihadiri oleh guru besar Drs. KH. Zainuddin Musaddad, MA. sebagai pemateri. Ia didatangkan langsung dari Jakarta untuk memberikan materi pelatihan kepada para peserta.

Dalam materinya, KH. Zainuddin Musaddad menyampaikan berbagai hal terkait dengan tugas dan tanggung jawab seorang instruktur Daurah Marhala Ula, serta metode pengajaran yang efektif untuk menyampaikan materi kepada para siswa.*/Herim

Menata Ulang Arsitektur Organisasi

0

DUNIA terus berubah, di mana arus perubahan yang tak henti-hentinya itu, tidak bisa dibendung. Jika tidak mampu beradaptasi, maka akan tertinggal bahkan punah. Oleh karenanya setiap organisasi dihadapkan pada kebutuhan untuk beradaptasi dan bertranformasi, sehingga mampu  berselancar diatas perubahan itu.

Tetapi pada saat bersamaan, ia juga dituntut untuk menemukan arsitektur dan strategi  yang tepat untuk masa depan. Sehingga, perlu mencari format apa yang tepat untuk organisasi, dalam rangka merekronstruksi ulang organisasi agar dapat beradaptasi dan bertransformasi sebagaimana tersebut di atas.

Darinya, tidak salahnya kemudian, kembali menengok pendekatan celestial organization, sebagai sebuah warisan yang unggul namun banya ditinggalkan sekalipun oleh organisasi yang berbasis Islam, karena kurangnya pemahaman tentangnya. Sehingga ketika disibak kembali tirainya, seolah menemukan sebuah paradigma baru yang mampu memadukan dan mengintegrasikan nilai-nilai ilahi Islam dengan prinsip-prinsip organisasi modern.

Hal ini menegaskan bahwa, celestial organization bukan sekadar konsep ataupun slogan yang utopis, melainkan sebuah filosofi esensial yang akan mentransformasi organisasi menjadi wadah penebar kebaikan. Visi dan misinya berlandaskan wahyu dan sunnah, serta bersandar pada nilai-nilai Islam yang universal, sehingga mampu mengantarkan anggotanya dan seluruh elemen dalam organisasi tersebut menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dengan kata lain, celestial organization muncul kembali sebagai respons atas kebutuhan akan transformasi yang menyeluruh dalam budaya organisasi. Nilai-nilai Islam yang mendalam menjadi landasan utamanya, menjadikan keadilan, kebersamaan, dan kemanusiaan sebagai prinsip inti dalam membimbing setiap langkah.

Dalam organisasi yang berorientasi ke masa depan, dan ini terangkup dalam kaidah celestial Organization, maka kehadiran seorang pemimpin tidak lagi hanya menjadi tokoh, dengan kedudukan yang tinggi dan dimuliakan, tetapi juga menjadi pemimpin yang menginspirasi, memotivasi, dan memperkuat keterlibatan anggota.

Karakteristik Celestial Organization

Dalam tulisan sebelumnya sudah dijelaskan secara panjang lebar berkenaan dengan definisi celestial organization serta berbagai hal yang terkait dengan itu. Jika kita ringkas maka, karakteristik utamanya dapat dirumuskan sebagai berikut

Pertama, Nilai-nilai Islami sebagai FondasiMaqashidul syariah, menjadi bagian penting dari nilai-nilai utama Islam yang dibawa. Sehingga menurunkan berbagai nilai universal yang menjadi karakter utama seperti : kejujuran, keadilan, transparansi, dan kerjasama menjadi landasan utama dalam menjalankan organisasi.

Kedua, Kepemimpinan yang Kompeten dan Berintegritas, Pemimpin yang kpmtenen dan berintegitas, pastilah didalamnya membawa karakter dan sifat yang adil, bertakwa, dan menjadi teladan bagi anggotanya.

Ketiga, Budaya Organisasi yang Islami, Berbasiskan jatidiri organisasi yang merupakan derivasi dari nilai-nilai Islam dan menjadi DNA Organisasi. Dimana, sikap menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika, serta mendorong rasa saling menghormati dan menghargai, adalah menjadi faktor utamanya.

Keempat, Pengambilan Keputusan yang Syar’i: Sehingga semua keputusan dan kebijaksanaan Organisasi erlandaskan Al-Qur’an, Hadits, dan ijtihad ulama, yang dikontekstualkan dengan situasi dan kondisi serta  memastikan setiap langkah diridhoi Allah SWT.

Kelima, efisiensi dan Efektivitas: Mengoptimalkan sumber daya dan mencapai tujuan dengan cara yang bertanggung jawab, sehingga tidak terjadi pemborosan apalagi korupasi, karena setiap anggota dan pengelola serta pengurus organisasi disemua level, selain bekerja dalam system yang baik, juga merasa terus diawasi oleh Allah ta’ala, sehingga tidak berani untuk berbuat dosa.

