Beranda blog Halaman 202

[KHUTBAH JUM’AT] Istiqamah Menyerap Energi Spiritual Ramadhan

0

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kita kehidupan dan segala anugerah yang menyertainya sehingga kita dapat menikmati segala nikmat ini dalam keadaan sehat walafiat.

Shalawat dan salam semoga tercurah selalu atas baginda Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam sebagai teladan kita dalam memanfaatkan segala nikmat dan anugerah yang telah dilimpahkan oleh Tuhan kepada kita di dunia ini.

Kehidupan adalah anugerah terindah yang diberikan kepada kita oleh Yang Maha Kuasa. Setiap detik, kita diberikan kesempatan untuk menikmati segala nikmat yang Dia berikan. Sungguh luar biasa jika kita menghargai setiap momen dalam hidup ini.

Disamping itu, kesehatan adalah harta yang berharga. Tanpa kesehatan yang baik, segala nikmat dalam hidup tidak akan terasa sama. Kita dapat menikmati kelezatan makanan, kenyamanan tidur, kehangatan kasih sayang, dan berbagai kegiatan lainnya hanya jika kita sehat walafiat. Oleh karena itu, mari kita bersyukur atas kesehatan yang kita miliki setiap hari.

Setiap detik dalam hidup adalah kesempatan untuk bertemu, bersua, dan beribadah kepada-Nya. Jangan biarkan berkah kesempatan ini berlalu begitu saja tanpa kita manfaatkan dengan baik. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah contoh teladan bagi kita dalam memanfaatkan setiap nikmat yang diberikan oleh Tuhan.

Bukan hanya dalam keadaan suka, kita harus bersyukur, tetapi juga dalam kesulitan dan cobaan. Setiap ujian adalah pembelajaran bagi kita. Dengan bersyukur, kita akan mampu melewati setiap rintangan dengan tegar dan penuh keberanian.

Setiap detik dalam hidup adalah anugerah yang tidak ternilai harganya. Kita harus menghargai setiap kesempatan, bersyukur atas segala nikmat yang diberikan, dan memanfaatkannya sebaik mungkin.

Dengan begitu, kita akan mampu menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan dan kesuksesan. Teruslah bersyukur, karena setiap nikmat yang kita miliki adalah karunia dari-Nya.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (QS. Ibrahim: 7)

Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Mari kita melakulan refleksi kembali pada kesempatan istimewa ini, pasca bulan suci telah pergi dan selalu kita nantikan kembali. Ramadhan benar-benar telah meninggalkan kita.

Bulan yang kita nantikan selama 11 bulan lamanya ini telah menjadi kenangan umat, tidak hanya di Indonesia tapi umat Islam di seluruh dunia merasakan hal yang sama.

Meskipun bulan yang penuh ampunan itu telah berlalu, kita tidak boleh melupakan pelajaran berharga yang telah kita dapatkan selama bulan suci tersebut. Bulan Syawal hari ini merupakan salah satu momentum penting untuk mereaktualisasi energi spiritual Ramadhan yang telah kita lakoni itu.

Harapannya, dengan berlalunya Ramadhan, kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang celaka karena tidak mendapatkan pengampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala selama bulan Ramadhan.

Hal ini sebagaimana yang tersebut dalam doa yang diucapkan oleh malaikat Jibril ‘alaihissalam dan diamini oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

قَالَ لِي جِبْرِيلُ : رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَقُلْتُ : آمِينَ

“Jibril ‘Alaihis Salam berkata kepadaku: ‘Sungguh sangat merugi seseorang yang ia masuk kedalam bulan Ramadhan lalu tidak diampuni dosanya.’ Kata Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Aku pun mengucapkan: Aamiin (Ya Allah, kabulkanlah).” (HR Ahmad (2/254), al-Bukhari dalam “al-Adabul mufrad” (no. 644), Ibnu Hibban (no. 907) dan al-Hakim (4/170), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, adz-Dzahabi dan al-Albani).

Ramadhan bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga merupakan waktu untuk memperkuat koneksi spiritual kita dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Selama bulan yang suci ini, kita melakukan pelatihan intensif dalam ibadah, baik secara vertikal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun secara horizontal dalam interaksi sosial.

Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dan jin bukan tanpa tujuan. Setiap insan memiliki peran sebagai hamba Allah yang bertujuan untuk beribadah dan mengabdi kepada-Nya.

Dengan menjadi hamba yang taat, kita memperoleh perlindungan dan keberkahan, baik di dunia maupun di akhirat.

Melalui ibadah kepada-Nya, kita menegaskan status kita sebagai hamba Allah yang taat. Ibadah-ibadah ini membedakan antara mereka yang tunduk pada ketentuan-Nya dengan mereka yang menolaknya.

Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Ramadhan dikatakan sebagai bulan tarbiyah sebab memiliki banyak keutamaan yang diharapkan menjadi ladang bagi umat Islam untuk mendapatkan banyak pengalaman spritual.

Modal spritual yang berupa pelatihan, pembiasaan dalam ibadah, baik yang bersifat vertikal (langsung kepada Allah) maupun yang bersifat horizontal (sosial) yang diharapkan mampu mengantarkan seorang hamba menjadi pribadi yang bertakwa.

Besarnya tugas yang diemban oleh manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini, sehingga membutuhkan suasana tersendiri bagi umat Islam untuk merasakan pengalaman spritual berupa pelatihan dan pembiasaan ibadah sebagai kunci sukses dalam menjalankan seluruh tugas dan tanggungjawab selama 11 bulan kedepan.

Selain sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, manusia juga diberikan peran sebagai khalifah di bumi. Sebagai khalifah, kita bertanggung jawab untuk mengelola alam semesta dan isinya dengan baik, untuk kebaikan dan keberlangsungan hidup kita.

Hal ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana dalam Al-Qur’an surah Adz-Dzariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”

Ayat ini menegaskan posisi kita sebagai abdullah (hamba Allah) yang memiliki tugas untuk mengabdi, beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sehingga dari ayat ini kita dapat memahami secara jelas bahwa penciptaan jin dan manusia bukan tanpa tujuan atau sia-sia belaka, melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan “Surat Keputusan” berupa “SK” yang harus dijalani oleh manusia dalam kehidupan ini.

Menjadi hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti menggadaikan sepenuhnya kebebasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga dengan sendirinya terikat dengan semua ketentuan Allah.

Hal ini merupakan implikasi dari status sebagai seorang hamba. Dengan cara itulah seseorang akan memperoleh selamat, baik di dunia maupun di akhirat.

Meskipun semangat ibadah dan kebaikan begitu terasa selama Ramadhan, tantangan sebenarnya muncul setelah bulan suci itu berlalu. Kita harus tetap konsisten dalam menjaga ibadah yang telah kita bangun selama bulan Ramadhan.

Ketulusan seseorang menjadi hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan cerminan kemurnian tauhid Laa ila ha illallah sebagai bentuk penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah.

Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Pelaksanaan ibadah seperti shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya merupakan peneguhan status seseorang sebagai Abdullah. Praktek ibadah inilah yang membedakan antara manusia yang tunduk atas ketetapan-Nya dan manusia yang menolak (ingkar).

Penghambaan kepada Allah akan sempurna jika diteruskan dengan perbuatan amal sholeh bagi sesama sebagaimana tujuan agama Islam dihadirkan, ‘rahmatan lil alamin’. Wujudnya adalah saling menghormati, kasih sayang, membantu, mewujudkan keadilan, dan kedamaian.

Sebagaimana fiman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al Qur’an Surah Al-An’am Ayat 165:

وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَكُمْ خَلَٰٓئِفَ ٱلْأَرْضِ

“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi”

Dari dua ayat ini jelas bahwa status manusia di sebagaimana “SK” dari Allah Subhanahu wa ta’ala setidaknya ada dua, yakni Abdullah dan Khalifatullah.

Sebagai hamba Allah, maka tugasnya adalah menjalankan aktivitas kehidupan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan sebagai khalifah artinya manusia sebagai makhluk yang menguasai alam semesta dan isinya.

Menguasai dalam arti mengelolanya dengan baik yang dapat dimanfaatkan untuk kebahagian dan keberlangsungan hidupnya.

Ma’asyiral Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Ramadhan sebagai wadah tarbiyah bagi umat Islam dalam menjalankan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai hamba yang dituntut untuk dapat maksimal dalam menghambakan diri melalui ibadah yang telah ditetapkan, baik itu yang bersifat individual maupun sosial (jama’ah).

Minimal kita bisa berupaya berjuang agar tetap istiqamah dalam menjalankan ibadah-ibadah wajib dan sunnah muakkad yang dapat menyuburkan iman dan nilai ketakwaan.

Pada bulan Ramadhan yang lalu, kaum muslimin begitu bersemangat dalam kegiatan ibadah dan muamalah. Selain puasa, antusias shalat jama’ah, tadarrus Al-Qur’an, infaq dan shodaqoh menjadi sesuatu yang ringan untuk dilaksanakan.

Fenomena ini mengantarkan seorang hamba merasakan suasana religius yang luar biasa. Intensitas ibadah diharapkan mampu dipertahankan diluar bulan ramadhan.

Bukan justru sebaliknya. Ibadah yang dibangun dan rawat selama bulan ramadhan hilang, lenyap, seiring berakhirnya bulan ramadhan, sebagaimana yang diperingatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al Qur’an surah An Nahl ayat 92:

وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّتِى نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنۢ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَٰثًا

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali”

Ayat ini tentu berlaku umum mengingatkan kita agar bisa secara konsisten, tegak, dan tetap dalam menjaga ibadah yang sudah terbangun selama Ramadhan.

