Beranda blog Halaman 198

BMH Resmikan Sumur Bor Bantu Masyarakat Kampung Sawilah Lebak Banten

0

LEBAK (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) terus giat dalam kebaikan yang masyarakat butuhkan. Terbaru BMH meresmikan dan menyerahkan bantuan fasilitas sumur bor untuk masyarakat Kampung Sawilah, Rt. 16/Rw. 04, Desa Lebakparahiang, Kecamatan Lewidhamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Selasa, 6 Dzulqaidah 1445 (14/5/2024).

Kehadiran sumur bor ini membawa kebahagiaan bagi masyarakat Kampung Sawilah yang sebelumnya kesulitan mendapatkan air bersih. Nenek Rumsah, salah satu warga, mengungkapkan rasa syukur atas bantuan ini.

“Alhamdulillah sekarang sudah mudah mengambil air dari sumur bor. Selama ini harus ambil jauh ke sungai. Sangat merepotkan untuk nenek tua seperti saya, untuk jalan kaki sudah sakit apalagi jalanannya curam dan licin, bahaya,” kata Nenek Rumsah.

Ketua RT. 16, Bapak Suminta, juga menyampaikan rasa haru dan bangganya atas bantuan sumur bor ini.

Suminta mengaku sangat terharu dan bangga, karena kampung Sawilah yang terpencil begini tapi masih ada yang peduli memberi bantuan untuk masyarakatnya yang memang kesulitan air.

“Saya mewakili warga mengucapkan terima kasih kepada donatur BMH yang sudah membntu sumur bor ini. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang terbaik, selalu sehat dan dilapangkan rizkinya,” katanya.

Roni Hayani, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Perwakilan Banten, menjelaskan bahwa bantuan sumur bor ini tidak hanya untuk membantu masyarakat mendapatkan air bersih, tetapi juga untuk memudahkan mereka dalam beribadah dan hidup sehat.

“Ya karena di musholla kampung Sawilah ini belum ada sumber airnya. Jadi ketika warga melaksanakan sholat harus mengambil air ke sungai untuk berwudhu. Dan yang merepotkan ketika wudhunya batal, harus balik lagi ke sungai,” katanya.

Kondisi ini akan lebih merepotkan jika terjadi malam hari. “Nah hadirnya sumur bor ini semoga memudahkan masyarakat dalam ibadah dan juga hidup sehat, karena air bersih adalah basis untuk hidup lebih baik,” ungkap Roni menambahkan.

Bantuan sumur bor ini merupakan bagian dari komitmen BMH dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) khususnya poin 6 yaitu air bersih dan sanitasi yang layak. Dengan adanya sumur bor ini, diharapkan masyarakat Kampung Sawilah dapat hidup lebih sehat dan sejahtera.*/Herim

Keterlaluan Betul, Gerombolan Israel Injak dan Lempar Bantuan untuk Rakyat Palestina

Tangkapan layar aksi brutal massa Israel yang menginjak dan menghambur bantuan yang sedianya untuk rakya Palestina yang dilanda kelaparan massal (Foto: Instagram/ @sapir.sluzker.amran)

SEPERTI biasa, Israel kembali berulah di luar nalar akal sehat manusia. Kali ini, segerombolan mereka melakukan tindakan yang menyayat rasa kemanusiaan, dengan menghalangi dan merusak bantuan kemanusiaan untuk rakyat Palestina.

Bahkan, tindakan mereka sampai meludahi, menginjak-injak, dan melempar mi instan merek terkenal asal Indonesia yang seharusnya menjadi bagian dari bantuan tersebut. Keterlaluan betul tindakan massa demonstran Israel ini.

Seperti dilansir BBC (14/5/2024), di pos pemeriksaan Tarqumiya, insiden yang menyedihkan dan amat ironis ini menggores hati yang terluka ditengah saat ini rakyat Palestina dilanda kematian dan kelaparan massal.

Kronologi Kejadian

Dalam sebuah video yang direkam oleh pengacara kemanusiaan asal Israel, Sapir Sluzker Amran, terlihat massa Israel menginjak-injak boks-boks kardus mi instan berwarna biru bercorak kuning.

Aksi ini terjadi di pos pemeriksaan Tarqumiya, di barat Hebron, selatan Tepi Barat. Truk-truk yang membawa bantuan kemanusiaan tersebut berasal dari Yordania dan sedang menuju Jalur Gaza. Namun, sebelum sampai di tujuan, mereka harus melewati pos pemeriksaan yang dikuasai oleh Israel.

Massa demonstran yang terlibat dalam insiden ini kebanyakan adalah pria muda, beberapa di antaranya mengenakan kipah, semacam kopiah Yahudi.

Mereka melakukan aksi ini tanpa seragam, hanya dengan kaus biasa dan beberapa di antaranya membawa bendera Israel.

Sebanyak tujuh truk yang membawa bahan makanan, termasuk karung-karung gandum, dirusak dan isinya dilemparkan ke jalanan setempat oleh gerombolan demonstran Israel yang tak memiliki hati ini.

Reaksi Internasional

Gedung Putih secara tegas mengutuk serangan ini, menyebutnya sebagai ‘kebiadaban total’. Tidak hanya itu, komunitas internasional pun mengecam keras tindakan tidak manusiawi ini. Bantuan yang seharusnya sampai ke warga Gaza yang membutuhkan, malah berakhir dirusak dan dibuang sia-sia.

Kelompok yang berada di balik protes ini, Tzav 9, adalah kelompok sayap kanan di Israel. Mereka menyatakan bahwa aksi ini sebagai bentuk protes terhadap berlanjutnya penahanan sandera Israel di Gaza.

Salah satu pengunjuk rasa menyebut bahwa mereka tidak ingin ada makanan yang masuk ke Gaza sampai sandera Israel dikembalikan dalam keadaan sehat dan hidup.

Tindakan Aparat

Empat pemrotes akhirnya ditangkap oleh aparat setempat, termasuk seorang anak di bawah umur. Namun, tindakan ini tidak serta merta menghentikan aksi mereka yang sudah telanjur menimbulkan kerugian besar dan mencoreng nilai-nilai kemanusiaan.

Insiden ini semakin mengungkapkan sebuah ironi besar dalam bantuan kemanusiaan. Di satu sisi, ada upaya global untuk membantu sesama manusia yang membutuhkan, namun di sisi lain, terdapat pihak-pihak yang dengan sengaja merusak bantuan tersebut atas nama kepentingan politik dan dendam.

Tindakan menginjak-injak mi instan merek Indonesia ini menjadi simbol betapa kemanusiaan bisa terinjak-injak oleh nafsu politik dan kebencian.

Insiden ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa kemanusiaan tidak boleh tunduk pada kebencian.

Tindakan massa Israel yang menghalangi bantuan untuk rakyat Palestina dengan merusak mi instan asal Indonesia adalah sebuah contoh nyata dari bagaimana kemanusiaan bisa dirusak oleh sekelomok angkara murka.

Kita harus terus berupaya agar bantuan kemanusiaan dapat sampai ke tangan yang membutuhkan tanpa terhalang oleh kepentingan sempit. (ybh/hidayatullah.or.id)

LIHAT Video: Demonstran Israel Injak dan Lempar Bantuan Indomie untuk Palestina

Kemitraan Hidayatullah dan Pemprov Kepri Perkuat Khidmat Dakwah di Kawasan Hinterland

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kepulauan Riau (Kepri) melakukan audiensi dan silaturahim ke kantor Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepulauan Riau (Kepri) yang dalam hal ini diterima oleh Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat, Aiyub, di Kota Batam, Selasa, 7 Dzulqaidah 1445 (14/5/2024).

Pertemuan ini menjadi ajang diskusi yang menarik mengenai berbagai topik kerja sama dai hinterland dan kemitraan strategis antara pemerintah dan Hidayatullah yang sudah berjalan selama tiga tahun terakhir.

Dai hinterland adalah para pendakwah yang diutus oleh Hidayatullah untuk berkhidmat di daerah pedalaman atau kawasan pelabuhan, termasuk kota pelabuhan itu sendiri.

Dalam silaturahim tersebut, salah satu topik utama yang dibahas adalah evaluasi dan pemberian masukan untuk para dai Hidayatullah. Evaluasi ini penting untuk memastikan bahwa setiap dai dapat melaksanakan tugasnya dengan optimal.

“Berbagai masukan yang diterima akan menjadi bahan perbaikan dan pengembangan ke depan, sehingga dakwah di pedalaman Kepri dapat berjalan lebih efektif dan efisien,” kata Ketua DPW Hidayatullah Kepri, Darmansyah Dahura.

Selain evaluasi, pertemuan ini juga membahas rencana untuk mengadakan liputan khusus oleh tim Majalah Suara Hidayatullah. Liputan ini diharapkan dapat mengangkat kisah-kisah inspiratif para dai hinterland yang berjuang di garis depan dakwah.

Melalui peliputan ini, jelas Darmansyah, diharapkan masyarakat dapat lebih mengenal dan menghargai pengorbanan para dai dalam menyebarkan nilai-nilai Islam di daerah terpencil.

Salah satu pembahasan penting dalam pertemuan ini adalah rencana kerja sama untuk mendirikan Sekolah Dai di Kepri.

Darmansyah menyampaikan, Sekolah ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi generasi muda yang ingin mendalami ilmu dakwah dan siap terjun ke masyarakat. Dengan adanya Sekolah Dai, Hidayatullah berharap dapat mencetak lebih banyak dai yang berkualitas dan siap berkhidmat di berbagai daerah.

Darmansyah juga melaporkan berbagai kegiatan dan program yang telah dilaksanakan oleh Hidayatullah di Kepri. Ia mengungkapkan bahwa 97 persen tenaga yang menggerakkan program Hidayatullah berasal dari lulusan perguruan tinggi Hidayatullah.

“Alhamdulillah, 97% adalah alumni PTH dan semuanya dapat melaksanakan tugas dengan baik. Jika ada kekurangan tentu menjadi evaluasi bagi kami di organisasi,” kata Darmansyah.

Sementara itu, Aiyub, Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Pemprov Kepri, menyampaikan apresiasi yang besar kepada Hidayatullah. Ia berterima kasih atas kesiapan Hidayatullah dalam mengirimkan dai-dai muda untuk mengabdi dan membina masyarakat di pulau-pulau terluar Kepri.

