MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq Lc MA membuka secara resmi Musyawarah Khusus Kampus Induk dan Kampus Utama (KIKU) Hidayatullah se-Indonesia di Al Bayan Kampus Utama Hidayatullah Makassar, BTP Tamalanrea, Makassar, Selasa, 28 Syawal 1445 (7/5/2024).
Nashirul berharap Musyawarah KIKU kali ini diharapkan menjadi tonggak untuk lebih memaksimalkan peran kampus-kampus Hidayatullah agar lebih inklusif atau terbuka terhadap dakwah umat.
“Kita harus lebih banyak membahas hal strategis dari regulasi dan kesepakatan yang telah ditetapkan namun masih terkendala implementasinya,” jelasnya di hadapan para dewan pembina dan pengurus yayasan KIKU Batam, Medan, Depok, Samarinda, Surabaya, Malang, Makassar, Timika dan Balikpapan.
Hadir membersamai langsung pembukaan tersebut Pemimpin Umum Hidayatullah Ust. H. Abdurrahman Muhammad.
Menurutnya program KIKU perlu butuh porsi dan perhatian lebih besar terhadap dakwah ummat karena sebagai haraqah gerakan dakwah harus seimbang untuk membangun kekuatan ummat.
“Karena banyak yang eksistensinya besar tapi tak mengakar di masyarakat. Maka kampus tak boleh eksklusif,” tegasnya.
Maka rincinya pola pengkaderan terus dibenahi, memaksimalkan halaqah, penyempurnaan kurikulum pesantren dan kepanduan sebagai ciri khas.
“Jika KIKU tak kuat mengimplementasikan beberapa hal ini maka alumni tak punya warna khusus sebagai alumni dan kader Hidayatullah,” ujarnya.
Ia menyebut pula dalam sambutan pembukaannya tersebut hal yang akan menjadi pembahasan bagaimana perencanaan SDM dan pembentukan pengurus cabang.
“Harusnya wilayah Hidayatullah yang miliki kampus utama, DPC nya harusnya sudah terbentuk di semua kecamatan. Karena tinggal ditunjuk para gurunya,” jelasnya lugas.
Sebelumnya Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah Ust. Abu a’la Abdullah juga berharap melalui musyawarah kali ini juga kampus-kampus utama dan kampus induk semakin memberi kontribusi terhadap cita-cita para pendiri Hidayatullah.
“Fungsi kampus Hidayatullah telah ditetapkan untuk peragaan peradaban Islam, dakwah, rekrut anggota, pengkaderan dan perekrutan, pemberdayaan ekonomi dan dhuafah,” urainya.
Sementara Kadep Kepesantrenan DPP Hidayatullah Ust. H. Muhammad Zakir Syafii mengungkapkan musyawarah KIKU di Al Bayan Hidayatullah Makassar menjadi musyawarah KIKU terakhir dengan format yang telah berlangsung dalam satu dasawarsa terakhir.
Selanjutnya, musyawarah KIKU Hidayatullah akan dilaksanakan per kampus agar lebih rinci dan maksimal pembahasan dan evaluasi program tiap kampusnya. (AMC/Fir)
Sandiaga Salahuddin Uno menerima cinderamata dari Ketua Yayasan Hidayatullah Balikpapan Ust. H. Hamzah Akbar di Masjid Ar-Riyadh (Foto: Muhammad Abdus Syakur/ Media Center MCU)
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) -– Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno melakukan kunjungan kerjanya di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, belum lama ini, Selasa, 21 Syawal 1445 (30/4/2024) malam.
Dalam pidatonya, Sandiaga Uno menegaskan pentingnya peran santri sebagai agen perubahan dalam ekonomi digital.
Dia tidak hanya mengajak mereka untuk menjadi pencipta lapangan kerja, tetapi juga menjadi inovator yang mengubah wajah industri kreatif dan digital di Indonesia.
“Santri harus menjadi pelopor dalam ekonomi digital kita. Saya ingin melihat mereka tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga menciptakan peluang kerja bagi orang lain,” ujarnya pria yang akrab disapa mas mentri ini.
Dalam era digitalisasi ini, Sandiaga Uno menekankan bahwa keterampilan digital menjadi sangat penting. Dia mendorong para santri untuk tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mengembangkan kreativitas dan kewirausahaan mereka.
“Kita butuh inovasi baru, konten yang menarik, dan solusi yang cerdas untuk menghadapi tantangan di masa depan,” terangnya, seperti dilansir Balikpapan Pos (Balpos).
Sandiaga Salahuddin Uno di Masjid Ar-Riyadh di Pondok Pesantren Hidayatullah,memberikan motivasi kepada para santri untuk berperan aktif dalam ekonomi digital.(Foto: Mirwan Hidayat/Balikpapan Pos)
Potensi Ekonomi Digital
Selain itu, di kesempatan yang sama Sandiaga Uno juga menyoroti potensi besar ekonomi digital global dan peran strategis Indonesia di dalamnya.
Dengan jumlah perusahaan teknologi yang terus berkembang, mas Menteri percaya bahwa santri memiliki kesempatan besar untuk berkontribusi dalam industri ini.
Dalam konteks pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur (Kaltim), mas Menteri melihat peluang besar untuk mengembangkan ekonomi digital di daerah tersebut.
Namun, dia mengingatkan bahwa ada tantangan teknis yang perlu diatasi, seperti masalah jaringan internet yang belum merata di beberapa daerah.
“Kita harus bekerja keras untuk memastikan bahwa semua orang, termasuk santri, memiliki akses yang sama terhadap teknologi dan informasi,” katanya.
Sandiaga Uno juga mengumumkan program beasiswa untuk para santri yang ingin mengejar pendidikan di bidang pariwisata. Dia menekankan pentingnya pengembangan pariwisata halal sebagai salah satu potensi besar Indonesia di pasar global.
Dengan semangat dan dorongan ini, mas Menteri berharap para santri Indonesia dapat menjadi motor penggerak dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi digital, menciptakan lapangan kerja baru, dan menginspirasi inovasi di seluruh negeri. (day/han)
MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Tasrif Amin, M.Pd, mengutarakan pentingnya untuk terus melakukan perbaikan secara individu masing masing sambil tak henti melakukan gerakan pencerahan dengan penyebaran pesan pesan kebaikan kepada kepada keluarga, lingkungan, dan masyarakatnya.
Beliau menerangkan, manusia terlahir secara fitrah, oleh sebab itu setiap manusia memiliki kecenderungan selalu berbuat baik sesuai ketentuan Tuhan Sang Pencipta. Kefitrahan bawaan itu tentu dengan dasar iman yang perlu didukung dengan ekonomi dan sistem sosial yang baik.
“Kesadaran ini tidak hanya menyoroti asal-usul manusia, tetapi juga menunjukkan potensi alamiah yang dimiliki setiap individu untuk bertindak sesuai dengan kebaikan,” katanya.
Hal itu disampaikan beliau saat mengisi taushiah dalam acara Halal Bihalal Silaturahmi Syawal dan Halaqah digelar Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Barat (Sulbar). Acara itu berlangsung selama 2 hari di Masjid Al Walidain, Kampus Madya Ponpes Hidayatullah Mamuju, Sabtu-Ahad, 25-26 Syawal 1445 (4-5/5/2024)
Ia menjelaskan, fitrah manusia tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Tuhan Sang Pencipta. Fitrah ini merupakan garis bawaan moral dan spiritual yang ditanamkan oleh Tuhan dalam diri manusia. Sebagai hasilnya, kecenderungan untuk berbuat baik sudah tertanam dalam diri setiap individu.
“Ini sejalan dengan ajaran agama yang mengajarkan nilai-nilai moral dan etika yang mendorong kita untuk bertindak dengan kebaikan,” terangnya.
Dalam pada itu, kecenderungan untuk berbuat baik perlu diperkuat oleh iman yang kokoh. Iman adalah pendorong utama yang memotivasi seseorang untuk mengamalkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa iman yang kuat, fitrah manusia bisa terhambat oleh berbagai godaan dan tantangan yang ada di dunia ini.
Selain itu, ia menguraikan, kita juga harus mengakui peran penting dari faktor-faktor eksternal seperti kemapanan dan sistem sosial yang baik dalam memperkuat fitrah manusia.
Ketika seseorang hidup dalam kondisi yang stabil dan di lingkungan yang mendukung, mereka cenderung memiliki kesempatan lebih besar untuk mengaktualisasikan potensi kebaikan mereka.
Demikian pula sistem sosial yang adil dan inklusif juga menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap individu untuk berkembang secara maksimal dan berkontribusi pada kebaikan bersama.
“Fitrah manusia yang alami, didukung oleh iman yang kuat dan sistem sosial yang baik, merupakan fondasi utama terciptanya kebaikan dalam masyarakat,” imbuhnya.
Oleh karena itu, dia menambahkan, sebagai individu dan sebagai masyarakat, adalah tugas kita untuk memelihara dan memperkuat faktor-faktor ini agar kita dapat hidup sesuai dengan potensi yang telah diberikan oleh Sang Pencipta dan berkontribusi pada kebaikan bersama.
Dua Komponen Ramadhan
Masih pada kesempatan yang sama, Tasyrif menyebutkan bahwa Ramadhan yang sudah kita lalu belum lama ini memiliki 2 komponen utama yakni turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk (hudan) dan pembeda yang jelas antara haq dan bathil (bayan).
Karena itu, beliau menekankan bahwa setiap rumah yang di dalamnya terjaga tradisi ber-Qur’an dan ibadah maka akan dimuliakan Allah. Dan, sebaliknya, jika tidak menjadikan Al Qur’an sebagai jalan hidup maka kerugian menantinya.
Ramadhan, bulan yang penuh berkah, bukan hanya sekadar rentetan hari yang dihabiskan dengan menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, Ramadhan adalah momen suci yang mengandung makna mendalam bagi umat Islam.
Dua komponen utama yang membuat Ramadhan begitu istimewa adalah turunnya Al-Qur’an sebagai hudan dan bayan. Karena itu, Al-Qur’an bukanlah sekadar kumpulan kata-kata, tetapi merupakan wahyu langsung dari Allah yang di dalamnya terdapat petunjuk yang jelas bagi manusia dalam segala aspek kehidupan, baik yang bersifat spiritual maupun yang bersifat praktis.
“Saat kita membaca dan merenungkan Al-Qur’an selama Ramadhan, kita seharusnya tidak hanya membaca, tetapi juga memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-Nya dalam kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.
Tradisi ber-Qur’an di rumah dan dimana pun berada adalah tanda keberkahan, karena setiap ayat yang dibaca dan direnungkan adalah pencerahan bagi jiwa dan membawa kebaikan. Oleh karena itu, menjadikan Al-Qur’an sebagai jalan hidup selama Ramadhan dan seterusnya adalah suatu keharusan bagi setiap muslim.
Berquran menurut Tasyrif bukan hanya tentang membaca, tetapi tentang merenungkan dan mengaplikasikan ajaran-Nya dalam setiap aspek kehidupan kita.
“Dengan demikian, kita akan menemukan keberkahan, petunjuk, dan perlindungan dari Allah. Tidak ada kerugian yang lebih besar daripada meninggalkan petunjuk Allah dalam Al-Qur’an,” tandasnya.
Pertahankan Spirit Ramadhan
Kendati sempat mengalami kendala teknis dalam pelaksanaannya, Halal Bihalal Silaturahmi Syawal dan Halaqah digelar Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulawesi Barat ini berjalan sukses dan lancar.
Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulawesi Barat, Drs. H. Mardhatillah, turut hadir dalam kesempatan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini diadakan pada akhir bulan Syawal berbeda dengan tahun tahun sebelumnya. Selain karena ada beberapa kendala teknis juga jadwal beberapa pengurus tidak di tempat.
“Yang terpenting adalah silaturahmi dan istiqamahnya mempertahankan nilai spirit Ramadhan,” kata Mardhatillah, seperti dilansir laman Hidayatullahsulbar.com
Menyinggung golongan yang istiqamah, dikatakan dia, adalah orang yang memiliki perubahan karakter setelah menjalani ibadah Ramadhan. Indikatornya adalah menjaga tadarrus Al Qur’an, shalat fardhu berjamaah, tahajjud, dan sedekahnya terus dilakukan dengan kontinyu di luar Ramadhan sekalipun.
Di hadapan ratusan jamaah yang memadati Masjid Al Walidain tempat acara tersebut digelar, Mardhatillah mengingatkan, hadirnya Hidayatullah di seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Barat adalah modal besar untuk melakukan pengabdian di masyarakat sekaligus bermitra dengan pemerintah.
Rangkaian silaturahmi Syawal tersebut terdapat halaqah Al Qur’an serta diskusi seputar problematika dakwah dan kegiatan olahraga. (ybh/hidayatullah.or.id)
Direktur Pascasarjana UIN Alauddin Prof Abustani Ilyas (kiri) dan Ketua STAI Al Bayan Hidayatullah Makassar Abdul Kadir (kanan) jabatan tangan usai mereka menandatangani perjanjian kerja sama di Kampus UIN Alauddin Makassar, Samata, Kabupaten Gowa, Kamis, 2 Mei 2024 (Foto: Firmansyah Lafiri/ AMC).
MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Bayan dan Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar menyepakati kerja sama strategis pelaksanaan pendidikan tinggi.
Direktur Pascasarjana UIN Alauddin Prof Abustani Ilyas dan Ketua STAI Al Bayan Hidayatullah Makassar Abdul Kadir MA menandatangani perjanjian kerja sama tersebut, di Kampus UIN Alauddin Makassar, Samata, Kabupaten Gowa, Kamis, 23 Syawal 1445 (2/5/2024).
“Alhamdulillah kerja sama ini hal yang monumental dan membanggakan kami apalagi menjelang Musyawarah Khusus Kampus Induk dan Kampus Utama Pesantren Hidayatullah serta Rakornas Perguruan Tinggi Hidayatullah yang akan berlangsung 7-8 Mei pekan depan,” kata Ketua Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar Suwito Fatah.
Penandatanganan perjanjian kerja sama turut disaksikan oleh ketua dan sekertaris jurusan UIN Alauddin yang terkait, Suwito Fatah, Sekertaris Yayasan Hidayatullah Makassar Jumaruddin, dan Waka II STAI Al Bayan Muh Imran.
Menurut Suwito, perjanjian ini menjadi tonggak penting dalam meningkatkan mutu pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat bagi kedua lembaga pendidikan tinggi Islam tersebut.
Abustani Ilyas, mengatakan, kerja sama kedua perguruan tinggi merupakan sesuatu yang mutlak dilakukan sebab tidak mungkin menyelesaikan sendiri berbagai urusan dalam dunia pendidikan.
“Jika seseorang dapat menyelesaikan tiga pekerjaan dalam sehari, maka ketika ada tiga orang yang bekerja sama berarti ada sembilan pekerjaan yang bisa selesai dalam sehari tersebut,” kata Abustani.
Perjanjian kerja sama ini, kata Abustani, menandai komitmen bersama untuk saling mendukung dalam bidang pendidikan, utamanya dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan dan pengajaran, kolaborasi dalam penelitian serta pengabdian masyarakat serta pembangunan program bersama lainnya yang berpotensi memberikan dampak positif bagi masyarakat dan dunia.
“Semoga perjanjian ini bukan hanya sekadar dokumen, tetapi merupakan sebuah komitmen untuk memajukan pendidikan tinggi Hidayatullah secara umum khususnya dalam lingkup STAI Al Bayan Hidayatullah Makassar,” kata Abdul Kadir.
Dengan perjanjian kerja sama tersebut, UIN Alauddin Makassar akan membuka pintu lebih luas bagi STAI Al Bayan dalam peningkatan kualitas SDM baik tenaga pengajar dan tenaga kependidikan maupun kegiatan pengabdian masyarakat.
Demikian pula untuk berbagai kegiatan ilmiah di tingkat program Sarjana (S1) dan Magister (S2), penguatan kelembagaan dan akademik, pelatihan, pengembangan kurikulum pendidikan dalam lingkup perguruan tinggi serta program-program ilmiah lain yang dianggap perlu oleh kedua belah pihak.
Kerjasama ini membuka peluang STAI Al Bayan menjadi mitra pelaksana perkuliahan untuk semua jurusan di Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, baik tingkat magister maupun doktoral sehingga akan memudahkan alumni STAI Al Bayan maupun para kader Hidayatullah di seluruh Indonesia untuk melanjutkan pendidikan melalui STAI Al Bayan.
“Kader Hidayatullah bisa kuliah S2 dan doktoralnya UIN Alauddin di STAI Al Bayan,” kata Kadir dan dibenarkan Ketua DPD Hidayatullah Makassar Dr Nasrullah Sapa Lc yang juga Sekertaris Jurusan di UIN Alauddin Makassar. Nasrullah yang menjadi fasilitator dari perjanjian kerja sama tersebut. (ybh/hidayatullah.ior.id)
INAALILLAAHIwa inna ilaihi raji’un, Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa fu anhu. Dalam kepedihan yang mendalam, Hidayatullah kembali berduka dengan kepergian Ustadz Bunyamin, yang akrab disapa Ustadz Yamin.
Dai kelahiran Rokan Hilir, Riau, ini meninggalkan jejaknya sebagai alumni Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam (STAIL) Surabaya tahun 2007, seorang yang tekun dan berkomitmen.
Berbagai tugas strategis di Hidayatullah Riau pernah dipercayakan padanya, dari SK pertama di Hidayatullah Balikpapan hingga amanah terakhirnya sebagai Ketua Departemen Perkaderan DPW Riau dan Ketua Yayasan Kampus Madya Dumai. Semua dilaksanakan dengan penuh dedikasi dan sebaik mungkin.
Kepribadiannya yang santun dan kesabaran yang memancar telah memperkaya kehidupan teman-temannya. Baik di lingkungan perkuliahan, di titik titik tugas dakwah yang dijalankan, maupun di pesantren, Ustadz Yamin dikenal sebagai sosok yang baik hati dan perhatian.
Namun, sejak tahun 2022, kesehatannya mulai merosot ketika mengalami gangguan jantung yang tak terduga. Walau sudah berusaha keras dengan pengobatan di berbagai rumah sakit, dari Dumai hingga Medan dan Binjai, namun kesembuhan tampak begitu jauh. Pengobatan alternatif pun dicoba.
Ketika serangan stroke menimpanya empat bulan lalu, kesehatan Ustadz Yamin semakin terpuruk. Dari situlah dimulai perjuangan beratnya, yang semakin tak ringan dengan berita duka kepergian ibu mertuanya yang sama-sama tinggal di rumah.
Ujian demi ujian menyelimuti, hingga akhirnya, pada pagi Senin dini hari yang sunyi, 27 Syawal 1445/ 6 Mei 2024, pukul 02.30, Ustadz Yamin dipanggil pulang ke Rahmatullah.
Kepergian Ustadz Yamin untuk selamanya meninggalkan seorang istri yang terpukul berat, dan tiga anak kecil yang membutuhkan cinta dan kasih sayangnya.
Dalam pesan terakhirnya kepada sang istri, Ustadz Yamin memohon agar anak-anaknya tetap dijaga dan dididik di lingkungan yang penuh kebaikan di Hidayatullah. Meski sudah tidak bisa menemani, namun harapannya agar ketiganya dapat tumbuh menjadi insan-insan yang berbakti kepada agama dan masyarakat.
Semoga kepergian Ustadz Bunyamin menjadi pengingat bagi kita akan rapuhnya kehidupan dan pentingnya persiapan untuk akhirat.
Kepulangan Ustadz Yamin bukanlah akhir dari perjalanannya, tetapi awal dari perjuangan baru bagi keluarga, kerabat, sanak famili, sahabat sahabat, dan umat yang ditinggalkannya.
Semoga istri yang ditinggalkan Allah Ta’ala berikan kesabaran dan kekuatan untuk menjalani ujian yang berat ini. Dan, semoga anak-anaknya tumbuh menjadi generasi yang kokoh dalam agama, seperti yang diharapkan oleh Ustadz Yamin.
Semoga Allah SWT memberikan tempat yang mulia bagi Ustadz Yamin di sisi-Nya, dan memberikan kekuatan serta kesabaran kepada keluarga yang ditinggalkannya. Aamiin Yaa Robbal ‘Alamiin.
Kerja bakti warga dan santri di Ponpes Tahfizh Ummul Qura Hidayatullah Tompobulu Pucak Maros dalam rangka persiapan penyelenggaraan musyawarah KIKU (Foto: Istimewa/ AMC)
MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Pengurus kampus induk dan kampus utama (KIKU) Hidayatullah se-Indonesia dan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah akan kumpul di Makassar, pekan depan.
Mereka akan hadir mengikuti Musyawarah Khusus KIKU 2024 di Kampus Utama Al Bayan Hidayatullah Makassar pada 8-9 Mei.
Musyawarah Khusus KIKU Hidayatullah merupakan kegiatan tahunan DPP Hidayatullah membahas perkembangan dan evaluasi kinerja KIKU se-Indonesia. KIKU merupakan badan usaha yang pengelolaannya dibawah koordinasi DPP Hidayatullah.
Panitia dari DPP Hidayatullah memastikan kehadiran Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad dan Ketua Dewan Pertimbangan KH Hamim Thohari MSi dan Ketua Dewan Murrabi Pusat DR KH Tasrif Amin MPdI.
Demikian pula Ketua Umum DPP Hidayatullah DR KH Nashirul Haq Lc MA akan hadir bersama dengan jajarannya untuk membersamai musyawarah yang dihadiri pengurus kampus induk Balikpapan dan delapan kampus utama se-Indonesia (Batam, Medan, Depok, Surabaya, Malang, Samarinda, Makassar, Timika).
Ketua Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar Ust Suwito Fatah MM mengungkapkan mulai Sabtu, (5/5/2024) beberapa pengurus KIKU mulai hadir dan berdatangan lebih awal.
“Pengurus kampus utama Depok dan Papua tiba Sabtu ini,” ungkap Suwito, seperti dalam keterangannya diterima media ini, Ahad, 26 Syawal 1445 (5/5/2024).
Kampus utama Makassar menjadi tuan rumah yang akan menyelenggarakan kegiatan di Ponpes Al Bayan di BTP, Tamalanrea Makassar dan Ponpes Tahfizh Ummul Qura Hidayatullah Tompobulu Pucak Maros.
Ketua Panitia lokal kampus utama Al Bayan Hidayatullah Makassar Muh Arfah Bandule MM mengungkapkan kegiatan turut didukung oleh Kepolisian Daerah (Polda) Sulsel, Walikota Makassar, Bank Syariah Indonesia dan Baitul Mal Hidayatullah (BMH).
“Pembukaan dan musyawarah khusus dilaksanakan di Ponpes Al Bayan sedangkan rangkaian kegiatan penutupan di agrowisata spiritual Wadi Barakah kawasan Ponpes Pucak,” jelasnya.
Arfah mengatakan, Walikota Makassar Muh Ramadhan Pomanto dijadwalkan akan menjamu peserta dan menutup kegiatan di Tokka Maros.
Sementara kegiatan penutup di kawasan Wadi Barakah akan dirangkaikan dengan kegiatan Halaqah Qubra kader wustha Hidayatullah se-Sulsel.
Selain itu, peserta Halaqah Qubra akan mendengarkan taushiyah utama dari Pemimpin Umum Hidayatullah dan rangkaian spirit perjuangan dan manhaj dari KH Nashirul Haq, KH Hamim Thohari, KH Tasrif Amin dan Dewan Pertimbangan Hidayatullah yang juga Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Bayan DR KH Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar MSi.
“Insyallah dua venue kegiatan di BTP dan Pucak sudah siap melaksanakan kegiatan, tinggal pembenahan akhir,” tambah Arfah.
Sementara Direktur Wadi Barakah Muaz Yahya ST mengaku turut bangga dengan kehadiran Pemimpin Umum, Ketua DPP Hidayatullah pada agenda resmi pertama DPP di Wadi Barakah.
“Atas arahan Ketua Dewan Pembina Ust Aziz, kami menyiapkan serius venue sejak awal tahun ini, dari pembersihan kawasan, pembangunan jembatan dan jalan beton hingga villa,” urainya.
Wadi Barakah berada di lembah pegunungan indah Tompobulu dan dibelah oleh sungai sepanjang 700 meter. Saat ini telah siap menerima kegiatan outbond. Sedang dibangun pula delapan unit villa Qur’an. Jarak tempuh menuju Wadi Barakah dari Makassar sekitar 45 menit. (AMC)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) untuk memperkuat komitmen dan aktivasi halaqah dalam rangka Daurah Marhalah Ula (DMU) 2024.
Rakor ini dihadiri oleh unsur DPP, DMW, Kadep Perkaderan Wilayah, PP Pemuda, PP Mushida, Murabbiyah Mushida. Berlangsung secara online pada Sabtu, 25 Syawal 1445 (4/5/2024).
Menurut Kabid Tarbiyah DPP Hidayatullah Ust. Ir. Abu A’la Abdullah, perkaderan merupakan kunci penting dalam keberhasilan Hidayatullah.
“Perkaderan adalah penentu bergeraknya banyak sektor di lembaga,” ujarnya. “Kita berharap agenda ini berdampak baik pada sektor pembinaan dan penugasan kader.”
Salah satu sumber perkaderan adalah anak didik di Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH). Abu A’la menekankan pentingnya memberikan celupan paradigma wahyu kepada anak didik sejak dini.
“Anak didik kita di SMH sudah waktunya dapat celupan paradigma wahyu,” jelasnya.
Komitmen dan Aktivasi Halaqah
Ketua Departemen Perkaderan Ust. Muhammad Shaleh Usman menegaskan bahwa Rakor ini merupakan bagian dari rangkaian upaya Perkaderan untuk meningkatkan kualitas DMU.
“Tidak ada perubahan berarti dari pelaksanaan DMU tahun ini,” ujarnya.
“Kita kuatkan komitmen bagaimana DMU berjalan dengan baik, lebih baik. Terutama untuk aktivasi halaqah.”
Shaleh menambahkan bahwa berdasarkan laporan Mushida, aktivasi halaqah sejauh ini berjalan dengan baik. “Kegiatan halaqah berjalan dan terdata,” lapornya. “Tinggal yang putra…”
Menurutnya, DMU secara umum masih membutuhkan peningkatan, terutama pasca DMU, dalam hal bagaimana anak-anak aktif dalam halaqah.
“Forum ini lebih kita arahkan pada teknis, taktis dan praktis, agar semua siap dilaksanakan dengan sebaik-baiknya,” jelasnya.
Respon Positif dan Pertanyaan Peserta
Ustadz Shaleh mengungkapkan bahwa respon Perkaderan Wilayah terhadap DMU 2024 sangat positif. Hal ini diperkuat oleh Ustadz Fahruddin, Ketua Departemen Hidayatullah Jabar, yang melaporkan bahwa halaqah di Jabar telah dibentuk dan berjalan dengan baik. Begitu pula dengan Perkaderan Jawa Timur, yang telah siap secara manajerial.
Beberapa pertanyaan dari peserta terkait pemateri atau instruktur DMU dijawab oleh Ustadz Shaleh. Ia menjelaskan bahwa DMP (Dewan Masjid Pusat) akan melakukan upgrading instruktur nasional secara online dan instruktur DMU berasal dari wilayah DMP.
Koordinasi dan Persiapan di Jawa Timur
Ustadz Marni dari Perkaderan Jawa Timur melaporkan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi dengan panitia DMU se-Jatim dan melibatkan semua unsur. Mengingat banyaknya titik di Jawa Timur, Ustadz MM Jatim berharap bantuan dari unsur pendidikan untuk memperkuat tim DMU.
Rakor ini diharapkan dapat menghasilkan strategi dan langkah konkret untuk memperkuat komitmen dan aktivasi halaqah dalam rangka DMU 2024.
Dengan demikian, diharapkan DMU 2024 dapat menghasilkan kader-kader Hidayatullah yang berkualitas dan siap berkontribusi dalam memajukan dakwah Islam.
Dalam kesempatan terpisah, Anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah KH Sholih Hasyim menerangkan bahwa potensi pembangunan umat melalui kaderisasi ada di anak-anak muda, usia 11-19 tahun dan atau usia 20 – 29 tahun.
Dalam kata yang lain, terang beliau, DMU ini adalah wadah strategis membangun manusia untuk mendorong kemajuan sumber daya insani umat dan Indonesia. (herim/hidayatullah.or.id)
LUWU (Hidayatullah.or.id) — Search and Rescue (SAR) dan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) bersama tim relawan gabungan bergerak melakukan mitigasi untuk pencarian dan pertolongan korban bencana akibat banjir dan longsor yang terjadi di Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan, Jumat dini hari, 24 Syawal 1445 (3/5/2024).
Kepala Operasi Relawan BMH – SAR Hidayatullah Longsor Luwu, Abdul Jabbar, menyebutkan tim relawan gabungan yang turun dalam mitigasi, pencarian dan pertolongan ini berjumlah 30 yang terbagi dalam 2 posko dan satu posko induk.
Jabbar menyebutkan, akibat longsor ini ada 12 desa terisolir di Kecamatan Latimojong sehingga susah untuk diakses dan terancam kehabisan bahan makanan pokok.
“Curah hujan juga masih tinggi, sehingga proses distribusi bantuan dan dukungan relawan masih terhambat,” kata Jabbar dalam keterangannya kepada media ini, Sabtu.
Dengan hati yang berat, Abdul Jabbar menyampaikan bahwa akses ke wilayah terdampak masih tertutup, terisolasi oleh hujan deras yang tak henti-hentinya.
Jabbar melaporkan, di Desa Kaili, Kecamatan Suli Barat, ada 10 rumah luluh lantak, tersapu oleh arus deras, dan 2 jiwa masih dalam pencarian.
“Di saat seperti ini, solidaritas menjadi obat bagi luka yang mendalam. Sembako, terpal, obat-obatan, perlengkapan, dan air bersih menjadi kebutuhan mendesak,” katanya.
Longsor Dini Hari
Seperti diwarta, banjir dan longsor melanda Kabupaten Luwu. Jum’at dini hari sekitar pukul 01.17 WITA itu menjadi saksi tragedi mengerikan yang melanda Kabupaten Luwu.
Tanah longsor dan banjir menyisakan duka mendalam, menutup akses ke Kecamatan Latimojong, dan membenamkan 6 rumah di Desa Pajang dalam gelombang lumpur dan batu. Di tengah gelapnya malam, 5 jiwa meregang nyawa di Desa Buntu Sarek, Kecamatan Latimojong.
Selain itu sebanyak 13 kecamatan lainnya di Kabupaten Luwu terdampak antara lain Kecamatan Suli, Kecamatan Suli Barat, Kecamatan Ponrang Selatan, Kecamatan Ponrang, Kecamatan Bupon, Kecamatan Larompong, Kecamatan Larompong Selatan, Kecamatan Bajo, Kecamatan Bajo Barat, Kecamatan Kamanre, Kecamatan Belopa dan Kecamatan Belopa Utara.
Dilaporkan ketinggian muka air sempat terpantau 1-3 meter. Hingga Sabtu (4/5) pukul 06.00 WIB, dilaporkan 1.385 KK terdampak dan 115 jiwa mengungsi di beberapa masjid dan rumah kerabat.
Kronologi tragis ini dimulai pada 2 Mei 2024, pukul 20.00 WITA, ketika hujan deras memporak-porandakan Kecamatan Latimojong. Tanah di lereng yang begitu rapuh, tidak tahan menahan beban air hujan deras.
Pada dini hari 3 Mei 2024 itu, longsor lalu tiba dengan dahsyatnya. Reruntuhan tanah itu memakan korban, menyapu segala yang ada di jalannya.
Dilaporkan di Desa Pajang, 6 rumah hanyut terkubur, sedangkan di Desa Buntu Sarek, 5 jiwa meregang di antara reruntuhan.
Mama Biddal, Mama Sabil, Nenek Biccu, Nenek Rummah, dan Sukma – nama-nama yang terpahat dalam kesedihan Desa Sarek. Mereka menjadi bagian dari tragedi yang melumpuhkan kehidupan di daerah terpencil ini.
Di sisi lain, Dusun Patamman, Desa Pajang, kehilangan sebagian dari dirinya sendiri. Rumah Hayani, Anwar, Marija, Mashar, Pahrum, dan Edi Gasalba tenggelam dalam gelombang tanah dan bebatuan.
Setiap bantuan, setiap doa, membawa sinar harapan bagi mereka yang terjebak dalam musibah tak terduga ini. Semoga cahaya ini segera menerangi jalan mereka yang terbenam dalam gelap. (ybh/hidayatullah.or.id)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. H. Dr. Nashirul Haq, MA, membuka acara Pelatihan Dai Muda Jakarta – Bimtek Pengelolaan Konten Multimedia yang digelar Biro Humas DPP Hidayatullah bertajuk “Dakwah Generasi Muda Berbasis Jurnalisme Data” di Jakarta, Jum’at, 24 Syawal 1445 (3/5/2024).