Para ulama juga telah mengingatkan kita bahwa janganlah kita hanya berbuat baik pada bulan Ramadhan. Namun jadilah kita orang-orang Rabbani, yakni hamba yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di semua kesempatan termasuk di luar bulan ramadhan.

Ramadhan telah mengajarkan kita banyak hal tentang kebaikan, ketaatan, dan koneksi spiritual dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tantangannya sekarang adalah menjaga semangat tersebut tetap berkobar, bahkan setelah bulan suci Ramadhan berlalu.

Maka, kita bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga kita semua hadirin sekalian dimampukan menjadi orang-orang yang konsisten dalam kebaikan, baik di bulan suci maupun di luarnya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Do’a Penutup

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ……. عِبَادَ اللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُو

BMH Salurkan Beras Bantu Penuhi Gizi Santri Tahfizh di Jawa Timur

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Jawa Timur (Jatim) menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan manusia berkelanjutan dengan menyalurkan bantuan beras secara rutin kepada santri tahfizh di Jawa Timur.

Bantuan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi para santri dan membantu mereka fokus dalam menghafal al-Qur’an.

Setiap bulan, BMH Jatim menyalurkan sekitar 1.000 kg beras untuk 15 Pesantren Tahfizh Darul Hijrah di Jawa Timur. Program ini merupakan bagian dari upaya BMH untuk mendukung generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, dan bervisi peradaban.

KH. Ihya Ulumuddin, selaku Mudir Pesantren Tahfizh Kampus Utama Darul Hijrah Surabaya, menyampaikan rasa terima kasihnya atas dukungan yang diberikan oleh BMH Jatim.

“Bantuan beras ini sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan pangan dan gizi para santri, sehingga mereka dapat fokus dalam proses menghafal al-Qur’an, ini langkah indah dari kolaborasi untuk masa depan generasi emas Indonesia,” kata Ihya seperti dalam keterannya diterima media ini, Selasa, 21 Syawal 1445 (30/4/2024).

Sementara itu Imam Muslim, Kadiv Program dan Pendayagunaan Laznas BMH Jatim, menjelaskan bahwa program ini memiliki dampak yang signifikan dalam mendukung proses pembelajaran santri tahfizh.

Ia menegaskan bahwa BMH berkomitmen untuk terus membantu para santri tahfizh agar dapat mencapai cita-citanya dalam menghafal al-Qur’an dengan baik.

“Program ini merupakan salah satu bentuk komitmen BMH dalam mendukung pembangunan manusia berkelanjutan. Kami ingin memastikan bahwa para santri tahfizh mendapatkan gizi yang cukup agar mereka dapat fokus belajar dan menghafal al-Qur’an,” jelas Imam Muslim.

Bantuan beras dari BMH Jatim ini diharapkan dapat membantu para santri tahfizh dalam mencapai cita-cita mereka untuk menjadi hafizh dan hafizhah yang berkualitas.

“BMH mengajak masyarakat untuk bersama-sama mendukung program ini agar lebih banyak santri tahfizh yang mendapatkan manfaatnya,” tutup Muslim.*/Herim

Pesantren Hidayatullah Baubau Tawarkan Program Tabungan Kurban

0

BAUBAU (Hidayatullah.or.id) — Jelang hari raya Idul Adha 1445 Hijriah/2024 Masehi, sejumlah pesantren menawarkan tabungan kurban sebagai solusi berkurban dengan lebih mudah. Salah satu yang menawarkan program itu yakni Pesantren Hidayatullah Kota Baubau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Pengawas Mitra Zakat Hidayatullah Baubau, Ust. Abdul Syukur, menjelaskan, program Tabungan Kurban ini bertujuan mempermudah kaum muslimin berkurban dengan metode pembayaran secara bertahap.

“Tabungan kurban ini memudahkan bagi muslim yang berkeinginan untuk berkurban karena banyak sebenarnya yang mau kurban hanya saja sebagian merasa berat jika dibayar satu kali, maka dari itu kita sarankan untuk dicicil pembayaran hewan ternaknya agar terasa ringan,” kata Abdul Syukur via RRI dan dilansir laman Hidayatullah-baubau.or.id, Senin, 20 Syawal 1445 (29/4/2024).

Karena itu, ia mengajak setiap muslim yang berkemampuan untuk berkurban melalui Mitra Zakat Hidayatullah yang berlokasi di KM 5, lorong Pesantren Hidayatullah, Kelurahan Kadolokatapi, Kecamatan Wolio, Kota Baubau.

Selain itu, masyarakat juga bisa menghubungi nomor kontak Mitra Zakat Hidayatullah di 0823-5055-9484 dengan Rekening BSI 7179418694 atau BNI 1379126196 atas nama Mitra Zakat Hidayatullah.

Program tabungan Kurban ini disambut baik oleh masyarakat Baubau, seperti yang diungkapkan Septial Asriansyah, yang mengikuti program tersebut tahun ini.

“Saya baru dua kali berkurban melalui Mitra Zakat Hidayatullah, tahun lalu saya bayar langsung lunas tapi baru tahun ini saya ikut tabungan kurban, karena saya merasa lebih ringan soalnya metode pembayarannya dicicil,” ujar Septial.*/Noer Akbar

Semarak Silaturrahim Syawal Hidayatullah Papua Sekaligus Penugasan Dai

SENTANI (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Papua menggelar acara Halal Bihalal bertajuk Lailatul Ijtima’ & Silaturrahim Syawal yang digelar di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Sentani, 18-19 Syawal 1445/ 27-28 April 2024.

Hadir pada kesempatan tersebut Ketua DPW Hidayatullah Papua Ust. Musmulyadi dan segenap jajarannya. Hadir pula unsur jajaran Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Papua.

Anggota Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Papua Ust. H. Hasanuddin dalam taushiyahnya menyampaikan pesan motivasi keutamaan puasa dimana di bulan Syawal umat muslim dianjurkan untuk puasa sunah selama enam hari dan menqadha itikaf Ramadhan yang mungkin terlewatkan.

Adapun hikmah penting dari ibadah puasa Syawal adalah ini menjadi pertanda bahwa ibadah yang dilakukan terhenti. Puasa Syawal menjadi pemicu untuk berusaha mempertahankan kualitas dan kuantitas ibadah di bulan setelahnya.

“Kita harus berusaha menjadikan kultur Ramadhan selalu hidup sepanjang tahun dan puasa Syawal ini tentu menjadi salah satu bentuk untuk melestarikan ibadah yang sudah dijalankan selama Ramadan,” kata Hasanuddin seperti dilansir laman Hidayatullahpapua.or.id, Ahad (28/4/2024).

Ustadz Hasanuddin lantas menjabarkan analogi antara puasa seperti kepompong dan puasa seperti ular memang memberikan gambaran yang sangat kuat tentang bagaimana sikap dan perilaku kita seharusnya selama menjalani ibadah puasa.

Ia pun kemudian menelaah pelajaran yang bisa diambil dari analogi tersebut. Pertama, puasa seperti kepompong.

Dia menjelaskan, kepompong adalah simbol perubahan total yang terjadi pada diri seseorang selama berpuasa.

Seperti halnya kepompong yang berubah dari ulat menjadi kupu-kupu, kita juga diharapkan mengalami perubahan dalam diri secara keseluruhan selama bulan puasa.

“Ini termasuk perubahan sikap, perilaku, dan spiritualitas kita. Puasa mengajarkan kita untuk membersihkan diri dari perilaku yang buruk dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan amal ibadah yang baik,” katanya.

Kedua, berpuasa seperti ular. Berbeda dengan kepompong, kata Hasanuddin, ular hanya mengalami perubahan pada kulitnya saja saat berpuasa. Hal ini terang Hasanuddin menggambarkan seseorang yang hanya menunjukkan perubahan fisik atau tampilan saja tanpa adanya perubahan batin atau perilaku yang sesungguhnya.

Misalnya, seseorang mungkin berpuasa secara lahiriah tetapi masih mempertahankan sifat-sifat buruk seperti keangkuhan, kemarahan, atau kebencian di dalam hatinya.

Dari analogi tersebut, jelas dia, kita bisa mengambil beberapa pelajaran penting, yaitu pentingnya menjaga lisan. Puasa mengajarkan kita untuk menjaga mulut dari perkara-perkara maksiat, seperti fitnah, ghibah, dan kebohongan. Ibrah ini pula mencerminkan pentingnya menjaga ucapan dan perbuatan agar sesuai dengan ajaran Islam serta tidak menyakiti orang lain.

Selain itu, Hasanuddin menilai analogi ini juga mengajarkan esensi ukhuwah. Puasa mengajarkan kita untuk memperbaiki hubungan dengan sesama, memperkuat ukhuwah, dan meningkatkan solidaritas di antara umat Muslim. Ini penting untuk membangun kebersamaan, saling mendukung, dan membantu satu sama lain dalam kebaikan.

Berikutnya, analogi itu juga menyiratkan hikmah tentang menerima tugas dengan syukur. Sifat syukur dan kesediaan untuk menerima tugas yang diberikan merupakan sikap yang sangat diapresiasi dalam Islam. Ini menunjukkan ketaatan dan keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah serta bersedia berkontribusi dalam dakwah dan kebaikan.

“Analogi puasa kepompong dan ular ini mengingatkan kita untuk tidak hanya menjalani puasa secara ritualistik, tetapi juga menjadikan bulan puasa sebagai waktu untuk melakukan perubahan yang nyata dalam diri, baik secara lahiriah maupun batiniah, serta memperkuat hubungan dengan Allah Ta’ala dan sesama manusia,” tandasnya.