“Pengabdian para dai ini sangat bermanfaat bagi masyarakat setempat, terutama dalam memberikan pencerahan dan bimbingan spiritual,” kata Aiyub.

Ia menilai pertemuan antara DPW Hidayatullah Kepri dan Pemprov Kepri ini merupakan langkah positif dalam membangun sinergi untuk dakwah yang lebih luas dan efektif.

“Dengan evaluasi yang terus dilakukan, liputan inspiratif, dan rencana mendirikan Sekolah Dai, Hidayatullah menunjukkan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam membina masyarakat di daerah pedalaman,” kata Aiyub.

Apresiasi dari pihak Pemprov Kepri menjadi bukti bahwa pengabdian para dai Hidayatullah memberikan dampak positif yang besar bagi masyarakat. Darmansyah berharap semoga kerja sama ini terus berjalan dengan baik dan membawa manfaat yang lebih besar di masa depan.

Audiensi silaturrahim ini juga dihadiri oleh jajaran DPW Hidayatullah Kepri, termasuk Ketua Departemen Organisasi Mujahid M. Salbu, Ketua Departemen Sosial Rustam Abdullah, dan Ketua DPD Hidayatullah Batam Ahmad Hasbullah. (ybh/hidayatullah.or.id)

Kabintal Kostrad TNI Ajak Teladani Bina Mental Jenderal Soedirman

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kepala Pembinaan Mental Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kabintal Kostrad) TNI Kolonel Inf H. Rahman T. Leho, M.Si, mengajak meneladani penempaan bina mental (bintal) sebagaimana yang melekat dalam diri figur Panglima Jenderal Besar TNI (Anumerta) Soedirman.

“Jenderal Soedirman meskipun dalam kondisi lemah dan harus ditandu dalam perang gerilya melawan penjajah, beliau memiliki mental kuat yang ikut membangkitkan keteguhan mentalitas pasukan yang bersamanya,” kata Kolonel Inf H. Rahman T. Leho.

Hal itu disampaikan Kolonel Inf Rahman saat menerima reporter Hidayatullah.or.id, Adam Sukiman, di kantornya, Markas Kostrad, Jalan Merdeka Timur, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa, 6 Dzulqaidah 1445 (14/5/2024).

Menurut Kolonel Inf Rahman, agama merupakan senyawa yang tak terpisahkan dari seorang prajurit karena ia merupakan sinar yang membimbing manusia agar selalu teguh dalam kebaikan dan kebenaran.

“Agama dan prajurit itu seperti air dan ikan, tidak terpisahkan. Karena agama membimbing kita menjadi insan yang beriman, bertakwa, dan memandu kita agar teguh di jalan kebaikan seperti telah diteladankan Jenderal Soedirman,” katanya.

Masih dalam obrolan yang berlangsung hangat tersebut, Kolonel Inf Rahman menyampaikan harapan bina mental dalam tubuh TNI semakin memperkuat keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ia menjelaskan dengan memantapkan keimanan dan ketaqwaan, prajurit akan semakin kuat dalam mencegah berbagai macam bentuk pelanggaran yang tidak hanya dapat merugikan diri sendiri, tetapi juga keluarga dan satuan mereka.

Disamping itu, bina mental yang dijalankan diharapkan meningkatkan disiplin dan moralitas di kalangan prajurit, sehingga dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan lebih baik dan integritas yang tinggi untuk bangsa dan negara.

Tiga Komponen Bina Mental

Masih dalam kesempatan yang sama, Kolonel Rahman memaparkan pembinaan mental TNI yang terdiri dari 3 komponen yaitu Pembinaan Mental Rohani, Pembinaan Mental Idiologi, dan Pembinaan Mental Kejuangan.

Pembinaan mental rohani fokus pada peningkatan kualitas spiritual dan keagamaan prajurit dalam rangka membantu prajurit memiliki moral dan etika yang baik, serta meningkatkan kesadaran dan kepatuhan terhadap ajaran agama masing-masing.

Dalam pembinaan mental rohani, kegiatan yang dilakukan termasuk ceramah keagamaan, pelatihan spiritual, doa bersama, dan perayaan hari-hari besar keagamaan.

Adapun pembinaan mental idiologi adalah dalam rangka mengarahkan prajurit untuk memahami dan menghayati ideologi negara, yaitu Pancasila.

“Tujuan utamanya adalah memperkuat wawasan kebangsaan dan meningkatkan rasa cinta tanah air serta loyalitas kepada negara,” kata Kolonel Rahman.

Program pembinaan mental idiologi yang dijalankan mencakup pendidikan dan pelatihan tentang sejarah bangsa, nilai-nilai Pancasila, serta berbagai kegiatan yang menumbuhkan semangat nasionalisme.

Berikutnya adalah pembinaan mental kejuangan yang bertujuan untuk menanamkan dan mengembangkan semangat juang dan mental baja dalam diri prajurit.

“Pembinaan mental kejuangan untuk mempersiapkan prajurit agar mampu menghadapi berbagai tantangan dan situasi sulit dengan penuh keberanian dan ketangguhan,” terangnya.

Aktivitas dalam komponen ini meliputi pelatihan fisik, kegiatan outbond, simulasi medan perang, serta cerita inspiratif tentang kepahlawanan dan perjuangan.