Kegiatan intensif sehari ini menjadi panggung bagi pemuda-pemudi Hidayatullah untuk mengasah kemampuan mereka dalam dunia media digital yang semakin berkembang.
Dalam pengarahannya membuka acara, Nashirul menyoroti pentingnya penguasaan media digital sebagai alat dakwah yang efektif di era modern ini.
Ia menekankan pentingnya penguatan kemampuan penguasaan media digital. Dia menyebutkan, ada dua hal penting dalam ranah ini yaitu skil dan alat.
“Tapi yang paling utama adalah menguasai skil dulu. Lebih dari itu, yang paling penting adalah kemauan dan kecepatan merespon,” katanya.
Menurut Nashirul, pelatihan ini tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan individu, tetapi juga merupakan bagian dari upaya memperkuat kemampuan teknis setiap kader muda dalam menjalankan tugas-tugas spesifik mereka di era digital ini.
Selain itu, terangnya, skil komunikasi tulisan juga harus dikuasai dengan memiliki sense kebahasaan sehingga cakap dalam menempatkan tanda baca seperti kapan harus koma, kapan titik, dan lain sebagainya.
“Harus ada minimal satu dalam setiap skil skil tersebut,” katanya.
Beliau juga menyoroti pentingnya kemampuan olah visual. Menurutnya, aspek ini menjadi amat mendasar perannya ditengan tuntuan zaman digital hari ini.
Bahkan, ia sempat menguraikan pengalamannya sendiri berkenaan dengan bagaimana menyelia sebuah proses pengerjaan desain visual yang harus memiliki kesesuaian warna, komposisi yang elegan, dan desain akhir yang harus matching sehingga tak melelahkan pandangan mata yang melihatnya.
Karena itu, menurut Nashirul, pelatihan ini penting karena bukan semata untuk kebutuhan individu belaka tapi lebih luas ia juga akan menjadi pengalaman berharga yang kelak seturut meningkatkan technical skills setiap kader muda dalam melakukan suatu tugas yang spesifik.
“Apa yang dilatihkan ini adalah kebutuhan kita. Karena yang kita share adalah kebaikan. Tapi, perlu diingat, bahwa skil ini tidak bisa serta merta dikuasai hanya dengan satu atau dua hari latihan. Makanya perlu belajar, latihan terus menerus. Harus ada kemauan dan kecepatan merespon,” tegasnya berpesan.
Dia pun mengingatkan bahwa hendaknya generasi muda tidak berpikir simplistis yang memandang bahwa skil praktis di bidang lain tidak penting dan hanya berkutat pada rutinitas sehingga akhirnya enggan mencari atau mempelajari hal hal baru.
“Memang kalian sekarang masih di belakang, tapi sebentar lagi antum bagian depan. Tinggal ditingkatkan terus saja skilnya,” tandasnya.
Konten Kreatif
Pelatihan ini menjadi ajang bagi para peserta untuk memperdalam pemahaman mereka tentang media digital, dari aspek jurnalisme data hingga desain visual. Zain Amier, Tajuddin Syahril, dan Rifai Fadli Sakka diundang sebagai narasumber untuk memberikan wawasan dan pengalaman mereka dalam bidang konten kreatif dan visual.
Ketua Biro Humas DPP Hidayatullah, Mahladi Murni, turut hadir dalam kesempatan tersebut. Menurutnya, pelatihan ini tidak hanya tentang meningkatkan kemampuan individu, tetapi juga tentang mempersiapkan generasi muda untuk menjadi pionir dalam dakwah digital.
Sebagai langkah awal dalam perjalanan dakwah digital, pelatihan ini diharapkan dapat memberikan landasan yang kokoh bagi para generasi muda dan pegiat dakwah secara luas untuk berkiprah dalam dunia media digital, membawa pesan-pesan kebaikan, dan menerangi jalan bagi masyarakat luas. (ybh/hidayatullah.or.id)
KRISIS kepemimpinan sering terjadi di berbagai organisasi dan bahkan di tingkat negara karena sejumlah faktor kompleks yang saling terkait. Salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya pemahaman dan praktik yang tepat terkait dengan esensi kepemimpinan. Banyak pemimpin cenderung fokus pada kekuasaan dan kontrol daripada pada pelayanan dan pemberdayaan. Ketika pemimpin kurang memahami peran mereka sebagai pelayan dan penggerak perubahan positif, mereka cenderung menghadapi resistensi dari bawah dan kurang mampu memimpin dengan efektif.
Selain itu, kurangnya pengembangan kepemimpinan yang holistik dan berkelanjutan juga dapat menyebabkan krisis kepemimpinan. Banyak organisasi dan negara tidak memiliki sistem yang baik untuk mengidentifikasi, melatih, dan mendukung para pemimpin masa depan, sehingga mereka sering kali tidak siap untuk menghadapi tugas-tugas kepemimpinan yang kompleks dan beragam. Jikapun ada sistem dan pola transformasi kepemimpinan, seringkali tidak dapat berjalan dengan baik sesuai, karena kurangnya perencanaan yang matang, dan dibiarkan berjalan secara alamiah.
Selain itu, krisis kepemimpinan juga bisa disebabkan oleh kurangnya integritas dan moralitas dalam kepemimpinan. Ketika pemimpin tidak berpegang pada nilai-nilai etika dan moral yang tinggi, mereka cenderung terjerumus dalam perilaku yang tidak etis dan tidak bertanggung jawab, yang dapat merusak kepercayaan dan dukungan dari bawah.
Krisis kepemimpinan sering kali dipicu oleh ketidakmampuan pemimpin untuk mengakui kesalahan dan belajar dari kegagalan, serta kurangnya kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan memimpin transformasi yang diperlukan. Dalam konteks negara, krisis kepemimpinan juga bisa dipengaruhi oleh politik yang berorientasi pada kepentingan pribadi dan partisan, yang dapat menghambat kemampuan pemimpin untuk memimpin dengan visi yang jelas dan kepentingan yang lebih besar bagi masyarakat.
Sehingga, krisis kepemimpinan telah menjadi isu yang meresahkan di berbagai sektor, di mana hal ini menciptakan ketidakpastian dan kekhawatiran tentang masa depan disemua lembaga itu. Realitas ini terjadi hampir merata disemua sekala dan level orgnisasi, dimulai dari organisasi sosial, korporasi, hingga lembaga pemerintah. Dengan kasat mata kita menyaksikan contoh-contoh di mana kelemahan dalam regenerasi kepemimpinan telah menyebabkan ketidakstabilan, ketidakefektifan, bahkan mengancam kegagalan dan keberlanjutan organisasi.
Pada saat yang bersamaan, Organisasi juga menghadapi tantangan yang kompleks dan beragam, baik dari internal maupun dari eksternal, mulai dari perubahan teknologi yang cepat hingga perubahan kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik yang kerap kali tidak terduga. Dalam situasi ini, penting untuk memahami sumber-sumber pemimpin itu berasal, dalam rangka untuk mengatasi krisis kepemimpinan ini.
Ketika krisis kepemimpinan terjadi, dampaknya dapat meluas mengancam stabilitas, kesejahteraan, dan masa depan organisasi. Sebab, kepemimpinan yang lemah dapat menyebabkan kurangnya visi, kurangnya koordinasi, dan kurangnya kepercayaan di antara anggota organisasi atau masyarakat. Hal lain dapat berupa inovasi terhambat, keputusan yang tidak efektif diambil, lemahnya solidaritas, dan risiko-risiko tidak dikelola dengan baik, meningkatkan ketidakpastian dan mengurangi kinerja keseluruhan elemen organisasi. Dan pada gilirannya organisasi menjadi lumpuh.
Dalam menghadapi krisis kepemimpinan yang melanda di hampir semua sektor itu, kita harus mencari ke akar permasalahannya, salah satu argument yang dapat ditawarkan adalah berkenaan denganmencari jejak asal-usul pemimpin itu. Dengan memahami bahwa sumber-sumber kepemimpinan yang beragam, kita dapat mengidentifikasi dan mengembangkan pemimpin yang mampu mengatasi tantangan yang kompleks dan beragam di masa kini dan masa depan. Dengan demikian, pengetahuan tentang darimana pemimpin berasal menjadi kunci dalam menjawab tantangan-tantangan kepemimpinan yang kita hadapi hari ini.
Tentang Asal-Usul Pemimpin
Berkenaan dengan adanya krisis kepemimpinan di atas, maka pertanyaan tentang asal usul pemimpin menjadi menarik untuk dibahas kemabali. Sebab hal ini telah menjadi perdebatan berabad-abad yang memicu adrenalin dalam berbagai konteks, dan seringkali tidak berujung, baik dalam konteks organisasi, maupun dalam politik bernegara.
Beberapa teori menegaskan bahwa pemimpin lahir dengan bakat bawaan sejak lahir, sementara yang lain berpendapat bahwa pemimpin diciptakan melalui pendidikan dan pelatihan, dan ada juga yang meyakini bahwa pemimpin ditemukan melalui proses pencarian dan penilaian. Namun, mungkin kebenaran sebenarnya terletak di antara ketiga teori ini, atau bisa jadi gabungan dari ketiganya. Secara ringkas darimana pemimpin berasal dapat dijelaskan sebagai berikut :
Pendekatan pertama, menyatakan bahwa “pemimpin itu dilahirkan” dalam konteks ini dijelaskan bahwa seseorang memiliki bakat bawaan atau karakteristik alami yang membuatnya menjadi pemimpin yang efektif. Ini mencakup faktor-faktor seperti kepribadian, kecerdasan, dan kemampuan komunikasi yang secara inheren ada pada individu tertentu sejak lahir. Bahkan ada juga yang mengkaitkan dengan keturunan, sehingga seorang pemimpin akan melahirkan anak pemimpin juga. Kelebihan dari teori ini adalah mengakui peran faktor-faktor bawaan dalam menentukan kepemimpinan, yang bisa menjadi sumber kekuatan bagi pemimpin yang memiliki bakat alami. Namun, kelemahannya adalah tidak semua orang dilahirkan dengan bakat alami kepemimpinan, dan teori ini cenderung mengabaikan peran pengalaman, pembelajaran, dan pengembangan pribadi dalam membangun kepemimpinan yang efektif..
Pendekatan kedua, berpendapat bahwa “pemimpin itu diciptakan”, di mana menekankan bahwa kepemimpinan dapat dikembangkan melalui pendidikan, pelatihan, dan pengalaman. Ini berarti bahwa siapa pun dapat menjadi pemimpin yang efektif dengan komitmen, usaha, dan kesempatan yang tepat untuk belajar dan berkembang, jika di treathment melalui serangkaian latihan kepemimpinan serta ditempa memalui berbagai jenis pengalaman yang relevan. Kelebihan dari teori ini adalah memberikan harapan bagi siapa pun untuk menjadi pemimpin yang sukses dengan usaha dan dedikasi yang cukup. Namun, kelemahannya adalah tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap kesempatan pendidikan dan pelatihan yang diperlukan untuk mengembangkan kepemimpinan, dan beberapa individu mungkin lebih sulit untuk mengubah diri mereka menjadi pemimpin yang efektif.
Pendekatan ketiga, menguraikan bahwa “pemimpin itu ditemukan”, alasannya adalah bahwa pemimpin itu dapat muncul sebagai respons terhadap kebutuhan dan kondisi tertentu dalam suatu situasi atau lingkungan. Ini berarti bahwa kepemimpinan muncul secara organik sebagai hasil dari keadaan yang mengharuskannya. Pemimpin seperti ini, biasanya berasal di luar proses kepemimpinan yang baku. Kelebihan dari teori ini adalah mengakui peran konteks dan situasi dalam menentukan kepemimpinan, yang berarti bahwa pemimpin dapat muncul dari berbagai latar belakang dan pengalaman. Namun, kelemahannya adalah bahwa tidak semua situasi menghasilkan pemimpin yang efektif, dan teori ini cenderung mengabaikan peran individu dalam mempengaruhi hasil kepemimpinan, bahkan akan membahayakan jika ternyata kepemimpinannya justru keluar dari fatsoen yang ada.
Ketiga hal pendekatan tersebut, seringkali menjadi kenyataan dan sekaligus merupakan tantantang bagi organisasi. Sehingga, dalam konteks organisasi, pemimpin yang efektif semestinya adalah mereka yang dapat menggabungkan bakat alami mereka dengan pembelajaran yang relevan serta pengalaman yang terus-menerus. Mereka tidak hanya memiliki kemampuan untuk mengarahkan dan memotivasi orang lain, tetapi juga memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan mengambil keputusan yang tepat dalam situasi yang kompleks.
Sedangkan dalam konteks politik, pemimpin yang berhasil adalah mereka yang diakui dan dipercaya oleh masyarakat untuk memimpin dengan keadilan, integritas, dan keberanian. Mereka harus mampu mengartikulasikan visi mereka, membangun koalisi yang kuat, dan mengatasi tantangan-tantangan yang kompleks dalam pemerintahan dan diplomasi. Meskipun dalam konteks demokrasi transaksional, seringkali hal ini terabaikan karena, semua direduksi dengan pendekatan wani piro? Dan anehnya, budaya seperti ini mulai juga merambah ke organisasi-organisasi sosial dan profesi dalam memelih pemimpinnya.
Dengan demikian, walaupun asal usul pemimpin mungkin bervariasi, tetapi yang pasti, kepemimpinan yang efektif membutuhkan kombinasi dari bakat bawaan, pembelajaran dan pengembangan, serta pengakuan dan dukungan dari masyarakat atau organisasi yang mereka pimpin.
Mencari Pemimpin dan Relevansinya Terhadap Organisasi Islam Dalam konteks organisasi Islam, relevansi dari konsep asal usul pemimpin yang telah dijelaskan sebelumnya sangatlah penting. Pemimpin organisasi Islam tidak hanya bertanggung jawab atas pengelolaan organisasi secara efektif, tetapi juga memiliki peran yang lebih besar dalam memimpin umat menuju kebaikan dan kesejahteraan. Sebab kepemimpinannya tidak hanya dipertanggungjawabkan dihadapan anggota dan pimpinan Organisasi, melainkan juga dipertanggungjawabkan dihadapan Allah ta’ala.
Masing-masing organisasi Islam biasanya telah memiliki mekanisme dalam proses pemilihan dan transformasi kepemimpinan. Biasanya mereka menczri dan menelusuri rekam jejak kader yang memiliki talenta untuk memimpin dan kemudian diajukan untuk dipilih. Ada yang mengadopsi mekanisme demokrasi dengan prinsip one men one vote, ataupun melalui mekanisme keterwakilan melalui mekanisme majelis syura yang memilih. Kesmuanya memiliki muara untuk mendapatkan pemimpin yang ideal yang sesuasi visi, misi dan jatidiri organisasinya.
Dengan demikian maka, dalam rangka mencari pemimpin yang tepat dalam organisasi Islam, melui mekanisme apapun juga, setidaknya perlu diperhatikan beberapa hal di bawah ini:
Pertama-tama, pemimpin organisasi Islam perlu memahami bahwa kepemimpinan bukanlah sekadar posisi atau jabatan, tetapi juga merupakan amanah yang diberikan oleh Allah ta’ala. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an dan Al Hadist, di mana Allah ta’ala dan Rasululah SAW memberikan petunjuk tentang karakteristik seorang pemimpin yang adil, tegas, dan berkomitmen untuk mematuhi ajaran Islam. Oleh karena itu, pemimpin organisasi Islam haruslah individu yang memiliki integritas, keimanan yang kuat, pemahaman yang mendalam tentang ajaran Islam, serta kemampuan untuk menginspirasi dan membimbing orang lain sesuai dengan nilai-nilai Islam yang budaya dan jatidiri dalam organisasi tersebut.
Kedua, relevansi konsep asal usul pemimpin dengan pemimpin organisasi Islam juga terkait dengan pentingnya pendidikan dan pelatihan dalam membentuk kepemimpinan yang efektif. Pemimpin organisasi Islam perlu terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka, baik dalam bidang manajemen organisasi maupun dalam pemahaman ajaran Islam. Hal ini membantu mereka untuk mengelola organisasi dengan baik, memimpin tim dengan bijaksana, dan mengambil keputusan yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
Ketiga, relevansi ini juga mencakup pentingnya pencarian dan pengakuan terhadap bakat kepemimpinan dalam komunitas Muslim. Pemimpin organisasi Islam perlu secara aktif mencari individu yang memiliki potensi untuk menjadi pemimpin yang efektif, kemudian memberikan dukungan, kesempatan dan bimbingan yang diperlukan untuk mengembangkan kemampuan serta kapasitas mereka. Akan tetapi mereka juga dibatasi pemahamannya terhadap visi dan misi organisasi tersebut. Dengan demikian, organisasi Islam akan dapat terus menghasilkan pemimpin yang mampu membawa perubahan positif dalam masyarakat dan menjadi teladan bagi umat Islam lainnya, akan tetapi tidak menyimpang dari garis perjuangan organisasi.
Dengan demikian, relevansi konsep asal usul pemimpin dalam rangka mencari keberadaan pemimpin dalam organisasi Islam sangatlah penting dalam menjaga integritas, kualitas, dan keberlanjutan kepemimpinan dalam konteks yang sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai Islam. Pemimpin organisasi Islam haruslah individu yang memiliki kualitas kepemimpinan yang tinggi, serta komitmen yang kuat untuk melayani umat dan memperjuangkan kebaikan berdasarkan nilai-nilai Islam, sehingga mampu menjadi penggerak sekaligus uswah/tauladan bagi seliruh elemen dalam Organisasi.
Oleh karenanya tidaklah mungkin dalam proses regenerasi pemimpin, terutama dalam organisasi Islam calonnya dari mereka yang berasal dan berada di luar sistem dari organisasi itu, atau setidaknya, mereka yang sudah sekian lama tidak aktif dalam organisasi tersebut. Semestinya tidak ada tempat bagi mereka yang seperti itu. Sebab dia tidak ikut merasakan denyut -nadi, langkah serta dinamika bagaimana organisasi itu tumbuh dan berkembang menghadapi tantangan yang ada.
Penutup Kepemimpinan adalah fenomena kompleks yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu teori ataupun satu pendekatan saja, sebab kenyataannya masing-masing saling terhubung. Pemimpin mungkin dilahirkan dengan bakat alami, dibentuk melalui pendidikan dan pelatihan, atau dicari dan ditemukan dalam situasi tertentu. Keberhasilan seorang pemimpin tergantung pada kombinasi faktor-faktor ini, serta kemampuannya untuk beradaptasi dengan situasi dan konteks yang selalu berubah.
Akhirnya, Organisasi akan selalu membutuhkan pemimpin yang memiliki kombinasi bakat, pendidikan, dan pengalaman. Pada gilirannya, bukan masalah perdebatan dari mana pemimpin itu berasal, sebab pemimpin yang efektif adalah mereka yang mampu memimpin dengan visi, integritas, dan komitmen untuk kemajuan dan keberlangsungan organisasinya, melalui melayani serta membawa kesejahteraan bagi orang lain terutama anggotanya.
Sehingga pekerjaan mencari pemimpin ini bukan merupakan pekerjaan mudah, dan tiada akhir. Mekanisme proses kepemimpinan dalam organisasi biasanya sudah ada dan baku dalam setiap Organisasi, akan tetapi dengan melihat realitas di atas, akan menjadi model pendekatan baru yang dapat dipertimbangkan. Wallahu a’lam.
*) ASIH SUBAGYO, Penulis adalah peneliti senior Hidayatullah Institute