Pada kesempatan tersebut, hadir juga Ust. Al Djufrie Muhammad selaku Badan Pembina Kampus Madya Hidayatullah Sentani.

Dalam kesempatan memberikan wejangan spiritual kepada hadirin, Al Djufrie menyampaikan hikmah Syawal sebagai momentum menyatukan energi ukhuwah.

Dia menjelaskan, bulan Syawal, yang merupakan bulan di mana umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadhan, memiliki banyak makna dan pentingnya untuk memperkuat persatuan dan persaudaraan, baik di antara sesama muslim maupun sebagai sesama anak bangsa.

“Bulan Syawal adalah momentum penting sekali untuk semakin menguatkan persatuan dan persaudaraan,” tegas Al Djufrie.

Perkuat Persatuan dan Persaudaraan

Sementara itu Ketua DPW Hidayatullah Papua Ust. Musmulyadi yang juga turut menyampaikan wejangan pada Halal Bihalal Silaturrahim Syawal tersebut menekankan pentingnya memperkuat persatuan dan persaudaraan baik dalam lingkup komunitas maupun dalam skala yang lebih luas sebagai masyarakat.

Musmulyadi mengatakan, kita telah melewati Ramadhan sebagai bulan penuh ibadah, pembersihan diri, dan refleksi spiritual bagi umat Islam.

Dalam proses ini, jelas dia, umat Islam dari berbagai latar belakang etnis, budaya, dan sosial syahdu dalam ibadah puasa dan perenungan.

“Setelah menjalani bulan yang penuh pengorbanan dan spiritualitas bersama itu, maka bulan Syawal ini menjadi momen puncak kebahagiaan dan syukur bersama,” imbuhnya.

Bulan Syawal dimana suka cita Idul Fitri berlangsung juga merupakan waktu untuk merelakan dan memaafkan, memperbaiki hubungan yang renggang, serta memulai kembali dengan hati yang bersih.

“Bulan Syawal ini mendorong umat Islam untuk menumbuhkan sikap rendah hati, kesabaran, dan kedamaian dalam hubungan dengan sesama, yang pada gilirannya memperkuat persaudaraan dan persatuan,” katanya.

Bulan Syawal juga lekat dengan tradisi memberi hadiah, menyantuni yang membutuhkan, dan berbagi makanan merupakan bagian integral dari perayaan Idul Fitri.

Menurut Musmulyadi, praktik ini tidak hanya menciptakan ikatan emosional yang kuat di antara keluarga dan komunitas, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial.

“Pada saat yang sama, budaya berbagi ini juga mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal, yang dapat mempersatukan orang dari berbagai latar belakang,” tegas Musmulyadi.

Dalam pada itu, kata Musmulyadi, bulan Syawal ini menjadi momen di mana keluarga dan teman-teman berkumpul untuk merayakan bersama.

Pertemuan ini, teran dia, akan menciptakan peluang untuk mempererat hubungan interpersonal, berbagi cerita, dan memperkuat ikatan keluarga serta persahabatan.

“Karena itu, komunikasi yang terbuka dan hangat selama perayaan ini membantu memperdalam pemahaman dan penghargaan antara individu, yang pada gilirannya memperkuat persatuan dan persaudaraan,” kata Musmulyadi.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penugasan dai untuk membantu perintisan dakwah di 2 daerah di Provinsi Papua yaitu di Kabupaten Mamberamo Raya dan Kabupaten Supiori.

Mereka yang ditugaskan masing masing ini adalah Ustadz Faisal Al Hafidz dan Ustadz Azwar Anas. Kedua kader dai muda ini menyambut penugasan dakwah ini dengan penuh suka cita. “Siap dimanapun ditugaskan,” kata Faisal yang ditimpali Azwar dengan takbir. “Allaahu Akbar!”

Kepada keduanya, Musmulyadi menitipkan pesan agar terus meluaskan spiriti Syawal di tempat tugas mereka dengan menyelami pengalaman bersama dalam kebahagiaan dan cobaan.

Musmulyadi menamsilkan, perayaan Idul Fitri di bualn Syawal tidak hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga tentang kesadaran akan keberuntungan dan keberkahan yang dimiliki bersama, serta kesadaran akan tantangan yang dihadapi bersama.

“Menghadapi cobaan dan kesulitan bersama-sama selama bulan Ramadhan dan merayakan kebahagiaan bersama-sama di bulan Syawal mengalirkan hikmah bahwa memperkuat rasa saling ketergantungan dan persatuan di antara umat Islam dan sesama anak bangsa adalah hal yang perlu selalu dijaga.” terangnya.

Dengan demikian, lanjut Musmulyadi, bulan Syawal tidak hanya menjadi waktu untuk merayakan kesuksesan menyelesaikan ibadah puasa, tetapi juga merupakan kesempatan berharga untuk perkuat persatuan, persaudaraan, dan solidaritas di antara umat Islam dan masyarakat secara luas. (ybh/hidayatullah.or.id)

Ya Allah Perbaiki Segala Urusanku dan Jangan Serahkan pada Diriku Sekejap Mata pun

JIKA Anda titip kepada seseorang agar dibelikan nasi goreng di suatu tempat yang cukup jauh dari rumah, apa yang Anda lakukan?

Apakah Anda memberikan uang dan membiarkan orang itu pergi ke tempat yang dimaksud, atau Anda ikut bersamanya dan mendikte seluruh belokan yang harus dilalui, menunjukkan tempatnya, memesan nasi goreng, membayarnya, lalu mengajaknya pulang?

Tentu, tindakan pertamalah yang benar. Jika Anda titip, maka Anda percaya penuh kepada orang yang dititipi itu dan membiarkannya bekerja untuk mewujudkan keinginan Anda, tidak ikut campur apalagi mendikte sedetil-detilnya.

Anda akan pasrah pada hasilnya, dan baru memutuskan perubahan jika orang yang dititipi berkonsultasi. Jika Anda turut-campur dan mendikte, pasti orang tadi jengkel. Ia akan berseru dengan marah, “Pergi saja sendiri!”

Demikianlah semestinya keadaan kita bila memohon sesuatu kepada Allah. Pasrahkan kepada-Nya, bukan mendikte-Nya. Dia lebih tahu apa yang terbaik bagi kita, dan akan mengatur pemberian itu sebaik mungkin.

Namun, yang sering terjadi tidaklah seperti itu. Kita mengaku pasrah dan menyerahkan segalanya kepada Allah, padahal hati dan pikiran kita masih memaksakan ini dan itu. Dan ketika pemberian-Nya turun, kita kecewa bahkan merasa tidak diperhatikan oleh-Nya, hanya karena spesifikasinya tidak persis sama dengan harapan kita.

Kekurangajaran macam apa ini? Bukankah kita telah mengaku pasrah kepada Allah, namun kenapa masih mendikte-Nya?

Bagaimana jika Dia murka dan mengembalikan semua permohonan itu kepada kita sendiri? Bukankah diantara kecelakaan terbesar adalah ketika Allah murka dan membiarkan kita mengurus diri sendiri, tanpa perhatian dan dukungan dari-Nya?

Oleh karenanya, diantara wirid tawajjuhat pagi/sore yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terdapat pernyataan ini:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

(Yaa hayyu yaa qayyuum bi rahmatika astaghiitsu ashlih liy sya’niy kullahu wa laa takilniy ilaa nafsiy tharfata ‘ain)

“Wahai Tuhan yang Maha Hidup; wahai Tuhan yang Maha Mengurusi segala sesuatu; aku mohon pertolongan kepada-Mu, dengan kasih sayang-Mu. Perbaikilah segala urusanku dan jangan serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata pun” [Riwayat Ibnus Sunniy dan al-Hakim yang men-shahih-kannya, dan disepakati oleh adz-Dzahabi].

Kita memohon kepada Allah karena sadar akan keterbatasan diri ini. Kita mengharapkan bantuan, pertolongan, dan dukungan-Nya. Tanpa-Nya kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Untuk itulah kita layak merendahkan diri dan menundukkan muka, bukan meninggikan suara dan mengangkat dagu.

Pada saat berdoa, seorang mukmin akan menyadari posisinya sebagai hamba yang lemah, bukan bertindak seperti majikan yang bisa memerintah Tuhan melakukan apa yang diinginkannya. Sejak kapan kita membalik posisi dari hamba menjadi majikan? Duh, amat sangat tidak beradab!

Al-Qur’an pun telah mengajarkan adab-adab berdoa kepada Allah, diantaranya:

قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ أَوِ ٱدْعُوا۟ ٱلرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا۟ فَلَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَٱبْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا

“Katakanlah: ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman! Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik). Janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam doamu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (QS al-Isra’: 110).

Menurut ‘Aisyah, Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, dan lain-lain, ayat di atas turun berkenaan dengan doa dan permohonan.

‘Abdullah bin Syaddad menceritakan bahwa orang-orang Arab Badui pada zaman Nabi sering berlaku tidak sopan ketika berdoa. Bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyelesaikan shalat dan membaca salam, mereka kemudian berteriak keras-keras, “Ya Allah, berilah kami unta dan anak!”

Maka, ayat ini pun turun, yang menyuruh kaum muslimin agar bersikap pertengahan dalam berdoa: tidak terlalu mengeraskan suara sekaligus tidak terlalu melirihkannya. (Lihat: Tafsir ath-Thabari, XVII/581-583).

Selain adab-adab lahiriah ketika berdoa, diantara hal lain yang menunjukkan murninya kepasrahan adalah sikap batin kita sendiri. Apakah kita protes bila pemberian Allah tidak seperti yang kita harapkan, atau justru berprasangka baik kepada hikmah di baliknya?