Kolonel Rahman menambahkan, ketiga komponen tersebut saling berkaitan dan bersama-sama membentuk prajurit TNI yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga tangguh secara mental dan moral.

Sebelum berpisah, Adam Sukiman menyerahkan cinderamata berupa majalah Suara Hidayatullah kepada Kabintal Kolonel Inf Rahman dan menutup sesi dengan berfoto bersama.

Saat menerima majalah Suara Hidayatullah, Kolonel Rahman mengaku sebagai pembaca setia majalah yang sudah berusia 36 tahun tersebut. (ybh/hidayatullah.or.id)

Kunjungi Kampus Induk, Kepala Badan Otorita Apresiasi Hidayatullah Berkarya di IKN

Kepala Badan Otorita IKN Nusantara, Ir. Bambang Susantono, MCP., MSCE., Ph.D., (tengah berkacamata) bersama para ustadz dan pengurus YPPH di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Jumat, 2 Dzulqaidah 1445 H (10/5/2024).* [Foto: Ruhul Hamzah/MCU]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Kepala Badan Otorita Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, Ir. Bambang Susantono, MCP., MSCE., Ph.D, mengajak Hidayatullah untuk menggerakkan dakwah dan berkarya bersama di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

“Saya kira nanti banyak kesempatan di IKN untuk bekerja di sana, untuk berdakwah di sana, dan untuk berkarya di sana,” ujarnya.

Hal itu disampaikan Bambang Susantono saat berkunjung ke Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Jum’at, 2 Dzulqaidah 1445 (10/5/2024).

Dalam kunjungannya itu, Bambang Susantono menyampaikan ungkapan apresiasi dan terima kasih kepada Hidayatullah yang dinilai telah turut serta mendukung pembangunan IKN.

Di antaranya, salah satu kampus Pondok Pesantren Hidayatullah, yang terletak di wilayah IKN, telah menjalin kolaborasi dengan Badan Otorita IKN.

“Kami berterima kasih untuk hal ini kepada para pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah,” ujar Bambang, seperti dinukil dari laman ummulqurahidayatullah.id.

Pondok Pesantren Hidayatullah di IKN dicanangkan menjadi salah satu model Pesantren Hijau untuk Indonesia. “Satu model yang berada di Ibu Kota Nusantara yang nantinya kita akan banggakan bersama,” sebutnya.

“Sekali lagi penghargaan saya kepada para guru di sini, kepada para ulama di sini, kepada para pengurus Hidayatullah yang telah bekerja sama dengan kami,” tambahnya.

Kunjungan Kepala Badan Otorita IKN ke Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak disambut hangat para pembimbing dan pengurus Ponpes Hidayatullah.

Turut menyambut kedatangan rombongan tersebut yaitu Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah Ir Candra Kurnianto dan Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat DPP Hidayatullah Drs Nursyamsa Hadis.

Hadir pula Pembina YPPH Balikpapan Ustadz Mannandring Abdul Gani, Ketua Bidang 3 YPPH Ustadz Muhammad Kaspan, Kahumas YPPH Ustadz Hidayat Jaya Miharja, dan pengurus lainnya.

Pada kesempatan ini Bambang shalat Jumat bersama ratusan jamaah Gunung Tembak. Usai Jumat, ia didaulat untuk menyampaikan tausiyah kebangsaan dan keumatan di depan jamaah termasuk para ustadz, santri, dan warga.

Usai kegiatan di Masjid Ar-Riyadh, Bambang dan rombongan tamu lainnya beramah tamah di Kantor Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (Gedung WKP).

Pada penghujung kunjungan tersebut, Kepala Badan Otorita IKN dan rombongannya didoakan khusus oleh Ketua DKM Ar-Riyadh Dr Kusnadi yang diaminkan oleh para ustadz lainnya. (SKR/Media Center Ummulqura Hidayatullah)

Post Human Era Ditengah Kepungan Tsunami Informasi Penting Menjadi Perhatian

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect), Imam Nawawi, menyoroti suasana dunia hari ini yang oleh pakar disebut sebagai post human era atau era posthuman.

Istilah tersebut merujuk pada artikel berjudul “Ancaman Tsunami “Byte” di Era “Posthuman” karya Guru Besar Sains Informasi FISIP Universitas Airlangga Prof. Rahma Sugihartati di Kompas (11/5/24).

“Mungkin inilah saatnya kita sempatkan diri berpikir, bahwa penjelasan Prof Rahma tentang perkembangan teknologi di era posthuman itu penting jadi perhatian kita. Jangan sampai kita benar-benar kehilangan jati diri sebagai manusia, saat kita merasa masih manusia,” kata Imam kepada Hidayatullah.or.id, Selasa, 6 Dzulqaidah 1445 (14/5/2024).

Imam menekankan bahwa manusia sekarang benar-benar terkepung oleh tsunami informasi. Sebuah kondisi yang kalau tidak punya tradisi Iqra’ alias membaca dengan baik, sudah pasti akan jadi manusia yang terkendali oleh data-data yang manusia kreasikan itu.

“Era mahadata memungkinkan pihak tertentu yang memiliki akses dan mampu mengolah mahadata mampu memanen dan menambang data dengan sangat efektif,” terang Imam yang juga Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah periode 2020-2023 ini.

Kondisi itu, mengutip Prof Rahma, menjadikan banyak orang tanpa sadar masuk dalam perangkap perkembangan sistem mahadata yang membelenggu kehidupan manusia itu sendiri.

Dahulu ada istilah orang bekerja kalau hadir rapat. Sekarang ada orang tertentu yang menganggap aktif bekerja kalau terus aktif di Whatsapp. Tak boleh membatasi diri dengan waktu. Kapan ada pesan WA masuk segera harus dibalas.

Dan, pernahkah kita perhatikan, bagaimana diri kita bangun tidur langsung otomatis mencari hape. Selepas salam saat shalat, tangan langsung merogoh hape. Tak ada lagi yang lebih nyata bagi orang seperti itu selain hp.

“Inilah dunia sekarang. Mungkin tampak biasa-biasa saja. Tapi coba cek lebih dalam. Benarkah biasa-biasa saja,” imbuhnya.

Era Posthuman

Menurut penjelasan Prof Rahma, post human era atau era posthuman adalah masa saat manusia bukan lagi hal paling penting di alam semesta. Perkembangan teknologi di era posthuman—seperti peningkatan kemampuan manusia dan kecerdasan buatan—cenderung makin mengaburkan dan menggantikan batas-batas kemanusiaan kita.

Saat ini, kata Prof Rahma, manusia telah kehilangan jati diri sebagai manusia, karena sebagian besar hidupnya telah dikendalikan oleh teknologi yang selalu menempel di tubuhnya dan tiada henti menciptakan informasi.

Kalau kita sering melihat orang angkat handphone lalu selfie dan sibuk posting, ia sedang mengirim data, ia tengah membuat informasi. Dan, itu akan dipanen oleh pihak yang punya akses terhadap segala kanal informasi di dunia digital.

Bahkan saat kita sedang berselancar di internet, jejak digital menjadi rekaman yang pihak tertentu bisa dijadikan bahan untuk mengetahui bagaimana kita berperilaku di dunia maya. Itu juga akan jadi bahan yang mereka olah untuk semakin membuat kita tenggelam dalam aktivitas digital.

Sekarang istilah big data sudah tak lagi relevan, muncul istilah baru lagi: mahadata. Mahadata menurut Prof Rahmat “mencakup berbagai jenis data atau informasi, termasuk data terstruktur dan tak terstruktur, serta data yang dihasilkan dari berbagai sumber (medsos, sensor, perangkat seluler, file log, server web, dan lainnya).”

Catatan Prof. Rahma sangat menarik karena juga menyajikan data berupa angka-angka berdasarkan catatan dari Finances Online Reviews for Business (2021).

Setiap hari manusia menciptakan informasi minimal 1.134 triliun megabyte (MB). Sebanyak 3 juta sekian dikirim manusia setiap detik. Sementara itu yang manusia tembakkan ke Whatsapp itu permenitnya 41.666.667.

Belum lagi data Facebook, IG, dan lainnya. Google, ya, setiap satu menit terjadi 700.000 pencarian dan muncul 200 lebih pengguna baru mobile web. (ybh/hidayatullah.or.id)

Operatornya sih Biasa, Tapi Buldosernya …

ANDA tahu buldoser? Ya, salah satu mode alat berat ini bisa meringkas jam kerja yang mestinya puluhan sampai ratusan jam, menjadi sangat singkat. Lahan berbukit seluas ribuan meter persegi bisa diratakan dalam hitungan hari oleh satu mesin dan seorang operator, padahal dibutuhkan waktu berbulan-bulan dan puluhan pekerja kasar bila dikerjakan secara manual.

Kalau diperhatikan operatornya, seringkali sudah cukup tua dan samasekali tidak kekar. Tapi, bagaimana dengan buldosernya?

Dalam sejarah, banyak kisah yang – dalam kadar tertentu – mirip perumpamaan buldoser dan operatornya ini. Sekelompok manusia lemah tiba-tiba sanggup menumbangkan tirani raksasa yang dikawal ribuan tentara.

Bahkan, kadang mereka terkesan tidak bertindak sedikit pun. Ada pula prestasi-prestasi besar yang ditorehkan orang-orang biasa, bahkan yang status sosialnya diremehkan.

Masih ingat bagaimana Nabi Musa dimenangkan atas Fir’aun? Bukankah beliau mustahil berperang sebab umatnya (Bani Israil) sangat sulit diatur? Maka, ketika situasi memburuk, Allah menyuruh beliau dan umatnya keluar saja dari Mesir, bukannya berjihad.

Celakanya, menjelang pagi rombongan mereka nyaris terkejar, padahal lautan membentang di hadapan mereka. Namun, di saat-saat kritis itulah keimanan seorang Nabi menunjukkan kualitasnya.

Allah menceritakannya:

“Maka Fir’aun dan balatentaranya dapat menyusul mereka di waktu matahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.’ Musa menjawab: ‘Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia pasti akan memberiku petunjuk.’ Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu!” Maka, terbelahlah lautan itu dan setiap belahan seperti gunung besar.” (QS asy-Syu’ara’: 60-63).