Dengan melihat karakteristik di atas, maka nampak jelas bahwa nilai-nilai ilahi yang menjadi fondasi dari celestial organization bersifat universal dan abadi, sehingga membuatnya relevan sepanjang jaman.

Dengan demikian, di tengah perubahan zaman yang kian  cepat, tidak jelas dan kompleks, maka celestial organization menawarkan solusi yang kokoh dan berlandaskan nilai-nilai luhur.

Arsitektur Organisasi Masa Depan

Pada hakekatnya  dengan dunia  yang terus  berubah, maka keberadaan organisasi juga terus  mengalami perubahan, demikian halnya lingkungan organisasi juga terus berubah.

Cara-cara lama  dalam mengelola  organisasi  harus terus  dievaluasi, jika sudah tidak sesuai  perlu diperbaiki, diganti atau bahkan dirusak  total  dan membangun baru. Cara-cara kita mengelola sesuatu sedang berubah, dengan cara para pandang  dan paradigma baru.

Arsitektur organisasi masa depan menjadi landasan krusial bagi keunggulan dan relevansi organisasi dalam menghadapi perkembangan zaman yang cepat dan kompleks.

Dengan fokus pada fleksibilitas, adaptabilitas, dan integrasi teknologi, arsitektur tersebut memungkinkan organisasi untuk menjawab tantangan-tantangan baru dengan cepat dan efektif, sambil mempertahankan visi, nilai, dan tujuan yang telah ditetapkan.

Dengan demikian, organisasi dapat tetap berada di garis depan dalam merespons perubahan lingkungan internal dan eksternal, serta memastikan keberlangsungan dan relevansi jangka panjangnya dalam masyarakat yang terus berkembang. Sehingga semua organisasi perlu beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan arsitektur baru ini, meliputi :

Pertama, Visi dan Misi yang Jelas: Visi dan misi mesti relevan dan terukur tingkat pencapaiannya. Dirumuskan berdasarkan jatidiri organisasi, dalam perspektif Islam maka harus berazaskan pada dinamika dan kebutuhan umat di masa depan.

Kedua, Struktur Organisasi yang Agile: Tidak bisa lagi struktur disusun berdasarkan proses akomodatif terhadap sumberdaya yang ada, tetapi struktur mesti diisi oleh orang-orang yang memiliki integritas, kompetensi, dan kapabilitas dibidangnya. Sehingga model struktur yang datar dan fleksibel, akan membawa organisasi semakin lincah, serta memungkinkan pengambilan keputusan yang cepat dan responsif.

Ketiga, Budaya Organisasi yang Kolaboratif: Aspek kolaboratif menjadi ciri khas organisasi mada depan. Organisasi mesti membuka diri untuk membangun interaksi dengan berbagai kalangan. Sehingga akan menekankan kerjasama, komunikasi terbuka, dan saling menghargai.

Keempat Kepemimpinan Kuat, Transformasional dan Visioner: Kepemimpinan menjadi kunci dalam arsitektur organisasi masa depan. Kepemimpinan kuat lahir dari sebuah kepercayaan atas kompetensi dan nilai-nilai yang dicerminkan oleh sosok pemimpin. Sehingga terjadi proses transformasi nilai kepada anggotanya, dalam hal ini pemimpin mampu menunjukkan visi kedepan bagi kepentingan organisasi serta masyarakat luas.

Kelima, Pemanfaatan Teknologi: Perkembangan teknologi menjadi kesempatan organisasi untuk melakukan lompatan ke depan dengan cepat. Sehingga, tidak ada organisasi yang unggul dan relevan di masa depan yang tidak bersinggungan dengan tekhnologi. Oleh karenanya, mengadopsi teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas, menjadi urgent.

Keenam, Fokus pada Kinerja dan Dampak: Organisasi ke depan berbasis kinerja, sementara jam kerja dan tempat kerja menjadi fleksibel. Setiap pekerjaan telah ditentukan targetnya, sehingga dapat diketahui kapan selesainya, serta diketahui jika terjadi kendala, berdasarkan teknologi yang ada. Sehingga, mengukur dan mengevaluasi kinerja organisasi berdasarkan dampaknya pada umat dan masyarakat, menjadi parameter organisasi.

Ketujuh, Pembelajaran dan Pengembangan Berkelanjutan: Organisasi ke depan dituntut menjadi learning organization (organiasi pembelajar). Di mana dengan memanfaatkan teknologi dan sumberdaya, orgasisasi memfasilitasi setiap elemen dalam organisasi untuk terus meng-upgrade diri. Oleh karenanya, organisasi akamn mendorong seluruh elemen organisasi untuk terus belajar dan mengembangkan diri.

Arsitektur Organisasi masa depan tersebut di atas, akan terus berkembang dengan cepat yang selaras dengan dinamika global dan terutama dipicu perkembangan teknologi yang mendeterminasi perilaku organisasi. Dalam perspektif Islam sudah barang tentu akan diselaraskan dengan maqashidul syariah (tujuan-tujuan diturunkan syariah), sehingga memiliki track yang jelas,

Celestial Organization: Solusi Arsitektur Organisasi Masa Depan

Dalam konteks Islam, desain arsitektur organisasi masa depan juga harus mencerminkan konsep celestial organization, yang merupakan organisasi berbasis wahyu dan mengikuti pedoman yang ditetapkan dalam Al-Quran dan Sunnah.

Hal ini berarti bahwa organisasi tersebut harus memperkuat landasan spiritualnya, dengan menjadikan wahyu sebagai sumber utama inspirasi dan panduan dalam setiap keputusan dan tindakan yang diambil. Kepemimpinan dalam organisasi ini haruslah menjadi cermin dari kepemimpinan yang ideal dalam konsep Islam, yang mengutamakan keadilan, kebijaksanaan, dan pelayanan kepada umat.

Dengan menyatukan desain arsitektur organisasi masa depan yang komprehensif, agile, dan memenuhi kaidah kepemimpinan dalam konsep Islam, serta mengaitkannya dengan konsep celestial organization, organisasi tersebut akan menjadi unggul dan relevan terhadap perkembangan zaman. Mereka akan mampu menjawab tantangan-tantangan kompleks dengan kebijaksanaan dan ketangguhan, sambil tetap berpegang teguh pada nilai-nilai spiritual dan moral yang menjadi landasan keberadaan mereka.

Penutup

Membangun arsitektur organisasi masa depan membutuhkan komitmen dan usaha yang berkelanjutan dari semua pemangku kepentingan. Tidak mungkin hanya dibebankan kepada pemimpin organisasi semata, akan tetapi mesti melibatklan seluruh elemen organisasi yang ada. Dengan kerja sama dan kolaborasi, organisasi Islam dapat mencapai tujuannya dan berkontribusi secara positif bagi masyarakat.

Dengan demikian maka arsitektur organisasi masa depan haruslah mengadopsi konsep celestial organization sebagai framework dengan menerapkan langkah-langkah yang disebutkan di atas, sehingga organisasi Islam dapat membangun organisasi yang unggul dan mampu menjawab tantangan zaman.

Akhirnya, organisasi Islam memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan positif dan kembali memimpin dunia. Dengan merancang arsitektur yang tepat dan berlandaskan nilai-nilai Islam, dengan memperhatikan dinamika eksternal serta perkembangan zaman, maka organisasi Islam akan memberikan berkontribusi secara signifikan dalam membangun masyarakat yang lebih adil, sejahtera, dan bermoral. Wallahu a’lam.

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)

Pesan Syaikh Mahdi Al-Yaman di Wisuda Hafidz Qur’an SMP/ SMA Luqman Al Hakim

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) – SMP dan SMA Luqman Al Hakim, yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, menyelenggarakan acara Wisuda Hafidz 30 Juz dan Pemberian Ijazah Sanad di Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Surabaya, Ahad, 4 Dzulqaidah 1445 (12/5/2024).

Acara ini dihadiri oleh segenap jajaran Badan Pengurus Hidayatullah Surabaya, para Ustadz, Santri Boarding, Santri Fullday, serta para Wali Santri.

Acara wisuda ini menjadi momen penuh makna dan kebahagiaan bagi para santri, orang tua, dan seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya.

Ketua Badan Pengurus Yayasan Hidayatullah Surabaya, Ust. H. Samsudin, MM, mengatakan acara ini merupakan bentuk penghargaan dan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi dan perjuangan para santri dalam menghafal 30 juz Al-Qur’an dengan penuh semangat dan ketekunan.

Syaikh Muhammad Mahdi Al-Yaman, selaku Mas’ul Tahfidz di Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, turut memberikan arahan dan motivasi yang inspiratif kepada para santri. Dia menekankan pentingnya keseriusan dan ketekunan dalam menghafal Al-Qur’an sejak awal.

“Saya sangat tegas kepada para santri, khususnya dalam hal tahsin Al-Qur’an, karena itu adalah hal yang paling utama sebelum mereka mulai menghafalkannya,” kata Syaikh Mahdi.

Syaikh Mahdi mengatakan, dirinya melihat para santri yang sejak awal memang sangat serius dan bersungguh-sungguh, maka mereka akan merasakan buah manis dari perjuangannya nanti di akhir.

“Akan tetapi, sebaliknya, kalau sejak awal mereka tidak serius dan bersungguh-sungguh, maka buah yang akan mereka dapatkan rasanya akan biasa-biasa saja,” tutur Syaikh Muhammad Mahdi Al-Yaman.