Apakah kita menggugat kebijaksanan-Nya, atau menerimanya dengan penuh rasa syukur? Sesungguhnya, keikhlasan seorang mukmin diuji pada titik ini, yakni bagaimana ia menyikapi pemberian dan pilihan Allah untuknya.

Allah berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًا مُّبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS al-Ahzab: 36)

Ketulusan dan prasangka baik merupakan kunci keselamatan dalam mengarungi pasang-surut kehidupan. Dengan ketulusan maka hati kita tidak disibukkan oleh amarah, sementara prasangka baik akan membimbing kita untuk selalu berpikir positif.

Keduanya akan memandu kita agar selalu menemukan energi untuk terus maju. Demikianlah sikap generasi Salaf kepada Allah, sebagaimana diceritakan para ulama.

Al-Hafizh Ibnu Abi ad-Dunya meriwayatkan bahwa salah seorang putra Ibnu Mas’ud berkata, “Beruntunglah orang yang mengikhlaskan ibadah dan doanya hanya untuk Allah; orang yang hatinya tidak tersibukkan oleh apa yang dilihat oleh matanya; orang yang dizikirnya tidak terlupakan oleh apa yang didengar oleh telinganya; dan orang yang jiwanya tidak menjadi sedih atas apa yang diberikan Allah kepada orang selainnya.” (Al-Ikhlash wan Niyyat, no. 7).

Sikap-sikap batin seperti inilah yang membuat seorang mukmin merasa nyaman, sehingga hidupnya diberkahi dengan aneka prestasi, bukan berjibun keluhan dan protes. Wallahu a’lam.

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, penulis adalah pengasuh Yayasan Pendidikan Islam Ar-Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Batu Malang

[Khutbah Jum’at] Manajemen Hidup Islami Pasca Ramadhan

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral muslimin jamaah jumu’ah rahimakumullah 

Riyadhah dan mujahadah di bulan Ramadhan pada intinya adalah untuk mensucikan hati dan meningkatkan ketaatan. Dari hati yang suci, akan tumbuh energi iman yang menggerakkan manusia mentaati perintah dan menjauhi larangan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dan, aktualisasi ketaatan itulah yang disebut taqwa. Bagi yang berhasil meraih predikat taqwa di bulan Ramadhan, maka sesungguhnya dia telah berada pada maqom atau kedudukan yang paling mulia, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Gelar taqwa yang telah diraih di bulan Ramadhan akan menjadi fasilitas atau menjadi kepribadian seorang muslim. Karakter ‘muttaqin’ akan menghadirkan keteladan solusi dalam berbagai dimensi kehidupan.

Karakter muttaqin ini telah Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan secara detail dalam Al Qur’an surah At Talaq ayat 2-5:

1. Solusi kehidupan dan rizki yang luas  

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”

2. Dimudahkan segala urusannya

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا

“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya

3. Dihapuskan kesalahannya dan pahala yang besar

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّاٰتِهٖ وَيُعْظِمْ لَهٗٓ اَجْرًا

Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan memperbesar pahala baginya

Ma’asyiral muslimin jamaah jumu’ah rahimakumullah 

Bersyukurlah bagi orang yang telah meraih predikat taqwa tersebut, karena Allah Subhanahu wa ta’ala tidak akan mencabutnya. Allah Subhanahu wa ta’ala ingin melihat hamba-Nya berada dalam kenikmatan dan kemuliaan.

Namun, sangat disayangkan, kebanyakan manusia sendirilah yang mencabut nikmat itu dengan sengaja. Maka tidak mengherankan banyak alumni Ramadhan mengalami krisis nilai, krisis moral, jauh dari syariah karena tidak istiqamah dengan ibadah dan amalan amalan utama.

Tanda tanda inilah yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam Al Qur’an surah Al Anfal ayat 53:

ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً اَنْعَمَهَا عَلٰى قَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۙ وَاَنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌۙ

Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”

Ma’asyiral muslimin jamaah jumu’ah rahimakumullah 

Fenomena seperti ini dirasakan setiap Ramadhan. Kaum muslimin bersemangat dalam kegiatan ibadah, masjid masjid makmur, shalat lima waktu berjamaah, tadarrus, dan infaq. Namun sangat disayangkan, pasca Ramadhan, frekuensi ibadah menurun draktis. Anjlok!

Keadaan umat seperti inilah yang pernah ditanyakan kepada Imam Hasan Al Bashri, bahwa ada kaum yang rajin ibadah dan bersemangat sekali di bulan Ramadhan. Lalu sang Imam menjawab:

بِئْسَ القَوْمُ لاَ يَعْرِفُوْنَ اللهَ حَقًّا إِلاَّ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِي يَتَعَبَّدُ وَ يَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهَا

“Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah di bulan Ramadhan saja. Ingat, orang yang saleh yang sejati adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh sepanjang tahun.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 390)

Ma’asyiral muslimin jamaah jumu’ah rahimakumullah 

Mari kita  berjuang, istiqamah mempertahankan nilai nilai Ramadhan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai di sisi Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinyu walau jumlahnya sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ma’asyiral muslimin jamaah jumu’ah rahimakumullah 

Agar nilai-nilai Ramadhan tetap terpelihara dan predikat taqwa tetap menjadi karakter kehidupan, maka kita perlu menguatkan manajemen hidup Islami pasca Ramadhan.

Untuk kebutuhan tersebut, maka perkenankan kami, khatib, menyampaikan beberapa kegiatan yang bisa memberdayakan hidup kita secara pribadi,  keluarga, dan juga dalam sistem hidup berbangsa dan bernegara.

Pertama, selalu hidup bersama Al Qur’an

Manusia lahir ke bumi membawa fitrah, yaitu potensi keyakinan dan keinginan untuk berbuat yang terbaik. Namun, fitrah yang suci itu tidak serta merta manifest atau aktual dalam kehidupan.

Keberadaan kefitrahan ini harus dituntun oleh petunjuk yang juga suci. Maka, dari itulah Allah Subhanahu wa ta’ala menurunkan Al Qur’an, wahyu ilahi yang suci.

Orang yang membaca al Qur’an langsung tenang jiwanya, karena bertemu antara cahaya dari hati dan cahaya dari langit.

Ketika seseorang sibuk tadarrus dan tilawah secara benar, maka dia akan mendapatkan kekuatan ruhiyah dan petunjuk keimanan dan jalan kehidupan. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al Qur’an surah Asy Syura ayat 52:

وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَاۗ مَا كُنْتَ تَدْرِيْ مَا الْكِتٰبُ وَلَا الْاِيْمَانُ وَلٰكِنْ جَعَلْنٰهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهٖ مَنْ نَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِنَاۗ وَاِنَّكَ لَتَهْدِيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۙ

“Demikianlah Kami mewahyukan kepadamu (Nabi Muhammad) rūh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami menjadikannya (Al-Qur’an) cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Sesungguhnya engkau benar-benar membimbing (manusia) ke jalan yang lurus”

Ketika menafsirkan ayat ini, Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata sebagaimana dinukil dari Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan”, halaman 762:

“Ini adalah (fungsi) al-Qur-an yang mulia, Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutnya sebagai ruh karena ruh yang menjadikan tubuh manusia hidup. (Demikian) pula al-Qur-an yang menjadikan hati dan jiwa manusia hidup, sehingga hiduplah (terwujudlah) dengan al-Qur-an semua kebaikan (dalam urusan) dunia dan agama, karena di dalamnya banyak kebaikan dan ilmu yang luas”

Ketika al Qur’an diamalkan, didakwahkan, dan menjadi sistem kehidupan, maka keadaan akan menjadi mulia karenanya.

Dan sebaliknya, ketika hidup mengabaikan nilai-nilai al Qur’an maka umat akan jatuh menjadi hina. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أقْوَاماً وَيَضَعُ بِهِ آخرِينَ  ( رَوَاهُ مُسْلِمٌ )

Dari Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat (meninggikan) derajat dengan kitab ini (Al-Qur’an) dan merendahkan kaum yang lain dengannya juga.” (HR. Muslim)

Ma’asyiral muslimin jamaah jumu’ah rahimakumullah 

Mari segenap kaum muslimin berusaha menghidupkan kegiatan-kegiatan tilawah dan pembelajaran al Qur’an.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga secara khusus memerintahkan kepada keluarga muslim untuk menghidukan suasana Al Qur’an di rumah masing-masing karena dari rumah itulah cahaya peradaban terpencar menerangi lingkungan sekitar.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ الْبَيْتَ لَيَتَّسِعُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَحْضُرُهُ الْمَلَائِكَةُ وَتَهْجُرُهُ الشَّيَاطِينُ، وَيَكْثُرُ خَيْرُهُ أَنْ يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ، وَإِنَّ الْبَيْتَ لَيَضِيقُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَهْجُرُهُ الْمَلَائِكَةُ، وَتَحْضُرُهُ الشَّيَاطِينُ، وَيَقِلُّ خَيْرُهُ أَنْ لَا يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ

Dari Abu Hurairah RA  “Sesungguhnya rumah akan terasa luas bagi penghuninya, para malaikat akan mendatanginya, setan-setan akan menjauhi, dan kebaikannya akan bertambah jika al-Qur’an dibaca di dalamnya. Sungguh rumah akan terasa sempit bagi penghuninya, para malaikat menjauhinya, setan-setan datang, dan kebaikannya berkurang jika di dalamnya tidak dibacakan Al Qur’an.” (H.R. al-Darimi)

Upaya selanjutnya adalah menghidupan al Qur’an di setiap komunitas, sampai semua kaum muslimin mendapatkan pencerahan al Qur’an.

Serta, yang paling populer dan itulah yang pertama dilakukan nabi di Makkah adalah membentuk Majelis Qur’an yang dipimpin seorang murabbi atau mu’allim.

Dari majelis-majelis inilah, Allah Subhanahu wa ta’ala melahirkan rabbani atau umat terbaik, sebagaimana dalam firman-Nya dalam Al Qur’an surah Ali Imran ayat 79:

كُونُوا۟ رَبَّٰنِيِّۦنَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ ٱلْكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ

“Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”

Semangat ber-Qur’an setelah Ramadhan harus lebih meningkat. Kita berjuang agar majelis-majelis qur’an menyentuh semua lapisan umat Islam. Yang lebih strategis lagi adalah bagaimana cahaya Al Qur’an menerangi hati para pemimpin dan elit umat Islam.

Ketika cahaya dan petunjuk al Qur’an menyinari dan menuntun para elit umat Islam, maka revolusi mental dan revolusi akhlak akan bertransformasi secara kuat dan cepat sampai ke masayakat bawah. 

Ma’asyiral muslimin jamaah jumu’ah rahimakumullah 

Kedua, Memakmurkan masjid

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendidik dan mendakwahkan Islam di Madinah bermula dari masjid. Dari masjid ini pula Rasulullah mulai membangun tatanan kehidupan beragama, bermasyarakat, dan bernegara.

Komunitas khairu ummah, sebaik-baik umat yang disebut dalam al Qur’an adalah jamaah masjid Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sehingga tepatlah ketika masjid disebut sebagai pusat Peradaban Islam.

Memakmurkan masjid adalah tanda dari keimanan seseorang. Sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam firman-Nya dalam Al Qur’an surah At Taubah ayat 18:

اِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنۡ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡاٰخِرِ وَاَ قَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمۡ يَخۡشَ اِلَّا اللّٰهَ‌

فَعَسٰٓى اُولٰۤٮِٕكَ اَنۡ يَّكُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُهۡتَدِيۡنْ

Hanyalah yang memakmurkan masjid Allah SWT adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat dan tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah SWT. merekalah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapatkan petunjuk

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسَاجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالإِيمَانِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى (إِنَّمَا يَعْمُرُ

مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ) الآيَةَ

Apabila kalian melihat seseorang biasa ke masjid, maka saksikanlah bahwa ia beriman. Allah Ta’ala berfirman, Orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” (HR. Ibnu Majah, no. 802; Tirmidzi, no. 3093.

Perintah shalat berjama’ah di masjid bukanlah ritual belaka dan bukan pula sekedar mengejar ganjaran 27 derajat. Akan tertapi, esensi shalat berjama’ah di masjid memiliki makna strategis untuk bangunan peradaban Islam.

Seruan datang ke masjid adalah mengorientasikan tujuan hidup untuk Allah Subhanahu wa ta’ala.

Setiap jama’ah bisa menempati shaf terdepan, berarti Islam tidak mengenal status sosial. Shaf yang rapat dan lurus adalah simbol ukhuwah yang sangat kuat.

Semua gerakan harus ikut gerakan imam, ini mengajarkan tentang kepemimpinan. Dan, ketika imam batal/udzur, maka dia harus mundur dari tempatnya. Hal ini mengajarkan etika dan kejujuran pemimpin.

Pelajaran esensial dari ibadah shalat berjamaah berikutnya adalah salam. Salam di akhir shalat adalah simbol ajaran Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Demikian itulah muatan nilai dari shalat berjama’ah, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjadikannya hal yang sangat utama.

Dikisahkan, ada seorang buta meminta keringan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk tidak shalat jama’ah di masjid, maka kemudian Rasulullah menjawab, sebagaimana hadits berikut:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kedatangan seorang lelaki yang buta. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang penuntun yang menuntunku ke masjid.’ Maka ia meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberinya keringanan sehingga dapat shalat di rumahnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya keringanan tersebut. Namun ketika orang itu berbalik, beliau memanggilnya, lalu berkata kepadanya, ‘Apakah engkau mendengar panggilan shalat?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka penuhilah panggilan azan tersebut.’ (HR. Muslim, no. 503)

Ma’asyiral muslimin jamaah jumu’ah rahimakumullah 

Ketiga, Membangun ekonomi umat

Islam mengajarkan syariah dan pola hidup wasathiyah, penuh keseimbangan. Semua harus berusaha menjadi orang shaleh secara individu, namun saat bersamaan harus berjuang membangun kesalihan sosial.

Tidak dibenarkan seorang muslim asyik beribadah dengan harta pribadi yang melimpah, sementara tidak peduli tetangganya yang bernasib miskin dan sangat membutuhkan pertolongan. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al Qur’an surah Ali Imran ayat 112:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ ٱلذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوٓا۟ إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ ٱلنَّاسِ وَبَآءُو بِغَضَبٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ ٱلْمَسْكَنَةُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا۟ يَكْفُرُونَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَيَقْتُلُونَ ٱلْأَنۢبِيَآءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ

Kehinaan ditimpakan kepada mereka di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka pasti mendapat murka dari Allah dan kesengsaraan ditimpakan kepada mereka

Ayat ini mengajarkan keseimbangan antara hubungan vertikal kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan mengurus urusan-urusan keumatan.

Untuk terpenuhinya keseimbangan ini, maka Allah Subhanahu wa ta’ala mensyariatkan perintah shalat bergandengan dengan perintah zakat.

Setidaknya, ada 24 tempat ayat Al-Qur’an menyebut shalat dan zakat secara beriringan. Contohnya seperti dalam surah Al Baqarah ayat 43 berikut:  

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرْكَعُوا۟ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan di Indonesia masih tinggi. Hingga Maret 2023, jumlah penduduk miskin mencapai 25,9 juta orang atau 9,36% dari total jumlah penduduk Indonesia.

Jumlah yang masih besar itu diyakini mayoritas adalah umat Islam. Angka kemiskinan tersebut sebenarnya dapat diatasi jika kesadaran berzakat umat Islam dan pengelolaan zakat oleh para amil sudah maksimal.

Indonesia memiliki potensi zakat mencapai Rp 327 triliun pertahun menurut data yang dihimpun dari pusat kajian strategis lembaga BAZNAS. Potensi itu bersal dari zakat penghasilan, jasa pertanian, perkebunan, peternakan, dan sektor lainnnya.

Sayangnya, potensi yang besar itu baru dapat direalisasikan sekitar 17 triliun pada tahun 2021, berarti baru sekitar 6% dari potensi yang ada. Butuh perjuangan sistemik untuk mewujudkannya.

Ma’asyiral muslimin jamaah jumu’ah rahimakumullah 

Semoga kepemimpinan bangsa ke depan, bersama lembaga lembaga amil yang terpercaya dapat bersinergi optimal untuk penghimpunan dan pemberdayaan umat dalam skala besar. Tagline kita adalah Umat Berdaya Bangsa Berjaya.

Di akhir khutbah ini, mari secara berjama’ah kita menundukkan fikiran, mengkhusyu’kan hati, sembari berdo’a kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, semoga kita bisa istiqamah dengan nilai ketaqwaan yang diraih di bulan suci Ramadhan.

Kita juga bermunajat semoga bangsa dan negara kita lebih bermartabat dengan nilai-nilai keagamaan dan muncul kesadaran dari segenap kaum muslimin untuk peduli terhadap sesama melalui kegiatan kegiatan muamalah.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

DOA PENUTUP

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ……. عِبَادَ اللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَ
عَلَّكُمْ تَذَكَّرُو

Manifesto Masjid Nabi dalam Perkuat Arus Dakwah Berbasis Pengembangan Masyarakat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah bekerjasama dengan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Baitul Karim Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah menggelar acara Silaturrahim & Halal Bihalal Syawal yang mengangkat tajuk “Manifesto Masjid Nabi: Memperkuat Arus Dakwah Perkotan Berbasis Pengembangan Masyarakat”, Selasa, 14 Syawal 1445 (23/4/2024).

Acara ini mengundang narasumber Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan Yogyakarta Ust. H. Muhammad Jazir ASP. Penyajian pembina Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) ini dibersamai oleh Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah Ust. H. Hamim Thohari.

Dalam sambutannya mengantar acara ini, Hamim mengangkat profil Masjid Jogokariyan Yogyakarta sebagai barometer nasional dengan sistem pengelolaan masjid yang kehadirannya telah memberi dampak positif luar biasa tidak saja bagi umat tetapi juga rakyat secara luas.

Pencapaian tersebut dinilai Hamim tidak lepas dari peran penting dari Ust. H. Muhammad Jazir ASP yang konsisten mengawal Masjid Jogokariyan Yogyakarta sehingga dapat menjadi seperti sekarang.

Bagi Hamim, figur Jazir bukan hanya sosok penggerak melainkan juga sebagai figur guru dan pemimpin yang telah mempelopori banyak inisiatif kebaikan di masanya.

“Saya sangat bersyukur, bagi saya, Ustadz Jazir adalah pemimpin saya ketika saya menjalani aktifitas keislaman waktu itu, mulai dari PII sampai beliau mendirikan Angkatan Muda Masjid Dan Musholla (AMM) Kotagede Yogyakarta,” kata Hamim.

Sepert diketahui, melalui AMM Kotagede Yogyakarta, Jazir bersama Kiai As’ad Humam yang menemukan metode Iqra’ terus mengembangkan metode ini dengan mendirikan TK Al Qur’an AMM Yogyakarta pada 16 Maret 1986. Sampai sekarang metode Iqra’ telah menyebar luas bahkan hingga ke manca negara.