Sebetulnya, Nabi Musa tidak mengerti apa yang akan terjadi jika tongkatnya dipukulkan ke lautan. Tapi, beliau menurut saja. Dan ketika laut benar-benar terbelah, beliau pasti terpana. Bagaimana mungkin? Jelas, semua itu bukan karena Nabi Musa, apalagi tongkatnya!

Masih banyak lagi lainnya. Coba renungkan, bagaimana Ashabul Kahfi seolah “hanya” bersembunyi di gua, ditidurkan 309 tahun, dan terbangun ketika tirani yang memburu mereka telah ambruk?

Lalu bagaimana Nabi Ibrahim selamat dari api, bahkan api itu menjadi dingin bagi beliau? Bagaimana ibunda Hajar berlarian tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah, tapi justru mata air Zamzam muncul dari tanah yang dihentak kaki-kaki kecil Isma’il?

Bagaimana 313 Sahabat Nabi yang kurang persiapan bisa mengalahkan 950 orang musyrikin Quraisy bersenjata lengkap dalam Perang Badar?

Bagaimana pula nama Bilal bin Rabah abadi dalam kemuliaan, padahal ia hanya budak negro yang nyaris dibunuh oleh tuannya sendiri karena dianggap sudah tidak berharga lagi?

Kisah-kisah ini menegaskan bahwa siapa pun yang bersandar kepada Allah (tawakkal) tidak akan terkalahkan. Tawakkal adalah kekuatan dan salah satu kunci kemenangan.

Allah berfirman:

“Dan bertawakkallah kamu kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai Wakil (sandaran, yang diserahi urusan).” (QS al-Ahzab: 3).

Syaikh As-Sa’diy menafsirkan ayat ini, sebagai berikut:

“Serahkan pada-Nya segala urusan, sehingga Dialah yang menyelesaikannya, dan dengan yang lebih maslahat bagi hamba-Nya. Hal itu karena Dia mengetahui kemaslahatan-kemaslahatan bagi mereka, sementara mereka tidak mengetahuinya. Juga karena Dia kuasa untuk menghadirkan kemaslahatan itu bagi hamba-Nya, padahal hamba-Nya tidak kuasa melakukannya. Allah lebih menyayangi hamba itu dibanding dirinya sendiri dan kedua orangtuanya. Allah lebih menyayanginya dibanding siapa pun, terutama hamba-hamba spesial yang senantiasa Dia pelihara dengan kebajikan-Nya, serta senantiasa Dia limpahi dengan keberkahan lahir maupun batin. Terlebih-lebih lagi, Dia telah menyuruh hamba itu untuk melepaskan urusan kepada-Nya, dan Dia pun telah menjanjikan (sesuatu). Maka, di saat itu, jangan tanya berapa banyak urusan yang dimudahkan, kesulitan yang digampangkan, bencana yang diringankan, kesusahan yang disingkirkan, kondisi dan kebutuhan yang dipenuhi, keberkahan yang diturunkan, kecelakaan yang ditolak, dan keburukan yang diangkat! Di sana, engkau akan melihat seorang pribadi lemah, yang telah memasrahkan urusannya kepada Tuannya, benar-benar bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh sekelompok orang; dan Allah pun telah memudahkan baginya sesuatu yang mana para tokoh-tokoh terpandang pun kesulitan menyelesaikannya!”

Maka, jika kita merasa telah berusaha maksimal tapi hasilnya belum memuaskan, coba periksa sekali lagi: bagaimana tawakkal kita? Seperti tamsil di muka, adalah sia-sia memiliki operator handal jika tidak punya buldoser. Bukankah tiada daya dan kekuatan yang efektif tanpa restu dari Allah (la haula wa la quwwata illa billah)?

Sebaliknya, mungkin upaya kita tidak seberapa. Namun, jika Allah merestui, segalanya beres. Lantas, bagaimana jika upaya kita sangat baik dan di saat bersamaan Allah mendukung penuh?

Ini pulalah diantara makna Hadits Qudsi dalam Arba’in Nawawiyah no. 38, dari Abu Hurairah.

Allah berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku melalui sesuatu yang lebih Aku sukai dibanding (bila ia mendekat melalui) apa yang aku wajibkan atas dirinya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan amal-amal nafilah (sukarela) sampai akhirnya Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengaran yang dipakainya mendengar, penglihatan yang dipakainya melihat, tangan yang dipakainya memegang, dan kaki yang dipakainya berjalan. Sungguh jika ia meminta pada-Ku, Aku pasti memberinya. Sungguh jika ia mohon perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya.” (Riwayat Bukhari). Wallahu a’lam.

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, penulis adalah pengasuh Yayasan Pendididkan Islam Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Malang

Sumur Bor Baru dari Laznas BMH Bawa Kebahagiaan di Pondok Pesantren As Sidiq Kediri

0

KEDIRI (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren As Sidiq di Kediri kini meriah dengan senyum bahagia para santri saat menerima sumur bor baru dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

Proyek sumur bor ini, yang merupakan bagian dari program kebaikan Laznas BMH, telah berhasil direalisasikan di Desa Banyaran, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri.

Proses pengeboran sumur berjalan lancar, dengan antusiasme tinggi dari para santri yang tak sabar menanti selesainya proyek ini.

Sumur bor ini, dengan kedalaman mencapai 80 meter, akan menyediakan pasokan air yang cukup bagi kebutuhan sehari-hari pesantren.

Program ini, didukung penuh oleh para donatur Laznas BMH. Kedepan program ini memberikan manfaat langsung bagi 115 santri di Pondok Pesantren As Sidiq.

Ustadz Nasikin, pimpinan pondok pesantren, mengucapkan terima kasih atas bantuan ini dan berharap sumur bor baru ini dapat memberikan manfaat besar bagi seluruh penghuni pesantren.

Imam Muslim, Kadiv Program dan Pendayagunaan Laznas BMH Jawa Timur, menyatakan apresiasi atas kesuksesan program ini.

Menurut Imam, proyek sumur bor ini adalah bagian dari komitmen Laznas BMH untuk memberikan akses yang lebih baik kepada masyarakat, khususnya dalam hal kebutuhan dasar seperti air bersih.

“Air bersih adalah dasar, ketersediaan air bersih menjadikan taraf hidup sehat masyarakat terjaga, jauh dari potensi penyakit dan kondisi lingkungan yang buruk. Dalam kata yang lain, tersedianya air bersih juga menjamin hidup sehat dan bahagia masyarakat,” tutur Muslim dalam keterangannya diterima media ini, Selasa, 6 Dzulqaidah 1445 (14/5/2024).

Selain memenuhi kebutuhan air bersih bagi pesantren, sumur bor ini juga diharapkan dapat menjadi sarana pendidikan bagi para santri tentang pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Ini adalah langkah nyata dalam membangun kesadaran lingkungan dan keberlanjutan di kalangan generasi muda, tandas Imam.*/Herim

Upgrading Guru Pondok dan Rumah Quran di Banten untuk Tingkatkan Bobot Pendidikan Islam

TANGERANG (Hidayatullah.or.id) — Investasi untuk tingkatkan mutu dan keterampilan guru di pondok pesantren dan rumah Quran adalah tabungan penting dalam masa depan pendidikan Islam. Menyadari akan mendasarnya hal tersebut, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) yang mengandeng DPW Hidayatullah Banten mengadakan program upgrading bagi para guru Pondok dan Rumah Quran Hidayatullah se-Banten, Ahad, 4 Dzulqaidah 1445 (12/5/2024).

Acara upgrading ini diikuti oleh guru Pondok dan Rumah Quran Hidayatullah di Banten.

Ustadz Samhani Luyani, SE., pemateri sekaligus Ketua Departemen Dakwah Wilayah Hidayatullah Banten, memberikan pengantar dalam acara ini.

“Tujuan dari upgrading ini adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan Pondok dan Rumah Quran Hidayatullah di Banten agar dapat meraih prestasi lebih tinggi lagi,” ujar Samhani.

Dengan upgrading untuk pengikatan kualitas dan mutu ini memastikan bahwa nilai-nilai Islam yang diajarkan disampaikan dengan cara yang efektif dan relevan, serta membantu membentuk generasi yang berpendidikan, berakhlak mulia, dan mampu menghadapi tantangan zaman.

Dalam program upgrading ini, jelas Samhani, para guru diberikan materi tentang berbagai aspek pengelolaan lembaga pendidikan, seperti kurikulum, metode pengajaran, dan manajemen keuangan. Selain itu, para guru juga diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan saling berbagi pengalaman dalam mengajar.

“Kami berharap dengan adanya upgrading ini, para guru Pondok dan Rumah Quran Hidayatullah di Banten dapat meningkatkan kualitas pengajaran mereka dan menghasilkan generasi muda yang berilmu dan berakhlak mulia,” imbuh pria yang biasa disapa Bang Sam ini.

Guru di pondok pesantren dan rumah Quran tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga berperan sebagai teladan dalam pembentukan karakter dan akhlak siswa.

Karena itu, menurut Bang Sam, guru yang berkompeten dan memiliki akhlak yang baik akan menjadi teladan yang positif bagi siswa, mendorong mereka untuk mengembangkan sifat-sifat baik seperti kejujuran, tanggung jawab, dan ketekunan.

Terus Upgrade Skil

Lebih jauh Bang Sam menyampaikan, menjaga dan memperhatikan mutu dan keterampilan guru di pondok pesantren dan rumah Quran sangat penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Selain mendorong kecakapan dalam penerapan teknologi dalam pendidikan, Samhani berharap pelatihan ini merangsang kesadaran akan pentingnya pengembangan metode pengajaran karena mutu dan keterampilan guru yang baik memastikan bahwa metode pengajaran yang digunakan terus berkembang dan disesuaikan dengan kebutuhan santri.

“Pendekatan yang inovatif dan adaptif membantu dalam menangani berbagai tantangan yang muncul dalam proses belajar mengajar, seperti perbedaan gaya belajar dan tingkat pemahaman santri kita,” katanya.

Yang kedua, lanjut Samhani dalam keterangannya kepada Hidayatullah.or.id, adalah peningkatan profesionalisme. Karena itu, terang dia, pendidikan dan pelatihan berkelanjutan bagi guru penting untuk meningkatkan profesionalisme seraya dapat terus mengembangkan kompetensinya, mempelajari teknik-teknik pengajaran baru, dan mengikuti perkembangan terbaru dalam pendidikan Islam dan teknologi pendidikan.

Harapan lainnya yang tak kalah penting adalah peran positif pondok dan Rumah Qur’an Hidayatullah ditengah masyarakat di mana ia berada. Menurut Samhani, guru atau ustadz yang berkualitas mampu memberikan pengaruh positif tidak hanya pada santri, tetapi juga pada komunitas dan masyarakat.

“Pondok harus mampu berperan sebagai agen perubahan melalui individu pengelola terutama para guru dan ustadz yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang luhur, inklusif, dan rahmtan, sehingga membantu membentuk masyarakat yang lebih baik,” jelas Samhani.

Dengan memperhatikan muatan muatan utama dari kegiatan upgrading ini, Samhani berharap pondok pesantren dan rumah Quran yang ada dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi yang akan meningkatkan reputasi institusi pendidikan Islam dan juga membuat lulusannya lebih kompetitif dan memiliki cakrawala sebagai masyarakat global.

Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Banten, Roni Hayani, menyampaikan BMH Banten sebagai pendukung utama kegiatan ini berkomitmen untuk terus mendukung peningkatan kualitas pendidikan Islam di wilayah Banten.

“BMH berharap program upgrading ini dapat menjadi salah satu langkah konkrit dalam mencapai tujuan peningkatan keunggulan pendidikan Islam khususnya di wilayah Banten,” tutup Roni Hayani. (ybh/hidayatullah.or.id)

Jalinan Kemitraan yang Kuat Hidayatullah bersama Persis untuk Kemajuan Umat

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Dalam acara halal bihalal di Kampus 2 Yayasan Hayatan Thayyibah Hidayatullah Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 3 Dzulqaidah 1445 (11/5/2024) yang penuh kehangatan dan persaudaraan, beberapa tokoh terkemuka dari ormas Islam berkumpul untuk merajut benang merah kolaborasi yang saling menguatkan.

Salah satu momen dalam acara Halal Bihalal dengan tema “Membaca Goepolitik Jawa Barat untuk Khidmat Lebih Baik kepada Rakyat” ini adalah kehadiran Aep Nurdin, S.Ag, MSi, anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, dan Dr. Tiar Anwar Bachtiar, M.Hum, Ketua Bidang Tarbiyah Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis).

Aep Nurdin membuka pintu lebar-lebar untuk sinergi dan kolaborasi yang erat antara ormas Islam, termasuk Hidayatullah, dengan pemerintah daerah Jawa Barat.

Aep mengatakan, Insya Allah, banyak hal yang bisa dibangun dan dikerjakan bersama untuk umat ini. Ajakan Aep tersebut meneguhkan semangat untuk bersatu dan berkontribusi dalam memajukan kesejahteraan umat.

Sementara itu, Tiar Anwar Bachtiar, mengajak Hidayatullah untuk menjalin sinergi dengan Persis.

Menurut ⁠sejarawan dan dosen Universitas Padjadjaran (Unpad) ini, meski memiliki karakteristik yang berbeda, Persis dengan latar belakang yang kental di tatar Sunda dan Hidayatullah yang dikenal dengan keteguhannya dalam berdakwah ke pedalaman, memiliki potensi besar untuk berkolaborasi.

Menurut Tiar, kader Hidayatullah terkenal dengan keberaniannya dalam berdakwah di pedalaman.

Hal tersebut menurutnya menjadi modal penting untuk bersinergi dengan Persis dalam upaya menyebarkan dakwah di berbagai pelosok Jawa Barat yang mungkin sulit dijangkau oleh ormas lain.

“Beda karakter Persis yang lebih banyak di tatar Sunda dengan Hidayatullah,” ujar Tiar dalam acara yang diikuti oleh DPW, Dewan Murabbi Wilayah (DMW), Dewan Pengurus Daerah (DPD), amal usaha, orpen, dan para aktivis Hidayatullah se-Jabar ini.

⁠Rektor STAI Persis Garut ini menambahkan, dengan kekuatan kolaborasi yang solid, Hidayatullah dan Persis memiliki potensi besar untuk memberikan dampak yang positif bagi masyarakat Jawa Barat secara menyeluruh.

Hadir pula dalam kesempatan tersebut Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa DPP Hidayatullah Dzikrullah W. Pramudya yang didapuk menyajikan hikmah halal bihalal. Tampak pula Ketua DPW Hidayatullah Jabar, Hidayatullah, MAg, beserta jajarannya.

Tentang Persis

Persis sendiri adalah salah satu ormas Islam tertua yang lahir jauh sebelum masa kemerdekaan Indonesia yang berdiri pada 12 September 1923 di Bandung, Jawa Barat.

Persis adalah sebagai salah satu organisasi lokomotif pembaharuan Islam di Indonesia yang memiliki mainstream gerakan pada masalah pemikiran keislaman.

Selain Haji Muhammad Yunus, KH. Zamzam, KH. M. Isa Anshory, KH. Prof. M. Abdurrahman, salah satu tokoh Persis lainnya adalah KH. Ahmad Hassan yang dikenal sebagai guru dari para pendiri bangsa seperti Mohammad Natsir dan Ir Soekarno. (ybh/hidayatullah.or.id)