Syaikh Mahdi juga mengingatkan para santri untuk selalu menjaga hafalan Al-Qur’an dengan cara membaca dan mengulanginya secara rutin. Hal ini, ditegaskannya, amat penting dilakukan agar hafalan Al-Qur’an tetap terjaga dan tidak mudah lupa.

Ketua Badan Pengurus Yayasan Hidayatullah Surabaya, Ust. H. Samsudin, MM, juga mengingatkan bahwa bahwa menghafal Al-Qur’an bukan hanya sebuah prestasi akademik, tetapi juga merupakan bentuk perjuangan yang mulia dan akan membawa berkah di dunia dan di akhirat.

Usaha mulia ini sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, bahwa orang-orang yang banyak menghafal Al-Qur’an akan mendapatkan derajat yang tinggi di surga.

Oleh karena itu, terang Samsudin, wisuda Hafidz 30 Juz ini bukan hanya menjadi momen perayaan atas keberhasilan para santri dalam menghafal Al-Qur’an, tetapi juga menjadi momen untuk menumbuhkan semangat dan motivasi bagi para santri lainnya untuk terus belajar dan menghafal Al-Qur’an dengan penuh keikhlasan dan ketabahan.

Penghargaan atas Dedikasi

Acara Wisuda Hafidz 30 Juz ini juga menjadi momen untuk memberikan penghargaan dan apresiasi kepada para santri atas dedikasi dan perjuangan mereka dalam menghafal Al-Qur’an.

Para santri menerima ijazah sanad sebagai bukti bahwa mereka telah berhasil menghafal 30 juz Al-Qur’an dengan sanad yang tersambung kepada Nabi Muhammad SAW.

Wisuda Hafidz 30 Juz SMP dan SMA Luqman Al Hakim ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi para generasi muda untuk terus mempelajari dan menghafal Al-Qur’an.

“Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi umat Islam dan merupakan sumber ilmu dan hikmah yang tiada tara,” kata Samsudin menekankan.

Dalam pada itu, Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya berkomitmen untuk terus membina dan mencetak generasi muda yang hafidz Al-Qur’an dan memiliki akhlak mulia. Samsudin pun mengharapkan para hafidz yang diwisuda ini dapat menjadi teladan dan cahaya bagi masyarakat di sekitarnya.

“Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada para santri, para Ustadz, dan seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya,” tandasnya. (kbh/hidayatullah.or.id)

[KHUTBAH JUM’AT] Meraih Tiga Kemuliaan Dzulqa’dah sebagai Bulan Haram

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah

Pada hari Jum’at istimewa dan penuh rahmat ini, kami mengajak hadirin untuk selalu bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala atas berbagai nikmat dan karunia-Nya, dan mengajak untuk selalu bertakwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Marilah kita selalu istiqamah dalam keimanan dan ketakwaan kepada-Nya. Dengan takwa inilah, semoga kita dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang mendapat kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala.

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa” (Q.S. al-Hujraat: 13)

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah

Allah Subhanahu wa ta’ala melebihkan derajat sebagian makhluk-Nya atas sebagian yang lain. Sebagian manusia, Allah Subhanahu wa ta’ala jadikan lebih utama daripada sebagian manusia yang lain.

Pada sebagian tempat, Allah Subhanahu wa ta’ala jadikan lebih utama daripada sebagian tempat yang lain. Dan sebagian waktu, Allah Subhanahu wa ta’ala jadikan lebih utama dibandingkan dengan sebagian waktu yang lain.

Di antara sebagian waktu, yang Allah Subhanahu wa ta’ala lebihkan keutamaannya atas sebagian waktu yang lain, adalah bulan Dzulqa’dah yang saat ini kita berada di dalamnya.

Bulan Dzulqa’dah termasuk Bulan Haram. Apa itu Bulan Haram? Bulan haram adalah bulan yang di dalamnya terdapat keistimewaan.

Bulan Haram merujuk pada empat bulan suci nan mulia dalam kalender Islam, yaitu Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Keistimewaan bulan-bulan ini diakui dalam ajaran Islam sebagai masa yang dihormati dan dianggap istimewa dalam berbagai konteks.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah

Di antara keutamaan bulan Dzulqa’dah sebagai salah satu bulan haram yang kita sedang berada di dalamnya sekarang ini adalah sebagai berikut:

Pertama, Dzulqa’dah adalah permulaan dari empat bulan yang dimuliakan (al-Asyhur al-Hurum). Empat bulan haram atau empat bulan yang dimuliakan itu adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.

Disebut Dzulqa’dah disebabkan orang-orang Arab pada masa lalu tidak melakukan perang (qu’uud ‘anil qitaal) di dalamnya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ (سورة التوبة: ٣٦)

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, sebagaimana dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan yang diagungkan (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab)” (QS at-Taubah: 36)

Kedua, Dzulqa’dah adalah satu di antara tiga bulan haji, yaitu Syawal, Dzulqa’dah dan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Tidak sah ihram untuk haji pada selain waktu tersebut. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ (البقرة: ١٩٧)

“Musim haji itu pada bulan-bulan yang telah dimaklumi (ditentukan)” (QS al-Baqarah: 197).

Ketiga, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah melakukan umrah kecuali pada bulan Dzulqa’dah. Sahabat Anas bin Malik Rhadiyallahu ‘anhu meriwayatkan:

اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَرْبَعَ عُمَرٍ، كُلَّهُنَّ فِي ذِي القَعْدَةِ، إِلَّا الَّتِي كَانَتْ مَعَ حَجَّتِهِ، عُمْرَةً مِنَ الحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ العَامِ المُقْبِلِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الجِعْرَانَةِ، حَيْثُ قَسَمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مَعَ حَجَّتِهِ (رواه البخاري) –

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berumrah sebanyak empat kali, semuanya pada bulan Dzulqa’dah kecuali umrah yang dilaksanakan bersama haji beliau, yaitu satu umrah dari Hudaibiyah, satu umrah pada tahun berikutnya, satu umrah dari Ji’ranah ketika membagikan rampasan perang Hunain dan satu lagi umrah bersama haji.” (HR al-Bukhari).

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jum’ah rahimakumullah,

Dzulkaidah merupakan salah satu asyharul hurum (bulan haram), bulan yang dimuliakan Allah Subhanahu wa ta’ala, selain Muharram, Rajab, Dzulhijah.

Barangsiapa memperbanyak amal saleh di bulan Dzulkaidah, pahala perbuatannya dilipatgandakan.

Abdullah bin Abbas Rhadiyallahu ‘anhu berkata mengenai pahala berlipat ganda bagi amal saleh di bulan Dzulkaidah ketika membahas Surah At-Taubah ayat 36 sebagai berikut:

“Beribadah dan beramal saleh di bulan-bulan haram dilipatkan gandakan pahalanya oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Demikian sebaliknya, bermaksiat dan berbuat dosa di bulan-bulan tersebut digandakan hukumannya”.

Al Qatadah berkata tentang firman Allah Subhanahu wa ta’ala (Surah At-taubah ayat 36) tentang bulan-bulan haram : { فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ } “maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu”:

“Sesungguhnya kezhaliman pada bulan-bulan haram adalah kesalahan yang paling besar dibandingkan pada bulan-bulan lainnya, walaupun semua kezhaliman adalah dosa yang besar, namun Allah berhak membesarkan suatu perkara sesuka-Nya”

Mari kita bersama memperbanyak amal amal sholeh di bulan mulia ini sehingga Allah Subhanahu wa ta’ala meridhai perjalanan kehidupan kita.

Demikian khutbah yang singkat ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua dan menjadi pembuka dari segala amal kebaikan untuk semuanya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Do’a Penutup

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ……. عِبَادَ اللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُو

Khidmat Ustadz Sanusi, dari Subang Menebar Cahaya Dakwah di Papua Barat Daya

0
Ustadz Muhammad Sanusi usai menjadi khatib Idul Fitri di Masjid Al-Falah AMD Wosi, Manokwari, Papua Barat. (Foto: Ist/ hidayatullah.or.id)

SEBUAH perjalanan sarat pelajaran penuh dedikasi dan pengabdian, terukir dalam kisah inspiratif Ustadz Muhammad Sanusi, seorang dai yang tak kenal lelah menebar cahaya dakwah di pelosok negeri.

Lahir di Subang, Jawa Barat, pada 16 Agustus 1975, Sanusi bagaikan lentera yang menerangi jalan bagi umat di Papua. Sejak tahun 1997, ia bergabung dengan Pondok Pesantren Hidayatullah di Timika, Papua, dan sejak saat itu, perjalanan dakwahnya dimulai.

Setelah kurang 2 tahun bergabung di Pondok Pesantren Hidayatullah Timika Papua sebagai guru, pada tahun 1999 Sanusi mendapat tugas meneruskan perintisan dakwah di Serui. Selain berdakwah dengan menjalin silaturrahim dengan siapapun di sana, Sanusi juga membantu perintisan Hidayatullah Serui.

Tahun 2000 menjadi titik balik bagi Sanusi. Bertepatan Hidayatullah bertransformasi dari organisasi sosial menjadi organisasi masyarakat, dan Sanusi mendapat amanah baru sebagai Ketua Departemen Dakwah di Jayapura.

Tak hanya berdakwah, Sanusi juga ditugaskan meneruskan perintisan layanan pendidikan umat yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs) Hidayatullah Jayapura, mengantarkan pendidikan formal bagi masyarakat setempat.

Pengabdian Sanusi tak berhenti di situ. Pada tahun 2006, ia ditugaskan ke Kabupaten Merauke, dan kemudian ke Kabupaten Fakfak untuk merintis MTs Al-Fath.

Di Fakfak, Sanusi tak hanya mengajar, tetapi juga berdakwah ke daerah-daerah binaan di kota Fakfak dan sekitarnya.

Ya, Sanusi telah mewakafkan dirinya untuk menyebarkan ajaran Islam dan membantu masyarakat. Bagi Sanusi, dengan memilih dakwah sebagai jalan hidup, dia ingin mengabdi tidak hanya kepada agama, tetapi juga kepada bangsa dan negara.

“Dakwah adalah jalan hidup yang saya pilih untuk mengabdi kepada agama, bangsa, dan negara, semata mata demi untuk kemajuan umat dan agar agama ini tegak,” katanya.

Selain menjalankan dakwah pembinaan ke berbagai titik di sekitar tempat tugasnya, Ustadz Muhammad Sanusi juga mengawal pengelolaan pendidikan berasrama tingkat SMP/ MTs di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah (Foto: Ist/ Hidayatullah.or.id)

Dapat Amanah Baru

Tahun 2010, Sanusi kembali mendapat amanah baru, kali ini di Kota dan Kabupaten Sorong Papua Barat. Ia diamanahkan sebagai Ketua DPD Hidayatullah dan Kepala Madrasah Aliyah (MA) Hidayatullah di Kabupaten Sorong.

Dedikasi dan pengabdiannya tak kenal lelah, ia terus menebar cahaya dakwah di pelosok Papua Barat. Dibersamai sang isri tercinta, Sri Handayani, ia terus bergerak dalam simfoni dakwah yang membumi.

Pada tahun 2013, Sanusi kembali ke Fakfak untuk memimpin DPD Hidayatullah di sana. Dan pada penghujung tahun 2016, ia ditugaskan ke Manokwari, ibukota Papua Barat, sebagai Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Papua Barat dan sekaligus Ketua Yayasan Kampus Madya Hidayatullah Manokwari.

Pengalaman dakwah Sanusi di Manokwari tak terlupakan. Ia berdakwah tak hanya di daerah perkotaan Manokwari, tetapi juga di daerah binaan Transmigrasi dari SP 1 hingga SP 11. Ia bahkan turun berdakwah ke pedalaman yang jauh dari kota Manokwari, menembus medan jalan yang terjal dan curam.

“Tantangannya menarik dan sangat menantang karena harus menempuh perjalanan panjang, belum lagi medan jalan yang sebagian besar masih bebatuan tajam dan curam,” kenang Sanusi, seperti dikutip dari laman Posdai.or.id.

Dedikasi Sanusi tak sia-sia. Kehadiran Hidayatullah di Papua Barat Daya membawa dampak positif bagi masyarakat. Mereka merasa terbantu dari segi moril dan materi, terbebas dari buta huruf Al-Quran, dan mendapatkan pemahaman keagamaan yang lebih baik.

“Semoga kami senantiasa diberikan keistiqomahan dalam berdakwah di jalan Allah SWT dengan mengedepankan kepentingan Ummat demi menggapai ridho Allah SWT,” kata Sanusi penuh harap.

Kisah Muhammad Sanusi adalah bukti nyata bahwa dedikasi dan pengabdian tak kenal batas. Ia bagaikan lentera yang tak pernah padam, menerangi jalan bagi umat di pelosok negeri.

Ustadz Sanusi dikarunai 6 orang anak. Mereka adalah Uswatun Hasanah (tahun ini selesai dari STIBA Ar Raayah Sukabumi), Farih Ramadhan (semester 4 STIBA Ar Raayah Sukabumi), Fikroh Luthfi Auliya (tahun ini masuk STIBA Ar Raayah Sukabumi), Umar Abdullah (Kelas 5 MI integral Hidayatullah), Uzair Ubadillah (kelas 1 MI) dan yang terakhir bernama Fardan Mu’tashim Billah (2,5 tahun)

Sanusi berkomitmen untuk terus berada di jalan dakwah ini meski dengan tantangan yang tidak ringan. Inspirasinya akan terus menggema, mendorong generasi muda untuk terus berkarya dan membawa manfaat bagi agama, bangsa dan negara. (ybh/hidayatullah.or.id)

Memetakan Potensi dan Talenta Kader: Membangun Regenerasi Organisasi yang Kuat

0

DALAM perjalanan panjang menuju cita-cita mulia, sebagaimana tercantum dalam visi dan misinya, seringkali organisasi Islam dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana memetakan potensi dan talenta kader dengan tepat.

Seiring berjalannya waktu, kegamangan dalam memetakan kader telah menjadi momok yang menghantui, menyebabkan ketidakseimbangan dalam pembangunan organisasi. Namun, pemetaan yang tepat terhadap kader merupakan kunci utama dalam mempersiapkan proses regenerasi yang berkualitas dan berkelanjutan.

Pentingnya memetakan kader dengan cermat bukanlah sekadar masalah jumlah, tetapi kualitas. Organisasi Islam tidak dapat hanya bergantung pada jumlah anggota, tetapi harus memastikan bahwa setiap individu yang terlibat memiliki kontribusi yang bermakna sesuai dengan minat, bakat, kompetensi, dan passion mereka. Ini bukan hanya tentang memasukkan orang ke dalam jabatan, tetapi tentang menempatkan “the right man, the right place, and the right time” dalam setiap posisi yang dibutuhkan.

Pada saat bersamaan, kebanyakan organisasi abai dalam mempersiapkan proses regenerasi ini, sebab seringkali organisasi memandang hal ini hanya menjadi rutinitas tanpa memperhatikan secara seksama siapa yang sebenarnya memiliki potensi dan bakat untuk mengisi peran-peran penting dalam organisasi.

Padahal, pemetaan potensi dan talenta kader merupakan langkah kritis yang harus diambil untuk memastikan keberlanjutan dan kemajuan organisasi. Sehingga, dengan melakukan pendekatan ini, organisasi dapat memastikan bahwa setiap kader ditempatkan pada posisi yang tepat, sesuai dengan potensinya, sehingga mampu memberikan kontribusi maksimal bagi kemajuan organisasi.

Dengan demikian maka, dalam perspektif organisasi Islam, eksistensi organisasi dapat diibaratkan sebagai pohon rindang yang membutuhkan generasi penerus untuk terus bertumbuh dan berkembang. Dengan demikian, pemetaan potensi dan talenta kader menjadi kunci untuk memastikan regenerasi yang kuat dan berkelanjutan. Namun, sekali lagi ternyata tak jarang dengan berbagai dalih dan alasan, organisasi masih mengalami kegamangan dalam memetakan kadernya dengan tepat.

Kegamangan dalam Pemetaan Kader

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kegamangan dalam beerbagai jenis organisasi, saat hendak melakukan  pemetaan kader, dan pada gilirannya hal ini justru akan menjadi penghambat proses regenerasi dan rejuvenasi dalam orrganisasi. Hal tersebut antara lain:

Pertama, Kurangnya Sistem Pemetaan yang Efektif: Organisasi seringkali tidak memiliki sistem pemetaan kader yang terstruktur dan sistematis. Hal ini menyebabkan proses pemetaan menjadi tidak terarah dan tidak terukur.

Kedua, Kurangnya Data dan Informasi: Organisasi kekurangan data dan informasi yang akurat tentang potensi dan talenta kadernya. Hal ini membuat pemetaan menjadi sulit dan tidak tepat sasaran.

Ketiga, Subjektivitas dalam Penilaian: Penilaian potensi dan talenta kader seringkali dilakukan secara subjektif, tanpa menggunakan indikator yang jelas dan terukur. Hal ini dapat menimbulkan bias dan ketidakadilan.

Keempat, Kurangnya pemahaman tentang potensi dan talenta kader: Organisasi seringkali hanya fokus pada pengalaman dan jabatan kader, tanpa menggali potensi dan talenta yang tersembunyi.

Kelima, Keengganan dan ketakukan kehilangan jabatan, pada beberapa kasus justru karena paham peta kader yang memiliki potensi untuk dipromosikan justru parfa senior menjadi  takut dan enggan, sebab dapat menggeser posisinya.

Berbagai model kegamangan tersebut di atas seharusnya tidak terjadi jika, Organisasi memahami  sekaligus menyadari bahwa pemetaan kader yang tepat, sebagaimana diuraikan sebelumnya, akan menjadi faktor penting untuk mempersiapkan regenerasi berkualitas. Artinya, ada upaya yang serius dan sistematis bahwa setiap kader dipetakan berdasarkan minat, bakat, kompetensi, dan passion-nya, serta ditempatkan pada posisi yang tepat sesuai dengan kemampuannya.

Pemetaan Kader: Kunci Regenerasi dan Rejuvenasi

Sebagaimana dipahami bahwa. pemetaan kader merupakan langkah strategis untuk membangun generasi penerus yang kuat, dan hal ini menjadi bagian dari proses rejuvenasi dalam organisasi. Sehingga, dengan melakukan pemetaan yang tepat, maka organisasi , setidaknya organisasi akan mendapatkan berbagai manfaat dan keunggulan.

Pertama, Mengidentifikasi potensi dan bakat kader: Pemetaan membantu organisasi menemukan kader dengan minat, bakat, dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Kedua, Mengembangkan kader secara terarah: Pemetaan memungkinkan organisasi untuk mengembangkan kader secara terarah sesuai dengan potensi dan bakat mereka.

Ketiga, Mempersiapkan regenerasi: Pemetaan membantu organisasi mempersiapkan kader yang siap untuk mengisi posisi kepemimpinan dan tanggung jawab penting dalam organisasi.

Keempat, Meningkatkan efektivitas organisasi: Pemetaan yang tepat dapat meningkatkan efektivitas organisasi dengan menempatkan kader pada posisi yang sesuai dengan kemampuan dan passion mereka.


Kelima, Mempermudah dan Mempercepat Proses Regenerasi: Pemetaan kader membantu organisasi dalam mengidentifikasi kader yang memiliki potensi dan talenta yang sesuai dengan kebutuhan organisasi di masa depan. Hal ini mempermudah proses regenerasi dan memastikan kelangsungan organisasi.

Keenam, Mengembangkan Kader yang Berkualitas: Pemetaan kader membantu organisasi dalam mengembangkan kader sesuai dengan potensi dan talenta mereka. Hal ini menghasilkan kader yang berkualitas dan siap memimpin organisasi di masa depan.

Dengan berbagai manfaat dan keunggulan di atas, maka tidak ada alasan bani setiap organiassi untuk tidak dengan serius dalam melakukan pemetaan kader.

Prinsip Pemetaan yang Tepat

Sebagaimana dalam penjelasan sebelumnya, bahwa dalam pemetakan potensi kader tidak bisa dilakukan secara serampangan. Sebab, pemetaan potensi dan talenta kader harus dilakukan dengan berlandaskan beerapa prinsip yang mesti diikuti.

Pertama, The Right Man, The Right Place, and The Right Time: Setiap kader harus dipetakan berdasarkan dengan minat, bakat, kompetensi, dan passion-nya, serta mempertimbangkan waktu yang tepat untuk mereka berkontribusi dalam organisasi.

Kedua, Meritokrasi: Pemetakan kader harus dilakukan secara objektif dan transparan, tanpa diskriminasi terhadap kader berdasarkan latar belakang atau hubungan dengan pengurus organisasi.

Partisipasi Kader: Kader harus dilibatkan secara aktif dalam proses pemetakan. Hal ini membantu mereka dalam memahami potensi dan talenta mereka sendiri dan memotivasi mereka untuk mengembangkan diri.

Oleh karenaya, prinsip obyektifitas dalam pemetakan kader menjadi basis utama untuk mendapatkan kader yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Bagaimana memetakan potensi dan talenta kader?

Dalam proses pemetaan kader, organisasi harus memperhatikan berbagai faktor penting, termasuk minat individu, bakat alami, pengalaman, pendidikan, dan kompetensi yang dimiliki.

Mengidentifikasi dan mengembangkan potensi dan talenta setiap kader tidak hanya mendukung pertumbuhan organisasi secara keseluruhan, tetapi juga meningkatkan motivasi dan keterlibatan individu dalam mencapai tujuan individu dan tujuan bersama. Sehingga semuanya mesti berbasis data dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Namun, perlu diingat, bahwa pemetaan kader bukanlah proses statis. Organisasi harus terbuka terhadap perubahan dan perbaikan berkelanjutan dalam sistem pemetaan mereka, dengan melakukan evaluasi secara berkala dan mengadaptasi strategi mereka sesuai dengan perkembangan lingkungan dan kebutuhan organisasi. Oleh karenanya Organisasi dapat membentuk tim khusus (task force), yang bertugas untuk melakukan pemetaan talenta.

Dengan demikian, memetakan potensi dan talenta kader bukan hanya tentang mempersiapkan regenerasi dalam organisasi, tetapi juga tentang membangun fondasi yang kuat dan berkelanjutan untuk masa depan yang lebih baik.

Dengan mengutamakan kualitas, meritokrasi, dan perubahan berkelanjutan, organisasi Islam dapat menjadi pusat inovasi, pemimpin yang berpengaruh, dan agen perubahan yang positif dalam masyarakat.

Penutup

Pemetaan potensi dan talenta kader merupakan proses penting untuk memastikan regenerasi yang kuat dan berkelanjutan dalam organisasi Islam. Dengan pemetaan yang tepat, organisasi dapat memanfaatkan kader dengan potensi dan talenta terbaiknya untuk mencapai tujuan organisasi dan membangun masa depan yang gemilang.

Akhirnya, pemetakan kader sesunggunya bukan hanya tugas task force dan tanggung jawab pengurus organisasi semata. Akan tetapi, setiap kader dan anggota organisasi harus turut berkontribusi dalam proses ini.

Dengan komitmen dan kerjasama dari semua pihak, pemetaan kader dapat menjadi kunci untuk membangun organisasi Islam yang dinamis, inovatif, dan berkelanjutan. Artinya regenerasi dan rejuvenasi Organisasi akan terarah dan tersetruktur untuk mengimplementasikan visi dan misi organisasi. Wallahu a’lam.

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)