Masjid Arus Utama

Masih dalam sambutannya, Hamim menyampaikan bahwa Hidayatullah sebagai organisasi dakwah menjadikan masjid sebagai pusaran utama gerakan. Dia menegaskan, sebelum membangun apapun, masjid yang harus pertama dibangun.

“Bangunan pertama yang kita bangun sebelum mendirikan rumah masing masing adalah masjid. Demikian pula di usia memasuki 50 tahun kedua Hidayatullah, yang kita terus bangun adalah masjid,” terangnya.

Tidak saja infrastrukturnya, tetapi juga bagaimana pembangunan masjid secara hakiki hendaknya setarikan nafas dengan upaya pemakmurannya serta memastikan dampak sosialnya bagi masyarakat.

“Tentu ini dilakukan tidak saja di pinggiran, kita juga harus membangun Islam di kota melalui manifesto masjid, bagaimana membangun masyarakat kota melalui masjid,” kata Hamim.

Ia menyampaikan pentingnya peran masjid sebagai pusat peradaban, pusat kegiatan ibadah, pusat pengembangan ilmu, pusat kebudayaan Islam, pusat pengembangan karakter dan kepemimpinan umat. Demikian pula masjid sebagai pusat pendidikan dan perkaderan untuk melahirkan generasi pemimpin masa depan.

“Kita tak bisa lagi mengharap partai politik, yang bisa kita harapkan adalah generasi masjid. Oleh karena itu, ‘membangun’ masjid harus menjadi pola baru sebagaimana telah ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,” tandasnya.

Membangun Tauhid Umat

Sementara itu, Ust. H. Muhammad Jazir ASP menggaris bawahi peran dan fungsi masjid sebagai pusat pengemblengan aqidah umat. Dia menegaskan, kekuatan umat akan hadir apabila telah memiliki aqidah atau tauhid yang benar.

“Kekuatan umat Islam berhimpun hanya ketika pemimpin bertauhid dengan benar dan membangun tauhidul ummah,” katanya.

Penanaman nilai nilai Tauhid ini, menurut Jazir, sejatinya telah mendenyuti perjalanan bangsa Indonesia dimana sang Proklamator, Bung Karno, sangat terinspirasi dengan pidato pemikir dan tokoh panislamisme Syeikh Jamaluddin Al Afghani tahun 1932.

Pidato dengan semangat panislamisme yang menyentuh hati Soekarno itu adalah pesan Al Afghani mengenai persatuan dan tauhid. Al Afghani menyampaikan bahwa tidak ada persatuan tanpa keindahan akhlak para pemimpin dan tidak ada akhlak kecuali dengan tauhid.

Pesan Al Afghani itu juga senafas dengan salah satu trilogi dari Raden Mas Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto yang dikenal sebagai pendiri bangsa dan pendiri Sarekat Islam (SI) yang termasyhur: “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat”.

Maka atas semangat tersebut, terang Jazir, lalu tercetuslah salah satu pidato Bung Karno yang menegaskan kepercayaan akan Tuhan yang Satu tiada lain adalah Ketuhanan yang Maha Esa atau Tauhid.

Tauhid ketika ketika menyala dan berkobar kobar dalam dada bangsa Indonesia, maka bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tidak pernah mati.

Menurut Jazir, hal itu pula yang menyatukan dan membuat pikiran para pendiri bangsa terkonsolidasi. “Pikiran terkonsolidasi para pendiri bangsa untuk membangun sebuah negara yang berdasar Ketuhanan yang Maha Esa,” katanya.

Jazir menilai, problem sebagian besar pemimpin rakyat Indonesia dari kalangan umat Islam saat ini adalah inferiorisme. Belum tampak pemimpin yang betul-betul berani tampil, melakukan konsolidasi pemikiran, sebagaimana dahulu, pada era menuju kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan. Kala itu, para pemimpin rakyat dari tokoh-tokoh Islam, benar-benar punya superioritas.

Saat itu tokoh-tokoh Islam sebagai pemimpin bangsa mampu melakukan konsolidasi pemikiran. Bukan saja dari kalangan Islamis, tetapi juga nasionalis dan marxisis (kerakyatan).

Buah dari konsolidasi pemikiran tersebut menghendaki Indonesia harus berdiri sebagai negara dengan nilai-nilai dasar tauhid, bisa diterima oleh semua kalangan, sehingga Pancasila hadir sebagai dasar negara.

Yang seluruh sila-silanya, mulai dari Ketuhanan Yang Maha Esa sampai Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia merupakan manivestasi dari nilai dan ajaran Islam, yakni tauhid.

Ustadz Jazir memberikan sebuah rekomendasi perihal bagaimana konsolidasi rakyat itu bisa kita lakukan, yakni di masjid. Melalui masjid, konsolidasi rakyat bisa kita bangun dengan basis tauhid. Sebagaimana dahulu Nabi SAW melakukannya.

Secara gamblang pemikiran Ustadz Jazir perihal masjid ini juga bisa kita gali dalam bukunya: Manifesto Masjid Nabi Rumah Allah yang Memihak Rakyat.

“Masjid harus terbuka untuk rakyat, bukan hanya untuk umat,” tegasnya. Artinya pemimpin umat harus tampil di masjid, menjadi maghnet power yang mampu mensejahterakan rakyat secara langsung. (ybh/hidayatullah.or.id)

Membangun Tata Kelola Organisasi Berbasis Maqashid Syariah: Sebuah Narasi Kontemporer

0

DI ERA modern ini, tuntutan terhadap organisasi, khususnya organisasi Islam, untuk senantiasa berbenah dan beradaptasi dengan zaman semakin tinggi. Salah satu aspek penting yang perlu dibenahi adalah tata kelola organisasi. Tata kelola organisasi yang baik menjadi fondasi kokoh bagi organisasi untuk mencapai tujuannya secara efektif, efisien, dan akuntabel.

Namun, dalam membangun tata kelola organisasi, tak cukup hanya mengadopsi prinsip-prinsip modern seperti Good Corporate Governance (GCG). Organisasi Islam memiliki landasan moral dan spiritual yang unik, yaitu Maqashid Syariah. Di mana Maqashid Syariah merupakan tujuan-tujuan syariah yang ingin dicapai melalui penerapan hukum Islam. Imam al-Shatibi dalam kitabnya “Al-I’tisham” merumuskan Maqashid Syariah menjadi lima kategori: memelihara agama, memelihara jiwa, memelihara keturunan, memelihara akal) dan memelihara harta.

Lima hal yang dirumuskan dalam Maqashid Syariah itu menjadi kompas moral bagi organisasi Islam dalam membangun tata kelola yang berkualitas dan berkelanjutan. Prinsip-prinsip Maqashid Syariah seperti keadilan, maslahat, dan keseimbangan harus menjadi landasan dalam setiap kebijakan dan keputusan organisasi.

Menelusuri Jejak Maqashid Syariah

Maqashid Syariah, atau tujuan-tujuan Syariah, adalah konsep yang merujuk pada prinsip-prinsip dasar atau tujuan-tujuan yang menjadi inti dari hukum Islam. Konsep ini bertujuan untuk menjaga dan mempromosikan kesejahteraan umat manusia dalam semua aspek kehidupan, baik dunia maupun akhirat. Salah satu pengagas utama konsep Maqashid Syariah adalah Imam al-Ghazali, seorang cendekiawan Islam abad pertengahan yang terkenal dengan karyanya yang monumental, “Ihya Ulumuddin”.

Namun, gagasan Asy-Syatibi dalam kitabnya “al-I’tisham” seringkali menjadi rujukan dalam pembahasan Maqashid Syariah. Dalam kitab tersebut, Asy-Syatibi menyusun tujuan-tujuan pokok Syariah yang dijadikan dasar dalam merumuskan hukum-hukum Islam. Dasar dari konsep ini adalah ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang menegaskan prinsip-prinsip tersebut.

Asy-Syatibi mengidentifikasi lima kategori tujuan utama syariah: pertama, Hifdhu al-Din (Melestarikan Agama): Menjaga keyakinan dan praktik keagamaan umat Islam; kedua, Hifdhu al-Nafs (Melestarikan Jiwa): Melindungi nyawa manusia dari bahaya dan kerusakan; ketiga, Hifdhu al-Aql (Melestarikan Akal): Menjaga akal sehat dan kemampuan berpikir manusia; keempat, Hifdhu al-Mal (Melestarikan Harta): Melindungi harta benda dan kekayaan individu dan masyarakat; dan kelima, Hifdhu al-Nasl (Melestarikan Keturunan): Menjaga kelangsungan hidup dan kesejahteraan keluarga dan masyarakat

Implementasi dari Maqashid Syariah adalah untuk memastikan bahwa hukum-hukum Islam yang diterapkan membawa manfaat dan kesejahteraan bagi individu dan masyarakat. Konsep ini juga bertujuan untuk menghindari kerusakan dan keburukan dalam masyarakat. Perkembangan konsep Maqashid Syariah hingga kini terus berlanjut, dengan banyak pemikir Islam yang mengembangkan dan mengaplikasikan konsep ini dalam berbagai konteks, baik itu dalam bidang hukum, ekonomi, sosial, maupun politik.

Beberapa tokoh kontemporer yang terkait dengan pemikiran Maqashid Syariah diantaranty adalah :

  1. Ibn Taymiyyah: Tokoh pemikir Islam dari abad ke-14 yang memberikan kontribusi penting dalam memperkuat pemahaman tentang Maqashid Syariah, terutama dalam konteks menjaga dan melindungi kepentingan dasar umat (hifz al-din) serta menjaga dan melindungi kepentingan hidup (hifz al-nafs).
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah: Murid dari Ibn Taymiyyah, yang juga melanjutkan pemikiran gurunya dalam bidang Maqashid Syariah. Karya-karyanya seperti “I’lam al-Muwaqqi’in” dan “Zad al-Ma’ad” mengandung konsep-konsep Maqashid Syariah yang mendalam.
  • Muhammad al-Tahir Ibn Ashur: Seorang ulama Tunisia abad ke-20 yang terkenal dengan karyanya “Maqasid al-Shariah al-Islamiyyah”, di mana ia membahas prinsip-prinsip Maqashid Syariah dengan relevansi yang tinggi dalam konteks modern.
  • Yusuf al-Qaradawi: Ulama kontemporer yang turut berperan dalam merumuskan dan mengembangkan konsep Maqashid Syariah dalam konteks kekinian, khususnya terkait dengan isu-isu sosial dan politik yang dihadapi umat Islam saat ini.
  • Tariq Ramadan: Seorang pemikir Islam kontemporer yang juga memberikan kontribusi dalam merumuskan Maqashid Syariah dengan pendekatan yang menggabungkan tradisi Islam dengan konteks modern dan isu-isu global. Dan masih banyak lagi.

Model penerapan Maqashid Syariah bagi organisasi modern dapat dilakukan dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip Maqashid Syariah dalam pengambilan keputusan, perumusan kebijakan, dan pelaksanaan program-program, sehingga menciptakan tata kelola organisasi yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam dan berkontribusi pada kesejahteraan umat manusia secara keseluruhan.

Maqashid Syariah di Era Modern: Menjembatani Tradisi dan Modernitas

Maqashid Syariah bukan sekadar konsep klasik, tetapi memiliki relevansi yang tinggi dalam konteks modern, termasuk dalam tata kelola organisasi. Konsep ini menawarkan alternatif bagi prinsip Good Corporate Governance (GCG) yang sekuler, dengan menekankan pada aspek moral, spiritual, dan kemanusiaan di samping aspek profitabilitas dan efisiensi.

Dengan kata lain, dalam konteks modern, Maqashid Syariah menjadi semakin relevan dengan munculnya Good Corporate Governance (GCG). Dimana sebagaimana dipahami bahwaGCG menekankan transparansi, akuntabilitas, dan keadilan, yang sejalan dengan prinsip-prinsip Maqashid Syariah. Organisasi Islam dapat mengintegrasikan GCG dengan Maqashid Syariah untuk membangun tata kelola yang kokoh dan berlandaskan nilai-nilai Islam.

Memang, membangun tata kelola organisasi berbasis Maqashid Syariah bukanlah tugas yang mudah. Diperlukan komitmen yang kuat dari semua pemangku kepentingan, mulai dari pemimpin, anggota, hingga stakeholder. Namun, dengan tekad dan kerja sama, organisasi Islam dapat menjadi teladan dalam membangun tata kelola yang adil, bertanggung jawab, dan berkelanjutan, demi mewujudkan cita-cita Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Membangun Tata Kelola Organisasi Berbasis Maqashid Syariah: Sebuah Panduan Praktis

Organisasi Islam, khususnya, perlu menjadikan Maqashid Syariah sebagai landasan dalam membangun tata kelola yang kokoh dan berkelanjutan. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:

Pertama, Membangun Visi dan Misi yang Selaras dengan Maqashid Syariah: Visi dan misi organisasi harus mencerminkan tujuan-tujuan Maqashid Syariah, seperti menjaga kelestarian agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan.

Kedua, Mengembangkan Struktur Organisasi yang Mendukung Maqashid Syariah: Struktur organisasi harus dirancang untuk memastikan bahwa semua pemangku kepentingan bekerja sama untuk mencapai tujuan-tujuan Maqashid Syariah.

Ketiga, Membuat Kebijakan dan Prosedur Berbasis Maqashid Syariah: Semua kebijakan dan prosedur organisasi harus diuji dengan kriteria Maqashid Syariah untuk memastikan bahwa mereka tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan kemanusiaan.

Keempat, Membangun Budaya Organisasi yang Mendukung Maqashid Syariah: Budaya organisasi harus dibentuk untuk mendorong nilai-nilai seperti integritas, keadilan, dan tanggung jawab sosial, yang sejalan dengan Maqashid Syariah.

Kelima, Melakukan Audit dan Evaluasi Secara Berkala: Organisasi harus melakukan audit dan evaluasi secara berkala untuk memastikan bahwa tata kelolanya tetap selaras dengan Maqashid Syariah.

Maqashid Syariah: Fondasi Tata Kelola Organisasi yang Berkualitas

Dengan demikian perlu ditegaskan kembali bahwa Maqashid Syariah bukan hanya konsep abstrak, tetapi memiliki aplikasi yang luas dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam tata kelola organisasi. Dengan menjadikan Maqashid Syariah sebagai basis tata kelola, organisasi Islam dapat mencapai tujuan-tujuan mulia berikut:

Pertama, Meningkatkan Akuntabilitas dan Transparansi: Maqashid Syariah menekankan pentingnya keadilan dan akuntabilitas dalam setiap tindakan. Hal ini mendorong organisasi untuk menerapkan tata kelola yang transparan dan akuntabel kepada para pemangku kepentingannya.

Kedua, Membangun Kepercayaan dan Legitimasi: Maqashid Syariah berfokus pada kesejahteraan dan kemaslahatan umat. Dengan menerapkan tata kelola yang berlandaskan Maqashid Syariah, organisasi Islam dapat membangun kepercayaan dan legitimasi di mata masyarakat.

Ketiga, Meningkatkan Efektivitas dan Efisiensi: Maqashid Syariah mendorong organisasi untuk fokus pada tujuan yang esensial dan menghindari pemborosan. Hal ini dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan sumber daya organisasi.

Keempat, Memperkuat Komitmen Sosial: Maqashid Syariah menekankan pentingnya kontribusi terhadap masyarakat. Dengan menjadikan Maqashid Syariah sebagai basis tata kelola, organisasi Islam dapat memperkuat komitmennya dalam membantu dan melayani masyarakat.

Kelima, Menjaga Integritas: Maqashid Syariah menciptakan lingkungan organisasi yang mengatarkan seluruh elemennya untuk menjaga integritas  organisasi dan individu, Sehingga semua elemen dalam Organisasi harus bertindak dengan integritas dan etika yang tinggi.

Menuju Organisasi Islam Berkualitas: Langkah-Langkah Konkret

Selanjutnya, agar Maqashid Syariah menjadi basis dalam membangun tata kelola organisasi, diperlukan upaya konkret dari berbagai pihak, termasuk:

Pertama, Pimpinan organisasi: Pimpinan organisasi  disemua jenjang dan level harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang Maqashid Syariah dan berkomitmen untuk menerapkannya dalam tata kelola organisasi yang dipimpinya.

Kedua, Anggota organisasi: Anggota organisasi harus dilibatkan dalam membangun tata kelola organisasi, termasuk dalam proses pengambilan keputusan dan diajak untuk memahami pentingnya Maqashid Syariah dalam tata kelola organisasi.

Ketiga Stakeholder dan Masyarakat: Pihak-pihak yang berkepntingan, termasuk masyarakat luas, terutama kaum muslum, harus diajak untuk memahami dan mendukung organisasi Islam yang menerapkan Maqashid Syariah dalam tata kelolanya.

Pada akhirnya, dengan menerapkan langkah-langkah konkret ini, organisasi Islam dapat membangun tata kelola yang berkualitas dan berkelanjutan, sehingga mampu memberikan manfaat yang maksimal bagi umat dan bangsa. Maqashid Syariah bukan hanya konsep masa lampau, tetapi kunci untuk membangun organisasi Islam yang relevan, berkontribusi, dan berjaya di masa depan.

Penutup

Membangun tata kelola organisasi berbasis Maqashid Syariah merupakan pekerjan yang tidak mudah, namun merupakan upaya penting untuk mewujudkan organisasi yang tidak hanya berkelanjutan dan bermoral, tetapi juga berkontribusi pada kemaslahatan umat dan kelestarian alam. Dengan komitmen dan langkah-langkah yang tepat, organisasi Islam dapat menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai Islam dalam tata kelola modern.

Dengan demikian maka, Maqashid Syariah menawarkan kerangka kerja yang kokoh untuk membangun tata kelola organisasi yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan berkontribusi pada kebaikan dan kemaslahatan umat manusia. Dengan menerapkan Maqashid Syariah dalam tata kelola organisasi, organisasi Islam dapat menjadi teladan bagi organisasi lain dan berkontribusi pada pembangunan peradaban yang lebih adil, sejahtera, dan berkelanjutan. Wallahu a’lam.[]

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)

Rahmat Afandi Kader yang Ramah

0

“SETELAH anak menantu dan cucu datang kumpul di rumah yang berada di Pesantren Hidayatullah Medan, kami sempat ngobrol dan bercanda 30 menit bersama Abah di rumah, lalu Abah keluar rumah untuk menyapu membersihkan halaman. Tiba-tiba jatuh telungkup lalu meninggal dunia”.

Demikian cerita Fathun Qorib, anak ketiga Ustadz Rahmat Afandi, sambil menangis sedih.

Beliau wafat dengan proses sangat cepat dan sederhana pada pukul 18.20 menjelang shalat Maghrib, 10 Syawal 1445/ 19 April 2024. Semoga menjadi pertanda bahwa beliau wafat dalam kondisi husnul khotimah. Perjalanan wafat yang mudah dan indah saat beramal shaleh.

Ustadz Rahmat Afandi, pria asli Cilacap, Jawa Tengah, ini bergabung di Hidayatullah karena diajak dan diarahkan oleh saudaranya yang bekerja di PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) Bontang yaitu Pak Toyo.

Saat bekerja di PKT, pak Toyo sering mengikuti pengajian dan menjadi binaan dari ustadz Usman Palese.

Maka, ketika pulang kampung, Pak Toyo menawarkan ke Rahmat Afandi untuk masuk Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.

Saat itu Rahmat Afandi baru lulus Aliyah di Cilacap. Tidak banyak pertimbangan, Rahmat langsung ikut dan bergabung di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak tahun 1990.

Nama aslinya Rahmat Basuki, setelah hijrah menjadi Rahmat Afandi. Meski masa awal menjadi santri di Gunung Tembak tidak mudah, tapi beliau bisa bertahan dan mengikuti proses perkaderan dengan baik.

Rahmat yang dikenal selalu ramah ini satu angkatan dengan Ustadz Sofyan Budi dan Ustadz Mustaqim Dalang. Keduanya telah wafat beberapa tahun lalu.

Keduanya juga menjadi teman akrabnya. Mereka dikenal tiga serangkai dan sama-sama setelah mengikuti Training Center (TC) mendapat amanah mengajar atau menjadi guru bujang di PDI (Pendidikan Dasar Islam) di Gunung Tembak atau setara dengan MI/SD.

Tahun 1994, Rahmat Afandi mengikuti pernikahan mubarakah 61 pasang yang dihadiri oleh Menristek saat itu yaitu BJ. Habibie di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak.

Beliau mendapatkan jodoh santri putri asal Samarinda yang bernama Aryati Fathonah.

Mengemban Amanah Dakwah

Setelah menikah, Ustadz Rahmat Afandi bersama istrinya tugas ke Pesantren Hidayatullah Tolitoli sambil menikmat suasana pengantin baru. Rahmat sempat beberapa tahun di Tolitoli hingga lahir anak pertamanya di sana yang bernama Fatih. Sekarang tugas dakwah di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Berikutnya, Rahmat lanjut tugas turut merintis dari awal Pesantren Hidayatullah di Limboto, Gorontalo.

Cukup lama juga di sana hingga lahir anak ketiga yaitu Fathun Qorib yang sekarang tugas di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak. Tugas di Limboto cukup berat hingga beliau mulai sakit-sakitan.

Sempat almarhum pulang kampung. Tak lama, ia dipanggil oleh Ustadz Ali Hermawan sebagai Ketua DPW Hidayatullah Sumatera Utara ketika itu untuk tugas di Medan Sumatera Utara hingga sekarang.

Amanah terakhir Ustadz Rahmat sebagai anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Sumatera Utara dan Ketua Departemen Perkaderan Kampus Utama Hidayatullah Medan. Bahkan sebelum Ramadhan mengikuti Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) perkaderan di Pusat Dakwah Hidayatullah DPP Hidayatullah.

Beliau wafat meninggalkan satu istri, 6 anak, dan 3 cucu. Padahal, hari esoknya atau Ahad, 21 April 2024, akan dilangsungkan pernikahan putrinya yang keempat yaitu Fauziyah dengan saudara Zulham.

Allah SWT membuktikan kekuasaan-Nya dengan mencabut nyawa Ustadz Rahmat Afandi dan mempertemukan jodoh putrinya. Sedih dan bahagia menyatu dalam suasana lebaran kali ini.

Selama hidupnya Rahmat dikenal oleh teman-teman dan orang yang mengenalnya sebagai ustadz yang ramah, sopan, dan tidak pernah terdengar nada tinggi. Penampilannya sederhana, tidak neko-neko, dan taat terhadap amanah apa saja yang diberikan.

Hidayatullah kehilangan kader-kader terbaik beberapa bulan terakhir ini. Sebelumnya Ustadz Abdullah Ihsan di Bali, Ustadz Muhammad Rusydi dan Ustadz Feri Andi di Lampung dan Ustadz Rahmat Afandi di Medan.

Semua bisa mengambil pelajaran dan teladan dari perjalanan para mujahid yang telah dipanggil duluan oleh Allah SWT. Keluarga yang ditinggalkan dberikan kesabaran dan hikmah yang besar. Aamin Yaa Rabbal Alamin.[]

*) Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Amanah Besar Menjaga Keluarga Mujahid

0

ENTAH apa yang dirasakan oleh seorang bapak ketika mendengar putra kesayangannya wafat dalam menjalankan ketaatan berdakwah di luar pulau.

Apa yang dirasakan oleh seorang ibu, ketika anak yang dikandung, dilahirkan dan dibesarkan telah pergi mendahuluinya?

Apa yang dirasakan seorang istri ketika belahan jiwa dan hatinya yang selama ini bersama dalam suka dan duka, kini harus terpisah dan tidak akan kembali lagi? Terbayang beratnya menjadi single parent secara psikologis maupun finansial.

Apa yang dirasakan anak-anak yang belum baligh, ditinggalkan ayah yang menjadi kebanggaan, pelindung, dan memimpinnya? Kini harus yatim bersama tiga adiknya yang masih kecil-kecil.

Bagaimana perasaan kakak atau adiknya, ketika saudara kandung se-rahim dan selama ini bersama-sama dalam persaudaraan, tiba-tiba harus terpisah selamanya?

Mungkin kita atau orang lain yang tidak terkena musibah bisa mengatakan, “sabar, ini takdir, pasti ada hikmah besar dan kata atau kalimat yang lain”

Mungkin juga berduka dan sedih tapi terkadang hanya sesaat ketika mendengar kabar tersebut dengan emoji menangis, doa dukanya dan kirim donasi takziyah. Namun setelah itu, mungkin tidak merasakan sebagaimana yang dirasakan oleh ibu-bapaknya, istri, anak dan saudara-saudaranya.

Tulisan ini bukan mengajak kepada kesedihan bersama-sama, karena kemungkinan tidak bisa. Tapi berempati dan simpati terhadap musibah yang hari ini menimpa saudara-saudara kita, itu yang sangat penting. Mereka telah mengorbankan dirinya, waktu bahkan nyawanya untuk berdakwah di jalan Allah.

Selang beberapa hari, mereka sudah ceria dan tersenyum kembali namun kebahagiaan bersama almarhum tinggal menjadi kenangan. Kerinduan yang paling berat adalah kerinduan yang tidak mungkin bertemu kembali kecuali di akherat kelak.

Kepedulian Kepada Para Janda

Rasulullah sendiri menyampaikan beberapa hadist tentang janda dan anak-anak yatim.

“Orang yang berusaha memenuhi kebutuhan janda dan orang miskin, pahalanya seperti mujahid fi Sabilillah atau seperti orang yang rajin puasa di siang hari dan rajin tahajud di malam hari.” (HR. Bukhari 6006 & Muslim 7659)

Hadis di atas memotivasi untuk menafkahi janda, bukan menikahi janda. Meskipun bisa juga amal baik seorang lelaki ditunjukkan dalam bentuk menikahi janda. Dan jika janda ini dinikahi maka statusnya bukan lagi janda.

Hadis di atas sebagai bentuk keperpihakan kepada janda dan perintah untuk lebih menjaga dan memperhatikan janda dan orang-orang miskin, tidak semata mementingkan ibadah yang sifatnya pribadi. Ini amanah besar.

Mereka menjadi janda bukan cita-citanya tapi musibah yang menimpanya. Apalagi terkadang di sebagian masyarakat, masih menganggap sebelah mata tentang keberadaan janda, dikucilkan dan tidak diperhatikan karena dianggap bisa mengganggu rumah tangganya. Padahal musibah itu bisa menimpa siapa saja yang Allah kehendaki.

Adapun di pihak bapak-bapak, terkadang keberadaan janda hanya sebatas dibuat canda. Hal itu menjadikan posisi janda semakin tidak nyaman, padahal mereka harus menanggung beban ekonomi, pendidikan dan masa depan anak-anak yatim.

Perlu ada kebijakan atau rekayasa sosial untuk bisa membantu kehidupan para janda baik dari segi sosial, finansial dan mental.

Selama ini belum ada penanganan program secara serius untuk membantu mereka. Baik oleh pemerintah, swasta ataupun komunitas masyarakat.

Kepedulian Anak Yatim

Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda, “Orang yang menjamin anak yatim dan yang lainnya, maka aku dan dia seperti ini di surga.”

Beliau mengatakan begitu seraya mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR Bukhari dan Muslim). Artinya hubungannya sangat dekat antara Rasulullah dengan anak-anak yatim.

Meskipun anak yatim hidup tanpa kelengkapan keluarga (ayah atau ibu), namun mereka mempunyai syafaat luar biasa. Itu sebabnya bagi mereka yang peduli, bertanggung jawab dan amanah merawatnya akan dijanjikan surga.

Kehidupan anak anak yatim pada umumnya memang sangat berat. Anak-anak kecil tanpa seorang ayah atau ibu, tidak ada tempat bersandar dan mengadu, tidak ada yang membimbing dan melindunginya. Luar biasa penderitaan yang harus ditanggungnya.

Keberadaan panti-panti asuhan dengan dukungan dana dari pemerintah dan masyarakat, sebenarnya cukup memadai tapi terkadang ada yang menyalah gunakan pendanaannya atau pembinaan kepada anak-anak yatim yang masih terbatas.

Hal ini perlu ada penguatan dari berbagai pihak untuk peduli terhadap keberadaan panti asuhan bisa lebih profesional dan pendanaan yang memadai.[]

*) Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah