Beranda blog Halaman 208

Laznas BMH Sebarkan Buka Puasa Bersama Santri di 24 Kota di Jawa Timur

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Hari pertama Ramadhan yang bertepatan tanggal 12 Maret 2023 menjadi momen istimewa bagi santri di 24 Kota/Kabupaten di Jawa Timur, terutama saat Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH)H menggelar acara penyaluran buka puasa bersama secara serentak.

Dalam suasana yang dipenuhi keceriaan dan syukur, para santri dari berbagai pesantren bergabung dalam acara ini dengan semangat yang menyala, siap merasakan nikmatnya berbuka puasa dengan hidangan yang bergizi.

Salah satu santri, Putra, tidak menyembunyikan rasa terima kasihnya kepada Laznas BMH.

Dengan senyum ceria, ia mengungkapkan, “Terima kasih kepada Laznas BMH atas kesempatan ini. Dengan bantuan ini, kami dapat merasakan buka puasa yang sehat dan bergizi. Ini sungguh membahagiakan bagi kami.”

Imam Muslim, Kadiv Program dan Pendayagunaan Laznas BMH Jawa Timur, menjelaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan dukungan kepada santri agar dapat merasakan buka puasa yang sehat dan bergizi.

“Kami percaya bahwa kesehatan dan kesejahteraan santri merupakan investasi bagi masa depan bangsa,” ujarnya.

Program ini tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan santri, tetapi juga memiliki dampak positif dalam meningkatkan kualitas hidup mereka.

Laznas BMH berharap bahwa kegiatan ini dapat terus memberikan kontribusi positif yang berkelanjutan bagi pendidikan dan kesejahteraan santri di Jawa Timur.

“Laznas BMH mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan berpartisipasi dalam keberhasilan acara ini, semoga semangat kebersamaan dan silaturahmi yang terjalin dapat terus ditingkatkan di masa mendatang,” tutup Imam Muslim.*/Herim

SMP Integral Hidayatullah Tondo Kirim Tim Safari Dakwah Ramadhan ke Berbagai Daerah

PALU (Hidayatullah.or.id) — Momentum bulan suci Ramadhan yang penuh berkah dimanfaatkan oleh SMP Integral Hidayatullah Tondo untuk menugaskan para siswanya dalam kegiatan dakwah mengisi ceramah Tarawih di berbagai daerah.

“Selain memenuhi permintaan dari daerah, kegiatan ini bertujuan untuk melatih dan membiasakan siswa berbicara di depan umum sekaligus menjadi ajang untuk menyampaikan tausyiah,” ujar Fathun Mubhin, Kepala Sekolah SMP Integral Hidayatullah Tondo, dalam keterangannya kepada Hidayatullah.or.id, Rabu, 2 Ramadhan 1445 (13/3/2024).

Para siswa yang tergabung dalam Tim Safari Ramadhan merupakan siswa pilihan yang telah melalui pelatihan intensif jauh-jauh hari untuk memberikan penampilan terbaik. Tim ini terdiri dari Tsaqif Gayatta (kelas IX), Atif Muflih (kelas IX), Dwi Kurniawan (kelas IX), dan Muhammad Arafah (kelas VII).

Pada kesempatan kali ini, Tim Safari Ramadhan SMP Integral Hidayatullah Tondo diberangkatkan ke beberapa daerah, yaitu Palu, Parigi Moutong, dan Donggala. Kegiatan Safari Ramadhan ini menjadi momentum perdana bagi SMP Integral Hidayatullah Tondo dan diharapkan dapat berlanjut di tahun-tahun mendatang.

Menurut Fathun, penugasan tim Safari Ramadhan SMP Integral Hidayatullah Tondo memiliki misi mulia, yakni menyebarkan syiar Islam melalui penyampaian tausyiah dan pesan-pesan moral yang Islami kepada masyarakat di berbagai daerah.

Kegiatan ini juga, jelas Fathun, menjadi wadah bagi siswa untuk melatih kemampuan berbicara di depan umum dengan penuh percaya diri seraya menumbuhkan rasa peduli dan empati siswa terhadap kondisi masyarakat di daerah yang dikunjungi.

Fathun Mubhin berharap kegiatan Safari Ramadhan ini dapat memberikan manfaat bagi para siswa, masyarakat, dan sekolah itu sendiri.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi wadah bagi siswa untuk mengembangkan potensi diri, menebarkan syiar Islam, dan menjalin hubungan baik dengan masyarakat,” tuturnya.

Fathun menambahkan, sebagai salah satu lembaga pendidikan kepesantrenan berasrama (boarding school) unggul di kota Palu, SMP Integral Hidayatullah Tondo yang berlokasi di Jalan Uwe Buro, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah, ini berkomitmen untuk terus menyelenggarakan kegiatan Safari Ramadhan di masa depan dan menjadikannya sebagai salah satu program unggulan sekolah. (ybh/hidayatullah.or.id)

Hidayatullah Berduka, Dai Senior Ustadz Abdullah Ihsan Meninggal Dunia

DENPASAR (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah berduka cita, salah satu kader terbaiknya meninggal dunia. Beliau adalah dai senior Ust. H. Abdullah Ihsan, yang juga mengemban amanah sebagai anggota Majelis Penasehat Hidayatullah.

Beliau wafat hari ini di Rumah Sakit Umum Daerah Bali Mandara, Denpasar, Bali, pada hari Selasa, 12 Maret 2024 atau bertepatan dengan tanggal 1 Ramadhan 1445.

Ustadz Abdullah Ihsan dikenal karena kegigihannya dalam berjuang menjalankan tugas dakwah. Hingga akhir hayatnya, dia mendapatkan penugasan terakir di Bali dan akhirnya ditakdirkan meninggal dunia di sana.

Tak hanya gigih dalam berdakwah, ia juga memiliki pembawaan santun, supel, dan mengayomi. Tak heran, di mana pun bertugas dia selalu diterima dengan baik.

“Beliau figur pendakwah yang harus menjadi teladan bagi generasi muda Hidayatullah berikutnya,” kata Imam Nawawi, Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah 2020-2023.

Salah satu pesan Ust Abdullah Ihsan yang direkam Imam Nawawi ketika ia menyampaikan taushiah di hadapan peserta Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III Hidayatullah di Masjid Al-Mabrur Asrama Haji Mataram, Nusa Tenggara Barat, Jumat (1/12/2017), adalah hendaknya para dai memperhatikan adab dalam berdakwah.

Menurut almarhum, umat Islam adalah umat terbaik, tentu saja itu tidak boleh sebatas menjadi pemahaman, tetapi juga pengamalan.

“Kepada yang tua kita jadikan guru, kita minta nasehat dan petunjuknya. Kepada yang sebaya, kita jadikan sahabat, dan kepada adik-adik yang muda-muda, kita jadikan diri kita sebagai kakak atau orang tua mereka, sehingga dakwah itu terpancar dari diri kita, bukan lagi sebatas ajakan lisan kita,” papar almarhum ketika itu.

Selain itu, Pembina Pesantren Hidayatullah Bali itu juga menekankan para kader Hidayatullah untuk menjadi manusia yang bijak.

“Bijak itu bagaimana, sesama muslim jelas macam-macam cara berpikir dan kebiasaannya. Jangan kita anti kepada mereka yang berbeda, juga jangan meremehkan mereka dan menilai diri sendiri sebagai yang tertinggi. Tetaplah mereka saudara seiman kita, karena manusia yang bijak itu tidak sombong, yakni tidak menolak kebenaran dan tidak meremehkan manusia,” pesannya.

Terakhir, sebagai kunci, perintis Hidayatullah Wilayah Bali dan Nusa Tenggara itu mengingatkan jati diri dai Hidayatullah.

“Jangan sampai semakin tinggi keilmuan semakin lemah keyakinan kepada Allah. Hidayatullah ini berdiri dan eksis dimana-mana karena spirit keyakinan kepada Allah dan istiqomah. Kader-kader yang ada hari ini harus mengikuti spirit yakin kepada Allah ini dan istiqomah dari para pendahulu. Allah di Balikpapan, sama dan itu juga Allah yang di NTB, Bali dan dimanapun juga di bumi ini,” tutup almarhum.

Selamat jalan, pejuang.

Semoga Allah menyayangi beliau, mengampuni seluruh dosa beliau, dan mengumpulkan beliau bersama para Nabi, Rasul, Shiddiqin, Syuhada, dan Shalihin di Jannah Firdaus Tertinggi, Aamiin. (ybh/hidayatullah.or.id)

Leaders are Readers: Membuka Gerbang Kepemimpinan Visioner Melalui Kebiasaan Membaca

ADA sebuah pepatah asing berbunyi “leaders are readers”. Secara harfiah bisa diterjemahkan sebagai pemimpin itu pembaca.

Namun, realitasnya, hal itu bukan sekadar slogan usang, atau kata-kata yang indah, yang hanya untuk sekedar dihafal, melainkan sebuah pernyataan yang mencerminkan menjadi laku kepemimpinan yang efektif dan visioner.

Bahkan, ia menunjukkan bagaimana kualitas seseorang itu -apalagi seorang pemimpin-, sangat dipengaruhi dengan apa yang dibacanya.

Dan, ternyata kenyataan di atas tersebut, juga relevan dengan pepatah “You are, what you read” (Anda adalah apa yang Anda baca).

Sehingga melihat seseorang, dapat dilihat atau dengan kata lain tercermin dari apa bacaannya. Dan pada titik ini, biasanya akan berbanding lurus dengan kualitas seseorang.

Sebagaimana kita mafhum, membaca bagaikan gerbang yang membuka akses terhadap pengetahuan, wawasan, dan kebijaksanaan yang selanjutnya menjadi kompas dan peta bagi pemimpin dalam mengarungi lautan kepemimpinan yang penuh tantangan. Maka membaca menjadi hal yang esensial bagi seorang pemimpin.

Mengapa Membaca Penting bagi Pemimpin?

Kemampuan membaca, baik yang tersurat maupun tersirat, yang tertulis maupun tak tertulis, yang tekstual mapun yang kontekstual, merupakan landasan fundamental bagi kepemimpinan yang efektif.

Sejarah para pemimpin besar dunia, adalah sejarah para pemimpin yang pembaca. Bahkan, para pemimpin besar tersebut, dikelilingi dengan perpustakaan dengan ribuan koleksi buku, dan pada saat yang sama biasanya juga membersamainya buku-buku bacaan favorit, yang dikemudian hari mempengaruhi keberhasilannya dalam memimpin.

Dengan kata lain, pemimpin yang berhasil, dengan konotasi positif, adalah para pembaca. Sedangkan pemimpin yang “malas” membaca, akan menyebabkan kerusakan tatanan dalam organisasi bahkan negara yang dipimpinnya, karena bisa jadi “ngawur” dan semaunya sendiri.

Bisa jadi mereka akan “berhasil”, akan tetapi dapat dipastikan akan menggunakan cara-cara yang otoriter/ diktator, karena merasa dirinya yang paling benar, bersebab miskinnya literasi. Setidaknya sejarah telah mengajarkan seperti itu.

Dengan melihat realias di atas, ada beberapa alasan yang dapat disampaikan, mengapa membaca begitu penting bagi seorang pemimpin.

Pertama, Memperluas Cakrawala Pengetahuan dan Wawasan

Membaca bagaikan jendela yang membuka gerbang menuju berbagai ide, perspektif, dan pengalaman baru. Pemimpin yang gemar membaca akan menjelajahi lautan pengetahuan, memperkaya wawasan mereka tentang berbagai bidang, mulai dari ekonomi, politik, hingga sosial budaya, sejarah, dan teknologi.

Dia akan dapat membandingkan, memilah sekaligus memilih sebuah kebijakan yang relevan dan sebangun dengan kepeimpinannya. Pengetahuan ini menjadi bekal penting dalam pengambilan keputusan yang tepat dan strategis, serta membantu pemimpin memahami kompleksitas dunia yang terus berubah.

Kedua, Meningkatkan Ketajaman Berpikir Kritis

Membaca bukan hanya tentang menyerap informasi, tetapi juga tentang menganalisisnya secara kritis. Pemimpin yang terbiasa membaca dilatih untuk mengevaluasi argumen, menguji asumsi, dan membangun pemikiran logis.

Kemampuan ini sangat penting untuk menyelesaikan masalah yang kompleks, mengatasi situasi yang tidak terduga, dan membuat keputusan yang terukur dan berlandaskan fakta.

Critical thinking seperti ini menjadi seorang pemimpin, saat mengambil keputusan tidak hanya berdasarkan instinktif semata, akan tetapi merupakan sintesa dari berbagai parameter, dan salah satunya berasal dari bacaannya.

Ketiga, Memperkuat Kemampuan Berkomunikasi dan Berpengaruh

Membaca karya-karya berkualitas tinggi mengasah kemampuan pemimpin dalam mengekspresikan ide dan gagasan dengan jelas, terstruktur, dan logis.

Pemimpin yang gemar membaca akan memiliki kosakata yang kaya, pilihan diksi yang tepat, gaya bahasa yang menarik, dan kemampuan berkomunikasi yang berkelas, baik secara lisan maupun tertulis.

Kemampuan ini menjadi kunci dalam menginspirasi tim, membangun consensus dan komitmen, serta menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Pada saat bersamaan, pengaruh sebuah kepemimpinan akan dirasakan disemua level kepemimpinan, hingga terendah.

Keempat, Membangun Empati dan Kemampuan Berinteraksi

Membaca sirah, tarikh, cerita fiksi dan kisah inspiratif membantu pemimpin memahami berbagai sudut pandang dan pengalaman manusia. Mereka belajar untuk melihat dunia dari berbagai lensa, dan kamera merasakan emosi yang berbeda, dan memahami keragaman budaya dan pemikiran.

Hal tersebut meningkatkan empati dan kemampuan pemimpin untuk menjalin hubungan yang baik dengan orang lain, membangun tim yang solid, dan memimpin dengan penuh inspirasi dan penghargaan terhadap perbedaan.

Pada titik ini, seorang pemimpin akan menjadi magnet (perekat), bagi seluruh elemen yang dipimpinnya.

Kelima, Meningkatkan Motivasi dan Semangat Kepemimpinan

Membaca kisah-kisah sukses para pemimpin terdahulu dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi pemimpin masa kini.

Kisah-kisah tentang kepeimpinan Rasulullah SAW, Khulafaurasyidin, serta para khalifah serta pemimpin lainnya, dikombinasi dengan bagaimana Napoleon Bonaparte, Alexander Agung, Abraham Lincoln, hingga Nelson Mandela, serta para pahlawan di Indonesia, dapat membangkitkan semangat dan tekad untuk mencapai tujuan yang mulia, memberikan kontribusi positif bagi organisasi dan masyarakat, serta meninggalkan jejak kepemimpinan yang inspiratif.

Pemimpin yang Lebih Visioner

Sekali lagi, membaca bukan hanya tentang menghabiskan halaman demi halaman sebuah buku. Membaca bagi pemimpin adalah tentang menggali pengetahuan, memperluas wawasan, dan mengembangkan diri secara berkelanjutan.

Karena, sesungguhnya, membaca adalah sebuah perjalanan yang tiada akhir. Semakin banyak Anda membaca, semakin banyak pula pengetahuan dan wawasan yang Anda dapatkan.

Pemimpin yang membaca , secara tidak langsung akan memberikan contoh untuk diikuti oleh anggota timnya. Mereka menunjukkan bahwa pembelajaran adalah suatu proses yang tak pernah berakhir.

Dengan membaca, pemimpin menunjukkan bahwa mereka selalu berusaha untuk meningkatkan diri dan berkontribusi lebih banyak pada kesuksesan bersama.

Dan sejarah telah membuktikan bahwa banyak pemimpin hebat dan besar telah menemukan inspirasi melalui buku-buku dan tulisan. Buku biografi, motivasi, atau karya sastra dapat memberikan energi positif dan semangat kepada pemimpin untuk mengatasi tantangan.

Akhirnya, dalam dunia yang terus berubah, penuh ketidakpastian, dan kompleks, kebiasaan membaca menjadi landasan penting bagi pemimpin yang ingin tetap relevan dan efektif.

“Leaders are readers” bukan hanya sebuah ungkapan, melainkan prinsip yang telah membimbing banyak pemimpin menuju kesuksesan.

Oleh karena itu, mari tingkatkan kebiasaan membaca sebagai pemimpin, ditingkat dan level apapun juga. Karena melalui hal ini, kita dapat memimpin dengan lebih baik, lebih cerdas, visioner, dan lebih komprehensif. Wallahu a’lam.

*) Penulis adalah Peneliti Senior Hidayatullah Institute

Sukses Meraih Potensi Ramadhan adalah Kepentingan Kita Bersama

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, Lc., MA, menekankan bahwa kesuksesan dalam meraih potensi Ramadhan adalah kepentingan kita bersama.

Hal itu ditegaskan beliau melalui Seruan Ramadhan 1445 H/2024 M Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah yang disiarkan dari Jakarta, Senin, 30 Sya’ban 1445 (11/3/2024).

“Oleh karena itu, Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menghimbau kepada seluruh jajaran di wilayah, daerah, maupun cabang untuk meningkatkan komunikasi, silaturrahim, dan koordinasi dengan jajaran di atasnya maupun jajaran di bawahnya,” katanya.

Ia menyeru agar hendaknya memastikan Ramadhan kali ini sebagai momentum terbaik untuk menebar kebaikan dan kasih sayang.

“Mari kita manfaatkan Ramadhan ini dengan sebaik baiknya agar kita memperoleh kekuatan spiritual yang dapat kita jadikan sebagai modal untuk berjuang di jalan-Nya,” serunya.

Nashirul menyampaikan bahwa perjalanan dakwah dan kehidupan berbangsa ke depan tentu penuh dengan tantangan yang memerlukan kesabaran, keteguhan, dan kegigihan kita semua.

Karena itu, ia menyerukan untuk memaksimalkan Ramadhan sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas spritual, moral, intelektual, mental dengan kesehatan jasmani dan ruhani.

Pada momentum Ramadhan ini ia juga menyerukan untuk mendoakan yang terbaik untuk kepentingan umat Islam, khususnya di Indonesia.

Serta menyeru hendaknya mendoakan yang terbaik untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia agar bisa rukun dan aman, diberi pemimpin yang amanah dan bukan pemimpin yang zalim.

“Akhirnya, kepada Allah Ta’ala jualah kita memohon, agar kiranya dimudahkan dalam segala upaya, dan diterima amal kita sebagai bagian dari perjuangan membangun peradaban Islam,” katanya menandaskan. (ybh/hidayatullah.or.id)

Menguatkan Mu’ahadah hingga Musabaqah, Inilah 6 Kiat Sukses Ramadhan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, Lc., MA, menyampaikan 6 kiat dalam menggapai sukses menunaikan ibadah selama Ramadhan mulai dari maksimalkan mu’ahadah hingga musabaqah.

Kiat ini dinukil Hidayatullah.or.id dari Seruan Ramadhan 1445 H/2024 M Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah yang disiarkan dari Jakarta, Senin, 30 Sya’ban 1445 (11/3/2024).

Kiat Pertama adalah mu’ahadah, yakni komitmen atau janji setia di hadapan Allah Ta’ala bahwa kita menargetkan Ramadhan kali ini lebih baik dari sebelumnya. “Kita bertekad untuk memaksimalkan segala bentuk ibadah dan amal shaleh,” kata Nashirul.

Kedua, mujahadah, yaitu keseriusan dan kesungguhan dalam menjalankan komitmen kebaikan. “Kita menyadari bahwa ibadah dan amal shaleh membutuhkan perjuangan dan pengorbanan,” katanya.

Ketiga adalah mutaba’ah, yaitu monitoring secara rutin untuk melihat progress dan grafiknya, diharapkan agar terus meningkat.

Kiat Keempat adalah muhasabah, yaitu evaluasi, baik sifatnya harian, pekanan, maupun setiap sepuluh hari.

“Dengan evaluasi, kekurangan masa lalu dapat dibenahi dan kebaikan yang sudah berjalan dapat ditingkatkan lagi,” imbuhnya.

Kiat Kelima adalah mu’aqabah, yaitu sangsi yang diberikan kepada diri sendiri ketika lalai menjalankan komitmen agar hal itu tidak berulang.

Terakhir, atau kiat Keenam adalah musabaqah, yaitu kompetisi dan berlomba-lomba dalam kebaikan, khususnya bagi anak anak yang membutuhkan motivasi agar tekun menjalankan ibadah sebagai wadah pendidikan bagi mereka.

“Mari kita manfaatkan Ramadhan ini dengan sebaik baiknya agar kita memperoleh kekuatan spiritual yang dapat kita jadikan sebagai modal untuk berjuang di jalan-Nya,” serunya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Maksimal Menajamkan Dimensi Ruhiyah, Maaliyah dan Jasmaniyah dari Ramadhan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, Lc., MA, mengajak maksimalkan usaha dalam menajamkan dimensi ruhiyah, dimensi maaliyah, dan dimensi jasmaniyah dari bulan suci Ramadhan kali ini.

“Ramadhan datang penuh dengan keistimewaan memiliki banyak dimensi,” kata Nashirul dalam Seruan Ramadhan 1445 H/2024 M Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah yang disiarkan dari Jakarta, Senin, 30 Sya’ban 1445 (11/3/2024).

Ia menyebutkan, bulan suci ini memiliki dimensi spiritual (ruhiyah) yang menjadikan Ramadhan sebagai bulan yang tepat untuk
merevitalisasi semangat, menghapus kesalahan kesalahan, mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mendoakan saudara-saudara di Palestina untuk diberikan pertolongan dan kemenangan.

Ramadhan juga memiliki dimensi materi (maaliyah), di mana kaum muslimin biasa menunaikan kewajiban membersihkan hartanya dalam tahun berjalan.

Realitasnya, jumlah harta zakat, infaq, maupun shadaqah yang dikeluarkan pada bulan Ramadhan lebih besar dibanding jumlah dana sejenis pada 11 bulan lainnya.

“Ummat Islam, khususnya di Indonesia, dapat memenuhi perintah agamanya untuk infak dan donasi bagi kaum faqir miskin bisa bergembira, termasuk saudara-saudara kita di Palestina,” katanya.

Berikutnya, terang Nashirul, bulan suci ini pula memuat dimensi fisik (jasmaniyah) yang menjadikan Ramadhan sebagai bulan yang tepat untuk melatih dan membuktikan bahwa kita mampu menahan diri dari segala perbuatan sia-sia, menimbulkan dosa, apalagi menimbulkan kerusakan yang merugikan masyarakat.

“Di bulan Ramadhan, kita memiliki kemerdekaan dan kedaulatan penuh untuk memutuskan sesuatu. Sebab, pengaruh setan telah sangat dikurangi, dan manusia dapat membuktikan bahwa dirinya bukanlah golongan setan yang suka melakukan kejahatan,” pesannya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Kegembiraan Ramadhan dan Puasanya Saudara saudara Palestina Kita

Anak-anak Palestina membawa panci antre untuk mendapat makanan dari sebuah dapur amal di tengah kekurangan pasokan pangan akibat konflik Israel dan Hamas yang masih berlangsung, di Rafah, Jalur Gaza, 14 Desember 2023. (Foto: Saleh Salem/Reuters)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Setiap hati yang beriman kepada-Nya pasti punya kerinduan kepada bulan suci Ramadhan dan sebuah kegembiraan dan kesyukuran saat Allah masih memberi usia dan kesempatan untuk menikmati bulan Ramadhan.

“Namun demikian Ramadhan kali ini, kembali kita juga akan lebih dalam suasana penuh keprihatinan dan kesedihan,” kata Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, Lc., MA, dalam Seruan Ramadhan 1445 H/2024 M Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah yang disiarkan dari Jakarta, Senin, 30 Sya’ban 1445 (11/3/2024).

Kata Nashirul, kepedihan hati dan air mata kesedihan tak henti melihat penderitaan saudara kita, umat Islam di Palestina, yang terus bertahan menghadapi kedzaliman dan kebiadaban Zionis Israel.

“Penderitaan muslim Palestina, penderitaan kita juga. Luka mereka, luka kita juga. Kelaparan mereka, harusnya juga kelaparan kita juga!,” imbuhnya.

Seorang penulis Palestina, Adam Syarqawi, dengan lirih berucap: “Ramadhan tahun ini berbeda dengan tahun-tahun yang lalu. Tahun ini, ia datang untuk mengingatkanmu: bahwa kamu punya saudara yang telah memulai ‘puasa’-nya sejak 5 bulan lalu. Namun
sampai kini, ia belum berbuka.” Hasbunallah wa ni’mal wakiil.

Menurut menjelaskan, Ramadhan datang penuh dengan keistimewaan memiliki banyak dimensi. Salah satunya adalah dimensi spiritual (ruhiyah) yang menjadikan Ramadhan sebagai bulan yang tepat untuk merevitalisasi semangat, dan menghapus kesalahan kesalahan.

“Mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendoakan saudara-saudara di Palestina untuk diberikan pertolongan dan kemenangan,” pesannya.

Seruan Ramadhan DPP Hidayatullah yang mencakup tiga dimensi ini disampaikan kepada seluruh anggota, kader, dan jamaah Hidayatullah agar keistimewaan Ramadhan dapat diraih. (ybh/hidayatullah.or.id)

Penentuan Awal Ramadhan dan Idul Fitri, Hidayatullah Ikut Keputusan Pemerintah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di berbagai platform media, tidak sedikit anggota, kader, atau simpatisan Hidayatullah yang masih sering bertanya tanya kapan Hidayatullah mulai puasa Ramadhan. Begitu pula pada momen tertentu lainnya seperti kapan hari Idul Fitri dan Idul Adha.

Melalui Seruan Ramadhan 1445 H/2024 M Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah yang disiarkan dari Jakarta, 30 Sya’ban 1445 H/ 11 Maret 2024, DPP Hidayatullah menyatakan penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri, Hidayatullah mengikuti keputusan pemerintah melalui Sidang Isbat Kementerian Agama dan ormas Islam.

Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, Lc., MA, mengatakan sikap tersebut sebagai bentuk komitmen Hidayatullah untuk membangun kesatuan ummat serta merajut ukhuwwah Islamiyah.

Keputusan yang diambil dalam Sidang Isbat melibatkan MUI dan Ormas Islam setelah mendengar kesimpulan Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama.

Insya Allah kita menaruh hormat dan kepercayaan terhadap Ulama dan pimpinan Ormas Islam sebagai representasi ummat Islam yang hadir dan terlibat dalam Sidang Isbat dan dengan kapasitas dan peralatan teknologi modern yang digunakan Tim Hisab Rukyat, in syaAllah validitas hasilnya lebih dapat dipertanggungjawabkan,” kata Nashirul dalam siaran Seruan Ramadhan tersebut.

Hal itu disampaikan Nashirul seraya menyitir sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah: “Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa, berbukanya kalian adalah ketika kalian berbuka dan hari ‘Iedul Adha kalian adalah tatkala kalian menyembelih”.

“Para ahlul ilmi menjelaskan maksud hadits ini adalah bahwa berpuasa dan berbuka itu dilakukan bersama jamaah dan kebanyakan manusia. In syaAllah pendapat ini yang lebih sesuai,” jelasnya.

Seruan Ramadhan DPP Hidayatullah yang mencakup tiga dimensi ini disampaikan kepada seluruh anggota, kader, dan jamaah Hidayatullah agar keistimewaan Ramadhan dapat diraih. (ybh/hidayatullah.or.id)

Seruan Ramadhan 1445 Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

0

BERIKUT ini seruan Ramadhan 1445 Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Seruan ini disampaikan kepada seluruh anggota, kader, dan jamaah Hidayatullah agar keistimewaan Ramadhan dapat kita raih. Seruan ini mencakup tiga dimensi, yaitu:

Selengkapnya: